Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 89. Skin To Skin


__ADS_3

Semakin malam hujan semakin deras di luar sana. Seharusnya hujan membuat sebagai orang merasakan kedinginan. Sedikit berbeda dengan Satya tubuhnya terasa sangat panas sekali saat Belva menyentuh kulit pria itu. Wanita itu beberapa kali mengganti air dingin untuk mengompres kening Satya.


Lelah di tubuh Belva ternyata tak bisa hilang begitu saja. Wanita itu akhirnya tertidur di samping ranjang Satya. Meski tertidur dalam posisi duduk ia tetap saja bisa tertidur pulas seakan merasa nyaman.


Tengah malam, Satya terbangun. Pria itu merasa tubuhnya kedinginan, dia menggigil. Tapi melihat kepala seseorang tertelungkup di kasur, dia tahu siapa orang tersebut. Belva, Mami dari anak-anak nya.


Disentuhnya kepala Belva dengan usapan lembut. Meski dirinya terasa kedinginan dan mengigil, melihat Belva mau merawat dirinya hingga tertidur seperti itu membuatnya merasa senang dan bersyukur.


"Pasti tidak nyaman." Batik Satya.


Sekuat tenaga Satya bangun dari tempat tidurnya. Pria itu lebih memilih turun dari ranjang untuk mengangkat tubuh Belva dan dibaringkannya di atas ranjang miliknya.


Wanita itu menggeliat saat diangkat oleh Satya. Kelopak matanya tak terbuka meski sedikit merasa terganggu. Kantuk dan lelah melebur menjadi satu membuatnya begitu merasa malas membuka mata. Seakan kelopak matanya telah diberikan lem hingga terasa berat untuk dibuka.


Selimut tebal itu tak hanya menutup tubuhnya saja melainkan Satya juga membaginya untuk Belva. Dia mencoba tidur kembali tapi rasanya sangat susah akibat tubuhnya yang terasa kedinginan dan mengigil. Satya bergerak kesana-kemari untuk menenangkan dan menyamankan tubuhnya.


Pergerakan Satya tak hanya sekali dua kali, hal itu membuat Belva merasa terganggu karena ranjang itu terus bergerak dan bergoyang.


Kening Belva mengerut, menatap langit-langit ruangan tersebut terasa asing dan berbeda. Kepalanya menoleh ke samping, terlihat wajah tampan pria yang dikenalnya.


"Om... " Gumam Belva lirih.


Satya membuka matanya menatap Belva. Wajah pria itu tampak terlihat pucat sekali. Keringat pun terlihat di kening dan wajah Satya.


"Loh kenapa aku bisa tidur di atas ranjang ?" Batin Belva menyadari dimana posisi tubuhnya saat ini.


"Kenapa gelisah ?" Tanya Belva.


Reflek tangannya terulur pada Satya. Mengecek suhu tubuh Daddy dari kedua buah hatinya. Masih terasa panas tapi Satya terlihat mengigil.


"Masih panas." Gumam Belva.


"Dingin..." Gumam Satya lirih.


"Dingin ? Tapi badanmu panas sekali." Belva bingung harus bagaimana.


Deru napas Satya terdengar tak beraturan. Mencoba menyesuaikan keadaan tubuhnya yang tak nyaman.


"Dingin Mam..." Gumam Satya mengigil.


"Aduh bagaimana ini ?" Gumam Belva cemas dan panik.


"Kita ke rumah sakit saja." Ucap Belva. Tapi Satya menggelengkan kepalanya.


"Hubungi Jordi." Titah Satya.


"Hah buat apa ?" Tanya Belva bingung.


Satya tak menjawab, dirinya fokus dengan apa yang dirasakannya. Belva tanpa pikir panjang mencari ponselnya. Tapi tak bisa ditemukannya.


"Pakai ponsel saya." Ucap Satya.


Dengan cepat Belva meraih ponsel Satya, ia sangat panik saat ini. Belum pernah dirinya mengurus sendiri seseorang yang tengah demam tinggi seperti itu. Ketika kedua orang angkatnya sakit pasti langsung segera dibawa ke rumah sakit. Memang pernah saat Kaila ataupun Kaili sakit demam dirinya memberikan obat penurun panas dan jika tak mampu maka dirinya akan melakukan skin to skin pada kedua anaknya. Tidak mungkin jika Belva melakukan itu pada Satya bukan ?.


"Sandinya apa ?" Tanya Belva.


"Angka Nol empat kali." Jawab. Satya lirih sembari menggigil.


Panggilan akhirnya tersambung dengan Jordi. Suara pria itu terdengar serak khas orang bangun tidur.


"Hallo Tuan selamat malam, ada apa Tuan menghubungi saya malam-malam begini ?"


"Ha-hallo Tuan Jordi." Ucap Belva sedikit ragu tapi juga cemas.


