Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Retakan, Naomi dan Selena


__ADS_3

Di kampus pada siang hari yang cukup ramai oleh mahasiswa dan mahasiswi sedang mengikuti jadwal perkuliahan mereka masing - masing, di salah satu kelas terlihat mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul menunggu dosen mereka masuk kedalam kelas itu. Semua terlihat normal kecuali tiga mahasiswa yang terlihat tegang saat itu, Harry berdiri didepan Jester dan Camilla dengan tatapan yang tidak ramah sama sekali.


"Hee~ permintaan apa Harry?" tanya Camilla dengan nada yang manja dan dengan senyuman


"Bertukar kursi denganku, kamu gak masalah kan duduk disebelah pacarku?" Harry memaksa Camilla untuk menerima permintaannya, Camilla masih bersikap tenang menghadapi Harry yang terlihat sama sekali tidak ramah terhadapnya.


"Hmm~ engga sih, cuma aku menolak" jawab Camilla masih dengan nada yang terdengar manja, mendengar jawaban itu membuat Harry terlihat semakin kesal.


"Aku rasa kamu gak punya pilihan karena aku akan memaksa" tegas Harry sembari menarik tangan Camilla, melihat tangannya tiba - tiba ditarik dengan paksa membuat Camilla terkejut dan berusaha memberontak.


"Heei... Heei... Harry, ada apa ini?" tanya Jester berusaha mendinginkan suasana dan membantu Camilla untuk melepaskan genggaman tangan Harry dari tangan Camilla, ketegangan terjadi ketika Harry menatap Jester dengan tajam.


"Tidak ada apa - apa, aku hanya gak suka tiba - tiba Camilla berada dikelas neraka ini" jawab Harry terdengar santai, namun dari raut wajahnya jelas terlihat Harry sangat marah.


"Apa aku mengganggumu?! aku bahkan tidak menyapamu hari ini! Kamu terganggu apa dengan kedatanganku?!" tanya Camilla yang mulai terlihat emosi karena sikap kasar Harry, ditengah perdebatan mereka mendadak mahasiswa dan mahasiswi lain mulai berbondong - bondong memasuki kelas dan duduk dikursi mereka masing - masing tanda dosen akan datang. Harry tidak punya pilihan lain selain kembali duduk disamping pacarnya dan membiarkan Jester duduk bersebelahan dengan Camilla, kuliah pun dimulai.


Di tengah perkuliahan, Jester merasa ada sesuatu yang salah dengan hubungan antara sahabatnya dan Camilla. Belum lagi sikap Camilla yang tiba - tiba berubah padanya, namun Jester tidak dapat berfikir dengan baik karena perasaan gugup menyerang saat berada di dekat Camilla. Jester melipat kedua tangannya di atas meja dan menaruh kepala di tangannya, beberapa saat Jester masih tetap berada di posisi itu namun di dalam pikirannya Jester merasa dirinya tengah diawasi dengan tatapan yang tajam dari arah Camilla berada. Jester memberanikan diri untuk menatap Camilla dan yang didapatinya adalah Camilla yang saat itu duduk dengan posisi yang sama dengan Jester lalu tersenyum ketika kedua mata bertemu.


"Akhirnya kamu menoleh juga, aku sudah lama memandangimu seperti ini menunggu kamu menatapku" agak berbisik Camilla mengucapkannya, wajah Jester memerah lalu membuang muka lagi dengan perasaan gugup yang lebih parah dan detak jantung Jester semakin tidak beraturan.


"Aaarrhh Camilla, ada apa denganmu? kamu agak berbeda hari ini?!" tanya Jester dengan nada panik namun suaranya tetap berusaha pelan agar tidak terdengar oleh dosen, Camilla sedikit tertawa mendengar pertanyaan Jester.


"Bukan berbeda tapi kita memang tidak pernah satu kelas kan, aku memang suka menjahilimu dan sekarang aku punya banyak kesempatan" jawab Camilla dengan sedikit tertawa, Jester semakin bingung dan tubuhnya semakin penuh keringat. Keduanya terdiam beberapa saat tanpa saling bertatapan mata, ditengah keheningan diantara mereka tiba - tiba Camilla mencolek lengan Jester.


"Hei Jester, kamu masih punya dua hukuman loh" celetuk Camilla dengan nada yang lembut, Jester yang masih kaget karena colekan Camilla bertambah kaget lagi ketika Camilla terdengar serius tentang hukuman Jester.


"Hah?! jadi kamu serius tentang hukuman itu?!" Jester menoleh menatap Camilla dan nada bicaranya terdengar panik walau berusaha untuk memelankan suaranya, melihat wajah Jester itu membuat Camilla berusaha keras agar tidak tertawa keras.


