
Pada sore hari di sebuah kompleks perumahan, sebuah Mercedez Benz S400 berwarna putih sedang terparkir didepan sebuah rumah minimalis yang mewah dengan aksen jepang. Didalam rumah itu Naoko sedang memandang Naomi dengan tatapan menekannya seperti biasa, Naomi dan Jester menunjukkan wajah terkejutnya mendengar kalimat terakhir Naoko.
"Tentu, aku tidak akan membiarkan Naomi bertemu dengan Daniel lagi" dengan penuh ketenangan Jester mengatakannya, walau dalam hati Jester merasa sangat panik. Naoko tersenyum mendengar perkataan Jester, sedangkan Naomi merasa dirinya kembali diselamatkan lagi dan lagi oleh Jester.
"Tolong jaga Naomi untuk kami" pinta Naoko sembari memberikan Handphone nya ke Naomi, Naomi mengambil handphone itu dan segera mencatat nomornya lalu mengembalikannya kepada Naoko.
"Selamat siang Jester... Naomi" pamit Naoko sembari membungkuk, Jester dan Naomi pun ikut membungkuk sampai Naoko keluar dari rumah dan menutup pintu. Beberapa saat Naomi mencubit perut Jester beberapa kali, terlihat Jester kesakitan saat itu dan berusaha melindungi perutnya dari cubitan Naomi.
"Aw.. Aaww.. Apa ini?!" tanya Jester sembari menahan sakit, dengan wajah kesal bercampur malu Naomi menatap Jester.
"Untuk membayar ceritamu tadi pada ibu tentang handphone ku" jawab Naomi sembari berbalik dan meninggalkan Jester di lorong utama rumah, Jester terlihat bingung dengan tindakannya apakah sudah benar atau malah memperburuk situasi seperti kejadian di restoran cepat saji beberapa waktu yang lalu.
"Tapi kan aku cuma membantu biar ibu tidak terlalu lama menekanmu" celetuk Jester sembari berjalan dibelakang Naomi menuju ruang makan, tiba - tiba Naomi terhenti dan membuat Jester ikutan berhenti berjalan dengan wajah yang khawatir Naomi akan marah seperti dulu.
"Aku tahu... Terima kasih ya..." Naomi berbalik dan tersenyum manis menatap Jester, melihat senyuman itu membuat Jester merona karena terpesona.
"Yaah... tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan" ucap Jester terbata menutupi rasa malunya, Naomi sedikit tertawa lalu berjalan mendekati Jester.
Naomi kembali mencubit perut Jester beberapa kali sampai terdengar suara tawa yang saling sahut dari rumah itu, suasana rumah itu mendadak menjadi hangat. Kemudian keduanya terlihat melakukan aktifitas sehari - hari dirumah itu, mengobrol, bercanda, dan makan malam bersama hingga tidak terasa hari pun berlalu.
Pagi yang cerah tiba, suara burung - burung berkicau pun terdengar di komplek perumahan. Naomi membuka matanya bersamaan dengan senyumnya yang tiba - tiba merekah, wajahnya begitu ceria yang terlihat dari sorot matanya. Naomi menarik selimutnya sampai menutup sebagian wajahnya, mata Naomi menatap kesebuah gorden yang masih menutupi sinar matahari yang akan masuk kamar lewat jendela.
"Apa hari ini akan menyenangkan? tapi jika bersamanya... mungkin" gumam Naomi yang semakin terlihat senang, dengan penuh semangat Naomi mulai meregangkan tubuhnya diatas kasur itu.
Naomi beranjak dari tidurnya dengan sedikit melompat, kemudian merapihkan kasur lalu membuka gorden serta membiarkan cahaya matahari pagi menyorot kamar. Naomi menuju meja rias dan merapihkan penampilannya, tidak lupa menggunakan parfum lalu memperhatikan dirinya di depan kaca itu. Setelah yakin semua sudah sempurna dan tampil cantik, Naomi menepuk lembut kedua pipinya dengan tangannya dan segera keluar dari kamar. Pagi ini menjadi pagi yang begitu bersemangat dan berbunga - bunga bagi Naomi.
Naomi segera menuju dapur dan mulai menyiapkan bahan - bahan lalu mulai memasak sarapan untuk mereka berdua, hingga beberapa saat Naomi terlihat masih memasak sembari memandangi pintu masuk ruang makan yang menyatu dengan dapur. Naomi agak heran Jester tidak juga kunjung datang hingga sarapannya sudah matang, Naomi segera menyajikan masakannya di meja makan dengan mempersiapkan segala peralatan makan.
