
Pagi yang cerah di kampus yang ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi yang memulai kehidupan kampus mereka, diantara semua mahasiswa dan mahasiswi itu terlihat Selena dan Naomi berada di belakang Jester nampak terkejut mendengar perkataan Luke. Harry memperhatikan Naomi yang ingin berbicara tapi terlihat bingung bagaimana cara menyampaikannya, Harry penasaran kenapa seseorang yang tidak ada hubungannya juga terlihat terkejut. Sesekali Harry memperhatikan Naomi yang sedang menyamar menjadi Aoi, Harry sama sekali tidak menyadari bahwa Naomi yang sedang dibicarkan berada tepat di depannya.
"Pagi Aoi... kenapa kamu ikutan terkejut begitu?" tanya Harry untuk memuaskan rasa penasaran, Naomi terlihat tersentak saat Harry tiba - tiba bertanya padanya.
"Aaah... Eeeh Tidak..." jawab Naomi terbata, kepanikan Naomi itu menambah kecurigaan Harry dan terlihat Harry mengerutkan dahinya seakan sedang menguliti penyamaran Naomi. Mengetahui itu Jester berusaha mengalihkan perhatian kedua sahabatnya itu
"Waaa waaa... kamu tidak harus melakukan ini bodoh! aku yang memukulmu jadi aku yang seharusnya minta maaf padamu!" Jester yang panik sambil mengalihkan pandangan Harry dari Naomi, Harry kembali menatap Jester saat Jester hendak mengembalikan kupon itu kepada Luke.
"Dasar bodoh!! ini bukan untukmu, tapi ini untuk Naomi... kamu telah bersikap tidak setia padanya kemarin, jadi sebagai sahabatmu aku merasa harus melakukan ini. buatlah dia bersenang senang" Luke menolak untuk menerima kembali kupon yang telah dia berikan pada Jester, melihat Jester dan Luke terlibat pertengkaran karena saling menolak untuk menerima kupon itu mendadak Harry menarik kupon itu dari tangan Jester.
"Kamu tahu, Luke sampai membongkar tabungan untuk membeli sepeda motor impiannya agar bisa memberikanmu dan Naomi kupon makan malam ini" ucap Harry sembari menunjukkan kupon itu ke depan wajah Jester, Harry lalu menarik tangan Jester dan memberikan kembali kupon itu ke tangannya.
"Pokoknya aku ingin kamu sampaikan kupon ini kepada Naomi, mungkin kupon ini tidak berarti bagimu dan Naomi karena kalian bisa saja membeli kupon seperti itu sebanyak yang kalian inginkan. Namun sebagai sahabatmu aku rasa memiliki kewajiban untuk melakukannya dan jangan lupa perlihatkan foto kencanmu kepadaku sebagai bukti" ucap Luke sambil meninggalkan Jester, Harry menepuk pundak Jester
"Gunakan dengan baik ya, Luke mengorbankan segalanya untuk kupon itu" ucap Harry lalu meninggalkan Jester, Naomi dan Selena.
Jester terlihat bingung dan terus memandangi tiket itu tanpa berani menoleh kebelakang dimana Selena dan Naomi berada, Jester mengetahui dengan pasti apa yang dirasakan oleh Selena saat ini setelah tahu tentang perasaan Selena padanya dan disaat seperti ini Luke seperti memberikan sebuah bom di tangan Jester. Sempat terdiam beberapa saat tanpa saling menatap, Selena berjalan mendekati Jester dan mengambil satu dari dua tiket yang dipegang oleh Jester lalu memberikannya pada Naomi.
"Ambillah" ucap Selena dengan nada yang datar, Jester berbalik dan menatap Selena yang memunggunginya dan sedang memberikan kupon kepada Naomi.
"Heii! kenapa kamu lakukan itu?!" tanya Jester panik, tidak ada kalimat yang dapat Jester katakan lagi selain itu. Naomi terlihat menatap Selena tanpa berkata apapun, tangannya pun tidak menerima tiket yang Selena sodorkan padanya.
