
Jam tiga dini hari sebelum kejadian Naomi yang mencari Jester, seseorang terlihat berdiri didepan pintu keluar rumah Jester dan Naomi. Seseorang itu adalah Jester yang sedang melakukan pemanasan dan peregangan untuk bersiap berolahraga, merasa persiapannya telah sempurna Jester pun mulai berlari dan danau di sebuah bukit pinggiran kota menjadi tujuannya.
Selama perjalanan itu Jester terus berlari kecil tanpa terlihat lelah, wajahnya menunjukkan seberapa berat beban hatinya. Jester terus berfikir tentang Naomi, Camilla, dan Selena disepanjang perjalanannya, namun Jester masih tidak mendapatkan solusi yang tepat untuk masalahnya itu. Hingga beberapa saat matahari mulai terbit dan Jester pun dapat melihat danau dari puncak perbukitan, Jester menambah kecepatan larinya hingga titik stamina terakhirnya.
Sesampainya di danau yang terlihat indah dan asri namun sepi dari hiruk pikuk suara - suara perkotaan, Jester terlihat sangat kelelahan dan kehabisan nafas. Jester merebahkan badannya di rerumputan dekat dengan danau sambil terus berusaha mengatur nafasnya yang tidak stabil, keringat yang membasahi seluruh tubuhnya pun Jester biarkan mengalir dan membasahi baju dan celana olahraganya.
"Capeeek!!" teriak Jester dalam satu tarikan nafas sembari menatap langit cerah pagi itu, pemandangan awan dan burung burung dilangit membuat Jester sedikit melamun untuk beberapa saat. Suara - suara alam liar terdengar menenangkan bagi Jester, beberapa saat Jester menutup matanya dan menikmati alunan suara alam liar yang terdengar seperti musik. Seketika suara Naomi terdengar seperti sedang memanggil nama Jester dan wajahnya tergambar jelas didalam kepalanya hingga membuat Jester terkejut sampai membuka matanya.
"Kenapa wajah Naomi sih yang muncul di otak ku?! bukannya aku jatuh cinta sama Camilla?" tanya Jester pada dirinya sendiri, Jester duduk lalu memandangi danau didepannya dan masih terus memikirkan hubungan cintanya yang semakin rumit dengan hadirnya Naomi yang menambah kemelut antara dirinya, Selena dan Camilla.
"Apa aku jatuh cinta pada Naomi? tapi itu selingkuh namanya... aku gak boleh lakukan hal itu" Jester berbicara pada dirinya sendiri dengan nada yang terdengar bimbang, Jester kembali merenenung memandangi danau yang tenang ditemani suara alam liar yang saling bersahutan. Jester memejamkan matanya kembali dan kenangan tentang Naomi yang mencium bibirnya sebanyak tiga kali terbayang kembali, wajah Jester mendadak memerah hingga membuatnya kembali membuka matanya.
"Aaah iya benar... ini gara - gara Naomi yang mencium ku seenaknya" dengan nada kesal Jester mengatakannya, Jester berdiri dan mengambil beberapa batu lalu melemparkan batu - batu itu sejauh mungkin kearah danau, berkali - kali Jester melemparkan batu itu dan berharap dirinya akan mulai merasa tenang. Namun Jester malah semakin gusar, semakin banyak dan jauh batu yang dia lempar malah semakin bertubi - tubi pula ingatan tentang pertengkaran antara Naomi dan Selena terbayang di kepalanya. Jester semakin emosi dan semakin banyak pula batu yang dia lempar
"Gaaaah!!!! kenapa gak bisa aku lupakan kenangan buruk itu!!!" Jester berteriak keras, dari belakang Jester terdengar suara dan sebuah lemparan batu yang tepat melewati kepala Jester.
Batu itu membuat riak air di danau, sesaat Jester memandangi riak air itu lalu membalik badannya untuk melihat orang yang melempar batu. Tepat dibelakangnya Jester melihat Evans dan seorang pengawal yang berada dibelakang Evans sedang mendorong kursi roda, Jester terkejut melihat keberadaan Evans disana dan segera membungkuk memberi salam.
"Esensi melempar kekesalan di danau bukan terletak pada jumlah batu atau seberapa jauh kamu melempar batu - batu itu, tapi ketika riak air terbentuk kamu akan terbayang wajah siapa yang terlintas seketika dari buramnya bayanganmu yang terpantul saat itu" ucap Evans dengan ramah dan raut wajahnya tersenyum menatap Jester, saat itu Jester masih menundukkan badannya sembari mendengarkan perkataan Evans.
