
Siang hari yang panas terik disaat bersamaan dengan kedatangan Justin dan Grece di rumah Jester dan Naomi, di festival squere orang - orang terlihat lalu lalang dengan raut wajah bahagia bersama dengan pasangan, anak, teman, dan keluarga mereka masing - masing. Diantara orang - orang yang terlihat bahagia saat mengunjungi tempat itu, terlihat Jester dengan raut wajah terlihat sangat lelah sedang menemani Selena yang menunggu penjual ice cream menyiapkan pesanannya.
Setelah beberapa saat menunggu, penjual ice cream itu pun memberikan segelas parfait kepada Selena. Jester dan Selena kemudian berjalan menuju sebuah kursi taman dan menikmati segelas parfait itu, Selena terlihat bahagia saat memakan sesuap parfait lalu perlahan sorot matanya menatap Jester yang masih terlihat capek saat menemaninya.
"Ada pesawat.... Aaaaaa...." ucap Selena sembari menyuapi Jester dengan parfait itu, Jester membuka mulutnya lalu memakannya.
"Enak? Enak? enak donk, yakan?" tanya Selena dengan nada genit sembari terus memandangi wajah Jester yang terlihat menikmati satu sendok parfait itu, senyum Jester sedikit merekah ketika merasakan dingin dan kecut strawberrry bercampur didalam mulutnya.
"Hmm.... ya ya, rasa strawberry nya sangat kuat dan perpaduan remahan biskuitnya juga pas" jawab Jester sambil menikmati parfait yang ada di mulutnya, Selena tertawa mendengar jawaban Jester yang terkesan seperti juri lomba memasak.
"Bukan itu... tapi ada bekas bibirku disendok tadi, semacam ciuman tidak langsung yang aku berikan padamu kak" ucap Selena menggoda Jester, mendengar perkataan Selena membuat Jester tiba - tiba terkejut sampai tersedak sembari melotot menatap Selena.
"Heeii jangan bicarakan hal yang tidak - tidak!!" dengan nada kaget bercampur malu Jester mengatakannya, Selena terlihat tidak mempedulikan Jester yang menatapnya kesal.
"Ya gapapa kan? lagian itu ciuman tidak langsung" sambil menikmati parfait Selena mengatakannya, Jester menyadarkan punggungnya di kursi taman sembari menatap langit cerah siang itu.
"Lalu apa yang mau kamu lakukan sekarang?" dengan nada yang terdengar capek Jester bertanya, Selena memandangi Jester beberapa saat dan terdiam.
"Apapun... yang bisa membuat mood mu membaik kak" jawab Selena yang suaranya terdengar sedih dan raut wajahnya menjadi sedih, Selena mengalihkan pandangannya ke parfait yang mulai agak mencair itu ketika Jester kembali menoleh menatap wajahnya.
"Tidak usah pikirkan aku, aku disini untuk menemanimu" timpal Jester agar Selena tidak merasa bersalah, seketika Jester merasa dirinya menjadi pria jahat melihat Selena yang sedih karena sikapnya.
"Hanya dengan bersamamu seperti sekarang saja sudah membuatku senang, tapi apa gunanya kalau kamu tidak bisa menikmatinya juga kak? jadi apa yang bisa aku lakukan agar kamu juga bisa menikmati kebersamaan kita?" tanya Selena dengan nada yang terdengar masih sedih, Jester mendadak tersadar jika dari awal mereka sampai di tempat itu sampai sekarang dirinya hanya menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan sama sekali. Beberapa saat Jester terdiam memandangi Selena yang tidak menyentuh parfaitnya lagi sejak mengatakan itu, keduanya terdiam beberapa saat sampai tiba - tiba Jester berdiri dari duduknya dan seperti mendapatkan kembali semangatnya.
"Kamu benar!! tidak ada gunanya sampai disini dan hanya merasa lelah, Kalau begitu ayo Selena kita lakukan!!" dengan penuh semangat Jester mengatakannya, teriakan Jester membuat beberapa pengunjung didekat Jester dan Selena terkejut sampai membuat keduanya menjadi pusat perhatian.
