
***EPISODE INI MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI JESTER***
Aku bersekolah disalah satu SMA terkenal di kota, biasanya hanya anak - anak dari pejabat, pengusaha sukses, dan orang - orang kaya yang bersekolah di SMA itu. Tapi tidak dengan Luke dan Harry, ya... mereka berdua bukanlah salah satu dari kelompok orang yang aku sebut, tapi papa yang menyekolahkan mereka di SMA itu. Begitu juga dengan wanita yang aku sukai di SMA saat itu, Luna Lincoln.... seseorang yang aku dengar dibawa oleh keluarga Selena kesekolah itu sama seperti Luke dan Harry.
Sekolah ku penuh dengan bullying, jujur saja Luke dan Harry seharusnya menjadi korban bullying di sekolah namun karena mereka menempel aku jadi setidaknya Harry bisa lolos dari aksi itu. Luke? haha... siapa yang berani melawan gorilla itu? dia yang selalu menghajar siapa pun yang membully Harry saat itu dan setiap tindakannya membuat papa menjadi kerepotan untuk meminta maaf pada para korban Luke atau setidaknya papa yang membayar biaya rumah sakit korban Luke. Tapi papa merasa Luke itu keren karena berani melawan dan tidak mengijinkan orang lain menindasnya, aku juga kagum padanya dan mungkin jika ada diposisi Luke aku tidak akan setegar dia.
Begitu pula dengan Luna, dia menjadi korban bully disekolah. Bahkan sejak awal dia masuk, entah kenapa semua orang seakan tahu dia adalah anak dari keluarga tidak mampu dan beruntung bisa sekolah disana karena dibantu oleh seseorang. Selena juga terlihat tidak dapat berbuat apa - apa, aku sering melihatnya membantu Luna pergi dari tempat dia di bully dengan keadaan yang memalukan dan Selena hanya bisa menolongnya setelah Luna selesai dirundung.
Jadi suatu saat aku pernah memergoki pembully Luna, tidak hanya siswi namun juga beberapa siswa yang ikut merundung Luna. Aku dan Luke berhasil mengusir mereka dan Harry berusaha menutupi tubuh Luna yang terbuka karena bajunya kehilangan semua kancing, Harry membuka bajunya dan memberikannya pada Luna sedangkan aku memberikan jaketku karena dia basah kuyup seperti habis diguyur air. "Kamu baik - baik saja?" tanyaku saat melihatnya begitu mengenaskan, pembullyan itu benar - benar sangat tidak manusiawi bagiku.
"Aku baik - baik saja, kenapa kalian menolongku? apa kalian gak takut jadi korban bully juga?" itulah jawaban Luna dengan garis senyuman yang tergambar jelas diwajahnya saat kami bertiga mengkhawatirkan kondisinya, ya... dia tersenyum menatap kami seakan dia baik - baik saja. Saat itu aku mulai terpesona padanya, hatinya yang sekuat baja dan sikapnya yang seakan menerima takdir begitu ikhlas... sesuatu yang mungkin tidak aku miliki.
Saat kami mau membawanya pergi, Selena pun tiba ditempat itu terlihat kehabisan nafas karena mungkin berlari. Dengan nafas yang terengah - engah itu Selena menatap kami dengan amarah, "Kalian gak tahu malu! beraninya sama perempuan!!" aku ingat bentakan itu, bentakan dari seorang siswi dengan rambut pendek sepeti anak laki - laki. Bukan Selena yang aku kenal sekarang, sungguh... aku hampir tidak mengenalinya jika mengingat sosok Selena saat SMA dengan saat ini.
"Mereka menyelamatkanku, jangan salah paham" ucap Luna dan dia pun berjalan mendekati Selena, sorot mata Selena mendadak berubah penuh rasa kekhawatiran sambil memperhatian seluruh tubuh Luna. "Terima kasih" ucap Luna saat itu dan berjalan meninggalkan kami, sebuah kata yang selalu aku ingat saat itu. Bukan ucapannya tapi suara lembutnya yang membuatku mengingatnya terus, aku membatu beberapa saat sampai Luke menepuk pundakku dengan keras.
