Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 100. Monster Berwajah Cantik


__ADS_3

Dengan hati yang cukup terpukul, sakit mendengarkan kenyataan bahwa dirinya ternyata bukan anak kandung Satya bahkan diusir oleh Satya sendiri dengan kata-kata yang sungguh menyakitkan. Harapan nya untuk kembali dekat bersama Satya seperti dulu kala saat dirinya masih kecil hancur sudah.


Alya ingat saat menatap Satya tadi, sorotan mata Satya terlihat marah dan tak suka pada Alya. Seakan-akan pria itu membencinya. Memang selama ini tak pernah Satya menatap Alya dengan tatapan lembut, yang ada hanya tatapan cuek.


Alya pergi dari rumah Satya yang selama bertahun-tahun bahkan selama seumur hidupnya melindungi dirinya dari terik matahari dan derasnya hujan. Digeretnya dua koper berisi pakaian miliknya karena sebagian barang-barangnya entah kemana. Alya tak ingin menanyakan itu, pikirannya saat ini terfokus pada kenyataan yang membuatnya terpukul.


"Mommy... Aku harus bertemu dengannya. Mommy harus menjelaskan semuanya padaku."


Alya pergi dari rumah besar milik Satya. Tujuannya saat ini adalah bertemu dengan Sonia, ibunya. Di tengah perjalanan dirinya tak mengetahui dimana ibunya tinggal. Selepas dari kepergian Sonia dari rumah besar Satya, ibu dan anak itu sangat jarat berkomunikasi akibat kesibukan masing-masing. Alya sibuk bermain dan nongkrong menikmati kehidupannya yang serba mudah sedangkan Sonia saat itu sibuk menikmati waktu bersama Faris.


"Non, kita mau jalan ke mana ini ?" Tanya sopir taksi yang tadi di stop oleh Alya setelah berjalan sejauh hampir satu kilo meter dari area perumahan elit milik Satya.


"Ke jalan xxx Pak." Jawab Alya.


Saat ini sudah hampir gelap, dirinya tak tahu harus kemana lagi. Alamat Sonia belum bisa ditemukannya. Beberapakali menghubungi Sonia tapi tak kunjung tersambung.


Mobil taksi berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah di perumahan elit. Saat ini Alya hanya memiliki pilihan untuk mendatangi rumah Kristal.


Bel yang ada di samping gerbang dipencet oleh jari lentik Alya. Satpam rumah Kristal mendekati gerbang.


"Non Alya, ada apa ya Non ?" Tanya Satpam rumah Kristal yang sudah mengenal Alya.


"Pak, Kristal ada di dalam ?"


"Wah maaf Non, Nona Kristal sedang tidak ada di rumah, baru keluar mungkin sebentar lagi pulang."


"Oke Pak, buka gerbangnya dong Pak." Ujar Alya.


"Oh iya... Maaf Non... Mari masuk."


Satpam menatap Alya dengan tatapan heran karena perempuan itu datang dengan membawa koper besar. Tapi pria itu tak ingin bertanya lebih lanjut pada Alya.


Alya dipersilahkan masuk ke dalam rumah, ia menunggu di ruang tamu karena asisten rumah tangga tak mengijinkan nya masuk ke dalam kamar Kristal atas perintah si empunya kamar.


Tak lama orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Tak hanya sendiri melainkan bersama kedua orang tua Kristal.


"Loh... Al, kamu disini ?" Tanya Kristal yang terkejut dengan kehadiran Alya.


"Kristal... Om... Tante..." Sapa Alya yang langsung berdiri dari sofa yang di dudukinya.


"Kok ada koper segala ? Punya siapa ini ?" Tanya Kristal yang menoleh ke kiri dan kanan.


"Ini punya aku Kris." Jawab Alya memandang Kristal dan kedua orang tua temannya itu.


"Sayang, Mama dan Papa masuk ke kamar dulu ya. Kita mau istirahat dulu. Alya kami tinggal ya." Ucap Mama Kristal.


"Iya Tante..." Ucap Alya tersenyum.