"Selamat pagi ayah!" sapa Jester yang masih membungkuk
"Pagi Jester" sapa balik Evans sambil memerintahkan pengawalnya untuk mendorong kursi roda mendekati Jester dengan gestur tangannya, Jester mengangkat kepala menatap Evans yang bersebelahan dengannya. Keduanya terlihat bersama memandangi danau, namun untuk beberapa saat keduanya membisu.
"Kamu sedang kalut ya?" tanya Evans memecahkan keheningan mereka, Jester menatap wajah Evans dengan raut wajah sedih.
"Aah iya... mungkin begitu" jawab Jester terbata, mendengar jawaban itu membuat Evans mengalihkan pandangannya menatap Jester namun masih tersenyum.
"Apa karena Naomi tidak sebaik yang kamu harapkan?" tanya Evans dengan lembut, seketika Jester tersentak mendengar pertanyaan Evans. Didalam hatinya Jester merasa sangat bersalah telah membohongi Evans dan Naoko, belum lagi anak semata wayangnya malah benar - benar jatuh cinta padanya dan lebih parahnya Jester masih tidak yakin bisa membalas cinta Naomi atau tidak.
"Tidak ayah, bukan itu. Naomi itu baik dan mungkin terlampau sempurna untukku" jawab Jester yang mendadak panik untuk menutupi perasaan bersalahnya, Jester membuang muka sesaat setelah mejawab pertanyaan Evans.
"Aku senang jika memang seperti itu, lalu kalau boleh tahu apa yang membuatmu kalut sampai harus melampiaskannya di danau ini?" tanya Evans masih terus memandang Jester
__ADS_1
"Duuh gimana ya, aku agak sulit buat menjelaskannya" jawab Jester menggantung, Evans mengalihkan pandangannya menatap danau sebelum meneruskan pembicaraannya dengan Jester.
"Aku dan papa mu sering kesini berduaan hanya untuk saling curhat" celetuk Evans tiba - tiba, Jester terkejut mendengar perkataan Evans saat itu sembari menatap Evans dengan perasaan tidak percaya. Seseorang yang Jester kenal sebagai pria brutal dan keras kepala, ternyata adalah sosok yang sering curhat di pinggiran danau seperti ini bersama sahabatnya.
"Hah? benarkah? papa juga sering curhat?" tanya Jester yang terkejut dengan celetukan Evans, saat itu Evans tertawa melihat Jester yang begitu terkejut mendengar fakta tentang papa nya itu.
"Itu benar, papa mu gak setegar yang terlihat kok. Dia juga mudah menangis saat curhat, apalagi jika sudah menyakut hal - hal yang menyentuh hati William" jawab Evans sambil sedikit tertawa, Jester tersenyum sinis mendengar fakta baru tentang William yang tidak dia ketahui selama ini.
"Ahahaha... ternyata begitu ya, papa masih punya kelemahan ternyata" Jester tertawa jahat sembari memikirkan cara balas dendam akibat dirinya yang tidak dapat menandingi kekuatan William, seketika itu Evans tertawa semakin keras mendengar celetukan Jester.
"Aku diajarkan tentang bukit dan pantai oleh papa mu, aku yakin kamu sudah tahu tentang cara menjalani hidup seperti William. Tapi tentang Danau aku lah yang mengajarkannya pada papamu, sepertinya kamu juga telah diajarkan tentang danau" ucap Evans ketika tawanya sedikit mereda, mendengar perkataan Evans membuat Jester kembali termenung beberapa saat.
"Papa bilang, saat hatiku telah bergejolak karena emosi yang sudah memuncak maka danau adalah gambarannya. Danau tetap tenang walau dunia sedang berguncang, maka seperti air di danau lah aku harus mengatur emosiku" jelas Jester, Evans tersenyum mendengar penjelasan Jester.
"Lalu yang bergunjang saat ini dalam hatimu apa?" tanya Evans dengan nada yang lembut, saat itu hati Jester kembali seperti ditembak oleh pertanyaan Evans. Semua kenangan tentang Naomi dan ketakutannya akan menyakiti hatinya tergambar jelas di pikirannya, sorot mata Jester kembali menunjukkan kesedihan.
