Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Seorang Pria Sejati


__ADS_3

"Bangun Luna!!! kamu sudah berjanji padaku akan sembuh!!!" bentak Jester yang saat itu didorong oleh Luke dan Harry agar menjauhi jenazah Luna, tangisan Jester pun semakin menjadi - jadi.


Malam dengan taburan bintang - bintang yang menyinari langit Paris Prancis pada hari itu terasa begitu indah jika dipandang, keindahan yang terasa sia - sia dimata Jester, Naomi, Selena, Luke, Harry, Justin, Grece, John, dan Lisa. Kematian Luna yang begitu mendadak membuat mereka semua seakan masih tidak siap dengan kepergian Luna, tangisan dari masing - masing membuat suasana menjadi semakin haru.


"Jangan bicara seperti pecundang!! Jangan bicara hal tidak berguna seperti itu!! makhluk yang sudah mati, hanya akan kembali ke tanah!! meskipun kau menangisinya, dia tidak akan kembali!! berhenti menangis meskipun hatimu terasa sakit, mau semenyedihkan apapun atau semenderita apapun dirimu... kau harus tetap tegar!! kau dengar aku brengsek!!" bentak Luke yang berusaha menahan tangisnya sejak tadi, mata merahnya yang menahan air mata terus menatap mata Jester yang berlinang air mata. Seperti de javu tetapi dalam keadaan yang lebih parah, Luke harus melihat sahabatnya dalam keadaan terpuruk karena sosok yang sama. Hati Luke begitu sakit melihat kondisi sahabatnya itu, sekeras hati usahanya membuat Jester agar kuat menghadapi kematian Luna.


"Kau tidak mengerti!! kau tidak mengerti Luke... dia sudah berjanji padaku.... dua kali... dua kali dia mengingkarinya...." tubuh Jester pun semakin menjadi lemas ketika mengatakannya, Luke dan Harry pun mengendorkan tenaganya yang sedari tadi menahan Jester.


"Bawa jenazah ini" perintah William sembari berjalan mendekati Luna dan merapihkan kembali selimut dan penutup wajah


"Baik tuan" timpal perawat yang mendorong brankar, perawat itu membawa Luna kekamar jenazah.


"Tuan Lincoln... maafkan tingkah anakku, aku harap anda tidak tersinggung dengan perilakunya" ucap William sembari menundukkan kepala kearah John dan Lisa, melihat William yang menundukkan kepala membuat John merasa tidak enak hati.


William merasa bersalah kepada orang tua Luna atas tindakan Jester yang mengguncang jenazah Luna, hal diluar kendali dan tidak William sangka akan dilakukan oleh Jester yang terguncang atas kepergian Luna untuk selamanya.


"Tidak apa tuan Gates, kami mengerti seberapa kecewanya tuan muda Gates pada anak kami" timpal John yang terlihat masih memeluk Lisa untuk menenangkannya


"Terima kasih atas pengertiannya" penuh penyesalan William mengatakannya, William pun berjalan mendekati Naomi yang memeluk Selena begitu erat.


"Nona Naomi, papa bawa dulu Jester. Ada yang harus papa dan Jester bicarakan" ucap William kepada Naomi, seketika Naomi pun menoleh menatap William dengan tatapan yang marah walau air mata terus menetes melewati pipinya. Naomi paham jika William akan memaksa Jester untuk tidak lemah dengan cara yang begitu keras, seringkali William meminta Jester agar menjadi setegar papanya tetapi kondisi Jester saat ini sangat mengkhawatirkan bagi Naomi dan Naomi tidak ingin Jester semakin tertekan akan perlakuan papanya.


"Aku ikut! papa pasti memaksa Jester untuk menjadi seperti papa!!" agak membentak Naomi mengatakannya, William pun menghela nafas mendengar perkataan Naomi.


"Lalu apa Jester yang seperti itu yang kamu harapkan?" tanya William sembari menunjuk Jester yang masih diam mematung dan menangis didekat Luke dan Harry, melihat kondisi Jester yang terlihat begitu sedih dan syok membuat Naomi terdiam beberapa saat.


"Nona Naomi... papa melihat kamu tersentak saat Jester mengatakan agar Luna kembali padanya, tapi percayalah kalau kata - kata Jester itu..." belum selesai William berbicara, Naomi memotong.


