
Pagi menjelang siang disebuah apartemen mewah yang berada di tengah kota, terlihat sebuah mobil mazda 2 berjalan lambat menuju sebuah basemen tempat penghuni apartemen memarkirkan mobil mereka masing - masing. Mazda 2 itu berhenti dan terparkir disebelah ruangan dimana terdapat lift didalamnya, tidak lama Camilla turun dari mobil lalu melangkahkan kakinya menuju pintu masuk ruangan itu. Terlihat kini foundation yang dia gunakan sedikit lebih tipis karena memar yang berada diwajahnya mulai memudar.
Sebuah Mercedes Benz S450 yang terparkir dipojok area parkir berhasil menghentikan langkah Camilla, nyala lampu mobil itu menarik perhatian Camilla dan tidak lama lampu itu terlihat padam. Jester keluar dari kursi penumpang belakang lalu berjalan mendekati Camilla sembari membawa tas kecil yang Jester genggam ditangan kirinya, melihat keberadaan Jester saat itu membuat Camilla tersenyum kepada Jester. Sebuah senyum yang terlihat dan terasa begitu tulus bagi siapapun yang melihatnya.
"Ada apa Jester? aku terkejut membaca chating mu yang meminta kita bertemu" celetuk Camilla ketika mereka sudah berdekatan, ekspresi wajah Jester terlihat datar menatap Camilla lalu seketika senyum Camilla pun hilang.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Camilla dengan nada yang terdengar sedikit ketakutan
"Aku ingin bicara berdua denganmu, boleh aku masuk kamarmu? akan bahaya kalau ada orang yang mengenaliku" pinta Jester dengan suara datarnya, Camilla menganggukkan kepalanya lalu menunduk.
Mereka berdua pun berjalan masuk kedalam ruangan itu lalu Camilla menekan tombol lift, begitu pintu lift terbuka mereka langsung masuk kedalamnya dan Camilla menekan tombol lantai 11. Didalam lift itu keduanya hanya saling terdiam, Camilla hanya menunduk sedangkan Jester memperhatikan sekitar hingga pintu lift terbuka di lantai 11.
Saat pintu terbuka, Camilla hanya terdiam dan membatu menatap kedua sepatunya. Jester dengan segera menekan tombol agar pintu terus terbuka, lalu tatapan matanya pun menatap Camilla.
"Apapun itu, aku tidak terlibat... aku sudah berusaha untuk memulai hidupku yang baru... aku tidak pernah mencari masalah dengan siapapun..." celetuk Camilla yang suaranya terdengar bergemetar, Jester menghela nafasnya setelah mendengar perkataan Camilla.
Sontak pernyataan Camilla membuat Jester merasa bahwa ada ketulusan didalam diri Camilla, Jester mampu merasakan jika Camilla ketakutan akan dicurigai berbuat kesalahan. Dengan sikap tenang Jester menghadapi Camilla yang sedang merasakan cemas berlebih.
"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dan hanya itu, aku tidak sedang ingin menghakimi atau apapun yang mungkin kamu pikirkan saat ini" timpal Jester, lalu Camilla melangkahkan kakinya keluar lift diikuti oleh Jester.
Disebuah kamar nomor 1112, Camilla berhenti dan membuka pintu itu dengan kunci aksesnya. Ketika sudah terbuka, Camilla langsung masuk dan melepaskan sepatunya lalu berjalan menuju sebuah sofa. Camilla duduk di sofa itu namun tetap dalam keadaan menundukkan kepala, melihat sikap Camilla membuat Jester tidak ingin lagi basa - basi.
Jester berjalan mendekati Camilla lalu berjongkok didepannya dan menggenggam tangan kiri Camilla, mendapati Jester memegang tangannya membuat Camilla tersentak. Namun Camilla seakan tidak berdaya untuk menepis tangan Jester, saat itu Camilla hanya diam dan memperhatikan apa yang akan Jester lakukan.
