
Satya menatap datar pada Tuti yang terus memohon padanya. Memperhatikan tingkah asisten rumah tangganya yang menampilkan raut wajah sangat menyedihkan seperti sedang teraniaya dan tersiksa.
"Kenapa kamu terus memohon seperti ini, harusnya kamu tahu seperti apa kesalahanmu." Ujar Satya dingin.
"Tuan, saya mohon saya masih ingin bekerja di sini. Saya harus membantu keluarga saya di kampung. Tolong Tuan maafkan saya." Sekuat tenaga Tuti mengiba pada Satya, menampilkan mimik wajah yang paling menyedihkan agar Satya iba padanya.
"Tidak ada alasan bagi saya untuk mempertahankan pekerjaan yang tidak bisa bekerja sesuai tugasnya."
"Tuan, tolong kasih saya kesempatan sekali saja. Saya akan bekerja dengan baik, kalau perlu saya akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan. Apa saja Tuan saya akan menurutinya." Tuti berucap sembari terus terisak.
Satya terdiam sejenak mendengar ucapan Tuti. Dia melihat seorang wanita yang menangis memohon padanya, bahkan apa yang Tuti lakukan mampu mengingatkannya pada almarhumah ibunya dulu. Sekilas hatinya merasa tersentak melihat Tuti yang terus memohon.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk membuktikan kesungguhan mu bekerja di rumah ini?" Tanya Satya.
Tuti langsung mendongak menatap Satya sekilas. "Apa saja Tuan apapun akan saya lakukan untuk Tuan agar Tuan tidak memecat saya."
"Apa saja? Benarkah?" Tanya Satya mengangkat satu alisnya.
Tuti mengangguk dengan cepat. "Iya apa saja, apa saja yang Tuan perintahkan akan saya lakukan."
Tuti menatap majikannya yang tampan rupawan itu. Satya menoleh ke kiri dan ke kanan seolah memastikan apakah ada orang di sekitarnya atau tidak.
"Mendekat lah." Titah Satya. Tuti segera mendekat pada Satya.
"Termasuk urusan pribadi?" Tanya Satya dengan nada lirih.
Tuti menatap lebih lama Tuannya, dalam hatinya sedikit merasa lega saat Tuannya mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Bagus, ini yang kutunggu. Apapun akan kulakukan termasuk melayaniku secara pribadi, Tuan. Justru hal ini yang selalu kunantikan." Gumam Tuti dalam hati.
"I-iiya Tuan, termasuk urusan pribadi Tuan. Apapun itu semua saya akan menurut pada Tuan. Menyiapkan baju atau keperluan Tuan yang lain saya siap." Ujar Tuti.
"Termasuk urusan ranjang?" Tanya Satya berbisik.
"Tu-tuan yakin?" Tanya Tuti.
"Jawab pertanyaan saya."
"Iya... Iya termasuk hal itu saya akan lakukan."
"Terpaksa melakukan nya agar tetap berada di sini? Jika tidak sanggup jujur saja." Ujar Satya.
"Tidak Tuan, saya sanggup dengan senang hati akan melayani anda kapanpun anda mau." Ujar Tuti dengan mantap.
Satya tersenyum sinis. "Saya suka dengan jawaban jujur mu. Tapi saya tidak yakin kamu memiliki pengalaman dalam bidang itu."
Tuti tersenyum, merasa bahwa majikannya sudah mulai luluh atas sikap mengiba yang ia lakukan. Kesempatan ini akan Tuti ambil sebaik mungkin, ini adalah langkah awal bagi dirinya untuk masuk ke dalam kehidupan Satya sesuai dengan apa yang sudan di rencanakan nya selama ini.
"Anda mau membuktikannya, Tuan. Saya siap jika Tuan ingin membuktikan pengalaman saya sekarang juga."
__ADS_1
"Oke, kita ke kamar mu sekarang." Titah Satya.
"Berdiri lah dan berjalanlah lebih dahulu. Saya tidak mau para pekerja di sini berpikir yang tidak-tidak padaku." U
Imbuh Satya.
