Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Masa Lalu Naomi (1)


__ADS_3

Di malam hari yang cerah, bulan purnama bersinar sangat terang. Disebuah cluster perumahan terlihat Jester yang hendak masuk kedalam salah satu rumah setelah lelah seharian bermain di festival squere bersama dengan Selena, saat itu terlihat Naomi berdiri dan sudah membukakan pintu sebelum Jester sampai didepan pintu utama rumah. Naomi menatap Jester dengan senyuman, sedangkan Jester menatap Naomi dengan datar


"Capek?" tanya Naomi ditengah kebisuan mereka, senyum manis Naomi masih menghiasi wajahnya ketika itu.


"Yah, lumayan... Terima kasih sudah bertanya" jawab Jester dengan santai, Jester berjalan masuk kedalam rumah dan di ikuti Naomi dari belakang setelah menutup pintu utama rumah.


"Sudah makan?" tanya Naomi kembali saat melihat Jester langsung berjalan menuju ruang keluarga, sesaat Jester menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Naomi.


"Sudah, tapi sepertinya kamu habis masak ya?" tanya balik Jester, Naomi menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Jester.


"Iya" jawab singkat Naomi dengan raut wajah sedih, Jester mengalihkan langkahnya menuju dapur tanpa sepatah katapun dan membuat Naomi terkejut.


"Heii... kamu mau ngapain?" tanya Naomi sembari berjalan mengikuti Jester, Jester kembali menghentikan langkahnya dan menatap Naomi yang berada dibelakangnya.


"Mau makan malam, aroma masakanmu tercium sangat lezat. Boleh?" tanya balik Jester kembali sembari tersenyum, Naomi membalas senyuman Jester sambil berlari kecil mengejar Jester yang sudah lebih dulu masuk keruang makan yang menyatu dengan dapur. Di ruang makan itu Naomi menyiapkan makanan untuk Jester sedangkan Jester terlihat duduk manis menunggu Naomi menyajikan hasil masakannya, setelah semua siap Naomi kemudian duduk didepan Jester dan ikut makan bersama. Sesaat Naomi hanya terdiam sembari melihat Jester melakukan suapan pertama, seakan menunggu ekpresi Jester ketika mencicipi masakannya hari ini.


"Hmm... masakanmu benar - benar enak, jujur saja aku tidak menyangka kamu pandai memasak" ucap Jester dengan wajah kagum sesaat setelah menyantap suapan pertamanya, Naomi tertawa mendengar pujian Jester ketika itu.


"Benarkah? terima kasih" Naomi tersenyum senang lalu mulai ikut makan bersama, setelah beberapa suapan Naomi kembali membuka pembicaraan.


"Eeemm Jester..." ucapan Naomi menggantung, saat itu Jester merespon Naomi hanya dengan tatapan mata karena mulutnya masih sibuk mengunyah.


"Apa ada hal yang seharusnya kamu katakan padaku?" tanya Naomi melanjutkan kalimatnya yang terpotong, sesaat Jester menghentikan aktifitas makannya dan menatap langit - langit rumah sembari berfikir.


"Apa ya? sepertinya tidak ada" jawab Jester dengan santai lalu melanjutkan makan, Naomi tersenyum lalu sedikit menghela nafas sebelum merespon kembali perkataan Jester.


"Apa Grece mengajak kita mengikuti festival band?" Naomi bertanya dengan sedikit tertawa, Jester terkejut mendengar pertanyaan Naomi sampai menyemburkan makanan dimulutnya.


"Bruufftt... argh maaf... aku benar - benar lupa tentang itu" Jester benar - benar melupakan kejadian dirinya yang berjanji pada Grece untuk membicarakan festival band itu bersama Naomi, ya tentu saja bukan karena kesengajaan mengingat kejadian yang menimpa Jester belakangan ini. Keduanya terdiam ketika Jester sibuk membersihkan makanan yang dia semburkan tadi, Naomi menatap Jester dengan serius ketika itu.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Naomi kembali setelah melihat Jester kembali duduk dengan tenang, Jester menyandarkan tubuhnya dan berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Naomi ketika itu. Mempertimbangkan berbagai hal tentang hubungan Naomi dan Naoko, tentang maksud dari keinginan Naoko yang melarang Naomi untuk bermain band, dan lain - lain.

