
Rabu sore yang cerah disebuah cluster perumahan dimana Jester dan Naomi tinggal, sebuah mobil BMW 740Li melaju pelan dan terparkir didepan salah satu rumah dengan aksen khas budaya jepang. Tidak lama Jester, Naomi, Marrie dan Naoko pun turun dari mobil lalu mereka pun berpisah, sejenak Jester dan Naomi terdiam didepan rumah mereka sembari menatap mobil BMW 740Li yang berjalan terus melaju menjauhi mereka berdua.
"Pernikahan kita semakin dekat dan persiapannya pun semakin matang... semoga kamu tidak pernah menyesali keputusanmu karena sudah berjanji padaku" celetuk Naomi memecahkan keheningan diantara mereka
"Apa yang perlu aku sesali?" tanya Jester datar, pertanyaan Jester saat itu membuat Naomi kesal yang dia tunjukkan dengan rau wajah kesalnya menatap Jester.
"Kamu tahu apa yang perlu kamu sesali" terdengar sedikit membentak Naomi mengatakannya, Jester menoleh menatap Naomi dan tersenyum penuh kehangatan.
"Aku tidak tahu, karena aku sudah berjanji padamu untuk tidak mengungkitnya" tegas Jester mengatakannya, Naomi pun terpana menatap mata Jester dengan raut wajah yang terkejut. Sebuah hal kecil yang Jester lakukan untuk menepati janjinya membuat Naomi tersipu malu, hatinya pun terasa hangat saat menatap senyum Jester kepada dirinya. Tiba - tiba Jester membopong Naomi, Naomi terkejut saat itu dan sontak mengalungkan kedua tangannya di leher Jester.
"Jess!! apa yang kamu lakukan?!!" tanya Naomi dengan teriakan karena terkejut
"Membawamu pulang, kamu milikku sekarang sampai seterusnya. Mungkin kedepannya aku akan posesif kepadamu, tapi semua itu karena aku sayang. Semoga kamu tidak keberatan" jawab Jester terdengar khawatir, lingkaran tangan Naomi pun semakin erat memeluk Jester lalu Naomi menempelkan kepalanya didada Jester dengan manja.
"Tidak... aku tidak keberatan" timpal Naomi dengan senyuman diraut wajahnya, Jester pun tersenyum saat itu lalu membawa Naomi hingga kepelataran rumah. Jester menurun kan Naomi disana untuk membuka pintu rumah, setelah masuk mereka pun berjalan menuju ruang keluarga untuk menikmati sore itu dengan menonton televisi sambil mengobrol ringan dan bercanda bersama. Mereka terlihat saling bermesraan, seakan sedang memanfaatkan momen itu untuk menguatkan ikatan cinta mereka.
Malam pun tiba, Jester dan Naomi terlihat masak bersama untuk mempersiapkan makan malam. Masih dengan canda tawa dan tingkah konyol Jester didepan Naomi, keduanya terlihat sangat menikmati momen kebersamaan itu. Tidak lama suara nada dering handphone Jester berdering tanda ada telepon masuk, Jester berjalan menuju meja makan untuk mengambil handphonenya yang dia letakkan disana. Tertulis nama 'Selena' yang menelepon, Jester pun langsung mengangkat telepon itu.
***
"Ya halo Selena, ada apa?" tanya Jester
"Kak hari ini aku dan Luna tidak kesana, kami ada urusan" jawab Selena terdengar sedikit panik, merasakan kepanikan Selena membuat Jester penasaran.
"Kalian baik - baik aja?" tanya Jester terdengar khawatir
"Baik - baik kok kak, aku cuma mau ngabarin itu" jawab Selena lalu dia menutup teleponnya.
***
"Dari Selena? Ada apa?" tanya Naomi penasaran ketika melihat Jester kembali menatap layar handphonenya
"Dia dan Luna gak pulang hari ini karena ada urusan, tapi dari suaranya kok dia sepertinya sedang panik" jawab Jester terdengar khawatir, Jester pun mengalihkan pandangannya menatap Naomi.
"Apa perlu kita mencari tahu?" tanya Naomi yang juga mulai khawatir, Jester kembali meletakkan handphonenya lalu berjalan mendekati Naomi sambil terus berfikir.
"Sepertinya tidak usah, kalau memang mereka butuh bantuan maka Selena pasti langsung memintanya" jawab Jester datar, Naomi pun terdiam menatap Jester.
"Ada apa?" tanya Jester heran dengan diamnya Naomi yang tiba - tiba.
"Kamu bilang tadi Luna dan Selena tidak 'pulang' hari ini" jawab Naomi terdengar menyindir dengan menekankan kata pulang, Jester pun kaget dengan pernyataan Naomi.