"Mereka sahabatmu kan kak? sampai mengorbankan sesuatu seperti itu... mereka pasti menganggap kak Jester sangat penting, bagaimana jika mereka tidak mendapat foto kencan kalian? pasti mereka akan sangat kecewa kan?" Selena seperti menyadarkan Jester dan Naomi betapa beratnya beban kupon yang mereka pegang saat ini, mendengar ucapan itu Jester semakin kehabisan kata.
"Ta.. tapi... aku tidak.." ucap Naomi khawatir saat mata Selena terlihat mulai berkaca - kaca
"Ambil!!! aku tidak apa... ambil lah..." Selena menggenggam tangan Naomi lalu menaruh kuponnya ditangan Naomi dengan kasar, Naomi hanya bisa terus menatap Selena. Sempat terdiam beberapa saat, Selena terlihat mengatur nafasnya yang agak terengah - engah.
"Aku akan kekelas lebih dulu, kalian rencanakan lah kapan kencan ini dilakukan" ucap Selena dan beranjak pergi meninggalkan Jester dan Naomi, secara bersamaan Jester dan Naomi melihat Selena berjalan meninggalkan mereka berdua. Setelah Selena cukup jauh berjalan meninggalkan mereka, Jester memandangi tiket itu tanpa berani memulai pembicaraan. Naomi mendekat dan menepuk pipi Jester dengan lembut sampai membuat Jester mengalihkan padangannya ke wajah Naomi namun tetap tanpa kata kata. Naomi sadar tekanan yang dirasakan oleh Jester saat itu, Naomi melepaskan tangannya dari pipi Jester.
"Kamu atur saja pertemuannya, akan bahaya juga kalau kencan ini tidak terlaksana. Luke dan Harry bisa mencurigai kita lalu melaporkannya pada Tuan William dan Nyonya Marrie kan?" Naomi berusaha menenangkan Jester yang terlihat tertekan
"Tapi bagaimana dengan Selena? aku baru saja berbaikan dengannya" tanya Jester dengan penuh ke khawatiran, wajah Naomi dengan meyakinkan bisa membuat Selena merasa lebih baik dan berusaha menenangkan Jester.
"Serahkan Selena padaku, aku bisa memberikan pengertian padanya. oke?" ucap Naomi, Jester hanya mengangguk dan Naomi meninggalkan Jester disana lalu mengejar Selena. Jester berjalan menuju kelasnya sambil menggenggam kupon yang bagai bom untuknya, sepanjang hari itu Jester berfikir kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan kencan.
Setelah kelas pertama selesai, Jester memutuskan untuk melaksanakan kencan itu pada malam harinya. Tidak ingin membuang waktu Jester segera mengirimkan pesan kepada Naomi dan Naomi pun menyetujuinya. Sepanjang hari itu semua berjalan normal dimana Three Musketeers berkumpul, bercanda dan mengobrolkan hal hal yang tidak penting sama sekali, namun disisi lain pada saat bersamaan terlihat Naomi yang terlihat canggung bersama Selena. Keduanya sama sekali tidak terlibat dalam percakapan apapun hingga akhirnya mereka berdua berpisah setelah jam kampus selesai.
Di hari yang sama ketika malam telah tiba, di restoran jepang yang terkenal di kota itu terlihat ramai oleh pengunjung. Diantara semua pengunjung itu, terlihat Naomi dan Jester melangsungkan makan malam bersama di salah satu ruang khusus yang terbentang tatami dan sebuah meja besar. Jester dan Naomi saling berhadapan dipisahkan oleh meja, namun keduanya terlihat hanya berdiam diri dan tidak saling memandang satu sama lain.
"Seperti di rumahmu ya" Jester berusaha memecah keheningan dengan basa basinya, Naomi menatap Jester yang terlihat sangat berusaha untuk membuat suasana di tempat itu mencair.
"Iyaa... dirumah juga bernuansa jepang begini, aku seperti sedang makan dirumah" sahut Naomi dengan sedikit tersenyum, Jester merasa basa - basinya tadi sangatlah bodoh.
"Benar juga... kamu pasti sudah terbiasa seperti ini" ucap Jester yang tersenyum menyadari kebodohannya, Naomi mulai melihat sekeliling dan terlihat mengagumi dekorasinya.