"Iya Ma..." Ucap Kristal.


Kedua orang tua Kristal masuk ke dalam. Kristal langsung mengambil posisi untuk duduk di sofa dekat Alya.


"Al, kamu kenapa bawa koper besar-besar seperti ini ?"


"Kris, aku diusir dari rumah." Ucap Alya dengan wajah yang sedih.


"Di usir ? Kok bisa bagaimana ceritanya ?" Tanya Kristal terkejut.


"Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, yang jelas saat ini aku begitu terpukul atas kenyataan dalam hidupku." Ucap Alya. Perempatan itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya saat ini.


Kristal semakin terkejut dengan cerita Alya. Ia ikut prihatin atas apa yang menimpa pada teman satu tongkrongan nya itu.


"Jadi... Tante Sonia dan Om Satya sudah bercerai ? Lalu tinggal dimana Mommy mu ?"


Alya menggelengkan kepalanya. "Aku belum tahu dimana Mommy berada sekarang. Kristal, bolehkah aku menginap disini dulu. Aku bingung harus tidur dimana."


Alya memohon dengan wajah yang terlihat mengiba. Kristal tak tega, jadi mau tak mau dirinya mengijinkan Alya tinggal sementara waktu di rumah nya.


***


Dua orang sedang duduk menikmati segelas anggur merah. Mereka duduk bersebrangan di sofa empuk ruang tamu. Sedari tadi mereka membicarakan hal-hal yang cukup rumit dalam kehidupan mereka.


"Dia sudah kubebaskan dengan jaminan ku."


"Kamu tak berbohong ?"


"Tidak. Untuk apa ?" Jawab pria itu.


"Kenapa tak membawanya ke sini, jika kamu sudah membebaskannya."


"Dia tak mengenalku. Anakmu itu sangat keras kepala ingin segera pulang ke rumah mantan suamimu."


Kedua orang itu adalah Sonia dan juga seorang pria yang dengan mudah berhasil membebaskan Alya dari hukumannya di penjara. Dengan kekuasaan dan jabatannya tak sulit jika harus memerintahkan Alya untuk dibebaskan dengan sebuah jaminan uang dan kekuasaan.


Sonia memutar bola matanya malas. "Semua ini karena adikmu yang brengsek itu. Gara-gara dia aku jadi begini."


Sonia mencoba meluapkan segala kekesalannya dan juga keluhannya. Tapi tak ditanggapi oleh pria itu yang justru sibuk dengan minumannya sendiri.


"Urusanku sudah selesai bukan ? Aku meminta bayaran ku."


"Tenang saja semua akan aku bayar lunas sesuai permintaan mu." Ucap Sonia.


Pria itu tersenyum sinis dan juga puas. Berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Sonia. Dicengkeram kedua pipi Sonia meski tak kasar.

__ADS_1


"Ya... Kamu harus membayarnya dengan lunas sesuai keinginan ku." Bisik pria itu.


Lalu mencecap bibir tebal dan bervolume milik Sonia. Keduanya sama-sama menutup mata saling menikmati satu sama lain. Sonia tak menolak justru itulah perjanjian mereka jika pria itu berhasil mengeluarkan Alya. Lagipula mereka sudah cukup lama saling mengenal. Bahkan saat Sonia masih SMA mereka sudah saling mengenal.


Ruangan itu kini menjadi saksi dua orang yang tengah menikmati pemanasan untuk kenikmatan dunia.


"Mau disini atau di dalam ?" Tanya pria itu.


"Dimana saja terserah padamu." Jawab Sonia.


Pria itu tersenyum miring. "Rupanya akan terasa lebih menyenangkan, bermain di tangga belum pernah aku coba."


"Lakukanlah..." Sonia terus membelai wajah pria itu dengan sentuhan lembutnya.


Jangan ditanya, Sonia memang seorang wanita yang tak pernah tinggal diam saat apa yang diinginkannya belum tercapai dan dirinya akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Tentu cara itu sudah dipikirkannya secara matang.


