
Percakapan serius dengan sedikit beradu pendapat itu terjadi di ruang keluarga. Tuan Hector yang terus membujuk putrinya agar bersedia kembali ke Paris demi kebaikan putrinya dan juga cucunya sedangkan Belva masih tetap ingin bertahan dalam permasalahan rumah tangganya.
Nyonya Hector yang berniat ingin menemui cucu-cucunya pun harus terhenti saat melihat suami dan putrinya sedang beradu pendapat. Ia berniat menengahi pembicaraan keduanya agar tak berlarut dan ditakutkan berakibat pada hubungan ayah dan anak itu.
"Pa... Vanthe..." Panggil Nyonya Hector.
Kedua pemilik nama panggilan itu menoleh pada Nyonya Hector. Menghentikan pembicaraan mereka sejenak.
"Mama... Ada apa?" Tanya Belva.
Nyonya Hector berjalan menghampiri sofa di mana Belva sedang duduk. Wanita paruh baya itu duduk di samping Belva.
"Sayang, kenapa harus berdebat dengan Papamu?" Tanya Nyonya Hector.
"Ma, aku tidak berdebat dengan Papa, aku hanya kurang setuju jika aku harus pergi ke Paris meninggalkan mas Satya dalam keadaan dia yang masih sakit."
"Mama tahu memang seharusnya seorang istri harus berada di samping suaminya dalam keadaan apapun tapi keputusan Papa juga sudah kami diskusikan dengan baik. Semua demi kebaikan kamu dan anak-anak, sayang."
"Berat, Ma jika harus pergi sekarang apa tidak sebaiknya menunggu mas Satya sembuh dulu saja. Aku khawatir jika dia kenapa-kenapa nanti saat kita pergi."
"Sayang, Satya akan baik-baik saja Mama dan Papa tidak akan tinggal diam begitu saja membiarkan menantu Mama dalam keadaan sakit. Kamu pun tidak boleh kelelahan saat ini karena sedang mengandung, semua mengenai keadaan Satya kami sudah menyiapkan perawat untuknya."
"Apa yang kami lakukan untuk mu itu semata-mata karena kami sangat menyayangi mu sebagai putri kami. Tidak hanya kamu tapi Kaili, Kaila dan juga baby As adalah cucu kami yang juga harus kami perhatikan dan kami jaga." Imbuh Nyonya Hector.
Nyonya Hector membantu suaminya membujuk putrinya. Keadaan saat ini sungguh rumit menurut wanita paruh baya itu. Ia merasa kasihan dengan nasib sang putri yang terus merasakan kesusahan dalam hidupnya. Berharap jika dengan menikah dan memiliki kelurga kecil bersama Satya, putrinya akan bahagia tapi kenyataannya justru rumah tangga Belva bermasalah seperti ini bahkan dirasa sangat fatal bagi Nyonya Hector. Belum lagi mengenai keadaan cucunya yang baru saja mengalaminya insiden penculikan.
"Boleh Van pikirkan dulu, Ma? Besok akan Van berikan keputusannya seperti apa." Ucap Belva dengan lembut.
"Besok pagi-pagi sekali pesawat sudah siap, kita akan berangkat. Untuk kali ini maaf, sayang Papa tidak bisa menunggu keputusanmu. Jangan membantah karena semua demi kebaikanmu sendiri." Ujar Tuan Hector dengan mantap dan tegas.
Untuk kali ini memang Tuan Hector tidak memberikan kebebasan pada Belva untuk menentukan pilihan. Ia tidak ingin anak dan cucunya merasa tertekan untuk saat ini.
Belva menatap Papanya dengan pandangan kecewa. Baru kali ini Papanya tidak membiarkannya mengeluarkan keputusan sendiri.
"Tapi baby As belum memiliki dokumen untuk pergi keluar negeri, Pa." Belva masih mencoba mencari celah.
"Semua sudah Papa urus, kamu dan anak-anak hanya perlu membawa barang seperlunya saja."
Belva menghela napas, ia menatap Mamanya dan hanya dibalas dengan senyum lembut dan anggukan pertanda Belva harus menurut dan menerima untuk kali ini. Usapan lembut juga Belva dapatkan pada punggungnya dari Nyonya Hector.
Malam hari setelah makan malam, Belva dibantu oleh Janis mengemasi beberapa pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan oleh Duo Kay dan baby As.
"Neng, maaf bukannya lancang tapi benaran ini mau ke Paris kan Tuan Satya belum sembuh." Janis akhirnya mengungkapkan apa yang sejak tadi ingin diucapkan pada Belva.