"Hah? benarkah aku bilang begitu?" tanya Jester panik, namun Naomi malah tertawa melihat kepanikan Jester.
"Kenapa panik? apa kamu takut aku cemburu?" tanya balik Naomi sambil menahan tawanya, Jester pun kesal merasa dirinya sedang dikerjai oleh Naomi.
"Iya... bagaimanapun antara aku dan Luna pernah saling mencintai lalu tentang Selena juga kamu tahu sendiri, kata 'pulang' itu kesannya aku sudah membiasakan diri mereka tinggal bersama kita" Jester mengatakannya dengan perasaan bersalah, Naomi pun tersenyum lalu mengalihkan pandangannya kembali pada masakannya.
__ADS_1
"Apa kamu benar sudah terbiasa dengan keberadaan mereka?" tanya Naomi, pertanyaan itu membuat Jester kembali panik.
"Tidak bukan seperti itu, aku itu hanya..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.
"Aku terbiasa dengan keberadaan mereka disini" timpal Naomi terdengar senang, Jester pun terkejut dengan perkataan Naomi itu. Sejenak mereka terdiam tanpa saling menatap, hingga Naomi tiba - tiba menghela nafasnya.
"Kehadiran Luna memberi dampak yang besar dalam hidupku... sejak awal kedatangannya aku belajar darinya untuk sabar menghadapimu, naik turunnya emosimu dan menerima amarahmu. Setelah itu dia mengajarkan aku untuk selalu percaya padamu, tentang janjimu, cintamu, responmu, dan sikapmu. Disaat aku terpuruk lagi dan lagi dia mengajariku untuk menyerahkan permasalahanku padamu, meminta pertolonganmu, dan tidak menyembunyikan apapun darimu" ucap Naomi sambil terus mengolah masakannya, tidak lama Naomi pun terdiam kembali sambil mengalihkan pandangannya menatap Jester.
"Kehadirannya membuat aku merasakan bagaiman rasanya memiliki seorang kakak... kalau kamu merasakan yang aku rasakan juga, aku tidak akan cemburu karena itu" Naomi tersenyum manis menatap Jester saat mengatakannya, Jester pun tertegun menatap Naomi.
"Jess... aku tidak tahu bagaimana perasaanmu sekarang kepada Luna, tapi jika kamu masih punya rasa marah padanya... tidak bisakah kamu tulus memaafkannya?" tanya Naomi terdengar sedih, senyum Naomi pun menghilang ketika itu.
"Aku sudah memaafkannya... tidak ada alasan lagi bagiku untuk terus membencinya, terlebih ketika dia yang membantumu bangkit ketika kamu terpuruk kemarin. Jujur saja ketika kamu lebih mencarinya daripada aku, aku merasa sangat kecewa dan sedih. Namun sekarang aku paham kenapa kamu lebih mencarinya daripada aku, keberadaannya yang selalu menenangkan... aku juga merasakan itu" jawab Jester, lalu dia berjalan mendekati Naomi dan memeluknya dari belakang begitu erat sampai membuat Naomi terkejut dan wajahnya pun memerah.
"Tapi sekarang aku sudah punya kamu, aku tidak ingin memberi harapan apapun kepada wanita lain. Tentang Luna biarkan dia menjadi masa laluku dan hanya sebatas ini aku bisa berhubungan dengannya, aku hanya terbiasa dia berada disekitarku untuk menjadi temanku" dengan lembut Jester mengatakannya, Naomi yang masih terkejut dan wajahnya memerah karena pelukan erat Jester pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Jester.
"Gombal~" celetuk Naomi dengan manja
Tawa mereka pun pecah seketika, Jester dan Naomi melanjutkan masak bersama. Tidak lama masakan Naomi pun selesai, mereka terlihat makan bersama dan sesekali Naomi dengan manjanya ingin disuapin oleh Jester. Tingkah Naomi yang manja seperti ini membuat Jester merasa lega, Naomi terlihat sudah melewati masa - masa terpuruk dan traumanya pasca kejadian dengan Daniel. Setelah makan bersama, Jester membantu Naomi untuk membereskan dapur. Hanya membutuhkan beberapa menit saja mereka sudah membereskan tempat itu, Jester tiba - tiba membopong Naomi dan hendak membawanya ke kamar.
"Jess!! ngapain kamu?!" terkejut Naomi ketika Jester tiba - tiba membopongnya begitu saja
"Membawamu kekamar" jawab Jester singkat dan tersenyum menatap Naomi, wajah Naomi pun memerah dan matanya menatap Jester terlihat sangat terkejut.