Perlahan Jester membalik telapak tangan Camilla dan memperhatikan jari jemarinya, sesuai dengan cerita Sarah saat itu Jester melihat jari - jari tangan kiri Camilla baret - baret karena beberapa tusukan dari jarum saat Camilla menjahit kostum Naomi secara manual.
Jester melepaskan tangan kiri Camilla lalu sedikit menoleh menatap tas yang Jester letakkan di lantai, didalam tas itu Jester mengambil salep dan beberapa lembar plester yang akan dia gunakan untuk mengobati luka - luka di jari Camilla. Mengetahui apa yang akan diperbuat Jester membuat Camilla kaget, dengan segera Camilla menarik tangannya dan menempelkan tangannya di dada.
__ADS_1
"Jester! tidak usah, ini tidak..." belum selesai Camilla berkata, Jester memotong.
"Ini sebagai ucapan terima kasih atas kerja kerasmu membuatkan Naomi kostum yang begitu sempurna itu" timpal Jester dan tangannya memberi gestur agar Camilla membiarkan Jester untuk mengobati jari - jari Camilla
Ketika membuat kostum untuk Naomi, sebenarnya Camilla tidak ingin ada yang mengetahui usahanya itu selain Sarah. Namun mengingat Sarah dan Jester adalah saudara sepupu tentu saja hal itu tidak bisa dihindari. Membuat kostum dengan menjahitnya khusus dan secara manual memang hanya satu - satunya cara yang Camilla bisa lakukan untuk mengungkapkan penyesalan dan rasa bersalahnya kepada Naomi.
"Tahu darimana kamu...." belum selesai Camilla berkata, Jester kembali memotong.
"Sarah sudah menceritakan semuanya, dia hanya ingin menyelamatkan dirinya tapi kostum Naomi benar-benar sempurna dan Naomi sangat senang dengan kostum hasil tanganmu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih" timpal Jester sembari menggenggam tangan kiri Camilla lalu mengobati jari - jari tangan kiri Camilla
"syukurlah Naomi suka...." ucap Camilla dengan senyuman, lalu Camilla menundukkan kepalanya dan membiarkan Jester mengobati jari - jarinya itu.
Ada sedikit rasa lega yang menghinggapi relung hati Camilla, perasaannya tersampaikan dengan sempurna oleh Naomi. Walau jika saja ada kesempatan untuk bertemu, Camilla ingin secara langsung memohon maaf kepada Naomi. Rasa lega yang sempat Camilla rasakan kini beralih dengan rasa terharu namun cukup menyesakkan dadanya.
Tidak lama tetesan air matanya yang tak terkendali membasahi lengan Jester, mengetahui itu membuat perhatian Jester teralihkan. Jester sedikit mengangkat kepalanya dan melihat Camilla yang masih menunduk dan menangis, dengan deras Camilla terlihat meneteskan air matanya itu.
"Naomi bilang kalau kostum yang dia gunakan terasa hangat, itu aneh karena bahan yang digunakan seharusnya dingin. Belum lagi Naomi bilang kalau jahitannya terasa begitu memeluk, itu sangat tidak masuk akal bagiku. Apa itu yang ingin kamu dengar?" tanya Jester, pertanyaan Jester membuat Camilla terkejut sampai dia mendongak menatap Jester.
"Be.. benarkah?" tanya Camilla terbata
"Yah... aku juga tidak mau percaya, tapi Naomi memang mengatakan itu" jawab Jester singkat, Camilla sedikit tertawa namun sesenggukan membuat tawanya terbata.
"Aku tidak menyangka kalau sesuatu yang dibuat dengan sepenuh hati akan membuat perasaan maaf kita akan tersampaikan, bagaimana bisa?" tanya Jester ketika dia selesai mengobati semua jari - jari Camilla, tangannya kini sibuk memasukkan kembali perlengkapan pengobatannya kedalam tas.
"Aku pelajari semua dari ibuku..." jawab Camilla sembari menyeka semua sisa air matanya yang masih ada di pipi dan dagu, Jester pun berdiri dan duduk di sofa bertatapan mata dengan Camila.
