
Pagi hari yang cerah disebuah perbukitan yang terlihat hijau dengan pepohonan, diujung jalan perbukitan tampak sebuah tembok pagar yang tinggi menjulang mengikuti kontur perbukitan. Didalam pagar tembok terdapat sebuah rumah mewah dengan banyak pria mengenakan tuxedo dan berkacamata hitam yang berjaga disekitar area rumah, disebuah lorong dalam rumah itu terlihat Jester dan Naomi berjalan mengikuti dua wanita dengan berpakaian maid.
Didepan sebuah pintu yang tinggi besar Jester dan Naomi menunggu kedua wanita berpakaian maid itu membuka kedua sisinya, perlahan pintu terbuka dan terlihat sebuah aula besar dengan empat kursi mewah tanpa meja yang posisinya lebih tinggi dari lantai. Didepan empat kursi itu terlihat satu kursi lagi yang menghadap langsung ketempat dimana empat kursi berada, posisi yang mengesankan seperti akan ada sebuah persidangan diruangan itu.
Perlahan Jester melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu di ikuti oleh Naomi dibelakangnya, kedua wanita berpakaian maid itu kembali menutup pintu dengan perlahan dan menunggu diluar ruangan. Ditengah ruangan Jester menatap langit - langit yang terbuat dari kubah kaca dengan hiasan - hiasan yang terlihat sangat indah, keindahan yang membuat Jester sedikit melamun menatap langit - langit itu. Lamunan Jester pecah ketika Naomi memegang tangan Jester begitu erat dan kuat, perlahan Jester menatap wajah Naomi yang terlihat sangat khawatir.
"Jess.... tempat ini seperti akan ada sidang, benarkan?" tanya Naomi sedikit bergemetar, Jester menaikkan kedua bahunya sejenak lalu menatap satu - satunya kursi yang letaknya lebih rendah dibanding empat kursi didepannya.
"Aku juga merasa begitu" Jester berjalan mendekati kursi itu dan melihat sebuah papan ditempat duduknya yang bertuliskan nama 'Jester Gates'
"Ini kursiku aku rasa, tapi mana kursimu? apa mereka lupa mempersiapkan kursi untukmu?" celetuk Jester sambil mengambil papan itu dan membuangnya begitu saja, Jester memberikan gestur tangan untuk menyuruh Naomi mendekatinya.
"Duduklah, aku akan minta kursi satu lagi saat ada pelayan yang datang" ucap Jester lalu Naomi pun berjalan mendekati Jester dan duduk dikursi itu, Jester memutari kursi dan berdiri dibelakang Naomi menatap empat kursi lain didepan yang posisinya lebih tinggi.
Tidak lama sebuah pintu terbuka dengan pelan dari arah samping depan Jester dan Naomi, empat orang wanita masuk secara bergantian dengan ekspresi yang menampakkan ketegangan masing - masing, lalu dengan segera berjalan mendekati empat kursi yang tersedia. Diantara empat wanita itu terlihat Marrie berjalan menatap Jester dan Naomi dengan wajah tertekan dan khawatir, tatapannya semakin ketakutan saat menatap Naomi yang duduk dikursi Jester namun seakan Marrie tidak berani untuk berbicara saat itu.
"Mama?" celetuk Jester dengan heran dan tatapan matanya menatap Marrie dengan tajam.
Dikursi paling kanan terlihat ada dua orang wanita berdiri dibelakangnya, sebelah kirinya lagi terlihat kosong, lebih kekiri lagi Marrie berdiri dibelakang kursi itu dan menatap Jester dan Naomi dengan sorot mata penuh kekhawatiran, dan kursi paling kanan terlihat seorang wanita berdiri dibelakang kursi.
