Aku Pinjam Dia

Aku Pinjam Dia
Jeritan Pilu


__ADS_3

"Data semua nama investor dan pemegang saham yang menginginkan aku turun dari kursi presiden direktur" perintah Jester kepada William dan Sarah


Disebuah gedung pencakar langit yang terlihat sangat mewah dan megah pada siang menjelang sore, terlihat Jester keluar dari lift dan berjalan menuju lobby gedung. Disana orang - orang terlihat menyapa Jester dengan senyuman dan juga menunduk untuk memberi hormat, Jester membalas mereka dengan senyuman.


Begitu sampai diujung lobby, Jester segera masuk kedalam mobil Mercedes Benz S450 berwarna hitam dan supir pun membawa mobil itu menuju sebuah restoran keluarga yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung.


Didalam restoran, Jester segera melangkahkan kaki ke salah satu sudut restoran. Disana sudah menunggu Luke, Harry, Selena, Grece dan Justin, seakan sudah lelah menopang tubuh ketika itu Jester duduk disebelah Selena dengan keras. Hal itu membuat teman - temannya ikut merasakan beban yang sedang dipikul oleh Jester, untuk sejenak mereka semua masih terdiam menatap Jester.


"Baik, gimana perkembangannya?" tanya Jester memecah keheningan


"Masih nihil, selain ada dugaan Daniel berada di Roma maka tidak ada lagi perkembangannya" jawab Luke terdengar menyesal


"Selena, apa kamu sudah mengetahui aktor dibalik tindakan Daniel?" tanya Jester sembari menatap Selena yang berada disebelahnya


"Maaf kak... belum..." jawab Selena terbata, terdengar Jester menghela nafasnya.


"Aku akan turun tangan" celetuk Jester, celetukan itu mengagetkan mereka.


"Hei Jester, kamu tidak perlu turun tangan. Serahkan saja pada kami" timpal Harry dengan sedikit tekanan, Jester menatap Harry dengan mengernyitkan dahi.


"Apa yang sudah kamu dapatkan dalam satu minggu ini?!" agak membentak Jester mengatakannya


"Kami sudah berusaha, ini hanya masalah wak..." belum selesai Justin berkata, Jester memotong dengan menggebrak meja.


"Naomi sudah tidak memiliki waktu lebih dari ini!!" terdengar begitu marah Jester mengatakannya, semua teman - temannya pun terdiam untuk beberapa saat sampai Jester menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskan perlahan.


Para sahabat Jester sangat memahami beban yang dipikul oleh Jester, mereka mencoba tidak terpancing emosi Jester. Untuk pertama kalinya Mereka melihat Jester semarah ini, terutama bagi Luke dan Harry yang sejak kecil sudah bersama Jester. Memang bukan masalah yang ringan bagi Jester karena selain dampaknya terhadap hubungan percintaannya dengan Naomi, pemberitaan yang tersebar juga berdampak sangat buruk bagi perusahaan yang baru saja Jester pimpin.


"Kami tahu kamu sudah tidak memiliki waktu, tapi bisakah kamu menjawab ku satu hal?" tanya Luke pada Jester, perlahan Jester menoleh menatap Luke seakan memberi tanda jika dia siap menjawab apapun pertanyaan Luke kepadanya.


"Jika Daniel dan aktornya sudah tertangkap, apa yang akan kamu lakukan pada mereka?" tanya Luke dengan sedikit menekan, beberapa saat Jester masih terdiam dan terus menatap mata Luke dalam - dalam.


"Kalian... sudah tahu siapa aktor dibelakang ini?" tanya Jester menduga - duga dan terus menatap mata Luke, namun Luke tidak merespon apapun sehingga membuat Jester secara bergantian menatap wajah teman - temannya yang lain.

__ADS_1


Selena terlihat menunduk ketika Jester menatap dirinya, begitu pula dengan Grece yang ikutan menunduk agar tidak bertatapan langsung dengan Jester. Harry dan Justin kompak membuang muka mereka, hanya Luke yang terus menerus menatap mata Jester.


"Katakan padaku... Luke" perintah Jester kepada Luke, namun Luke menggelengkan kepalanya.


"Ada apa ini? kenapa dengan kalian semua?!! kalian ingin melindungi orang yang sudah menghancurkan Naomi?!!" begitu marah Jester saat mengatakannya


"Kami hanya memerlukan jawabanmu, apa yang akan kamu lakukan pada orang yang menjadi aktor utama dalam kasus ini" masih dengan nada yang terdengar tenang Luke mengatakannya, untuk sejenak Jester terdiam namun matanya masih terus menatap Luke.