"Luke sepertinya memaksakan diri ya, disini tidak murah loh. apa lagi sampai membeli kupon khusus" Naomi nampak tidak enak hati saat mengatakannya, cerita Harry yang mengatakan bahwa kupon tersebut dibeli dari uang yang Luke kumpulkan untuk membeli sepeda motor impiannya membuat Naomi tahu betapa berat beban kupon yang mereka pakai saat ini.
"Haah... aku tidak mengerti dengan teman temanku itu, mereka itu bodoh dan selalu seenaknya sendiri" ucap Jester yang terlihat kesal atas kelakuan teman - temannya itu, Naomi kembali menatap Jester dengan perasaan iri.
"Tapi.... pasti senang ya punya circle seperti itu, kalian saling mendukung satu sama lain" Naomi menimpali perkataan Jester yang terlihat tidak bersyukur punya teman seperti Luke dan Harry, mengetahui Naomi yang terlihat iri padanya Jester langsung mengingatkan bahwa Naomi pun memiliki teman seperti dirinya.
"Bukannya kamu juga memiliki Selena? dia jauh lebih baik daripada teman temanku" Jester menatap Naomi dengan heran, Naomi sedikit tersentak saat mendengar kata - kata Jester itu. Terdiam sejenak, Naomi menarik nafas sebelum kembali berbicara.
"Dulu, tapi sejak dia mengungkapkan perasaannya entah mengapa Selena sedikit berubah padaku" ucap Naomi sedih, Jester kemudian menunduk dan perasaannya dipenuhi rasa bersalah.
"Semua gara - gara aku, kamu dan Selena menjadi seperti ini. Luke benar benar datang disaat yang tidak tepat" penuh dengan perasaan menyesal Jester mengatakannya, Naomi menyadari Jester menjadi murung ditengah kencan mereka. Naomi tersenyum menatap Jester sembari menepuk tangannya
"mau gimana lagi... tapi sudahlah, bagaimana kalau kita nikmati saja. Lagian ini sudah dibayar mahal - mahal sama temanmu" Naomi berusaha mencairkan suasana kembali, Jester membalas senyuman Naomi namun tatapan mata Jester tidak dapat berbohong bahwa dia masih menyesali kejadian tadi pagi.
Tidak lama menunggu, pelayan membawa makanan masuk kedalam ruangan itu. Wajah terkesan Naomi dan Jester jelas terlihat saat itu, beberapa saat pelayan sudah menaruh semua jenis makanan yang termasuk dalam paket kupon itu diatas meja, Jester dan Naomi saling memandang dengan sunyaman terlihat senang. Disaat para pelayan mulai meninggalkan tempat itu terlihat ada seorang pelayan dengan membawa sebuah kamera akan melakukan pemotretan.
"Jester san dan Naomi san, bisa kita langsung dapatkan foto kalian?" tanya pelayan itu dengan sopan dan tersenyum, Jester kagum menatap pelayan itu.
__ADS_1
"Waah mereka bahkan juga tahu kalau kita ingin mendapatkan foto" dengan penuh perasaan kagum Jester mengatakannya, Naomi menatap Jester dengan perasaan kesal dan malu.
"Bukan seperti itu, ini termasuk paket didalam kupon itu... baiklah, mari foto" ucap Naomi, Naomi dan Jester menghadap pelayan yang membawa kamera sembari tersenyum semanis mungkin namun pelayan itu masih juga terdiam, Jester dan Naomi kembali saling bertatapan dengan wajah heran karena sepertinya pelayan itu terlihat bingung dan terdiam.
"Ada apa?" tanya Naomi yang terlihat bingung, pelayan itu kemudian menatap kamera sejenak lalu kembali menatap Jester dan Naomi
"Maafkan saya Naomi san, tapi di kupon itu adalah kupon couple date jadi foto yang akan kami ambil adalah foto kalian berdekatan sambil bermesraan" pelayan berusaha menjelaskan tentang tema pemotretan, Jester dan Naomi kaget dengan pernyataan pelayan itu. Keduanya saling bertatapan dengan wajah yang memerah, kecanggungan mereka jelas tidak dapat di sembunyikan lagi bahkan sampai membuat pelayan yang akan mengambil foto juga ikutan salah tingkah.