"Nah ini kak Jester yang aku suka, nih makan lagi. aaaaa...." ucap Selena yang terlihat senang sambil menyuapi Jester dengan parfait yang mulai mencair itu, Jester memakan parfait itu dan menikmati disuapin oleh Selena dengan senang dan semangat.
Setelah satu gelas parfait itu habis, mereka berdua berlari menuju sebuah loket pembelian tiket wahana. Jester membeli dua tiket terusan yang berbentuk sebuah gelang, Jester lalu memasang gelang tiket ketangannya dan menggelangkan tiket lainnya ke tangan Selena. Jester tersenyum lepas menatap Selena setelah memasangkan tiket ketangan Selena, dengan semangat yang membara Jester menatap Selena sembari memamerkan tiket gelang yang ada ditangannya itu.
"Ayo, kita habiskan sisa hari ini dengan bersenang - senang. Kita akan terus bermain sampai semua wahana ditempat ini sudah kita mainkan! kalau perlu kita mainkan lagi!!" Jester dengan penuh semangat mengatakannya, jantung Selena berdetak kencang dan wajahnya sedikit memerah ketika menatap Jester yang penuh dengan semangat seperti itu.
"Terima kasih kak, aku juga akan bersemangat!" timpal Selena yang juga ikutan bersemangat menyambut semangat Jester, keduanya tertawa bersama sebelum akhirnya berlari mencari wahana yang akan mereka mainkan.
Mereka berdua mulai berkeliling untuk memainkan semua wahana satu per satu, dimulai dari menaiki bianglala sambil menikmati crepes favorit Selena, menaiki roller coaster, flying swinger, drop and twist, memasuki rumah hantu, menaiki go cart, paint ball, dan masih banyak lagi wahana yang mereka berdua mainkan. Keduanya benar - benar larut dalam kesenangan dan kebahagiaan hingga Jester terlihat melupakan semua beban - bebannya, Jester tertawa bahagia bersama dengan Selena.
Senja pun tiba matahari panas terik siang tadi mulai terbenam secara perlahan, Jester dan Selena terlihat kelelahan dan suara mereka pun terdengar serak karena kehabisan suara. Keduanya memutuskan untuk beristirahat disebuah taman, Jester merebahkan badannya di rerumputan sedangkan Selena duduk disebelah Jester sembari mengatur nafasnya.
"Aaah seruu!!" teriak Jester dan lagi - lagi membuat pengunjung lain yang kebetulan berada disekitar mereka terkejut, Selena tertawa melihat Jester berhasil mengejutkan pengunjung lain dengan teriakannya untuk kesekian kalinya sejak mereka bermain.
"Haah... aku capek, kak.... belikan minuman untukku..." pinta Selena dengan manja, Jester tersadar betapa tidak pekanya dia karena belum menyiapkan minuman untuk Selena.
__ADS_1
"Ooh iya, tunggu disini ya!" Jester kembali berdiri dan berlari mencari vending machine lalu membeli dua buah minuman dingin, tidak lama setelah minuman keluar dari vending machine itu Jester kembali berjalan menuju tempat Selena menunggu. Saat itu Jester melihat Selena di keliling oleh tiga orang pria asing yang tidak Jester kenali sama sekali, dengan keheranan Jester tetap berjalan tenang mendekati Selena namun mata Jester terus menatap tajam memperhatikan kelakuan tiga pria asing itu.
"Hei boleh kenalan?" goda salah satu pria yang mengelilingi Selena di sebuah taman, Selena terlihat tidak mempedulikan ketiganya dan hanya menundukkan kepalanya menatap rerumputan.
"Tidak, maaf aku tidak tertarik" jawab ketus Selena, ketiga pria itu terlihat tidak senang mendengar jawaban Selena yang terdengar ketus dan tidak bersahabat.
