
"Na...omi..." ucap Evans terbata
Kesadaran Evans membuat Naomi terkejut, entah harus merasa senang, sedih, atau khawatir melihat keadaan Evans saat itu. Dengan mulut yang menggunakan alat bantu nafas, sangat terlihat jelas jika Evans memaksakan diri untuk berbicara pada Naomi ketika itu. Bergegas Naomi beranjak dari duduknya untuk segera memanggil perawat, namun tangan Evans meremas lengan Naomi.
"Ada... apa... Naomi...? apa yang... mengganggumu?" tanya Evans dengan suara yang terbata
"Ayah, aku panggil perawat dulu" dengan panik Naomi mengatakannya, Evans terlihat tersenyum dari balik alat bantu nafas yang transparan itu.
"Ceritakan... pada ayah..." ucap Evans mencoba mengeraskan suaranya
Memilih untuk membatalkan memanggil perawat, Naomi kembali mendekati Evans perlahan dengan langkahnya yang terasa begitu berat. Mengumpulkan kembali sisa tenaga yang ia miliki, dengan sepenuh hati Naomi mencoba menceritakan semua yang menimpanya kepada sang ayah.
"Maafkan aku ayah!! aku... aku... selama ini aku telah banyak membohongimu..." dengan suara serak dan derai air mata yang semakin deras mengalir Naomi mengatakannya, tangan Evans perlahan meraba mencari pipi Naomi.
"Berbohong.... begitu ya... apa yang kamu sembunyikan dariku...?" tanya Evans,
"Aku...! Aku...." Naomi menggantung kalimatnya dan terdiam sejenak, tangan Evans yang menyentuh pipi Naomi kini menyeka air mata Naomi dengan jempolnya.
"Begitu ya.... sebenarnya ayah penasaran kamu berbohong apa... namun disisi lain... ayah tidak ingin peduli apa yang kamu sembunyikan dari ayah... ayah tidak peduli apapun yang kamu lakukan, ayah tetap bangga kepadamu" timpal Evans, air mata Naomi semakin deras mengalir dan tangannya semakin kuat menggenggam tangan Evans yang berada di pipinya.
"Naomi... ingat kata ayah, apapun kebohongan mu kepadaku... itu adalah keputusanmu dan ayah tidak akan mempermasalahkannya..." ucap Evans melanjutkan kalimatnya
"Tapi... Tapi...." belum selesai Naomi berkata, Evans memotong.
"Tidak akan ada pilihan yang mudah... tapi kamu harus terus melangkah maju, hilangkan semua keraguan dan kesedihan yang muncul dalam benakmu. Teruslah melangkah maju dengan memegang pilihanmu, itulah yang disebut hidup dengan sepenuh hati..." timpal Evans, dengan perlahan kedua tangan Evans menyentuh kedua pipi Naomi dan menyeka air mata yang masih terus mengalir itu.
__ADS_1
"Kamu sudah tumbuh menjadi sosok perempuan yang dapat menentukan pilihanmu sendiri, hal sekecil itu yang membuat ayah menjadi tenang.... tik..." tiba - tiba suara Evans menghilang, tubuh Naomi pun bergemetar hebat dan tangannya menggenggam tangan Evans yang masih menyentuh pipi Noami.
"Aa.. yah... ayah?" dengan nada yang terdengar panik Naomi mengucapkannya, namun tiba - tiba garis senyum Evans terlihat.
"Ayah bangga memiliki anak secantik dirimu.... Naomi, kamu adalah hadiah terbesar yang pernah ayah miliki seumur hidup ayah. Melihatmu tumbuh besar adalah hal terindah yang pernah ayah lihat... Terima kasih sudah hadir di dunia untuk ayah..." ucap Evans, tangan Evans kini melingkar diantara bahu dan leher Naomi lalu menariknya dan memeluk Naomi dengan erat.
"Ayah titip salam untuk Jester, tidak akan ada pria lain yang pantas untukmu selain Jester.... karena kamu adalah kebanggaan dan kebahagiaan ayah, ayah sangat mencintaimu...." sangat erat Evans memeluk Naomi, air mata Naomi kini membasahi baju Evans.
