Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Dua Pilihan Sulit


__ADS_3

Sore hari yang cerah disalah satu koridor rumah sakit menuju ruang perawatan intensif di rumah sakit Scott, Terlihat Naoko berdiri didepan Naomi yang memegang pipinya setelah sebelumnya Naoko menampar Naomi dengan sangat keras. Marrie langsung berlari kecil dan berdiri dihadapan Naoko, keduanya saling bertatapan mata dengan penuh kebencian.


"Minggir Marrie!!" bentak Naoko kepada Marrie


"Tidak! aku tidak suka caramu memperlakukan Naomi!! dia hanya ingin menunjukkan bakatnya, masalah Evans adalah hal lain yang tentu tidak Naomi sangka!!" ucap Marrie membalas bentakan Naoko


William yang mendengar percakapan antara Marrie dan Naoko menyadari adanya kesalahpahaman antara keduanya mengenai penyebab kondisi Evans yang menurun drastis dan membuatnya secara langsung mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Marrie dan Naoko.


"Tunggu, ada kesalahpahaman disini" celetuk William, celetukan itu menarik perhatian Naoko dan Marrie.


Tatapan mata Marrie dan Naoko berakhir karena beralih menatap William dengan ekspresi wajah yang penuh tanya secara bersamaan, perkataan William seakan mampu meredam konflik diantara keduanya.


"Apa maksudmu Will?" tanya Marrie heran


"Evans collapse ketika mendengar breaking news yang disiarkan..." jawab William sembari berdiri dan berjalan mendekati Naomi yang masih tertunduk sembari memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Naoko.


"Nona Naomi.... benarkah yang ada diberita itu?" tanya William dengan sedikit tekanan, pertanyaan William membuat Jester tersulut emosi.


Sebuah pertanyaan yang menyulut emosi Jester sampai membuat Jester tak mampu untuk menahannya, perasaan Naomi yang kalut serta kebenaran berita yang sudah tersebar Jester yakini akan membuat Naoko semakin emosional kepada Naomi. Dengan segera Jester mencoba meredam sikap William kepada Naomi agar keadaan tidak semakin memburuk.


"Papa! ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan itu!!" timpal Jester dengan penuh emosi, William menghela nafasnya sejenak sebelum merespon perkataan Jester.


"Nak, Evans sangat terkejut dengan berita yang dia dengar dan lihat. Tidak ada waktu lagi untuk mendapat penjelasan dari Naomi tentang hal itu" ucap William dan membuat Jester terdiam


Naomi yang sedari tadi masih tertunduk dengan tangan yang memegang pipinya semakin larut dalam tangisnya setelah mendengar ucapan William kepada Jester. Rasa sesal Naomi menghantui pikirannya dan air matanya semakin deras mengalir.


"Masalah apa? Naomi... apa lagi yang kamu lakukan kali ini...?" terbata Naoko bertanya, William menoleh menatap Naoko yang terlihat berusaha terus menahan amarahnya.


"Itu masih menjadi berita dengan kebenaran yang patut diragukan, semua foto - foto yang..." belum selesai William menjawab pertanyaan Naoko, tiba - tiba Naomi menimpali.


"Itu adalah aku... kebenaran foto - foto itu seratus persen adalah aku.... maafkan aku... papa..." timpal Naomi dengan penuh penyesalan, perkataan Naomi jelas membuat William dan Jester sangat terkejut. Seakan sebuah pengakuan dosa, Naomi tidak membantah sedikitpun dari berita yang tersebar itu.


Suara Naomi bergemetar dan nyaris tidak terdengar dengan jelas, perlahan Naomi menjelaskan dengan suara yang terdengar semakin sesegukan karena tangisnya yang tak terbendung. Marrie yang belum mengetahui kebenaran yang Naomi ungkap mampu merasakan kesedihan dan ketakutan serta penyesalan Naomi.


"Naomi...." gumam Jester


"Maafkan aku Jess.... aku sudah tidak mampu lagi untuk menutupinya...." ucap Naomi dengan pasrahnya


"Apa yang terjadi? foto apa yang tersebar itu?!! katakan padaku!!" Naoko berteriak histeris mendengar perkataan William dan Naomi. Seperti mengetahui bahwa itu bukan berita baik dan bahkan Naomi membuat masalah besar, Naoko semakin sulit mengendalikan emosinya.


"Naoko kita akan membicarakan ini sebagai orang tua kedua anak - anak ini, ayo kita pindah tempat" ajak William sembari berjalan menjauh dari tempat itu, Marrie pun dengan sigap langsung menarik tangan Naoko untuk mengikuti William.

__ADS_1


Tersisalah Jester dan Naomi di koridor itu, keduanya hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Keheningan itu pecah seketika saat suara Selena terdengar memanggil Jester, perlahan Jester menoleh kebelakang dan melihat Selena yang berjalan mendekati mereka berdua.


