
Senin siang yang cerah, matahari sangat bersahabat pada hari itu. Masih dikampus yang sama, suasana yang biasanya ramai oleh para mahasiswa dan mahasiswi mulai terlihat sepi ditinggalkan. Pada siang hari memang hanya sedikit mata kuliah yang sedang berlangsung, tidak terkecuali Three Musketeers kita yang juga bergegas hendak meninggalkan kampus mereka. Mereka bertiga berpisah disalah satu lorong kampus, Luke dan Harry menuju parkiran sepeda motor sedangkan Jester berjalan menuju parkiran mobil. Setelah beberapa langkah, Jester yang berjalan sendiri menuju parkiran kampus saat itu melihat Selena didepannya yang juga berjalan dengan tujuan yang sama.
"Selena" sapa Jester, mendengar suara yang tidak asing itu membuat Selena menoleh kebelakang dan menatap Jester yang tersenyum menatap dirinya.
"Eeh... Siang kak, dimana Naomi?" tanya Selena sembari berbalik dan menundukkan kepalanya, Jester terus berjalan sampai dekat dengan Selana dan berhadapan.
"Dia masih ada tambahan kuliah, kok kamu sudah keluar? bukannya kamu sekelas dengannya?" tanya balik Jester dengan nada ramah seperti biasa, Selena menggelengkan kepalanya beberapa kali merespon pertanyaan Jester.
"Aku pindah kelas" jawab Selena singkat
"Ooh gitu ya, langsung pulang hari ini?" tanya Jester berusaha mencairkan suasana yang mulai canggung, Selena pun mengalihkan pandangannya menatap Jester dengan sedikit senyuman diwajahnya.
"Kak... kamu gak usah basa basi seperti ini, aku tahu kamu cuma ingin melihat responku saat berhadapan denganmu kan?" tanya Selena dengan nada yang terdengar senang, dengan senyuman yang seakan malu Jester merespon pertanyaan Selena.
"Tidak apa, aku baik - baik saja. Aku hanya perlu waktu untuk menata hatiku saat berhadapan sama kamu. Selamat siang kak Jester, aku pulang dulu ya" ucap Selena sembari tersenyum manis menatap Jester kemudian berbalik dan meninggalkan Jester disana, Jester pun terdiam dilorong itu membiarkan Selena pergi.
Perubahan sikap Selena membuat Jester mulai sedikit memahami kecemasan sahabatnya, keningnya sedikit berkerut berusaha mencari cara agar tidak akan ada lagi yang tersakiti. Tapi Jester masih bingung harus bersikap seperti apa untuk menghadapi Selena, Jester pun berfikir untuk semakin berhati - hati dalam bersikap saat berhadapan dengan lawan jenisnya.
Tidak lama Naomi yang berjalan menuju parkiran kampus melihat Jester yang terdiam membatu disalah satu lorong kampus, dengan berlari kecil Naomi mendekati Jester lalu menepuk pundaknya dengan keras berniat mengagetkan Jester.
"Onii san!!" teriakan manja Naomi sontak mengagetkan Jester dan membuatnya berbalik menatap Naomi
"Apa - apaan Na... eeh Aoi!!" dengan terkejut Jester mengatakannya, Naomi pun tertawa melihat ekspresi terkejut Jester.
"Onii san? apa lagi itu?" tanya Jester dengan kesal, Naomi menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan mencoba untuk menghentikan tawanya.
"Disini aku dan kamu itu kakak adik dan Onii san itu sebutan untuk memanggil kakak dalam bahasa jepang" jawab Naomi mejelaskan pada Jester
"Lama - lama aku jadi bisa bahasa jepang" celetuk Jester terdengar kesal, Naomi kembali tertawa mendengar celetukan Jester.
"Heii... Heii... kita pulang dulu ya, aku mau mandi dan menghapus penyamaranku ini" ucap Naomi dengan semangat, mendengar ucapan Naomi saat itu membuat Jester terlihat heran.
"Memang kita mau kemana lagi?" tanya Jester terdengar heran, Naomi terlihat jutek menatap Jester.
"Kan aku mau memasak makanan favoritmu" jawab Naomi terdengar sebal
"Ooh iya, kamu serius tentang itu?" tanya Jester terdengar berat hati untuk merepotkan Naomi, garis senyum tergambar jelas diwajah Naomi saat mendengar pertanyaan Jester.