"Heii... foto ini yang akan kamu tunjuk kan pada Luke kan?" tanya Naomi panik, wajah Naomi terlihat memerah saat bertatapan mata dengan Jester.
"Te... tentu saja... tapi aku tidak mengira akan begini" jawab Jester yang terbawa kepanikan Naomi, merasa tidak sabar pelayan itu mulai menegur Jester dan Naomi dengan sopan.
"Maaf... bisa saya mulai?" tanya pelayan itu dengan sopan namun agak terbata, dengan malu malu Jester berdiri, berjalan mendekati Naomi, dan duduk disebelah Naomi hingga akhirnya saling berdekatan sampai bahu mereka bersentuhan. Wajah Jester dan Naomi semakin memerah, keduanya berusaha bertingkah senatural mungkin namun senyum Jester dan Naomi jelas terlihat memaksakan diri sampai membuat pelayan di depan mereka sedikit menahan tawa, terlintas di kepala pelayan itu ingin sedikit lebih menggoda keduanya.
"Hmm... mungkin Jester San bisa merangkul Naomi san dan Naomi san menempelkan kepala di bahu Jester san" ucap pelayan mengarahkan pose untuk keduanya, Jester dan Naomi kembali terkejut dengan arahan pelayan itu.
"Haah? kenapa harus sampai seperti itu?!" tanya Jester dengan panik, pelayan itu tersenyum menatap Jester yang terlihat panik dan menahan perasaan malu nya.
"Yaa tentu karena Jester san kan pacar Naomi san" jawab pelayan itu agak menggoda keduanya, Naomi sadar mereka sedang dikerjain
"Sudah, lakukan saja!" perintah Naomi sembari memegang tangan Jester dan merangkulkannya ke bahu Naomi lalu Naomi menyenderkan kepalanya di bahu Jester
"Tapi aku tidak akan dapat masalah kan? ini melanggar kontrak" bisik Jester saat kepala Naomi terasa sangat dekat, wangi rambut Naomi membuat Jester deg - degan dan wajah Jester benar - benar merah merona. Naomi hanya terdiam saat itu tanpa mempedulikan yang dikatakan Jester, wajah Naomi pun terlihat memerah dan jantungnya berdetak cukup keras.
Pelayan didepan mereka mulai mengarahkan kamera sambil sedikit tersenyum karena melihat wajah Jester dan Naomi memerah dan senyuman penuh makna bahwa keduanya merasakan kegugupan yang sama, seperti pasangan baru yang saling mencintai tetapi masih malu - malu untuk memulai momen kebersamaan mereka.
"Baik... Senyum... dan..." Petugas itu memotret mereka berdua, lalu menunduk memberi salam dan keluar dari ruangan itu. Dengan bingung Jester menatap pelayan yang meninggalkan mereka berdua diruangan itu
"Loh? mana fotonya?" tanya Jester heran dengan tangan yang masih merangkul Naomi dan Naomi pun masih menyenderkan kepalanya di bahu Jester.
"Mereka akan memberikannya ketika kita pulang" jawab Naomi tenang, namun tiba tiba Naomi sadar tangan Jester masih merangkulnya dan mereka masih menempel satu sama lain. Naomi mendorong Jester dengan keras hingga membuat Jester tersungkur di tatami itu.
"Menjauhlah!!" Naomi agak berteriak lalu membuang muka saat Jester mulai menatapnya dengan marah
"Kenapa kamu jadi malu seperti itu?!" tanya Jester dengan nada yang kesal, namun Naomi hanya menggeleng - gelengkan kepala.
"Ja.. jadi bagaimana dengan Selena?" tanya Naomi mengalihkan pembicaraan dan masih menunduk, Jester mengambil sumpit dan mulai memilih beberapa jenis hidangan di atas meja.
"Hmm? entahlah, aku benar benar gak ada rasa padanya" jawab Jester sembari mulai menikmati makanan yang sudah dia ambil, Naomi menatap Jester karena baginya jawaban Jester seperti tidak serius dan cenderung main - main.
"Apa kamu tidak ingin mempertimbangkannya? dia cantik loh... badannya juga lebih bagus daripada Camilla, ceria dan baik, bukankah pria suka wanita seperti Selena?" tanya Naomi sembari menunjukkan kelebihan Selena agar Jester mempertimbangkannya, Jester berhenti makan lalu menatap langit - langit ruangan itu dan berfikir sejenak.