"Tentu saja, apa aku terlihat bercanda saat memintanya? pertama kamu harus menciumku dan kedua kamu harus berkencan denganku" jawab Camilla dengan tegas tanpa ada sedikitpun keraguan, mendengar itu jantung Jester berdetak sangat kencang dan membuat pandangannya berkunang - kunang.


"Tapi itu tidak mungkin bisa aku lakukan!!" Jester berdiri sembari mengatakannya, Jester sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya karena perasaan gugup telah menguasai otak Jester.


"Jester kenapa berteriak?! sini kerjakan soal di depan ini!!" bentak dosen yang sedang mengajar, seisi kelas menatap Jester serentak dan Jester menjadi bahan obrolan para mahasiswa dan mahasiswi dikelas saat itu.


"Maaf pak" Jester menjawab sambil berjalan maju ke papan dan mengerjakan soal, disaat bersamaan Camilla hanya tertawa kecil sambil memandangi Jester yang sedang mengerjakan soal didepan.


Selama sembilan puluh menit Camilla mengerjai Jester berkali - kali hingga kelas usai, Jester terlihat sudah diantara sadar dan pingsan. Wajahnya seperti kepiting rebus yang merah merona penuh dengan keringat, Camilla terlihat sangat menikmati momen mengerjai Jester hari itu. Harry berjalan mendekati Jester dan menatap Jester dengan tatapan penuh rasa bersalah, melihat Harry mendekati mereka membuat Camilla mengalihkan pandangannya menatap Harry dengan tatapan kesal namun Harry mengabaikan Camilla.


"Ayo pulang bro" ajak Harry yang terlihat sedih melihat kondisi sahabatnya itu, Jester masih terlihat capek dan tidak memiliki semangat lagi untuk beranjak dari tempat itu setelah berkali - kali harus maju kedepan untuk mengerjakan kuis dari dosen.


"Maaf Harry, Jester ada janji denganku" celetuk Camilla menimpali ajakan Harry, Jester terkejut mendengar celetukan Camilla saat itu.


"Hah?! janji apa?!!" Jester mendadak kembali panik menatap Camilla, dengan senyuman manis Camilla menatap Jester sebelum menjawab pertanyaan Jester.


"Hukuman mu, apa kamu sudah melupakannya?" tanya Camilla dengan manja sembari menatap Jester, mata Jester berkunang - kunang karena detak jantungnya kembali berdetak sangat kencang.

__ADS_1


"Ugh.. kamu tidak benar - benar serius kan?" tanya Jester yang wajahnya kembali memerah ketika mendengar suara manja Camilla, mendengar pertanyaan Jester membuat Camilla kembali tertawa.


"Hahaha... kamu lucu deh, ayo kita kencan. Kamu sudah gak ada kelas kan?" tanya Camilla sembari berdiri dan membereskan mejanya, Jester semakin panik karena dia tidak menyangka akan berkencan dengan Camilla hari itu juga.


"Eeeh... gak... gak ada sih tapi kan..." Jester menjawab dengan panik dan terbata seperti biasa saat berhadapan dengan Camilla, Camilla tertawa melihat Jester bertingkah aneh lagi.


"Ya sudah, kalau gitu hukumanmu yang pertama saja lakukan sekarang juga" ucap Camilla dengan manja sembari menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk, seakan memberi gestur kepada Jester agar dia segera menciumnya.


"Hentikan Camilla!! cukup menggoda temanku!!" Harry membentak Camilla, orang yang biasanya terlihat santai dan ramah mendadak marah dan membentak seorang wanita. Jester dan Camilla tersentak mendengar bentakan Harry yang tiba - tiba itu, Camilla masih berusaha tersenyum menatap Harry.


"Harry~ kamu ada masalah apa denganku?" tanya Camilla yang suaranya agak terbata walau berusaha terdengar manja seperti biasanya, Harry menarik tangan Jester agar keluar dari kelas dan tidak menghiraukan perkataan Camilla. Jester merasa lega karena diselamatkan oleh Harry dan hanya bisa pasrah mengikuti kemana Harry akan membawanya, agak jauh dari kelas tiba - tiba Harry berhenti di salah satu koridor kampus dan melepaskan tangannya sembari berbalik menatap wajah Jester dengan tatapan marah.


"Apa itu tadi bro? gak keren tahu!" tanya Harry dengan nada marah, Jester menatap Harry dengan kesal dan terlihat bingung mengapa Harry marah padanya.


"Apa? aku gak paham yang kamu tanyakan, Luke juga bersikap sama sepertimu dan aku tidak tahu kalian ini kenapa" jawab Jester yang terlihat menghindar dari pertanyaan Harry, mendengar jawaban Jester membuat Harry semakin marah.