Tidak lama tiga orang pria paruh baya masuk kedalam ruangan itu dari pintu yang berbeda, terlihat William berjalan bersama dengan dua orang lainnya dan langsung duduk dikursi mereka masing - masing. Jester pun menatap William yang duduk didepan Marrie yang berdiri dengan tatapan tajam seakan tidak percaya William akan membiarkan Marrie berdiri sedangkan dia dengan enaknya duduk dikursi, William pun terlihat menghela nafasnya lalu menundukkan pandangannya. Menyadari kesalahan, Naomi langsung berdiri dan menatap Jester dengan tatapan penuh ketakutan yang terpancar dari matanya.
"Jess! kamu yang harusnya duduk disini!" celetuk Naomi terdengar panik dan ketakutan, namun Jester bergeming dan terus menatap William dengan tajam.
"Jess!!" agak membentak Naomi mengucapkannya
"Duduklah!" Jester pun membentak Naomi dan terus menatap William
"Jess tolong...." pinta Naomi lagi dengan mata yang mulai berkaca - kaca
"Duduklah Naomi... aku diajarkan papa untuk selalu mengistimewakan istrinya dan sepertinya dia tidak melakukan apa yang pernah dia ucapkan sendiri" timpal Jester terdengar emosi, suara mereka berdua begitu menggema diruangan.
"Sombong sekali anak ini" celetuk Andrews menekan, Jester mengalihkan pandangannya menatap Andrews yang duduk dikursi paling kanan dengan tajam.
Andrews adalah anak pertama dari Arthur Gates yang secara otomatis merupakan paman dari Jester, dari ketiga bersaudara sosok Andrews sebenarnya adalah sosok yang paling terlihat sabar dibandingkan dengan Willam dan Philip namun karena pemberontakan yang dilakukan William dan juga otoriternya didikan seorang Arthur Gates membuat hubungan antara Andrews dan William memburuk.
"Aku melakukan apa yang menurutku benar" timpal Jester tidak kalah menekan dari Andrews
"Maafkan anakku kakak pertama, dia masih terlalu muda dan tidak paham dengan...." belum selesai William berkata, Jester memotong.
"Mana ajaran hidup seperti William? aku pikir memang seperti itulah menjadi pria sejati... tapi ternyata itu hanyalah sekedar bualan sok keren dari pria yang membiarkan wanitanya berdiri sedangkan dia duduk dengan nyamannya dikursi empuk itu" timpal Jester dengan penuh emosi yang terdengar dari setiap kata yang terlontar, Naomi terlihat begitu emosi menatap Jester.
"Jester!!" bentak Naomi yang ikutan emosi melihat sikap Jester, mendengar bentakan Naomi yang menggema itu membuat Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi yang menangis menatapnya.
Jester terdiam memandangi wajah Naomi yang begitu marah menatap Jester, perlahan Jester menghela nafasnya lalu membopong Naomi dan duduk dikursi miliknya itu sembari memangku Naomi. Tindakan Jester saat itu membuat Andrews, William, Phillip, dan Marrie serta ketiga wanita yang berada disana terkejut, tidak kalah terkejut Naomi itu sendiri yang sampai tidak dapat berkata - kata lagi atas tindakan Jester.
"Aku sudah duduk dikursiku, apa kalian semua sudah puas?" tanya Jester menatap Andrews, William, dan Phillip bergantian
__ADS_1
"Thats my son" gumam William penuh kebanggaan yang tergambar dari senyumnya menatap anak semata wayangnya itu.
"Tidak akan ada yang puas dari tindakanmu itu, sebuah pemberontakan tidak pernah mendapatkan nilai plus dari orang yang dilawannya" suara berat serak dan terdengar maskulin terdengar dari belakang Jester dan Naomi, suara itu mengagetkan Jester dan Naomi yang berusaha menoleh menatap Arthur yang berjalan melewati Jester dan Naomi begitu saja.
"Kamu... kakekku?" tanya Jester sembari terus memandangi punggung Arthur yang lebar itu
"Benar, akulah kakekmu" jawab Arthur singkat sambil terus berjalan menuju kursinya, semua terdiam dengan kedatangan Arthur.
