
Pagi yang cerah di sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi, disalah satu lantai terlihat Jessica, Sarah, Jeremy dan Burgess dipandu oleh Lusi menuju ruangan presiden direktur Exo. Di dalam ruangan yang menjadi kantor presiden direktur Exo, mereka semua melihat Andrews sudah duduk di kursi seakan sedang menunggu kedatangan Jessica, Sarah, Luke, Jeremy dan Burgess. Wajah Jessica dan Sarah terlihat terkejut melihat keberadaan Andrews namun mereka berdua mencoba untuk bersikap biasa, sedangkan Jeremy dan Burgess semakin bingung dibuatnya.
Pertemuan kedua bagi Sarah bersama Andrews namun kali ini Sarah bersama Jessica sang ibu, ada perasaan sedih dan bahagia yang terpendam dalam hati Sarah. Mereka bertiga harus bertemu bukan sebagai sebuah keluarga namun sebatas rekan kerja. Dalam hati kecil Sarah yang merindukan sebuah keutuhan dalam keluarga sungguh pertemuan ini begitu dia bayangkan akan menjadi sebuah pertemuan yang membahagiakan namun bayangan itu harus dia pendam karena pada kenyataannya hubungan antara sang ayah dan ibunya tidak baik.
Seperti informasi yang diterima Jeremy dan Burgess bahwa kursi presiden direktur seharusnya kini diisi oleh Jester, namun yang berada didepan mereka Andrews kini informasi itu seakan adalah informasi palsu. Andrews mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam dan meeting pun dimulai, antara Exo dan Arielle Corp akan diadakan transaksi jual beli. Meeting itu terlihat sedikit alot karena penolakan dari Jeremy dan Burgess yang tidak ingin transaksi itu berjalan baik, meski pada akhirnya mereka hanya terlihat sebagai seorang bisnisman amatiran yang menolak transaksi menguntungkan.
Diruangan lain dalam satu gedung itu, Jester dan William melihat sebuah monitor yang merefleksikan kondisi terkini dari meeting yang diadakan oleh Exo dan Arielle. Dengan serius Jester terus memperhatikan perkembangan meeting itu yang mengarah pada sesuatu yang sulit untuk dicapai kata sepakat, beberapa kali Jeremy dan Burgess terlihat mencoba untuk mengacau walau pada akhirnya kerjasama antara Andrews dan Jessica dapat mengatasinya. Mata Jester saat itu tertuju pada wajah Sarah yang terlihat senang melihat kekompakan Andrews dan Jessica, tidak terasa Jester merasa ikut senang dengan kondisi itu.
Meeting yang tertunda pada siang hari dan kemudian dilanjutkan lagi pada sore harinya, membuat Jester dan William semakin merasa khawatir akan keberhasilan transaksi itu. Kuatnya penolakan Jeremy dan Burgess kini semakin nampak ketika mereka semua hampir mencapai kata sepakat, hingga menjelang malam saat itu akhirnya Exo dan Arielle Corp menandatangani surat perjanjian jual beli yang akan dilaksanakan keesokan harinya.
Andrews dan Lusi saat itu bersalaman dengan Jessica, Sarah, Luke, Jeremy dan Burgess setelah mencapai kata sepakat, mereka pun berpisah hari itu dan tim dari Arielle Corp meninggalkan gedung kantor Exo. Andrews dan Lusi yang mengantar tim dari Arielle Corp untuk meninggalkan area gedung kantor segera kembali masuk kedalam gedung dan menuju ruangan dimana Jester dan William berada, didalam ruangan itu Andrews terlihat sangat senang sembari memberikan perjanjian jual beli kepada Jester.
Andrews menepati janjinya kepada Jester untuk membantu Jester sekuat tenaga agar bisa memenangkan tantangan dari Arthur, semangat Andrews begitu membara hari ini karena untuk kali pertama dirinya bisa bertemu dengan dua wanita yang begitu dia cintai walau tidak bisa bersama lagi. Andrews yakin rencana Jester akan menyelamatkan Sarah juga Jessica dari kehancuran yang diharapkan oleh Arthur.
Dengan antusias Jester menerima perjanjian jual beli itu dan kemudian membacanya, semua sesuai dengan keinginan Jester. Dengan segera Jester meminta Lusi untuk segera mempersiapkan pembelian saham Arielle dari teman - teman Jester, begitu mendapat perintah Lusi pun meninggalkan ruangan untuk segera mengerjakan perintah Jester. Tidak ingin buang waktu, Jester juga melakukan langkah selanjutnya dengan mengundang teman - temannya untuk segera menuju gedung kantor Exo.
