Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 134. Babak Baru


__ADS_3

Belva dan Satya masih berada di dalam kamar mereka, duduk berdua di sofa bersisihan dengan Satya yang selalu merangkul erat bahu sang istrinya, menyandarkan kepala istrinya pada bahu miliknya.


"Masih marah dengan mas hemm?"


"Masih kesal saja." Jawab Belva bersandar pada suaminya.


Satya menghela napas, "Besok ikut mas ke kantor."


"Untuk apa?" Tanya Belva.


"Ikut saja jangan membantah suami."


"Tapi aku harus bertemu dengan Nona Azura dan Marko. Besok mas harus ikut."


"Kenapa mas harus ikut?"


"Mas harus minta maaf pada Marko dan Nona Azura karena mas memukul Marko."


"Dia juga memukul mas." Satya berucap tak terima.


"Mas, itu karena kamu yang pukul dia lebih dulu makanya dia membalas."


"Siapa suruh jalan berdua dengan istri orang." Ujar Satya.


"Mas." Panggil Belva dengan nada kesal.


"Iya... Iya... Besok kita pergi sama-sama setelah dari kantor mas."


Satya mengalah saat melihat istrinya menunjukkan kekesalannya. Dia tak ingin kembali ribut bersama sang istri.


"Besok aku tidak mau mas harus meminta maaf lebih dulu. Aku tidak enak mas dengan mereka, Nona Azura itu putri Nyonya Dimitri sudah langganan sejak di butik Mama. Marko itu teman aku karena dia, aku dan bayi-bayi ku dulu selamat dari maut kalau tidak ada Marko mungkin aku dan bayi-bayi ku sudah mati."


"Ssst... Kamu bicara apa sih yank mati-mati segala. Bayi-bayi mu itu juga bayi-bayi ku, kalian masih hidup jangan bicara yang tidak-tidak." Ucap Satya tak suka.


"Iya maksud aku itu Marko yang sudah menyelamatkan aku saat aku hamil dulu. Jadi, mas tidak boleh bersikap seenaknya pada Marko."


"Kamu membela pria lain bahkan dihadapan suami mu, sayang."


"Bukannya membela mas, tapi ih tahu ah kesal aku loh sama kamu."


Belva hendak beranjak karena masih keala dengan Satya tapi ditarik kembali oleh Satya.


"Jangan kemana-mana. Iya mas besok akan minta maaf."


Satya mendekap sang istri. Perlahan wajahnya mendekat ke arah bibir sang istri tapi Belva memundurkan wajahnya dan menahan wajah sang suami dengan telapak tangannya.


"Mau apa kamu, mas?"


"Mau ciu*m istri mas lah mau apa lagi." Ucap Satya sedikit kesal karena istrinya menahan wajahnya.


"Tidak ada ciu*m-ci*um, bibir kamu terkontaminasi sama bibir wanita itu."


"Kenapa? Saat itu mas juga langsung mencium mu tidak apa-apa."


"Itu kamu memaksa mas, jujur ya sebenarnya aku jijik kamu ciu*m waktu itu. Maaf nih bukan mau buat kamu sakit hati, tapi yang benar saja kamu habis berciu*man dengan wanita itu lalu kamu men*cium ku." Ucap Belva dengan wajah sinis dan jijik.


"Sayang, mas harus bagaimana lagi bicara sama kamu. Mau bilang tidak berciu*man tapi dia yang nyosor lebih dulu, baru mau melepaskan diri kamu keburu datang mengira yang tidak-tidak pada mas."


"Lalu harus bagaimana ini ? Masa iya bibir mas harus di potong buat menghilangkan bekas ciu*man itu." Imbuh Satya mulai merasa frustasi.


"Amplas bibir kamu mas, semprot handsanitizer biar kuman dari bibir wanita itu hilang baru kamu boleh ciu*m-ciu*m aku."


"Yank, seminggu loh mas tidak sentuh-sentuh kamu, tidak peluk kamu tidak cium kamu. Mas tidak bisa seperti itu terus, yank."