Arthur pun duduk dikursinya dan langsung menatap Jester yang masih memangku Naomi, Naomi sendiri terdiam menatap Arthur dengan tatapan ketakutan. Tidak lama Naomi berusaha memberontak agar Jester melepaskan pelukannya yang menghalangi Naomi untuk berdiri, namun semakin memberontak maka tangan Jester malah semakin erat memeluk pinggul dan kaki Naomi.
"Jess... aku mohon..." pinta Naomi sembari menatap Jester dengan mata yang berkaca - kaca itu agar Jester melepaskannya dan membiarkan Naomi berdiri
"Tidak apa nona muda Scott, aku menghargai keberanian Jester menentang aturan dikeluarga ini" ucap Arthur, perkataan Arthur membuat Naomi pun terdiam lalu menunduk dipangkuan Jester.
"Apa kamu tahu kenapa aku tiba - tiba memanggilmu kesini?" tanya Arthur
"Kamu tidak memanggilku tapi menculikku" jawab Jester lalu tangan Naomi yang berada dipundak Jester yang sejak tadi merangkulnya mendadak meremat keras bahu Jester, wajah Jester pun terlihat kesakitan namun dia berusaha untuk menahannya.
"Baik, aku ganti pertanyaanku. Apa kamu tahu kenapa aku tiba - tiba menculikmu?" tanya Arthur datar
"Tidak, tapi jika yang dikatakan Pak Julius benar maka kakek sedang mencari pengganti kakek untuk duduk dikursi itu" tegas Jester menjawabnya
"Itu benar, aku sudah terlalu tua untuk..." belum selesai Arthur berkata, Jester memotong
"Aku tidak tertarik dan tidak ingin menggantikan kakek" timpal Jester dan tangan Naomi pun kembali meremas pundak Jester begitu kuat sampai membuat Jester kesakitan, wajah Jester terlihat merintih kesakitan.
"Sepertinya nona muda Scott lebih memahami situasi daripada kamu" celetuk Arthur dengan sedikit tekanan
"Kakek masih punya paman, papa, dan om disana... kenapa harus aku?" tanya Jester heran
"Karena mereka tidak kompeten, mereka anak - anak gagal dengan masalahnya masing - masing" jawab Arthur dengan tegas dan sedikit emosi
"Papa memang kadang menyebalkan, tapi apa yang sudah dicapai oleh papa bukannya itu sebuah prestasi? butuh yang seperti apa lagi?" tanya Jester lagi masih terdengar bingung
"Pamanmu... Andrews terlalu terbuai cinta, hatinya sangat lemah saat berhadapan dengan wanita. Sangat tidak cocok dengan apa yang harus dipertahankan, akan terlalu beresiko saat dia jatuh cinta pada wanita yang salah dan dapat menghancurkan apa yang sudah aku capai ini" jawab Arthur sembari menunjuk Andrews yang duduk disebelah kirinya yang membuat Andrews tertunduk malu kepada semua yang hadir dalam pertemuan itu, lalu Arthur beralih menunjuk kearah William.
"Papamu.... William terlalu berhati lemah, dia terlalu memiliki kasih sayang dan mudah kasihan dengan banyak orang. Sangat tidak cocok jika dia yang memegang semua kendali perusahaan, akan terlalu beresiko saat dia mengkasihani seseorang yang mempunyai niat buruk dibelakangnya untuk menghancurkan apa yang sudah aku capai ini" Arthur kembali menjelaskan pertanyaan Jester, lalu kembali menunjuk pria paling kanan dari Arthur.
"Om mu... dia seperti sistem yang shut down... terlalu mengandalkan perintah dariku dan tidak dapat memimpin jika tanpa perintah dariku... sudah tidak perlu aku jelaskan mengapa dia tidak cocok" ucap Arthur lalu menghela nafasnya yang terdengar berat itu
"Hanya tersisa dirimu karena kamu cucu tertuaku saat ini..." terdengar sedih Arthur mengatakannya
"Bagaimana kalau aku tidak bersedia?" tanya Jester dan menatap Arthur dengan tajam
"Aku akan hancurkan keluarga Scott dan pernikahan kalian akan aku batalkan dan dengan cara apapun kamu akan melangsungkan pernikahan kalian, aku pasti akan hancurkan sampai kamu dan nona muda ini merasa lebih baik mati daripada terus berada didunia ini" jawab Arthur dengan tegas dan begitu menekan, tangan Naomi pun meremas pundak Jester begitu keras karena ketakutan dengan ancaman Arthur.
