Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Melepas Rindu


__ADS_3

Malam hari disebuah kamar didalam kediaman besar Gates, terlihat Jester yang tiduran menatap langit - langit kamar bersama Naomi yang meletakkan kepalanya di dada Jester sembari tiduran disebelah Jester saling melepas rindu. Saat itu Naomi menceritakan semua yang dia ketahui tentang Gates, Scott, dan Arielle kepada Jester yang Naomi dapatkan dari Julius, meski terlihat tidak percaya namun Jester hanya dapat terdiam dan sedikit melamun setelah mendengar semua cerita Naomi.


"Bagaimana menurutmu Jess? semua itu benar - benar aku dengar langsung dari Julius, aku juga tidak merasa jika Julius sedang bercanda ataupun membohongiku" tanya Naomi setelah dia panjang lebar bercerita namun Jester hanya terdiam, tangan kiri Jester merangkul pundak Naomi dengan kuat.


"Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa, bukankah itu terlalu berat untuk kita pikirkan? bagaimanapun kita ini masih anak kuliahan" jawab Jester terdengar bingung, Naomi mengangkat kepalanya sedikit mencoba untuk menatap wajah Jester


"Tapi itu yang harus kamu tanggung, aku benarkan?" tanya Naomi terdengar khawatir, Jester menunduk sedikit mencoba untuk menatap mata Naomi.


"Bagaimana denganmu? bukankah itu seharusnya berefek padamu?" tanya balik Jester, Naomi beranjak dari tidurannya dan duduk bersandar di dipan kasur menatap televisi didepannya yang menampilkan berita tentang perubahan status kepemilikan Arielle Corp.


"Saat aku mendengar cerita itu aku merasa.... marah, tapi Julius mengatakan jika kakek tidak melakukannya maka kemungkinan aku tidak akan bertemu denganmu di kehidupan kedepannya... kamu tahu, ketika aku mendengar itu aku merasa lega kakek dan Julius melakukan pembunuhan itu...." jawab Naomi dengan suara yang terdengar bimbang dan sedih, perlahan Naomi menatap mata Jester yang terus menatapnya.


Memiliki Jester yang begitu mencintai dirinya apa adanya membuat Naomi merasa cukup dan sangat bahagia walau hanya hidup bersama Jester, Naomi sadar bahwa kemarahan dan kebencian tidak akan membuat kakeknya hidup kembali. Kesalahan dan kejadian di masalalu sang kakek cukup menjadi sebuah cerita yang sebaiknya Naomi lupakan. Sosok Arthur dan Julius yang begitu hangat juga mampu meruntuhkan dinding kemarahan Naomi, justru saat ini Naomi bahagia karena dicintai oleh dua sosok kakek yang terasa begitu tulus padanya.


"Selama aku disekap entah sejak kapan aku menjadi terbiasa dengan kehadiran kakek dan Julius, aku merasakan kehangatan memiliki kakek dari mereka berdua padahal aku tahu mereka berdua lah yang membunuh kakek ku... aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap, marah, sedih, senang... yang aku tahu cuma... aku merasa lega karena pada akhirnya aku bertemu denganmu. Apa aku egois?" ucap Naomi dengan senyum berat yang menyiratkan kesedihannya, ekspresi wajah Naomi membuat Jester tertegun sejenak memandangi wajah cantik Naomi.


"Tidak apakan jika sesekali kita bertindak egois, nyatanya memang takdir di dunia ini tidak pernah bersikap ramah dan jika kita kita tidak bertindak egois untuk sesekali... maka siapa lagi yang bisa membuat senang hati kita?" tanya Jester sembari mengelus kepala Naomi dengan lembut


"Aku ingin kamu setidaknya berani bersikap egois untuk sesekali karena selama ini aku mengetahui kamu sudah berusaha untuk menutup dirimu dan bersikap seperti yang ibu dan ayah ingin, kini kamu milikku maka setidaknya bersikaplah seperti dirimu sendiri jika ada di depanku" dengan senyuman Jester mengatakannya dihadapan Naomi, mendengar perkataan itu membuat Naomi merasa senang lalu tiba - tiba Naomi mencium bibir Jester dengan kuat. Beberapa saat Naomi melepaskan tautan bibirnya dari bibir Jester dan tersenyum menatap wajah Jester yang memerah, suara tawa kecil Naomi pun terdengar.


"Baik kalau kamu maunya seperti itu, jangan salahkan aku jika aku akan bersikap egois kedepannya karena permintaan dan ijin mu" terdengar senang Naomi mengucapkannya, Jester membalas senyum Naomi lalu mendorongnya sedikit agar Jester dapat menindih tubuh Naomi.