"Aku akan memasak seenak mungkin agar kamu mengingat cita rasanya dan mengatakan kalau makanan favoritmu adalah masakanku" jawab Naomi terdengar antusias, wajah Jester pun mendadak memerah dan sejenak pikirannya kembali mengingat kata - kata Harry tentang Naomi yang mencintai dirinya.
Jester menutupi wajahnya dengan tangan kanannya sembari membuang muka agar Naomi tidak melihat wajahnya yang memerah, sesaat Naomi berjalan melewati Jester menuju parkiran kampus dengan senyum yang merekah. Jester berjalan dibelakang Naomi menuju mobil mereka dan melanjutkan perjalanan menuju rumah, mengisi obrolan dengan topik ringan dan menyenangkan terlihat Jester dan Naomi tertawa bersama didalam mobil yang melaju dipadatnya jalan perkotaan.
__ADS_1
Disisi lain pada jam dan hari yang sama, dirumah keluarga Parker. Selena memarkirkan mobilnya di garasi dan segera keluar menuju kamarnya, sampai diruang keluarga ibu Selena pun menyapa anaknya yang terlihat tersenyum.
"Loh... loh... anak mama sudah senyum, ada hal membahagiakan apa hari ini? baru kemarin mama melihatmu menangis dikamar" sapa ibu Selena saat melihat anaknya berjalan menuju kamar yang berada dilantai dua, Selena pun menghentikan langkahnya dan menatap ibunya dengan senyuman.
"Maaf sudah membuat mama khawatir, aku hari ini cuma.... merasa senang...." jawab Selena dengan nada yang terdengar senang walau sedikit terbata, ibu Selena pun tertawa melihat tingkah anak gadisnya itu yang terlihat sedang dilanda asmara.
"Ada kejutan buat kamu dikamar" celetuk ibu Selena terdengar senang, sesaat Selena mengalihkan pandangannya menatap pintu kamarnya dari lantai satu.
"Ada apa dikamarku?" tanya Selena terdengar penasaran, ibu Selena hanya tertawa dan kemudian meninggalkan Selena begitu saja. Dengan rasa penasaran tinggi, Selena melangkahkan kakinya menuju kamar. Begitu sampai didepan pintu kamarnya, tanpa ragu dia membuka pintu itu dan langsung menatap kasur. Disana terlihat seorang wanita yang duduk dikasur sembari membaca sebuah buku dan terlihat begitu serius, wajah Selena terlihat terkejut mengetahui sosok wanita yang berada dikamarnya. Perlahan wanita itu menoleh menatap Selena dengan senyuman diwajahnya
"Hai Selena...." sapa wanita itu dengan ramah, namun Selena masih membatu karena terkejut dengan kehadiran sosok wanita didalam kamarnya.
Disisi lain pada jam dan hari yang masih sama, disebuah pusat perbelanjaan. Terlihat Naomi sudah melepaskan penyamarannya dan berjalan diramainya pengunjung mall bersama Jester, beberapa pengunjung melihat sosok Naomi yang berjalan diantara mereka dengan tatapan mata yang merasa kagum serta senang. Jester merasa risih dengan pandangan mata yang tertuju pada mereka, namun Naomi tetap bersikap anggun berjalan diantara orang - orang yang memperhatikan mereka.
"Heii... kenapa mereka pada lihatin kita sih?" tanya Jester terdengar malu, Naomi sedikit tertawa sembari menutupi mulutnya dan menatap Jester yang berjalan disebelahnya.
"Kan sudah pernah ibu kasih tau, akan sulit berpacaran denganku karena seluruh mata memperhatikan kita" jawab Naomi dengan diselingi tawa kecil, Jester mendadak kesal mendengar jawaban Naomi.
"Kalau gini aku jadi merasa gak nyaman" terdengar kesal Jester saat mengatakannya, Naomi pun terdiam sejenak menatap wajah Jester yang kesal saat itu. Tiba - tiba tangan Naomi merangkul lengan Jester dengan erat, Jester yang terkejut pun langsung menoleh menatap wajah Naomi yang nampak memerah.
"Tidak apa, biarkan saja mereka melihat kita" celetuk Naomi dengan senyuman, wajah Jester pun kembali memerah. Jester membuang muka menghindari bertatapan mata dengan Naomi, namun Naomi sadar Jester saat itu merasa malu.