"Jess!! kamu mau..." Naomi menggantungkan kalimatnya sejenak dan menatap Jester dalam - dalam.
"Aku pikir kamu mengajakku untuk melakukan itu" jawab Naomi terdengar lega, Jester pun tertawa terbahak - bahak sambil terus membopong Naomi menuju kamar.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Naomi
"Apa aku tidak boleh menyentuhmu? aku pikir sekarang kontrak kita sudah gugur" jawab Jester dengan tawa, Naomi membuang muka untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah kembali.
"Kamu masih ingat saja tentang kontrak itu" dengan nada yang terdengar kesal Naomi mengatakannya, Jester hanya tertawa dan ketika sampai kamar saat itu Jester langsung merebahkan tubuh Naomi dikasur dengan perlahan. Setelah mencium kening Naomi, Jester memutar kasur untuk tidur disisi lain. Dikasur itu Jester dan Naomi tiduran saling memandang dan tersenyum.
"Benarkah aku masih gak boleh menyentuhmu?" tanya Jester ketika itu memecahkan keheningan, wajah Naomi pun kembali memerah lalu dia membalikkan badannya memunggungi Jester.
"Jess!!" agak berteriak Naomi mengatakannya, tawa Jester pun terdengar.
"Tidak apa kalau kamu tidak ingin, aku tidak akan memaksamu. selamat malam Naomi" celetuk Jester lalu mematikan lampu kamar, keheningan pun tercipta seketika bersamaan dengan matinya lampu kamar. Namun Naomi terlihat tidak tenang saat itu, jantungnya berdetak sangat keras.
"Jess.... apa kamu sudah tidur?" tanya Naomi lembut
"Belum, kenapa?" tanya Jester
"Yang kamu katakan tadi.... serius?" tanya Naomi lagi, seketika keheningan kembali terjadi. Naomi membalik badannya kembali menatap Jester yang masih tidur miring menghadap Naomi, kedua mata mereka pun bertemu.
"Kalau serius apa kamu akan menolaknya?" tanya balik Jester saat itu, Naomi pun terdiam terpaku menatap Jester.
__ADS_1
"Ahaha... engga kok, aku bercanda" Jester pun tertawa lalu membelai rambut Naomi dengan lembut, perlahan Naomi menggeser tubuhnya menempel pada Jester dan memeluknya dengan erat dan membenamkan kepalanya didada bidang Jester.
"Aku cuma butuh kamu saja saat ini, aku ingin kamu selalu ada disisiku... demi melindungi rasa cinta ini, apapun itu akan aku perbolehkan. Kalau udah saling cinta, mau ngapain aja gapapa kan?" ucap Naomi terdengar manja, perlahan Naomi mendongakkan kepalanya dan menatap Jester.
Perlahan Jester mendekatkan bibirnya ke bibir Naomi lalu mereka berciuman dengan begitu mesra, dengan lembut Jester mendorong Naomi agar dirinya berada diatas Naomi tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ketika itu tangan Naomi pun mulai mencengkram baju Jester begitu erat, seakan ketakutannya mulai mengganggu pikirannya kembali. Mengetahui Naomi yang mulai tidak nyaman, Jester pun melepaskan tautan bibir mereka.
"Kamu... takut?" tanya Jester dengan suara yang lembut, Naomi tertawa kecil dan memegang kedua pipi Jester dengan kedua tangannya.
"I..iya.. tiba - tiba aku merasa... berada dikejadian itu..." jawab Naomi terbata, Jester mengecup lembut dahi Naomi dan hendak kembali berbaring disebelah Naomi. Namun tangan Naomi menahan Jester, mereka pun kembali bertatapan mata dengan wajah yang memerah.
"La... lakukan... aku tidak ingin... terus dalam ketakutan ini..." terbata Naomi mengatakannya, seketika Jester menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu tersenyum menatap Naomi.
"Tidak usah terburu - buru, kita punya banyak waktu dan bisa kita lakukan perlahan" timpal Jester dengan lembut, namun Naomi tiba - tiba melingkarkan kedua tangannya ditubuh Jester dengan erat.
"Aku ingin sepenuhnya terlepas dari ketakutan itu... lanjutkan Jess" dengan suara yang pelan Naomi mengatakannya, Jester perlahan kembali mencium bibir Naomi.
Perlahan Jester melepaskan tautan bibirnya lalu perlahan Jester mengalihkan ciumannya ke leher jenjang Naomi, nafas Naomi mulai terengah - engah dan dia mulai mengigit bibir bawahnya. Jari - jari Jester mulai membuka dress yang Naomi kenakan dengan perlahan bersamaan dengan ciumannya yang semakin turun kearah dada mulus Naomi, sebagian dress Naomi mulai terlepas dari badannya hingga dadanya terekspose jelas. Jester yang semakin hanyut dalam keintiman itu mulai mengarahkan tangan kebahu Naomi mencoba untuk melepaskan kaitan bra yang Naomi kenakan, membukanya perlahan lalu melepaskan dan melemparnya ketepian kasur.
