Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 214. Keributan Bella Jordi


__ADS_3

"Selamat, Nona... Tuan... Putra kalian terlahir dalam keadaan sehat dan normal tidak kurang suatu apapun."


Satya tersenyum bercampur tangis haru, dia mengangguk mendengar kalimat dokter. Dalam hatinya sangat bahagia sekali, ingin rasanya dia berteriak melepaskan rasa bahagianya saat ini.


Para team medis yang membantu persalinan langsung mengurus sang bayi yang masih penuh dengan darah dan segala macam yang menempel pada tubuh bayi mungil itu, mereka membersihkannya dengan telaten.


Satya memilih keluar lebih dulu setelah melihat sekilas bayinya yang sudah mulai menghirup udara yang sama dengan dirinya. Pria itu keluar dengan jejak air mata yang masih membasahi pipinya. Satya benar-benar menangis haru, begitu sempurna kebahagiaan yang ia rasakan saat ini sepanjang hidupnya.


Dalam pernikahannya bersama istri tercinta nya kini mereka dititipkan banyak keturunan sebagai pelengkap hidup mereka. Semua anggota keluarga termasuk Xander yang masih menunggu majikannya itu menatap kedatangan Satya yang keluar dari ruang persalinan. Mereka semua berharap mendapat kabar dari proses persalinan Belva.


"Satya... Bagaimana istrimu?" Tanya Nyonya Hector.


Satya tersenyum ke arah ibu mertuanya, dia mendekat ke arah Nyonya Hector. Baby As yang kini digendong oleh Nyonya Hector pun diambil alih oleh Satya. Diciumnya pipi gembul putranya yang masih berusia sebelas bulan itu.


"Putraku telah lahir dengan sehat, Ma..."


Nyonya Hector tersenyum bahagia demikian yang lain juga turut tersenyum mendengar berita itu. Nyonya Hector memeluk Satya bersamaan dengan baby As yang di gendong oleh Satya.


"Selamat Satya, Mama ikut senang dan bahagia. Mama senang memiliki banyak cucu-cucu."


"Terimakasih, Ma..." Ucap Satya.


Tuan Hector ikut mendekat dan menepuk bahu Satya dengan gagahnya.


"Papa juga sangat bahagia. Jagoan-jagoan Papa bertambah satu lagi." Ucap Tuan Hector.


"Terimakasih, Pa..."


"Tuan, selamat atas kelahiran putra anda." Ucap Xander.


"Terimakasih, Xander."


"Daddy... Di mana Mami?" Tanya Kaila.


Satya menundukkan kepalanya menghadap putri cantiknya, ia tersenyum manis pada Kaila.


"Mami masih di dalam, sayang."


"Lalu adik baby nya di mana?" Tanya Kaila kembali.


"Adik baby dan Mami masih di dalam, nanti setelah Mami dipindahkan kamarnya baru kita bisa bertemu Mami."


"Daddy, apa teman bermain bola ku nanti bertambah? Apa benar adik baby kita laki-laki?" Tanya Kaili.


Pandangan Satya beralih pada putra pertamanya, senyum kembali ia kembangkan untuk Kaili. Melihat kedua anaknya terlihat antusias dan bahagia dengan kelahiran adik mereka membuat hati Satya bertambah bahagia. Satya menganggukkan kepalanya.


"Iya, Nak... Kalian akan bermain bola bersama nanti." Ucap Satya dengan mengacak rambut Kaili.


"Horeee...!!!" Ucap Kaili dengan antusias dan gembira.


Bocah kecil itu merasa semakin banyak memiliki teman. Baby As dan juga adik kecilnya akan dia jaga dan akan diajaknya bermain kelak seperti itulah pemikiran bocah kecil itu.


Mereka semua masih tetap menunggu hingga Belva dipindahkan ruangan. Para tenaga medis yang membawa Belva itupun langsung di buntuti oleh keluarga. Sekilas mereka juga bisa melihat bayi mungil yang baru beberapa jam dilahirkan tidur terlelap di dalam box yang di dorong menuju ruangan yang sama dengan sang ibu. Ruangan khusus yang diminta dari pihak keluarga agar ibu dan anak itu tetap berada di ruangan yang sama.


"Pa, cucu kita tampan sekali." Ucap Nyonya Hector setengah berbisik.


"Iya, tidak beda jauh dengan Kaili. Semua cucu kita memang tampan dan cantik, Ma." Respon Tuan Hector.


Sampai di ruang rawat Belva dan bayinya mereka mengobrol sebentar setelahnya Tuan Hector memutuskan untuk pulang ke rumah dengan membawa cucu-cucu nya. Berada lebih lama di rumah sakit tak cukup baik bagi kesehatan anak-anak.


"Ma, kita pulang dulu saja bawa anak-anak kasihan kalau lama-lama di sini."


"Iya, Pa... Ini baby As juga kurang nyaman tidurnya." Ucap Nyonya Hector.


"Satya, Papa dan Mama pulang dulu bawa anak-anak mu. Besok kita akan ke sini lagi." Ucap Tuan Hector.


"Iya, Pa... Kasihan mereka jika di sini. Xander, antar Papa dan Mama pulang dulu." Ucap Satya.


"Baik, Tuan." Jawab Xander.


"Satya, Mama pulang dulu nanti siang Mama ke sini lagi." Pamit Nyonya Hector.


Satya mengangguk, "Iya, Ma... Hati-hati jika lelah Mama tak perlu ke sini biar saya yang jaga istri dan anak saya di sini."


Untuk kali ini Nyonya Hector tak terlalu sinis pada sang menantu. Kelahiran cucunya sedikit mengubah hati wanita paruh baya itu pada Satya.