"Baik Tuan, terimakasih atas kesempatan yang anda berikan. Saya akan melakukannya dengan sebaik mungkin agar anda merasa puas dengan servis yang saya berikan. Mari Tuan."
Tuti berjalan lebih dahulu menuju kamarnya. Satya mengikuti Tuti dari arah belakang tapi mengambil jeda cukup lama agar tidak berjalan berbarengan dengan asisten rumah tangga itu. Pria itu tidak ingin ada pekerja yang mencurigai dirinya bermain serong dengan Tuti. Jangan sampai ada gosip yang mengatakan bahwa dirinya mengambil kesempatan dalam kesempitan atau menggunakan kedudukannya untuk kesenangannya sendiri.
Setelah Satya merenovasi rumah nya maka dia juga memindahkan kamar para asisten rumah tangga di bagian paling belakang sedikit terpisah dengan rumahnya. Bisa disebut paviliun untuk mereka semua.
Satya masuk ke dalam paviliun itu setelah Tuti berjalan masuk lebih dulu. Ternyata Janis berada di sana dan melihat Satya, pria itu terkejut. Satya langsung memberikan kode jari telunjuk nya di depan bibir lalu menghampiri Janis sesaat.
"Tutup mulut dan jangan membuat keributan untuk sekarang." Ujar Satya.
"B-baik Tuan."
Janis mengerutkan keningnya merasa aneh mengapa sikap Tuannya seakan-akan diam-diam masuk ke dalam paviliun. Tuti berdiri di depan pintu kamarnya, ia melihat Janis yabg juga menatap dirinya. Senyum sinis Tuti berikan pada Janis lalu tatapnya beralih pada Satya.
"Mari Tuan, silahkan masuk." Ujar Tuti dengan suara lembut dan manis. Ia membuka pintu kamar itu lebar-lebar.
"Ekhem, ini kamar mu?" Tanya Satya.
"Sedikit bermain-main dengannya, aku rasa tidak salah." Gumam Satya dalam hati sembari tersenyum licik.
"I-iiya Tuan, apa anda tidak nyaman di sini? Saya menurut saja anda mau membawa saya ke mana."
Tuti tersenyum manis, sedikit langkahnya akan semakin mudah mendekati Satya.
"Masuklah dan kemasi barang-barang mu sekarang juga tanpa tersisa sedikitpun." Ucap Satya dengan tegas dan dingin.
Wajah Tuti terlihat bingung. "Hah? M-maksud anda bagaimana, Tuan?"
"Apa kamu tuli? Masuk dan kemasi barang-barang mu sekarang juga. Dan segeralah pergi dari sini."
"Saya membutuhkan asisten rumah tangga bukan pem*uas naf*su. Kamu salah tempat untuk bekerja."
"**-tapi Tuan, bukankah..."
"Istri saya jauh di atas mu. Jadi jangan bermimpi terlalu tinggi."
"Cepatlah pergi dari sini jika kamu masih memiliki harga diri. Jangan membuat saya merendahkan harga diri seorang perempuan karena sikapnya yang sudah jelas merendahkan harga dirinya sendiri."
Satya langsung berlalu meninggalkan Tuti, dia melewati Janis yang masih berdiri di balik tembok untuk mencuri dengar karena merasa aneh dan penasaran pada majikannya.
"Apa kamu menguping?" Ujar Satya mengejutkan Janis.
"Eh! T-tuan... M-maaf saya... Saya tidak bermaksud seperti itu." Janis tertunduk takut pada Satya.
__ADS_1
"Tidak masalah. Kamu awasi dia pastikan dia mengemasi seluruh barangnya tanpa tersisa sedikitpun." Ujar Satya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke rumahnya sendiri.
Satya sengaja memancing sikap busuk Tuti demi mengetahui lebih jauh apakah memang benar Tuti menginginkan dirinya. Jika seorang wanita baik-baik maka tentu akan menolak hal itu dan pasti akan terlihat terpaksa jika harus melakukan hal itu. Sepanjang Satya memperhatikan Tuti, tidak ada raut wajah terpaksalah dan tertekan untuk melakukan permintaan nya yang bisa dibilang tak sopan. Bukan bermaksud merendahkan hanya saja tujuannya untuk membuktikan kebenaran dari situlah Satya benar-benar paham jika memang Tuti bukan perempuan baik-baik dan mau melakukan segala cara licik agar tetap bisa meraih tujuannya.