"Aku.... aku akan hancurkan hidupnya... selayaknya dia menghancurkan hidup Naomi, akan aku buat dia mengetahui rasanya kehilangan... ya... aku menginginkan itu...." terbata Jester mengatakannya, tapi dari sorot matanya menunjukkan kesungguhan atas apa yang sudah dia ucapkan.


Kecemasan sahabat Jester terjadi sesaat mendengar jawaban Jester, sebuah alasan kuat bagi mereka untuk menolak memberitahu dugaan mereka atas aktor dibalik tindakan Daniel terhadap Naomi kepada Jester.


"Kamu tahu Jester... aku yang dulu pasti akan menjawab hal yang sama denganmu, namun ketika aku sudah bertemu dengan Sarah... aku mulai mengenal satu kata yang selalu membuat hati menjadi damai..." nada bicara Luke terdengar datar dan mencoba untuk menenangkan Jester


"Apa... maksudmu..?" tanya Jester


"Memaafkan... kamu perlu untuk memaafkan" jawab Luke singkat, jawaban Luke mematik emosi Jester kala itu.


Sebuah jawaban yang tentunya semakin menyulut emosi Jester, kondisi Jester yang mulai lelah dengan banyaknya tekanan membuatnya menjadi tidak mudah untuk tenang. Keadaan dirinya yang tidak bisa bertemu dengan Naomi bahkan juga tidak pernah mendapat respon ketika mencoba menghubungi Naomi menjadikan Jester sosok yang penuh dengan amarah dan kebencian.


"Apa dengan kamu membalas dendam akan mengembalikan apapun yang kamu minta itu Jester?!!" bentak Luke pada Jester


"Sudah... sudah jangan bertengkar..." ucap Selena mencoba mendinginkan suasana


"Hei Jester, kamu hanya sedang emosi. Kamu perlu menenangkan diri dulu" timpal Harry yang ikut mencoba meredakan suasana panas disana, tiba - tiba Jester beranjak dari duduknya hendak pergi dari tempat itu. Semuanya terlihat tidak ada yang ingin menghalangi Jester untuk pergi, kecuali Justin yang secara mengejutkan berdiri lalu berlari mengejar Jester.


"Jess tunggu!" teriak Justin kepada Jester diparkiran rumah makan keluarga itu, Jester berhenti lalu berbalik menatap Justin.


"Aku tahu perasaanmu... tapi kamu harus belajar untuk tetap tenang" ucap Justin ketika dia sudah berada dekat dengan Jester


"Bagaimana aku bisa tenang ketika..." belum selesai Jester berkata, Justin memotong.


"Kami cuma tidak ingin kamu mengulang kesalahan keluargamu, hanya itu Jess" timpal Justin dengan tekanan, Jester berusaha mengatur nafasnya yang terengah - engah itu.

__ADS_1


"Bagus, tenangkan dirimu dulu Jess. Kita siap untuk memberitahumu aktor dibalik tindakan Daniel namun yang perlu kamu ketahui ini adalah dugaan kuat tanpa bukti, jadi bisa saja kami salah walau kemungkinan benar adalah hampir sampai pada seratus persen" ucap Justin meneruskan kalimatnya setelah memastikan Jester mulai sedikit tenang, pernyataan Justin saat itu membuat Jester mengernyitkan dahinya mencoba untuk mencerna perkataan Justin.


Ketenangan Justin dalam menghadapi permasalahan selalu berhasil meredam amarah Jester, berbeda dengan Luke yang selalu tersulut emosi ketika berdebat dengan Jester. Beberapa kali permasalahan yang Jester alami berhasil diatasi dengan saran dari Justin dan itu semua mampu membuat Jester untuk selalu mendengarkan saran dari Justin dengan tanpa emosi.


"Usaha lah untuk dapat bertemu dengan Naomi, sudah lama juga dirimu tidak dapat menemuinya kan? carilah ketenangan dirimu dulu, setelah itu datangi kami lagi untuk kembali membahas hal ini" ucap Justin sembari menepuk pundak Jester, setelahnya Justin berbalik dan kembali berjalan masuk kedalam restoran keluarga itu.


Jester kembali memasuki mobil Mercedes Benz S450 miliknya, lalu supir pun melajukan mobil menuju rumah keluarga Scott. Sepanjang perjalan pikiran Jester mencoba memahami maksud dari setiap perkataan sahabatnya di restoran dalam pertemuan mereka tadi, terlebih permintaan Justin yang meminta Jester untuk menemui Naomi.