"Aku juga sangat mencintaimu ayah....!" ucap Naomi
Disebuah ruangan yang penuh dengan peralatan medis, dengan suasana yang tenang Naomi dan Evans saling meluapkan isi hati mereka berdua. Kehangatan yang terasa menyesakkan dada, Naomi dengan penuh rasa bersalah menerima maaf dari ayahnya dan Evans menunjukkan cintanya kepada Naomi dengan luar biasa. Tercipta rasa bahagia diantara keduanya, sebuah ikatan batin antara Naomi dengan cinta pertamanya sangat menyentuh hati. Pelukan keduanya begitu erat seperti tidak ingin terlepas. Entah kapan terakhir kali Naomi ingat momen kedekatan bersama sang ayah. Seperti tidak ingin menyia - nyiakan kebahagiaannya sore itu, Naomi dengan rasa bahagia mulai ingin bercerita banyak hal kepada Evans karena kesehatan Evans yang mulai membaik. Hingga akhirnya....
***Tiiiiiitt!!!***
Dengan hati yang berat Naomi menolehkan pandangannya ke arah alat pengukur detak jantung Evans, alat itu menunjukkan tidak ada detak jantung yang terdeteksi, tangan Evans tiba - tiba terlepas dari tubuh Naomi. Dengan air mata yang sempat tertahan, perlahan Naomi mengalihkan pandangannya untuk melihat wajah sang ayah yang terlihat semakin pucat, kemudian memberanikan diri mendekatkan telinganya pada bagian dada Evans. Tidak ada suara yang terdengar selain suara dari alat pengukur jantung yang terus berbunyi dengan kerasnya ditengah keheningan yang tercipta.
"Ayah!!!!!" teriak Naomi
Tangisnya pecah, ruangan itu menjadi terasa sempit dan gelap bagi Naomi. Berada di ruangan luas tetapi dadanya sesak seperti terhimpit. Air mata itu sudah amat sangat mengalir dengan begitu derasnya, badannya mulai terkulai lemas kehilangan tenaganya. Sekujur tubuhnya dingin dan badannya bergemetar.
Teriakan Naomi terdengar oleh Jester yang sedari tadi berada didepan kamar Evans, dengan segera Jester berlari masuk mendekati kasur Evans lalu menekan tombol darurat. Tidak lama tim perawat dan dokter yang tiba sesegera mungkin memeriksa keadaan Evans, karena keadaan yang kritis akhirnya Evans pun kembali dibawa menuju ruang perawatan khusus.
Naomi yang masih terkulai lemas hanya bisa bersandar pada tubuh Jester yang menopangnya. Tatapan matanya mulai kosong kembali, badannya yang dingin mampu Jester rasakan. Tidak ada teriakan lagi yang Jester dengar dari Naomi, bahkan suara tangisnya pun tak terdengar. Namun keadaannya lebih parah dari itu, karena Naomi mengalami syok yang berat dan membuatnya terlihat hanya terdiam dengan tatapannya yang semakin kosong.
Tim dokter mencoba melakukan usaha mereka dengan maksimal namun semua terlambat, Evans tidak dapat diselamatkan. Tepat pada sore hari saat itu setelah mendapatkan perawatan intensif selama dua jam, Evans dinyatakan telah meninggal dunia. Kabar itu membuat Naoko menangis histeris tepat didepan dokter yang memberikan kabar, begitu pula dengan Naomi dan juga Jester. William terlihat meratap ditembok dan Marrie memeluk William dari belakang mencoba untuk menenangkannya, Kesedihan juga sangat terpancar dari wajah Luke, Harry, Sarah, Grece, Justin dan Selena.
__ADS_1
Hari berlalu dan acara prosesi pemakaman Evans Scott dilaksanakan, nampak hadir disana keluarga Gates termasuk Arthur, Keluarga Arielle termasuk Julius, keluarga Parker, keluarga Werner, Luke, Harry dan Justin serta rekan - rekan dari Evans. Suasana duka begitu kental terasa, dengan pakaian serba hitam semua yang hadir merasa berkabung.