"Ya ? Ini siapa ? Apa yang terjadi dengan bos saya ?" Jordi masih belum sadar jika itu suara Belva.


"Belva, Tuan... Ini saya Belva. Tuan Satya demam tinggi. Sepertinya harus dibawa ke rumah sakit. Bisakah anda kesini ?"


"Oh Nona Belva... Maaf Nona, disini hujan sangat deras sekali. Pasti di beberapa jalan tergenang banjir. Pertolongan pertama berikan saja obat padanya."


"Tidak ada obat disini. Bagaimana ini ?"


"Kalau begitu kompres saja." Ucap Jordi.


"Sudah... Tapi tidak juga turun, justru saat ini mengigil kedinginan tapi tubuhnya panas sekali."

__ADS_1


"Skin to skin." Ucap Jordi singkat.


"Hah ?!! Skin to skin ? Ti-tidak salah itu ? Mana bisa seperti itu, itu hanya efektif untuk anak-anak atau bayi saja."


Ide konyol yang diberikan oleh Jordi padanya. Sebelumnya saja dirinya sudah berpikir bahwa hal itu tak mungkin dilakukannya.


Satya adalah seorang pria normal. Ditambah diantara mereka tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan adanya dua orang anak diantara mereka.


Semakin buntu saja pikiran Belva saat ini. Melihat wajah Satya yang tampak sangat pucat serta tubuh yang bergetar akibat mengigil, Belva merasa tak tega. Tapi ia tak bisa melakukan apa yang disarankan boleh Jordi. Sudah gila jika itu sampai terjadi.


"Efektif atau tidak untuk orang dewasa tapi setidaknya mencoba saja. Lagipula itu bisa saja menetralkan suhu tubuh Tuan Satya.


"Tuan... Apa anda sudah gila ? Bos mu itu bukan anak kecil. Bagaimana bisa saya melakukan hal itu."


"Itu hanya saran dari saya saja Nona. Pertolongan yang mendesak, tapi jika anda tega melihat Tuan Satya seperti itu ya sudah jangan lakukan. Orang sakit itu dalam keadaan lemah tidak akan mungkin berbuat macam-macam."


"Tapi..."


"Nona, bisakah saya berisitirahat sekarang ? Pekerjaan dari suami mu itu sungguh banyak dan berat. Saya butuh istirahat." Ujar Jordi dengan cuek dan santainya.


Mata Belva membulat mendengar ucapan asisten Satya. Tiba-tiba saja Jordi menjadi orang menyebalkan bagi Belva saat ini. Pria itu enteng sekali mengatakan Satya adalah suaminya dan memberikannya saran yang gila.


"Selamat malam Nona. Saya mau istirahat."


Sambungan ponsel terputus begitu saja saat Belva masih ternganga mendengar ucapan Jordi yang enteng sekali itu.


"Haiiisshh... Kenapa pria itu menjadi menyebalkan seperti itu." Gumam Belva kesal.


"Dingin... Dingin Mam..." Satya sudah sama seperti seorang anak kecil yang merengek pada Maminya.


Mata Belva beralih pada Satya yang bergumam mengeluhkan apada yang dirasakan tubuhnya saat ini. Wanita itu meringis mengigit bibir bawahnya. Berpikir keras apa yang harus dilakukannya saat ini.


"Kalau aku tidak menolongnya dengan hal itu, dia mati tidak ya ?" Batin Belva terus bergumam.


"Kalau dia kenapa-kenapa bagaimana ?"


"Anak-anak pasti sedih, aduh bagaimana ini. Astagaaa kepalaku mendadak pusing."


Belva frustasi dan cemas saat ini. Satya terus saja merintih tak jelas. Mungkin perlahan kesadaran pria itu akan menurun dan tidak akan fokus lagi. Mengingat suhu tubuh yang tinggi pasti seseorang akan tak sadar meracau tak jelas.


Berat untuk melakukan apa yang menjadi saran Jordi. Wanita itu kembali merebahkan tubuhnya tanpa sadar. Ia memilih untuk tidur saja. Berbaring menghadap langit-langit kamar Satya.


"Haahh... Anggap saja aku orang gila yang menolong orang sakit." Gumam Belva dalam hati.


Ia merasa tak tega dengan keadaan Satya. Pria yang selama beberapa hari terakhir selalu ada untuknya terlebih selalu siap siaga untuk si kembar.


"Dia lemah jadi tak akan terjadi apapun. Oke... Tenang Belva... Tenang..." Gumam wanita itu dalam hati menenangkan diri.


Sekelebat bayangan saat Satya memaksa untuk mencium dirinya kembali terlintas. Jantung Belva berdehuy sangat kencang. Digelengkan kepalanya mengenyahkan bayangan kelam itu. Kembali ditatap wajah Satya yang pucat dan terlihat lemas. Belva kembali meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk menolong saja.