"Tentang Naomi.... aku takut menyakiti hatinya..." jawaban Jester dipotong oleh Evans
"Maafkan aku ayah, aku tidak..." ucapan Jester kembali dipotong oleh Evans
"Tidak apa, aku paham. Lalu apa Naomi tahu? apa yang dia katakan?" tanya Evans masih dengan nada yang lembut seakan tidak bermasalah dengan apa yang terjadi diantara hubungan anak semata wayangnya dengan calon menantunya itu, Jester terdiam beberapa saat dan tangannya terlihat mengepal menahan perasaan marahnya pada diri sendiri.
"Iya dia tahu dan mengatakan akan terus mengejarku, tapi aku bukan tipe pria yang bisa membagi hati. Aku sangat merasa bersalah pada Naomi, terkhusus pada ayah dan ibu. Semua terjadi begitu cepat dan semakin tidak dapat aku kendalikan, semua adalah kesalahanku ayah" jawab Jester dengan penuh penyesalan, Evans tersenyum mendengar jawaban Jester lalu menatap Danau.
"Mungkin itu karma ku" celetuk Evans sambil mengambil sebuah batu yang ada didepannya dan melemparnya ke danau, mendengar ucapan Evans saat itu membuat Jester kembali terkejut namun Jester masih tidak kuat untuk memandang Evans.
"Dulu... sebelum bertemu dengan Naoko, aku mencintai wanita lain namun karena alasan dan kejadian yang tidak aku duga aku malah berpacaran dengan Naoko" ucap Evans menjelaskan maksud dari karma yang tadi dia katakan, perlahan Jester mengalihkan pandangannya menatap Evans dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu pria yang baik Jester, tidak ada alasan apapun kamu merasa bersalah padaku ataupun pada Naoko. Tidak seperti aku yang mencampakkan Naoko begitu saja saat itu, aku mengatakan padanya bahwa aku tidak mencintainya dan akan meninggalkannya kapan pun aku mau" Evans mulai kehilangan senyumnya menatap Jester, dari sorot mata Evans saat itu terlihat jelas bahwa Evans sangat menyesali kejadian itu.
"Ayah... lalu kenapa ayah dan ibu..." pertanyaan Jester di potong oleh Evans
"Di danau ini dulu aku mencampakkan Naoko, tapi pada saat aku akan meninggalkannya disini... Naoko berkata padaku izinkan aku mencintaimu walau kamu tidak akan membalas cintaku, aku akan buktikan padamu bahwa cintaku yang terbaik untukmu" ucap Evans yang sedikit tersenyum memandang Jester, Jester masih terdiam dan wajahnya terlihat serius mendengarkan cerita Evans.
__ADS_1
"Aku pun berganti - ganti wanita namun Naoko masih tetap setia disampingku, entah sudah berapa kali aku menyakiti hati Naoko dan aku tidak pernah menganggapnya ada. Sampai tibalah saatnya hukuman untuk ku turun, aku terpuruk dan bisnisku hancur total sampai tidak ada yang tersisa dariku. Semua pergi dari hidupku kecuali William dan Naoko" cerita Evans terhenti sejak, Evans mencoba menenangkan diri dari kenangan buruknya dan matanya terlihat berkaca - kaca.
"Waktu itu aku menelepon William untuk meminta bantuan uang kepadanya agar aku masih dapat bebas dari tuntutan penjara dan melunasi hutang - hutangku, William saat itu sedang berusaha menjual beberapa asetnya walau aku belum memintanya. Sembari menunggu William dengan kecemasan yang tinggi, Naoko berkunjung kerumahku yang saat itu akan disita oleh pihak bank. Dia membawa seluruh tabungan dan perhiasannya lalu memberikannya padaku" lanjut Evans dan tidak terasa air matanya menetes, sembari mengusap air mata itu Evans terlihat sedikit tertawa.
"Naoko mengatakan padaku pakai uang dan perhiasan ini dan aku menuntutmu untuk mengembalikannya saat kamu bangkit nanti dengan tambahan bunga per tahunnya sesuai bunga Bank yang berlaku, aku hanya memberikan pinjaman dan tidak bermaksut untuk merendahkanmu. Seketika itu Naoko hendak meninggalkan ku begitu saja tanpa menunggu jawaban apapun dariku, aku berlari mengejar Naoko dan menarik tangannya agar berhenti berjalan" ucapan Evans kembali terhenti untuk mengatur nafasnya yang mulai terengah - engah karena menahan tangisnya, Jester tertunduk mendengar cerita Evans yang terdengar pilu.