Belva menghela napas lagi-lagi karena membahas hal ini membuatnya pusing. "Iya Mbak, aku titip Tuan ya nanti saat aku dan anak-anak pergi."
"Apa ini ada hubungannya dengan yang terjadi kemarin di rumah ini? Karena wanita itu?" Tanya Janis.
"Seperti itulah, Mbak." Jawab Belva singkat.
Tak bisa dipungkiri bahwa alasan utama Papanya mengajak dirinya kembali ke Paris adalah pengakuan dari Siwi tempo hari yang didengarkan secara langsung oleh Tuan dan Nyonya Hector.
Janis terdiam saat Belva menjawab dengan wajah yang murung. Ia paham pasti tidak mudah menghadapi masalah yang sangat berat menurutnya. Pengkhianatan dalam sebuah hubungan memang bagi Janis pun tak menyetujui dan membenci hal tersebut. Ia hanya sebagai asisten rumah tangga yang akhir-akhir ini dipercaya secara khusus membantu Belva dalam mengurus anak-anak majikannya jadi ia tak berhak ikut campur lebih dalam mengenai masalah majikannya. Janis hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja, baru saja dirinya mendapat majikan yang begitu baik setelah pengalaman mendapatkan majikan yang berperilaku buruk. Saat ini sikap Tuannya itu jauh lebih baik dan hangat meski masih terlihat cuek, akankah Tuannya kembali menjadi sosok yang dingin dan arogan seperti dulu. Janis tak bisa bayangkan jika rumah tangga majikannya kembali hancur seperti sebelumnya.
"Mbak, minta tolong simpan di atas sofa dulu ya. Oh iya minta tolong ambilkan beberapa dus susu baby As untuk jaga-jaga."
"Baik, Neng."
Janis keluar kamar baby As, bersamaan dengan itu Duo Kay masuk ke kamar adiknya.
"Mami mana?" Tanya Kaili.
"Ada di dalam, ganteng masuk saja."
Kaili mengangguk dan masuk diikuti Kaila. Sejak kejadian penculikan itu Kaila lebih banyak diam tak seheboh biasanya. Pasti rasa trauma masih membekas pada gadis kecil itu, sehingga inilah alasan lain dari Tuan dan Nyonya Hector memutuskan untuk membawa Belva dan anak-anaknya.
"Mami sedang apa?" Tanya Kaili.
__ADS_1
"Sayang? Kapan kalian masuk?" Tanya Belva.
"Baru saja, Mami kok ada tas adik baby?" Tanya Kaili.
"Iya sayang, sini duduk di sini." Ajak Belva pada Duo Kay, ia menepuk tangannya pada ranjang baby As.
Duo Kay menurut, mereka berjalan menuju ranjang dan naik ke atas ranjang. Keduanya duduk di hadapan Belva karena Mami mereka itu berjengkeng di depan Duo Kay.
"Sayang, dengarkan Mami. Nanti kita beres-beres baju sama-sama ya. Besok Opa dan Oma akan mengajak kita ke Paris. Kita liburan di sana." Ujar Belva lembut dan tersenyum pada kedua anaknya.
"Ke Paris? Lalu Daddy bagaimana? Kan masih sakit." Ucap Kaila yang sedari tadi diam.
"Emm..." Belva melirikkan matanya ke sembarang arah mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan putrinya.
"Daddy nanti mungkin akan menyusul kita setelah sembuh. Kita pergi lebih dulu karena Kaila juga ada pertemuan dengan aunty Christina."
Terpaksa Belva harus berbohong karena ia pun sebenarnya tidak ingin pergi meninggalkan Satya. Berhubung selama ini kedua orang tuanya itu yang telah menyayangi dan membantu dirinya saat susah bahkan menolong nyawanya maka Belva tak bisa menolak dengan keras.
Kaila mengangguk mengerti. "Gambarku untuk aunty sudah selesai." Ucap Kaila.
Nada bicara Kaila pun tak seceria dan heboh seperti biasanya. Belva rasa memang ini juga alasan yang tepat untuk setidaknya memulihkan keadaan Kaila.
Janis masuk dengan membawa tiga kotak dus susu untuk baby As. Ia menyimpannya di dalam tas baby As.
"Mbak, tolong jaga baby As dulu ya, aku mau siapkan baju dan barang-barang Kaila dan Kaili."
"Iya, Neng."