"Sebelum itu terjadi sepertinya aku yang akan bersikap egois lebih dulu" nada menggoda Jester membuat Naomi memerah, namun seakan tidak ingin kalah Naomi mendorong tubuh Jester dan berbalik menindihnya.


"Aku yang pegang kendali~" ucap Naomi dengan nada genit


Malam itu menjadi malam yang indah bagi Jester dan Naomi, melampiaskan celengan rindunya yang selama ini mereka berdua tahan.

__ADS_1


Disisi lain saat bersamaan, disebuah taman kota yang ramai dengan pengunjung. Salah satu sudut taman terlihat Daniel sedang duduk di kursi taman sembari memandangi layar handphone miliknya, Daniel melihat berita - berita tentang Jester yang kini semakin santer diberitakan oleh beberapa media milik Werner Grup. Kesuksesan di usia muda membuat Jester semakin populer, belum lagi keberadaannya yang dulu - dulu tidak pernah tersorot media membuat Jester mendapatkan predikat sebagai orang kaya yang rendah hati dari para netizen.


"Kesal?" tanya Camilla sembari berjalan mendekati Daniel, mendengar suara Camilla yang tiba - tiba terdengar itu membuat Daniel sedikit kaget.


"Apa?" tanya balik Daniel dengan nada heran


"Tidak perlu kamu tutupi, aku yakin kamu kesal pada calon suami Naomi itu. Maaf tapi aku bangga padanya, karena jika dibanding denganmu... kamu tidak ada seujung kukunya~" nada mengejek Camilla membuat Daniel tersinggung, namun Daniel hanya membuang mukanya kembali menatap layar handphone miliknya.


"Dia beruntung dilahirkan di keluarga kaya raya, jika saja aku juga..." belum selesai Daniel berkata, Camilla memotong.


"Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa namun kita dapat memilih akan mati seperti apa, perkataan mu tadi menunjukkan seberapa pecundang dirimu. Aku yakin jika kamu yang ada diposisi Jester maka kamulah keturunan ketujuh keluarga Gates, kehancurannya ada di tanganmu~" timpal Camilla dengan nada yang terdengar mengejek, Daniel semakin emosi dibuatnya.


"Kamu sebenarnya ada di pihak siapa?!" tanya Daniel emosi, tatapan marah Daniel tertuju pada Camilla yang hanya tersenyum.


Sudah menjadi kebiasaan dalam setiap pertemuan bersama Camilla, Daniel harus menerima dirinya selalu dihina dan disudutkan oleh Camilla. Hal itu membuat Daniel hanya bisa pasrah menahan setiap kemarahannya karena memang dia membutuhkan bantuan Camilla untuk mendapatkan Naomi kembali.


"Nih" celetuk Camilla sembari menyodorkan sebuah map kepada Daniel, tatapan mata Daniel pun beralih kepada map yang cukup tebal ditangan Camilla.


"Skenarionya, temanmu yang menjadi wartawan saingan Werner Grup akan menjadi senjata utamamu disana lalu di dalam map juga ada tiket untuk keluar negeri. Aku menghabiskan seluruh tabunganku untuk itu, tapi aku rasa hasilnya akan sepadan dengan tujuanku" jawab Camilla, jawaban Camilla membuat Daniel terkejut lalu mengalihkan pandangannya menatap Camilla.


"Buat apa aku harus keluar negeri?" tanya Daniel heran


"Kamu bodoh atau gimana? Jester akan memburu mu jika kamu masih ada di negeri ini, sebelum itu terjadi maka lebih bijak untukmu pergi dari sini dan menghilangkan jejak. Apa aku kurang baik sudah memikirkan keselamatanmu?" tanya balik Camilla dengan nada yang terdengar kesal


"Tapi aku harus ada disisi Naomi kan?! kalau aku pergi bagaimana..." belum selesai Daniel berbicara, Camilla memotong.


"Apa kamu benar - benar bodoh? kamu pikir Naomi akan dengan suka cita langsung membuka tangannya untuk memelukmu ketika berita itu meledak? Ooh ayolah Daniel" terdengar kesal Camilla mengucapkannya, Daniel pun tersadar jika Naomi akan semakin membencinya ketika berita ini sudah tersebar.

