Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Nasihat


__ADS_3

Malam yang cerah disebuah universitas negeri dipusat kota yang menjadi tuan rumah perlombaan antar universitas, sebuah mobil Hyundai Staria berjalan dengan kecepatan rendah menyusuri jalan area dalam kampus menuju gedung rektorat. Di parkiran depan gedung itu terlihat cukup ramai dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang akan mengikuti lomba antar kampus, penyambutan kontestan dari pihak tuan rumah pun terlihat meriah dan ramah.


Hyundai Staria yang dinaiki Jester, Selena dan Alex pun terparkir ditempat yang sudah disediakan dan dipandu oleh dua orang mahasiswa yang merupakan tim penyambutan dari universitas tuan rumah, begitu terparkir sempurna dengan segera Jester dan Selena segera turun dari dalam mobil untuk menyapa tim panitia yang memandu mereka tadi. Mereka berempat pun berjabatan tangan dengan senyum yang terlihat diraut wajah mereka masing - masing, namun kedua mahasiswa dari universitas tuan rumah terlihat kaget melihat kehadiran Jester.


"Loh... kamu pacar Naomi selebgram itu kan?" tanya salah satu mahasiswa yang menyambut Jester dan Selena


"Hah? kok tahu?" tanya Jester terkejut, suara tawa kedua mahasiswa itu terdengar.


"Ya iyalah... Naomi itu terkenal dan fotomu sering dipajang di beranda medsosnya" jawab mahasiswa itu, Jester pun terlihat malu.


"Wah universitas kami kedatangan selebgram, pasti penonton bakal senang. Kami akan menjadi pemandu kalian selama kalian berada disini" ucap mahasiswa lainnya


Hubungannya dengan Naomi yang mulai terekspos ke media mau tidak mau membuat Jester ikut dikenal banyak orang, status Naomi sebagai selebgram dengan banyak penggemar pastinya memudahkan orang untuk mengenal siapapun yang menjadi pasangan Jester. Hal itu membuat Jester mulai mencoba terbiasa berlaku sebagai selebgram yang dikenal banyak orang.


"Terima kasih, mohon bantuannya" terdengar senang Jester mengucapkannya, lalu Jester dan Selena pun berjalan mengikuti kedua mahasiswa itu menuju mess yang terlah disediakan.


Mengisi malam dengan bertemu para kontestan lain, Jester dan Selena membaur bersama peserta lainnya. Obrolan ringan dan santai cenderung basa - basi mewarnai malam mereka. Beberapa dari mahasiswa dan mahasiswi seakan sangat mengenali Jester, yaah... Jester yang dulu adalah seorang yang biasa saja, kini bertransformasi menjadi selebgram sejak hubungan percintaannya dengan Naomi terpublish.


Belum lagi berita tentang kehebohan putusnya Daniel dan Sarah yang turut menyeret nama Naomi kala itu, membuat sosok Jester yang tiba - tiba muncul memberikan klarifikasi tentang tidak benarnya gosip yang beredar sebab putusnya Daniel dan Sarah adalah karena orang ketika yaitu Naomi. Ditambah Jester mengumumkan pernikahan antara dirinya dengan Naomi akan dilaksanakan dalam hitungan bulan, semua skenario Grece benar - benar bekerja dengan baik.


Tak jarang beberapa dari mereka menanyakan tentang Naomi kepada Jester yang membuat Selena menjadi kesal karena ada api cemburu yang bergejolak di hatinya, sempat merasa mendapatkan kesempatan untuk berdua dengan Jester tanpa kehadiran dari sosok Naomi membuat Selena ingin memanfaatkan momentum ini. Tapi pertanyaan demi pertanyaan yang muncul kala itu malah membuat Jester semakin memikirkan Naomi, melihat wajah Jester yang terlihat khawatir membuat Selena merasa belum saatnya untuk mengambil hati Jester kembali.


Satu jam berlalu dan acara penyambutan selesai, mereka semua termasuk Jester dan Selena kembali ke mess mereka masing - masing untuk beristirahat. Mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan babak pertama yang akan diselenggarakan pada esok harinya, semua peserta tidak terkecuali Jester dan Selena memulai untuk mengatur strategi mereka masing - masing. Tiga puluh menit berlalu, Jester dan Selena berpisah untuk kembali ke kamar mereka dan beristirahat.