"Siapa suruh satu minggu menghilang." Ucap Belva cuek.


"Demi kamu yank, biar kamu tidak marah-marah terus kalau lihat wajah mas. Kamu bawaannya emosi kan lihat mas, mau kasih penjelasan sama kamu saja kamu tidak mau dengar kamu usir mas jadi lebih baik mas pergi saja dulu biar kamu nya lebih tenang. Eh malah mas yang tidak bisa tenang, kamu di chat tidak mau balas. Sekali nya lihat kamu malah sedang jalan bersama pria lain, bagaimana mas tidak emosi."


Satya mencurahkan isi hatinya kala memilih menahan diri berpisah dengan sang istri agar tak terus menerus terjadi pertengkaran diantara mereka. Belva yang mendengar curahan hati sang suami tersenyum tipis lalu memeluk sang suami.


"Iya aku juga minta maaf mas, habis aku sakit hati sekali waktu itu, kecewa, kesal. Ya bagaimana sih lihat suami aku mesra-mesraan sama perempuan lain."


Satya membalas pelukan sang istri dengan erat. "Mas tahu bagaimana perasaan kamu karena mas juga merasakannya."


"Jadi, kita sudah tidak marahan lagi kan?" Satya memastikan sang istri.


"Menurut mas? Apa kita harus bertengkar lagi? Aku masih kesal loh sama kamu."


"Jangan dong yank." Ucap Satya dengan nada manjanya yang membuat Belva merasa geli saat mendengarnya.


Satya memeluk istrinya mencium bahu Belva lalu menjatuhkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma tubuh wanitanya yang pasti kecupan mendarat di leher putih milik sang istri.


"Mas."


Satya diam tak menghiraukan panggilan sang istri, dia terlalu menikmati kesibukannya yang tertahan selama seminggu ini. Pergerakan Satya mulai semakin intens tangan secara otomatis menjalar kemana-mana seimbang dengan otaknya yang menginginkan sesuatu.


"Emh... Mas."


"Daddy merindukan Mami. Boleh ya." Ucap Satya menahan perasaan dan keinginannya.


"Tapi mas..."


Satya membawa tangan sang istri untuk membuktikan sesuatu yang besar.


"Si Japus kedinginan, Mam seminggu di luar. Mami tidak kasihan dia butuh yang hangat-hangat."


Sudah tahu keinginan suaminya seperti apa, keinginan yang menjadi sebuah kewajiban bagi Belva sebagai seorang istri. Pergerakan Satya yang tak berhenti barang sejenak saat pria itu meminta membuat tubuh Belva tak bisa menolak. Perlahan tangan Belva mengusap lembut tepat di barang langka dan istimewa yang masih terlindungi oleh pintalan benang.


Tentu hati Satya merasa sangat bahagia, permasalahannya dengan sang istri sudah terselesaikan ditambah bonus yang selalu dia nantikan selama satu minggu ini.


"Bukain Mam, di elus terus." Pinta Satya.


Belva menuruti sang suami, sama-sama tahu apa yang harus dilakukan. Rupanya meski masih merasa kesal dengan sang suami tapi reaksi tubuhnya secara alami tak bisa menolak.


Satya memejamkan mata sesekali pergerakan tangannya sendiri pada perbukitan berkerikil yang masih tertutup sempurna itu terhenti hanya untuk menikmati sentuhan lembut sang istri.


Tak tahan lagi Satya langsung menyerang bi*bir sang istri, menikmati segala sentuhan dan kelembutan dari semua yang ada pada sang istri. Entah bagaimana bisa terjadi Satya sudah tanpa pintalan benang lalu mengangkat tubuh sang istri ke atas ranjang, mengupayakan agar hal serupa terjadi pada sang istri. Pemanasan awal sebelum berperang telah Satya mulai dari sentuhan, kecupan dan Lum*Atan. Sore itu menjadi sore yang syahdu bersamaan dengan tenggelam nya matahari, barang langka Satya pun ikut tenggelam ke dalam lorong tersembunyi semakin dalam.