"Aku melamarnya saat itu ditengah terpuruknya aku, aku mengatakan pada Naoko mau kah kamu menikah denganku dan memulai semuanya dari nol bersamaku. Setelah apa yang telah aku perbuat padanya, aku sudah siap untuk sebuah penolakan, namun kamu tahu apa yang dikatakan oleh Naoko?" tanya Evans sambil mengusap air matanya lagi, Jester kembali menatap Evans.
"Ibu menerima ayah" jawab Jester singkat, Evans tertawa mendengar jawaban Jester saat itu sampai membuat Jester heran dan bingung.
"Aku tahu kamu akan menjawab itu, memang klasik tapi tidak seperti itu. Naoko menolak ku" ucap Evans tegas dan kembali mengatur nafasnya, mendengar perkataan Evans membuat Jester semakin heran.
"Hah?! lalu kenapa ayah dan ibu bisa menikah?" tanya Jester yang terdengar penuh keheranan, Evans menatap danau dan terdiam beberapa saat.
"Naoko mengatakan aku tolak permintaanmu, aku tidak ingin kamu melamarku karena aku membantumu disaat kamu terpuruk seperti ini. Izinkan aku tetap berusaha mengejar cintamu sampai kamu benar - benar jatuh cinta padaku dan lamar aku sekali lagi, aku akan setia menunggumu" jawab Evans sembari menatap Jester dengan senyuman penuh kebahagiaan, Jester kehabisan kata - kata mendengar perkataan Evans saat itu dan hanya bisa memandang Evans dengan perasaan kagum.
"Setelah semuanya selesai, aku kemari bersama papa mu. Aku curhat dan bercerita sama seperti aku bercerita denganmu saat ini" sambil mengalihkan pandangannya ke danau Evans mengatakannya
"Haah... dan saat aku sudah sampai di puncak kejayaanku lagi, aku kembali melamar Naoko lalu aku menawarkan seluruhnya yang aku punya untuk menjadi mahar pernikahan kami. Tapi dia hanya memintaku untuk tulus mencintainya dan tanpa alasan hutang budi atau apapun itu, hanya cinta yang di inginkannya. Itulah sedikit kisahku Jester, apakah kamu merasakan kemiripannya?" Evans mengakhiri ceritanya lalu terdiam menatap danau, Jester menunduk dan terus berfikir tentang kisah hidup Evans.
"Sebaiknya apa yang harus aku lakukan? aku tidak ingin menyakiti Naomi, dia terlalu baik untuk mengalami hal seperti itu" tanya Jester kembali dengan nada yang terdengar sedih dan bimbang
"Aku tidak tahu jawaban atas pertanyaanmu, kamu harus mencari jawabanmu sendiri dan aku rasa danau ini akan memberikan ketenangan hatimu sehingga kamu dapat memilih apa yang harus kamu lakukan" jawab Evans, Jester dan Evans saling bertatap mata dan keduanya tersenyum bersama dengan sedikit suara tawa yang terdengar.
Tidak lama muncul suara deru mesin mobil yang dipacu dengan kecepatan tidak normal, mobil itu mengerem dengan keras dan membuat suara berisik gesekan ban dengan aspal. Sebuah Mercedes Benz V260 terpakir dekat BMW 740Li, beberapa saat terlihat Naomi turun dari mobil itu dan menatap Jester dari kejauhan. Wajah sedihnya jelas tergambar saat keduanya bertatapan mata dari kejauhan, Evans dan Jester melihat Naomi berjalan mendekati mereka.
"Orang yang sedang kita bicarakan tepat berada didepan kita, apa kamu sudah tahu apa yang harus kamu katakan padanya?" tanya Evans sembari menatap Naomi yang berjalan mendekati mereka berdua, Jester menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Aku masih belum memutuskan apapun, tapi aku tetap pada prinsipku... aku tidak ingin menyakitinya" jawab Jester dengan tenang dan tegas, Evans terlihat senang mendengar jawaban Jester.
"Kamu pria yang baik Jester, aku titipkan putriku padamu apapun yang akan terjadi kedepannya" ucap Evans, namun Jester hanya mengangguk merespon ucapan Evans.
Tidak lama Naomi sudah tepat berdiri didepan Jester dan Evans, Naomi terus memandangi wajah Jester tanpa sepatah katapun dan Jester juga sepertinya tidak dapat berkata apapun. Ketiganya terdiam dipinggir danau itu dan lebih terdiam lagi pengawal Evans yang sejak awal di danau hanya terdiam mematung.
__ADS_1