"Bagaimana keadaan tuan Evans?" tanya Selena kepada Jester


"Masih belum tahu, aku dan Naomi baru tiba disini" jawab Jester, wajah Selena pun menunjukkan penyesalannya mendengar berita tidak menyenangkan itu.


"Apa... Naomi bisa diajak bicara?" tanya Selena lagi sembari memperhatikan punggung Naomi yang masih berdiri terdiam ditempatnya, Jester kembali menoleh menatap Naomi sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Selena.


Kepedulian Selena kepada Naomi membuat Jester dapat merasakan ikatan persahabatan yang kuat diantara keduanya walau kini mulai renggang karena perasaan yang keduanya miliki untuk Jester, namun Jester lega karena Naomi dikelilingi oleh banyak orang yang peduli terhadapnya.


"Tidak, aku bahkan yakin jika dia tidak menyadari keberadaan mu meski kita berdua sedang berbicara seperti ini" jawab Jester, Selena melangkah semakin mendekati Jester untuk berbisik kepadanya.


"Aku kesini untuk mengatakan sesuatu padamu... kamu boleh percaya padaku ataupun tidak" agak berbisik Selena mengatakannya, perkataan Selena membuat Jester sedikit penasaran dan heran.


"Tentang apa?" tanya Jester penasaran


"Foto itu... hanya Daniel yang memilikinya, aku meyakini itu dan..." belum selesai Selena berkata, Jester memotong.


"Jika itu... aku juga sudah menduganya sejak awal" timpal Jester


"Kamu harus belajar untuk mendengarkan kak" terdengar kesal Selena mengatakannya, dengan gerakan kepala Jester memberi kode pada Selena bahwa dia siap untuk mendengarkan.


Jester tersenyum melihat teman - temannya yang begitu peduli dan bergerak cepat, untuk sejenak Jester sempat melupakan jika dia memiliki teman - teman yang sangat bisa diandalkan disaat - saat seperti ini. Tangan Jester pun menyentuh kepala Selena dengan lembut dan mengelusnya beberapa kali, mendapatkan perlakuan itu membuat wajah Selena pun sedikit memerah dan terpaku menatap wajah Jester yang tersenyum itu.


"Untuk kesekian kali, aku mengandalkan mu Selena. Sampaikan rasa terima kasihku untuk mereka semua dibelakang mu" ucap Jester lalu melepaskan tangannya dari kepala Selena dan mengangkat tinggi - tinggi jempolnya untuk memberi tanda pada teman - teman yang lain, serentak Luke, Harry, Grece, Justin dan Sarah pun mengangkat jempol mereka masing - masing sebagai tanda mereka siap menerima tugas dari Jester.


"Kami akan lakukan yang terbaik" tegas Selena mengatakannya lalu berbalik dan berjalan mendekati Luke, Harry, Grece, Justin, dan Sarah.


Kejadian yang begitu spontan dan seketika berdampak buruk terhadap Naomi juga Evans membuat Jester tidak bisa meluangkan waktu untuk berfikir secara jernih. Terlebih lagi kondisi Naomi yang syok berat membuat Jester mencemaskan keadaan Naomi akan memburuk seperti kejadian sebelumnya karena ulah Daniel. Saat itu hanya sosok Luna yang mampu membuat psikis Naomi pulih, kejadian kali ini melunturkan kepercayaan diri Jester untuk mengembalikan kondisi psikis Naomi agar tidak memburuk kembali.


Kembali Jester harus mengandalkan para sahabatnya untuk menangani kasus ini selama dirinya menemani Naomi, tidak banyak yang bisa Jester lakukan kali ini selain memberi penguatan bagi Naomi dan membuat Naomi merasa tidak sendiri menghadapi semua yang terjadi padanya.


Tersisa Jester dan Naomi di lorong itu, perlahan Jester berjalan mendekati Naomi lalu menyentuh bahunya untuk menuntun Naomi duduk disebuah kursi yang tersedia disana. Keduanya duduk bersebelahan namun masih dalam keadaan terdiam, tidak ada satu kata pun terlempar dari bibir mereka.


Sore berganti malam, Jester menatap layar jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul 11 malam. Untuk sejenak Jester tersadar dari lamunannya yang sudah berlangsung sangat lama itu, perlahan Jester menoleh menatap Naomi yang masih mematung duduk dan bersandar pada sebuah tembok. Sorot matanya kosong, bibirnya pecah - pecah dan wajahnya yang terlihat pucat pasi membuat Jester merasa khawatir dengan kondisi Naomi, tidak lama langkah suara kaki terdengar dari ujung lorong dan menarik perhatian Jester.


"Papa mama..." gumam Jester saat melihat William dan Marrie berjalan mendekatinya, tidak lama William dan Marrie pun duduk disebelah Jester.


"Apa ibu... baik - baik saja?" tanya Jester dengan nada yang terdengar khawatir.


