
Malam berganti pagi, disebuah rumah mewah yang terletak ditengah perbukitan terlihat ramai dengan para wartawan dan reporter yang berkumpul didepan pintu pagar rumah itu. Para petugas keamanan terus berjaga dibalik pagar tertutup untuk menghalau wartawan dan reporter menembus pagar, keributan terus terjadi dengan semakin panasnya berita tentang foto - foto Naomi dan Daniel. Berita yang tersebar tidak mungkin tidak menyebabkan keributan, kesempatan inilah yang diambil oleh beberapa wartawan untuk menggali informasi lebih dengan cara apapun termasuk mendatangi kediaman Arthur dimana Jester sebagai pemimpin baru perusahaan Gates pasti tinggal disana.
Jester yang membuka mata dan terbangun dari tidurnya langsung saja terngiang - ngiang tentang dua pilihan yang sudah diajukan oleh Julius dan Arthur. Pembicaraan berakhir begitu saja karena Jester langsung meninggalkan kamar Arthur tanpa menjawab apapun, sebuah pilihan yang sangat sulit bagi Jester sudah menunggu didepan mata. Tidak lama suara ketukan pintu kamar Jester terdengar, perlahan Jester beranjak dari kasurnya untuk membuka pintu kamar dan mendapati Sarah yang mengetuk pintu kamar Jester.
"Pagi Jester" sapa Sarah
"Ada apa?" tanya Jester singkat
"Bahkan ucapan selamat pagi pun tidak kamu jawab, sepertinya isi kepalamu benar - benar akan meledak" sindir Sarah
"Ini bukan saatnya untuk bercanda" dengan kesal Jester mengatakannya, Sarah tersenyum mendengar perkataan Jester.
"Aku membawa beberapa kabar untukmu, apa kamu tertarik?" tanya Sarah
"Apa itu?" tanya balik Jester yang terlihat penasaran
"Boleh aku masuk?" pinta Sarah sembari masuk kedalam kamar Jester, walau kesal Jester hanya terdiam dan menutup pintu kamar. Sarah duduk disebuah sofa yang tersedia dikamar Jester, sedangkan Jester duduk diujung kasur menunggu Sarah berbicara dengan kepala yang tertunduk.
"Pertama, tuan Scott sudah keluar dari ruang perawatan khusus..." belum selesai Sarah berbicara, Jester memotong dan terlihat senang.
"Benarkah?! lalu bagaimana kondisinya? apa ayah sudah tersadar?" dengan antusias Jester bertanya, namun Sarah menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tuan Scott dalam kondisi tidak sadar namun sudah stabil" jawab Sarah dengan nada yang terdengar sedih, Jester kembali menundukkan kepalanya.
"Kedua, aku, Luke, Harry, Selena, Grece dan Justin tidak dapat menemukan Daniel. Aku terpaksa menggunakan jaringan inteligen Gates dan barulah kami semua tersadar jika... Daniel sudah mempersiapkan semuanya, dia kini sudah berada di itali sejak sebulan yang lalu" ucap Sarah, mendengar perkataan Sarah membuat Jester kesal sampai - sampai tangannya meremas selimut dengan sangat kuat.
"Ketiga, diluar penuh dengan wartawan dan saham Gates Family Grup sudah jatuh dititik terendah selama satu dekade ini. Kamu harus melakukan sesuatu secepatnya, apa kamu sudah berkonsultasi dengan kakek?" tanya Sarah pada Jester
Mendengar penjelasan Sarah tentang dampak dari semua yang terjadi akibat mencuatnya berita tentang Naomi dan Daniel yang begitu buruk membuat Jester mulai pesimis dengan status dirinya sebagai pemimpin Gates Family Grup.
__ADS_1
"Kakek memberi aku dua pilihan, melakukan kesalahan yang pernah pak Julius dan kakek lakukan atau.... memutuskan hubunganku dengan keluarga Scott..." jawab Jester, untuk sejenak keduanya terdiam.
"Lalu...?" tanya Sarah memecahkan keheningan yang sempat terjadi
"Aku berfikir untuk.... mundur dari kursi presiden direktur dan menunjuk mu menggantikan aku" jawab Jester tegas, jawaban Jester membuat Sarah terkejut.
