Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kekompakan Jester dan William


__ADS_3

"Aku tahu semuanya... aku sudah tahu kebenarannya... mama telah menceritakan segalanya... lalu apa? terus kenapa? apa akan ada yang berubah? tidak.... tidak ada yang berubah... aku masih tetap berjuang sendiri, pagi malam aku bekerja keras dengan usahaku sendiri.... apa gunanya pria yang seharusnya aku panggil ayah itu? apa?!" bentak Sarah kepada Jester dan William.


Malam yang cerah dipusat perkotaan, jalanan terlihat masih padat dengan mobil - mobil yang berjalan melintas. Disebuah pusat perkantoran yang sudah berangsur - angsur sepi karena ditinggalkan baik oleh pekerja dan pengunjung, terlihat lampu masih menyala disalah satu gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu.


Dilantai dua puluh dua dimana lantai itu menjadi lantai tempat Jessica dan Sarah bekerja sebagai owner Arielle Corp, nampak Jessica yang terlihat begitu menyesal menatap Sarah dengan air mata yang membasahi pipinya. Jester dan William terdiam menatap Sarah, setelah perkataannya itu seakan menembak langsung tepat di hati Jester dan William.


Perkataan dengan nada yang sarat dengan emosional, ada kemarahan dan kekecewaan namun tangisannya membawa kepiluan. Sarah yang Jester kenal sebagai wanita karir tangguh, dengan membawa semua luapan isi hatinya meluapkan perasaannya selama ini yang membuat Ibunya, Jester dan William sulit untuk berkata - kata. Bagaimana pun sebagai pria sejati, keduanya mempunyai prinsip tidak akan melakukan hal kejam seperti itu.


"Tidak akan aku serahkan... aku tidak tertarik untuk bekerjasama denganmu Jester! walau keluarga Gates itu akan menghancurkan ku!! aku tidak akan menyerah pada kalian!!!" Sarah kembali membentak penuh emosi, satu tangannya terlihat mengepal dan satunya lagi menunjuk Jester tepat diwajahnya. Jester dan William menghela nafasnya hampir bersamaan.


"Tenangkan pikiranmu dulu, tidak sesederhana itu aku..." belum selesai Jester berbicara, Sarah langsung memotong


"Aku tidak mau bekerjasama dengan siapapun yang bernama Gates!!!" timpal Sarah penuh emosi


"Kamu lupa dalam darahmu juga mengalir darah Gates?" tanya William menekan Sarah, pandangan Sarah pun beralih menatap tajam William lalu terdiam.


"Biar aku perjelas, alasan kamu bisa hidup enak sampai detik ini karena kakek mu mengorbankan perusahaannya rugi sampai satu juta dollar. Itu artinya kamu tidak hebat sama sekali dan yang hebat adalah kakek mu" dengan nada yang terdengar mengejek William mengatakannya


"Papa, itu bukan kalimat yang bagus disaat seperti ini kan" terdengar kesal saat Jester mengatakannya


"Tapi itu kenyataan yang seharusnya nona muda ini pahami, kamu terlalu manja dengan caramu menyikapi sebuah fakta. Aku tahu kenapa kamu sampai seperti ini, ibu mu terlalu memanjakan dirimu" ucap William dengan tegas, Sarah terlihat sangat emosi lalu berlari keluar dari ruangan itu.


"Sarah!!" teriak Jessica lalu berlari mengejar Sarah, namun tangan William menarik lengan Jessica dan menahannya disana.


"Biarkan dia pergi, dia harus berusaha berfikir sendiri tentang apa - apa saja yang harus dia lakukan disaat seperti ini" ucap William dengan tegas, namun Jessica terlihat keberatan dengan perkataan William.


"Tapi tuan William, Sarah itu..." belum selesai Jessica berkata, William menyela.


"Dia sudah dewasa, dia sudah mampu untuk berfikir mana yang harus dan tidak perlu dia lakukan sekarang. Kita ada urusan yang lebih penting, ini juga termasuk menjaga apa yang ingin Sarah pertahankan" timpal William sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan Jessica.