"Tidak apa, aku mengerti... nyatanya memang cinta mereka berdua belum tuntas dan hanya tertutupi debu - debu tipis yang disebut kemarahan, papa... aku mengerti, itu tidak berarti bagiku" timpal Naomi, William pun tersenyum menatap Naomi yang berbesar hati mengerti keadaan putranya.


"Papa hanya khawatir kamu merasa cemburu atas perkataan Jester" terdengar lega saat William mengatakannya, Naomi pun menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon perkataan William.


"Aku... memang merasakan kecemburuan saat Jester mengatakannya, seakan Jester ingin kembali pada Luna jika dia berhasil sembuh. Tapi.... Jester tetaplah Jester, aku percaya padanya. Dia tidak akan membuatku menangis dan akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatku tersenyum. Saat ini Jester baru saja kehilangan Luna dan ini kehilangan untuk selamanya, aku sangat memahami keadaan Jester, tetapi aku pastikan hal itu tidak akan merubah apapun papa" terlihat garis senyum Naomi merekah saat mengatakannya seakan memberikan gestur kepada William bahwa Naomi merasa baik - baik saja atas sikap Jester kepada Luna


"Baiklah kalau kamu mengatakan seperti itu, namun papa tetap harus mengajaknya untuk berbicara berdua. Ini sama seperti kejadian saat Jester patah hati untuk pertama kalinya, kali ini seharusnya tidak akan berlarut terlalu lama" ucap William sembari menoleh menatap Jester yang berada agak jauh dibelakangnya, perkataan William membuat Naomi penasaran.


"Kenapa papa bilang seperti itu? bukankah jika kejadian ini malah membuat Jester lebih terpuruk daripada dulu?" tanya Naomi penasaran, William tersenyum lalu menatap Naomi.


"Karena dia memilikimu yang akan membantunya bangkit kembali" tegas William mengatakannya dan membuat Naomi kembali tersenyum walau derai air matanya masih tidak dapat dia tahan, kemudian William berjalan mendekati Jester.


Begitu dekat dengan anak semata wayangnya itu, William menarik lengan Jester dan membantingnya kelantai. Tindakan William itu membuat syok semua yang ada disana sampai tidak ada satupun dari mereka yang dapat berkata - kata, dengan segera William menarik kaki Jester yang masih terbaring kesakitan dilantai.


"Ayo nak... kamu sudah harus kembali belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya" William pun menyeret Jester keluar dari ruangan itu.


Tidak lama setelahnya Naomi, Selena, Luke, Harry, Justin dan Grece kembali ke hotel untuk beristirahat, John dan Lisa menunggu dirumah sakit untuk membereskan segala macam administrasi Luna. Sedangkan Jester dan William terlihat duduk - duduk disebuah taman dekat dengan menara Eiffel, disana William dan Jester masih termenung ditengah dinginnya angin malam.


Mencoba mengatur nafas dan kalimat dengan baik, William mulai berusaha memberi kekuatan mental bagi Jester. Untuk pertama kalinya Jester mengalami kehilangan seseorang dalam hidupnya untuk selamanya, William begitu memahami saat ini adalah saat terberat bagi Jester terlebih sosok yang meninggalkan Jester untuk selamanya adalah sosok yang pernah begitu berarti bagi hidup putranya. Namun William tidak bisa membiarkan Jester terlalu lama larut dalam kesedihannya, William merasa ada sebuah tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh Jester sebagai pria sejati.

__ADS_1


"Nak.... pahamilah tentang kehidupan, tidak akan ada yang abadi didunia ini dan tidak ada satu manusia pun yang mampu mempertahankan janji untuk selamanya. Setiap manusia pasti akan bertemu lalu akan berpisah, baik itu teman, kekasih, sahabat, orangtua, anak, kerabat.... pahamilah kita hanya saling meminjami waktu pada satu manusia ke manusia lainnya" celetuk William memecahkan keheningan diantara mereka, Jester masih terdengar sesegukan sehabis menangis tanpa merespon perkataan William.


