
"Jester.... hentikan apapun rencana balas dendamu" suara Naomi terdengar tegas namun tersirat kesedihan yang terasa disetiap kata yang dia ucapkan
Rabu pagi menjelang siang, disebuah perkantoran ditengah kota yang ramai baik oleh pengunjung maupun yang sedang bekerja disana. Diruangan yang tertutup disalah satu lantai dalam gedung, Jester dan Sarah terkejut dengan apa yang baru saja terucap dari mulut Naomi. Sebuah kalimat yang tidak akan dibayangkan oleh Jester dan Sarah mengingat apa yang sudah pernah Daniel lakukan terhadapnya, sebuah permintaan untuk menghentikan rencana balas dendam Jester.
"Apa maksudmu? kamu ingin aku melupakan semua kejahatannya terhadapmu?" tanya Jester heran, Naomi pun menatap Jester dengan sorot mata yang terlihat sangat sedih.
"Aku tidak punya maksud apapun.... aku cuma ingin kamu hentikan, aku tahu dia jahat kepadaku tapi sudahlah Jess... lepaskan dia..." jawab Naomi sedikit terbata, Sarah tersenyum sinis saat mendengar perkataan Naomi yang terkesan ingin melindungi Daniel.
"Naomi, apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan? kata - katamu itu pasti akan menyakiti Jester, apapun alasanmu aku mendengarnya sebagai pembelaan untuk Daniel" tanya Sarah dengan nada yang terkesan menyindir, Naomi pun menatap Sarah dengan tajam.
"Aku tidak membelanya dan aku tidak akan pernah memaafkannya, kamu tahu Daniel adalah tulang punggung keluarga dan Becca akan segera menjalani operasi... kamu akan mengorbankan orang yang tidak..." belum selesai Naomi berbicara, Jester memotong.
"Biarkan dia merasakan apa arti kehilangan, aku hampir saja kehilanganmu karena perbuatannya dan kali ini aku ingin memberinya pelajaran" tegas Jester mengatakannya, perkataan Jester membuat Naomi terlihat sangat kecewa.
"Jess... aku mohon, jangan libatkan Becca.... dia tidak bersalah apapun..." pinta Naomi memelas, namun Jester bergeming dan membuang muka untuk menghindari kontak mata dengan Naomi yang seakan memaksanya.
"Jess... aku mohon..." Naomi menggenggam tangan Jester begitu erat sambil memelas
"Tidak, aku akan kabulkan apapun permintaanmu selain ini" tolak Jester dengan tegas, mata Naomi pun mulai berkaca - kaca. Tidak lama dia mengalihkan pandangannya menatap Sarah, lalu Naomi menundukkan badannya untuk memohon pada Sarah.
"Sarah.. ijinkan dia tetap bekerja denganmu... aku mohon padamu, hanya kamu satu - satunya yang bisa menolong Becca saat ini" pinta Naomi memelas, Sarah pun terkejut melihat Naomi yang sampai rela menundukkan kepalanya demi Daniel.
"Naomi!! apa kamu sadar yang sudah kamu lakukan?! menundukkan kepala demi pria lain didepan calon suamimu?!!" bentak Sarah, air mata Naomi saat itu menetes dan terlihat membasahi lantai.
"Aku tidak menunduk demi Daniel.... aku menundukkan kepalaku dan memohon padamu untuk Becca.... aku akan lakukan apapun jika itu bisa membuatmu menerima permohonanku..." dengan suara yang terdengar serak karena menangis Naomi mengatakannya, genggaman tangan Naomi pun dibalas dengan Jester begitu erat.
"Apapun.... demi orang... lain?" tanya Jester terbata, tersirat rasa kecewanya saat itu sampai Naomi terkejut lalu memeluk lengan Jester begitu erat.
"Tidak! kamu jangan salah paham denganku!! Jess, aku cuma tidak ingin Becca yang tidak ada hubungan apapun juga ikut merasakan dendammu!! kamu mau lakukan apapun pada Daniel aku tidak akan peduli, aku tidak akan lagi bertemu dengannya dengan alasan apapun! kamu jangan salah paham denganku" terdengar panik Naomi mengatakannya, tatapan matanya saat itu menunjukkan seberapa takutnya dia. Namun Jester bergeming dan terus membuang muka tidak ingin bertatapan mata dengan Naomi, merasakan Jester marah membuat Naomi semakin panik.