"Heei ayolah jangan galak - galak gitu" ucap pria itu lagi sembari menyentuh dagu Selena agar Selena menatap wajahnya, melihat Selena yang dilecehkan seperti itu membuat Jester marah lalu segera berlari mendekati Selena dan langsung menggenggam keras tangan pria yang menyentuh dagu Selena.
"Pergi kau!!" bentak Jester dengan nada marah dan menatap pria itu dengan tajam, kedua temannya memandangi Jester dengan wajah terkejut.
"Arrgh! sakit Woii! siapa kamu?!!" tanya pria itu merintih kesakitan namun Jester masih terus menggenggam kuat, ketika itu Selena menatap Jester yang terlihat sangat marah.
Pria itu memukul Jester namun Jester dapat menghindarinya, kaki Jester langsung menendang rendah kearah kaki pria itu dan membuatnya terpelanting keras lalu tergeletak ditanah sambil merintih kesakitan. Jester mengalihkan pandangannya kearah dua teman pria yang telah Jester jatuhkan sembari memasang kuda - kuda untuk melanjutkan pertarungannya, namun Selena sudah lebih dulu memukul jatuh keduanya.
Ketiga pria itu berlari terbirit - birit meninggalkan Jester dan Selena, dengan tatapan terkejut Jester menatap Selena seakan tidak percaya Selena mampu menumbangkan dua pria itu sendirian. Keduanya saling bertatap mata tanpa sepatah katapun untuk beberapa saat lalu Jester tersenyum tiba - tiba sambil menggaruk dahinya beberapa kali, Selena sedikit tertawa geli melihat wajah kaget Jester saat menatapnya.
"Satu detik saja kak Jester terlambat datang, aku sudah menjatuhkan yang pertama tadi. hehe" ucap Selena memecah keheningan, raut wajah manis dan feminim jelas tergambar diwajah Selena ketika itu sampai membuat Jester heran bercampur kagum.
"Waah kamu kuat juga ya, aku pikir kamu tipe yang feminim..." dengan sedikit tertawa Jester mengatakannya, Selena berjalan mendekati Jester lalu merangkul lengan Jester.
"Siapa dulu guru bela diriku?" tanya Selena dengan nada manja menatap Jester yang berada disebelahnya, wajah Jester memerah mendengar pujian Selena. Keduanya mendadak terdiam beberapa saat dan tidak terasa wajah Selena pun memerah, Selena sampai harus mengalihkan pandangannya karena tidak kuat terus bertatapan mata dengan Jester.
"Ayo lanjutkan kencan kita, apa ini minuman untukku?" Selena mengambil minuman ditangan Jester yang dirangkulnya dan segera meminumnya tanpa menunggu jawaban dari Jester, Jester tertawa melihat tingkah Selena yang terlihat seperti salah tingkah.
"Waah indahnya.... memang paling seru kesini pada malam hari ya..." ucap Selena dengan perasaan kagum, Jester pun terlihat sangat terpesona melihat keindahan festival squere dari tempat itu.
"Aku sudah beberapa kali melihatnya, tapi aku tidak pernah bisa berhenti mengagumi keindahannya" timpal Jester, secara perlahan Selena menggenggam tangan Jester sambil terus menikmati keindahan malam itu di festival squere. Kedua tangan mereka saling menggenggam dan membuat wajah Selena mendadak memerah, detak jantung Selena kembali berdetak kencang sampai membuatnya tertunduk karena perasaan gugupnya sudah sangat menguasai dirinya. Jester yang melihat Selena tiba - tiba menunduk membuat dirinya berfikir Selena sudah menjatuhkan sesuatu, Jester ikutan melihat kebawah mengikuti Selena sembari mencari sesuatu yang mungkin Selena jatuhkan.
"Ada apa? apa kamu menjatuhkan sesuatu?" tanya Jester terlihat tanpa beban, kepalanya menunduk dan matanya mencoba mencari sesuatu di remangnya cahaya bukit itu.