"Camilla mempermainkanmu tahu, berhenti bersikap bodoh seperti itu di hadapannya!" tegas Harry masih dengan bentakan


"Argh!! aku juga gak mau jadi kikuk seperti itu tahu!! tapi mau gimana lagi?!" Jester terlihat sangat kesal namun Harry merespon ucapan Jester dengan sebuah pukulan yang Harry arahkan ke tembok didekat mereka, wajah marah jelas terlihat dari raut wajah Harry saat itu.


"Aku berbicara untuk Naomi bodoh!! apa yang akan Naomi katakan kalau tahu kamu seperti itu tadi!" Harry semakin meninggikan nada bicaranya, Jester tertegun memandangi Harry yang terlihat sangat marah. Keduanya saling terdiam namun Jester paham bahwa Harry mengkhawatirkan hubungannya dengan Naomi, Jester saat itu dapat memaklumi sikap Harry karena Harry tidak tahu kenyataan sebenarnya.


Ditengah kebisuan mereka dan saling bertatapan mata, Jester berfikir keras mencari cara agar perdebatan yang timbul dari kebohongan dan kesalahpahaman ini bisa selesai. Namun di tengah keheningan itu, Selena muncul dari belakang Jester dan tiba - tiba memeluk Jester dengan sangat erat.


"Siang kak Jester~" Selena memberi salam dengan suara yang manja sambil terus memeluk erat Jester dari belakang, bulu kuduk Jester berdiri saat mengetahui Selena memeluknya begitu erat sampai payudara Selena terasa menempel di punggung Jester.


"Siang kak Harry" Selena yang melihat Harry memandangi wajahnya memberikan salam hangat namun tangannya tetap memeluk Jester, Harry memandangi Jester dan tersenyum sinis sembari menggeleng - gelengkan kepalanya


"Jester bodoh!! aku iri!!" teriak Harry sambil berlari meninggalkan mereka berdua di koridor kampus


"Kamu yang bodoh dasar rubah bodoh!!! jangan berteriak seperti itu menyebut namaku!!!" Jester berteriak kepada Harry yang berlari menjauhi mereka berdua dengan nada yang terdengar sangat kesal.


Harry sudah tidak terlihat lagi sejak berlari dengan perasaan iri kepada Jester, keheningan diantara Jester dan Selena pun terjadi beberapa menit. Jester membalikkan badannya sehingga membuat pelukan Selena melonggar, ketika bertatapan kedua tangan Jester menggenggam bahu Selena dan mendorongnya dengan lembut agar Selena sedikit memberi jarak pada Jester. Saat itu keduanya bertatapan mata saling tersenyum, namun keduanya tetap terdiam.


"Baik.... kita mulai dari awal ya Selena, Ahem... Ahem.... Apa yang kamu lakukan?!!" tanya Jester yang terdengar sangat kesal saat itu, Selena tertawa menatap Jester.


"Hahaha.... ini kak Jester yang aku suka" jawab Selena terdengar senang melihat Jester marah padanya, mendengar jawaban Selena membuat semua urat di kepala Jester mendadak keluar.


"Jangan bercanda denganku saat ini!! mood ku sedang sangat buruk tahu!" Jester terdengar sangat kesal, namun Selena tiba - tiba kembali memeluk Jester dengan manja.


"Biasanya kalau mood sedang buruk lalu mendapat pelukan, mood nya akan membaik~" dengan suara yang terdengar manja Selena mengatakannya, Jester terkejut ketika Selena kembali memeluknya dengan erat.


"Heeii! Heeii Selena!! apa yang kamu lakukan?!" Jester terlihat berusaha memberontak dan wajahnya memerah karena eratnya pelukan Selena sampai Jester merasakan payudara Selena menempel didada Jester, Selena tersenyum menatap Jester.


"Benarkan, Naomi" ucap Selena mendadak memanggil nama Naomi, dengan wajah yang keheranan Jester menatap Selena saat itu. Tidak lama Jester menoleh kanan kiri mencari keberadaan Naomi dan benar saja Naomi berdiri agak jauh di belakang Jester saat itu, Naomi terlihat membatu menatap Selena dan Jester berpelukan.

__ADS_1


"Na... Naomi? ini tidak seperti yang kamu li...." belum selesai Jester menjelaskan, salah satu sepatu Naomi sudah mendarat tepat di wajah Jester.


"Aku gak peduli apa yang sedang kalian lakukan, tapi bisakan kalian memanggilku Aoi. Dasar Bodoh!" timpal Naomi dengan nada marah dan gregetan


"Argh!! apa sih yang terjadi hari ini?!! Selena lepaskan pelukanmu!!" perintah Jester dengan bentakan, Jester semakin kesal saat itu dan mood nya benar - benar buruk.