"Iya sih... dari mata pria Selena jelas lebih menggoda daripada Camilla" jawab Jester, lalu kembali melahap makanan yang ada di piringnya. Jester terlihat tidak peduli dan lebih mementingkan makan daripada melajutkan berbicara tentang Selena.
"Tuh kan aku sudah duga, semua pria sama saja... lalu apa lagi yang kamu tunggu? dia sangat.... menyukaimu kan?" tanya Naomi dengan nada ragu, Jester kembali berhenti makan dan menatap Naomi dengan serius tanpa senyuman.
"Tapi... aku benar benar jatuh cinta sama Camilla, aku bukan pria yang bisa dengan mudah pindah hati" jawab Jester lalu tersenyum menatap Naomi, Jester kembali melahap makanan di piringnya. Naomi tertegun menatap Jester yang terlihat menikmati hidangan dan tiba - tiba Naomi tertawa, mendengar Naomi tertawa membuat Jester merasa dirinya sedang diejek dan keduanya tiba tiba tertawa bersama. Naomi mulai menikmati hidangan didepannya sambil terus memikirkan kata kata Jester dan tanpa Naomi sadari dia kembali tersenyum malu.
"Dasar bodoh" Naomi bergumam ditengah menikmati makanan, keduanya menikmati malam itu dengan perasaan bahagia.
Setelah kencan makan malam antara Jester dan Naomi berlalu, hari pun berganti dan pada siang hari di taman kampus terlihat Three Musketeers kembali berkumpul setelah kelas mereka usai. Luke dan Harry menangis bersama sembari menatap selembar foto yang berada ditangan Luke, itu adalah foto Jester dan Naomi saat sedang makan malam bersama.
"Kenapa kalian nangis seperti itu?" tanya Jester dengan heran, Luke menatap Jester dengan wajah kesal dan penuh perasaan iri dan dengki.
"Siaaall... Siiaalll.. sungguh menyebalkan... tapi selamat ya... bikin iri saja... tapi semoga beruntung ya.... semoga kau di campakkan.... langgeng sampai pernikahan ya...." jawab Luke sambil menangis kesal memandangi Jester, Jester kesal dengan ucapan Luke yang tidak jelas dia sedang memberinya selamat atau malah mendoakan keburukan untuknya
"Kamu mengutukku atau memberiku selamat dasar gorila bodoh!!" dengan marah Jester mengatakannya dihadapan Luke, Harry mengambil foto yang dipegang Luke lalu memperhatikan wajah Naomi.
"Naomi benar benar cantik ya... dia gak bakal bisa terjangkau oleh kita kita ini" timpal Harry kembali merasa iri pada Jester yang mendadak mendapatkan pacar secantik Naomi, mendengar perkataan Harry membuat Jester kesal.
"Apa maksudmu dengan kata kita rubah bodoh!" dengan bentakan Jester mengatakannya, ditengah obrolan Three Musketeers Naomi terlihat berlari mendekati Jester yang berada di taman tengah kampus bersama Luke dan Harry
"Jester!!" sapa Naomi dengan teriakan, Naomi yang muncul tiba tiba dengan penyamaran tidak seperti biasanya membuat Jester terkejut, jika di perhatikan sedikit saja siapa pun akan menyadari bahwa itu adalah Naomi sang selebgram. Jester terlihat panik sambil memandangi Naomi yang terus berlari mendekati Jester, Harry benar benar memperhatikan Naomi yang dia kira adalah Aoi selama ini dan mendadak membuat suatu kesimpulan yang membuat Jester semakin panik.
