Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Jester Yang Aku Kenal


__ADS_3

Sebuah kamar bernuansa girly dengan dinding yang berwarna merah muda, terdapat sebuah meja rias berwarna putih yang diatasnya tertata dengan rapih peralatan make up, aksesoris dan beberapa parfum. Disampingnya ada kasur besar dengan bed cover berwarna magenta dengan bantal - bantal berbentuk boneka yang terlihat begitu lucu, sebuah kamar yang kental sekali dengan nuansa gadis manja.


Jester melihat sekeliling kamar itu yang merupakan kamar Naomi, kamar yang menggambarkan karakter Naomi sesuai keinginan Naoko. Sejenak terdiam Jester mematung didepan pintu kamar, sedangkan Naomi berjalan menuju kasur dan duduk di pojokannya sembari menundukkan kepala menatap lantai. Tidak lama Jester melangkahkan kaki untuk mendekati Naomi, begitu Jester mendekat Naomi tiba - tiba menghela nafasnya hingga terdengar oleh Jester.


"Jess... apa kamu sehat? makan apa kamu selama tidak ada aku? aku dengar kamu sekarang tinggal di rumah kita karena menghindari wartawan, apa kamu kesepian disana?" tanya Naomi dengan nada yang terdengar sedih, Jester hanya terdiam untuk beberapa saat sampai Naomi mengalihkan pandangannya menatap mata Jester.


Pertanyaan Naomi saat itu membuat Jester merasa sedih, bagaimana mungkin Naomi masih memperhatikan keadaan Jester sementara dia sendiri yang paling merasakan dampak terburuk dari peristiwa yang mereka hadapi. Saat itu Jester merasa bahwa Naomi adalah sosok yang begitu mencintainya. Perhatian yang ditunjukkan Naomi kepada Jester membuatnya merasa harus menghadapi semuanya dengan tenang dan bisa lebih memperhatikan keadaan orang lain disekelilingnya.


"Hidupmu pasti berat ya... kita baru saja melalui masalah dengan keluarga Gates, kali ini kamu harus menanggung beban perbuatan ku. Aku minta maaf..." dengan senyuman Naomi mengatakannya


"Kamu tidak perlu memikirkan itu" timpal Jester, Naomi kembali menghela nafasnya.


Jester lah yang merasa paling bersalah atas semua yang terjadi saat itu, Jester merasa telah lalai dan lengah untuk melindungi Naomi dari berbagai sisi. Jester merasa gagal dan kurang memberikan peringatan yang berat kepada Daniel sampai membuat Daniel bisa dengan mudah melancarkan tindakannya. Dihadapan Naomi yang masih terlihat terpuruk yang terpancar dari wajahnya, hati Jester tidak berhenti menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi.


"Kamu selalu seperti itu.... selalu dapat memaafkan semua orang yang pernah menyakitimu, aku, Luna, Selena, dan entah berapa orang yang juga pernah merasakan hangatnya hatimu... Tapi memang seperti itulah dirimu sejauh yang aku kenal..." ucap Naomi masih dengan senyumannya, Jester merasakan ada sesuatu yang ingin disampaikan Naomi secara tersirat.


Jester mengernyitkan dahi dan menatap Naomi dengan curiga, mendapatkan tatapan seperti itu membuat Naomi mengalihkan pandangannya.


"Tadi aku bertemu dengan teman - teman kita, membahas tentang orang yang ada dibalik semua bencana ini... mereka semua membuatku marah karena seakan melindungi orang..." belum selesai Jester berkata, Naomi memotong.


"Aku tahu semua yang sedang kamu lakukan... aku tetap mengawasi mu walau aku tidak berada disampingmu Jess.." timpal Naomi


"Apa... maksudmu?" tanya Jester yang terkejut dengan perkataan Naomi.