Dihembuskan napas nya secara perlahan menenangkan diri kembali. "Huuufft... Tenang... Semua akan baik-baik saja. Percayalah niat mu baik Belva."


Ia terus menyakinkan dirinya, perlahan wanita itu mulai tenang. Nekat dibukanya kaos miliknya dan hanya menyisakan sebuah pembungkus kinderjoy berukuran besar dan juga celana pendek selutut miliknya.


Tak hanya itu Belva juga menyingkap kaos Satya saja saat pria itu terpejam lemas. Tanpa membuka kaos itu karena bisa saja membangunkan pria itu dari tidurnya. Lebih baik Satya tertidur saat dirinya melakukan skin to skin dengan caranya sendiri.


Dipeluk pria itu sebentar saja agar suhu tubuh Satya menurun. Niat hati hanya sebentar tapi ternyata dirinya perlahan merasakan kantuk. Tanpa sadar Belva kbali tertidur dengan memeluk Satya dengan setengah polos.


Beberapa jam Satya merasa suhu tubuhnya mulai sedikit membaik, pria itu sudah tak mengigil lagi. Matanya terbuka karena terasa kerongkongannya kering. Satya dapat melihat dengan jelas wajah cantik Belva yang tengah tertidur pulas. Pria itu tersenyum.


"Cantik." Gumam Satya lirih.


Sedetik kemudian dia merasa asa sesuatu yang menempel di dadanya dan juga pinggang. Disingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan juga Belva hingga sebatas leher.


Mata Satya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tangan Belva melingkar pada pinggang dan juga dua buah benda kenyal dan empuk menempel pada dadanya meski terhalang pembatas kain milik Belva.


"Apa yang terjadi ?" Batin Satya. Pria itu berpikir keras.


Tidak mungkin Belva mau melakukan hal yang tak sopan seperti ini. Satya sangat tahu bagaimana sifat dan sikap Belva padanya. Mencoba memutar memori nya atas apa yang terjadi sebelumnya. Dia ingat saat Belva berbicara menggunakan ponselnya. Samar-samar tapi dengan jelas dia mendengar pekikan Belva saat mengatakan skin to skin.


Kembali bibir Satya tersenyum dengan sangat jelas saat ini. Rasanya tidak ingin melepaskan tangan Belva yang melingkari pinggangnya itu. Tapi tenggorokannya sudah tak nyaman. Dengan terpaksa dirinya harus mengurai tangan Belva dan mengambil air minum di atas nakasnya.


Terasa lega sekali, diceknya sendiri suhu tubuhnya dengan punggung tangannya sendiri. Masih terasa panas tapi tak seperti sebelumnya yang dia rasakan. Satya melepaskan kaosnya sebelum kembali membaringkan diri. Sebuah kebiasaan saat tidur tanpa menggunakan kaos.


Tapi sayang Belva sudah berbalik arah membelakangi nya. Tak mengapa Satya masih bisa memeluk wanita itu. Tak melewatkan kesempatan Satya memanfaatkan keadaan. Dipeluk tubuh wanita itu dari belakang.

__ADS_1


"Shiitt..." Satya mengumpat.


Sesuatu yang selalu tersembunyi itu bereaksi dengan cepat. Dirinya pria normal seratus persen. Dihadapkan dengan sesuatu hal yang menggoda iman tentu saja membuatnya tak tahan.


Tangannya bergerak cepat membuka pembungkus kinderjoy berukuran besar itu dengan sangat mudah. Tangannya sedikit menyentuh bagian tersembunyi milik Belva itu.


"Astaga, apa aku boleh memegangnya. Otakku mendadak menjadi pria mesum." Batin Satya.


Akhirnya tak tahan Satya memegang kinderjoy berukuran besar itu dengan gerakan lembut. Dirinya menggeram tertahan, sesuatu dibawah sana terasa sudah tak nyaman. Kulit Belva terasa sangat lembut selembut sentuhan yang diberikannya pada Belva. Sekuat tenaga Satya menahan hasrat terpendamnya agar tak beranjak dari ranjang besar itu. Dirinya ingin menikmati kebersamaan dengan Mami dari anak-anaknya itu.


"Semoga hal seperti ini akan kembali terjadi suatu saat nanti sayang." Gumam Satya. Dia mengecup bahu Belva.


Dirinya tak memikirkan jika nanti Belva akan sangat marah padanya. Kalaupun Belva marah atas apa yang dilakukannya. Maka dengan langkah tegas dirinya akan segera menikahi Belva. Kembali Satya memejamkan mata, tidur dengan memeluk wanitanya. Belum menjadi wanita miliknya secara utus karena belum ada ikatan resmi diantara mereka. Tapi Satya sudah berani menyatakan pada dirinya sendiri jika Belva adalah wanitanya.