Hingga tiga puluh menit berlalu mereka menghabiskan waktu bersama dengan berbelanja kebutuhan bahan pokok, Jester dan Naomi pun terlihat mengantri di kasir masih dengan senyuman dan canda tawa seakan dunia hanya milik mereka berdua. Setelah beberapa saat, akhirnya giliran Naomi yang akan menghitung jumlah barang belanjaannya. Naomi mulai meletakkan satu per satu barang belanjaannya untuk dihitung sedangkan Jester terlihat mengeluarkan dompetnya dan memberikan sebuah kartu debit dan secarik kertas kepada Naomi, perlahan Naomi mengalihkan perhatiannya kepada kartu debit ditangan Jester dan kemudian menatap wajah Jester yang memerah.
"Ka.. kata papa biarkan wanita yang memegang kartu debitmu" ucap Jester terbata, Naomi pun tertawa kecil mendengar ucapan Jester.
"Papa pasti gak bilang seperti itu" celetuk Naomi merespon perkataan Jester
"Haa? bener kok papa bilang seperti itu" Jester terdengar panik mengatakannya, Naomi pun mengambil kartu debit itu dan tersenyum menatap Jester.
"Papa pasti bilang biarkan istrimu yang pegang kartu debitmu" timpal Naomi dengan nada yang terdengar senang, Jester pun terkejut dengan ucapan Naomi lalu segera membuang muka dan menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.
Beberapa menit berlalu dan belanjaan mereka pun selesai dihitung, diparkiran mall keduanya berjalan menuju mobil mereka dengan membawa belanjaan yang berada ditangan kiri Jester. Dengan wajah yang memerah dan detak jantung yang tidak beraturan, Jester berjalan bersebelahan dengan Naomi yang terlihat menggandeng tangan kanan Jester. Sesekali Jester menoleh menatap wajah Naomi yang terus menatap dirinya sepanjang perjalanan, senyuman terus terlihat diwajah Naomi.
"Apa itu berat? kamu mengangkat seluruh barang belanjaan dengan tangan kirimu" tanya Naomi memecahkan keheningan diantara mereka, Jester membuang muka sebelum menjawab pertanyaan Naomi.
"Ti... tidak, ini tidak berat sama sekali. Lebih berat perasaan gugupku melihat tingkahmu Naomi" jawab Jester dengan nada yang terdengar panik, Naomi pun tertawa mendengar jawaban Jester.
"Ka... kamu kenapa jadi seperti ini? bukankah ini... agak terlalu agresif?" tanya Jester terbata, Naomi menatap Jester datar dan terdiam beberapa saat sampai akhirnya membuat Jester menoleh karena bingung dengan diamnya Naomi.
"Karena aku jatuh cinta padamu" jawab Naomi dengan tegas dan kembali tersenyum menatap Jester, tiba - tiba Jester pun kehilangan tenaga sampai membuatnya terduduk.
__ADS_1
"Jester! kenapa kamu duduk?" tanya Naomi yang panik karena Jester mendadak terlihat lemas, raut wajah Jester menjadi kesal namun pipinya masih merah merona karena malu.
"Aku akan mati muda karena gagal jantung" jawab Jester terdengar kesal, Naomi pun tertawa mendengar jawaban Jester dan tiba - tiba bersimpuh disebelah Jester.
"Cinta bisa membuat kita menjadi gila, kadang membuat kita bertingkah seperti anak kecil. Tapi itulah indahnya cinta... tulus dan tanpa niat apapun dibaliknya selain untuk membahagiakan orang yang dicintainya" ucap Naomi dengan senyuman, Jester terpana mendengar perkataan Naomi. Jester pun berdiri dan menjulurkan tangannya untuk menggandeng Naomi, tidak lama Naomi langsung menyambut tangan Jester dan kembali berdiri berhadapan dengan Jester.
"Aaa.... aku sudah katakan padamu kan..." ucapan Jester saat itu dipotong oleh Naomi.
"Kamu mencintai Camilla" masih dengan senyuman yang merekah Naomi mengatakannya, Jester membuang muka menghindari kontak mata dengan Naomi.
