Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kebencian Yang Memuncak


__ADS_3

Malam hari diperjalanan pulang Jester dan Naomi dari menjenguk Becca dirumah sakit, jalanan yang mulai lenggang dengan sorot lampu yang menerangi jalan menemani perjalanan mereka. Perjalanan mereka diwarnai dengan obrolan ringan, penuh canda tawa dan sesekali sifat manja Naomi membuat Jester tersenyum senang, sangat terasa keharmonisan hubungan diantara mereka. Ditengah hangatnya suasana yang terbangun saat itu, perhatian Jester dan Naomi teralihkan pada suara pesan masuk di handphone Naomi, dengan segera Naomi mengeluarkan handphonenya lalu melihat siapa yang mengiriminya pesan.


"Siapa?" tanya Jester penasaran saat Naomi hanya terdiam menatap handphonenya, tersentak Naomi saat mendengar suara Jester bertanya.


"Aah.. Eeh... ini dari... Sarah, dia ingin memastikan konsep acara kita nanti" jawab Naomi terbata, Jester pun terdiam menatap Naomi dengan kecurigaan. Mengerti sedang dicurigai, Naomi pun berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Jess... aku haus, bisa kita cari minimarket terdekat?" pinta Naomi, permintaan Naomi pun berhasil memecahkan konsentrasi Jester yang mencurigai Naomi. Perhatiannya langsung menatap peta gps dilayar dashboard mobil dan mencari mini market terdekat yang tidak jauh dari posisi mereka, tidak butuh waktu lama mereka pun sampai disebuah minimarket.


"Mau beli apa? biar aku saja yang turun" tanya Jester sembari bersiap untuk turun, Naomi pun terlihat berfikir sejenak.


"Soda... sepertinya enak" jawab Naomi, Jester pun mengangguk lalu segera turun dari mobil untuk membelikan Naomi soda yang dimintanya.


Merasa dapat kesempatan Naomi kembali menatap layar handphonenya, sebuah pesan masuk di ingramnya dari akun Daniel. Daniel mengiriminya sebuah foto yang memperlihatkan keduanya sedang berciuman saat berada dirumah sakit, amarah Naomi pun memuncak sampai membuat tangannya bergemetar hebat. Sebuah pesan yang membuat Naomi harus berbohong kepada Jester karena belum siap untuk menceritakan semuanya. Isi pesan itu benar - benar membuat kebencian Naomi terhadap Daniel pada titik puncaknya, bagaimana bisa sosok yang dulu sangat menyenangkan, perhatian dan mampu membuat Naomi bahagia kini menjadi pengecut yang picik dan licik. Dengan emosi yang bergejolak Naomi pun membalas pesan Daniel di ingramnya


***


"Pengecut tidak berguna!!" dikirim


"Kamu menarik kerahku seperti itu untuk menciumku, kira - kira apa yang akan dikatakan pacarmu dan ibumu kalau lihat foto ini?" diterima


"Dasar licik!! aku benci kamu Daniel!!" dikirim


"Aku sudah dengar kata itu ratusan kali" diterima


"Apa maumu?!" dikirim


"Saat ini tidak ada, tapi aku harap kamu akan menurut saat aku meminta sesuatu darimu" diterima


***


Naomi pun tidak kuat lagi untuk menahan emosinya, beberapa kali dia memukul kepalanya untuk menghukum kebodohan yang sudah dia lakukan. Didalam benaknya pun terbayang kemarahan Naoko, kekecewaan Marrie, William, dan Evans, serta kecemburan Jester terhadapnya. Tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya, lalu dia teringat semua kenangannya saat bersama Daniel.


"Aku pernah jahat apa sama kamu sampai kamu tega melakukan ini padaku..." gumam Naomi dan air matanya pun menetes semakin deras, tidak lama Jester pun masuk kembali kedalam mobil.