"Aku tidak mampu untuk berpisah dari Naomi, dia adalah satu - satunya alasan aku bisa menikmati hidup... jika memang itu akan membuatku menghancurkan keluarga besar ini, maka aku lebih memilih untuk melepaskan posisiku" ucap Jester meneruskan perkataannya, Sarah mengeluarkan handphone miliknya dan seakan mencari sesuatu didalam handphone itu.
Tidak lama Sarah memberikan handphone miliknya kepada Jester, dengan berat Jester menerima handphone itu dan menampilkan sebuah berita ekonomi dengan judul
***Sarah Arielle adalah keluarga Gates yang terbuang, salah satu penerus yang paling tidak mendapatkan peluang meneruskan posisi Arthur Gates***
"Ide mu hanya akan membuat perusahaan semakin hancur beran..." belum selesai Sarah berkata, Jester memotong
"Lalu aku harus apa?!!!" bentak Jester kepada Sarah, keduanya terdiam dan saling menatap.
"Maaf aku membentak mu... aku tidak bermaksud seperti itu..." penuh penyesalan Jester mengatakannya sembari mengembalikan handphone milik Sarah
Selain sahabat, Sarah merupakan satu - satunya sepupu Jester yang selalu mendukung dan beberapa kali memberikan ide cemerlangnya kepada Jester. Usia mereka yang tidak terpaut jauh membuat keduanya lebih mudah untuk bertukar pikiran mengenai masalah apapun yang mereka hadapi.
Beberapa jam berlalu, sebuah helikopter pun terbang meninggalkan kediaman besar Gates menuju rumah sakit Scott. Saat helikopter itu mendarat di helipad yang terletak di rumah sakit Scott, Jester turun dari helikopter itu lalu segera masuk kedalam rumah sakit untuk menuju kamar vvip dimana Evans sedang dirawat.
Tidak lama Jester sampai didepan kamar Evans, perlahan Jester membuka pintu kamar itu dan disana Jester melihat Evans terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan mengenakan berbagai alat medis yang melekat hampir di sekujur tubuh Evans. Perhatian Jester beralih menatap Naomi yang duduk disebuah kursi yang terletak disebelah Evans, menyadari kehadiran Jester seketika Naomi menatap Jester dan tersenyum.
"Selamat datang Jess..." sapa Naomi kepada Jester, untuk sejenak Jester terkejut melihat Naomi yang tersenyum dan menyapanya dengan baik.
"Eeh... iya, bagaimana kondisi ayah?" tanya Jester sembari masuk dan menutup pintu, Jester terus berjalan disela Naomi seakan menguatkan hatinya untuk menjawab pertanyaan Jester.
"Pagi tadi ibu sempat kemari, tidak lama dokter datang dan kami berdua dipanggil keruangan dokter. Disana kami dijelaskan tentang keadaan ayah..." jawab Naomi namun Naomi menggantung kalimatnya untuk beberapa saat, air matanya tiba - tiba menetes deras. Tangan Naomi menggenggam tangan Evans dengan sangat erat, lalu menaruh kepalanya ditangan yang menggenggam itu.
__ADS_1
"Keadaan ayah kali ini sangat buruk.... dokter bilang kondisi pasien seperti ayah proses penyembuhannya sudah tidak mungkin lagi dan mengatakan jika ayah tidak akan tertolong kali ini... mungkin masalah kali ini terlalu berat untuk ayah.... semua karena aku dan selalu karena aku.... kenapa aku dilahirkan menjadi anak ayah... kenapa aku harus hidup hanya untuk membuat ayah menderita...." dengan sesenggukan Naomi mengatakan itu, suaranya sangat pilu terdengar begitu menyesal dengan semua yang sedang terjadi.
Tubuh Jester bergemetar hebat, kini didalam kepalanya terbayang ketika dirinya berbicara berdua di danau pinggir kota, ketika Evans datang untuk mengantar Naomi kerumah kecil, dan terbaru saja ketika Jester dan Evans berbicara berdua di ruangan yang sama kali ini. Pertemuan yang berkesan dan membekas bagi Jester kini seakan harus berakhir didepan matanya, janji tentang menjaga Naomi terasa semakin berat untuk diemban oleh Jester.