__ADS_1
"Eeh itu Aoi kan? tapi kayaknya dia lebih cantik ya dari biasanya ya, kacamata dan rambut kepangnya itu sungguh menganggu dan kalau dilepas dia akan terlihat mirip seperti siapa ya?" ucap Harry berusaha menduga - duga kemiripan Aoi dengan seseorang, Jester paham Harry akan segera sadar siapa sosok Aoi sebenarnya. Dengan sigap Jester berdiri dan mengalihkan perhatian Luke dan Harry,
"Heii! siapa orang dibelakangmu itu?!" Jester mengucapkannya dengan kepanikan sembari menunjuk sesuatu dibelakang Luke dan Harry, mendengar perkataan Jester yang panik itu Luke dan Harry spontan menoleh kebelakang secara bersamaan namun tidak ada siapa siapa dibelakang mereka dan saat kembali berbalik Jester dan Aoi tidak ada ditempat itu. Luke dan Harry nampak bingung namun keduanya hanya saling tatap tanpa berpikir hal lain
Disisi lain Jester dan Naomi berlari menjauhi mahasiswa dan mahasiswi yang berada di lingkungan kampus, belakang gedung kampus yang selalu sepi menjadi tempat yang Jester pikirkan saat itu untuk menghindari kehebohan di kampus karena kehadiran selebgram. Setelah sampai di belakang gedung kampus, Jester dan Naomi terlihat mengatur nafasnya yang terengah - engah. Jester menatap Naomi dengan perasaan marah saat nafasnya kembali normal
"Bodoh!! kenapa kamu berpenampilan seperti itu?! mana penyamaranmu yang biasanya?!" tegur Jester dengan sedikit bentakan, namun Naomi masih berusaha mengatur nafasnya
"Hah... Hah... itu.. Hah... Selena" jawab Naomi terbata karena nafasnya masih tidak beraturan, Jester menatap Naomi dengan serius saat Naomi menyebut nama Selena.
"Kenapa sama Selena?!" tanya Jester yang terlihat khawatir, Naomi masih terengah - engah namun berusaha untuk berbicara
"Dia menjauhiku... hari ini dia tidak datang kerumahku dan saat aku kerumahnya dia sudah tidak ada disana, kata ibu nya Selena udah berangkat lebih awal dan dia sudah memblokir ku di semua media sosialnya" jelas Naomi singkat dengan nada panik dan masih sulit mengatur nafasnya karena kecapean sehabis berlari kesana kemari, Jester menggenggam bahu Naomi dan menatap mata Naomi dengan tajam.
"Apa artinya dia ada disekitaran kampus?" tanya Jester mencoba menduga - duga, Naomi mengangguk dan tatapan matanya mulai berkaca - kaca.
"Sepertinya iya, aku butuh bantuanmu untuk mencarinya. Aku yakin dia sangat marah padaku saat ini, tolong aku Jester. dia satu satunya temanku yang paling berharga untukku" pinta Naomi pada Jester, mendengar permintaan tulus Naomi itu Jester kembali merasa bersalah.
"Aku yang akan mencarinya, kamu segera perbaiki penyamaranmu" perintah Jester, Naomi mengangguk beberapa kali tanpa berkata apapun.
Jester kemudian mulai berlari kesana kemari di lingkungan kampus mencari Selena namun Jester tidak kunjung bertemu dengan Selena hampir diseluruh gedung utama kampus, hingga tersisa ruang perpustakaan yang jarang sekali di kunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi dan merupakan satu satunya tempat yang belum Jester datangi saat itu. Jester berjalan dan membuka pintu perpustakaan itu lalu melihat Selena duduk disalah satu kursi sembari membaca sebuah buku, perlahan Jester masuk kedalam perpustakaan dan mendekati Selena.
"Selena" sapa Jester dengan penuh perasaan bersalah, Selena menarik nafasnya dalam - dalam saat Jester menyebut namanya.
"Siang kak Jester..." dengan wajah dan suara datar Selena menatap dan menyapa balik Jester, Selena kembali membaca setelah selesai mengucapkan salam. Jester menarik kursi dan duduk disebelah Selena sembari terus menatap wajah Selena, namun Selena terlihat tidak peduli dengan keberadaan Jester dan terus terlihat asyik membaca.
"Kamu menghindari Naomi?" tanya Jester memecahkan keheningan, Selena tetap menatap buku ditangannya.
"Apa pedulimu?" Selena balik bertanya dengan nada sinis, mendengar pertanyaan Selena itu membuat Jester yakin Selena marah padanya dan pada Naomi tentang makan malam mereka.