"Aku... mengerti..." terbata Jessica mengatakannya, lalu Jessica berbalik dan duduk di sofa yang tersedia diikuti oleh Jester dan William. Di sofa itu mereka bertiga sempat terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya William memecahkan keheningan di ruangan itu.


"Keuangan Exo sangat buruk, rencana Jester tidak bisa dijalankan dan papa ingin menghentikan pasokan dana secepatnya" celetuk William memecahkan keheningan


"Aku tahu..." dengan nada yang terdengar menyesal Jessica mengatakannya, perkataan Jessica saat itu menimbulkan tanda tanya bagi Jester dan William.


"Apa maksudnya kamu tahu?" tanya William penasaran


"Aku tahu jika tuan Andrews sengaja mengalah setiap kali ada proyek besar, aku tahu dia selalu mengambil proyek - proyek yang tidak menguntungkan untuk menghindari Arielle Corp mengalami kerugian, dan aku tahu siapa pemborong produk - produk gagal kami yang beredar dipasaran... aku tahu semua itu" jawab Jessica, mendengar jawaban Jessica membuat Jester dan William memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan keuangan Exo.


"Jika seperti ini maka rencana Jester tidak akan bisa berjalan" dengan penuh penyesalan William mengatakannya, Jessica terlihat sedih dan tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Aku lihat aset Exo sangat banyak yang menumpuk di gudang, bagaimana jika Arielle Corp membeli itu semua?" tanya Jester sembari menatap Jessica


"Aku akan lakukan" jawab Jessica dengan tegas, namun William seakan tidak setuju dengan ide anak semata wayangnya itu.


"Tidak bisa, kakek mu akan segera menyadari ada kerjasama diantara kalian dan itu akan membuat kakek mu merasa dikhianati" timpal William dengan tegas. Bagaimanapun William sudah sangat mengenal sosok ayahnya, dan itu membuatnya merasa percaya diri bahwa rencana Jester tidak bisa dilakukan.


"Tidak jika itu karena pernikahanku dengan Naomi, semua akan berjalan natural demi bisnis" dengan senyum sinis Jester mencoba sedikit membuka rencananya, William dan Jessica tersadar.

__ADS_1


William tidak mengira putra semata wayangnya yang belum pernah turun tangan untuk mengurus bisnisnya mampu memikirkan ide yang cemerlang, saat itu William merasa darah Arthur Gates melekat kuat pada diri Jester. Dan timbul kebanggaan yang luar biasa di hati William untuk Jester.


"Itu bisa, pernikahan kalian harus mewah dan megah jadi pasti akan membutuhkan banyak sumber daya" timpal William yang langsung memahami rencana Jester


"Benar... aku sudah punya rincian anggaran, aku hanya harus menambah - nambahi aset yang dijual oleh Exo..." Jessica pun menimpali perkataan William


"Satu lagi papa, aku ingin Gates hotel yang papa pegang untuk melepaskan empat puluh sembilan persen saham" pinta Jester kepada William, mendengar permintaan Jester membuat William heran dan bingung.


Bagaimana pun selama ini kepemilikan saham jaringan hotel Gates seratus persen adalah miliknya dan tidak pernah dijual karena tidak ingin ada orang lain yang ikut mengatur jaringan hotel, terlebih William yang sempat berseteru dengan Arthur sangat memahami bagaimana cara kerja Arthur untuk menghancurkannya dari dalam. Itulah alasan terkuat William tidak pernah rela melepaskan kepemilikan sahamnya pada siapapun, permintaan Jester sangat sulit diterima oleh William.


"Nak... itu agak..." belum selesai William berkata, Jester memotong.


"Tenang saja, ketika kita memenangkan ini dengan segera aku akan membebaskan hotel Gates kembali" seakan tanpa beban Jester mengatakannya, William dan Jessica terlihat tidak mempercayai Jester.