Pagi pun tiba, matahari bersinar cukup terang dengan sedikit awan mendung yang terlihat. Para mahasiswa dan mahasiswi peserta lomba terlihat bersiap - siap untuk menuju hall yang berada diarea universitas, berjarak sejauh satu kilometer dari mess membuat mahasiswa dan mahasiswi itu harus berjalan kaki menuju hall tempat lomba akan dilaksanakan. Ditengah perjalanan menuju hall, Jester dan Selena melihat Luke dan Sarah diparkiran pengunjung hall.


"Mereka... datang untuk menonton kita?" tanya Selena terdengar heran, kehadiran Sarah dan Luke ditempat lomba seperti ini sangat tidak disangka oleh Selena.


"Engga, mereka ada urusan denganku... setelah babak pertama selesai aku akan menemui mereka dulu" jawab Jester sembari terus memperhatikan Luke dan Sarah dari kejauhan yang sedang mengantri untuk masuk menjadi penonton dilomba itu, wajah Selena terlihat sebal mendengar jawaban Jester.


"Aku ikut" timpal Selena dengan suara yang terdengar kesal, Jester pun mengalihkan pandangannya menatap Selena.


"Hah?! buat apaan? Sarah mau membicarakan hal pribadi denganku!" tanya Jester dengan nada yang terdengar terkejut, Selena pun menghela nafasnya sebelum merespon perkataan Jester.


"Aku disini gak ada teman kak, kalau kamu meninggalkanku disini... aku kesepian donk" jawab Selena kesal, Jester kembali mengalihkan perhatiannya menatap jalanan.


"Kamu ada benarnya... tapi apa Sarah akan mau terbuka kalau ada kamu?" agak sedikit bergumam Jester mengatakannya


"Aku bisa duduk agak jauh kalau Sarah ingin aku tidak mendengar apa yang kalian bertiga bicarakan" jawab Selena menekan Jester, seakan tidak memiliki pilihan Jester hanya menghela nafasnya merespon permintaan Selena yang terkesan memaksa itu.

__ADS_1


Tidak beberapa lama, para mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi peserta lomba sudah berada didalam hall. Dipandu tim panitia saat itu, mereka semua membaca peraturan - peraturan yang dibagikan ke masing - masing peserta oleh panitia lomba. Dibabak pertama menjadi babak gugur, dimana peserta dengan nilai rendah akan segera gugur dan boleh meninggalkan perlombaan. Mengetahui itu membuat Jester dan Selena sangat bersemangat untuk memulangkan banyak tim dari universitas lain, Jester dan Selena melakukan fist bump sebelum berjalan menuju panggung.


Sembilan puluh menit babak demi babak dilalui oleh Jester dan Selena, lebih dari setengah peserta berhasil digugurkan oleh Jester dan Selena dengan mudah. Berbagai pertanyaan juga berhasil Jester dan Selena jawab dengan baik, meskipun saat itu semua peserta dan juga penonton yang hadir memahami jika Jester lah yang berperan penting di setiap kesempatan. Selena yang merasa sangat tertinggal merasa sedikit kecewa pada dirinya sendiri, namun Jester tidak mempedulikan hal itu dan selalu menyanjung Selena hingga membuat semangat Selena bangkit dan bangkit lagi.


Ditengah sesi istirahat, Jester dan Selena berjalan menuju sebuah taman yang berada diarea sekitaran hall. Di taman itu terlihat empat kursi taman yang tersedia, disanalah Jester dan Selena melihat Luke dan Sarah duduk menunggu kedatangan Jester. Menyadari kedatangan Jester dan Selena membuat Sarah sedikit kesal saat matanya tertuju pada Selena, menyadari ketidaksukaan Sarah melihat kedatangan Selena membuat Selena pun menatap Sarah dengan wajah sebal.


"Kenapa dia disini?" tanya Sarah dengan suara yang sedikit marah


"Aku yang seharusnya bertanya, aku dan kak Jester sedang ditengah perlombaan dan kamu datang untuk mengganggu kami?" tanya balik Selena dengan nada yang terdengar sedikit marah


"Heh... kamu peserta yang banyak diam daripada menjawab itu kan?" tanya Sarah dengan sindiran, mendapat sindiran seperti itu membuat emosi Selena tersulut.


"Apa katamu?! memang kamu bisa apa jika ada di posisiku?!" timpal Selena begitu emosi, Jester menepuk lembut kepala Selena dan Luke mencubit pipi Sarah untuk menghentikan pertikaian mereka.


"Kalian ini gak bisa ya jadi lebih akrab?" tanya Jester kepada Selena


"Kamu kesini bukan untuk bertengkar" ucap Luke kepada Sarah


"Dia menyebalkan!!" ucap Sarah dan Selena bersamaan, mendengar itu membuat Jester dan Luke pun tertawa bersamaan.


