
Siang menjelang sore di rumah keluarga Scott, sempat terjadi keributan karena Naomi yang tiba - tiba pingsan saat menatap Daniel. Dengan sigap Jester membawa Naomi masuk kedalam kamar Naomi lalu merebahkan tubuh lemas Naomi di kasurnya, sedangkan Daniel hanya berani untuk menunggu kabar Jester di pelataran rumah keluarga Scott.
Lima belas menit berlalu dan Jester keluar dari rumah keluarga Scott untuk menemui Daniel di pelataran rumah keluarga Scott, langkah kaki Jester terlihat lunglai mendekati Daniel yang duduk disalah satu anak tangga yang ada di pelataran rumah. Terlihat berat beban tubuh Jester hingga dirinya duduk dengan sangat keras disebelah Daniel, suara helaan nafas pun terdengar begitu keras dan berat.
"Ini keadaan yang hampir sama dengan saat kamu akan memperkosa Naomi" celetuk Jester dengan nada yang terdengar kesal, mendengar celetukan itu membuat Daniel tidak dapat membantah Jester dan hanya membuang muka dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Tunggulah sebentar lagi, mungkin Naomi akan siuman" celetuk Jester lalu tiba - tiba Daniel berdiri, tatapan mata Jester beralih menatap Daniel yang berdiri itu namun Jester hanya terdiam.
"Maaf aku mengatakan kamu berbohong tentang kondisi Naomi" celetuk Daniel tiba - tiba dengan nada yang terdengar tegas walau tersirat penyesalan, Jester kembali menatap tempat dimana Naoko dulu merawat bonsainya.
"Tidak masalah" timpal Jester
Dua pria yang mencintai Naomi itu merasakan terpukul dengan keadaan Naomi, Jester menyesal karena merasa tindakannya mempertemukan Daniel dengan Naomi malah memperburuk keadaan Naomi, sedangkan Daniel menyesal karena perbuatannya telah menghancurkan hampir segalanya dalam hidup Naomi.
"Aku melakukan semua itu untuk mendapatkannya kembali, bekerjasama dengan Camilla untuk menghancurkan nama Naomi dan berharap kamu akan meninggalkannya tapi yang aku dapati adalah kamu dan Naomi malah semakin erat. Aku mengerti tentang kata - katamu tadi, aku memang sangat bodoh sampai bisa dimanfaatkan orang dengan mudah" ucap Daniel dengan penuh penyesalan, air matanya pun menetes tiba - tiba dan membasahi ubin.
"Aku sangat mencintainya.... aku tidak tahu apa yang merasuki ku hingga secara terus - menerus menyakiti hati Naomi... kini aku sadar akulah yang menyebabkan Naomi pergi meninggalkanku dan bukan karena kehadiranmu..." ucap Daniel dengan suara yang serak, Jester membiarkan Daniel menangis dalam penyesalannya.
Beberapa saat Daniel mulai menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi dan dagunya, tidak lama Daniel berjalan hendak meninggalkan rumah keluarga Scott. Melihat Daniel yang hendak pergi itu membuat Jester terkejut, Jester pun berdiri dan sedikit berlari untuk menghentikan Daniel. Genggaman tangan Jester di bahu Daniel mampu untuk menghentikan langkah Daniel, namun Daniel tetap memunggungi Jester.
"Mau kemana kamu? kamu harus segera meluruskan kesalahpahaman ini" tanya Jester kepada Daniel dengan suara yang sedikit menekan.
"Kesalah...pahaman..?" celetuk Daniel dengan terbata dan terdengar bingung
"Naomi merasa kamu melakukan semua ini karena kamu ingin menghancurkan hidup Naomi, tapi aku percaya kamu melakukan ini untuk merebut Naomi dariku. Katakan itu padanya, biarkan dia memilih untuk mempercayaimu atau tidak" jawab Jester
"Jester... tidak ada kesalahpahaman, biarkan dia tetap membenciku dengan segala pemikirannya kepadaku" timpal Daniel
"Tapi..." belum selesai Jester berkata, Daniel memotongnya
"Naomi adalah cintaku, hidupku akan selalu mengenang Naomi sebagai bentuk kegagalanku sebagai seorang manusia. Jester... kamu adalah salah satu contoh manusia yang dipenuhi kebaikan, aku meminjamkan Naomi padamu dan tolong bahagiakan dia seumur hidupmu" timpal Daniel, perlahan Daniel menoleh kebelakang dengan senyuman.