"Itu jika kamu memenangkan pertaruhan ini, jika tidak kita akan hancur bersama tuan muda Gates" Jessica mengingatkan Jester akan rawannya rencana Jester itu.


"Benar... begitu aku lepas, kakek mu pasti akan menyuruh orang untuk memborong dan menghancurkan ku dari dalam seperti Arielle Corp ini" timpal William yang mulai khawatir dan sedikit ragu dengan permintaan Jester.


"Tidak, rencana ini pasti berhasil. Jadi dengarkan aku dengan baik" ucap Jester lalu berdiri dari duduknya mendekati sebuah papan yang tersedia di ruangan itu.


Jester menjelaskan secara detail dan rinci semua perencanaannya di sebuah papan yang ada di kantor Jessica dan membuat William serta Jessica terdiam, mereka berdua begitu serius memperhatikan setiap penjelasan Jester. Hingga tengah malam akhirnya rapat antara Jester, William dan Jessica pun usai, mereka terlihat sangat puas dengan apa yang sudah dijabarkan oleh Jester. Begitu pula dengan Jester yang senang mendapatkan dukungan dari William dan Jessica, dengan segera Jester dan William berpamitan pada Jessica.


"Tujuan kedua papa" celetuk Jester ketika turun dari lift dilantai dasar, William hanya tersenyum sambil terus berjalan berdampingan dengan anaknya itu.


Dengan sebuah mobil Porsche Taycan, Jester dan William segera berangkat menuju lokasi kedua yang sudah mereka sepakati. Perjalanan selama tiga puluh menit pun berlalu, Porsche Taycan yang dinaiki oleh William dan Jester pun sampai di depan pagar rumah yang tinggi dengan aksen khas budaya jepang. Ya... sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal bagi keluarga Scott, melihat ada sebuah mobil berhenti hendak masuk membuat satpam rumah berlari mendekati Porsche Taycan itu.


Perlahan pagar otomatis itu bergeser dan memberi ruang untuk mobil Porsche Taycan masuk, William kembali menginjak pedal gas untuk masuk hingga sampai ke pelataran rumah. Jester dan William turun hampir bersamaan dan berjalan menuju pintu utama rumah yang masih tertutup itu, tidak lama kepala pelayan keluarga Scott membuka pintu.


"Tuan Gates, maaf... tuan dan nyonya Scott meminta anda untuk menunggu diruang keluarga" ucap kepala pelayan keluarga Scott dengan sopan


"Oh ok, yang penting mereka semua sudah tahu kami datang" timpal William sembari berjalan masuk kedalam rumah itu seakan itu adalah rumahnya, Jester mendadak kesal melihat sikap William itu. Bagi Jester rumah itu sempat membuatnya begitu tertekan karena keberadaan Naoko, sebuah awal yang akhirnya mengantarkannya diposisi saat ini.


Tidak lama berselang, Jester dan William yang duduk diruang keluarga dengan banyak suguhan serta minuman di atas meja mendengar suara pintu terbuka. Jester dan William menoleh menatap Evans yang duduk di kursi roda sedang didorong oleh Naoko mendekati mereka, senyum merekah ketika William dan Evans saling bertatapan mata.


"Evans!!!" terdengar senang William menyapa sahabatnya itu


"Will!! senang bertemu denganmu, tapi aku tahu kamu membawa berita buruk malam ini" timpal Evans yang juga terdengar semangat


"Selamat malam Tuan William dan Jester" dengan anggun Naoko mengatakannya, Jester pun berdiri dan menundukkan kepalanya kehadapan Evans dan Naoko.


"Selamat malam ayah... ibu... maaf mengganggu" ucap Jester dengan sopan, Jester kembali duduk ketika sudah memberikan salam. Perlahan Naoko kembali mendorong kursi roda Evans sampai dekat dengan sofa yang diduduki oleh William dan Jester, sedangkan Naoko sendiri duduk di sofa bersebelahan dengan Evans yang langsung menghadap Jester dan William.