"Ahh..."


"Mamhh..." Panggil Satya dengan kenikmatan nya.


Belva tak menjawab, ia hanya memejamkan matanya dan tangannya membelai lembut tengkuk dan punggung sang suami. Ia pasrahkan segala kenikmatan pada suaminya, gencatan yang lembut perlahan memborbardir dirinya dengan keras.


"Daaddhh... Ahh pelan-pelan."


Satya tak perduli suara lirih nan menggoda dari istrinya. Has*ratnya sudah menggebu, fantasinya sudah ingin mengalir begitu saja sesuai apa yang ada di dalam kepalanya.


"Maaf Mam... Hhhh... Daddy tak tahan."

__ADS_1


Ledakan nuklir terjadi kembali di dalam lorong tersembunyi tersebut. Gesekan yang terjadi membuat senjata nuklir itu kian memanas dan akhirnya meledak. Belva merasakan kehangatan di dalam rahimnya. Sebelum nuklir itu meledak, lorong itupun sejatinya sudah banjir terlebih dahulu.


Hal serupa terjadi hingga beberapa kali yang membuat Belva tak bisa menolak sedikitpun. Hanya kelelahan yang tergambar di wajahnya yang mampu membuat sang suami akan berhenti menggempur teritorial nya.


Setiap kali usai melakukan peperangan sengit Satya selalu mengusap lembut perut sang istri yang masih rata. Pria itu tak mau menunda untuk kembali memiliki anak dari istri cantiknya itu.


"Lelah? Tanya Satya masih membelai perut sang istri.


Belva mengangguk, "Nanti kita masih jemput anak-anak, kamu malah membuatku lelah."


Satya mengecup bibir sang istri sekilas.


"Biar mereka di sana saja satu malam." Ujar Satya.


"Tidak bisa seperti itu, jangan egois kasihan mereka nanti kita sudah janji menjemput mereka."


Satya menghela napas, dia seakan tak bisa bersaing memenangkan Belva dari kedua anaknya. Satya memang harus menerima jika Belva tak hanya seorang untuk dirinya saja.


"Beristirahatlah, jangan dipikirkan dulu hemm."


"Tapi nanti benaran kita jemput anak-anak ya?"


Satya mengangguk lalu memeluk sang istri dengan keadaan tanpa pintalan benang yang mereka kenakan. Hal itu adalah hal yang paling Satya sukai karena bisa saling merasakan sentuhan kulit mereka masing-masing. Hanya selimut tebal yang menutupi mereka, keduanya tertidur karena rasa lelah mereka.


Satu jam berlalu Belva merasa haus jadi ia terbangun dan rupanya pergerakannya turut membangunkan sang suami.


"Ada apa?"


"Aku haus, mas."


Gelas yang ada di atas nakas samping Belva rupanya habis. Satya lalu meraih gelas yang ada di nakas samping nya dan memberikan pada sang istri.


"Ini minumlah."


Setengah gelas air Belva teguk dan sisanya diberikan pada Satya. Melihat Belva meminum air itu pun membuat Satya juga merasa haus, diminumlah sisa air yang di teguk Belva.


"Mas, jam berapa ini?"


"Jam tujuh."


"Kita jemput anak-anak ya." Pinta Belva.


"Mas masih mau berduaan seperti ini, sayang."


"Mas, anak-anak juga butuh kita."


Satya menghela napas, dirinya pasti akan selalu kalah dan harus mengalah pada kedua anaknya.


"Iya tapi sekali lagi ya." Pinta Satya.


"Tidak, ini sudah jam segini kita harus segera jemput mereka sebelum mereka tidur."


"Janji deh sekali saja nanti setelah itu kita jemput Kay."


Tanpa menunggu persetujuan istrinya Satya langsung menc*Umbu istrinya. Memberikan gerakan-gerakan mematikan untuk melumpuhkan lawan agar tertunduk dan menurut pada dirinya tanpa perlawanan.