"Kakek pikir aku percaya? bagaimana caranya kakek melakukannya?" tanya Jester terdengar meremehkan
__ADS_1
"Jaringan bisnisku ada dimana - mana, baik didalam dan diluar negeri. Bandara, terminal, pelabuhan semua milikku. Bahkan banyak pejabat yang sebenarnya adalah anak buahku, semua lini telah aku kuasai dan tidak satu pun yang tidak ada campur tangan keluarga Gates. Apa kamu masih berfikir kamu dapat melawanku Gates muda?" dengan suara yang begitu menekan Arthur menjawabnya, suara menekan Arthur membuat tangan Naomi kembali meremas pundak Jester.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Jester dengan tenang, Arthur pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Jester.
"Sebelum masuk kedalam apa yang harus kamu lakukan aku ingin kamu mengetahui kenapa William.... papamu ini tidak memperkenalkan kamu kepadaku sejak awal" jawab Arthur dengan tenang
"Semua dimulai dari sebuah pertambangan emas milik keluarga Gates yang akan di ekplorasi menggunakan jasa pertambangan miliki keluarga Scott..." Arthur menggantung perkataannya seakan sedang menunggu respon Jester dan Naomi saat itu, Jester dan Naomi terkejut seperti dugaan Arthur. Perlahan Naomi menoleh menatap Arthur dengan tatapan yang kaget itu, senyum sinis Arthur terlihat saat dia dan Naomi saling menatap.
"Terkejut nona muda? apa kamu hanya tahu Scott bergerak dibidang kesehatan dan rumah sakit?" tanya Arthur begitu menekan
"Ayah pernah bergerak dibidang.. pertambangan?" tanya Naomi terbata
"Ayahmu Evans Scott merasakan imbas dari pengkhianatan yang dilakukan oleh kakekmu... Edward Scott yang berusaha mengambil alih kepemilikan tambang emas milik keluarga Gates, aku menghancurkannya sampai keakar - akarnya dan membuat ayahmu jatuh miskin" dengan penuh emosi Arthur mengatakannya, sontak Jester pun teringat cerita Evans yang dulu pernah diceritakan langsung oleh Evans didanau bukit beberapa bulan lalu.
"Dia bangkit atas bantuan pacarnya yang saat ini menjadi istri dan ibumu, aku tidak memperhitungkan kemampuan ekonomi dari nona Naoko Kanade... seandainya ibumu tidak menolong ayahmu, kamu mungkin tidak akan pernah lahir didunia ini" lanjut Arthur dengan nada bicara yang mulai sedikit merendah
"Lalu.. apa yang terjadi pada... kakekku? aku tidak pernah bertemu dengannya..." tanya Naomi dengan bergemetar, Arthur terdiam beberapa saat namun terus menatap Naomi dengan tajam.
"Aku membunuhnya" tegas Arthur mengatakannya dengan datar, jawaban Arthur saat itu membuat Jester dan Naomi terkejut dan nyali Jester pun sedikit menciut. Kalimat pembunuhan yang begitu mudah dilontarkan Arthur membuat Jester dan Naomi syok, seakan tidak mempercayai perkataan Arthur namun tidak ada sedikitpun kesan jika Arthur sedang bercanda.