"Ada apa Will?" tanya Evans penasaran, William pun menghela nafasnya sejenak.


"Ini tentang papa ku, pernikahan Jester dan Naomi sedang terancam" jawab William terdengar sedikit panik, mendengar jawaban itu membuat Evans dan Naoko terkejut yang begitu tampak dari raut wajah keduanya.


"Lalu? apa yang bisa kita lakukan untuk dapat membantu Jester dan Naomi?" tanya Evans yang akhirnya panik, Naoko tampak mengerutkan dahinya menatap William.


"Jess... ceritakan semuanya pada Evans dan Naoko" ucap William sembari menatap Jester, dengan satu tarikan nafas panjang lalu Jester hembuskan perlahan dan dengan berat hati Jester mulai menceritakan semuanya pada Evans dan Naoko.

__ADS_1


Satu jam penuh Jester bercerita tentang yang terjadi, mulai dari penculikan Jester dan Naomi yang dilakukan oleh Arthur, persidangan mereka, dihadirkannya Jessica ditengah mereka yang begitu mengagetkan Naoko karena mereka teman masa SMA dan Naoko juga sangat mengetahui sejarah Jessica kecuali orang yang menghamilinya, juga tentang tantangan yang Arthur berikan agar Jester dan Naomi dapat melangsungkan pernikahannya, lalu yang terakhir dan yang paling penting diantara semuanya saat itu Jester juga meminta pertolongan Evans dan Naoko.


"Aku ingin ayah dan ibu melepaskan empat puluh sembilan kepemilikkan saham atas jaringan rumah sakit Scott untuk mengumpulkan uang agar dapat membeli saham Arielle Corp" pinta Jester kepada Evans dan Naoko, walau terkejut namun Evans dan Naoko sangat memahami dan mempercayai Jester.


"Aku akan lakukan, besok Naoko akan mengurus pelepasan sahamnya" ucap Evans yang saat itu terdengar seperti mengalami sesak nafas, melihat kondisi Evans yang seperti itu membuat Naoko langsung memeriksa kesehatan Evans.


Terjadi sedikit kepanikan saat Evans seperti mengalami penurunan pada kondisinya, hal itu membuat Naoko, William maupun Jester sangat khawatir. Berita tentang rencana Arthur yang mengancam pernikahan Jester dan Naomi memang merupakan berita berat dan menyakitkan bagi Evans yang begitu mencintai Naomi, Evans yang sudah menggantungkan harapan bahwa putrinya akan menikah dengan putra sahabatnya itu tidak ingin rencana pernikahan yang harusnya terjadi empat bulan lagi itu batal begitu saja. Evans pun sudah sangat setuju dan mempercayakan kehidupan putrinya kelak akan bersama Jester. Apapun yang dianggap terbaik untuk Naomi akan dia lakukan dengan maksimal walaupun kondisi kesehatannya tidak baik - baik saja.


"Evans... kamu baik - baik saja?" tanya William dengan khawatir, William mendekati Evans dan duduk berjongkok disebelah Evans.


"Uhuk... Uhuk... maaf... hah.... berhubungan dengan Arthur lagi membuat aku sedikit mengalami stres" jawab Evans dengan terbata karena kesulitan untuk bernafas, dengan sigap Naoko melakukan panggilan dengan handphone miliknya.


***


"Tolong segera kerumah, tuan mengalami sesak nafas" ucap Naoko ketika telepon terangkat, lalu Naoko segera mematikan panggilan telepon itu.


***


"Evans... kamu harus istirahat dulu..." terdengar begitu lembut suara Naoko mengajak Evans untuk istirahat


"Tapi ini... hah... hah.... sangat penting... aku tidak bisa..." belum selesai Evans berbicara, Jester memotong


"Ayah serahkan saja semua padaku, aku berjanji akan menjaga Naomi apapun yang terjadi. Kebahagiaannya adalah prioritas utama dalam hidupku, ayah istirahat saja agar Naomi tidak mengkhawatirkan kondisi kesehatan ayah" timpal Jester dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun, perkataan Jester membuat William tersenyum penuh kebanggaan kepada anak semata wayangnya itu.