__ADS_1


"Ya tentu saja gak mungkin kan, apa kata ibu nanti kalau kamu mendadak muncul dan bermain gitar di depan televisi" jawab Jester ketika dirinya sudah mempertimbangkan banyak hal, Jester terlihat kembali melahap makanan miliknya.


"Jadi... menurutmu aku harus tolak?" tanya Naomi kembali dengan nada yang terdengar sedih, Jester terhenti sejenak dan menatap Naomi dengan serius.


"Jujur saja permainan gitarmu bagus, aku tidak menyangka kamu bisa bermain sebagus itu. Cuma masalahnya ibu bukan tipe orang yang bisa diajak berdiskusi" jawab Jester menjelaskan kenapa Naomi harus menolak dan membuang jauh - jauh pemikiran untuk menerima permintaan Grece, Jester kembali melahap makanan didepannya.


"Kalau aku... membantah ibu, bagaimana menurutmu?" tanya Naomi, Jester tersedak mendengar pertanyaan Naomi ketika itu.


"Bruuuuffftttt.... Uhuk uhuk... argh... Apa apaan itu? kamu tidak serius kan?" Jester kembali terkejut sampai menyemburkan makanan yang ada di mulutnya, keduanya terlihat masih terdiam saling menatap satu sama lain.


"Aku cuma mencari kemungkinan, kadang aku merasa.... capek" jawab Naomi, Jester menghela nafas dan kembali membersihkan makanan yang sempat dia semburkan tadi.


"Kamu kenapa setakut itu sama ibu? emang sih aura ibu itu sangat menekan kadang - kadang, tapi aku rasa ada hal lain juga" tanya Jester yang mulai penasaran dengan masa lalu Naomi, Naomi menatap Jester dan terdiam beberapa saat


"Aku mau cerita... boleh?" tanya balik Naomi


"Tentu, kalau kamu gak keberatan aku yang mendengarkan" jawab Jester dan kembali fokus menatap Naomi dengan serius, Naomi menundukkan kepalanya sebelum mulai bercerita.


"Cukup lama ya" Jester mulai fokus kepada Naomi


"Iya... sejak insiden itu" timpal Naomi lirih


*** UNTUK BEBERAPA EPISODE KEDEPAN\, ALUR CERITA MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI NAOMI ***


Terlahir di keluarga yang harmonis, bahagia dan penuh cinta, dari seorang ibu bernama Naoko Kanade dan seorang ayah bernama Evans Scott delapan belas tahun yang lalu. Aku Naomi Scott menjadi pelengkap kebahagian dari pernikahan mereka, menjadi anak perempuan pertama dan satu - satunya mereka tentu saja wajar ketika seorang ibu menginginkan aku menjadi gadis kecil pelipur lara dan penjaga seorang ayah.


Cerita ku dimulai ketika umurku dua belas tahun, dimana aku adalah sosok anak perempuan yang tomboi dan tidak bisa diatur oleh kedua orangtuaku. Aku sering terlibat perkelahian dengan anak laki - laki di sekitar cluster perumahan, sering memanjat pohon untuk sekedar mencari buah - buahan yang aku inginkan walau tentu saja ayah dan ibuku mampu untuk membelikanku berapa pun yang aku inginkan, dan bermain selayaknya anak laki - laki pada umumnya.


Aku memang memiliki rambut panjang indah, pakaian yang aku gunakan pun selalu dress terusan dan belum lagi kelas - kelas kepribadian yang aku ikuti saat itu adalah tentang menjadi sosok wanita yang anggun dan bermartabat, namun itu sama sekali tidak menghalangi tingkah lakuku yang brutal dan tidak terlihat sama sekali jika aku adalah seorang anak perempuan dari sosok ibu hebat dengan kepribadian yang sangat anggun.