Tak sampai disitu, kini tangan nakal Jester mulai menyikap dress bagian rok Naomi dan melepaskan celana yang Naomi kenakan. Jester yang saat itu mulai bersiap untuk melakukannya bersama Naomi sejenak berhenti karena tiba - tiba Naomi menepuk pelan kedua pipi Jester, nafas mereka berdua terdengar semakin tidak beraturan ketika mata mereka saling menatap.
"Jess!!" agak berteriak Naomi mengatakannya, Jester pun berhenti sejenak saat hendak membuka pakaiannya.
"I..iya?" tanya Jester dengan nafas yang mulai tidak beraturan, Naomi tiba - tiba tersenyum.
"Maaf.... aku tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu..." jawab Naomi terbata, Jester menjawab permintaan maaf Naomi dengan ciuman mesra. Keduanya kembali beradu dalam kemesraan dan kehangatan, keintiman diantara mereka tercipta dengan suasana yang romantis dan penuh cinta.
Kamis pagi yang cerah, Jester membuka matanya dan mendapati Naomi yang masih tertidur disebelahnya dengan sebuah selimut yang membalut tubuhnya. Ketika itu tangan Jester tidak sengaja menyentuh dada Naomi dan Jester pun menyadari dirinya dan Naomi masih belum mengenakan baju setelah kejadian semalam, wajahnya mendadak kembali memerah ketika mengingat semua momen semalam bersama Naomi. Perlahan Jester beranjak dari kasur dan memasang cd nya lalu mencari celana dan bajunya yang semalam entah dia buang kemana, merasakan banyak gerakan dikasur membuat Naomi pun terjaga.
"Jess~" celetuk Naomi sambil berusaha membuka matanya yang terlihat sangat berat untuk dibuka, mengetahui Naomi mulai bangun Jester sedikit panik dan membuang muka.
"Kamu... kenapa Jess?" tanya Naomi yang terlihat sedikit panik melihat tingkah Jester, menyadari Naomi salah paham dengan tingkahnya membuat Jester langsung membalikkan badannya dan menatap Naomi yang masih berada didalam selimut.
"Aku bukan menghindari tatap mata denganmu! tapi entah kenapa jantungku berdetak cepat mengetahui kamu belum...." Jester menggantung kata - katanya, Naomi yang masih dalam keadaan setengah sadar berusaha untuk duduk dan menarik selimut agar tetap menutupi dadanya.
"Belum apa?" tanya Naomi sambil mengucek matanya beberapa kali
"Belum... terbiasa melihatmu dalam keadaan seperti ini" dengan malu - malu Jester mengatakannya, Naomi pun tertawa kecil mendengar perkataan Jester. Perlahan tangan Naomi menunjuk ********** yang berada diujung kasur, tatapan mata nakal Naomi membuat Jester terpesona hingga wajahnya pun memerah.
"Ambilin~" ucap Naomi dengan manja, dengan sigap Jester pun mengambilkannya untuk Naomi dan memberikan kedua benda itu kepada Naomi. Tingkah panik dan malu - malu Jester saat itu membuat Naomi tertawa, Jester pun berlari keluar kamar dengan membawa pakaiannya setelah mencium kening Naomi dengan lembut.
Saat Naomi memasang ********** dan memakai kembali dressnya, tidak lama bunyi handphone Jester pun berdering tanda pesan masuk. Naomi berjalan mendekati meja didekat sisi kasur Jester dan mengambil handphone itu, dilayar tertulis Luke mengirimi pesan kepada Jester dengan nama 'Si Gorilla'.
***
"Hei bodoh, Becca akan dioperasi siang ini. Aku dan Sarah akan menuju rumah sakit, jadi kamu pastikan mengisi absenku" diterima
***
__ADS_1
Perasaan Naomi pun campur aduk ketika membaca pesan itu, Naomi sangat ingin menemani Becca Lebih - lebih saat mendengar cerita Luna dan Selena tentang keadaan dan keberadaan Daniel yang masuk rumah sakit karena perbuatan Luke maka tidak ada sosok kakaknya disebelah Becca disaat kritisnya. Namun Naomi sadar diri bahwa Jester tidak akan mengizinkannya untuk menjenguk Becca lagi, rasa sayang Naomi kepada Becca sebagai kakak membuat pikirannya hanyut dalam kemelut.