"Jangan sampai jadi orang bodoh sepertiku, maaf sudah merepotkan mu dengan semua masalah yang aku berikan padamu. Sekarang biarkan aku menyelesaikan kekacauan yang telah aku buat ini" ucap Daniel lalu kembali berjalan hingga genggaman tangan Jester di bahu Daniel terlepas
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jester penasaran
__ADS_1
"Tunggulah satu dua hari, kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan" jawab Daniel dan berlalu pergi begitu saja, Jester pun tidak berniat menahan Daniel lebih lama dan mempercayakan semuanya pada Daniel.
Jester berbalik dan hendak masuk lagi kedalam rumah keluarga Scott, kakinya melangkah berat ketika sampai disebuah lorong yang menghubungkan ruang keluarga dengan kamar Naoko. Suara tangisan Naoko masih saja terdengar setelah beberapa waktu berlalu sejak kematian Evans, tangisan pilu yang terasa menyayat hati Jester namun Jester tidak tahu apa yang bisa dia perbuat untuk membantu Naoko.
Tidak lama Jester pun sampai didepan pintu kamar Naomi, tangannya perlahan membuka pintu itu dan mendapati Naomi sudah sadar dan duduk bersandar pada dipan kasur. Tatapan matanya begitu tajam menatap Jester dan tersirat kemarahan yang begitu dalam, Jester menghela nafasnya sejenak lalu masuk kedalam kamar itu dan menutup pintu dengan rapat.
"Kamu marah padaku?" tanya Jester sembari berjalan mendekati Naomi di kasurnya, Naomi hanya terdiam dan terus menatap Jester hingga Jester duduk di kasur bersebelahan dengan Naomi.
"Aku paham kamu kaget dengan kehadirannya, tapi ada satu hal yang perlu kamu dengar langsung dari Daniel" celetuk Jester, Naomi mengernyitkan dahinya dan tetap menatap Jester dengan tajam
"Apa?" tanya Naomi singkat
"Dia hanya korban Camilla yang menjadikannya alat untuk kepentingannya" jawab Jester sembari menatap wajah marah Naomi.
"Ceritakan" perintah Naomi dengan nada yang terdengar marah, Jester menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan
"Tidak bisakah..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.
"Ceritakan!!" bentak Naomi kepada Jester, dengan segera Jester mengalungkan lengannya di kepala Naomi lalu menariknya hingga kepala Naomi bersandar pada dada Jester. beberapa kali Jester menciumi kepala Naomi dengan lembut, tingkah Jester saat itu membuat Naomi terkejut.
"Ceritakan... padaku..." ucap Naomi terbata dan terdengar serak, Jester menganggukkan kepalanya lalu mulai bercerita kepada Naomi.
Malam yang indah dengan taburan bintang, Jester keluar dari rumah keluarga Scott dan berjalan terus mendekati Mercedes benz S450 yang sudah dibuka pintu penumpangnya oleh supir pribadi Jester. Dengan segera mobil itu melaju keluar dari area rumah keluarga Scott hingga sampailah di rumah milik Jester dan Naomi, begitu Mercedes benz S450 terparkir sempurna, dengan segera supir membukakan pintu untuk Jester.
Setelah berpamitan, supir itu segera berjalan pergi mendekati mobil miliknya yang terparkir disebelah Mercedes benz S450 milik Jester lalu berlalu pergi. Tidak lama sorot lampu mobil berwarna putih terlihat mendekati rumah dan parkir didepan rumah, begitu suara mesin mobil itu terdengar mati dengan segera seseorang turun dan menatap Jester yang masih berdiri didepan pelataran rumah dan menatapnya.
"Malam kak" ucap Selena, dengan wajah heran Jester menatap Selena.
"Malam, ada apa?" tanya Jester penasaran, dengan membawa dua kantung plastik yang terlihat penuh Selena berjalan mendekati Jester tanpa menjawab pertanyaan Jester.
"Kami akan menginap disini" jawab Selena begitu keduanya sudah cukup berdekatan, mendengar jawaban Selena membuat Jester bingung.
"Kami?" tanya Jester lagi dengan nada yang kebingungan, Selena menghela nafasnya dan menunjukkan wajah kesal.
"Iya kami, apa kamu berharap aku sendiri yang menginap disini berdua denganmu?" tanya Selena menyindir Jester, mendapatkan sindiran itu membuat Jester sebal.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku!! yang aku tanyakan kami itu siapa?!! kan kamu cuma datang sendiri kemari!" terdengar kesal saat Jester mengatakannya, Selena pun tertawa sembari meminta kunci rumah pada Jester.