__ADS_1
"Kenapa Bro? jatuh cinta?" tanya Luke dengan senyum mesumnya, aku menepis tangannya dan menatap matanya dalam - dalam "Iya, aku sepertinya merasakan getaran cinta padanya" jawabku dengan tegas, jujur saat itu aku malu mengatakannya didepan teman - temanku. Tapi aku ini bodoh masalah percintaan, jadi tanpa bantuan mereka bagaimana caranya aku mendekati Luna? aku bahkan selalu gugup setiap kali bertemu dengannya, melakukan hal aneh, berkata aneh, bahkan terbata seperti orang gagap. Aku seperti orang gila saat bertemu dengannya, bukannya dia akan nyaman bersamaku malah jadi ilfeel.
Jadi pendekatanku pun dimulai saat awal semester dua, kenapa semester dua? tanyakan saja pada Luke dan Harry, itu adalah ide mereka. Selama semester satu aku hanya terus berusaha melindungi Luna dari para pembully dan berlagak seperti superhero didepannya, tidak ada hal lain lagi. Semua berubah ketika memasuki awal semester dua, aku mulai sering mendekatinya dan mendatangi kelasnya hanya untuk bertemu dengannya. Aku beberapa kali membeli makanan dikantin dan aku bawa ke kelas Luna untuk sekedar makan bersama, namun itu cuma berlangsung tiga kali. Bukan... bukan karena Luna menolak kehadiranku, saat itu Luna membawakan bekal dari rumahnya untukku. Dia yang menawarkan diri untuk memasak bekal buatku, walau merasa gak enak tapi tetap saja aku terima karena aku merasa pendekatanku berhasil.
Argh! sangat sulit untuk mengingat kembali momen kebersamaanku dengan Luna, hanya beberapa yang mampu aku ingat. Hampir setengah semester aku dan Luna setiap hari makan bersama saat istirahat sekolah dan aku selalu makan bekal yang dibawakan Luna untukku, suatu saat aku pun memberanikan diri mengajak Luna berkencan. Sepertinya kencan pertamaku adalah di festival squere, kenapa? karena disana semua ada, wahana yang menyenangkan, makan dan minuman yang enak, dan tempat - tempat romantis lainnya. Taman labirin? hmm... entahlah, aku sepertinya tidak masuk kedalam sana dan aku sebenarnya aku tidak terlalu ingat apa saja yang pernah aku lakukan ditempat itu bersama Luna. Aku benar - benar kesulitan untuk mengingat dengan jelas... ya aku yakin aku sudah banyak melupakan momen - momen itu.
Semua berjalan dengan baik, Luna terlihat selalu tertawa bahagia saat aku bertemu dengannya. Tidak ada tanda - tanda apapun bahwa dia tidak menyukaiku, tidak ada satu pun.... aku sangat yakin itu. Senin sampai sabtu di sekolah setiap jam istirahat aku dan Luna makan bersama, setiap pulang sekolah aku selalu mengantarnya pulang dan aku sempat beberapa kali bertemu dengan ibu Luna... hmm, aku lupa siapa namanya, setiap sabtu minggu aku dan Luna selalu berkencan hampir seharian penuh kami bertemu.
Luna juga pernah bertemu dengan papa dan mama, respon papa dan mama juga sangat baik menerima Luna. Walau saat itu kami sedikit bertengkar karena Luna tidak ingin bertemu papa dan mama, alasannya? dia tidak ingin harga diriku jatuh karena berpacaran dengan keluarga miskin seperti dia katanya, tapi papa dan mama tidak pernah mempermasalahkan itu dan tetap menerima Luna apa adanya. Sedangkan aku tidak peduli latar belakang Luna karena aku mencintainya tanpa syarat, aku jatuh cinta padanya dan aku hanya ingin dia yang berada disampingku... hanya dia... tapi semua berubah saat mendekati festival perpisahan kelas tiga.
