
Malam yang cerah pada hari itu, disebuah rumah sakit yang terletak agak jauh dari pusat perkotaan. Rumah sakit itu terlihat sepi dan hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang menunggu sanak saudaranya berobat dan mendapatkan perawatan inap di rumah sakit itu, wajah mereka nampak sedih dan penuh kekhawatiran. Diarea rumah sakit itu terdapat sebuah taman yang nampak remang - remang, beberapa lampu taman yang menyala saat itu tidak dapat menerangi setiap sudut taman. Di taman itulah Naomi dan Daniel sedang berbicara berdua, terlihat Naomi melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daniel.
"Naomi...." ucap Daniel ditengah kebisuan keduanya, wajah kaget Daniel saat itu terlihat jelas saat Naomi menarik tangannya secara paksa.
"Aku tidak bisa" timpal Naomi, Daniel pun terkejut dengan penolakan Naomi.
"Tidak... bisa... Apa? kenapa kamu begini? kenapa kamu mengatakan tidak bisa?!" dengan sedikit bentakan Daniel bertanya, Naomi membuang muka.
"Maaf" jawab Naomi singkat dan dingin sembari berbalik hendak meninggalkan Daniel, namun Daniel langsung menarik tangan Naomi agar berhenti berjalan meninggalkannya.
"Naomi tunggu!! katakan kenapa?!" tanya Daniel memaksa Naomi untuk menjawab pertanyaannya, Naomi tetap memunggungi Daniel saat itu.
"Hatiku sudah terlalu rapuh untuk melihatmu bersama orang lain" jawab Naomi datar, Daniel memutari Naomi dan tiba - tiba berlutut didepan Naomi sembari terus memegang kedua tangannya.
"Tolong maafkan aku, beri aku waktu sedikit lagi. Ini kurang dari enam bulan lagi dan aku janji tidak akan ada perpanjangan kontrak" dengan suara yang memelas sembari memohon Daniel mengatakannya, namun Naomi bergeming seakan sudah tidak peduli lagi kepada Daniel.
"Hentikan Daniel, maaf" tolak Naomi dengan tegas, Daniel semakin erat menggenggam kedua tangan Naomi saat mendengar penolakan itu
"Naomi aku mohon padamu!" Daniel pun masih memaksa Naomi, namun tindakan Daniel malah membuat Naomi semakin risih
"Daniel!!" Naomi membentak agar Daniel melepaskan kedua tangannya, disaat bersamaan Liam dan Blenda yang melihat Daniel berlutut didepan Naomi merasa sedih. Keduanya berjalan menuju kursi taman yang berada dekat diantara Naomi dan Daniel.
"Kalian ini sebenarnya kenapa?" tanya Liam saat sudah dekat dengan kursi, Naomi terkejut melihat keberadaan Liam dan Blenda saat itu.
Liam dan Blenda duduk dikursi taman itu dan terdiam beberapa saat, Blenda dengan gestur tangan meminta Naomi untuk duduk disebelahnya. Dengan paksa Naomi melepaskan genggaman tangan Daniel lalu berjalan mendekati Blenda dan duduk sembari menundukkan kepalanya, Blenda pun menepuk punggung Naomi dengan lembut.
"Ayah tidak tahu apa yang terjadi pada kalian berdua, tapi Naomi... ayah paham hatimu saat ini sedang terluka parah karena Daniel" ucap Liam ditengah kebisuan mereka semua, Daniel sembari berlutut berjalan menggunakan lututnya mendekati lalu menaruh kepalanya dipaha Naomi.
"Aku hanya ingin berbaikan dengan Naomi" ucap Daniel yang suaranya mulai serak menahan tangis, Liam dan Blenda bersamaan menghela nafas saat mendengar ucapan Daniel.
"Naomi, apa kamu masih mencintai Daniel?" tanya Liam dengan lembut, Naomi masih terdiam dan menunduk untuk beberapa saat.
"Aku tidak tahu... hatiku sudah sangat rapuh saat ini, aku sudah sangat.... lelah..." jawab Naomi, ketika itu tangan Daniel meremas hodie Naomi.
"Maafkan aku Naomi!! aku mohon!!" pinta Daniel memelas, air mata Daniel pun pecah bersamaan dengan permintaan maafnya. Naomi yang terkejut Daniel sampai menangis saat itu berusaha mengangkat kepala Daniel tanpa berkata - kata, namun Daniel menolak tarikan tangan Naomi.
__ADS_1
"Apa kamu punya pria lain dihatimu saat ini?" tanya Blenda ditengah kebisuan sesaat mereka, Naomi pun tersentak ketika Blenda menanyakan hal itu padanya. Sorot mata Naomi yang sejak tadi menunjukkan perasaan marah mendadak berubah menjadi sorot mata dengan perasaan bersalah, Naomi menundukkan kepalanya.