Ayah dimataku bukan sosok yang menyeramkan, dia adalah sosok yang selalu memaafkan aku bagaimana pun tingkahku saat itu. Sering kali aku melihatnya menundukkan kepalanya kepada para orang tua yang tidak terima anaknya aku jahili atau aku buat terluka, namun ketika aku mendatanginya untuk meminta maaf... dia selalu tersenyum dan berkata "lain kali jangan seperti itu ya". Sebuah kalimat yang sebenarnya membuat hatiku tidak ingin lagi mengecewakannya, namun aku masih saja terus membuat hidup ayah menjadi sulit.

__ADS_1


Tentang ibu? jujur saja aku lupa bagaimana sosok ibuku ketika aku umur dua belas tahun, yang aku ingat adalah sosok ibu yang saat ini aku kenal. Aaah... iya, beberapa aku ingat. Ibu adalah sosok yang tegas terhadapku, dia yang akan memarahiku dan menyuruhku masuk kedalam kamar sebagai hukuman untukku. Masuk dalam kamar tidak buruk menurutmu? tidak.... tidak.... itu buruk bagiku yang memiliki jiwa outdoor, aku sangat tersiksa jika aku harus dihukum didalam kamar dan belum lagi aku bisa saja tidak diberi makan sampai pagi menjelang. Apa aku kapok? terkadang, namun itu semua hanya berlangsung beberapa jam saja.


Entah hari apa saat itu, yang aku ingat saat itu adalah musim mangga. Ayah memiliki sebuah kebun dengan berbagai macam buah didalamnya, aku tidak pernah kesulitan mencari buah yang aku ingin makan karena kebun sudah memiliki penjaganya sendiri. Setiap kali panen pun seharusnya aku hanya perlu ke dapur dan meminta pembantu mengupas buah yang aku suka sebanyak apapun yang aku inginkan, tentu saja selama persediaannya masih ada. Namun siang itu entah setan apa yang merasuki ku, aku melihat satu buah mangga yang terlihat lezat bagiku di sebuah ujung pohon yang tinggi.


Aku pun berlari mendekati pohon mangga itu, dengan dress yang aku gunakan pun tidak menghalangi keinginan untuk memanjat pohon itu. Aku menggelung rambutku yang panjang dan menaikkan dressku agar memudahkan aku untuk memanjat, dengan kemahiranku memanjat sebenarnya itu bukanlah pohon yang sulit untuk ditaklukan namun itulah awal dari bencana yang selalu aku sesali seumur hidupku.


Tangan ini sudah hampir menyentuh buah yang aku inginkan dan tiba - tiba aku mendengar ayah meneriaki namaku berulang - ulang dari bawah, sesaat aku menghentikan usahaku menggapai buah mangga itu dan menatap kebawah berusaha mendengarkan apa yang ayahku teriakkan padaku. Suara angin yang membuat aku terlalu sulit untuk mendengar suara ayah dan ayah bukanlah tipe orang yang memiliki suara lantang, namun aku dapat memahami apa yang ayah ucapkan dari gerak bibirnya. "Naomi!! Turun!! Pohon ini rapuh!!" ya... itulah yang diucapkan ayahku ketika itu, aku juga melihat ibu yang berlari mendekatiku dari ketinggian itu.


Ketika itu aku melihat beberapa rayap berjalan ditangan dan kaki ku, aku pun panik ketika itu sehingga kaki ku tidak berpijak dengan baik. Aku mendengar ayah dan ibu berteriak namun aku masih dapat bertahan di pohon itu sembari berteriak kepada mereka berdua "Aku baik - baik saja" dan bersamaan dengan teriakan itu, dahan yang menjadi pijakanku patah. Aku pun terjatuh dan saat itu entah mengapa aku merasa akan mati, tentu saja bukan karena aku putus asa namun dari ketinggian itu anak dua belas tahun mana yang akan bertahan? realistiskan?.


