Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Tamu


__ADS_3

Sore hari disebuah kampus yang terlihat sepi dari kegiatan, mahasiswa dan mahasiswi yang berkuliah disana mulai pulang kerumah atau kosan mereka masing - masing kecuali yang masih mengikuti kegiatan ekstra untuk pengembangan bakat dan minat. Didepan club ruang musik pada kampus tersebut, terlihat Naomi yang berduaan bersama Grece sedang duduk bersebelahan sambil mengenakan earphone di telinga mereka masing - masing. Sesekali keduanya saling mengobrol dan berbagi earphone lalu mendiskusikan musik yang mereka dengarkan bersama, keduanya masih belum sepakat dengan beberapa lagu yang mereka dengarkan.


Didalam ruang musik yang tertutup rapat, Jester dan Justin sedang duduk berhadapan dengan wajah yang terlihat serius. Tangan Jester besandar pada armrest dan menopang kepalanya sembari menatap Justin yang masih terdiam, sedangkan Justin melipatkan kedua tangannya didada dan bersandar di kursi menatap langit - langit ruangan itu.


"Apa tugasku?" tanya Jester memecah keheningan setelah agak lama keduanya terdiam bahkan sejak Naomi, Grece, Luke dan Harry meninggalkan ruang itu, Justin menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Jester.


"Aku masih mematangakan rencana tambahan di otakku namun sepertinya semua sudah siap, kamu sudah pernah bertemu kedua orangtua Naomi kan?" tanya Justin untuk memastikan bahwa rencananya akan berjalan sesuai dengan prediksinya, Justin sudah mematangkan rencana saat terdiam tadi.


"Ya, memang kenapa?" jawab Jester lalu balik bertanya, Jester mulai memahami Justin sudah mempunyai rencana yang matang. Jester sangat mengenal Justin sejak mereka masih SMA dulu, Justin merupakan sosok ketua yang pantas untuk momen apapun bagi Jester.


"Dari keduanya, siapa yang paling mungkin akan mentoleransi tindakan Naomi?" tanya Justin, Jester terdiam sesaat sambil memajukan badannya yang sedari tadi bersandar lalu menatap lantai sambil berfikir.


"Aku rasa ayahnya" jawab Jester singkat dan mengalihkan pandangannya kembali menatap Justin


"Baik, aku ingin kamu lakukan ini Jess. Ingat rencana pemberontakan osis kita dulu melawan rencana kepala sekolah? ini akan menjadi kedua kalinya kita mengalami hal krusial, jadi aku mengharapkan kamu bekerja seperti dulu" Justin memperingatkan Jester agar dia serius, Jester mengangguk dan kemudian diam mendengarkan Justin dengan seksama


Selama beberapa menit Jester dan Justin saling bertukar pemikiran didalam ruangan tertutup itu, keduanya benar - benar membahasnya dengan sangat serius seakan ini adalah hidup dan mati mereka. Keduanya dulu pernah memberontak disekolah atas rencana kepala sekolah yang ingin menghapuskan festival band setiap hari sabtu yang sebenarnya menjadi tradisi disekolah SMA itu, pemberontakan itu di gerakkan oleh Justin yang menjadi ketua osis dan Jester yang saat itu hanya menjadi anggota biasa. Namun Justin sangat memahami kemampuan Jester sehingga menunjuk Jester menjadi tangan kanannya dan itu pilihan tepat, Jester dapat bekerjasama dengan sangat baik mengikuti instruksi Justin.


Diluar dari ruang musik kampus, Grece terlihat tidak tenang dan sesekali dia mencoba menoleh kepintu masuk. Naomi yang sempat tidak menyadari kegelisahan hati Grece terlihat antusias untuk memilih lagu yang akan mereka mainkan, namun Grece menanggapinya dengan jawaban seadanya tanpa ada niatan untuk berdiskusi bersama. Naomi merasa Grece tidak memperhatikannya dan akhirnya Naomi memperhatikan wajah Grece yang sesekali menoleh menatap pintu masuk ruang musik, Grece yang sadar Naomi memandanginya dengan wajah sebal mendadak memberi gestur meminta maaf dengan tangannya.


"Ada apa?" tanya Naomi yang terlihat sebal saat itu, Grece menunduk dan menghela nafasnya sejenak.


"Maaf, aku kepikiran apa yang Justin dan Jester katakan didalam sana" jawab Grece dengan wajah kesal, Naomi tersenyum lalu kembali menatap handphonenya kembali.


"Aku juga tidak tahu, tapi Jester pasti akan memikirkan sesuatu saat ini" Naomi terlihat pasrah saja pada apapun keputusan Jester dan Justin nanti walaupun sebenarnya yang sedang dipertaruhkan adalah hubungan Naomi dan orangtuanya disini, mendengar perkataan Naomi membuat Grece sedikit terkejut.