"Ka... kalau aku... berpaling hati... apa yang akan kamu pikirkan tentangku?" tanya Jester terbata menahan perasaan malunya, Naomi pun terkejut dan genggaman tangannya mendadak semakin erat meremas tangan Jester.
"Si...siapa?" tanya Naomi terbata, Jester kembali menoleh menatap wajah Naomi dengan wajah yang sangat memerah. Tanpa kata apapun saat itu Naomi seperti tahu jawaban Jester, Naomi menutup bibirnya dengan tangan kiri dan menatap Jester dengan mata yang berbinar sedikit berkaca - kaca.
"Ka....kamu serius?" suara Naomi pun terdengar pelan, Jester kembali membuang muka menatap langit - langit parkiran mall.
"Iii... ini bukan berarti aku menembakmu... aku cuma mau tanya pendapatmu!!" jawab Jester terdengar panik, Naomi pun tertawa.
"Lalu kamu harap aku merespon pertanyaanmu seperti apa?" tanya Naomi dengan sedikit tawa, Jester pun kesal mendengar pertanyaan Naomi. Keduanya kembali berjalan menuju mobil mereka yang terparkir diarea itu, dengan canda tawa dan obrolan ringan mengalihkan kejadian yang baru saja terjadi untuk mencairkan suasana yang canggung.
Sesampainya didepan Mercedes Benz V260 milik mereka, Jester langsung menuju pintu belakang dan memasukkan semua barang belanjaan kedalam bagasi mobil. Sedangkan Naomi duduk dikursi penumpang depan menunggu Jester sembari membuka Ingramnya, tidak lama Jester menutup pintu bagasi lalu segera menuju kursi pengemudi dan memasang sabuk pengaman.
"Tunggu, ada yang ketinggalan" ucap Naomi tiba - tiba
"Ada bahan yang belum kamu beli?" tanya Jester terdengar bingung, Naomi menunjukkan Ingramnya kepada Jester yang berisi tentang tas keluaran terbaru dari merk terkenal.
"Jester, aku mau tas ini... temani aku kesana ya~" jawab Naomi dengan suara yang memelas
"Duuh aku kira apa, kalau cuma tas..." belum selesai Jester berbicara, Naomi mencubit perut Jester bertubi - tubi.
"Aw Aw AAwww!! iya iya!! aku temani kamu kesana!!" teriak Jester sembari menahan sakitnya cubitan Naomi, Naomi pun tertawa sambil turun dari mobil disusul Jester setelahnya. Mereka berdua berjalan bersama kembali masuk kedalam mall
Didalam mall dilantai tiga, Naomi masuk kedalam salah satu toko tas dengan merk yang terkenal. Jester yang membuntuti Naomi saat itu sedikit tergangu dengan banyaknya pengunjung lain yang ingin berfoto dengan Naomi, dengan ramah Naomi merespon penggemarnya itu dengan baik. Semua mata tertuju pada Naomi dan Jester yang datang berduaan saat itu, sesekali penggemar bertanya pada Jester tentang hubungan mereka dan Jester menjawab seakan mereka memang pasangan seperti yang sudah tersebar di media sosial karena kasus di restoran cepat saji beberapa bulan yang lalu.
Hingga beberapa saat yang melelahkan setelah Naomi mendapatkan tas yang diinginkan dengan penuh drama bersama para penggemarnya, Jester dan Naomi terlihat menunggu pintu elevator terbuka dikeliling para penggemar Naomi yang masih mengantri untuk foto bersama. Setelah semua penggemar selesai berfoto, Naomi kembali berlari kecil mendekati Jester kemudian merangkul tangannya dengan erat.
"Maaf ya... kadang emang seperti ini" ucap Naomi dengan manis menatap Jester
"Tidak apa, sekarang kita bisa pulang kan?" tanya Jester, Naomi pun mengangguk merespon pertanyaan Jester. Tiba - tiba seorang wanita menerobos kerumunan dan berlari mendekati Jester dan Naomi, perhatian semua orang pun teralihkan melihat seorang penggemar yang begitu bersemangat mendekati Naomi.
"Kak Jester!! lama gak bertemu!!" wanita itu langsung menabrakkan dirinya ke tubuh Jester dan memeluk Jester begitu erat, Jester dan Naomi pun terkejut begitu pula dengan para penggemar Naomi yang masih berada disana.
__ADS_1