"Engga mau~ sampai mood mu membaik, aku tidak akan melepaskan pelukanku" Selena mengatakannya dengan manja sembari menempelkan dahinya ke dada Jester dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, Jester merinding kembali karena tingkah Selena.


"Selana! aku gak peduli apa yang kamu lakukan pada Jester, tapi ini kampus, kenapa kamu jadi agresif seperti ini?!" bentak Naomi dengan nada yang terdengar sedikit marah, Selena semakin erat memeluk Jester.


"Biarin aja~ aku yang akan tanggung resikonya" jawab Selena terdengar tidak peduli, mendengar jawaban Selena membuat Naomi mengepalkan kedua tangannya sampai bergemetar untuk menahan emosinya agar tetap terkontrol.


"Selena! kamu mabuk ya?! Argh!! lepaskan donk!!" ucap Jester sambil terus berusaha memberontak namun tetap berhati - hati agar tidak menyakiti tangan Selena, saat itu Selena malah semakin erat memeluk Jester.


"Cukup Selena!! lepaskan Jester sekarang!!" Naomi terlihat semakin marah dan meninggikan nada bicaranya, Selena melepaskan pelukannya lalu berjalan mendekati Naomi. Keduanya saling bertatapan mata penuh dengan perasaan amarah, tatapan tajam Naomi ke Selena dibalas oleh senyum sinis Selena.


"Kenapa? cemburu? jadi kamu sudah mulai menyimpan rasa?" tanya Selena dengan nada sinis, tatapan mata Selena sangat tajam menatap Naomi seakan Selena sangat membenci Naomi.


"Selena kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Jester sambil agak berlari mendekati Selena dan berusaha meredam aura panas yang terjadi diantara Naomi dan Selena, namun keduanya mengabaikan Jester.


"Jangan membelanya kak, aku sudah pernah katakan padanya aku menyukaimu dan sekarang dia malah menaruh rasa sama kamu. Naomi, sebenarnya kamu itu teman macam apa?!" tanya Selena masih bernada sinis


"Tidak, kamu salah paham tahu. aku dan Naomi itu...." belum selesai ucapan Jester di potong oleh Selena, Selena mengalihkan padangannya menatap Jester dengan kesal.


"Settingan? itu yang kamu pikirkan kak, kamu tidak peka sama perasaan wanita kalau itu bukan orang yang kamu suka" ucap Selena dengan marah, perkataan Selena membuat Jester bingung dan berusaha menelaah maksud dari perkataan Selena.


"Selena, aku minta kamu untuk akhiri perdebatan ini" ucap Jester dengan suara yang lembut berusaha untuk mendinginkan suasana


"Kenapa membelanya kak? kamu juga mulai suka padanya? hah? jadi benarkan kalian itu..." belum selesai Selena berbicara Naomi mendadak menampar pipi Selena dengan keras, Jester terkejut melihat tindakan Naomi kepada Selena dan mata Jester sampai terbelalak menatap Naomi.


"Aku gak menyangka kamu akan sejahat ini! aku pikir aku bisa mempercayakan semuanya padamu bahkan ketika dunia pun memusuhiku" Naomi mulai meluapkan emosi dan suaranya bergemetar saat mengucapkannya, mata Naomi pun mulai berkaca - kaca.


"Aku jahat padamu? jangan membuatku tertawa... kamu pikir yang kamu lakukan itu apa?! kamu hanya peduli pada dirimu sendiri!" bentak Selena, Jester berdiri diantara Naomi dan Selena untuk melerai keduanya


"Cukup!! ada apa dengan kalian berdua?!" dengan bentakan Jester mengatakannya, Jester sangat marah menatap keduanya secara bergantian.


"Kamu masih juga membelanya kak?! aku sudah katakan padanya aku menyukaimu dan memintanya untuk memberiku ruang, tapi apa yang dia perbuat. Berkencan denganmu seharian?!" Selena mengatakannya dengan penuh emosi


"Itu bukan salahnya! aku yang kemarin yang menawarkan diri untuk menjemput!" jawab Jester masih membentak Selena, mendengar jawaban Jester membuat Selena tersenyum sinis.


"Hoo.... jadi kak Jester yang memaksa menjemput? Setelah dia...." ucapan Selena di potong oleh Naomi


"Selena!!" dengan bentakan Naomi mengatakannya, Jester menoleh menatap wajah Naomi yang terlihat sangat marah menatap Selena.


"Jadi begitu... Kak Jester belum tahu ya" celetuk Selena dengan nada yang terdengar sinis

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!! tidak akan pernah!!" Naomi mengucapkannya dengan penuh emosi, Jester memandang wajah Naomi yang terlihat sangat marah. Sosok Naomi yang Jester kenal mendadak hilang saat itu.


__ADS_2