"Kamu percaya pada mereka? aku sih tidak... laki - laki kadang ceroboh kalau merencanakan sesuatu" sindir Grece, Naomi menatap Grece dengan tawa kecilnya seakan menertawakan perkataan Grece. Grece yang mengetahui Naomi menertawainya mendadak menunjukkan wajah yang sebal pada Naomi, tidak lama terdiam Naomi mengalihkan pandangannya lagi menatap langit - langit kampus.

__ADS_1


"Aku percaya padanya.... Aku percaya pada Jester" Naomi kembali mempertegas jawabannya di awal, Grece pun tertegun memandangi Naomi yang tersenyum. Tidak lama Grece menatap layar handphonenya lalu sedikit tertawa, tawa Grece membuat Naomi heran dan kembali menatap wajah Grece.


"Huh dasar... kamu jadi bucin ya kalau suka sama seseorang" dengan nada sedikit tertawa Grece mengatakannya, Naomi hanya tersenyum merespon perkataan Grece saat itu.


"Bagaimana kalau lagu ini?" tanya Naomi sembari memasangkan earphone miliknya ke telinga Grece, Naomi dan Grece saling berbagi pendapat tentang lagu yang akan mereka mainkan.


Hingga beberapa menit kembali berlalu dan akhirnya pintu ruang musik kampus terbuka. Jester dan Justin pun keluar dari ruangan itu bersamaan, Grece yang mengetahui pertama bahwa pintu telah terbuka langsung berlari kecil mendekati Justin. Dengan wajah yang terlihat sangat penasaran Grece menatap Justin dan berharap Justin segera memberitahu apa yang mereka bicarakan didalam tadi, namun Justin dan Jester sama - sama tidak ingin membicarakan hal itu yang terlihat dari wajah mereka. Naomi memandang Jester dengan senyuman manisnya seperti biasa, tapi Jester tidak membalas senyuman itu dan masih terdiam memandang Naomi.


"Sudah? apa apa apa??" tanya Grece memaksa Justin untuk menceritakan rencana tambahannya, Justin hanya tersenyum lalu mengelus kepala Grece beberapa kali.


"Naomi, sepertinya Ingram mu tidak aktif ya?" tanya Justin mengacuhkan Grece, Naomi mengalihkan pandangannya ke Justin.


"Iya, ada insiden dengan handphone lamaku dan aku belum login lagi dari handphone baruku" jawab Naomi menjelaskan mengapa dia tidak aktif lagi di Ingram, padahal statusnya sebagai selebgram tentu akan aneh jika Ingram nya mendadak mati suri.


"Mungkin kamu bisa mulai login dan memberikan clue sama penggemarmu tentang kejutan darimu. Sebagai pendukung rencana Grece, pancingan terhadap penggemarmu akan bisa memberikan efek yang baik untuk band kita" pinta Justin sembari menjelaskan alasannya, untuk memuluskan kemenangan band mereka memang status Naomi yang sangat dibutuhkan


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kejadian tadi siang pasti sangat berdampak pada mood mu tapi ingat kamu sedang dimintai tolong oleh Naomi" Justin mengingatkan bahwa Jester memiliki tugas penting dan memberi peringatan bahwa ini tidaklah main - main, Jester menggaguk dan memahami bahwa ini adalah tugas yang berat dan beresiko.


"Tentu aku paham itu, aku akan mulai secepat mungkin dan melaporkannya segera. Naomi ayo pulang" dengan tegas Jester mengatakannya sembari mengajak Naomi untuk pulang bersama karena mereka satu rumah dan satu mobil, namun Naomi terpaku menatap handphone nya seakan dirinya sedang melamun saat itu.


"Hei Naomi" Jester kembali memanggil Naomi yang terlihat melamun, Naomi tersentak seperti tersadar dari lamunannya.


"Hah? aah eeh iya, ada apa Jester?" tanya Naomi dengan wajah terlihat terkejut, Jester, Justin dan Grece terlihat bingung melihat tingkah Naomi yang terlihat seperti ketakutan saat menatap Jester.


"Kamu kenapa? ada masalah?" tanya Jester yang mulai khawatir pada Naomi, sejak login Ingramnya Naomi mulai bersikap aneh. Ekspresi Naomi kembali normal sembari menunduk menatap handphonenya, Naomi menghela nafas sejak sebelum menjawab pertanyaan Naomi.


"Tidak... tidak ada, aku baru saja login dan banyak komentar masuk dari para pengikutku. Mereka sepertinya mulai kehilangan aku, menanyakan keberadaanku dan keadaanku" jawab Naomi terlihat menggulir layar handphonenya, Jester tetap merasa aneh pada sikap Naomi sedangkan Justin memahami perasaan penggemar Naomi

__ADS_1


"Wajar penggemarmu mulai mencari - carimu, kamu menghilang cukup lama untuk ukuran sebagai selebgram tapi ini malah bagus untuk band kita. Pancingan sederhana akan sangat berpengaruh dan sorot mata netizen akan tertuju padamu" timpal Justin mencoba memberi pemahaman pada Jester tentang sikap Naomi yang sedikit aneh saat itu, Jester mendengarkan penjelasan Justin namun dirinya tetap terlihat tidak puas dan merasa Naomi sedang tidak baik - baik saja.