Kondisi Evans yang mendadak mulai menurun membuat Jester sedikit cemas, hai itu karena Jester kembali mengingat cerita masalalu Naomi tentang kesedihan dan rasa bersalahnya pada sang ayah yang membuat dirinya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dan akan menjadikan kondisi ayahnya semakin buruk. Bagi Jester keadaan Evans yang memburuk akan membuat Naomi sedih dan tidak bisa fokus untuk membantunya menjalankan misi dari Arthur. Jester tidak ingin membuat Naomi kembali terpuruk akan rasa bersalah untuk ayahnya jika terjadi sesuatu pada Evans.


"That's my boy" gumamnya penuh kebanggaan


"Kamu telah berjanji padaku Jester... ayah sangat berharap kamu tidak akan pernah mengingkarinya" dengan senyuman yang begitu merekah saat Evans mengatakannya, Naoko pun tersenyum menatap Jester.


"Baiklah... aku butuh istirahat, Will dan Jester... jika kalian capek, kalian bebas berada disini sesuka hati kalian. Rumah keluarga Scott adalah rumah kalian, tapi kalau memang ada urusan lainnya aku tidak akan menghalangi. Maaf tubuhku terlalu lemah saat ini, aku ingin menemani kalian tapi sepertinya aku hanya akan jadi penghalang" ucap Evans dengan suara yang terdengar sangat senang walau nafasnya masih terdengar berat, Naoko berdiri dan bersiap untuk mendorong kursi roda Evans.


"Serahkan pada kami, Naomi sudah aku anggap anakku sejak kalian melahirkannya kedunia ini. Biar anak bodohku ini yang menjaganya sepenuh hati dan umurnya" tegas William mengatakannya


"Siapa yang papa bilang bodoh?!" agak membentak Jester mengatakannya dan mendadak Jester tidak dapat lagi menjaga imagenya didepan Evans dan Naoko, Evans pun tertawa lepas melihat ayah dan anak yang selalu bertindak seenaknya sendiri itu.


"Baiklah... aku kembali ke kamar dulu" ucap Evans lalu Naoko pun mendorong kursi roda Evans untuk keluar dari ruangan, baru beberapa langkah Naoko menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jester.


"Naomi mempunyai mental yang rapuh dan semangatnya mudah meredup, Jester... tolong perhatikan sisi Naomi juga saat kamu bertindak" tegas Naoko mengatakannya tanpa menoleh menatap Jester, kemudian Naoko kembali berjalan mendorong Evans keluar dari ruang keluarga dirumah keluarga Scott.


Sempat terdiam sejenak memikirkan perkataan Naoko, tidak lama Jester memberi kode pada William untuk segera meninggalkan rumah keluarga Scott. Mereka berdua pun keluar dari ruang keluarga menuju ke pelataran rumah dimana William memarkirkan Porsche Taycan miliknya, di pelataran rumah itu tiba - tiba William menghentikan langkahnya sampai membuat Jester yang sejak tadi berjalan dibelakang William pun menabrak punggung William.


"Kenapa berhenti mendadak papa?!" agak membentak Jester mengatakannya, William berbalik menatap Jester.


"Tunggu, aku punya satu cara lagi agar kakek mu akan kehilangan arah saat memata - matai rencana mu" ucap William dengan senyum penuh kelicikan, Jester pun tersenyum licik merespon senyuman William.


"Apa itu papa?" tanya Jester terdengar penasaran, namun Jester sangat memahami jika ayahnya tersenyum seperti itu maka akan ada rencana yang luar biasa akan keluar dari pemikirannya.


"Kita bicarakan ini di mobil" ajak William dengan suara tawa yang menggelegar, Jester pun membalas tawa William seakan sudah percaya dan setuju apa yang ada dipikiran William saat itu.

__ADS_1


__ADS_2