
Malam hari yang cerah disebuah perbukitan yang cukup jauh dari pusat perkotaan, sebuah rumah terbangun dengan sangat mewah dikelilingi hutan pohon pinus. Hanya ada satu akses jalan yang langsung menghubungkan perkotaan dengan satu - satunya rumah diujung bukti, sehingga siapapun yang mendekat pasti akan diketahui petugas penjaga gerbang.
Begitu pula dengan sebuah Ferrari 458 yang dinaiki oleh Jester sudah terlihat lima ratus meter sebelum Jester sampai didepan pintu gerbang utama kediaman keluarga Gates, gerbang mulai terbuka perlahan untuk menyambut Jester dan Naomi. Begitu Ferarri 458 itu masuk kedalam gerbang, para penjaga disana langsung menundukkan kepalanya kepada Jester, dengan kecepatan rendah Ferarri 458 itu menyusuri jalan untuk menuju ke pelataran rumah kediaman Gates.
Di pelataran rumah terlihat William dan Marrie seakan sedang menunggu kedatangan Jester dan Naomi dengan raut wajah yang terlihat khawatir, Naomi yang melihat raut wajah William dan Marrie langsung kepikiran jika telah terjadi sesuatu karena berita yang sudah disebar oleh Werner Grup lewat jaringan media yang mereka miliki. Ketika mobil Ferarri 458 berhenti sempurna, William dan Marrie langsung berjalan mendekati mobil itu tanpa menunggu Jester dan Naomi turun.
"Wah wah... ada apa ini?" tanya Jester saat dirinya sudah turun dari mobil, William sedikit tertawa ketika melihat Jester terlihat tenang walau William yakin Jester sudah tahu mengapa mereka menunggu Jester didepan pintu saat itu.
"Bom nya sudah meledak nak, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" tanya William kepada Jester, hanya dengan acungan jari jempol Jester merespon pertanyaan William.
"Mama... apa yang terjadi?" tanya Naomi pada Marrie
"Arthur sangat marah ketika mendengar berita tentang kalian, dia meminta kami untuk segera membawa kalian ke ruang sidang" jawab Marrie terdengar sedih, khawatir dan ada sedikit ketakutan, mendengar perkataan Marrie membuat Naomi menjadi semakin takut.
Harus kembali keruang sidang artinya akan diadakan sidang oleh Arthur, Naomi yang tidak pernah siap dengan keadaan itu terpaksa harus menghadapi. Naomi sebenarnya sudah sadar hal ini akan terjadi sejak Grece membeberkan semua tentang berita yang akan disebar, namun Naomi masih saja tidak bisa siap menghadapi Arthur. Berharap Jester mampu menenangkannya tetapi sikap tenang yang Jester tunjukkan malah semakin membuat Naomi khawatir dan hanya bisa pasrah menghadapi semuanya.
"Ayo kita kesana" celetuk Jester sambil berjalan menuju pintu utama rumah bersama William, disaat itu Naomi menatap Jester dengan wajah yang terlihat kesal seakan Jester tidak memahami situasi.
"Jess memang seperti itu, dia selalu terlihat tenang disaat seperti apapun persis seperti Will. Tapi kamu tidak perlu khawatir karena Jess pasti sudah berfikir lebih jauh daripada kita" ucap Marrie sembari memegang tangan Naomi dengan kuat, walau terlihat Marrie berusaha untuk menenangkan Naomi namun dari suara dan sorot matanya membuat Naomi tahu jika Marrie sama khawatir dan takutnya dengan dirinya.