Setelah semua masakan dan peralatan makan sudah siap, Naomi berjalan menuju ruang keluarga berniat untuk membangunkan Jester. Namun di ruang keluarga itu Naomi tidak melihat Jester, Kasur lipat Jester pun sudah tertata rapih di pojok ruangan. Naomi berkeliling mencari Jester di ruangan itu dan mengira Jester sedang bersembunyi untuk mengerjainya, tapi dalam hatinya merasa tidak mungkin Jester akan melakukan hal kekanakan seperti itu.
"Jester!! gak lucu!! keluarlah!!" teriak Naomi, wajah Naomi mulai terlihat tidak tenang dan hatinya penuh dengan rasa khawatir.
Disalah satu meja dekat dengan televisi, Naomi melihat handphone milik Jester. Naomi mengambil handphone itu dan menekan tombol "on" lalu mendapati handphone Jester tidak terkunci, Naomi membuka beberapa chat masuk yang dikirim oleh beberapa orang.
***
"Jester, kelas nanti kamu harus duduk disebelahku" diterima dari Camilla
***
"Kak... kapan kamu bisa pergi denganku lagi?" diterima dari Selena
***
"Hei bodoh, Kami akan melindungimu lagi. Jangan lakukan hal bodoh didepan Camilla saat dia mulai menyerang" diterima dari Si Gorila
***
__ADS_1
"Jester, aku minta nomor Naomi. Jaga - jaga kalau Selena dan Camilla melakukan hal bodoh" diterima dari Rubah Bodoh
***
Setelah membaca semua chat masuk ke handphone Jester, Naomi menaruh handphone itu kembali pada tempatnya semula dan mencari Jester disekeliling rumah sambil meneriaki nama Jester. Namun Jester memang sudah tidak berada dirumah itu, hingga sampailah Naomi digarasi dan melihat mobil masih terparkir sempura seperti biasanya.
"Kamu dimana? Jester..." gumam Naomi yang mulai terlihat panik, saat berusaha berfikir kemungkinan kemana Jester pergi terbesit pikiran bahwa Jester pulang kerumah keluarga Gates. Naomi berlari masuk kedalam rumah lagi menuju ruang keluarga untuk mengambil handphone Jester, Naomi kembali membuka handphone itu dan mencari nomor William yang tertulis "Monster Rumah!!" lalu segera melakukan panggilan.
***
"Hallo Jester! ada apa pagi - pagi telepon papa mu? apa kamu rindu denganku? tapi maaf, aku tidak ingin mengganggu hari - harimu bersama nona Naomi. Wahaha" ucap William dengan penuh semangat dan tawa saat mengangakat telepon itu.
"Maaf papa, ini aku Naomi..." dengan nada yang sedih Naomi menjawab salam dari William
"Looh... Nona Naomi?! ada apa dengan suaramu? kenapa telepon papa pagi - pagi seperti ini? apa Jester memperlakukanmu dengan buruk?! biar aku hajar dia sekarang, tunggu aku disana!" dengan nada marah dan khawatir Wiliiam mengucapkannya
"Tidak papa... Jester sangat baik padaku, tapi..." Naomi menggantung kalimatnya
"Ada apa? kamu kenapa?" tanya William yang nadanya mulai tenang namun masih tersirat suara yang penuh kekhawatiran
"Aku sebenarnya ingin bertanya namun aku sudah tahu jawabannya, aku kehilangan Jester.... dia tiba - tiba tidak ada dirumah, entah sejak kapan. Aku pikir Jester pulang kerumah papa" jawab Naomi dengan nada yang terdengar pasrah
"Hmm.... apa kalian bertengkar?" tanya William
"Tidak, semalam sebelum tidur pun kami masih bercanda bersama. Atau mungkin saat itu ada kata - kataku yang menyinggungnya semalam? tapi aku tidak yakin" jawab Naomi sambil terus berusaha mengingat kejadian kemarin
"Iya... aku rasa iya, dia mengalami hal tidak menyenangkan akhir - akhir ini. Mungkin sudah berlangsung dua hari dan aku rasa hari ini pun jika dia ke kampus.... hari - harinya akan melelahkan" jelas Naomi
"Aku tahu dimana dia, namun ini yang terbaik. Jester hanya butuh waktu untuk sendiri, aku sarankan kamu tidak usah khawatir dan mengganggunya" ucap William yang suaranya terdengar tenang
"Tapi aku tidak bisa.... aku tidak bisa membiarkannya sendiri... tolong kasih tahu aku papa" pinta Naomi dengan nada yang memelas
"Maaf nona Naomi, papa tidak bisa kasih tahu" tolak William dengan nada yang lembut
"Baik papa... terima kasih" jawab Naomi yang terdengar sangat kecewa mendengar penolakan William
"Aku tahu kamu kecewa sama papa, tapi tidak apa. Jester akan baik - baik saja" ucap William lalu menutup saluran teleponnya
***
Naomi menaruh handphone itu diatas tatami dan termenung, sembari terus memandangi handphone Jester yang memantulkan wajahnya. Wajah Naomi saat itu terlihat sangat sedih dan penuh kekecewaan.