"Mas..." Belva hendak protes tapi Satya langsung membungkam nya dengan cara jitunya, apalagi jika bukan Mel*umat bibir manis bak madu itu.


"Sayang, dengarkan. Sekian lama mas harus sering menahannya, sejak bersamamu mas tidak bisa lagi menahannya lebih lama lagi. Sudah satu minggu mas tersiksa tak menyentuhmu seperti ini." Bisik Satya sembari tangannya bergerak kesana-kemari.


Satya kembali melu*mat bibir sang istri cukup lama dan mendapatkan balasan dari Belva.


Pria itu beralih menyentuh, mer*mas perbukitan berkerikil itu, memainkan kerikil itu dengan lihai lalu melahap nya seperti bayi yang kehausan.


"Ahh... Daddhh..." Belva menyugar rambut suaminya dari arah belakang menuju ke depan sesekali menekan kepala itu seakan menyuruh Satya untuk semakin tenggelam dalam perbukitan indah itu.


Puas bermain di bukit itu Satya menatap manik mata istrinya yang juga sudah terpancar gai*rah.


"Ini milik Daddy dan anak-anak kita." Satya mere*mas kembali bukit itu dan mem*lintir kerikilnya.


"Ahh..." Suara keramat yang menggoda itu kembali terdengar dari bibir Belva.


Satya beralih turun ke bawah membuka kaki mangsanya dan menjelajahi hutan rimba yang berbeda dari hutan rimba pada umumnya. Lebih terawat dan menarik bagi Satya. Tangan kekar itu menyentuh dengan lembut mencari lorong tersembunyi yang sempat disinggahi oleh barang langka dan istimewa miliknya. Belva meng*gigit bibir bawahnya merasakan pergerakan mematikan yang sudah jelas melumpuhkan pertahanan nya.


Perlahan dan pasti senjata nuklir itu melesat masuk ke dalam lorong tersembunyi.


"Emmhh... Dad..."


"Dan lorong tersembunyi ini hanyalah milik Daddy." Bisik Satya yang perlahan nuklirnya mulai bergerak merasakan gesekan dengan lorong tersembunyi itu.


"Ahh..." Suara keramat juga muncul dari bibir Satya.


"Semua yang ada pada Mami itu semua milik Daddy begitu pula sebaliknya semua yang ada pada Daddy adalah milik Mami. Si Japus ini barang langka yang hanya boleh Mami sentuh tidak ada orang lain yang bisa menyentuh nya. Mami berhak marah jika ada orang lain yang menginginkan nya begitu juga dengan Daddy yang pasti akan marah jika ada yang menginginkan Mami." Ucap Satya lirih di kala kesibukan nya menggempur teritorial Belva.


Belva mengangguk sangat menyetujui apa yang Satya ucapkan. Mereka telah menikah secara sah maka tidak ada yang boleh menginginkan suaminya selain dirinya dan juga anak-anak nya yang menginginkan cinta dan kasih sayang dari Satya.


Janji tinggal lah janji, untuk kali ini Satya mengingkari janji nya sendiri pada sang istri yang hanya sekali gencatan senjata. Satya justru melakukan gencatan beberapa kali hingga istrinya kembali merasa lelah. Beberapa posisi Satya lakukan untuk dapat meledakan bom nya tepat sasaran.


Hingga pukul sepuluh malam Satya mengehentikan gencatan senjata. Istrinya sudah kelelahan dan kembali tertidur pulas. Dikecup perut dan kening sang istri lalu Satya beranjak untuk membersihkan diri. Ponselnya beberapa kali bergetar dan itu adalah panggilan dari Budhe Rohimah. Satu pesan masuk yang mengatakan bahwa Duo Kay sudah menanyakan keberadaan dirinya dan Belva yang tak kunjung menjemput mereka.


Selesai membersihkan diri dan bersiap dengan pakaian rapi dan bersih, pakaian yang cukup santai hanya dengan celana selutut dan juga kaos dilapisi jaket miliknya Satya bersiap untuk pergi menjemput Duo Kay.