"Sarah, kamu keberatan atau tidak ada Selena disini? dia tidak punya teman disini, jadi terpaksa aku membawanya" tanya Jester kepada Sarah, sempat terdiam beberapa saat Sarah pun menghela nafasnya sembari mengalihkan pandangannya menatap Jester.


"Baik... ada apa? kamu sampai menyusul kami kemari berarti ada hal sangat penting kan?" tanya Jester kepada Sarah, dengan anggukan kepala Sarah merespon pertanyaan Jester.


"Tentang... ayah... maksudku tentang pria yang seharusnya aku panggil ayah..." jawab Sarah terbata, terlihat sorot mata Sarah menjadi sedih. Perlahan Sarah membuang mukanya, nafasnya pun terdengar berat saat itu.


"Paman Andrews Gates namanya, kakak dari papa ku dan anak pertama dari kakek kita... hanya itu yang aku ketahui sejauh ini" timpal Jester dengan datar, tangan Sarah pun meremas kuat sandaran tangan kursi taman itu.


"Kenapa... dia membuang ku?" tanya Sarah terbata


Pertanyaan yang sudah Jester duga sebelumnya dan Jester pun sudah mempersiapkan jawaban yang terbaik jika Sarah menanyakan tentang hal itu. Jester sangat memahami bukan hal yang mudah diterima bagi Sarah saat mengetahui tentang ayahnya yang selama ini tidak pernah dia ketahui, dengan lembut dan tenang jester siap menjawab apapun pertanyaan yang akan diutarakan oleh Sarah.


"Karena kakek kita tidak menyetujui paman Andrews berhubungan dengan nyonya Jessica" jawab Jester masih terdengar tenang


"Apa.... pria itu membenciku?" tanya lagi Sarah kali ini suaranya semakin meyakinkan Jester jika Sarah sedang menahan tangisnya, dengan helaan nafas Jester mencoba mencari jawaban yang dapat diterima oleh Sarah.


"Aku rasa tidak, paman Andrews menentang kakek walau paman melakukannya secara diam - diam. Fakta jika Arielle Corp menjadi nomor satu mengalahkan Exo, semua itu karena paman selalu memakai uangnya untuk mengambil proyek - proyek yang tidak memiliki peluang berhasil agar Arielle Corp tidak terjebak dan sebaliknya Exo akan mengalah ketika proyeknya memiliki kemungkinan akan mendapat profit yang bagus" jawab Jester dan membuat Sarah tersentak


"Kakek bukan tipe orang yang mudah diajak bicara, papa saja takut kepadanya.... butuh keberanian ekstra untuk melakukan apa yang paman lakukan demi kamu, apa menurutmu itu tanda jika paman membencimu?" tanya Jester sedikit menekan Sarah, namun Sarah hanya terdiam menatap rerumputan dibawahnya.

__ADS_1


"Sarah... kadang yang terlihat didepan mata bukanlah yang sebenarnya terjadi, aku sudah mengalami beberapa kali selalu berkesimpulan kalau yang didepan mata adalah kebenaran namun ternyata aku salah... selalu ada alasan dibalik tindakan setiap orang, permasalahannya maukah kita untuk menempatkan diri kita di posisi orang itu?" ucap Jester dengan suara yang lembut mencoba untuk menyadarkan Sarah


"Kamu marah pun tidak masalah, tapi jika kebenaran sudah tampak nyata didepan matamu... sampai kapan kamu akan mengelak dari kebenaran itu? pikirkan itu baik - baik dan mulailah berdamai dengan hatimu.... karena aku sudah pernah mengalami hal yang kurang lebih sama denganmu, makanya aku bisa memberimu masukan" lanjut Jester meneruskan nasihatnya


"Aku mengerti... aku sudah memikirkan hal itu sejak bertemu denganmu dan tuan William... terima kasih Jester" ucap Sarah sembari mengalihkan pandangannya menatap Jester, dengan mata yang masih terlihat berkaca - kaca itu Sarah mencoba untuk tersenyum.


"Bisa bantu aku bertemu dengan pria itu? aku akan menanyakan langsung padanya tentang aku... yang seharusnya menjadi anaknya.... sosok yang seharusnya jadi cinta pertamaku sebagai anak perempuan.." dengan suara yang terdengar serak Sarah mengatakannya, Jester tersenyum membalas senyum Sarah.


"Baik, aku akan atur pertemuan mu dengan paman. Selamat datang di keluarga Gates, Sarah" terdengar senang Jester mengucapkannya, Sarah pun tertawa.