"Ayo sayang kita ke kamar kalian untuk packing." Ajak Belva. Duo Kay mengangguk.
Ibu dan dua anak itu berpindah tempat masuk ke kamar Duo Kay, mereka sibuk mempersiapkan barang yang akan mereka bawa.
"Mami boleh bawa mainan?" Tanya Kaila.
"Boleh, sayang bawa salah satu saja ya jangan banyak-banyak."
Kaila mengangguk, Bonek Teddy bear berukuran kecil dan sedang digendong Kaila menuju ranjang.
Belva memperhatikan mainan yang dipilih putrinya. Bonek itu adalah Boneka pertama kali saat Satya mulai mendekati Kaila sebagai putrinya. Boneka berukuran kecil saat Kaila sakit tertabrak oleh Alya lalu Bonek berukuran sedang adalah boneka yang dibelikan Satya saat jalan-jalan bersama pertama kali.
"Kenapa bawa dua?" Tanya Belva.
"Ini Bonek kesukaanku dari Daddy." Jawab Kaila.
'Ya Tuhan, Kaila bahkan tidak bisa jauh dari semua yang berhubungan dengan daddy nya lalu bagaimana nanti?' Gumam Belva dalam hati.
"Ya sudah tidak apa-apa, sini boneka yang kecil masuk ke dalam tas saja ya, yang besar Kaila gendong saja bagaimana?"
"He.em iya Mami."
Kaili pun mengulurkan salah satu mainan kesukaannya apalagi jika bukan lego. Belva menyimpannya ke dalam tas. Semua sudah beres saatnya Belva menemani Duo Kay tidur lalu dirinya menyiapkan barang-barang nya sendiri.
Di dalam kamarnya Belva memandang foto pernikahannya dengan Satya yang tercetak cukup besar. Pasrah hanya itu saja yang Belva lakukan saat ini karena rencananya untuk tetap mendampingi Satya sampai masalah mereka selesai harus gagal. Tak banyak barang yang Belva bawa karena dirinya tak berniat pindah rumah dan menetap kembali di Paris untuk saat ini. Selesai berkemas Belva tak tidur di kamarnya melainkan tidur di kamar baby As, memeluk bayi itu yang sudah tertidur lelap.
Pagi harinya semua sudah siap, selesai sarapan pagi Pak Supri datang menjemput majikannya di rumah besar Satya. Berat rasanya bagi Belva untuk pergi. Ia berpamitan pada para asisten rumah tangganya.
"Mbok, jaga kesehatan ya jangan memaksa untuk bekerja. Belva minta tolong Mbok menggantikan aku untuk mengawasi pekerjaan saja." Ucap Belva.
"Neng, iya Mbok akan jaga kesehatan. Neng juga jaga kesehatan di sana. Jaga juga bayi yang ada di sini." Mbok Yati mengusap-usap perut Belva yang sudah terlihat membuncit.
Belva tersenyum mengangguk, ia beralih pada Janis dan yang lainnya. Hingga tiba saatnya pada Inah, perempuan itu merasa sedih dan khawatir jika majikan barunya yang dulu diremehkannya itu akan pergi dari rumah itu untuk selamanya.
"Nyonya, hati-hati. Jangan lama-lama di sana, Tuan pasti membutuhkan anda." Ujat Inah.
Belva tersenyum tipis, "Doakan saja agar kami sehat-sehat dan bisa secepatnya kembali bertemu kalian."
"Jaga diri kalian, rumah ini juga pasti kalian akan menjaganya dengan baik, aku yakin itu." Imbuh Belva.
__ADS_1
Setelah berpamitan Belva, Tuan dan Nyonya Hector serta para anak-anak mulai keluar rumah. Jordi tiba-tiba saja datang ke rumah besar Satya bersamaan dengan Belva dan yang lain keluar rumah.
"Nyonya? Mau ke mana?" Tanya Jordi.
Pria itu bingung karena melihat supir pribadi Tuan Hector masih memasukkan beberapa tas dan koper ke dalam bagasi mobi.
"Om, kenapa pagi-pagi ke sini?" Tanya Belva tanpa menjawab pertanyaan Jordi.
"Saya mau mengambil dokumen Tuan Satya. Nyonya mau ke mana?" Tanya Jordi kembali.
"Vanthe masuklah, kamu tidak boleh terlalu lama berdiri sambil menggendong baby As." Ucap Tuan Hector.
Belva mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Duo Kay sudah berada di dalam mobil bersama Nyonya Hector.
"Tuan..." Sapa Jordi.