Sebelum pergi Satya kembali menyempatkan untuk mengecup kening istrinya dan membenahi selimut sang istri.


"Terimakasih Mam, maaf membuatmu kelelahan kembali." Satya tersenyum tipis.


"Beristirahatlah, Mam. Daddy jemput anak-anak dulu." Pamit Satya meski dia tahu istrinya tak akan merespon karena sudah tertidur.


Satya keluar kamar dan turun menggunakan lift. Harum parfum nya begitu tercium menguar kuat menusuk hidung siapa saja yang ada di dalam rumah tersebut dalam jarak yang cukup dekat.


Saat keluar rumah Satya bertemu dengan asisten rumah tangga nya yang tak lain adalah Tuti.


"Tuan, anda akan pergi?" Tanya Tuti.


"Hem. Jangan kunci pintu nya."


"Baik Tuan, apa Nyonya tidak ikut?" Tanya Tuti mengkorek informasi.


"Tidak." Jawab Satya singkat dan berlalu begitu saja.


Tuti yang mengetahui bahwa majikannya sedang dalam masalah rumah tangga itu sengaja menyapa Satya untuk mengetahui lebih dalam dan berharap kepergian Satya adalah akibat dari pertengkaran pasangan suami istri itu. Satya berlalu meninggalkan Tuti tanpa bersuara kembali.


"Pasti habis bertengkar, Tuan langsung pergi. Bagus ini awal yang bagus, mudah-mudahan mereka semakin renggang." Gumam Tuti berharap kehancuran terjadi di rumah tangga Satya.


Mengendara mobil dengan kecepatan sedikit kencang karena haru sudah malam dan jalanan sedikit lengang. Satya juga tidak ingin kedua anaknya menunggu nya terlalu lama lagi. Sejujurnya ada rasa bersalah yang menyelinap di dalam hatinya karena egonya menguasai sang istri dan sedikit mengabaikan kedua anaknya. Tak terlalu lama Satya sudah sampai di rumah Budhe Rohimah. Bella membukakan pintu dan menyuruh Satya masuk.


"Bel, ibu mana?"


"Di dalam Om, menemani si kembar."

__ADS_1


Satya langsung berjalan menuju kamar Duo Kay, membuka pintu kamar tersebut dan masuk.


"Daddy." Panggil Kaili yang masih terjaga karena menunggu untuk di jemput.


"Ken... Kamu belum tidur sayang?"


"Belum tunggu Mami dan Daddy jemput."


"Bu, maaf merepotkan ibu." Ucap Satya sembari menyalami Budhe Rohimah dan mencium punggung tangan yang mulai berkerut itu.


"Tidak apa-apa, ibu tidak merasa repot. Apa urusan kalian sudah selesai?"


"Sudah Bu, Belva tidak bisa ikut kesini karena sudah tidur di rumah."


Budhe Rohimah mengangguk paham karena ini juga sudah larut malam.


Kaila yang sudah mulai terpejam karena mengantuk kini kembali terjaga saat mendengar suara Daddy nya.


"Daddy." Panggil Kaila dengan suaranya yang sudah lirih karena mengantuk.


"Sayang, maaf Daddy membangunkan ila."


"Mami mana, Dad?" Tanya Kaila.


"Mami sudah tertidur karena kelelahan tadi jadi Daddy sendiri yang menjemput kalian. Mau tidur di rumah Uti atau mau pulang hemm?"


"Pulang." Jawab Kaili dan Kaila bersamaan.


"Ya sudah ayo. Sini Daddy gendong ila."


Melihat putrinya yang sudah lemas mengantuk, maka Satya lebih memilih menggendong Kaila.


"Kakak Ken, tidak apa-apa kan jalan atau mau gendong Daddy juga?" Tanya Satya.


"Aku jalan saja." Jawab Kaili.


Ayah dan kedua anak itu keluar rumah menuju mobil dengan di antar oleh Budhe Rohimah dan Bella. Kedua anak itu diletakkan di kursi belakang. Mereka berpamitan meski Kaila sudah seperti orang mabuk yang lemas karena mengantuk.