"Tidak ada tempat bagi pengkhianat keluarga Gates, aku telah menghancurkan semua penghalang dan pengkhianat. Namun untuk kasus ayahmu... selain aku tidak menyangka ibumu akan menolong ayahmu..." Arthur menggantung kalimatnya lalu menatap William dengan tajam, sorot matanya yang tajam itu membuat William terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Dia mengkhianatiku dengan menyembunyikan harta yang dimilikinya lalu memberikannya pada Evans Scott, mereka berdua bekerjasama membangun jaringan hotel dan rumah sakit dengan hartaku!!" bentak Arthur begitu marahnya kepada William, bentakan itu membuat Naomi tersentak lalu kembali menyembunyikan wajahnya didada Jester.
"Kenapa... tidak kakek hancurkan saja papa dan ayah?" tanya Jester mencoba berusaha tenang, Arthur kembali menoleh menatap Jester.
"Aku memiliki titik lemah dalam sepanjang perjalanan bisnisku... yaitu anak - anakku, aku dikhianati oleh mereka namun aku tidak bisa melakukan apapun kepada mereka... itulah sebabnya nona muda Scott ini lahir didunia ini..." jawab Arthur dengan suaranya yang masih menekan, tangan Naomi pun kembali meremas pundak Jester karena ketakutan.
"Apa kamu mengerti mengapa sekarang aku memanggilmu, Gates muda?" tanya Arthur
"Ada hubungannya dengan pernikahanku" tegas Jester menjawabnya, senyum Arthur pun merekah mendengar jawaban Jester.
"Aku mendengar dari berita - berita tentang pernikahanmu dengan nona muda Scott dan aku terkejut, bagaimana mungkin aku sudi memiliki cucu yang menikah dengan cucu dari pengkhianat keluarga" timpal Arthur, Jester pun tersulut emosinya mendengar perkataan Arthur.
"Yang bersalah adalah kakeknya dan tidak ada sama sekali alasan untuk membenci Naomi, aku tidak akan meninggalkan Naomi apapun yang terjadi meski itu artinya aku akan melawanmu" tegas Jester mengatakannya, Arthur dan Jester pun bertatapan mata dengan tajam, ruangan itu mendadak menjadi sunyi untuk beberapa saat.
"Baik, lakukan satu hal untukku dan kamu boleh menikah dengan nona muda Scott ini" celetuk Arthur memecakan keheningan, sontak baik Andrews, William, dan Phillip menoleh menatap Arthur. Bagaimana pun bagi mereka sosok Arthur adalah sosok yang keras kepala dan tidak akan merubah pendiriannya, namun kali ini Arthur seakan melunak kepada Jester.
"Apa itu?" tanya Jester penasaran
"Keluarga Gates memiliki bidang bisnis yang sangat banyak, semua bidang bisnis menjadi yang nomor satu tiada tanding... namun ada satu yang menjadi nomor dua dinegara ini dan aku tidak suka dengan keadaan itu" jawab Arthur datar, Andrews terlihat terkejut saat mendengar perkataan Arthur.
"Papa, itu.." belum selesai Andrews berbicara, Arthur tiba - tiba menepuk kedua tangannya dan terdengar suara pintu dibelakang Jester terbuka.
Beberapa langkah kaki terdengar mendekat dan saat itu Marrie terlihat terkejut menatap seseorang yang berjalan mendekat, seorang wanita terlihat berjalan didampingi dua orang pria berbadan tegap dengan tuxedo hitam mengawal dan menuntun wanita itu mendekat. Tepat ditengah - tengah ruangan wanita itu diantar oleh dua orang pria bertuxedo, lalu mereka berdua pun meninggalkan wanita itu berdiri ditengah - tengah mereka semua.
"Apa kamu mengenalnya Gates muda?" tanya Arthur terdengar sedikit emosi
__ADS_1
"Tidak.... siapa wanita ini?" tanya balik Jester
"Dia Jessica Arielle.... ibu dari Sarah Arielle, dia adalah wanita yang membuat pamanmu Andrews mengkhianatiku! memiliki anak dibelakangku dan membuat perusahan dibidang fashion milikku yang dikelola oleh pamanmu menjadi nomor dua dinegara ini!" dengan penuh emosi Arthur mengatakannya, wajah Andrews pun terlihat menjadi pucat pasi.