Baru saja akan memulai, sebuah nada dering ponsel terdengar. Mengganggu kegiatan yang cukup menyenangkan hati dan pikiran seorang manusia.


"Shiit...!!" Umpat pria itu.


Pria itu mengangkat panggilan itu, dengan nada yang cukup lembut. Sonia hanya memutar bola matanya malas mendengar pria partner liciknya mengangkat panggilan tersebut.


"Pulang lah... Kemasi barang-barang mu jangan sampai tertinggal satupun." Ucap pria itu dengan nada biasa saja tapi memang sudah jelas intinya mengusir Sonia.


"Ck... Kenapa ? Apa kamu takut jika dia mengetahui ini semua ?" Tanya Sonia dengan wajah kesal.


"Bisakah jangan banyak bicara. Hutangmu belum lunas, pergilah dalam waktu lima belas menit pastikan tidak ada bayangmu yang terlihat di rumah ini."


Mau tak mau dengan wajah kesal Sonia pergi dari rumah tersebut. Meski begitu dirinya merasa lega karena Alya sudah terbebaskan dari jeruji besi.


Beralih dari rumah pria yang menjamin kebebasan untuk putrinya itu, Sonia yang sebelumnya belum berhasil menemui Belva kali ini kembali untuk menemui Belva.


Mengetahui jika Satya melaporkan Alya hanya demi membela anak Belva, Sonia merasa semakin membenci Belva. Dengan menggunakan taksi dirinya menuju Evankay boutique.


"Aku harus bisa menemui wanita kampung itu. Gara-gara dia, Alya harus masuk ke dalam penjara." Batin Sonia.


Tekadnya sangat bulat dan bahkan dilupakannya ancaman yang pernah Satya layangkan padanya ketika dirinya membuat keributan di butik Belva waktu lalu.


Tanpa ba-bi-bu lagi Sonia yang sudah sampai dan keluar dari mobil langsung masuk ke dalam butik Belva. Satu karyawan yang melihat Sonia naik ke lantai dua berusaha untuk menahan Sonia.


"Nyonya, anda di larang naik ke lantai dua."


"Minggir kamu, saya tidak punya urusan dengan kamu."


"Jika anda memiliki nurusan penting dengan Nona Belva. Anda bisa menunggu di bawah."


"Ck... Berisik sekali kamu."


Brak !!!


Mendengar jeritan itu semua pegawai langsung berlari menolong karyawan yang sudah terluka itu. Sonia sudah berhasil masuk ke dalam ruangan khusus milik Belva.


Brak...!!!


Pintu ruangan Belva di buka dengan kasar oleh Sonia. Belva dan kedua anaknya yang berada di dalam terkejut bukan main.


Mata Belva mendadak membulat sempurna, Duo Kay tak kalah, mereka bergetar ketakutan kala melihat wajah garang Sonia. Masih jelas diingatan mereka jika Sonia adalah seseorang yang pernah melukai Mami mereka.


"Mami.." Duo Kay berlari ke arah Belva.


Tapi sayang, Kaila kalah cepat saat Sonia meraih dirinya. Gadis kecil itu kini berada di dalam kekuasaan Sonia.


"Mamii... Hiks..." Teriak Kaila.


"Kaila..." Teriak Belva panik.


"Nyonya... Lepaskan dia, apa yang ingin anda lakukan."


"Wanita kampung, apa saja akan ku lakukan agar aku bisa membuatmu menderita. Karena dirimu dan juga anak sialan ini, Alya harus merasakan dinginnya jeruji besi."


"Ap-apa maksud anda Nyonya. Kami tak pernah melakukan apapun yang membuat Alya menderita." Ucap Belva yang merasa tak pernah melakukan apapun.


Bukankah terbalik, jika selama ini Sonia dan Alya lah yang membuat dirinya menderita. Belva tak habis pikir dengan apa.yanh Sonia katakan.


"Mami... Takuutt... Hiks...hiks..."


"Hahaha kamu takut anak sialan hum ?" Bagaimana jika kita bermain-main sediki agar kamu tak takut." Sonia tertawa dengan tawa yang mengerikan dan bermakna keburukan.