"Apa pria itu adalah pria yang repot - repot menjemput waktu Daniel meninggalkanmu dirumah?" tanya Blenda lagi karena Naomi tidak menjawab pertanyaan pertamanya, saat itu air mata Daniel semakin deras dan menetes dipaha Naomi namun Naomi tetap membisu dan membiarkan Daniel menangis dipahanya.
"Aku pernah menggenggam Daniel sangat erat agar dia tidak pergi, aku juga sering memohon padanya agar hubungan kita tetap baik - baik saja. Bahkan sering kali aku merendahkan diri sendiri agar aku tidak kehilangan Daniel dan semua itu aku pernah lakukan karena aku begitu mencintainya" jawab Naomi setelah dirinya membisu beberapa saat, kata - kata Naomi membuat Liam, Blenda dan Daniel menatap wajahnya.
"Sampai pada satu titik aku tersadar... yang akan pergi tetaplah akan pergi dan saat itulah aku mulai berhenti untuk mencintainya entah karena ada pria lain dihatiku maupun tidak" Naomi meneruskan kalimatnya, Daniel kembali menundukkan kepalanya dan menaruh kepalanya dipaha Naomi lalu menangis kembali penuh dengan penyesalan.
"Saat ini aku tidak mampu untuk berdamai dengan hatiku sendiri, pikiranku masih sering meminta agar aku terus bertahan dengan Daniel namun hatiku sudah terlalu sakit. Maaf" ucap Naomi, Liam menghela nafasnya lalu berdiri dan menarik Daniel untuk meninggalkan Naomi bersama Blenda malam itu.
"Tidak apa jika kamu sudah tidak mencintai Daniel, ibu mengerti karena sikap Daniel yang begitu kasar padamu. Tapi ibu minta, pikirkanlah baik - baik Naomi. Sebenarnya Daniel sangat mencitaimu" Blenda memeluk Naomi sembari mengelus kepalanya beberapa kali, Naomi merasakan kehangatan pelukan itu.
"Ibu, maafkan aku. Aku ada satu permintaan padamu jika diperbolehkan" ucap Naomi dalam pelukan Blenda saat itu, sesaat Blenda melepaskan pelukannya dan menggenggam pundak Naomi sembari menatap wajahnya.
"Apapun sayang, aku dan Liam sudah menganggapmu sebagai anak kami" ucap Blenda dengan senyuman, Naomi menundukkan kepalanya saat itu.
"Aku sudah berjanji pada Becca aku akan selalu ada disisinya, setidaknya biarkan aku terus menjenguknya walau mungkin hubunganku dengan Daniel sudah tidak dapat diselamatkan" pinta Naomi pada Blenda, dengan sedikit tertawa Blenda merespon permintaan Naomi.
"Tentu... Tentu saja ibu perbolehkan, ibu yang seharusnya memintamu untuk menjenguk Becca. Becca dan Beccy sangat menyukaimu sebagai kakaknya, tangan kami selalu terbuka untukmu walau kamu putus dengan Daniel. Satu yang kami minta darimu Naomi, boleh kah?" tanya Blenda, Naomi menatap Blenda dengan sedih.
Dirumah Jester dan Naomi pada malam hari yang cerah, sebuah Mercedes Benz V260 terlihat baru masuk kegarasi rumah itu. Setelah terparkir sempurna, terlihat Jester pun turun dari mobil itu dan langsung berjalan menuju pintu utama rumah namun pintu utama rumah itu terkunci. Jester menekan bel rumah beberapa kali tapi tidak ada tanda - tanda Naomi akan membukakan pintu untuknya, lalu Jester mengalihkan pandangannya menatap jam tangan miliknya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Apa dia sudah tidur yak? sudah jam sebelas juga sih" tanya Jester pada dirinya sendiri, Jester mengeluarkan handphone miliknya dan menelepon Naomi. Baru berdering beberapa kali, sebuah taksi terlihat berhenti didepan rumah mereka. Tidak lama Naomi nampak keluar dari taksi itu dan Jester pun berjalan mendekati Naomi, sesaat keduanya bertatapan mata tanpa berkata apapun ketika taksi mulai meninggalkan rumah itu.
"Aku pikir kamu tertidur, darimana?" tanya Jester terdengar santai melihat Naomi yang keluar tanpa memberitahunya, mendadak Naomi berlari dan menabrakkan dirinya lalu memeluk Jester dengan erat.
"Naomi?! hei ada apa?!! apa ada yang menyakitimu?!" tanya Jester dengan nada yang terdengar panik, namun Naomi menggelengkan kepalanya beberapa kali didada jester merespon pertanyaannya.
"Tidak, tidak ada apa - apa" jawab Naomi sembari melepaskan pelukannya, Naomi pun tersenyum menatap Jester.
"Benarkah? tapi aku merasa kamu lagi gak baik - baik aja" tanya Jester lagi dengan curiga, namun Naomi berjalan melewati Jester begitu saja menuju pintu utama rumah.