"Dia mengalami hal berat bersama Camilla dan Selena lalu aku hanya datang untuk menambah bebannya" gumam Naomi
"Jester.... jika itu memang mau mu... aku tidak akan memaksa, kamu ingin sendiri kan? baik... aku paham... aku tidak akan mencarimu. Aku tidak akan memaksa untuk berada disampingmu disaat seperti ini" gumam Naomi yang mulai meneteskan air matanya
"Tidak apa Naomi... ini kemauan Jester kan? sama seperti kasus Daniel dulu... kamu hanya harus diam Naomi, tidak usah lakukan apapun... kamu harus diam Naomi... jangan lakukan apapun..." Naomi menggumamkan hal yang sama berulang ulang, hingga beberapa menit telah berlalu namun Naomi masih saja bergumam hal yang sama berulang - ulang dan membatu di tempat yang sama.
__ADS_1
Matanya masih terpaku pada handphone Jester yang dalam mode tidur, Naomi memandangi wajahnya dari pantulan layar handphone itu. Hingga tiba - tiba handphone Jester menyala karena ada SMS dari operator dan disaat itu Naomi melihat wajah Jester yang tersenyum sembari berfoto bertiga dengan Luke dan Harry, Naomi seperti tersadar ketika melihat senyuman Jester dan seakan suara Jester menyebut namanya terngiang di telinga.
"Tidak! Tidak Naomi... Kamu gak boleh lakukan hal yang sama!!" agak dengan teriakan Naomi mengucapkannya, matanya mulai menunjukkan kekuatan tekatnya dan keraguannya selama ini menghilang seketika.
Naomi berdiri dan berlari menuju pintu utama lalu mengambil kunci mobil yang tergantung digantungan dekat pintu keluar utama, Naomi kembali berlari menuju ke garasi lalu masuk kedalam Mercedes Benz V260. Tidak ingin membuang waktu Naomi menyalakan mobil itu dan segera mengeluarkan dari garasi tanpa memanaskan mesinnya terlebih dahulu, bagian depan mobil telah keluar dari garasi dan segera membelokkan mobilnya agar masuk kejalanan namun Naomi lupa bahwa mobil itu sangatlah panjang sehingga bagian kanan mobil menyerempet tembok garasi hingga tergores sangat panjang. Naomi membuka kaca jendela dan melihat goresan itu, Naomi terlihat sangat menyesal ketika melihat goresan itu.
"Maaf Jester...." gumam Naomi dengan penuh penyesalan
Naomi terus memaksa mobil itu keluar sehingga goresan itu malah semakin panjang dan dalam, tanpa mempedulikannya Naomi segera memacu mobil menuju rumah keluarga Gates. Empat puluh menit perjalanan yang melelahkan bagi Naomi karena tidak terbiasa mengemudikan mobil sebesar itu hingga akhirnya sampailah Mercedes Benz V260 itu didepan pelataran rumah keluarga Gates, Naomi keluar dari mobil dan disambut oleh para penjaga rumah dan pembantu rumah. Setelah bertanya kepada kepala pembantu, akhirnya Naomi bertemu Marrie di ruang membaca dalam rumah itu.
"Hoo~ Naomi? tumben berkunjung... dimana Jester?" Marrie bertanya dengan ramah dan terlihat terkejut melihat Naomi yang menemuinya sendirian, saat itu Naomi terdiam beberapa saat namun masih terus menatap Marrie dengan tatapan yang sedih.
"Mama... aku kehilangan Jester, papa bilang Jester akan baik - baik saja dan menyarankan aku untuk tidak mencarinya tapi..." Naomi menghentikan kata - katanya dan menarik nafas sejenak agar dirinya dapat menahan air mata yang akan pecah kembali, Marrie terkejut mendengar ucapan Naomi saat itu.
"Aku dulu menganggap diam adalah pilihan yang baik namun aku kehilangan sesuatu yang penting untukku, sekarang aku tidak ingin kehilangan Jester karena aku hanya berdiam diri. Jika mama tahu dimana Jester menenangkan diri, aku mohon dengan sangat tolong beritahu aku" ucap Naomi meneruskan kalimatnya yang terpotong, Marrie terlihat menutup buku yang dia baca lalu meletakkan di meja didekatnya.