"Nyonya, lepaskan dia. Dia masih kecil Nyonya jangan membuatnya ketakutan seperti itu." Belva memohon sembari memeluk Kaili yang berada di depannya.


"Melepaskan sumber penderitaan ku ? Itu mustahil wanita kampung. Aku akan mengajaknya bermain-main sebentar saja hahaha."


Sonia mengambil gunting yang ada di dalam tasnya. Di putar-putar gunting itu pada ujung jarinya dengan tawa sinisnya.


Jantung Belva sudah berdetak kencang sekali. Takut, khawatir dan panik jika Sonia melukai Kaila.


"Kita hanya bermain saja anak manis... Bagaimana jika kita bermain salon-salonan. Kita mulai dari menggunting kuku mungkin."


Sonia menarik tangan kecil Kaila dengan kasar hingga membuat Kaila menangis kencang. Belva semakin panik, nekat Belva menggeser Kaili kesamping dan berlari menghampiri Sonia. Mendorong wanita gila itu hingga terhuyung dan jangkauan Kaila terlepas dari Sonia.


"Lari sayang... Kalian lari keluar." Teriak Belva pada Duo Kay.


Kedua bocah itu berlari ketakutan keluar dari ruangan Belva. Mereka menangis dengan kencang, para karyawan yang sebagian panik membantu karyawan yang tengah terluka dan sebagian lagi berlari naik ke lantai dua untuk menolong Belva dan juga Duo Kay.

__ADS_1


Saat Duo Kay berlari keluar mereka didapatkan oleh karyawan Belva. Merasa kasihan mereka menggendong Duo Kay.


"Mamii...hiks... Mami..." Kaila dan Kaili terus saja menangis.


"Cup...cup... Tenang sayang, jangan menangis. Ada aunty disini."


Karyawan yang menggendong Duo Kay mereka terus berusaha menenangkan Duo Kay.


"Kurni... Kamu panggil Nona Bella. Kenapa dia tak keluar mendengar keributan ini."


"Kamu lupa Nona Bella sedang keluar untuk memeriksa kain di pabrik."


"Aduh lalu bagaimana ini ?"


Mereka pun panik. "Sebentar sepertinya kita bisa menghubungi kantor Tuan Satya, meminta bantuan."


"Benar... Cepat kamu hubungi."


Karyawan Belva segera membuka buku yang berisi nomor telepon beberapa customer dan juga nomor-nomor penting lainnya. Bella kebetulan menyimpan nomor kantor Satya, saat Jordi menyodorkan kartu nama miliknya. Tertera nomor Jordi dan juga nomor kantor Satya.


Disaat karyawan Belva berusaha menghubungi kantor Satya. Di dalam ruangan Belva dan Sonia saling mempertahankan diri. Belva tak ingin lagi menjadi korban Sonia yang kalah begitu saja akibat kelemahan dan ketakutannya menghadapi Sonia.


"Kurang ajar kamu. Berani kamu dengan saya, saya bunuh kamu wanita murahan."


"Sebelum kamu membunuh saya, saya yang yang akan membunuh mu Nyonya."


Tidak ada lagi kata-kata formal dari bibir Belva. Emosi sudah menguasai wanita itu, melihat anaknya menangis ketakutan membuat emosi wanita itu campur aduk. Takut, khawatir dan juga marah.


Sreekk...


"Aah..."


Gunting yang dibawa Sonia mampu melukai lengan Belva. Sekuat tenaga Belva menahan diri agar tak lemah dan dikuasai oleh Sonia yang berujung dirinya teway mengenaskan di tangan Sonia.


Dugh..."


"Aowh..."


Belva menendang kaki Sonia tepat di tulang keringnya. Wanita itu memekik kesakitan, merasa lawannya tengah lengah, Belva menangkis lengan Sonia hingga gunting itu terlepas. Belva lantas menendang guntiy itu menjauh.


Sonia mendorong Belva hingga terhuyung dan menjambak rambut Belva. Menahan sakit Belva menginjak kaki Sonia dengan keras. Belva juga mendorong Sonia serta menampar Sonia.