__ADS_1


"Setelah konferensi pers maka kamu harus segera pergi untuk sementara sampai keadaan menjadi lebih dingin, setelah itu kembalilah saat menerima aba - aba dariku lalu temui Naomi dan dia akan jatuh dalam pelukanmu kembali. Jangan paksa aku jelaskan lebih lanjut, karena semua yang terjadi akan berjalan secara natural" lanjut Camilla terdengar capek untuk menjelaskan pada Daniel


"Bagaimana kamu bisa yakin?" tanya Daniel terdengar ragu - ragu, Camilla tersenyum sinis menatap Daniel.


"Karena dewi keberuntungan berpihak pada kita, Jester dan teman - temannya benar - benar melupakan keberadaan ku sehingga aku bisa menatap semuanya dengan sangat baik. Jester dan Naomi tidak akan sempat untuk melakukan apapun untuk menghentikan rencana ku ini" jawab Camilla, suara tawa kecil Camilla terdengar seakan puas dengan kondisi yang tercipta.


kecerdikan dan kelicikan yang dimiliki oleh Camilla membuatnya benar -  benar memanfaatkan kemampuan yang ada dalam dirinya itu, mengumpulkan dan memikirkan serta menata semua rencananya dengan matang Camilla memanfaatkan kelemahan Daniel untuk melancarkan aksinya.


Rencana demi rencana yang matang mereka diskusikan dengan baik, Camilla yang begitu dominan memberikan arahan kepada Daniel untuk menjalankan semua yang dia harus lakukan sesuai dengan skenario yang dibuat oleh Camilla. Begitu matangnya rencana Camilla hingga membuat Camilla tidak ingin Daniel membuat sebuah kesalahan yang akan menghancurkan rencananya begitu saja.


Malam pun berganti pagi, matahari pagi bersinar cukup terang menembus jendela kamar Jester yang tertutup oleh tirai tebal. Jester dan Naomi terbangun bersamaan, keduanya saling menatap dan tersenyum lalu saling balas kecupan dibibir. Setelah beberapa saat keduanya saling bermesraan, mereka pun memulai aktifitas mereka secara bersama - sama menuju kamar mandi untuk memulai rutinitas.


Dengan canda tawa dan obrolan ringan diantara Jester dan Naomi membuat suara tawa keduanya sampai terdengar keluar kamar. Dua wanita berpakaian maid yang berada didepan pintu kamar Jester dan Naomi yang mendengarnya pun sampai tidak dapat menahan tawanya, keduanya saling bertatapan dengan senyum malu sendiri karena mendengar suara Jester dan Naomi didalam kamar.


"Apa kalian sudah kehilangan integritas kalian sebagai pelayan kediaman Gates?" tanya Julius yang berjalan mendekati kamar Jester dan menatap kedua pelayan itu, mendengar suara Julius yang marah membuat kedua pelayan itu menunduk untuk meminta maaf.


"Maafkan kami master Julius" ucap keduanya serentak dengan suara bergemetar yang terdengar ketakutan, Julius berjalan mendekati pintu kamar Jester kemudian mengetuk pintu itu perlahan. Tidak lama Jester pun membuka pintu, Julius tersenyum menatap Jester.


"Selamat pagi tuan besar Jester Gates" sapa Julius dengan sopan, Jester langsung berwajah kesal.


"Bisakah panggil aku dengan ucapan yang biasa saja pak Ju..." belum selesai Jester berkata, Julius memotong.


"Panggil Julius saja tuan besar" timpal Julius


"Aarrrghh!!! kesal!!! kenapa kita selalu bermasalah dengan ini?!" ucap Jester begitu kesal karena lagi dan lagi diantara Jester dan Julius selalu bermasalah dengan panggilan, Julius pun tertawa melihat Jester yang begitu kesal namun hanya bisa mengeluh tanpa tindakan apapun.


"Hari ini adalah hari tuan besar Arthur akan menyerahkan kursi presiden direktur Gates Grup Family kepada tuan besar Jester, selain menandatangani beberapa berkas penyerahan kekuasaan anda juga dituntut untuk segera merombak semua jabatan dibawah tuan besar Jester termasuk kepala pelayan untuk menggantikan Julius" dengan sedikit suara tawa Julius mengucapkannya, Jester pun berpikir sejenak.

__ADS_1


"Kepala pelayan aku memilihmu kembali, apa itu akan menjadi masalah?" tanya Jester dengan tegas, namun senyum Julius perlahan menghilang dari wajahnya.


"Maaf tuan besar Jester.... Julius memutuskan untuk pensiun dan akan pergi meninggalkan kediaman besar Gates" tegas namun tersirat kesedihan yang terdengar saat Julius mengatakannya.


__ADS_2