"Aku.... tidak tahu harus melakukan apa untuk membantunya kali ini, aku merasa.... aku hanya menjadi bebannya akhir - akhir ini. Apakah benar aku hanya harus diam dan melihatnya sedang berjuang sendiri untuk diriku? apa aku seperti orang yang tidak berperasaan ketika hanya melihatnya berjuang untukku? tapi jika itu salah, aku tetap tidak tahu harus melakukan apa" celetuk Naomi sembari menundukkan kepalanya
"Naomi... ini tugas kita sebagai wanita, kita diciptakan untuk mendampingi pria dan menjadi rumah mereka ketika pria kita lelah. Jika kamu sudah pada puncak tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu pria mu, maka itu saatnya kamu diam dan menunggu pria mu untuk pulang lalu peluklah dia. Karena pria adalah makhluk paling gengsian yang pernah tercipta, jadi kamu hanya harus menawarkan diri untuk menjadi tempatnya melepas lelahnya" timpal Marrie dengan senyum yang merekah menatap Naomi, perlahan Naomi menatap Marrie kembali.
"Menjadi... rumah...?" tanya Naomi terbata
"Iya, menjadi rumah untuk pria yang sudah kita pilih. Diluar sana pria berjuang dengan keringat dan darahnya untuk membahagiakan kita, karena pria sejati adalah pria yang akan melakukan apapun untuk membahagiakan kita. Lalu kita? kita sebagai wanita akan menjadi rumahnya untuk memberikan rasa aman, nyaman, dan ketentraman setelah pria kita berjibaku di kerasnya hidup jalanan" jawab Marrie dengan senyuman, Naomi tertegun memandangi wajah Marrie.
"Hubungan itu harus saling memberi dan saling menghargai, jika pria kita sudah mengambil tanggung jawab untuk menjadi pria sejati maka kita harus bertanggung jawab menjadi wanita sejati. Kita adalah tulang rusuk bagi seorang pria, tidak untuk berada di atas dan tidak untuk berada dibawah namun kita sangat dekat dengan hatinya. Jadi jagalah hatinya agar tidak pernah merasa lelah telah berjuang untuk kita" dengan suara yang menenangkan Marrie mengatakannya, Naomi pun tersenyum membalas senyum Marrie.
"Kadang memang pria itu bersikap sok hebat padahal sejatinya mereka rapuh, kalau tidak ada kita yang menopang hati mereka... entah akan jadi apa mereka itu" terdengar kesal Marrie mengatakannya sembari berjalan menuju pintu utama rumah
"Aku mengerti... aku akan berhenti untuk terlihat lemah didepannya agar Jester merasa aman saat dekat denganku dan bukannya merasa khawatir" timpal Naomi saat Marrie sedikit jauh berada didepannya, perkataan Naomi membuat Marrie menghentikan langkah lalu berbalik menatap Naomi dengan senyumannya.
"Sesekali bersikap lemah didepan pria kita itu tidak masalah kok" ucap Marrie dengan sedikit suara tawa yang terdengar, tangan Marrie memberi gestur agar Naomi segera mendekat.
Sebuah nasehat dan pelajaran yang Naomi terima dari Marrie membuat Naomi begitu merasa diterima dengan penuh cinta oleh ibu Jester, kedekatan yang dibangun antar keduanya semakin erat sejak masalah dengan Arthur terjadi. Kasih sayang seorang ibu bisa Naomi rasakan, sebuah kasih sayang yang sulit Naomi dapatkan dari sang ibu karena sikap Naoko yang dingin padanya. Walau jauh di lubuk hati Naomi menyadari cinta untuk dirinya dari sang ibu sangat besar, hanya saja sulit untuk menjalin keakraban seperti saat dia bersama dengan Marrie.
Naomi sedikit berlari mendekati Marrie lalu mereka berdua berjalan menuju ruangan yang dulu mereka pakai untuk sidang, didepan pintu terlihat Jester dan William sedang mengobrol. Ketika Jester menyadari kehadiran Naomi dan Marrie yang berjalan mendekati mereka, senyum Jester pun langsung merekah seakan mengatakan pada Naomi bahwa semua akan baik - baik saja.