Aku terjatuh dengan punggung menjadi yang pertama mendarat, sehingga aku tidak dapat mengetahui akan jatuh menimpa apa aku ini. Namun kejadian itu terjadi begitu cepat dan aku bahkan tidak mengingat bagaimana bisa ayah berada tepat dibawahku dan menjadi tamengku untuk menahan kerasnya aku jatuh, mungkin karena aku yang terlalu berat atau jatuhku yang terlalu keras terbawa grafitasi.... ayah terjatuh ketika menangkapku dan kepalanya terbentur batu di kebun itu. Tidak akan pernah aku lupakan darah yang keluar deras dari belakang kepala ayah ketika itu, merah segar mengalir membasahi tanah... sampai membuatku bergemetar dan menjadikan aku syok.


"Evans!!!" teriakan ibu yang membangunkan aku dari keadaan syok ku, ibu histeris ketika itu memanggil penjaga, pembantu, supir, dan siapa pun yang bekerja dirumah itu agar membantu ayah. Ibu sampai harus mendorongku agar turun dari tubuh ayah ketika itu, sungguh bukan keadaan yang mampu aku cerna ketika umurku dua belas tahun. Keadaan panik itu membuat kepalaku semakin pusing, namun tidak ada satupun dari orang - orang itu yang dapat menjelaskan apa yang akan terjadi pada ayah.


Tidak lama sebuah helikopter medis sudah tiba di helipad keluarga Scott, ayah bersama tim dokter membawanya lewat udara. Sedangkan aku dan ibu menyusulnya lewat jalan darat, sebenarnya saat itu ibu benar - benar tidak mempedulikanku jadi aku ikut pun hanya mengekor ibu tanpa berani bertanya apapun padanya. Sesampainya di rumah sakit keluarga kami Scott Hospitaly, aku dan ibu hanya terdiam menunggu di depan pintu masuk keruang operasi. Ibu hanya berdiri terdiam menatap lampu tanda operasi sedang dilaksanakan, sedangkan aku? aku terdiam disisi ibu tanpa berani bertanya apapun padanya, bukan karena takut ibu akan memarahi aku habis - habisan namun karena tatapan mata ibu.... kosong dan terlihat melamun.


Lampu tanpa operasi sedang berlangsung pun padam, entah sudah berapa jam aku dan ibu berdiri mematung seperti itu namun jujur saja kaki sudah seperti bengkak saat itu. Tidak lama setelah lampu padam, tim dokter terlihat keluar bersamaan dan salah satu dari mereka mendekati kami ketika itu. "Bagaimana keadaan suamiku?" itu adalah pertanyaan yang keluar saat dokter kepala mendekati ibu, setelah melepaskan maskernya dan menaruhnya di kantong dokter itu menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum menjawab.


"Tuan Evans masih dalam kondisi kritis, operasi memang berhasil dan pendarahan berhasil kami hentikan. Namun tuan Evans mungkin akan mengalami kelumpuhan, benturan dikepala belakangnya terlalu keras." jawab dokter itu didepan kami, seketika itu ibu menatapku dengan tatapan penuh amarah tanpa sepatah katapun. Sungguh... aku sudah sering di marahi oleh ibuku, namun kali ini tatapan itu bukan tatapan yang pernah aku dapatkan setidaknya sampai saat ini.


Ibu menarik lenganku dengan sangat kasar dan membawa aku pulang kembali kerumah, aku bergemetaran saat itu dan dalam benakku aku pasti akan dipukuli atau apapun itu yang pasti akan sangat menyiksaku. Namun ketika aku sampai rumah, walau ibu kembali menyeretku dengan sangat kasar namun dia hanya mendudukkan aku diruang tamu yang terbentang tatami dan sebuah meja ditengah. Diruangan yang bagai neraka bagiku karena kejadian ini, kejadian ketika ibu menghina Daniel, dan ketika ibu memaksa aku dan Jester untuk mengakui kebohongan kami, semua kejadian selalu bermula dari ruangan ini.


