Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Kebimbangan Jester


__ADS_3

"Naomi!! tunggu!! hei!! ada apa?!!" teriak Jester sembari berlari mengejar Naomi yang tiba - tiba berlari meninggalkan panggung ditengah perform mereka.


Malam cerah di Werner Tower, sebuah gedung pencakar langit tempat media - media dibawah Werner Grup melakukan siaran dan syuting. Pada malam itu sebuah acara besar sedang berlangsung secara live disalah satu studio dalam gedung Werner Tower, grup band HOPE menjadi yang pertama tampil dengan formasi Jester sebagai gitaris, Naomi sebagai vokalis, Luke sebagai drummer, Harry sebagai bassis, Justin sebagai gitaris, dan Grece sebagai pianis harus berakhir tiba - tiba ditengah penampilan mereka.


Sorot lampu dari lampu sorot yang sering kali berpusat pada Naomi akhirnya beralih kepada banyaknya penonton yang menunjukkan ekspresi terkejut mereka, dapat disaksikan dari pemirsa yang menonton dari layar tv para penonton terheran dan bingung akan tindakan Naomi. Sebuah aksi yang juga mengejutkan bagi Willam, Marrie, Camilla, Liam, Blenda, Becca dan Beccy terlebih lagi bagi Daniel yang sempat meneteskan air matanya melihat penampilan Naomi. Sebuah penampilan yang membuat Daniel teringat tentang kenangan yang akan Naomi berikan pada dirinya.


Naomi turun dari panggung dan meninggalkan teman - temannya setelah sebelumnya tampil dengan cukup baik, tanpa aba - aba apapun tiba - tiba Naomi pergi begitu saja. Jester yang heran dengan tingkah Naomi saat itu memutuskan untuk berlari mengejar Naomi untuk meminta penjelasan, namun Naomi seakan tidak ingin membicarakan apapun dengan Jester dan terus berlari hendak meninggalkan Werner Tower.


"Naomi!!" bentak Jester sembari menarik lengan Naomi agar dia berhenti untuk berlari, disaat yang bersamaan Sarah dan Selena pun menyusul mereka berdua namun berhenti agak jauh dari posisi Jester dan Naomi.


"Naomi! ada apa? kamu kenapa?" tanya Jester dengan nada yang terdengar khawatir, Naomi masih terdiam tanpa kata apapun.


"Aku bingung harus apa kalau kamu begini, setidaknya beritahu aku kamu kenapa" ucap Jester lagi mencoba untuk memaksa Naomi berbicara walau suaranya masih terdengar lembut


"Aku.... sedang tidak stabil... aku pikir aku bisa untuk melakukan ini, tapi ternyata tidak. Amarahku masih menguasai hati dan pikiranku" ucap Naomi sedikit bergumam, Jester memutari Naomi agar mereka berhadap - hadapan.


Tatapan mata mereka beradu, dapat terasa kekuatan ikatan cinta mereka yang begitu kuat. Jester menjadi sosok yang mencoba selalu menguatkan dan mendukung apapun keputusan yang Naomi ambil, sedangkan Naomi berada dalam keadaannya yang kembali emosional sehingga terlihat Naomi takut jika salah dalam bersikap.


"Kamu tahukan aku akan selalu ada untukmu? aku akan membantumu meredakan semua amarahmu, bersandar lah padaku" timpal Jester sembari menatap mata Naomi begitu dalam, ketika itu tiba - tiba mata Naomi pun berkaca - kaca.


"Kamu tidak mengerti Jess...." ucap Naomi lirih


"Aku tahu! aku tahu aku tidak akan bisa memahami mu, aku sadar itu... tapi setidaknya aku ingin kamu tahu, aku masih disini.. masih setia menunggumu... masih ada untukmu...." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.


"Tidak....kamu gak boleh terus menerus seperti itu padaku....." sembari menundukkan kepalanya Naomi menimpali perkataan Jester, perkataan yang terdengar membingungkan Jester pun harus dia dengar.


"Apa maksudmu? apa... aku berbuat salah? apa aku... membuatmu marah?" tanya Jester terbata, dengan gelengan kepala Naomi merespon semua pertanyaan Jester. Perlahan tangannya menyentuh lembut pipi Jester dan tatapan matanya kembali memandangi wajah Jester, air mata yang terlihat begitu deras membasahi pipi pun membuat Jester semakin mematung.


"Aku hanya sedang bingung.... izinkan aku untuk menenangkan diriku dulu... aku janji akan segera menemui mu...." pinta Naomi begitu memelas, Jester masih mematung memandangi wajah kekasihnya itu.


Tanpa berkata apapun Jester hanya menundukkan kepalanya dan bergeser sedikit memberi jalan untuk Naomi, dengan segera Naomi kembali berjalan lalu berlari meninggalkan Werner Tower begitu saja. Melihat Jester memberikan jalan untuk Naomi pergi, Sarah dan Selena pun sedikit berlari mendekati Jester.