Naomi langsung berlari dan menabrakkan tubuhnya ke Jester lalu memeluk dengan sangat erat, wajah Jester sempat terkejut mendapat pelukan yang tiba - tiba dan begitu erat dari Naomi. Tangan Jester mengelus kepala Naomi dengan lembut lalu matanya menatap Marrie, seakan ingin bertanya tentang apa yang membuat Naomi seperti itu. Namun Marrie hanya tersenyum dan memberi gestur agar Jester hanya diam saja, Jester hanya menuruti perintah Marrie walau dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Kamu baik - baik saja Jess?" tanya Naomi, pertanyaan Naomi membuat Jester heran.
"Bukankah kamu yang sejak tadi merasa takut? itu seharusnya menjadi pertanyaan ku padamu" jawab Jester dengan kebingungan, Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon jawaban Jester.
"Ini bukan hal yang seharusnya kamu emban, kamu masih seorang mahasiswa dan karena ingin menepati janjimu untuk terus bersamaku... kamu mengambil beban berat itu. Jika kamu lelah.... aku siap untuk menjadi tempatmu untuk beristirahat sejenak, aku siap untuk menjadi rumahmu dan tempat ternyaman mu untuk berkeluh kesah. Aku..." belum selesai Naomi berkata, Jester pun tertawa cukup keras saat itu sampai membuat Naomi, Marrie dan William terheran.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Naomi keheranan
"Aku teringat saat aku pernah mengatakan padamu kalau hidupku jadi semakin berwarna sejak aku bertemu denganmu diparkiran kampus, aku lebih menikmati gairah hidupku dengan semua tantangan - tantangan ini. Terima kasih sudah bersedia untuk menjadi rumah untukku dan sudah bersedia hadir menemani hari - hariku, aku tidak bisa bayangkan hidupku jika saat diparkiran kampus saat itu kamu tidak berpura - pura menjadi pacarku" jawab Jester dengan senyuman yang merekah menatap wajah Naomi yang mendongak menatap Jester.
Hanyut dalam kemesraan dan nostalgia bersama membuat Jester dan Naomi serasa menikmati dunia hanya milik mereka berdua sampai melupakan ada William dan Marrie yang memperhatikan tingkah mereka berdua, pasangan ini padahal harus menghadapi sidang yang pasti menegangkan dengan seorang Arthur namun keduanya masih bisa saja bermesraan disaat seperti ini.
"Apa maksudnya berpura - pura menjadi pacar?" tanya William terkejut, mendengar pertanyaan William membuat Jester dan Naomi terkejut dan berkeringat dingin.
"Aah Eeh.. anu..." ucap Naomi yang panik sambil melepaskan pelukannya lalu menatap William
"Aku bisa jelaskan papa!! tapi setelah kita bertemu kakek!" timpal Jester dengan panik
Belum juga menghadapi sang kakek, Jester harus mulai bersiap untuk menjelaskan maksud ucapannya untuk Naomi kepada William sang ayah. Permasalahan yang dihadapi Jester memang semakin banyak sejak dirinya bertemu Naomi tetapi dia bahagia karena mendapatkan cinta yang tulus dari Naomi, lebih - lebih Jester bahagia juga bangga bisa lepas dari kutukan jomblo abadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!! kalian membohongi kami hah?!!" bentak William, Marrie pun tertawa karena dia sejak awal sudah mengetahui kebohongan Jester dan Naomi namun kini kebohongan itu malah jadi kenyataan.
Terjadi keributan didepan pintu ruang sidang di kediaman besar Gates, keributan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya Julius membuka pintu secara tiba - tiba. Serentak Jester, Naomi, William dan Marrie menoleh menatap Julius yang menatap mereka dengan tatapan serius tanpa senyum sedikitpun, Jester, Naomi, William dan Marrie mengatakan dalam hatinya masing - masing bahwa inilah saatnya.
"Tuan besar Arthur sudah menunggu kalian didalam" celetuk Julius dengan wajah yang terlihat tegang saat menatap Jester
"Apa ada hal yang gawat?" tanya Jester dengan santainya
"Lebih dari sekedar gawat tuan muda Jester, tuan besar Arthur sangat marah mendengar berita tentang kalian" jawab Julius lalu berbalik dan mempersilahkan Jester, Naomi, William dan Marrie untuk masuk.