"Hmm... Will mengajarkan banyak hal tentang menjadi pria sejati versi Will dan Jess tumbuh menjadi mirip Will, sayangnya aku tidak tahu kemana Jess pergi" ucap Marrie lembut sembari berjalan mendekati Naomi lalu menarik tangan Naomi menuju ke kolam renang, Dikolam itu William terlihat duduk di pinggir kolam dan memainkan air sesekali.
"Will... Naomi datang untuk bertanya padamu" ucap Marrie sambil menarik tangan Naomi dan berhenti dekat dengan William
"Ooh nona Naomi!! senang melihatmu, ada apa?" tanya William sembari berdiri menatap Naomi dengan senyuman, Naomi menunduk mendengar pertanyaan William yang seakan masih berusaha mengalihkan pembicaraan agar Naomi tidak mencari Jester.
"Papa... papa tahu aku mau bertanya apa" jawab Naomi singkat dan nadanya sedikit terdengar marah, William menggaruk dahinya beberapa kali mendengar jawaban Naomi.
"Aah iya... tapi Jester akan baik - baik saja, kamu tidak perlu khawatir" ucap William terdengar masih tenang ketika Naomi mulai emosi, tangan Naomi mengepal hingga bergemetar.
"Aku tidak akan mengganggunya, aku cuma ingin berada disampingnya ketika dia merasa sendiri! hanya itu!! aku mohon padamu papa!" Naomi tidak bisa mengendalikan emosinya hingga meneteskan air matanya dan tidak sadar telah membentak William, Marrie menaruh kepala Naomi dibahunya dan kemudian memandangi William dengan tatapan marah.
"Will.... beri tahu Naomi Jess ada dimana" ucap Marrie menekan William agar menjawab pertanyaan Naomi
"Seorang pria harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus melibatkan siapa pun! itulah prinsip menjadi seorang pria sejati!!" dengan tegas William mengatakannya, Naomi berjalan satu langkah mendekati William dengan penuh emosi.
"Aku tidak peduli!! aku tidak peduli pada prinsip papa!! aku tidak ingin Jester menjadi seperti papa!! cukup jadi Jester yang sekarang dan aku... aku ingin berada disampingnya ketika dia mengalami masalah" Naomi masih tidak dapat mengendalikan emosinya, air mata Naomi menetes deras bersamaan dengan akhir kalimatnya. Mendengar Noami membentak seperti itu membuat Marrie dan William terkejut, seketika keduanya tertawa kecil.
"Ahahaha.... sialan kau Jester, bisa - bisanya kamu mendapatkan wanita sebaik ini" ucap William terlihat mengakui kekalahan dirinya terhadap Jester, mendengar perkataan William membuat Marrie marah.
"Jadi menurutmu aku tidak baik hah?!" Marrie bertanya dengan nada yang mengancam dan menatap William dengan tatapan dingin, tatapan itu membuat mental William menciut.
"Bukan~ Bukan begitu sayang.... Uhuk... Uhuk... Baiklah Naomi, carilah Jester di danau bukit. Aku mengatakan padanya...." ucapan William dipotong oleh Naomi yang tersadar Jester selalu membawanya ketempat - tempat yang memiliki tujuan untuk menenangkan diri
"Ke pantai untuk menangis, ke gunung untuk meredakan gejolak emosi. Ke danau untuk?" tanya Naomi yang mulai terlihat ingin segera pergi dari tempat itu, William tersenyum menatap Naomi.
"Sepertinya Jester sudah memberitahu sedikit tentang menjalani hidup seperti William" dengan penuh kebanggaan William mengatakannya, Naomi menyeka sisa air matanya.
"Iya... Jester memberi tahu aku tentang itu" ucap Naomi sembari menatap William dan terlihat lebih tenang
"Danau itu tenang, tidak banyak pergerakan di airnya. Dari sana kita belajar untuk selalu berfikir tenang dan buang semua hal yang membuat hati kita bergejolak, aku yakin disana dia sekarang" jelas William, Naomi membungkuk memberi salam dan langsung berlari meninggalkan William dan Marrie. Marrie tersenyum melihat Naomi yang begitu bersemangat untuk segera menemukan Jester, sesaat William berjalan mendekati Marrie dan merangkulnya sembari tersenyum melihat Naomi yang semakin jauh
__ADS_1
"Jester mendapatkan pasangan yang tepat, aku tidak khawatir lagi padanya" ucap Marrie tersenyum, William hanya membalas senyum Marrie