"Ii.. iya kamu benar, aku akan muncul kembali dan akan memberikan sedikit pancingan tentang kejutan dariku" Naomi terbata mengatakannya, Jester semakin yakin Naomi tidak baik - baik saja namun Jester tidak ingin membicarakannya ditempat itu


"Tapi kita harus pulang dulu, aku juga masih ada urusan" Jester kembali mengajak Naomi untuk pulang, Naomi mengangguk merespon ajakan Jester dan kemuadian pandangannya beralih menatap Grece yang terus menatapnya sejak tadi dalam diamnya.


"Grece aku pikir kita akan menggunakan lagu yang baru saja kita dengarkan tadi" celetuk Naomi, Justin dan Jester kompak menatap Grece.


"Kamu yakin?" Grece bertanya dengan nada yang terdengar terkejut atas pilihan Naomi, Jester dan Justin terlihat penasaran karena respon Grece yang tidak wajar namun keduanya memilih untuk diam.


"Iya aku yakin, aku pamit dulu ya" pamit Naomi pada semuanya lalu berjalan menuju parkiran kampus meninggalkan Jester disana seakan Naomi pulang sendiri, Justin dan Grece tertawa melihat Naomi yang meninggalkan Jester begitu saja.


"Dia pikir dia pulang sama siapa" celetuk Jester lalu berlari mengejar Naomi yang lebih dulu berjalan menuju parkiran kampus, Grece dan Justin pun tertawa semakin keras karena Naomi terlihat terkejut saat Jester menepuk pundaknya seakan Naomi benar - benar lupa jika dirinya sekarang tinggal bersama Jester.


Diperjalanan pulang, Naomi terlihat terdiam dan melamun sepanjang perjalanan. Jester heran menatap Naomi yang terdiam tidak seperti biasanya, namun Jester membiarkan Naomi dalam diamnya. Dibenak Jester ingin sekali bertanya apa yang sedang dipikirkan Naomi namun Jester meyakinkan dirinya sendiri bahwa Naomi akan bercerita sendiri saat Naomi ingin, keduanya pun diam sepanjang perjalanan pulang. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya keduanya sampai di pintu masuk cluster perumahan, didekat rumah Jester dan Naomi terparkir sebuah mobil Mazda 3 berwarna merah terparkir.


"Mobil siapa itu?" tanya Jester penasaran, Jester sangat asing dengan mobil itu dan berfikir itu adalah mobil teman Naomi. Naomi tetap terdiam membisu dan tidak merespon pertanyaan Jester sama sekali, Jester kembali menatap Naomi dengan wajah khawatir.


Mobil Mercedes Benz v260 telah terparkir sempurna didalam garasi rumah Jester dan Naomi, kemudian Jester menepuk pundak Naomi untuk menyadarkan Naomi dari lamunannya. Naomi terkejut saat Jester menepuk pundaknya sembari menatap mata Jester namun tetap tidak berkata - kata, dari sorot mata itu Naomi terlihat sedang menutupi ketakutannya dari Jester.


"Heii kamu kenapa?" tanya Jester dengan perasaan penuh kekhawatiran, semula rasa khawatir itu masih dapat Jester redam namun melihat Naomi yang beberapa kali menampakkan sorot mata yang ketakutan membuat Jester tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Aah Eeeh maaf... aku sedang banyak pikiran, maaf aku mengabaikanmu" jawab Naomi sembari turun dari mobil, Jester juga turun dari mobil hendak menyusul Naomi dan berniat memaksa Naomi untuk berbicara.


bersamaan Jester dan Naomi turun dari mobil, seseorang juga turun dari Mazda 3 yang sedari tadi terparkir didepan rumah mereka. Camilla muncul dan berjalan mendekati Jester dan Naomi sembari menundukkan pandangannya, mengetahui Camilla yang datang membuat Jester dan Naomi terkejut karena mereka tidak menyangka Camilla akan tahu rumah mereka berdua.


"Ca... Camilla?!" dengan terkejut Jester menyebut nama Camilla, Camilla mengangkat kepalanya dan menatap Jester dengan tatapan penuh rasa bersalah. Naomi yang sedari tadi terlihat murung mendadak sorot matanya menjadi tajam penuh dengan rasa amarah menatap Camilla, dalam benaknya bertanya - tanya darimana Camilla sampai tahu rumah mereka. Tapi pertanyaan itu tentu saja dapat dijawab dengan pasti, Selena yang paling mungkin memberi tahu Camilla dimana rumah Jester dan Naomi.

__ADS_1


__ADS_2