Secara bersama - sama Jester, William, Marrie dan Naomi masuk kedalam ruangan itu, kali ini Naomi tidak lagi bersembunyi dibelakang Jester saat akan berhadapan dengan Arthur dan itu membuat Jester tersenyum senang. Ditengah ruangan yang tersinari oleh sinar bulan yang menembus kubah kaca di atap ruangan itu, William dan Jester berdiri didepan Marrie dan Naomi menatap Arthur yang sedang duduk disebuah kursi selayaknya singgasana.
"Apa maksud dari berita yang tersebar itu?" tanya Arthur dengan suara yang terdengar begitu menekan dan marah
"Tidak ada maksud apa - apa, salahkan saja pada status ku sebagai orang yang bernama Gates dan kata 'selebgram' yang melekat pada Naomi. Akan sangat sulit menyembunyikan sesuatu mengingat status kami, aku benarkan?" jawab Jester tanpa beban, Arthur memukul arm rest kursi itu begitu keras sampai suara benturannya menggema di seluruh ruangan.
"Aku tidak menerima alasan bodoh seperti itu!!" bentak Arthur
"Lalu kakek mau alasan yang seperti apa?" tanya Jester dengan wajah yang terlihat kesal menatap Arthur
"Apa yang kamu rencanakan, Gates muda?" tanya balik Arthur kepada Jester, diantara Jester dan Arthur saling terdiam dan menatap untuk beberapa saat.
"Aku sedang melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dan tidak melakukan apapun jika memang itu tidak perlu aku lakukan" jawab Jester, dahi Arthur mengerut mendengar jawaban Jester.
"Kamu mengajakku untuk bermain - main?" tanya Arthur dengan nada yang menekan
"Apa aku terlihat sedang bermain - main?" tanya balik Jester dengan suara yang terdengar sinis
"Aku akan menyekap nona muda Scott dan melarang mu untuk menemuinya sampai aku melihat keseriusan mu menghancurkan Arielle Corp" jawab Arthur, perkataan Arhur membuat Jester, William, Naomi dan Marrie terkejut.
"Papa tidak boleh melakukan itu?!!" bentak William kepada Arthur
"Apa yang tidak boleh aku lakukan, Will?!" bentak balik Arthur pada William, mendapat bentakan itu membuat Will terdiam dengan kedua tangan yang mengepal kuat sampai bergemetar.
__ADS_1
"Sampai aku dapat melihat keseriusan mu, aku akan menyekap nona muda Scott dan kamu tidak akan aku izinkan untuk menemuinya" ucap Arthur mempertegas perkataan sebelumnya
"Aku harus gimana biar kakek merasa aku sedang serius mengerjakan tugas dari kakek?" tanya Jester berusaha untuk tetap tenang
"Katakan apa yang sebenarnya kamu rencanakan, aku hanya melihatmu bermain - main dengan masa remaja mu yang tidak berguna itu" jawab Arthur dengan tegas
"Buat apa kakek perlu mengetahui rencana ku?" tanya Jester lagi
"Karena aku yang memberi perintah padamu dan aku harus tahu tentang progres yang sedang kamu kerjakan, kecuali kamu berniat untuk tidak menghancurkan Arielle Corp" jawab Arthur lalu menatap Jester dengan penuh kecurigaan
"Kakek tidak memintaku untuk menghancurkan, tapi kakek memintaku untuk menjadikan Exo menjadi nomor satu" Jester mengingatkan kembali tantangan Arthur kepada Jester, namun perkataan Jester membuat Arthur tertawa terbahak - bahak.
"Aliran dana Exo itu dari aku dan secara resmi kemarin aku sudah menghentikannya, tidak ada cara lain untukmu agar membuat Exo menjadi nomor satu se..." belum selesai berkata, Jester menyela perkataan Arthur.