__ADS_1


"Julius sudah menjelaskan semuanya kepadaku tentang langkah apa yang perlu kamu tempuh agar dapat mempertahankan perusahaan, aku mengerti dengan sangat jelas setiap detil - detilnya" jawab Naomi yang kembali menatap Jester dengan senyuman


Pernyataan Naomi kembali membuat Jester merasa gagal melindungi Naomi, Jester merasa apa yang Julius katakan akan menghancurkan hati Naomi karena cinta Naomi yang besar kepadanya. Jester juga merasa Naomi tidak seharusnya mengetahui tentang hal ini, baru saja dia mengalami tekanan mental karena aib nya terungkap di publik kemudian kehilangan ayahnya dan saat ini harus ditambah dengan pernyataan Julius yang pasti membuat hati Naomi sedih.


"Kamu tahu aku tidak...." belum selesai Jester berkata, Naomi kembali memotong.


"Aku tahu kamu pasti tidak akan memilih untuk mencari pengganti ku, sebagai gantinya kamu meminta papa dan Sarah untuk mendata semua saingan bisnismu. Apa kamu ingin mengulang kesalahan yang sama Jess?" tanya Naomi kini dengan tekanan, sorot mata Naomi terlihat tajam menatap mata Jester.


Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam namun mata mereka terus saling menatap, keadaan yang sangat tidak pernah Jester bayangkan akan terjadi.


"Teman - teman kita sudah mengetahui siapa otak dibalik tindakan Daniel, namun tidak dengan buktinya. Aku meminta mereka untuk menahan informasi itu agar tidak jatuh ke tanganmu, maafkan lah mereka yang bersikap seperti itu karena permintaanku" ucap Naomi memecahkan keheningan diantara keduanya, Jester kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Naomi.


Diluar dugaan Jester, ternyata sikap dari sahabatnya adalah atas dasar permintaan Naomi. Keadaan Jester yang penuh dengan tekanan memang membuatnya sulit untuk peka dan merasakan sesuatu yang berbeda dari sekelilingnya. Jester yang terkejut dengan kenyataan yang dia dengar dari Naomi akhirnya menyampaikan rasa penasaran yang seketika mengganggu pikirannya.


"Setiap tindakan selalu ada alasan, jika kita hanya melihat dari satu sisi maka.... semua akan menjadi berantakan seperti yang terjadi pada diriku, pada kakek dan Julius. Jess, kamu masih memiliki pilihan untuk tetap menjadi dirimu dan tidak jatuh kedalam jurang tanpa dasar seperti aku, kakek dan Julius" jawab Naomi, namun jawaban Naomi menyulut emosi Jester.


"Itu bukan alasan!!! aku ingin menegakkan keadilan!!!" bentak Jester pada Naomi, perlahan Naomi menatap Jester kembali lalu tersenyum.


"Apa itu keadilan? apa kamu punya hak untuk menegakkannya lalu menerapkannya pada semua orang? apa bedanya kamu dengan orang yang menjadi otak dibalik tindakan Daniel?" pertanyaan Naomi membuat Jester terdiam, keduanya terdiam dan saling menatap.


"Lalu.. kamu mau aku melakukan apa?" tanya Jester terdengar pasrah


"Aku ingin kamu tidak terbawa rasa ingin balas dendam, karena itu akan menentukan perbedaan antara kamu dengan orang itu" jawab Naomi dengan suara yang terdengar lembut

__ADS_1


Untuk sesaat Jester sudah mulai kehilangan kesabarannya, seakan teman - temannya bahkan kali ini kekasihnya sendiri pun tidak memberikan dukungan kepadanya. Jester akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Naomi dan berjalan pulang, namun baru hendak keluar dari kamar itu tiba - tiba Naomi berdiri dan berlari memeluk Jester dari belakang dengan begitu erat.


"Aku tidak ingin kamu menjadi seperti kakek, hentikan rencana balas dendam mu dan berpikirlah seperti Jester yang aku kenal!! aku mohon padamu Jess, ini permintaanku yang terakhir!!!" dengan sedikit berteriak Naomi mengatakannya, baju Jester pun terasa basah karena air mata Naomi yang terus mengalir dan menempel pada baju bagian belakang Jester.


"Aku akan mencobanya, aku akan mencoba untuk terus menjadi Jester yang kamu kenal" ucap Jester kepada Naomi, perlahan tangan Naomi merenggang dan membiarkan Jester pergi dari rumah keluarga Scott.