"Naomi... nih sodanya, aku juga belikan kamu coklat buat memperbaiki mood mu" ucap Jester lalu mengeluarkan belanjaannya dan memberikannya pada Naomi yang masih termenung menatap jendela.


"Naomi?" tanya Jester karena Naomi tidak meresponnya sama sekali


"Jester... aku mengecewakanmu lagi.... aku benar - benar tidak pantas untuk berada disisimu...." terdengar serak Naomi mengatakannya, Jester pun terkejut mendengar suara Naomi yang terdengar sedang menangis dan dengan segera menarik bahu Naomi agar Naomi menatap wajahnya, semakin terkejutlah Jester melihat air mata Naomi sudah mengalir deras membasahi pipinya.


"Siapa...? Siapa yang membuatmu seperti ini?!" terdengar marah Jester mengatakannya, Naomi hanya menggelengkan kepalanya.


"Pasti dia lagi kan?!! kali ini aku akan pastikan dia mengingat akibat dari membuatmu menangis!!" bentak Jester lalu segera memutar kemudi mobilnya untuk berputar kembali menuju rumah sakit, namun saat itu Naomi menahannya.


"Jangan!! tolong jangan... aku akan selesaikan ini sendiri... tolong percaya padaku...." pinta Naomi terbata karena sesegukan, namun Jester tidak mempedulikan Naomi lalu segera memutarkan mobilnya.

__ADS_1


"Jester!!" teriak Naomi karena Jester tidak mempedulikannya, teriakan Naomi saat itu membuat Jester kembali memarkirkan mobil dibahu jalan dan terdiam.


"Kali ini apa yang dia lakukan kepadamu?" tanya Jester mulai sedikit tenang, Naomi kembali menggelengkan kepalanya.


"Aku pasti akan cerita, tapi untuk saat ini biarkan aku selesaikan dulu urusanku... aku ingin kamu percaya padaku..." jawab Naomi memelas pada Jester, dengan air mata yang terus menetes itu semakin membuat emosi Jester memuncak


"Maaf... aku mengecewakanmu... aku akan terima kemarahanmu, tapi tolong jangan tinggalkan aku.... cuma kamu..." belum selesai Naomi berkata, Jester langsung menarik lengan Naomi agar mendekat lalu memeluknya begitu erat


Kecewa Jester akan permintaan Naomi, tapi Jester tetaplah Jester. Dia enggan untuk memaksakan kehendak dan memilih untuk menuruti keinginan Naomi, bagi Jester permintaan Naomi saat ini adalah yang terbaik untuk Naomi. Yang bisa dia lakukan hanya meyakinkan Naomi bahwa dia akan selalu ada kapanpun Naomi membutuhkannya.


"Tidak ada satupun hal yang mampu membuatku untuk meninggalkanmu, kamu minta aku percaya padamu kan? baik, aku percaya padamu tapi sebagai gantinya aku ingin kamu percaya padaku kalau aku tidak akan meninggalkanmu" tegas Jester mengatakannya, Naomi pun terkejut mendengar perkataan Jester.


"Te..rima... kasih...." bertambah deraslah air mata Naomi keluar dari matanya


Jester melepaskan pelukannya ketika isak tangis Naomi berangsur mereda, Jester agak menjauhkan tubuh Naomi namun tetap memegang erat bahunya. Naomi saat itu menyeka air mata yang masih tersisa dipipi dan dagunya, lalu menatap Jester dengan senyuman.


"Yuk pulang... aku lelah.." pinta Naomi yang tersenyum manis menatap Jester, dengan anggukan kepala Jester merespon permintaan Naomi. Jester pun kembali memutarkan mobilnya dan segera tancap gas untuk pulang kerumah mereka, perjalanan yang awalnya penuh canda tawa pun kini hanya tersisa kebisuan diantara mereka.