"Tentang makan malam itu, itu bukan salah Naomi..." Jester berusaha menjelaskan namun Selena memotong perkataan Jester
"Aku tahu!" ucap Selena singkat yang seakan mengatakan bahwa dia tidak ingin membicarakan hal itu, namun Jester ingin Naomi dan Selena berbaikan sehingga Jester agak menekan Selena saat itu.
"Lalu kenapa kamu marah padanya?" tanya Jester dengan tekanan, Selena menutup bukunya lalu menatap langit - langit gedung.
"Gak tau... aku ga tau kenapa aku marah padanya dan perasaan marah ini harus aku luapkan pada siapa... aku gak tahu..." Selena mendadak seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri, Jester menggebrak meja saat melihat Selena sedikit melamun
"Aku! kamu harusnya marah sama aku, Aku tidak menyadari keberadaanmu waktu kita masih SMA. Tapi itulah aku, aku hanya bisa mencintai satu wanita sampai dia benar benar menjauh dariku" jelas Jester, Selena sedikit tersentak sembari menatap wajah Jester yang terlihat serius saat mengatakannya
"Jadi Naomi sudah menceritakan semuanya?" tanya Selena menatap mata Jester namun Jester membuang muka, Jester merasa sangat bersalah saat itu.
"Iya... aku benar benar tidak menyadarinya... Maafkan aku" jawab Jester dengan penuh rasa bersalah, Selena membalikkan badannya menghadap Jester.
"Aku akan katakan ini satu kali dan kak Jester tidak boleh memotong!" agak dengan bentakan Selena mengatakannya, Jester kembali menatap mata Selena.
"Eeh.. yah baiklah.." Jester sedikit terkejut saat itu, Selena terlihat menarik nafasnya panjang panjang
"Aku suka padamu kak" ucap Selena dalam satu tarikan nafas, wajah Selena terlihat memerah dan matanya terlihat berkaca - kaca saat mengatakan itu.
"Eeeh kamu mau..." Jester panik namun jari Selena langsung menyentuh bibir Jester agar Jester terdiam
"Kamu tidak boleh memotong!" bentak Selena, Jester kemudian mengangguk beberapa kali dan Selena pun melepaskan jarinya dari bibir Jester
"Pertama sejak kamu nembak temanku di sekolah dulu namun temanku menolakmu karena baginya kamu itu memalukan" jelas Selena yang sedikit tersenyum saat mengatakannya, wajah Jester mendadak memerah dan dipenuhi perasaan malu.
"Waaa... kenapa kamu bicarakan..." perkataan panik Jester kembali dipotong lagi lagi dengan jari Selena yang menyentuh bibir Jester, Selena menatap Jester dengan marah.
"Tidak boleh memotong!!" Selena mengatakannya sambil menahan malu namun masih dengan betakan, lalu melepaskan kembali jarinya dari mulut Jester ketika Jester mengangguk - angguk kembali.
"Bagiku kak Jester itu keren, aku juga ingin diperlakukan seperti itu. Kedua ketika Naomi bercerita tentang vidio viral itu dan lagi lagi aku merasa kakak itu keren, kakak itu pacar bohongan dan mempermalukan diri sendiri seperti itu demi melindungi Naomi. Aku berfikir bagaimana jika Naomi itu pacar sungguhan, pasti sangat romantis ya" jelas Selena yang wajahnya mulai sangat memerah sambil menatap mata Jester, Jester tertegun mendengarkan perkataan Selena.
"Dan ketiga ketika kejadian ditaman kota, kakak begitu peduli pada Naomi yang bahkan hatinya bukan untukmu. jadi sekarang setidaknya aku ingin mengutarakan perasaanku yang sudah aku pendam sejak dulu. Aku cinta padamu" ucap Selena menatap Jester dengan penuh ketulusan, untuk pertama kalinya dalam hidup Jester di tembak oleh seorang wanita cantik. Suasana di perpustakaan itu mendadak penuh kehangatan oleh perasaan cinta Selena kepada Jester.
__ADS_1
Disaat bersamaan Naomi yang berada dibalik pintu perpustakaan mendengar percakapan Selena dan Jester, wajah Naomi nampak kaget lalu tangannya meremas dress pada bagian dadanya.