"Teman - teman yang lain akan menyusul, kak Luke dan Sarah masih kencan karena malam hari adalah waktu yang bisa mereka manfaatkan untuk berduaan. Sini kuncinya" jawab Selena dengan sedikit suara tawa yang terdengar, Jester memberikan kunci rumah kepada Selena.
"Kak Harry sedang dalam perjalanan pulang bertemu dengan pacarnya, rencananya dia akan segera menyusul" lanjut Selena sembari membuka pintu rumah, tanpa segan Selena masuk kedalam rumah seakan rumah itu adalah miliknya. Walau kesal namun Jester tidak berniat untuk menegur Selena, dengan segera Jester berjalan masuk kedalam rumah lalu menutup pintu rumah.
"Kak Justin sama Grece baru saja makan malam bersama dengan keluarga besarnya, jadi kemungkinan mereka akan sampai disini hampir tengah malam" sembari terus berjalan menuju dapur saat Selena mengatakannya, Jester membuntuti Selena hingga ke dapur dan penasaran dengan apa yang akan dia lakukan di dapur rumah orang.
Jester membiarkan Selena menjelaskan semua ceritanya begitu saja tanpa respon apapun yang membuat Selena merasa iba dengan keadaan Jester. Tidak seperti biasanya yang selalu menggebu - gebu ketika mengobrol, kali ini Jester lebih banyak berdiam diri dan hanya mampu menjadi pendengar yang baik untuk Selena.
"Istirahatlah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu" ucap Selena sembari menatap Jester yang masih terdiam didepan pintu masuk dapur dan ruang makan yang menjadi satu
"Tidak perlu repot - repot, aku bisa..." belum selesai Jester berkata, Selena memotong.
"Perintah Naomi" timpal Selena dengan senyuman, ucapan Selena membuat Jester terdiam.
Jester pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci muka meninggalkan Selena dengan segala aktifitasnya, setelah cuci muka Jester berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaian yang lebih nyaman. Setelah berganti pakaian dengan segera Jester merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit - langit kamar dengan cahaya lampu redup dari lampu dinding yang menyinari kamar itu. Jester teringat kata - kata Selena tentang kehadirannya dirumah ini, semua karena perintah Naomi dan ada kemungkinan kehadiran teman - temannya yang lain pun atas permintaan Naomi.
"Naomi... apa yang kamu pikirkan? buat apa ini semua?" gumam Jester, lalu Jester pun larut dalam lamunannya.
Lamunan itu berlangsung cukup lama dan terhenti seketika saat suara ketukan pintu kamar terdengar, Jester mengalihkan pandangannya menatap pintu kamar lalu dengan segera beranjak dari kasurnya untuk membuka pintu kamar. Dengan senyum manis Selena menatap Jester yang mengintipnya dari celah pintu kamar yang terbuka sedikit itu.
"Makan malam sudah siap" celetuk Selena terdengar senang, lalu segera berbalik dan tidak menunggu respon dari Jester.
Jester keluar kamar lalu berjalan menuju dapur mengikuti Selena, langkah Jester terhenti ketika menatap meja makan. Di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, Jester melihat Selena memasak chicken cordon bleu
kesukaan Jester. Tatapan mata Jester beralih menatap Selena yang masih menyiapkan beberapa makanan kecil lainnya yang dia siapkan untuk pendamping makanan utama, pemilihan menu yang sama persis dengan apa yang sering Naomi buatkan untuk dirinya.
"Apa ini?" tanya Jester dengan sedikit terbata, mendengar pertanyaan Jester membuat Selena bingung dan menatap Jester dengan sedikit senyum heran.
"Itu chicken cordon bleu, bukankah itu makanan kesukaanmu?" tanya Selena dengan sindiran, Jester menundukkan kepalanya dan tangannya mulai menggenggam dengan keras.
"Berhenti membohongiku.... ada apa ini? apa ini juga perintah Naomi?" tanya Jester dengan suara yang terdengar marah, kemarahan Jester yang tersirat itu membuat Selena kaget.
"Kak... kamu marah?" tanya Selena terbata, Jester kembali menatap Selena dengan tatapan tajamnya penuh kemarahan.
__ADS_1
"Apa Naomi memerintahkan mu untuk menjadi dirinya?!! apa Naomi memintamu untuk menggantikan posisinya disini?!! katakan dengan jujur Selena, apa ini permintaan Naomi?!!" bentak Jester penuh kemarahan.