Tidak butuh waktu lama, di lobby kantor terlihat Grece, Justin, Harry dan Selena berkumpul duduk disebuah sofa yang tersedia disana sembari mengobrol. Hampir bersamaan saat itu Jester keluar dari lift sedangkan Luke terlihat hendak masuk kedalam lobby kantor, melihat teman - temannya yang sudah berkumpul membuat Jester merasa senang karena tingginya rasa pertemanan diantara mereka semua untuk saling tolong menolong.
"Kalian, aku mengucapkan terima kasih" celetuk Jester ketika sudah berkumpul dan berdekatan dengan para sahabatnya itu
"Tidak usah malu - malu, inilah gunanya teman" timpal Luke
"Tidak... tidak... ini lebih dari sekedar rasa pertemanan, aku berterimakasih karena atensi kalian kepadaku dan Naomi. Awal aku menerima tantangan ini sebenarnya aku sudah pesimis akan memenangkannya, bagaimanapun aku hanyalah seorang mahasiswa semester tiga dan hal seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa aku lakukan tanpa bantuan kalian. Jadi aku ucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada kalian, para sahabatku" dengan menundukkan kepala Jester saat mengucapkannya, perkataan dan sikap Jester membuat Luke, Harry, Selena, Grece dan Justin terkejut.
"Hei Jester, kenapa jadi tidak enak hati seperti itu? ayolah bersikap biasa saja" ucap Harry sembari berjalan mendekati Jester dan merangkulnya.
"Itu benar, kita ini Three Musketeers. Satu untuk semua dan semua untuk satu!" penuh semangat Luke mengucapkannya lalu merangkul Jester dengan erat, perlahan Jester menatap wajah Luke dan Harry yang tersenyum kepadanya.
"Luna pasti bangga pada kita.... mungkinkah ini sudah memenuhi harapannya?" tanya Selena dengan nada yang terdengar sedih.
"Tentu saja, ikatan ini akan semakin kuat sekarang" jawab Justin dengan tegas
__ADS_1
"Sekarang tinggal menyelamatkan Naomi, ayo segera kita selesaikan ini!" penuh semangat Grece mengucapkannya
Mereka berenam berjalan bersama menuju lift untuk mengadakan pertemuan disalah satu ruangan dalam gedung kantor, didalam ruangan itu Jester memberikan arahan kepada teman - temannya untuk menjual saham Arielle Corp yang mereka miliki sebelumnya secara serentak pada jam yang ditentukan oleh Jester. Total ada empat puluh sembilan persen saham yang dimiliki oleh Luke, Harry, Selena, Justin dan Grece, yang jika ditambah saham milik Sarah dan Jessica maka secara tidak langsung Jester akan menjadi pemegang saham terbesar Arielle Corp.
Malam itu pengarahan dari Jester pun selesai, terlihat Luke, Harry, Selena, Justin dan Grece paham dengan rencana Jester untuk besok harinya. Mereka semua berpisah untuk pulang kerumah masing - masing, begitu pula dengan Jester, William dan Andrews yang pulang bersama - sama menuju kediaman besar Gates. Lagi dan Lagi suara tawa Jester, William dan Andrews terdengar dikoridor kediaman besar Gates malam itu. Suara tawa yang begitu menggema itu membuat Arthur dan Julius terheran dan mencari sumber suara, dikoridor saat itu Jester, William dan Andrews berpapasan dengan Arthur dan Julius.
"Aku tidak tahu Gates muda akrab dengan pamannya yang tidak berguna itu" celetuk Arthur dengan suara yang berat dan menekan seperti biasanya, senyum dari wajah William dan Andrews pun mendadak menghilang.
Belum ada yang berubah dari sosok Arthur bagi William dan Andrews, bagi mereka Arthur saat ini masih begitu otoriter dan kaku juga begitu berjarak dengan putra - putranya serta cucu - cucunya. Keberadaan William dan Jester di kediaman Gates dengan keakraban yang mereka bawa juga kedekatan emosional yang begitu kuat diantara keduanya membuat Andrews berharap akan ada perubahan dalam keluarga besarnya. Andrews begitu merindukan kehangatan sebuah keluarga yang dulu pernah ada sebelum kehilangan sang ibu untuk selamanya.