"Kak... apa kata Naomi?" tanya Selena dengan nada yang terdengar khawatir


"Dia bilang.... ingin menenangkan diri" jawab Jester datar dan tersirat kesedihannya, Sarah menghela nafasnya sejenak sembari mengalihkan pandangannya menatap pintu kaca tempat keluar masuknya orang - orang di gedung Werner Tower.


"Ada yang disembunyikan oleh Naomi, entah itu perasaan atau apapun itu...." celetuk Sarah, celetukan itu membuat Jester dan Selena menatap Sarah.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Jester heran


"Kata kamu tidak boleh terus seperti ini padaku yang diucapkan Naomi membuatku khawatir... apa Naomi sedang berfikir untuk meninggalkanmu?" jawab Sarah dengan sebuah pertanyaan penuh kecurigaan, Jester dan Selena pun terkejut mendengar pertanyaan penuh kecurigaan Sarah.


Perkataan Sarah tentu saja menyulut kepanikan Jester, ekspresi kesedihan pada wajah Jester berubah menjadi kepanikan seketika itu. Belum bisa Jester pahami maksud dari ucapan Sarah, karena bahkan dirinya tidak sampai memikirkan hal itu dengan pernyataan Naomi padanya


"Apa maksudnya dia berencana meninggalkanku Sarah?! jelaskan padaku!" terdengar panik Jester mengatakannya, namun tiba - tiba Selena menyela.


"Itu tidak mungkin terjadi!!" agak berteriak Selena mengucapkannya, perhatian Jester dan Sarah teralihkan menatap Selena bersamaan.


"Itu tidak akan terjadi kan, mana mungkin Naomi yang bucin itu bisa meninggalkan kak Jester. Mungkin Naomi hanya sedang bingung saja sekarang" ucap Selena meneruskan perkataan sebelumnya, Sarah mengernyitkan dahi seakan mencurigai Selena.


"Itu yang dikatakan Naomi tadi.... Naomi bilang dia sedang tidak stabil..." seakan menyetujui perkataan Selena saat Jester mengatakannya, namun Sarah menaruh curiga pada Selena dengan sebuah tatapan mata yang tajam.


"Aku akan menemuinya malam ini dan bertanya padanya, sekarang kita harus berkumpul dengan kawan - kawan yang lain kan?" ajak Selena kepada Jester dan seakan sedang menghindari Sarah, dengan segera Selena berbalik dan berjalan menuju studio tempat teman - temannya manggung tadi.


Dengan berat hati langkah kaki Jester pun berjalan mengikuti Selena, namun Sarah terus menatap pintu keluar dan berfikir untuk menyusul Naomi. Tapi niat itu Sarah batalkan karena masih ada keraguan dalam hatinya tentang kecurigaannya itu, Sarah pun kembali berbalik dan berjalan menyusul Jester dan Selena.


Kekacauan yang terjadi setelah Naomi meninggalkan panggung pun sudah berhasil diredam, band HOPE milik Jester, Luke, Harry, Justin dan Grece di diskualifikasi. Acara tetap berlanjut dan band berikutnya mulai tampil menghibur penonton, sedangkan Jester dan teman - temannya pun meninggalkan Werner Tower dengan cukup senang. Meski tidak berhasil menang, namun Grece merasa puas sudah sempat tampil di televisi. Pikirannya kini lebih fokus kepada Naomi, Grece merasa sangat khawatir akan keadaan Naomi saat ini.


Sikap Naomi membuat semua sahabatnya cemas dan bertanya - tanya tentang alasan Naomi tiba - meninggalkan stage ditengah belum selesainya perform mereka, Grece yang senang karena keinginannya untuk tampil di media dengan menunjukkan bakatnya pun dengan segera menunjukkan perhatiannya terhadap keadaan Naomi.


"Apa rencana mu Jester? perlu kah kita mendatangi rumah Naomi?" tanya Luke dengan menepuk pundak Jester, Jester menoleh menatap Luke.


"Aku bingung, perlukah? sedangkan Naomi meminta untuk sendiri dulu menenangkan diri, aku takut membuat kesalahan" jawab Jester penuh kebimbangan, Harry menghela nafasnya lalu merangkul Jester.


"Hei Jester, kalau kamu bingung terus seperti itu maka tidak akan ada yang berubah dari situasi ini. Kemana sifat tegas dan penuh perhitungan mu itu?" tanya Harry dengan sindiran, Jester menoleh mengalihkan pandangannya menatap Harry.


"Entahlah.... hatiku penuh dengan rasa takut berbuat salah, aku jadi penuh keraguan dalam bertindak" jawab Jester dengan nada yang terdengar sedih, serentak Luke dan Harry menghela nafasnya.