Di ruangan itu aku dan ibu duduk berhadapan untuk waktu yang sangat lama, ibu tidak mengucapkan satu pun kalimat dan hanya memandangiku dengan tatapan tajamnya. Dari tatapan itu aku memahami semua kemarahan ibu ketika itu, aku begitu ketakutan sampai membuatku menunduk dan tidak berani untuk kembali menatapnya. Jujur mungkin menunduk adalah satu - satunya cara menghindari tatapan ibu, namun itu semua salah... tatapan itu seakan menembus otakku dan bayangan tatapan ibu terus menerus terbayang didalam pikiranku.


Entah sudah berapa lama ketika itu kami terus dalam posisi seperti itu, kaki pun sudah mati rasa karena kesemutan saat bersimpuh terlalu lama namun ibu sepertinya tidak mengenal apa itu kesemutan. Saat malam tiba, ibu berdiri dan meninggalkan ku ditempat itu. Aku? tidak... aku tidak bisa berdiri bahkan hanya untuk meluruskan kakiku yang kesemutan saat itu, aku begitu ketakutan dengan diamnya ibuku. Sampai akhirnya aku tertidur ditempat itu, entah sejak kapan aku tertidur dan aku tidak lagi merasakan sakitnya kakiku.


Hingga fajar menyingsing, aku terbangun setelah pengasuhku membangunkan ku di ruang tamu itu. Nancy, seorang wanita umur tiga puluhan tahun yang merawatku sejak kecil sampai setidaknya umurku dua belas tahun ketika itu. "Nona Naomi... bangun, sudah pagi... ayo sarapan dulu dan berangkat sekolah" ucapnya dengan lembut ketika membangunkan ku, aku sempat merasa jika kejadian kemarin itu adalah mimpi sampai raut wajah Nancy yang mengingatkan ku jika itu bukanlah mimpi. Nancy begitu iba padaku saat itu dan aku pun menangis seketika itu, dia memelukku begitu hangat dan berusaha membuatku tegar kembali.


Setelah beberapa saat aku menangis di pelukannya, Nancy memberikanku dua potong roti dan segelas susu hangat kepadaku. Dirinya terlihat sangat ketakutan ketika memberikannya padaku, jujur saja saat itu aku tidak tahu mengapa dia ketakutan dan aku pun tidak bertanya. Nancy menyuruhku makan dengan cepat dan dia menyiapkan semua keperluanku untuk sekolah di tempat itu, "Nona Naomi hari ini ada banyak kelas kan? nikmati sekolah hari ini ya, Nancy menyayangimu dan Nyonya Naoko... ibumu... dia sangat sayang kepadamu, apapun yang terjadi... ingat kata - kata Nancy ini" itu adalah ucapan terakhir pengasuhku sesaat sebelum pergi beranjak dari ruangan itu setelah aku menghabiskan roti dan segelas susuku. Terkahir.... ya itu benar - benar ucapan terakhirnya sampai sekarang.


Aku berjalan menuju carport untuk naik mobil pengantarku, supirku pun tersenyum manis kepadaku seperti biasanya. Edwin namanya, pria paruh baya mungkin umur lima puluhan saat itu. "Selamat pagi nona Naomi yang cantik, sudah siap memulai aktifitas hari ini?" ucapnya sembari membukakan pintu penumpang belakang untukku, aku hanya tersenyum padanya dan masuk lalu duduk seperti biasa juga. Ya... semua seperti biasa kecuali ibu, dia tidak ada didepan pintu masuk utama untuk melepas kepergianku menuju sekolah. Entah kemana ibu seharian itu, aku juga tidak berani untuk mencarinya.

__ADS_1


__ADS_2