"Jess!! tolong dengarkan aku... tolong... kamu salah paham denganku... hanya satu yang aku minta, jangan libatkan Becca... jangan libatkan keluarganya, mereka baik padaku... Jess... aku mohon dengarkan aku" semakin panik Naomi saat itu
"Sarah, apa Luke ada disini?" tanya Jester, pertanyaan Jester saat itu membuat Naomi dan Sarah terkejut.
"Jess... apa kamu sudah benar - benar membenciku sampai tidak mau mendengarkan perkataanku lagi?" tanya Naomi terdengar putus asa, matanya pun mulai kosong menatap wajah Jester yang masih mengabaikannya. rangkulan Naomi semakin erat memeluk lengan Jester, tidak lama tangan lain Jester membelai lembut rambut Naomi seakan ingin memberikan ketenangan untuk Naomi.
"Aku akan segera panggil dia, saat ini seharusnya dia ada dilantai enam" ucap Sarah sembari mengeluarkan handphone dari tas nya, lalu menelepon Luke.
***
__ADS_1
"Ya Sarah" sapa Luke ketika telepon terangkat
"Kelantai 3 diruanganku, Jester ingin bertemu denganmu" timpal Sarah tanpa basa basi, telepon pun langsung tertutup seketika saat itu
***
"Jess... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Naomi dengan suara yang begitu sedih dan air mata yang semakin deras mengalir, Jester menoleh menatap Naomi sambil tersenyum. Tangannya semakin lembut membelai rambut Naomi, namun Naomi tidak memahami apa maksud Jester bersikap seperti itu saat ini. Tidak lama Luke pun masuk kedalam ruangan Sarah dengan penuh emosi yang terlihat dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya.
"Brengsek!! kamu mau berantem denganku sekarang hah?!!" bentak Luke saat itu, bentakan itu membuat Jester, Naomi dan Sarah mengalihkan perhatiannya.
"Aku ada tugas untukmu, berangkatlah bersama Harry sekarang" perintah Jester dengan datar, perintah itu membuat Luke heran.
"Hah? kamu memerintahku begitu saja?" tanya Luke heran, namun Jester tidak menghiraukannya. Jester mengeluarkan dompet disaku jeans nya lalu mengeluarkan kartu ATM dan melemparnya ke Luke, dengan sigap Luke menangkap ATM itu.
"Bayar berapapun biaya rumah sakit Becca, katakan pada keluarganya kalau Naomi dilarang untuk menemui mereka dengan alasan apapun dan ini adalah bantuan terakhir Naomi kepada mereka. Jangan kamu sampaikan apa yang diperbuat Daniel kepada Naomi, katakan saja aku yang melarangnya" tegas Jester mengatakannya, saat itu Naomi, Luke dan Sarah pun terkejut dengan keputusan Jester. Perlahan Jester menoleh kembali menatap Naomi, sorot matanya begitu lembut menatapnya.
"Apa ini sudah cukup? ada yang harus aku lakukan lagi untukmu? karena ini terakhir kalinya aku mengijinkanmu berhubungan dengan Daniel dan keluarganya, aku dulu sudah katakan padamu kalau kamu menangis saat menemui Daniel maka aku akan mencabut ijinku." lembut Jester mengatakannya pada Naomi, seketika itu Naomi menundukkan kepalanya dan menyadarkan dahinya kebahu Jester.
Jester selalu kesulitan untuk menolak keinginan Naomi, terlebih jika Naomi meminta dengan cara memohon dan memelas seperti itu. Dengan berat hati Jester mengabulkan permintaan Naomi walau pun bertolak belakang dengan hati Jester, kemarahan dan kebenciannya terhdap Daniel sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Tapi Naomi tetaplah Naomi, sosok yang begitu penuh dengan ketulusan dan kebesaran hati. Bahkan Naomi masih memikirkan orang lain walau orang itu berhubungan erat dengan sosok yang membuatnya nyaris hancur, sikap Naomi itulah yang membuat Jester begitu mencintai Naomi. Namun kali ini harapannya besar agar Naomi tidak lagi berhubungan dengan Daniel maupun kluarganya, ketakutan Jester akan Daniel yang mencoba menjebak Naomi lagi membuatnya tidak ingin lagi bersikap lembut saat berhadapan dengannya.