"Jess... aku sudah dengar apa yang harus kamu lakukan kedepannya untuk menyelamatkan perusahan..." masih dengan suara yang terdengar sesenggukan Naomi mengucapkannya, Jester tersentak mendengar perkataan Naomi.
"Apa maksudmu?" tanya Jester dengan ada ketakutan yang tersirat
"Kamu harus bisa melepaskan aku Jess, aku..." jawaban Naomi dipotong oleh Jester.
"Tidak!! aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun!!" agak dengan bentakan Jester mengucapkannya, Naomi mengangkat kepalanya dan menatap Jester dengan sebuah senyuman.
"Aku baik - baik saja, ini adalah resiko yang memang harus aku terima dari semua keegoisanku dan kamu tidak perlu menanggungnya bersamaku" ucap Naomi terdengar begitu pasrah
Tertunduk Naomi mengatakan kata demi kata yang dia keluarkan dari bibirnya kepada Jester, matanya tidak berani untuk menatap wajah Jester. Air mata yang coba ia bendung tak tertahan lagi untuk menembus pertahanannya, mengalir dengan begitu derasnya. Suaranya semakin berat karena tertahan oleh kepedihan hatinya, jari jemarinya saling meremas satu sama lain hingga sedikit melukai tangannya yang juga bergemetar karena gesekan kecil antara kulit dan kukunya. Kondisi terpuruk yang dan hancur begitu terasa, membuat Jester yang melihatnya juga merasakan hancur.
Mendengar perkataan Naomi saat itu membuat Jester kehabisan kata - kata, untuk sementara Jester merasa akan percuma berbicara dengan Naomi dalam kondisi seperti ini, satu gerakan kecil Jester lakukan untuk menahan tangan Naomi agar tidak meremas lagi jari jemarinya. Kemudian Jester memilih berbalik dan keluar dari ruangan itu, memilih untuk duduk di kursi yang tersedia diluar kamar sembari menenangkan pikirannya. Semua pilihan semakin berat untuk dipilih, disisi lain Jester harus segera menentukan pilihannya agar semua kondisi menjadi lebih stabil lagi.
Didalam kamar itu tersisa lah Naomi yang kemudian menggenggam tangan Evans, sorot mata Naomi terus menatap wajah Evans yang sudah terlihat pucat pasi. Sekali lagi air mata Naomi pun mengalir deras membasahi pipinya, nafasnya yang mulai sesenggukan menambah pilu suara tangis Naomi ketika itu. Suara peralatan medis yang terhubung dengan banyaknya kabel ditubuh Evans membuat ketakutan Naomi begitu kuat, ingin memeluk ayahnya namun Naomi takut hal itu semakin membahayakan ayahnya.
"Maaf ayah... aku... aku tidak tahu harus berbuat apa.... aku tidak tahu sama sekali pilihan mana yang benar dan mana yang salah..." ucap Naomi terbata, suaranya terdengar begitu bergemetar.
"Aku harus apa... semua terjadi begitu saja karena kesalahanku.. aku pikir aku sudah menyelesaikannya... tapi.... tapi.." kalimatnya terhenti begitu saja, Naomi sungguh tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Nafasnya begitu susah untuk diatur dan dadanya terasa begitu sesak.
"Dunia seakan tidak menginginkan aku berdamai dengan semua itu.... aku harus apa....ayah...." ucap Naomi lagi meneruskan kalimatnya, kepalanya pun kini mulai tertunduk membiarkan deraian air matanya membahasi lantai.
Sentuhan tangan yang lembut tiba - tiba terasa di pipi Naomi yang sudah basah karena air matanya, degup jantung Naomi mulai tak menentu. Berkecamuk segala pikiran di kepalanya hingga ia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya mampu tertunduk penuh rasa penyesalan.
Betapa terkejutnya Naomi dengan kenyataan yang dilihatnya, tangan sang ayahnya lah yang tepat berada di pipinya. Sentuhan lembut penuh kasih sayang itu membuat Naomi bahagia namun juga semakin menguatkan rasa bersalahnya. Tatapan matanya tidak berkedip melihat wajah ayahnya itu sampai akhirnya terdengar suara yang mengejutkan Naomi.
__ADS_1
"Naomi...." dengan suara yang serak Evans mengucapkannya