Sosok yang selalu hangat kepada siapapun membuat Evans dikenal sebagai sosok pria yang baik, tidak terkecuali dimata Arthur dan Julius yang pernah terlibat konflik dengan keluarga besar Scott. Tidak lama Arthur dan Julius berpamitan untuk pulang lebih dulu, kesehatan Arthur dan Julius yang memang melemah membuat keduanya tidak dapat berlama - lama ditempat seperti itu.
Tidak lama satu per satu pelayat pulang, begitu pula dengan Jester yang menjadi orang paling terakhir meninggalkan rumah duka. Selama beberapa jam itu, Jester tak dapat menemui Naomi karena Naomi mengurung dirinya didalam kamar. Bahkan urusan pemakaman pun sampai harus diambil alih oleh William dan Marrie, semua terjadi ketika Naoko sering kali jatuh pingsan.
Jester kini memilih tinggal dirumah kecil miliknya yang jauh dari kediaman besar Gates, sebuah rumah kecil dimana kehidupannya selama ini dihabiskan bersama Naomi. Ini semua dilakukan Jester untuk menghindari kejaran wartawan dan reporter yang selalu setia menunggu didepan gerbang kediaman besar Gates, kasus yang menyeret nama Naomi masih menjadi topik hangat yang dicari para netizen.
Seminggu berlalu sejak pemakaman Evans, selama itu pula Jester tidak dapat bertemu dengan Naomi baik ketika Jester berkunjung kerumah keluarga Scott maupun melewati media sosial. Di kampus pun Naomi tidak pernah menampakkan dirinya, walau Jester sangat paham kenapa Naomi tidak berani untuk berangkat ke kampus namun Jester masih memiliki secercah harapan jika suatu saat dirinya akan bertemu Naomi ditempat itu.
Sore hari disebuah gedung perkantoran, bangunan yang terlihat begitu mewah dan megah tempat Gates Family Grup berkantor. Disalah satu ruangan dengan meja bundar, terlihat Jester, William, dan Sarah sedang mengadakan rapat bersama, Jester menopang kepala dengan kedua tangannya sembari mendengarkan penjelasan Sarah dan William yang silih berganti.
"Saham kita sudah turun lebih dari lima puluh persen, gerakan dibawah juga sudah mulai tidak dapat terkendali. Para investor menginginkan perubahan yang radikal untuk menstabilkan ini" ucap Sarah
"Memberikan keyakinan pada pemegang saham merupakan salah satu langkah yang tepat, sayangnya mayoritas pemegang saham setuju dengan para investor untuk menggantikan posisi Jester. Ini adalah situasi yang sangat tidak menguntungkan" timpal William yang terdengar pusing dengan permasalahan yang ada
"Aku akan segera mengawal anak - anak perusahaan agar mereka memiliki kepercayaan kepada kita,Exo dan Arielle Corp tetap berpihak kepada kita namun itu masih kurang" ucap Sarah kembali menjelaskan
"Jaringan hotel Gates akan masuk dibawah menejemen Gates Family Grup, aku ingin Rumah Sakit Scott juga namun aku masih tidak dapat menemui Naoko. Selain itu..." belum selesai William berkata, Jester memotong.
Jester yang sudah menduga akan semua hal itu seperti sudah menyiapkan sebuah tindakan yang harus dia lakukan. Sebuah langkah dan pemikiran yang cukup berat Jester coba utarakan dengan penuh keyakinan.
"Mereka ingin tindakan radikal kan?" tanya Jester menimpali perkataan William, pertanyaan Jester menarik perhatian Sarah dan William hingga keduanya mengalihkan pandangan menatap Jester secara bersamaan.
"Aku akan beri mereka tindakan radikal, papa... tolong kumpulkan nama - nama pemegang saham dan para investor yang ingin menjatuhkan aku dari kursi presiden direktur" ucap Jester dengan tegas, perkataan Jester saat itu membuat William dan Sarah terkejut.
__ADS_1