"Terima kasih... itu sudah cukup... dan aku terima konsekuensinya dengan senang hati..." jawab Naomi terdengar senang, Jester pun kembali membelai rambut Naomi dengan lembut.
"Luke! lakukan sekarang!" agak membentak Jester mengatakannya
"Ehem... aku akan menemui nyonya Scott dan nyonya Gates" celetuk Sarah lalu keluar dari ruangan meninggalkan Jester dan Naomi berduaan
"Aku... bermimpi semalam, mimpi yang saaangat buruk..." celetuk Naomi memecah keheningan setelah Sarah keluar dari ruangan itu.
"Mimpi apa?" tanya Jester penasaran
"Aku... dicampakkan olehmu begitu saja... kamu mengatakan bahwa kamu jijik melihatku, menyentuhku, bahkan hanya sekedar menyebut namaku pun membuatmu mual... aku pun terbangun lalu berteriak dan menangis malam itu sampai membangunkan Luna dan Selena..." jawab Naomi terdengar begitu sedih
"Aku tidak akan melakukan itu padamu, aku..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Aku tahu... tapi malam itu aku benar - benar merasa kalau mimpiku akan jadi kenyataan, aku begitu takut kamu akan meninggalkanku sampai Luna memelukku dan memberikan saran" timpal Naomi begitu sedih, Naomi menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Luna bilang kalau itu semua hanya pemikiranku... dia menyuruhku untuk membuktikannya langsung... karena itulah aku diam - diam masuk dalam selimutmu dan begitu memaksa untuk menciummu... kamu tahu Jess, lagi dan lagi Luna lebih memahamimu daripada aku... responmu benar - benar seperti apa yang Luna katakan padaku" ucap Naomi, perlahan Naomi mendongak menatap wajah Jester yang saat itu terus menatapnya.
"Jess, untuk terakhir kali aku katakan padamu dan jika kamu tetap pada pendirianmu untuk mempertahankanku... aku akan berikan semua yang tersisa dari diriku untukmu seutuhnya... aku tidak akan ragu lagi... katakan dan berjanjilah padaku..." suara Naomi terdengar begitu lembut, Jester menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang Naomi katakan.
__ADS_1
"Jess... aku sudah tidak perawan, seorang lelaki sudah pernah menjamah tubuhku... aku akan menjadi aib dan duri bagimu... apa kamu tetap mau untuk mencintaiku tanpa pernah mengungkit kembali aib itu didepanku?" tanya Naomi dengan tegas, Jester pun mencium dahi Naomi dengan lembut.
"Aku berjanji akan selalu mencintaimu dalam keadaan apapun, aku janji tidak akan mengungkit aibmu dalam keadaan apapun, aku mencintaimu tulus dan hanya kamu yang aku inginkan untuk mendampingiku seumur hidupku" tegas namun lembut Jester mengatakannya, Naomi pun tersentak dan air matanya kembali berlinang karena terharu.
"Terima kasih... aku akan berusaha sekuat mungkin untuk membahagiakan kamu..." timpal Naomi dengan suara yang terdengar serak, tiba - tiba ditengah suasana haru itu Jester mencubit pipi Naomi.
"Aku juga akan berusaha sekuat mungkin membahagiakan kamu" Jester mengatakannya sembari tersenyum menatap Naomi, tawa kecil Naomi dan Jester pun terdengar ketika itu. Naomi melepaskan pelukannya yang sejak tadi memeluk erat lengan Jester lalu menyeka air mata yang masih tersisa dipipi, Jester pun membantu Naomi untuk menyeka air matanya. Setelah yakin bekas menangisnya sudah tidak nampak, Jester dan Naomi keluar dari ruangan itu lalu melanjutkan proses fitting baju pernikahan mereka.
Disaat bersamaan, disebuah rumah mewah yang cukup besar. Terlihat Mercedes Benz C200 terparkir di carport rumah itu, tidak jauh dari carport terdapat kursi yang terletak dipelataran rumah itu. Selena duduk disana sembari scrolling Ingram dihandphonenya, tidak lama tiga orang nampak keluar dari rumah itu. Luna, dan kedua orang tuanya John Lincoln dan Lisa Lincoln berjalan keluar lalu mendekati Selena, melihat keberadaan keluarga Lincoln membuat Selena berdiri untuk menyambut namun John dan Lisa langsung membungkukkan badannya saat dekat dengan Selena.