Plak...


"Beraninya kamu melukai kepalaku. Jangan kamu pikir aku masih sama seperti Belva yang dulu. Yang takut padamu hanya karena kamu orang berduit."


Belva membalikkan keadaan dirinya yang menjambak rambut Sonia serta mengunci tangan kanan Sonia hingga terpelintir ke belakang punggung.


"Ah... Aowh... Lepaskan. Sakiitt..." Jerit Sonia merasakan tangannya yang kesakitan dan juga kepalanya yang terasa perih dan nyeri.


"Sakit ? Ku kira kamu orang yang tak pernah mengenal rasa sakit hingga berani dan dengan enteng menyakiti orang lain."


"Ini lah yang aku rasakan saat kalian menyakitiku. Jangan pernah bermain-main denganku lagi Nyonya Sonia yang terhormat. Apalagi menyentuh kedua anakku."


Ujar Belva dengan penuh penekanan. Rasa sakit di lengannya tak dihiraukannya. Ia akan melakukan apapun untuk melindungi kedua anaknya dari ancaman bahaya yang Sonia lakukan.


Belva kali ini berubah menjadi monster yang mengerikan bagi Sonia. Gadi polos dan bersikap manis dan sopan serta lembut bak peri baik kini berubah menjadi kasar dan kejam seperti monster yang berwajah cantik.


"Lepaskan wanita murahan !!" Teriak Sonia.


Nyuutt... Belva semakin menekan dan menarik tangan serta rambut Sonia lebih kasar lagi.


"Aauuhh..." Pekik Sonia.


"Bukankah seorang wanita murahan itu tak berpendidikan dan kasar. Seperti inilah yang kamu sebut Nyonya. Belva wanita murahan yang tentu saja akan melakukan hal-hal murahan seperti ini." Ucap Belva yang sebenarnya merasa emosi karena terus-menerus dikatakan sebagai wanita murahan boleh Sonia dan juga Alya.


***


Jordi begitu mendapatkan telepon dari karyawan butik Belva langsung berlari menuju ruangan Satya. Tak lagi menggunakan sopan santun Jordi langsung masuk begitu saja saat ruangan Satya masih ada tamu penting.


"Jordi, apa yang kamu lakukan." Tegur Satya tak suka dengan sikap Jordi.


"Tuan, maaf... Maafkan saya, bukan maksud saya bersikap tak sopan. Tapi ini gawat Tuan."


"Apa maksud mu, kamu tahu saya sedang melakukan pertemuan penting ini."


"Ini lebih penting Tuan... Karyawan butik mengatakan jika Belva dan Duo Kay dalam bahasa."


"Apa !!?" Mata Satya membulat sempurna.


"Kita harus segera kesana Tuan." Ucap Jordi.


"Tuan, mohon maaf tapi pertemuan ini harus kita akhiri dulu saat ini. Anak dan istri saya dalam bahaya, saya permisi Tuan." Ucap Satya pada kliennya.


Meski tak menyukai kejadian seperti ini, terlry terjadi di perusahaan ternama tapi klien Satya berusaha untuk memahami. Satu kata bahaya yang didengarnya yang menimpa anak dan istri Satya membuatnya mau tak mau menyetujui pertemuan segera diakhiri.


Mereka semua keluar dari ruangan Satya. Jordi dan Satya segera berlari menuju mobil. Jordi mengemudikan mobil dengan begitu cepat, bahkan satpam kantor mengumpat tak jelas dengan kelakuan Jordi. Tentu umpatan itu tak diperlihatkan dan diperdengarkan dengan jelas dihadapan Jordi maupun Satya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku...

__ADS_1


Tengkyu syekaleee masih terus setia support author. Rasanya sehari enggak update buat kalian author menyesal dan ada yang ganjel gt. Meski hanya satu bab sehari author selalu berusaha update meski kadang pas sibuk banget terpaksa gk bisa up, maafkan. 🙏🙏🙏


__ADS_2