Tiga puluh menit pun berlalu, Jester dan Naomi akhirnya sampai dirumah mereka. Setelah memarkirkan mobilnya digarasi, keduanya turun bersamaan dan langsung masuk kedalam. Didalam rumah mereka disambut oleh Luna dan Selena dengan senyuman, sembari menunjukkan dekorasi pesta ulang tahun Jester yang dimulai dari lorong rumah sampai ketempat pesat diruang keluarga.


"Bagaimana? baguskan?" terdengar antusias Luna bertanya, Jester hanya tersenyum dan Naomi langsung berjalan cepat menuju kamarnya.


"Maaf..." celetuk Naomi saat itu dan meninggalkan mereka semua dilorong utama rumah, Luna dan Selena pun terkejut melihat respon Naomi yang tidak mereka duga itu.


"Daniel ya?" tanya Selena menduga - duga, sedikit terkejut Jester menatap Selena lalu tersenyum.


"Tebakan yang tepat" jawab Jester tegas, Luna pun mengerutkan dahinya.


"Ngapain lagi orang itu? suka banget buat Naomi menangis" tanya Luna terdengar emosi, Jester menghela nafasnya sejenak.


"Naomi belum cerita, dia ingin menyelesaikannya sendiri" jawab Jester lalu berjalan menuju ruang keluarga dan mencari keberadaan Luke dan Harry.


"Kak Luke dan kak Harry pulang, dia mau kasih undangan ke kak Justin dan pacarnya terus bilang mau siapkan kado juga untukmu" celetuk Luna melihat Jester yang sedang mencari kedua sahabatnya itu, Jester pun menghela nafas lalu menatap Luna dan Selena.


"Ooh gitu.. oke deh, selamat malam... aku tidur duluan ya" Jester pun masuk lalu menutup pintu ruang keluarga yang sudah terdekorasi untuk pesta ulang tahun Jester, dilorong itu Luna dan Selena saling menatap.


"Daniel itu orangnya gimana?" tanya Luna penasaran


"Cowok brengsek paling pengecut yang pernah aku kenal" jawab Selena penuh emosi, Luna pun tertawa mendengar jawaban Selena sampai membuat Selena heran.


"Kenapa ketawa?" tanya Selena


"Kamu marah sama orang yang bernama Daniel ini, padahal dia tidak ada hubungan apapun denganmu. Pertemanan kalian benar - benar erat ya" jawab Luna terdengar senang dengan sedikit tawa


"Jangan menggodaku begitu, hubunganku dengannya sudah tidak seperti dulu dan itu juga gara - gara kamu!" Terdengar kesal Selena saat mengatakannya, namun Luna tahu kalau Selena hanya gengsi untuk mengakui perkataannya.

__ADS_1


"Setelah acara ulang tahun kak Jester, kita akan bereskan orang bernama Daniel ini" tegas Luna mengatakannya sambil berjalan kembali kedapur dan Selena hanya mengikuti Luna dibelakangnya, mereka mengerjakan kue ulang tahun yang akan disajikan besok sore sesuai jadwal pesta ulang tahun Jester.


Setelah beberapa jam berlalu, Luna dan Selena pun menyelesaikan kue ulang tahunnya. Dengan hati - hati mereka menaruh kue itu disebuah lemari penyimpan makanan lalu segera menuju kamar untuk beristirahat, Luna dan Selena terlihat sangat puas dengan hasil kue yang mereka buat.


Didalam kamar yang gelap itu, Luna dan Selena melihat Naomi sudah tertidur dengan pulas. Perlahan mereka pun berjalan mendekati kasur dan tidur bersebelahan dengan Naomi, dikesunyian malam itu tidak lama membuat Luna dan Selena pun tertidur pulas.


Beberapa saat berlalu, Naomi membuka matanya dan memastikan Luna dan Selena sudah tertidur. Setelah yakin keduanya tidur, Naomi beranjak dari kasurnya dan berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Didepan pintu ruang keluarga Naomi ingin mengetuk pintu itu namun tangannya terlihat berat untuk mengetuk, dia pun terdiam beberapa saat menatap pintu yang tertutup itu.