"Ada dan sedang aku lakukan" timpal Jester dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun
"Katakan" ucap Arthur menekan Jester
"Tidak akan" tolak Jester dengan tegas
Perdebatan yang terjadi menimbulkan pertengkaran kecil antara Jester dengan sang kakek, keputusan Arthur untuk menyekap Naomi bukan hal yang bisa Jester terima. Sendiri tanpa Jester dirumah yang membuat Naomi tidak nyaman dan ketakutan pasti akan membuat Naomi frustasi dan Jester tidak ingin itu terjadi pada Naomi, terlebih lagi mereka sudah berjanji untuk selalu bersama menghadapi apapun yang terjadi dan Jester juga berjanji untuk menghadirkan senyum dibibir Naomi. Selain itu Jester begitu keberatan dengan keinginan Arthur yang memintanya memberi tahu tentang seberapa jauh progres dari tugas yang Arthur berikan pada Jester.
"Aku akan menyekap nona muda Scott jika kamu tidak mengatakannya padaku" ancam Arthur kepada Jester
Ancaman Arthur membuat Jester terdiam dan menatap Arthur dengan sangat tajam dengan penuh kemarahan, Jester memikirkan kondisi Naomi yang akan jauh darinya dan berada dilingkungan dimana Naomi merasakan takut saat berada ditempat itu. Membayangkannya membuat Jester mulai ragu, namun jika Jester membuka rencananya maka akan ada kemungkinan Arthur akan mengintervensi lalu menggagalkan rencana Jester.
Jester sangat memahami jika yang diinginkan Arthur sebenarnya adalah untuk menghancurkan keluarga Arielle secara keseluruhan, sebagaimana cerita yang sudah dia dengar juga dari Grece. Seberapa kejam dan berdarah dinginnya Arthur yang tidak lain adalah kakek Jester sendiri, membuat Jester memahami betul arti dibalik tantangan Arthur kepada Jester.
Naomi yang memahami seberapa bimbangnya Jester saat itu karena dirinya, tiba - tiba berjalan maju sampai melewati Jester dan menatap Arthur dengan tajam. Sikap Naomi saat itu membuat Jester, William, Marrie dan Julius terkejut, mereka semua tahu seberapa takutnya Naomi kepada sosok Arthur namun sekarang dia berani maju dan menatap Arthur dengan tajam.
"Biarkan Jester tidak mengatakan apa rencananya dan aku siap untuk kamu sekap dirumah ini atau dimana pun yang kamu tentukan!" tegas Naomi mengatakannya, perkataan Naomi kembali membuat terkejut William, Marrie dan Jester.
"Naomi!! apa - apaan kamu?!" tanya Jester dengan emosi
"Ini keputusanku Jess! biarkan aku juga berkorban dan membantumu!!" jawab Naomi dengan sedikit bentakan
"A...apa maksudmu?" tanya Jester yang bingung dengan perkataan Naomi, sejenak Naomi menghela nafasnya
"Baru tadi pagi kita bertengkar karena kamu menundukkan kepalamu pada wanita lain yang menjadi musuhku hanya untuk diriku, apa kali ini kamu juga berfikiran akan mengorbankan rencana mu yang matang itu hanya untuk diriku?" tanya Naomi dengan nada yang terdengar sedih, Jester pun tidak dapat berkata apa - apa lagi karena memang baru saja dia berfikiran untuk membuka rencananya.
"Jess... jangan gegabah dan fokus pada tujuanmu, aku akan baik - baik saja" ucap Naomi sembari menoleh menatap Jester dan tersenyum manis
"Ti..dak.." gumam Jester dengan wajah yang terkejut dengan perkataan Naomi.
"Julius!" ucap Arthur, dengan segera Julius menepuk kedua tangannya lalu dari belakang Marry masuk delapan orang bertuksedo dan berkacamata hitam berlari kecil masuk kedalam ruangan.
Jester, William dan Marrie terkejut dengan apa yang terjadi, delapan pria itu hendak membawa Naomi untuk pergi namun Jester dan William berusaha menghalangi. Terjadi keributan disana dan "DORR!!' tiba - tiba terdengar suara ledakan pistol di ruangan itu.
__ADS_1