"Ini pengalaman pertamamu kehilangan seseorang yang mungkin memiliki tempat tersendiri dalam hatimu, tapi seperti inilah kehidupan dan kamu harus alami ini baik cepat maupun lambat" terdengar penuh penyesalan William mengatakannya


"Aku... tidak tahu harus berbuat apa kali ini... semuanya terlalu cepat, dia... pergi begitu mendadak didepan mataku... kehilangannya begitu menyesakkan hatiku.. aku tidak tahu apa ini dan kenapa bisa seperti ini, aku pikir aku sudah membencinya dan tidak menginginkannya berada didekatku... tapi... tapi... ini begitu sakit... dadaku terasa begitu sesak papa..." Jester kembali menangis terisak - isak saat mengatakannya, melihat anaknya yang begitu terpuruk membuat William merasa sedih. Tangannya menepuk punggung Jester dengan cukup lembut, lalu mengelusnya beberapa kali.


"Papa memahami apa yang kamu rasakan, tapi memang tidak ada satupun yang bisa kamu lakukan untuk mengembalikan Luna didunia ini... kali ini hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan nak" suara William terdengar begitu lembut dan berusaha menenangkan Jester, perlahan Jester menoleh menatap William yang duduk disebelahnya.


"Apa itu...?" tanya Jester penasaran


"Check list Luna.... semua impian - impiannya kamu harus lanjutkan itu, sampaikan pesanmu padanya bahwa kamu peduli padanya dan impian - impiannya" jawab William dengan tegas


"Aku... tidak akan sanggup..." terbata Jester menimpali perkataan William


"Itu benar... tidak akan ada satupun orang yang sanggup, tapi... kamulah orang yang akan meruntuhkan anggapan bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin dapat dilakukan disaat seperti ini. Tuntaskan janjimu padanya, jadilah pria sejati nak!" penuh semangat William memberikan dukungan moral pada Jester, sempat tertegun beberapa saat menatap William akhirnya Jester kembali menundukkan pandangannya.


"Apa... ini... ada artinya papa? dia sudah mati... apa dia tahu aku akan menuntaskan impian - impiannya?" tanya Jester dengan suara yang terdengar sangat sedih


"Ada atau tidak ada artinya itu bukan pokok masalahnya nak, tapi janji seorang pria yang sudah terucap maka harus dilaksanakan meski harus bertaruh nyawa. Tuntaskan janjimu dan penuhi harapan Luna terhadapmu, jadilah pria yang bertanggungjawab dengan kata - katamu sendiri" tegas William mengatakannya


"Itu... terdengar konyol papa..." timpal Jester masih terdengar tanpa semangat, William menghela nafas lalu terdiam sejenak.


"Apa yang kamu sesali saat ini?" tanya William memecahkan keheningan


"Yang... aku sesali? banyak... aku menyesali banyak hal... dan yang terbesar adalah... ketidak pekaanku terhadap kondisi Luna, seharusnya aku sadar ada sesuatu yang Luna sembunyikan... seharusnya aku tidak marah padanya dan terus berusaha mengejar cintanya... aku terlalu cepat menilai seseorang sampai tidak paham kalau dia... sedang berperang dengan penyakit yang dia idap" jawab Jester terdengar sangat menyesal


"Bagaimana nak? jawab panggilanmu sebagai pria atau pulanglah sebagai pecundang" celetuk William ketika Jester seakan sadar apa yang harus dia lakukan, perlahan Jester kembali menoleh menatap William.


"Aku... masih bisa menuntaskan janjiku... walau dia sudah melanggar janjinya kepadaku untuk kedua kalinya namun... bukan sikap seorang pria membalas dendam pada seorang wanita... karena sudah menjadi...." saat itu Jester dan William mengatakan hal sama secara bersamaan.


".... Kewajiban seorang pria untuk memaafkan setiap kebohongan wanita..." ucap William dan Jester secara bersamaan, tangan William pun mengelus kepala Jester cukup keras sampai membuat kepala Jester bergunjang


"Kamu pria sejati anakku, lakukanlah yang sudah seharusnya kamu lakukan!" penuh semangat William mengatakan pada Jester


"Terima kasih... papa, papa... seorang pria terkeren yang aku temui..." gumam Jester saat itu, mereka berdua pun berdiri dan segera melangkahkan kaki mereka menuju hotel kembali.


Sosok William selalu berhasil membuat Jester menjadi pribadi yang lebih kuat dan mampu mengontrol semua emosinya dengan baik. Hal itu yang membuat Jester membutuhkan papanya saat pertama kali tahu bahwa Luna sakit parah dan meminta papanya untuk menemaninya melewati hari - hari berat yang akan dia lalui saat itu.