"Ibu... Bella, saya pulang dulu." Pamit Satya dengan menyalami Budhe Rohimah layaknya anak berpamitan pada ibunya.


Sedangkan Bella masih merasa canggung jika harus bersalam seperti itu pada Satya. Mereka belum terlalu dekat meski cara berbicara mereka sudah terdengar santai.


Satya pulang bersama kedua anaknya dengan kecepatan sedang. Memikirkan keselamatan dan kenyamanan Duo Kay, Satya harus berhati-hati dalam berkendaraan.


Pagi menjelang, subuh seperti biasa Belva bangun meski tubuhnya terasa masih sedikit lelah. Ia masih teridur tanpa pintalan benang dengan Satya yang memeluk dirinya dari belakang. Saat Belva bangun Satya tak merasa terganggu sedikitpun rupanya pria itu juga merasa lelah sehabis berperang harus berkendara cukup jauh untuk menjemput kedua anaknya.


Belva merasa terkejut saat bangun melihat jam sudah pukul lima subu. Ia melirik ke arah suaminya yang masih tertidur lelap, pikirannya melayang memikirkan kedua anaknya belum ia jemput. Hendak membangunkan sang suami Belva pun merasa tidak enak, jadi ia putuskan untuk bersabar nanti pagi-pagi dirinya akan meminta Satya untuk menjemput Duo Kay bersama-sama sekalian mereka berangkat kerja.


Selesai membersihkan diri, Belva keluar kamar dan bergabung bersama para asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh penghuni rumah besar itu. Dalam satu rumah terdapat beberapa orang yang jumlahnya mungkin sepuluh orang lebih termasuk Belva dan juga Satya serta Duo Kay.


"Neng, mau bantu masak?" Sapa mbak Janis.


"Iya mbak, saya tidak terlambat kan?" Tanya Belva sembari tersenyum.


"Tidak, kalaupun terlambat juga tidak masalah." Mbak Janis tertawa.


Mereka semua berbaur saling bantu membantu memasak. Ada juga dari mereka yang membersihkan rumah dan mencuci pakaian.


Kembali Tuti membuat masalah pada Belva, dengan sengaja Tuti membawa air di dalam baskom mengisinya penuh dan membawanya mendekati Belva sengaja digoyangkan baskom tersebut agar air di dalamnya bergelombang dan tumpah mengenai baju Belva.


Rasa dingin menembus kain hingga kulit itu sedikit membuat Belva terkejut. Bajunya basah cukup banyak, semua mata tertuju pada Tuti dan Belva.


"Ups... Kena ya. Tidak masalah hanya air dingin." Ucap Tuti dengan berani dan santai.


"Iya tidak masalah mbak hanya air dingin, untung saja saya tidak kaget dan reflek pisau ini terlempar ke Mbak Tuti." Ucap Belva menanggapi dengan santai.


Tuti sedikit membelalakkan matanya mendengar respon dari Belva. Rupanya istri majikannya itu tidak diam saja dan bersikap lemah lembut menerima apa adanya seperti biasanya.


Salah satu asisten rumah tangga yang lain langsung mengambil kain pel untuk membersihkan lantai yang becek akibat tumpah air.


"Stop Mbak Siti. Letakkan kainnya dan lanjutkan pekerjaan Mbak Siti saja. Biarkan lantai itu dibersihkan oleh Mbak Tuti." Ujar Belva menghentikan sikap inisiatif baik Mbak Siti.


Dengan patuh Mbak Siti meletakkan kain itu di lantai dan melanjutkan pekerjaannya. Yang lain masih menatap Tuti yang masih tak bergerak membersihkan lantai. Gadis itu justru meletakkan baskom dengan kasar hingga air kembali tumpah berceceran kemana-mana lalu pergi begitu saja dengan perasaan kesal.


"Nyonya, itu lantai nya bagaimana?" Tanya Siti karena Tuti tak mau membersihkan nya.