"Dirumah ini sepertinya suara tawa adalah suara yang terdengar aneh" timpal Jester
"Ya, disini suara tawa tidak diperlukan" ucap Arthur menyetujui perkataan Jester
"Itu sebabnya aku mencoba untuk merubah itu karena kakek akan segera turun, dibawah kepemimpinanku suara tawa adalah suara wajib" dengan senyum penuh keyakinan Jester mengatakannya, perkataan Jester membuat Arthur terkejut.
"Apa yang sudah kamu kerjakan selama ini, Gates muda?" tanya Arthur dengan nada yang terdengar heran, Jester hanya tersenyum.
"Banyak dan aku tidak ingin menceritakannya pada kakek, tunggu saja kejutan dariku" jawab Jester penuh keyakinan, Arthur segera berbalik dan berjalan diikuti oleh Julius meninggalkan Jester, William dan Andrews.
"Apa yang dilakukan Jester selama ini?! kenapa aku tidak mendapatkan laporan apapun darimu?!!" bentak Arthur
"Julius tidak tahu, karena selama ini tuan muda Jester hanya melakukan aktifitasnya sehari - hari sebagai mahasiswa" jawab Julius dengan tenang
"Dia tidak akan begitu yakin jika yang kamu katakan itu benar!!" bentak Arthur lagi terdengar sangat marah
"Tuan besar Arthur... yang aku laporkan adalah yang terjadi, Jeremy dan Burgess hanya melaporkan jika nyonya dan nona Arielle sedang mempersiapkan proyek pernikahan tuan muda Jester dengan nona muda Scott, mata - mata dari hotel Gates dan rumah sakit Scott hanya melaporkan jika tuan William dan tuan Evans membeli beberapa aset baru untuk pembangunan masing - masing perusahaan dan sepertinya mereka sedang kesulitan dana karena sekian lama tidak mendapatkan dana segar. Semua berjalan normal tuan besar Arthur, apa yang harus Julius katakan jika hanya ada laporan seperti itu?" Jelas Julius pada Arthur, sejenak Arthur terdiam namun matanya masih menatap Julius dengan tajam.
"Apa kamu sedang mengkhianatiku?" tanya Arthur terdengar datar namun menekan, Julius menghela nafasnya perlahan.
"Tidak, Julius tidak akan berani untuk melakukannya" jawab Julius dengan tenang, Arthur kembali berbalik dan berjalan.
__ADS_1
"Panggil semua mata - mata kita yang berhubungan dengan Will, Jessica, dan Evans" tegas perintah Arthur kepada Julius
"Siap, Julius akan segera laksanakan
Malam berganti pagi, dikantor Exo terlihat Andrews, Jessica, Sarah, Luke, Jeremy dan Burgess kembali bertemu untuk melanjutkan transaksi mereka. Semua berjalan dengan sangat baik dan lancar tanpa ada gangguan lagi, dengan segera ketika Jester mendapat laporan jika dana dari Arielle sudah masuk kedalam rekening Exo saat itu juga Jester menghubungi Luke untuk segera melepas saham Arielle Corp. Luke yang berkumpul bersama Harry, Selena, Grece dan Justin dirumah Jester dan Naomi pun dengan segera memberikan aba - aba agar teman - temannya itu melakukan arahan Jester, begitu mendapat perintah mereka berlima langsung menatap laptop masing - masing.
Disisi lain dalam gedung kantor Exo William menatap pergerakan saham Arielle Corp di laptop miliknya, begitu saham jatuh karena penjualan besar - besaran yang dilakukan oleh Luke, Selena, Harry, Grece dan Justin saat itu juga William membeli semua saham itu. Begitu semua berhasil, William langsung mengacungkan jempol kearah Jester yang masih duduk menatap layar yang merefleksikan pertemuan diruangan sebelah dimana Andrews, Jessica, Sarah, Luke, Jeremy dan Burgess sedang melakukan transaksi. Senyum Jester mereka bersamaan dengan kode dari William, perlahan Jester menatap jendela lalu menatap langit cerah pagi itu.
"Naomi..... tunggu sebentar lagi, ini sudah hampir selesai..." gumam Jester sembari menatap cerahnya langit dari balik jendela.