"Aaa.. Engga... engga kok" jawab Selena terbata, mendengar jawaban Selena membuat Jester kembali menatap lampu - lampu lampion lagi dan membalas genggaman tangan Selena agak erat. Namun tindakan Jester itu malah membuat Selena semakin gugup hingga membuatnya sedikit bergemetar, sadar tangan Selena yang bergemetar membuat Jester merasa khawatir.
"Hei kamu sakit? kecapean? tanganmu bergemetar" tanya Jester dengan nada panik sembari mencoba menatap wajah Selena yang masih tertunduk, Selena terkejut saat menatap Jester yang sampai menundukkan badannya untuk dapat melihat wajahnya ketika itu.
"Aaa.. tidak tidak kak... aku baik - baik saja" jawab Selena terbata sambil menatap wajah Jester, Jester semakin panik karena wajah Selena terlihat memerah. Reflek tangan lain Jester langsung menyentuh dahi Selena untuk memastikan suhu tubuhnya, Selena terkejut saat tangan besar Jester yang hangat itu mendentuh dahinya.
"Kamu panas? wajahmu memerah" tanya Jester lagi dengan kepanikannya, Selena perlahan mengangkat kepalanya menatap Jester.
"Aaaa... haha... " Selena tertawa aneh sesaat ketika kedua mata mereka saling bertatapan, namun saat itu Jester terlalu panik dan tidak menyadari jika Selena dalam keadaan gugup karena genggaman tangan Jester yang semakin erat menggengam tangannya.
"Suhu mu normal cenderung dingin, tapi kamu berkeringat, kamu kenapa Selena?!" tanya Jester semakin panik
__ADS_1
"Tangan... tanganmu terlalu erat kak..." jawab Selena yang masih terbata dengan perasaan gugup yang sudah diluar batas, Jester terkejut mendengar jawaban Selena dan segera melepaskan genggaman tangannya. Selena langsung menarik tangannya dan mengepalkan kedua tangannya di dekat dada sembari menutupi perasaan malunya, Selena pun tertunduk tidak berani menatap Jester sedangkan Jester terlihat heran menatap Selena yang tiba - tiba begitu gugup hanya dengan sebuah pegangan tangan.
"Maaf ya, aku hanya ingin membalas genggaman mu" ucap Jester yang merasa bersalah dan memecahkan keheningan keduanya, Selena menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum kembali berbicara.
"Ii..ya kak... aku paham... maaf aku tidak menyangka kak Jester akan membalas genggamanku" ucap Selena terbata, jawaban Selena saat itu tidak masuk akal bagi Jester.
"Tapi kamu kan sering peluk aku, kenapa malah cuma genggaman tanganku kamu jadi begini?" tanya Jester yang masih heran melihat Selena yang mendadak sangat gugup, Selena terdiam beberapa saat namun tatapan matanya masih menatap rerumputan dibawah mereka.
"Biasanya hanya aku yang melakukannya dan kak Jester hanya menolak, jadi sekarang aku hanya kaget ketika kak Jester membalasnya" jawab Selena dengan malu - malu, Jester menggaruk dahinya dan terlihat kesal mendengar jawaban Selena.
"Iya sih, soalnya kan tempatnya tidak tepat" timpal Jester berusaha memberikan pengertian pada Selena mengapa dirinya berusaha keras menolak, perlahan tatapan Selena mulai mengarah menatap wajah Jester.
"Itu juga... sepertinya aku terbawa suasana kali ini... jantungku berdegup terlalu keras" dengan terbata Selena mengatakannya, wajah merah merona Selena jelas nampak ketika bertatapan mata dengan Jester ketika itu.
"Maaf ya, aku gak tahu kamu bakal sampai seperti ini" timpal Jester dengan penuh perasaan bersalah, Selena hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon perkataan Jester.
Beberapa saat keduanya terdiam saling bertatapan mata, Selena berjalan mendekati Jester dengan perlahan dan tiba - tiba menarik kerah baju Jester agar menundukan kepalanya lalu Selena mencium bibir Jester. Jester yang terkejut kemudian reflek mendorong pundak Selena agar menjauhkan tautan bibir Selena dari bibirnya sembari sedikit meremas pundak Selena dan menatap wajahnya, namun Selena memalingkan wajahnya dari pandangan mata Jester ketika itu.