Jester yang seolah paham bahwa Camilla akan menceritakan sesuatu tentang alasannya membuat kostum untuk Naomi secara manual, tiba - tiba bersiap memasang telinganya baik - baik untuk mendengarkan cerita Camilla. Sebuah hal yang baru saja memberikan pelajaran bagi Jester dan dia anggap sebagai hal yang mustahil.
__ADS_1
"Dulu ketika aku pertama kali mendapat perlakuan kasar dari ayahku, aku mengalami patah tulang pada lengan kiri ku. Pada malam harinya aku merasakan dingin karena demam, saat itu ibuku merajut kan syal ini tepat disebelah kasurku...." ucap Camilla, lalu matanya terpejam dan tangannya kini menyentuh syal itu.
Air mata Camilla kembali menetes dengan deras dari balik mata yang tertutup, seakan sedang mengingat sesuatu Camilla terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan ceritanya.
"Aku diantara sadar dan tidak.... aku melihat ibu disebelah ku, dia menangis di kursi sambil merajut kan syal ini... aku bisa mendengar samar - samar ibu berkata, maafkan aku tidak bisa melindungi mu... dan ketika syal ini sudah bisa dikalungkan, ibu melingkarkan syal ini sambil terus menjahit hingga akhirnya menjadi sepanjang sekarang" ucap Camilla melanjutkan ceritanya, matanya kini terbuka perlahan dan kembali menatap Jester.
"Semarah apapun aku pada ibuku... tapi saat aku mengingat bagaimana syal ini tercipta... aku tiba - tiba merindukan sosoknya...." terdengar penuh kesedihan saat Camilla mengucapkannya, Jester sampai kehabisan kata-kata.
"Aku merasakan ketulusan ibu di rajutan ini dan berharap Naomi bisa merasakannya juga" ucap Camilla dengan sebuah senyum
Tertegun Jester akan cerita yang disampaikan oleh Camilla, sebuah pelajaran tentang ketulusan akhirnya dipelajari oleh Jester dari sosok Camilla. yah... Camilla dengan jati dirinya yang baru, bukan Camilla yang dikenal oleh para sahabatnya.
"Lalu tentang kemampuanmu menjahit?" tanya Jester
"Aku ini dari keluarga yang miskin, jadi kadang kala ibu menjahit kan aku beberapa baju dari sisa - sisa kain atau baju bekas agar tetap terlihat bagus dan trendy.... terdengar memalukan, ya kan?" dengan sedikit suara tawa Camilla mengucapkannya, Jester menggelengkan kepala merespon pertanyaan Camilla
"Tidak, aku rasa itu keren karena itu berarti kemampuan ibumu diatas rata - rata penjahit" timpal Jester, senyum Camilla yang sebelumnya merekah kini hilang dan berganti dengan tatapan penuh kesedihan.
"Ibu memaksaku untuk belajar menjahit baju sendiri, jadi aku sudah terbiasa untuk menjahit. entah kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, ketika kamu menolongku... kamu memberikan aku pekerjaan yang bisa aku tangani... dan aku bisa mengerjakan itu karena... ibuku..." ucap Camilla terbata
"Kamu bisa kembali dan menemui ibumu jika kamu mau" timpal Jester, Camilla pun menggelengkan kepalanya lalu menunduk.
"Bukan aku tidak mau.... tapi ibu mengatakan jika aku tidak boleh kembali bahkan jika ibuku mati sekalipun...." gumam Camilla, mendengar gumaman Camilla membuat Jester bingung harus berkata apa.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, tapi jika kamu rindu padanya maka tidak salah jika kamu memutuskan untuk menemuinya" timpal Jester sembari menghela nafasnya, Camilla menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Lalu yang kedua...." Jester menggantung kalimatnya dan menatap mata Camilla dengan sangat serius, tatapan Jester membuat Camilla bingung dan ada sedikit rasa takut.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan sampai membuatmu berfikir untuk bunuh diri? sedangkan aku sudah memperingatkan kamu supaya tidak pernah sekalipun berfikir untuk melakukan tindakan buruk itu" dengan tegas Jester mengatakannya