"Nona Selena, terima kasih sudah menemani Luna sampai sekarang" dengan sopan John mengatakannya pada Selena
"Tidak perlu sesungkan itu padaku" timpal Selena
"Nona Selena, kami mempunyai hutang budi yang sangat banyak kepada keluarga Parker... semoga kami bisa membalasnya suatu saat nanti" Lisa pun begitu sopan pada Selena sampai membuat Selena tidak enak hati
"Tidak usah dipikirkan nyonya Lincoln, Luna bagaimana hasilnya?" tanya Selena terdengar sedih, wajah murung Luna membuat Selena penasaran.
"Aku pikir aku masih punya waktu sembilan belas hari lagi, tapi dia mengatakan jadwalnya akan dimajukan... aku cuma punya waktu sampai empat belas hari kedepan" dengan sedih Luna mengatakannya, Selena begitu menyesal mendengarnya.
"Maaf... semua kejadian itu membuat waktumu semakin sempit dan check list mu...." belum selesai Selena berkata, Luna memeluk Selena dengan erat.
"Tidak perlu meminta maaf, semua dimulai tanpa perencanaan... kalau ada yang harus disalahkan itu adalah aku yang bimbang sejak dulu dan salah memilih jalan" dengan lembut dan berusaha menenangkan Luna mengatakannya, Selena pun meneteskan air matanya lalu memeluk Luna dengan erat.
"Berkasku sudah siap semua, bisa antarkan aku untuk mengurus paspor? dengan jaringanmu maka tidak akan ada masalah kan?" tanya Luna, Selena hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali menyetujui perkataan Luna.
"Aku akan hubungi papa agar paspormu segera bisa diselesaikan dalam hitungan jam" jawab Selena sambil melepaskan pelukannya, Luna pun tersenyum menatap Selena.
"Terima kasih, maaf merepotkanmu terus" timpal Luna, mereka berempat berpisah dipelataran rumah. Selena dan Luna menaiki Mercedes Benz C200 sedangkan John dan Lisa menaiki taksi online.
Ditengah perjalanan Selena dan Luna menuju kantor pemerintahan untuk urusan perijinan paspor, terlihat Luna dan Selena terdiam didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang mengikuti arus lalu lintas yang cukup padat siang itu. Wajah sedih Luna dan Selena tidak dapat disembunyikan lagi, namun saat itu Selena terlihat tidak lagi dapat menahan air matanya.
"Kenapa menangis? gapapa kok..." lembut Luna mengatakannya untuk menenangkan Selena, namun air mata Selena masih tidak juga terbendung.
"Entah kenapa... aku mengingat semua kenangan kebersamaan kita dulu... aku ingin kamu tetap ada disini..." terdengar sangat sedih Selena mengatakannya, Luna pun menghela nafas.
"Selena... kita udah janji kan kalau tidak akan ada air mata lagi saat kita membicarakan ini?" tanya Luna, dengan menganggukkan kepala Selena merespon pertanyaan Luna.
"Semua akan baik - baik saja.... kamu punya sahabat yang baik, hubunganmu dengan kak Jester, kak Luke dan kak Harry pun sudah membaik, kak Justin dan Grece pun akan ikut menemanimu kalau kamu merasakan kesepian, kamu sudah tidak sendiri lagi..." ucap Luna dengan lembut, namun air mata Selena semakin deras keluar dari matanya.
__ADS_1
"Maaf... aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menenangkanmu... semua ini tidak bisa dihindari" terdengar sedih Luna mengatakannya, dia pun kembali menghela nafasnya sejenak.
"Dalam kehidupan ini manusia datang dan pergi... teman, kekasih, sahabat, maupun orang - orang terdekat. Yang dulu sedekat nadi, kelak akan sejauh matahari, momen yang pernah tercipta pun hanya akan menjadi memori. Kita nyatanya tidak pernah saling memiliki namun kita hanya saling dipinjami" ucap Luna dengan lembut, Selena pun semakin menangis sampai membuatnya menepikan mobilnya.