"Selena" hanya itu yang dapat keluar dari mulut Jester ketika itu, Selena kembali menatap Jester perlahan dengan wajahnya yang sangat memerah itu dan menarik lagi kerah baju Jester lalu menciumnya kembali. Kali ini Jester terdiam beberapa saat sampai Selena sendiri yang melepaskan tautan bibir mereka, Selena melepaskan tangannya dari kerah Jester lalu menyentuh bibirnya dengan kedua tangannya namun Jester masih terlihat membatu menatap Selena.
"Jadi begini rasanya berciuman...." celetuk Selena dengan suara yang pelan, Jester terkejut mendengar celetukan Selena ketika itu.
"Selena, kenapa?" tanya Jester yang masih tidak percaya Selena memberikan ciuman pertamanya pada Jester, Selena menatap Jester dan terdiam beberapa saat.
"Sejak melihatmu di SMA dulu, aku memutuskan untuk tidak pernah berpacaran atau dekat dengan pria manapun selain dirimu" jawab Selena, Jester masih terus saja membatu menatap Selena
"Aku senang ciuman pertamaku benar - benar untukmu kak" wajah Selena kembali merah merona dengan senyum yang merekah menatap Jester, wajah Jester ikutan memerah mendengar perkataan Selena dan keduanya masih terdiam untuk beberapa saat.
"Ayo kita akhiri kencan hari ini kak, puncak kencan yang aku harapkan sudah terpenuhi semua" ucap Selena memecahkan keheningan diantara keduanya sembari berbalik dan berjalan menuju parkiran festival squere, sedikit bergemetar kaki Jester mengikuti langkah Selena yang terlihat tidak bermasalah sama sekali ketika keduanya berciuman seperti itu.
Dipadatnya jalan perkotaan pada malam hari ketika itu, sebuah Mercedes Benz C200 terlihat melintas menuju cluster perumahan dengan kecepatan sedang. Didalam mobil itu Jester dan Selena terdiam membatu sejak kejadian di festival squere tanpa sepatah kata pun, mereka berdua merasa canggung setelah sebuah ciuman itu. Hingga akhirnya setelah beberapa menit perjalanan mereka berdua sampai didepan rumah Jester dan Naomi, Mercedes Benz C200 terparkir sempuna namun Jester masih terdiam beberapa saat.
"Canggung ya" celetuk Jester memecah keheningan diantara keduanya yang berlangsung cukup lama
"I..iya.. ahaha.." timpal Selena terbata yang terlihat sangat gugup dan malu ketika harus tetap bersama dengan Jester setelah dia menciumnya dengan paksa
"Baik, hati - hati dijalan ya..." ucap Jester sambil melepaskan sabuk pengaman dan hendak keluar dari mobil itu
"I..iya kak... terima kasih" jawab Selena yang juga melepaskan sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil, Jester dan Selena berpapasan didepan Mecedes Benz C200 dan Selena langsung memeluk erat Jester.
"Terima kasih, hari ini adalah hari terbaik yang pernah aku alami" ucap Selena dengan nada terdengar bahagia, walau kaget Jester mulai terbiasa dengan pelukan tiba - tiba Selena.
__ADS_1
"Sama - sama... aku juga merasa senang hari ini" timpal Jester sembari mengelus kepala Selena beberapa kali, Selena tersenyum dibalik wajahnya yang dia benamkan di dada Jester.
Selena melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kursi pengemudi, tidak lama Selena meninggalkan Jester yang masih berdiri melihat kepergian Selena didepan garasi rumahnya. Beberapa saat termenung Jester membalik badannya hendak masuk kedalam rumah namun Naomi tiba - tiba membukakan pintu untuk Jester, Naomi tersenyum menyambut Jester.