"Tidak, Naoko terlihat sangat syok melihat foto - foto itu" jawab William

__ADS_1


"Apa kamu mengenal pria itu Jess?" tanya Marrie, mendengar pertanyaan itu membuat Jester meremas kedua tangannya dengan sangat erat untuk menahan emosinya.


"Aku tahu dia, ini bukan hal pertama dia melakukan hal buruk pada Naomi namun aku terus berusaha untuk memaafkannya. Ini kesalahanku karena membiarkan dia lolos, tapi kali ini..." belum selesai Jester berkata, William memotong.


"Kamu tidak akan melakukan hal buruk seperti yang kakek mu pernah lakukan" tegas William mengatakannya, perkataan William membuat Jester terdiam untuk beberapa saat.


".... Lalu apa yang harus aku lakukan disaat seperti ini?" tanya Jester dengan nada yang terdengar sedih, William menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskannya cukup keras.


"Temui kakek dan tanyakan apa langkah yang mungkin bisa kamu lakukan disaat seperti ini, Gates Family Grup sedang berguncang dan sebagai presiden direktur kamu harus segera hentikan guncangan itu atau semuanya akan terlambat" jawab William dengan tegas, Jester menoleh menatap Naomi. Sedangkan Naomi masih mematung seakan tidak menyadari apa yang sedang terjadi disekitarnya.


"Tapi..." belum selesai Jester berkata, William kembali memotong.


"Untuk urusan nona Naomi serahkan pada papa dan mama, yang dibutuhkannya saat ini dukungan dari orang tua. Bagaimana pun Evans tidak bisa mendukung sedangkan Naoko terlihat begitu membenci nona Naomi, lakukan yang memang harus kamu lakukan. Berpikirlah dengan bijak, tenangkan dirimu dan jernihkan isi kepalamu" timpal William masih dengan ketegasannya, Jester menganggukkan kepalanya lalu segera berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah yang berat karena harus meninggalkan Naomi untuk sementara waktu.


Enam puluh menit perjalanan Jester untuk menuju kediaman besar Gates, begitu sampai di pelataran rumah ketika itu terlihat Julius seakan sudah menunggu kedatangan Jester. Wajahnya terlihat menunjukkan kesedihan dengan apa yang sudah terjadi, Jester menyadari jika Arthur sudah mendengar semua keributan yang terjadi pada hari ini. Tanpa berkata apapun, Julius hanya membalik badannya dan masuk kedalam rumah diikuti oleh Jester.


Jester dan Julius sampai didepan kamar Arthur, mereka berdua masuk kedalamnya dan terlihat Arthur sedang duduk disebuah kursi goyang yang terletak di balkon kamar. Jester dan Julius berjalan mendekati Arthur yang terlihat seakan menikmati bintang - bintang di langit pada malam itu, kursi yang sejak awal bergoyang - goyang pun tiba - tiba terhenti.


"Angin badai sedang menerpa keluarga Gates tepat satu bulan lebih satu minggu sejak kepemimpinan berganti, mungkin ini adalah ujian pertamamu sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan" celetuk Arthur


"Maaf kakek, aku tidak menyangka ini akan terjadi dan.... ini diluar kendaliku" penuh penyesalan Jester mengatakannya


"Kamu tidak perlu meminta maaf, ketika aku dihadapkan dengan ujian ku saat itu aku menghadapinya dengan kepala tegak menatap rintangan itu dengan penuh semangat" ucap Arthur


"Semangat kami membawa kami menuju ke jurang tiada dasar penuh penyesalan" celetuk Julius


"Yah... itu benar, aku tidak bisa membatah itu" timpal Arthur


"Apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa berfikir sehat disaat seperti ini" dengan nada yang terdengar kebingungan Jester mengucapkannya, hampir bersamaan antara Julius dan Arthur menghela nafasnya.


"Julius, apa ide mu?" tanya Arthur


"Untuk menstabilkan kondisi perusahaan, kita harus menyingkirkan orang - orang yang meragukan kita. Hancurkan semuanya hingga keluarganya, dengan begitu kita akan memberi rasa takut kepada lawan - lawan kita yang lain. Pemberontakan akan kita redam untuk beberapa saat" jawab Julius tegas, Jester terkejut dengan perkataan Julius.


"Ide bagus, kamu sudah mendapatkan jawabannya Jester" timpal Arthur


"Itu bukan jawaban! apa kalian akan mengulangi kesalahan yang sa..." belum selesai Jester berkata, Julius memotong.


"Atau kedua... putuskan hubunganmu dengan nona muda Scott, cari calon istri baru dan redam semua kegundahan para investor dan penanam modal dengan putusnya hubunganmu dengan nona muda Scott" timpal Julius dengan tegas, lagi - lagi ide Julius kembali membuat Jester terkejut.


"Sejauh mata ini memandang dan otak ini berfikir.... pria tua ini sudah tidak memiliki ide apapun lagi selain kedua cara yang dikatakan oleh Julius. Jester.... apa yang akan kamu pilih?" tanya Arthur dengan nada yang menekan.

__ADS_1


__ADS_2