"Benar, aku baik - baik aja. Apa kamu menunggu lama? maaf ya aku gak bilang kalau aku akan pergi" jawab Naomi sembari terus berjalan untuk membukakan pintu, Jester membuntuti Naomi sembari mendengarkan jawaban Naomi
"Tidak, jangan hiraukan aku. Tapi..." ucapan Jester menggantung, saat itu Naomi kembali berbalik menatap Jester
__ADS_1
"Tapi apa?" Naomi bertanya dengan keheranan menatap Jester yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaannya, keduanya terdiam beberapa saat.
"Kamu... habis menangis?" tanya Jester, pertanyaan itu membuat Naomi semakin heran. Sesaat Naomi mengusap matanya dan memastikan tidak ada air mata yang menetes saat itu, tapi Naomi yakin dirinya tidak menangis sepanjang perjalanan pulang.
"Kamu bicara apa? tidak kok aku tidak menangis, apa mataku memerah? mungkin karena aku menahan kantuk" tanya balik Naomi dengan nada yang terdengar bingung dan heran, sesaat Naomi kembali menatap Jester.
"Begitu ya, baiklah kalau kamu memang baik - baik saja. Bisa buka kan pintunya?" tanya Jester, Naomi pun mengangguk dan membukakan pintu.
Mereka berdua masuk kedalam rumah itu dan berpisah dilorong utama rumah, Naomi menuju kamar sedangkan Jester menuju ruang keluarga. Didalam kamar itu Naomi duduk didepan kaca meja rias dan memperhatikan wajahnya dari pantulan kaca itu, memperhatikan detail wajahnya mencari tahu darimana Jester mengetahui dirinya tadi sempat menangis ketika menemui Becca.
"Bekas tangisanku saat bertemu Becca sudah hilang, kenapa Jester mengatakan aku habis menangis?" Naomi terlihat bingung dan bertanya pada dirinya sendiri, tidak terasa tiba - tiba air matanya mengalir.
"Kenapa.... kenapa aku menangis? aku ini kenapa sih?" gumam Naomi, Naomi pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan membiarkan air matanya terus mengalir. Ditengah tangisannya mendadak pintu kamar terbuka, Naomi yang terkejut langsung mengusap air matanya sembari memunggungi pintu masuk.
"Aah maaf... harusnya aku ketok pintu dulu" ucap Jester karena terkejut Naomi tiba - tiba memunggunginya, Naomi berusaha mengatur nafasnya agar Jester tidak menyadari dirinya sedang manangis.
"Tidak apa, ada apa?" tanya Naomi singkat, Jester menggaruk dahinya beberapa kali sebelum merespon pertanyaan Naomi.
"Terima kasih" jawab Jester singkat, Naomi sedikit terkejut mendengar jawaban Jester
"Untuk?" tanya Naomi singkat, jantung Naomi pun berdetak kencang saat itu.
"Kamu sudah repot - repot untuk mempersiapkan makan malamku bersama Camilla dan sepertinya semua berjalan lancar untukku" jawab Jester, mata Jester menatap langit - langit kamar saat mengucapkannya.
"Baguslah kalau memang lancar, aku turut senang mendengarnya" timpal Naomi dengan tangan yang meremas dress dekat dadanya yang dia kenakan saat itu, api cemburu kembali membakar Naomi saat itu dan hatinya pun merasakan sakit mendengarkan perkataan Jester.
"Dan.... maaf..." Jester melajutkan kalimatnya, saat itu kalimat Jester kembali membuat Naomi sedikit terkejut.
"Maaf? kenapa minta maaf?" tanya Naomi yang terdengar khawatir, dalam benaknya Jester akan memutuskan hubungan antara dirinya dan Naomi. Tidak terasa air matanya kembali menetes, Naomi hampir tidak dapat menguasai dirinya lagi untuk menahan tangisnya.
"Aku tidak tahu, tapi hatiku tidak tenang sejak tadi... jadi aku minta maaf, mungkin ada sesuatu yang terjadi padamu tadi dan saat itu tidak ada disampingmu untuk menguatkanmu... jadi aku minta maaf" jawab Jester dengan suara yang terdengar penuh perasaan bersalah, seperti api yang padam karena tersiram oleh air.... seperti itulah hati Naomi saat mendengar jawaban Jester. Naomi hanya terdiam dan masih memunggungi Jester, sedangkan Jester seperti kehabisan kata - kata.
"Hmm.... mungkin itu saja, selamat malam Naomi" ucap Jester sembari menutup pintu kamar itu, air mata Naomi kembali pecah ketika Jester menutup pintu.
"Air mata ini...untuk siapa sebenarnya? apa aku menangis karena Jester atau malah Daniel? ya ampun... aku ini sebenarnya kenapa sih?" gumam Naomi sembari menyeka air mata yang mengalir dari kedua matanya.
__ADS_1