Cara itu Satya lakukan demi menghindari seseorang atau segala kemungkinan yang bisa merusak keutuhan rumah tangganya. Sejujurnya Satya merasa risih dan jijik saat Tuti mencoba menggoda dirinya dengan sikap lembut dan manis untuk menarik perhatian dan simpatinya.
Belva sudah menjadi segalanya untuk Satya, tidak mungkin Satya berpaling begitu saja pada Tuti yang notabene jauh di bawah isterinya. Sekelas Sonia saja Satya lepaskan tanpa ragu, sekelas Sarita saja Satya tolak mentah-mentah bahkan merasa jijik apalagi sekelas Tuti yang tidak ada apa-apa nya. Jika di kampung mungkin oke lah para pria akan tergiur pada perempuan itu tapi seorang Aryasatya Balakosa tentu saja tidak akan tertarik sama sekali.
Jebakan yang Satya berikan rupanya cukup ampuh membuat Tuti dengan mudah masuk ke dalam perangkap. Tabiatnya yang sudah buruk dan mudah melemparkan tubu*hnya membuat Tuti tak berpikir panjang dan menyamaratakan jika semua pria pasti akan sama, mudah tergoda jika ditawarkan kenikmatan.
Keputusan Satya memecat asisten rumah tangganya itu sudah sangat tepat. Apapun demi istri dan anak-anaknya akan dia lakukan agar mereka merasa nyaman, aman dan tenang. Kebahagiaan tiga orang itu sangat penting untuk Satya.
"Cepatlah sedikit, Tut. Aku ada pekerja lain. Tuan Satya menyuruhku untuk mengawasi mu berkemas." Ujar Janis.
"Diam kamu!!" Bentak Tuti.
"Cih, pantas saja dipecat sikapmu memang buruk." Cibir Janis.
Tuti menatap Janis dengan kesal. Rupanya cara yang dia lakukan untuk membujuk sang majikan gagal total padahal dirinya sudah merasa sedikit lagi berhasil untuk bertahan di rumah besar Satya.
"Sia*lan!! Tuan Satya mempermainkan ku. Awas saja nanti aku tidak akan tinggal diam." Gumam Tuti dalam hati yang merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Satya.
Perempuan itu sudah cukup lama bekerja di rumah besar Satya, bukan hanya satu bulan atau dua bulan saja. Namun, dirinya tak mengetahui sikap asli dari sang majikan. Bukan salahnya juga karena memang Satya tak dekat dengan para pekerja dan juga jarang pulang karena lebih sibuk dengan pekerjaannya.
Yang jelas Tuti bukanlah tandingan bagi Satya maupun Belva saat ini. Satya akan melakukan apapun untuk menyingkirkan orang-orang yang menjadi batu kerikil dalam hidupnya.
****
Di sebuah rumah, seseorang sedang terlihat diam duduk di kursi kesayangannya. Menatap satu lembar foto yang diambil beberapa tahun terakhir. Ditatapnya cukup lama foto tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya seseorang tersebut.
"Dia, menghilang, bos. Kami belum mendapatkan tanda-tanda dimana dia berada."
"Lalu dua orang itu bagaimana?"
"Menjalani hukuman mereka sesuai tuntunan." Jawab seorang pria bertubuh kekar dan berkaos hitam dengan jaket kulitnya yang juga berwarna hitam.
"Pria itu, aku harus menyingkirkan pria itu. Aku sudah muak dengan tingkahnya, semua dengan mudah bisa dia lakukan." Geram seseorang yang mulai meremas satu lembar foto digenggaman tangannya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Satu lagi batu kerikil tak berguna dalam kehidupan Satya sudah out ya hehe... Ada lagi tuh yang misterius siapakah dia? Simak terus novel receh nya hehe
Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini kalian luar biasa. Terimakasih banyak atas Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya. 🙏🙏🙏
__ADS_1
Semoga menghibur, bahagia selalu dan sehat selalu guys. 🤗❤️🙏