Setiap menjelang akhir semester, sekolah selalu mengadakan acara perpisahan kelas. ya... kelas tiga akan meninggalkan sekolah yang penuh dengan kenangan bagi guru, siswa dan siswi. Aku yang menjadi anggota osis saat itu mendapat tugas mengatur acara perpisahan, jadi saat itulah aku hampir tidak pernah lagi makan siang bersama Luna saat istirahat. Aku tidak pernah bersamanya mungkin satu minggu penuh, tanpa sadar aku terlalu fokus dengan tugasku. Selain aku menjadi panitia aku juga seorang pengisi acara, band ku yang aku bentuk bersama Justin, Luke, dan Harry menjadi bintang utama acara perpisahan itu.
Tapi dirumah Luna aku menemukan pemandangan yang tidak pernah aku duga, rumah Luna telah terjual pada seseorang. Aku sempat bertanya mencoba mencari informasi kemana keluarga Lincoln pindah, namun keluarga baru dirumah Luna tidak tahu kemana mereka pergi. Lagi - lagi aku merasa ada yang salah, kenapa Luna tidak memberitahuku? kenapa dia tidak mengirim pesan padaku? semua pertanyaan itu menghantuiku. Namun aku tidak kehabisan ide untuk mencarinya, jadi aku langsung menelepon Luna namun telepon itu tidak pernah tersambung karena sepertinya dia mengganti nomor handphonenya.
Aku pun bertanya pada Luke dan Harry mencoba meminta pendapatnya tentang yang terjadi, namun Luke dan Harry mengatakan kalau dia marah karena selama satu minggu ini aku tidak pernah lagi datang ke kelasnya, tidak lagi menemuinya untuk berkencan di sabtu minggu, dan tidak pernah mengirimnya pesan duluan. Hanya itu.... Luke dan Harry cuma mengatakan dia marah padaku karena hal itu.... kamu percaya? dulu aku percaya namun saat ini aku tidak mempercayai hal itu.
__ADS_1
Sebulan penuh aku tidak pernah bertemu lagi dengannya, aku pun tanya kepihak sekolah tentang murid bernama Luna Lincoln yang tidak masuk sekolah selama sebulan itu. Namun jawaban pihak sekolah cuma mengatakan kalau Luna sedang berencana untuk pindah sekolah, ya... pindah sekolah. Aku terkejut setengah mati saat itu, setelah kehilangan dia disekolah, aku kehilangan tempat tinggalnya dan aku juga kehilangan nomornya. Bertanya pada Selena? aku tidak terlalu akrab dengannya dan saat itu Selena tidak masuk dalam hitunganku untuk menemui Luna, aneh ya... kenapa aku dulu tidak mencarinya dan bertanya padanya? entahlah... aku tidak memahami diriku yang dulu.
Hari demi hari aku lalui tanpa kabar dari Luna dan aku kehilangan dia, hingga sampailah pada malam perpisahan dilangsungkan. Secara mengejutkan aku bertemu Luna disalah satu sudut taman sekolah malam itu bersama Selena, entah kenapa saat itu aku begitu gugup melihatnya. Aku berjalan mendekati dan menyapanya dengan perasaan penuh bersalah. "Luna, kemana saja kamu selama ini? apa kamu marah sama aku? aku minta maaf" itu adalah kalimat pertamaku setelah lama tidak bertemu dengannya, Luna membalikkan badannya dan menatapku dengan senyuman.
"Tidak kak, aku tidak marah sama kamu. Maaf selama ini aku gak ngabarin kamu karena ayahku sedang dalam masalah di pekerjaannya" jawabnya saat itu, aku mulai memahami semua alasan tidak hadirnya Luna di sekolah, keluarga Lincoln pindah dari cluster perumahan, dan kenapa handphone Luna tidak dapat dihubungi. Sering kali aku melihat ditelevisi tentang keluarga yang bangkrut dan menjual seluruh asetnya serta mengeluarkan anaknya dari sekolah mahal kesekolah biasa, pasti seperti itu kan? aku mempercayai itu dulu, tapi sekarang tidak.