Tidak beberapa lama, Jester sampai dikamar hotelnya dan ketika membuka kamar didapatinya Naomi duduk dikasur dengan air mata yang berderai deras keluar. Seketika tatapan mata Naomi pun menatap Jester yang baru masuk kedalam kamar itu, dengan segera Naomi berdiri dan berlari menabrakkan tubuhnya ke tubuh Jester lalu memeluk Jester begitu erat. Suara tangisan Naomi saat itu begitu pilu hingga membuat Jester hanya mampu terdiam dan memeluk Naomi.


Perlahan Jester melepaskan pelukannya dan membawa Naomi kekasur, disana Naomi tertidur didada Jester begitu lelap hingga matahari pagi menerangi langit Paris Prancis. Disaat itu Jester yang tidak tidur sepanjang malam pun mengalihkan pandangannya menatap gorden yang menghalangi cahaya matahari, perlahan Jester menggantikan tubuhnya dengan sebuah bantal untuk menahan kepala Naomi. Sejenak Jester memastikan bahwa Naomi masih tertidur lelap lalu dia melangkahkan kakinya keluar kamar dan berjalan menuju rumah sakit, dengan perasaan sedih yang masih menyelimuti hati.


Dirumah sakit pagi itu Jester melihat Selena yang hendak masuk kedalam rumah sakit membawa satu bingkai foto, dengan sedikit berlari Jester mendekati Selena dan menepuk pundaknya. Selena pun menoleh kebelakang menatap Jester yang terlihat sangat ngantuk yang dapat dia lihat dari kantung mata yang menghitam, namun mata Selena saat itu tidak jauh berbeda dari Jester.


"Apa itu bingkai foto Luna?" tanya Jester, Selena hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali


"Apa ayah dan ibu Luna sudah ada didalam?" tanya Jester lagi, Selena pun kembali hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Jester.

__ADS_1


Mereka berdua kembali melangkahkan kaki masuk kedalam rumah sakit, didepan kamar jenazah Jester melihat Lisa yang duduk disalah satu kursi dan menangis begitu pilu. Didekat pintu terlihat John sedang berdiri bersandar seperti sedang menunggu sesuatu, menyadari kehadiran Selena saat itu pandangan mata John pun teralihkan. Perlahan Jester dan Selena pun berjalan mendekati John, Jester kembali diselimuti kesedihan saat suara tangisan Lisa yang semakin terdengar begitu menyayat hatinya.


"Ini bingkainya tuan Lincoln..." ucap Selena sambil memberikan bingkai foto kepada John


Setelah menerima bingkai itu John pun segera berjalan mendekati Lisa dan menjulurkan tangannya memberi gestur meminta sesuatu dari Lisa. Tanpa berkata apapun Lisa memberikan amplop, John menerima amplop itu dan mengeluarkan isinya yang berupa sebuah foto Luna saat masih baru masuk SMA. Seketika tangisan Selena pun kembali pecah saat dia menatap foto Luna yang tersenyum, Selena sampai bersimpuh seketika saat tangisannya mendadak pecah. Jester berjalan mendekati Selena dan kemudian Jester mengusap lembut kepala Selena, namun Selena tetap menangis terisak - isak. Kematian Luna begitu membuat Selena terpukul, Jester menyadari Selena lebih banyak diam dari biasanya dan Jester dapat merasakan kepedihan hati Selena yang membuatnya seperti itu.


"Tabahlah... aku sama sedihnya denganmu dan aku juga begitu kehilangan dirinya... ayo kita sama - sama meneruskan hidup kita seperti yang Luna inginkan" celetuk Jester bersamaan dengan lepasnya tangan Jester dari kepala Selena, Jester berjalan mendekati John yang terlihat memasang foto Luna didalam bingkai.


"Tuan Lincoln... jika diijinkan... aku ingin membawa foto Luna untuk menyelesaikan janji - janjiku dengannya..." pinta Jester dengan suara yang terdengar begitu sedih, John pun menoleh menatap Jester dengan mata yang terlihat berkaca - kaca.


"Tuan muda Gates.... aku sebagai orangtua Luna meminta maaf padamu atas..." belum selesai John berkata, Jester pun memotong.


"Tidak apa... aku yang keterlaluan terhadapnya..." Jester menggantungkan kalimatnya lalu membungkuk kearah John, tindakan Jester saat itu membuat John terkejut.