Pagi tiba, sisa-sisa hujan masih saja terasa. Genangan air berada dimana-mana. Bahkan sebagian jalan masih basah. Namun, hiruk pikuk ibukota tetaplah berjalan sesuai kebiasaannya. Ramai meski sehabis hujan besar sekalipun jika tak banjir semua tetap berjalan normal.


Belva menggeliat dibalik selimut tebal berwarna hitam milik Satya. Terasa berat tubuhnya, paha dan perutnya sangat terasa. Dibukanya mata untuk menyesuaikan cahaya. Penasaran apa yang membuat tubuhnya berat Belva menyingkap selimut tebal itu.


Matanya membulat dengan mulut menganga. "Astaga !!! Aaaaa...!!!" Jerit Belva.


Satya yang sebenarnya sudah bangun dan hanya tidur ayam pun terkejut dengan jeritan Belva.


"Kenapa berteriak." Ucap Satya datar dengan suara serak khas bangun tidur.


"Apa yang kamu lakukan !!" Pekik Belva marah pada Satya.


"Kenapa ?" Satya bertanya dengan polosnya seakan tak terjadi apapun.


"Singkirkan tangan dan kakimu." Belva mencoba menghempas tangan dan kaki Satya tapi pria itu tak bergeming.


"Diamlah... Saya masih mengantuk." Satya kembali memejamkan matanya.


"Singkirkan tanganmu !!" Ucap Belva kesal dengan berteriak wajah menghadap Satya tapi tubuh tetap berada di posisi miring membelakangi Satya.


Satya kembali membuka mata.


Cup...


Pria matang berstatus duda itu mengecup bibir Belva singkat dengan sedikit *******. Membuat mata Belva kembali membulat sempurna.


"Berhenti berteriak." Ucap Satya.


"Apa yang... Aakhh..."


Kalimat dan gerakannya yang akan berusaha menghindar dari Satya itu tak mampu dilanjutkan Belva karena Satya dengan beraninya merem**as kinderjoy berukuran besar milik Belva.


"Diam dan tenanglah. Saya masih mengantuk."


"Kamu jangan kurang ajar ya." Ucap Belva yang sudah mengangkat tangannya untuk memukul Satya.


Tangan itu dengan cepat ditahan oleh Satya. Pria itu menatap intens kedua manik mata Belva dengan sangat serius. Membuat wanita dua anak itu merasa sedikit menciut nyalinya dan terdiam tanpa kata.


Gerakan cepat Satya mengubah posisi tidurnya hingga berada tepat di atas Belva. Telapak tangan kekarnya mencengkram kedua pergelangan tangan Belva.


"Saya akui perbuatan saya ini memang kurang ajar padamu. Saya pria normal Belva, saya seorang pria yang pernah berumah tangga. Kamu pasti paham bahwa saya tidak akan tahan melihat hal seperti ini." Ucap Satya beralih pada dua buah kinderjoy itu.


Belva semakin mengerut nyalinya. Takut jika Satya berbuat macam-macam padanya. Rasanya sangat malu sekali Satya menatap dirinya seperti itu. Wajahnya memerah akibat Satya yang menatap benda rahasianya.


"Lepas !! Lepaskan aku !!! Kamu laki-laki kurang ajar !!" Mata Belva berkaca-kaca.


"Pelankan suaramu sayang. Anak-anak pasti akan terganggu." Ucap Satya berbohong. Sejujurnya kamarnya kedap suara.


"Minggir apa yang kamu lakukan. Dasar pria brengsek !!" Belva kesal dan marah pada Satya. Air matanya sudah mengalir.


"Jangan menangis. Saya memang pria brengsek tapi hanya padamu saja. Bukan karena kamu wanita rendahan tapi karena saya memang menginginkanmu sebagai wanitaku." Ucap Satya dengan sangat serius. Tatapannya lembut meski suaranya terdengar datar.


"Apa maksud mu. Lepaskan !!" Belva masih saja terus memberontak untuk lepas dari Satya.


Pria itu justru mencium kedua mata Belva secara bergantian. "Sstt... Diamlah. Jadilah wanita yang manis sayang. Atau bisa saya pastikan jika Kaili dan Kaila akan segera mendapatkan adik mereka saat ini juga." Bisik Satya pada telinga Belva.


Membuat wanita itu merinding bukan main. Satya terlihat sangat serius sekali. Tak dak ada senyum sama sekali hanya wajah datar. Meski tatapan pria itu terlihat jelas menatap lembut Belva.


****


To Be Continue...

__ADS_1


Wah Om Satya sudah mulai nekat dan nakal 🤭


Thank you my dear para readers ku yang masih setia support. I Love You All.


__ADS_2