"Yang tugas mengepel lantai hari ini siapa?" Tanya Belva.


"Inah, Nyonya." Jawab Siti.


"Biarkan saja, jangan ada dari kalian yang membersihkan nya. Itu seharusnya tanggung jawab mbak Tuti." Jawab Belva. Ia akan menggunakan kekuasaan nya untuk memberikan pelajaran pada Tuti maupun Inah.


Ia tahu jika kedua asisten rumah tangga Satya itu memang selalu sengaja membuat masalah pada dirinya.


"Tapi nanti jika ada yang terpeleset bagaimana, neng." Tanya Mbak Janis.


"Kalian berhati-hati saja jangan lewati lantai yang becek itu."


"Nanti jika tidak dibersihkan dan kena injak orang berkali-kali pasti kotor dan Tuan akan marah, Nyonya." Ujar Fitri yang sedari tadi diam menyimak.


"Kalian tenang saja, jika Tuan marah saya pastikan kemarahan Tuan tidak menyasar pada kalian tapi menyasar pada orang yang tepat yang memang seharusnya kena marah."


Tak lama Mbok Yati datang, ia tak tahu jika lantai itu becek. Hampir saja ia terpeleset dan membuat lantai itu kotor karena wanita itu sehabis dari halaman belakang menjemur pakaian.


"Eeh..." Pekik Mbok Yati.


Semua terkejut Janis dengan sigap menopang tubuh Mbok Yati. Jantung wanita paruh baya itu berdegup kencang karena terkejut hendak terpeleset.


"Hati-hati, Mbok." Ucap Janis.


"Ini lantai becek begini kenapa tidak di bersihkan." Ucap Mbok Yati.


"Maaf Mbok membuat mu hampir terpeleset. Itu memang sengaja tidak dibersihkan karena itu tanggung jawab Mbak Tuti." Ucap Belva sedikit merasa bersalah tapi dirinya tak mau menghilangkan niatnya memberikan pelajaran pada Tuti.


"Tapi kan bisa anak-anak lain yang membersihkan nya, Neng." Ucap Mbok Yati.


"Ya, tapi nanti dia akan kebiasaan Mbok jadi pekerja yang tidak bertanggung jawab. Bisa minta waktu Mbok Yati sebentar?" Tanya Belva pada akhirnya. Mbok Yati mengangguk.


Belva membawa Mbok Yati menjauh dari yang lain. Ia menceritakan semuanya apa yang dirasakannya pada dua asisten rumah tangga yang ada di rumah besar Satya. Mbok Yati kini mengerti maksud dan tujuan Belva melakukan hal itu. Wanita paruh baya itu mendukung penuh atas niat dari Belva. Ia percaya Belva tidak akan berbuat jahat dan merugikan orang lain bila tidak dengan alasan yang kuat.


Menyandang status sebagai Nyonya Balakosa saat ini membuat Belva tak ingin direndahkan oleh orang lain hingga mereka bisa menginjak-injak harga dirinya. Sudah cukup Belva bersikap sabar dan memaklumi sikap asisten rumah tangga Satya. Ia tidak akan tinggal diam lagi, dirinya adalah istri Satya dan juga pemilik rumah besar ini. Tidak lucu jika majikan justru akan kalah dan takut pada asisten rumah tangga.


Babak baru akan Belva gelar untuk kedua asisten rumah tangga Satya yang selalu sengaja membuat masalah dengan dirinya. Ia akan menunjukkan siapa dan bagaimana Nyonya Belva Balakosa yang sebenarnya. Dirinya bukanlah Belva yang dulu diam dan mau saja diinjak-injak yang selalu terlihat lemah.


****


To Be Continue...


Guys terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini, kalian masih setia sama cerita ini. Sudah author bilang dari awal bahwa alurnya lambat ya jadi nikmati saja dulu.

__ADS_1


Terimakasih banyak buat Like, Komen Kembang setaman dan Vote dari kalian semua. Semoga kalian semua sehat selalu dan bahagia selalu. 🤗🙏🙏


__ADS_2