Ucapan Luke yang seolah mengetahui aktor dari permasalahan itu namun seakan tidak ingin memberitahu Jester pun akhirnya kembali membakar amarah Jester. Tiga puluh menit yang dibutuhkan Jester untuk sampai dirumah keluarga Scott, melihat mobil keluarga Gates yang datang mendekati pagar membuat penjaga gerbang rumah keluarga Scott dengan sigap membukakan pagar besar itu agar mobil Jester dapat masuk.


Mobil itu pun berjalan pelan menuju pelataran rumah keluarga Scott, disana Jester turun dari mobil dan matanya langsung menuju pada taman tempat Naoko dulu menyambutnya disela - sela Naoko merawat bonsai miliknya. Kenangan awal bersama keluarga Scott mendadak tergambar jelas di kepalanya, wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam mengingat semua kenangan yang sudah dia lewati bersama keluarga Scott.


"Jess..." suara lembut Naomi terdengar di telinganya, dengan segera Jester berbalik dan menatap Naomi yang berdiri di pelataran rumah dengan garis senyum yang begitu terlihat di bibirnya.


Lelah, amarah, kebencian dan penat dalam benak Jester untuk seketika hilang dengan adanya Naomi dihadapannya. Kerinduannya mencair dan hatinya lega karena akhirnya dia dapat bertemu Naomi, bahkan Naomi menyambut dirinya dengan senyuman. Seketika kegelisahan dan ketakutan Jester akan keadaan Naomi pasca pemberitaan dan kepergian ayahnya menghilang. Nafas Jester berhembus cukup panjang pertanda lega setelah bisa bertemu dengan kekasihnya itu.


"Naomi.... se.. selamat sore..." sapa Jester kepada Naomi dengan terbata, Naomi tertawa kecil mendengar salam dari Jester ketika itu.


"Ada apa? sudah berapa lama kita tidak bertemu sampai kamu bersikap formal seperti itu kepadaku?" goda Naomi kepada Jester, mendengarkan candaan Naomi membuat Jester merasa senang namun ada rasa malu dan canggung yang mengganggu hati dan pikiran Jester.


"Masuklah..." ajak Naomi kepada Jester, dengan lari kecil Jester mendekati Naomi.


Keduanya berjalan berdampingan masuk kedalam rumah, hingga sampai disebuah lorong dekat dengan ruangan dimana Jester dan Naomi pernah disidang oleh Naoko. Jester menatap ruangan itu dan terdiam beberapa saat, untuk sejenak Jester melamun dan mengingat semua kejadian waktu itu. Seakan itu adalah kejadian dimana menjadi titik awal Jester akhirnya sampai sejauh ini bersama Naomi, ditengah lamunannya itu tangan Naomi menepuk pelan pipi Jester lalu seketika lamunan Jester terhenti.


"Ada apa? kenapa melamun?" tanya Naomi kepada Jester


"Aah.. yah, aku mengingat ketika ibu menyidang kita di ruangan ini..." jawab Jester sembari kembali menatap ruangan itu, Naomi menghela nafasnya lalu menatap ruangan itu juga.


"Ini adalah ruangan yang paling aku benci di rumah ini, disinilah awal aku harus kehilangan ayah karena ulahku... seandainya aku menuruti kata ibu maka aku tidak akan..." Naomi menggantung kalimatnya lalu berbalik dan kembali berjalan, Jester yang melihat Naomi kembali berjalan pun kembali mengikuti Naomi dalam diam.


Hingga beberapa saat sampailah Jester di sebuah lorong yang terdapat sebuah pintu tertutup, Jester sempat menoleh menatap pintu kamar itu dan sedikit melamun. Namun lamunannya seketika terhenti saat mendengar suara jeritan seorang wanita yang begitu memilukan, langkah Jester kembali terhenti begitu juga dengan Naomi.


"Itu ibu... ibu sudah seperti itu sejak ayah meninggal.... maaf ya kamu harus mendengar itu..." ucap Naomi dan tidak lama terdengar suara barang - barang yang seakan terbanting dan pecah, mendengar itu Jester merasa khawatir akan kondisi Naoko.

__ADS_1


"Apa tidak apa - apa? tidak perlukah kita memanggil..." belum selesai Jester berkata, Naomi berbalik dan tersenyum menatap Jester.


"Tidak perlu... hanya dengan itu ibu bisa terus menjaga kewarasannya... jadi biarkan saja..." timpal Naomi dengan senyum yang terlihat berat.


__ADS_2