Perlahan tangannya menyentuh ganggang pintu lalu membukanya perlahan, ruangan itu pun terlihat cahaya lampu masih menyala. Jester yang saat itu belum tidur pun terkejut pintu terbuka dan melihat Naomi dibalik pintu yang terbuka itu, Jester pun beranjak dari tidurnya dan menatap Naomi dengan khawatir.


"Naomi... kenapa?" tanya Jester terdengar khawatir, Naomi pun menggelengkan kepalanya beberapa kali dan masih terdiam mematung didepan pintu lalu menundukkan kepalanya.


"Kamu mau curhat?" tanya Jester lagi dengan lembut, lagi - lagi Naomi menggelengkan kepalanya. Jester pun menggaruk dahinya beberapa kali sembari menghela nafas, seakan Jester tahu apa yang Naomi inginkan saat itu.


"Kamu mau tidur disini?" tanya Jester, pertanyaan Jester kali ini membuat Naomi menatap Jester malu - malu.


"Haah... ya udah sini" ajak Jester dengan memberi gestur tangan agar Naomi mendekat, Naomi pun berjalan masuk dan menutup pintunya perlahan namun tetap membatu disana seakan malu untuk berjalan mendekati Jester.


"Kamu tidur disini ya, aku akan tidur disofa" ucap Jester lalu beranjak dari kasur lipatnya


"Aah... eeh... engga seperti itu..." terbata Naomi mengatakannya, Jester pun terkejut mendengar perkataan Naomi dan sejenak pikirannya pun mulai aneh - aneh.


"Apa... maksudnya... engga seperti itu?" tanya Jester terbata dengan wajah yang mulai memerah


"Jess... kita... akan menikah kan?" tanya Naomi terdengar malu - malu, Jester hanya menganggukkan kepala menyetujui perkataan Naomi.


"Jadi... tidak apakan kalau aku dan kamu.... tidur bersama... lagi..." terbata Naomi mengucapkannya, wajahnya pun ikutan memerah saat itu menatap Jester


"Tapi ini kasur lipat ini sempit dan hanya untuk satu orang!" dengan panik Jester mengatakannya, Naomi kembali menggelengkan kepalanya.


"Gapapa..." timpal Naomi singkat, Jester pun sempat membatu menghadapi Naomi.


"Aku gak punya pilihan kan?" tanya Jester terdengar pasrah, Naomi menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu tersenyum menatap Jester.


"Kemarilah" ajak Jester, dengan berlari kecil Naomi mendekati Jester dan langsung masuk kedalam selimut yang Jester gunakan. Didalam selimut itu Naomi langsung menaruh wajahnya didada Jester begitu manja, Jester pun tersenyum melihat manjanya Naomi.


"Kamu kenapa? tiba - tiba manja begini" tanya Jester dengan sedikit tertawa


"Aku lelah.... lelah untuk bersikap tegar dan sok kuat..." ucap Naomi terdengar sedih, Jester pun memeluk Naomi dengan erat.


"Tidur lah... lupakan semua yang membuatmu lelah, biar aku yang melindungimu dan membantumu memikul beban berat itu" timpal Jester dengan lembut, Naomi pun tertawa kecil.


"Terima kasih Jess... Daisuki Desu~" celetuk Naomi, Jester pun kembali dibuat bingung dengan perkataan Naomi.


Jester dan Naomi pun tidur bersama melewati dinginnya malam, dikesunyian malam saat itu Jester merasakan Naomi membutuhkan sosok yang mampu menenangkannya. Andai saja Naomi mau untuk bercerita mungkin Jester mampu untuk membantunya menangani masalah yang dia hadapi, tetapi keputusan Naomi membuat Jester hanya bisa menemani Naomi dan berharap itu mampu membantunya lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2