"Ya, masuklah ke dalam jika ingin mengambil dokumen. Kami pergi dulu." Ujar Tuan Hector menepuk pundak Jordi.
"Tuan, maaf tapi kalian akan pergi ke mana dan kenapa harus membawa koper?"
"Kami akan kembali ke Paris. Jaga menantuku dengan baik, besok akan ada perawat yang datang untuk membantumu menjaganya." Jawab Tuan Hector dengan santai dan penuh wibawa.
Cukup terkejut Jordi mendengar berita itu, Satya saat ini masih dalam keadaan belum pulih tapi Belva justru pergi. Jordi yakin pasti bos-nya akan terkejut bukan main dan entah bagaimana reaksi Satya selanjutnya nanti.
"Tapi Tuan... Tuan Satya saat ini pasti sangat membutuhkan Nyonya Belva."
"Benarkah? Setelah ada seorang perempuan yang datang mengaku sebagai calon istrinya?" Ujar Tuan Hector.
Jordi terdiam, dia ingat jika Belva pernah mengatakan bahwa Siwi sudah membongkar semuanya dihadapan keluarga Satya.
Tuan Hector tersenyum miring lalu meninggalkan Jordi setelah kembali menepuk bahu Jordi. Tuan Hector telah masuk ke dalam mobil dan Pak Supri pun melajukan mobil itu untuk mengantarkan keluarga majikannya ke bandara.
Jordi hanya bisa memandang kepergian mereka hingga mobil menghilang dari balok pintu gerbang.
"Tuan Satya pasti akan terkejut dan mungkin saja mengamuk." Gumam Jordi.
Pria itu lalu memutuskan masuk ke dalam rumah besar Satya. Pekerjaan sudah menanti dirinya. Mbok Yati menyambut kedatangan Jordi.
"Tuan, ada perlu apa?" Tanya Mbok Yati.
"Saya ada perlu untuk mengambil dokumen Tuan Satya. Oh iya, Mbok itu Nyonya Belva benar akan pergi ke Paris?" Tanya Jordi.
"Iya benar, Tuan. Semua itu gara-gara wanita tidak tahu diri itu." Bukan Mbok Yati yang menjawab tapi Janis.
'Wanita tidak tahu diri? Apa maksudnya adalah Siwi?' Batin Jordi.
"Maksudnya siapa?" Tanya Jordi berpura-pura.
"Entah, Tuan saya tidak tahu namanya Tiwi atau Dwi ya? Siapa Siti namanya?" Tanya Janis.
"Siwi. Wanita itu datang dan membuat keributan di sini sampai Nyonya besar hampir saja pingsan karena mengatak jika dia adalah calon istri Tuan dan saat ini sedang mengandung anak Tuan Satya." Jawab Siti yang langsung menjelaskan kejadian kedatangan Siwi.
'Brengsyek. Ini diluar kendali, Siwi wanita itu kenapa nekat seperti ini.' Batin Jordi.
"Ya sudah terima kasih, saya ke atas dulu." Pamit Jordi.
Ia segera masuk ke ruang kerja Satya untuk mengambil dokumen keperluan perkejaannya lalu kembali ke kantor. Jordi rasa ini belum saatnya dia memberikan informasi penting ini pada bos-nya mengingat keadaan Satya yang belum pulih total. Jordi takut jika Satya drop dan semakin lama untuk sembuh jika mengetahui istri dan anak-anak Satya pergi hanya karena ulah Siwi. Jordi mengumpat kesal pada sikap Siwi yang begitu nekat tak hanya membongkar semuanya dihadapan keluarga Satya tapi juga orang-orang kantor hingga kantor Bala Corp sedang gencar membahas mengenai pengakuan Siwi dan menjadi tranding topik saat ini.
****
To Be Continue...
Duh gimana ya reaksi Om Satya nanti??? part ini Siwi istirahat dulu yaa biarkan dia memikirkan aksi-aksi kluget²nya, greget gak sih sama Siwi kalian???
Terimakasih banyak buat kalian yang tidak bisa author sebutkan satu persatu. Kalian masih setia support sampai saat ini adalah sebuah kebanggaan bagi author karena memiliki readers yang baik dan setia 🙏🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏🙏
Entah itu hal kecil atau besar yang kalian lakukan semoga kalian sehat selalu, bahagia dan lancar rejeki. Ditunggu terus ya kelanjutan ceritanya seperti apa semoga masih bisa sedikit menghibur kalian semua 🙏🙏