Saat itu aku menghabiskan waktuku bersama dengannya, dia seperti biasa dan tidak berubah sedikitpun. Sungguh aku tidak mengada - ada, dia masih Luna yang aku kenal tanpa perubahan sikap apapun. Kami ngobrol berdua ditaman sekolah sampai tiba saatnya aku tampil diatas panggung, Luke meneleponku dan mengatakan bahwa persiapan sudah selesai. Bukan persiapan tampil, tapi persiapan aku akan menembak Luna pada hari itu diatas panggung yang aku minta secara mendadak pada Luke dan Harry.
Aku menarik tangan Luna agar dia ikut denganku menuju depan panggung dan mengatakan aku akan tampil, disana aku meninggalkan Luna dan aku segera naik panggung untuk memulai perform kami memainkan beberapa lagu untuk menghibur penonton. Mataku selalu tertuju pada Luna dan senyumnya yang menatapku sungguh membuatku terpesona, aku sedikit tidak fokus saat itu sampai beberapa kali melakukan kesalahan. Memalukan, bintang utama acara sebesar itu malah melakukan banyak kesalahan.
Perasaan gugupku semakin menjadi - jadi saat kami memainkan lagu terakhir kami, seakan seperti seorang terpidana hukuman mati yang menunggu detik - detik eksekusinya. Seperti itulah perasaan gugupku, aku akan menembak Luna diatas panggung pada hari ini saat lagu terkahir kami sudah selesai kami mainkan. Lagu terakhir kami memiliki durasi lima menit dan saat lagu itu berakhir.... Justin tertawa kecil sembari menatap penonton yang terlihat menikmati penampilan kami.
Diatas panggung aku menatap Luna dan dia juga menatapku dengan senyuman, seakan dia tidak tahu apa yang sedang menunggunya diatas panggung. "Semua... hari ini ada sesuatu yang spesial, tentu tentu.... perpisahan dengan kakak - kakak kelas sangat spesial tapi ada yang harus aku umumkan yang lebih spesial dari itu semua" ucap Justin memulai langkah pertama dari skenario ku untuk menembak Luna, desas desus suara siswa dan siswi didepan panggung pun terdengar sangat jelas ditelingaku.
"Aku membutuhkan seorang siswi yang sangat cantik untuk naik kepanggung" saat Justin mengucapkannya, lampu sorot mengarah pada Luna dan Luna pun terkejut. Aku sangat mengingat wajah terkejutnya saat itu, matanya yang tiba - tiba terbelalak dan senyumnya yang menghilang... Luna menatap kanan - kiri seakan tidak percaya dirinya yang ditunjuk pada malam hari itu. Luna pun berjalan naik keatas panggung bersama Selena yang dia gandeng dibelakangnya, Luke berjalan mendekatiku dan memberikan bunga yang aku pesan padanya.
__ADS_1
"Luna, kamu tahu kenapa aku memangilmu keatas panggung?" Justin bertanya pada Luna dan Luna hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih terkejut menatap Justin, aku berjalan mendekati Luna dan berlutut didepannya sambil memberikannya satu bucket mawar merah. "Luna... Mau kah kamu menjadi pacarku?" tanyaku dengan suara lembut, apa ada yang salah? apa aku yang terlalu berfikir berlebihan padanya dengan kedekatan kami? tidak kan? kami sudah menghabiskan waktu bersama, dia pun menerima kehadiranku dengan tangan terbuka... tapi kenapa?
Luna mengabil satu bucket bunga dari tanganku itu dan dia langsung melemparnya dengan sangat keras kearah wajahku, "Kamu pikir kamu siapa?! memalukan!! apa - apaan kamu melakukan hal seperti ini?! kamu mau aku jadi pacarmu? jijik!! Ngaca dulu sebelum kamu melakukannya!! kamu itu pecundang!! berhenti mendekatiku!!" ucapnya dengan sangat keras hingga mungkin seluruh penjuru sekolah mendengarnya, dia pun turun kembali dari atas panggung meninggalkanku begitu saja. Suara tawa satu sekolah terdengar pada malam itu.... pada malam festival perpisahan.... pada malam dimana aku merasa Luna akan menerimaku karena kedekatan kami....