Transaksi pun selesai, Jester memberikan instruksi kepada Sarah untuk menemuinya di mall pinggir kota. Dengan segera Jessica, Sarah dan Luke berpisah dari Jeremy dan Burgess dilobby kantor Exo, walau terlihat curiga namun Jeremy dan Burgess tidak dapat terus membuntuti Jessica dan Sarah karena panggilan dari Julius yang mengatakan bahwa Arthur ingin bertemu dengan mereka. Akhirnya Jessica dan Sarah dapat merasa lega karena bisa lepas dari Jeremy dan Burgess walau mereka tidak mengetahui alasan mengapa tiba - tiba Jeremy dan Burgess menyetujui untuk berpisah dengan alasan Sarah ada sesi foto, dengan segera Luke menyetir mobil dan mengantar Sarah dan Jessica menuju mall pinggir kota.
Satu jam lebih berlalu, disalah satu cafe dalam mall itu Jester, William dan Andrews sudah menunggu kedatangan Jessica, Sarah dan Luke. Jester memberika arahan kepada Jessica dan Sarah untuk segera melakukan rapat umum pemegang saham dan memilik Jester untuk menjadi presiden direktur di Arielle Corp, semuanya memahami apa yang harus mereka lakukan saat itu. Dirasa sudah cukup, saat itu juga Jessica mohon pamit kepada Jester, William dan Andrews. Jester mempersilahkan Jessica, Sarah dan Luke untuk pergi namun saat itu tangan Andrews memegang lengan Jessica untuk menahannya, perbuatan Andrews membuat Jester, William, dan Sarah terkejut.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Andrews kepada Jessica
"Maaf tuan Andrews, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" tolak Jessica dengan tegas
"Aku mohon padamu, beri aku kesempatan untuk berbicara berdua" pinta Andrews, Jessica pun terdiam sejenak lalu menatap Sarah yang dari sorot matanya seakan ingin agar Jessica menerima permintaan Andrews.
"Baiklah tuan Andrews, Sarah... mama lakukan ini untukmu" ucap Jessica, lalu keduanya pun pindah kursi untuk berbicara berdua.
"Ada apa?" tanya Jessica dengan dingin
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu, aku sudah meminta maaf pada Sarah dan aku merasa tidak lengkap jika aku tidak meminta maaf darimu. Aku tahu kamu tidak akan mungkin memaafkanmu, namun aku merasa harus untuk mengucapkan ini padamu agar beban kesalahanku padamu dan Sarah dapat berkurang" jawab Andrews dengan nada yang terdengar begitu menyesal
"Aku tidak perlu kata maaf darimu, semua sudah terjadi dan selama dua puluh tahun ini sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi peduli padamu. Semua aku lakukan demi Sarah, apapun aku korbankan termasuk perasaanku yang sebenarnya tidak ingin lagi berhubungan denganmu. Arielle Corp yang kamu bangunkan untuk Sarah pun pada akhirnya hanya menjadi sarang mata - mata papa mu untuk memata - matai kami, akan jadi seperti apa kami jika Jester tidak terlibat dalam kemelut keluarga Gates?" tanya Jessica dengan nada yang terdengar marah
"Tuan William dan Marrie semakin mempertegas posisimu sebagai seorang pria pengecut!! Aku dan Marrie tidak jauh berbeda namun tuan William memilih untuk mempertahankannya, apa kamu tidak merasa jika dirimu itu terlalu pengecut sebagai seorang pria?!" masih dengan amarah Jessica mengatakannya untuk meneruskan kalimat sebelumnya, Andrews hanya dapat menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.
"Kamu benar.... aku tidak bisa memaafkanmu untuk alasan apapun, tapi... Sarah mengatakan padaku jika dia ingin... dekat denganmu. Aku hanya berharap kamu bisa berperan sebagai seorang ayah untuknya dikesempatanmu yang kedua ini, tolong... jangan kecewakan Sarah lagi" penuh harap saat Jessica mengatakannya, perkataan Jessica dan suaranya yang terdengar penuh harap membuat Andrews terkejut. Perlahan kepalanya kembali terangkat dan menatap Jessica, matanya yang terlihat berkaca - kaca itu membuat Andrews terkejut hingga membuatnya tertegun.
__ADS_1
"Tolong jangan sakiti Sarah lebih dari ini... aku mohon padamu kali ini" suara Jessica pun menjadi serak karena dirinya menahan tangis yang sudah hampir tidak mampu dia tahan, Andrews menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Aku mengerti, kali ini izinkan aku untuk bisa menjadi sosok ayah untuknya" ucap Andrews, lalu Jessica berdiri hendak meninggalkan Andrews dengan air mata yang sudah mentes deras dipipinya begitu juga Andrews yang menangis karena perasaannya kini seakan lega dan beban beratnya sudah terlepas.