"Maafkan aku tidak dapat menyelesaikan semua impiannya, ini semua karena kebodohan dan ketidakpekaanku terhadapnya. Aku sangat menyesal atas kejadian ini dan berharap tuan dan nyonyal Lincoln dapat memahami kebodohanku" penuh penyesalan Jester mengatakannya, seketika John pun membungkukkan badannya kearah Jester.


"Terima kasih sudah memberikan kenangan indah untuk anak semata wayang kami, dia selalu membicarakan tentang anda dan selalu menyesali takdirnya namun berkat anda... dia dapat meninggal dengan senyum yang merekah... sekali lagi terima kasih tuan muda Gates" dengan derai air mata John mengatakannya, seketika air mata Jester pun tumbah seketika.


Secara bersamaan Jester dan John pun mengangkat tubuhnya sambil mengusap air mata yang tersisa dipipi mereka masing - masing, John mengajak Jester untuk masuk kedalam sebuah ruangan dimana jenazah Luna berada. Didalam ruangan itu Jester melihat sebuah peti mati, perlahan dan dengan tubuh yang bergemetar Jester berjalan mendekati peti mati itu. Didekat peti mati itu John meletakkan foto Luna kemudian dia memandangi wajah pucat Luna yang masih terlihat tersenyum, Jester kembali meneteskan air matanya untuk beberapa saat sembari menatap wajah Luna.


Setelah beberapa saat, Jester kembali keluar dari ruangan itu membawa bingkai foto Luna. Diluar ruangan itu Jester melihat Naomi yang memeluk Selena dan menatap Jester dengan mata yang berkaca - kaca, Jester membuang muka lalu berlalu berjalan begitu saja tanpa sepatah katapun. Merasa Jester marah padanya membuat Naomi sedikit terkejut, dia pun melepaskan pelukan Selena dan mengejar Jester yang terus berjalan menuju keluar rumah sakit. Berkali - kali Naomi terus memanggil nama Jester namun seakan Jester enggan untuk menghentikan langkanya, Naomi semakin yakin Jester marah padanya namun dia tidak paham apa yang membuat Jester marah.


"Berhenti, Jester!!" bentak Naomi sembari menarik lengan Jester, dengan sedikit berlari Naomi memutari Jester dan bertatapan mata dengannya.


"Kamu marah padaku?!" tanya Naomi sedikit membentak, Jester hanya membuang muka menghindari kontak mata dengan Naomi.


"Aku salah apa?! kenapa kamu marah padaku?!" tanya Naomi lagi semakin terdengar marah


"Kenapa kalian tidak langsung katakan saja tentang apa yang terjadi dibelakangku...." jawab Jester terdengar seperti gumaman, Naomi pun terlihat bingung dengan perkataan Jester.


"Hah? apa maksudmu? aku juga tidak tahu kalau Luna..." belum selesai Naomi berkata, Jester memotong.


"Kenapa tidak langsung katakan saja dengan jujur tentang apa yang sedang kalian hadapi agar aku tahu!! kenapa kalian selalu berfikir tidak perlu untuk menceritakan kepadaku tentang yang sedang kalian hadapi?!!" bentak Jester saat itu, Naomi pun tersentak mendengar kemaraan Jester.


"Apa... maksudmu Jess?" tanya Naomi terbata


"Kejadianmu dengan Daniel.... aku hampir saja kehilanganmu.... jika saja Luna dan Selena tidak segera menyadari apa yang terjadi padamu.... mungkin saat ini aku sudah kehilanganmu..." terbata Jester mengatakannya, Naomi pun tertegun sejenak menatap Jester.


"Jess... aku..." belum selesai Naomi berkata, Jester kembali memotong


"Dia! Luna juga melakukan hal yang sama!! dia tidak katakan sedang berperang menghadapi penyakitnya!!! kenapa?!! kenapa tidak katakan saja?!" bentak Jester kembali terdengar penuh emosi, Naomi hanya bisa terdiam menatap mata Jester.


"Hanya tinggal katakan saja... hanya bicara saja... apa sulitnya bagi kalian hah?" tanya Jester begitu kecewa, tidak lama Jester kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Naomi.


"Jess!! aku ikut!!" ucap Naomi kembali berlari mengejar Jester


"Menjauhlah!" timpal Jester dengan bentakan, perkataan Jester itu membuat Naomi kembali tersentak.

__ADS_1


__ADS_2