"Kamu perlu ke psikiater untuk memeriksakan mental mu itu" ucap Luke cemas


"Jester, aku ingin bertemu paman William. Bisa kamu antar aku ke rumahnya?" tiba - tiba Sarah menyela pembicaraan antara Jester, Luke, dan Harry, mereka bertiga menoleh menatap Sarah yang tepat berdiri dibelakang Jester.


Diantara semua sahabatnya yang bertanya tentang Naomi, tiba - tiba Sarah membahas topik yang berbeda. Tidak satupun dari para sahabatnya yang mengerti maksud Sarah menanyakan ayah Jester.


"Hah? apa yang mau kamu bicarakan dengan papa?" tanya Jester heran

__ADS_1


"Sejak beberapa hari ini paman William mengerjakan semua pekerjaanmu, aku ingin kembali bekerja jadi aku rasa lebih baik untuk mengetahui pekerjaan apa yang bisa segera aku lakukan pada paman" jawab Sarah


"Yah terserah kamu saja sih" timpal Jester


"Apa kamu membutuhkanku sayang?" tanya Luke penuh perhatian


"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Aku ini Sarah Gates, jangan perlakukan aku seperti wanita lemah diluar sana" jawab Sarah dengan penuh kebanggaan, Luke pun kesal mendengar perkataan Sarah yang begitu sombong itu.


"Lalu siapa yang saat datang bulan minta dipeluk dan dielus - elus kepalanya itu?" sindir Luke dengan nada yang terdengar begitu kesal, wajah Sarah memerah karena malu Luke membongkar rahasianya. Mereka berdua pun ribut saling serang kata - kata, Justin, Grece, dan Harry menonton pertengkaran itu dan terlihat begitu menikmatinya.


Selena yang memilih untuk tidak peduli dengan tingkah Luke dan Sarah kemudian berbicara tentang Naomi kepada Jester. Diamnya Selena seakan dia sedang memikirkan sesuatu tentang Naomi.


"Kak biarkan aku yang bicara dengan Naomi, mungkin dia akan lebih terbuka padaku" celetuk Selena sembari berjalan mendekati Jester, sejenak Jester hanya diam menatap mata Selena.


"Seperti dulu saat Naomi terpuruk karena perlakuan Daniel, aku lagi - lagi tidak mampu melakukan apapun untuk Naomi... benarkah aku masih pantas mengatakan jika aku mencintainya?" sedikit bergumam Jester saat mengucapkannya, Selena yang mendengar dengan jelas perkataan Jester hanya bisa diam dan menunjukkan wajah sedihnya.


"Bisakah aku minta tolong padamu? saat ini mungkin hanya kamu yang bisa bicara dengan Naomi, jika saja Luna masih ada...." pinta Jester


"Hei aku ini sudah tiga tahun menjadi Luna, sudah fasih aku menjadi Luna. Jadi percayakan saja Naomi padaku" dengan sedikit suara tawa Selena mengatakannya, Jester tersenyum mendengar perkataan Selena lalu mengelus kepala Selena dengan lembut.


"Tolong aku ya" dengan suara yang terdengar lembut Jester mengucapkannya, wajah Selena pun memerah. Jester melepaskan tangannya dari kepala Selena lalu berjalan mendekati Sarah dan langsung menarik tangan Sarah menuju keluar dari gedung, mereka semua pun mengikuti langkah Jester untuk pulang kerumah masing - masing.


Malam itu Jester dan Sarah berada di mobil yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama, yaitu rumah keluarga Gates. Empat puluh menit berlalu dan mobil Mercedes Benz S450 Jester diikuti oleh BMW 740i Sarah masuk ke dalam hingga depan pelataran rumah keluarga Gates, disaat bersamaan sebuah mobil Porsche 911 terlihat terparkir didepan pelataran itu.


William dan Marrie yang hendak masuk kedalam rumah pun menghentikan langkah mereka lalu berbalik menatap dua buah mobil yang masuk beriringan, tidak lama dari kursi penumpang belakang Jester dan Selena turun dari mobil mereka masing - masing. Dengan senyuman hangat Marrie menyambut anak dan keponakannya itu, Marrie berjalan menuruni anak tangga lalu memeluk Jester dengan erat.


"Selamat datang Jess... Sarah..." ucap Marrie sembari melepaskan pelukannya, Jester hanya tersenyum berat menatap Marrie.


"Selamat malam paman... bibi..." sapa Sarah


"Ada apa nih malam - malam berkunjung?" tanya Marrie sembari mengalihkan pandangannya menatap Sarah, dengan senyum Sarah menatap William.


"Aku butuh paman untuk membicarakan sesuatu" jawab Sarah, William menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Masuklah, kita akan bicara di ruang kerjaku" ajak William


"Tapi aku ingin bicara hanya berdua denganmu paman" timpal Sarah dengan tegas, perkataan Sarah saat itu membuat William, Jester dan Marrie terkejut.

__ADS_1


__ADS_2