"Dulu... saat pertama kali aku bertemu denganmu di restoran cepat saji... aku merasa diantara aku dan kamu itu terikat sesuatu... aku pikir aku jatuh cinta padamu namun aku selalu menguatkan hatiku agar aku tidak jatuh cinta padamu, bagaimanapun aku pernah merebut Daniel dari Naomi walaupun itu hanya sekedar kontrak bisnis" ucap Sarah dengan sedikit suara tawa yang terdengar, mendengar perkataan Sarah saat itu membuat Jester, Luke dan Selena terkejut.


Selena yang terpaksa mendengar obrolan antara Sarah dan Jester tentang kenyataan yang sebenarnya pada Sarah yang ternyata saudara Jester sangat terkejut, dia tidak menyangka bahwa mereka mempunyai darah yang sama dari seorang Gates. Berada di situasi yang tidak seharusnya dia berada membuat Selena canggung dan hanya bisa terdiam. Selena akhirnya mengetahui mengapa Jester menolak untuk mengajaknya tadi untuk menemui Sarah.


"Hah?!! apa - apaan itu?!" bentak Jester terdengar panik


"Hei!! jangan jatuh cinta pada si bodoh ini!! kamu ingin mencampakkan ku?!!" bentak Luke bersamaan dengan bentakan Jester, sedangkan Selena mengerutkan dahinya menatap Sarah dengan tajam.


"Tidak... kalian salah paham dengan perkataan ku, aku memang dulu merasa seperti itu tapi sekarang aku tahu kenapa aku merasa diantara aku dan Jester ada ikatan... ternyata kita memiliki darah yang sama... apa kamu tidak merasakan hal yang sama?" tanya Sarah pada Jester dengan suara tawa yang masih terdengar, saat itu lah Jester, Luke dan Selena bernafas lega.


"Luke... ayo pulang, aku sudah bisa menata hatiku" ajak Sarah dengan senyum yang merekah, walau saat itu air mata masih terlihat akan keluar dari kelopak matanya.


"Jester, kami pulang dulu ya dan ingat kamu harus membawa kemenangan untuk kampus kita" dengan penuh semangat Luke mengatakannya sembari berdiri, Sarah pun berdiri hendak meninggalkan tempat itu.


"Pasti, aku kan juara bertahan" dengan sombong Jester mengatakannya, Luke dan Jester melakukan fist bumb sebelum akhirnya Luke dan Sarah berbalik hendak menuju parkiran didepan hall. Baru beberapa langkah, Sarah berhenti sejenak lalu menoleh kebelakang menatap Jester.


"Arielle Corp akan tunduk pada keputusanmu, aku menunggu instruksi darimu Presiden Direktur Jester Gates" celetuk Sarah dan tersenyum manis, Jester mengangkat jempolnya dan membalas senyum Sarah. Mereka pun berpisah disana, dengan helaan nafas perlahan Jester menatap Selena yang masih duduk disebelah Jester.


"Ayo kita cari makan, aku sudah sangat lapar" ajak Jester kepada Selena, namun senyum sinis Selena terlihat tiba - tiba sembari menunjukkan jam tangan milik Selena.


"Waktu istirahat kita sudah habis kak, gak ada waktu lagi buat makan" ucap Selena menyadarkan Jester, mengetahui itu membuat Jester panik.


"Hah?!! tapi aku sangat lapar!!" dengan sedikit berteriak Jester mengatakannya


Seakan sudah menduga mereka akan mengalami hal seperti ini, dengan sigap Selena mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. Sebuah kotak makan yang berisi berbagai macam jenis masakan, Selena lalu memberikannya pada Jester. Melihat itu membuat Jester terkejut, dalam benaknya bertanya "darimana masakan ini?", tatapan Jester pun melihat Selena dengan heran.


"Tenang... ini bukan masakan kemarin kok, pagi buta aku mencoba mencari restoran dua puluh empat jam disekitar sini dengan taksi online dan aku hanya menemukan restoran cepat saji dekat - dekat sini. Kalau kamu memang lapar, makanlah ini" ucap Selena datar, Jester tersenyum lega karena perutnya saat itu benar - benar dalam kondisi kelaparan.


"Kamu baik banget Selena!! terima kasih!!" terdengar senang Jester mengucapkannya, tangannya langsung mengambil beberapa jenis makanan yang berada didalam kota itu lalu melahapnya dengan sangat cepat. Senyum Selena pun merekah melihat tingkah Jester, namun Jester terlalu fokus pada makanan itu sampai tidak memperhatikan Selena yang terus menatapnya dalam senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2