Jester berjalan menunduk menyusuri lorong rumah keluarga Scott dan sekali lagi Jester mendengar suara tangisan Naoko saat melewati kamarnya, untuk sejenak Jester menghentikan langkahnya. Tidak lama Jester kembali melangkahkan kakinya hingga sampailah dia kembali di ruangan yang menjadi saksi bisu ketika Jester dan Naomi disidang oleh Naoko, tidak terasa sudah lewat hampir satu tahun kejadian itu telah terlewati.


Sampailah Jester di pelataran rumah dimana Mercedes Benz S450 dengan supir yang sudah bersiap untuk membukakan pintu bagi Jester, untuk sejenak Jester kembali terdiam menatap suasana pelataran rumah keluarga Scott. Gambaran Naomi yang meminta Jester untuk menemaninya mengenal kampus, cara Naomi meminta dan suara - suara Naomi ketika itu tergambar jelas, tidak terasa air mata Jester pun menetes. Sebuah ingatan yang membuat Jester sedih karena untuk untuk beberapa waktu dia tidak bisa mendengar suara manja Naomi.


Dengan segera Jester menyeka air matanya kemudian berjalan mendekati masuk kedalam mobil, dengan segera supir menutup pintu mobil lalu berlari memasuki kursi pengemudi dan menjalankan mobil itu kembali ke rumah Jester dan Naomi. Empat puluh menit berlalu hingga Jester sampai dirumah itu, setelah Mercedes Benz S450 nya terparkir sempurna dengan segera Jester keluar dari mobil sebelum supir membukakan pintu untuk Jester.


"Pulanglah dan terima kasih" ucap Jester pada supirnya


"Tuan tidak memerlukan perjalanan lagi?" tanya supir itu memastikan perintah Jester, dengan gelengan kepala Jester menjawab pertanyaan supir. Dengan segera supir itu menunduk dan berjalan keluar rumah menggunakan mobil miliknya yang terparkir didepan rumah Jester dan Naomi, setelah memastikan sopir itu pergi jauh dengan segera Jester kembali masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobil itu ke suatu tempat.


Selama dua jam tiga puluh menit Jester terus membawa mobil Mercedes Benz S450 itu menuju pinggiran kota, dengan air mata yang terus mengalir dimatanya mengiringi perjalanan Jester selama itu. Begitu sampai ditempat tujuan hari pun mulai gelap, Jester memarkiran mobilnya dipinggir jalan lalu segera turun dari mobil.


Sebuah pantai yang jauh dari kota dan terlihat sepi menjadi tujuan Jester, dengan langkah yang perlahan dan terasa berat Jester berjalan mendekati pantai itu hingga kakinya menyentuh air laut. Gelapnya lautan yang ditemani pendaran cahaya - cahaya yang nampak kecil dari kejauhan, suara deburan ombak yang tenang dan sesekali membawa pecahan batu karang ke tepian pantai lalu angin sepoi - sepoi terasa begitu menenangkan bagi Jester. Ditatapnya garis pantai yang gelap itu dengan mata yang masih meneteskan air mata, dengan satu tarikan nafas Jester pun berteriak dengan kerasnya. Teriakan yang begitu terdengar pilu, menggambarkan beban hati yang sedang dipikulnya saat ini.


Tidak hanya satu kali, Jester berkali - kali terus berteriak untuk meredakan amarahnya yang begitu berkobar. Suara lantang itu mulai memudar seiring teriakannya yang berulang, mengecil dan hampir hilang. Namun Jester seakan memaksakan dirinya untuk terus berteriak sekuat mungkin yang dia mampu lakukan. Satu tarikan nafas panjang lalu dihembuskan perlahan, " Aaaaa......." gerak bibirnya berkata seperti itu namun suaranya tidak lagi terdengar. Malam itu Jester benar - benar membuang seluruh energinya yang tersisa dengan berteriak, sebuah ritual yang biasa Jester lakukan ketika hatinya sedang kalut. Sebuah ritual yang hanya diketahui oleh William, Naomi dan juga Evans.


"Apa kamu sudah puas kak?" terdengar suara wanita ditengah heningnya malam itu tepat dibelakang Jester.

__ADS_1


__ADS_2