Tuan dan Nyonya Hector meninggalkan rumah sakit bersama duo Kay dan baby As yang diantar oleh Xander. Satya berjaga sendirian tak masalah baginya karena ini lah pertama kalinya dia bisa mengurusi sang istri yang sedang membutuhkan dirinya. Kali ini pula ia bisa menyaksikan bagaimana perjuangan sang istri untuk anaknya. Berbeda jika dulu kelahiran anak pertamanya dia tak bisa mendampingi jangankan mendampingi tahu Belva mengandung saja tidak pernah dan itu membuat Satya sedih serta menyesal bila membayangkan itu kembali. Tapi untuk kali ini dia diberikan kesempatan untuk menjaga dan mendampingi istri nya selama hamil sampai melahirkan adalah kesempatan yang menambah daftar kebahagiaan dalam hidup Satya.


Kabar bahagia atas kelahiran putranya itu dia sampaikan pada Jordi sang asisten. Dalam waktu dekat pun dia akan kembali ke Indonesia untuk mengurus semua masalah yang belum terselesaikan. Sudah cukup rasanya menunda semua masalah yang belum selesai itu. Dia ingin ketika anak dan istrinya nanti dia boyong ke Indonesia lagi semua masalah sudah beres.


Tak hanya Jordi melainkan seluruh orang terdekat Belva dan Satya pun sudah mendengarkan kabar bahagia itu. Budhe Rohimah sangat-sangat bersyukur atas kelahiran cucunya yang berada di luar negeri. Mereka mengadakan acara syukuran kecil-kecilan yang hanya diadakan di rumah besar Satya bersama penghuni rumah yang lain lebih tepatnya para asisten rumah tangga Satya dan Belva.


Di rumah besar Satya saat ini para wanita itu sibuk memasak untuk acara makan bersama mereka. Bella yang kini hanya sibuk mengurus butik saja pun meluangkan waktu untuk ikut merayakan syukuran kecil-kecilan itu. Seluruh isi rumah


Satya tampak bahagia sekali tanpa terkecuali bahkan mereka merasa penasaran dengan wajah bayi dari Satya dan Belva.


"Nduk, kamu sudah bilang Jordi untuk makan bersama di sini?" Tanya Budhe Rohimah pada Bella.


"Dia sibuk jadi tidak bisa ikut, Bu." Jawab Bella.


"Berarti kamu harus mengantarkan makanan untuknya nanti."


Diam-diam Bella menghela napas dan menunjukkan wajah malas tapi ia tak berani memperlihatkan pada Budhe Rohimah. Antara Jordi dan Bella memang sedikit tak akur entah karena hal apa. Bella tak menjawab perintah yang diberikan oleh Budhe Rohimah ia justru kembali memotong sayuran.


Cukup lama mereka memasak karena beberapa menu yang mereka buat dalam porsi yang lebih banyak. Mereka juga tak berniat makan sendiri tapi mereka pun memiliki inisiatif untuk membagikan masakan mereka kepada ART tetangga yang juga teman mereka sendiri.


Ketika makanan telah siap maka beramai-ramai mereka menikmati beberapa makanan lezat itu. Rasa kekeluargaan mereka sangat terlihat saat kumpul bersama antara satu dengan yang lain saling bahu membahu dalam menawarkan makanan atau mengambilkan makanan. Suasana seperti itu sangat jarang bahkan ini baru pertama kali mereka secara leluasa makan bersama di rumah besar Satya. Hanya semenjak Satya menikah dengan Belva mereka merasa bekerja di rumah mereka sendiri.

__ADS_1


Dalam acara perayaan kelahiran anak Satya dan Belva itu mereka pun berbincang-bincang membicarakan tuan kecil mereka yang baru saja lahir. Mereka berharap dalam waktu dekat bisa melihat ketampanan bayi kecil itu. Budhe Rohimah dan Bella yang memang sudah dikirimkan sebuah potret bayi mungil berwajah tampan itu sengaja diam dan berpura-pura tak tahu bahkan ikut menimbrung obrolan para asisten rumah tangga itu.


"Sudah... Besok juga kalian bakalan lihat sendiri seperti apa wajah bayi tampan kita."


"Itu cucumu, Budhe pasti sebelum kami mengetahui bagaimana wajahnya Budhe sudah mengetahui nya lebih dulu."


"Siapa yang bilang? Aku pun belum mengetahui nya."


"Haaahh jangan berbohong, Budhe."


"Tanya saja pada Bella, iya kan Bell kita belum tahu juga."


"Emm..." Jawab Bella yang hanya mengangguk saja.


Beberapa dari mereka masih tampak tak percaya karena Budhe Rohimah dan Bella termasuk dalam keluarga besar inti dari majikan mereka.


Tak ingin dicecar dengan banyak pertanyaan Bella memilih untuk berpamitan kembali ke butik tapi sayang tak mendapatkan persetujuan dari Budhe Rohimah.


"Bu, aku kembali ke butik dulu ya."


"Ke butik? Jangan ke butik dulu, kamu antar makanan untuk Jordi baru ke butik."


"Tapi, Bu butik sedang ramai aku harus ke sana membantu."


"Jadi harus ibu sendiri yang antar ke kantor? Ya sudah tidak apa-apa kalau kamu tidak mau biar ibu sendiri yang antar ke sana pakai ojek atau angkot."


"Loh? Ja-jangan, Bu... Aku saja yang antar ibu ke kantor ya?"


"Daripada kamu antar ibu ke kantor nanti balik lagi ke sini lebih baik kamu sendiri yang antar lebih efisien dan efektif. Kamu bilang butik sedang ramai."


"Ya... Ya memang begitu, Bu."


"Jangan beralasan, Bella. Sudah kamu tunggu dulu biar ibu siapkan."


Budhe Rohimah langsung berdiri dari duduk nya dan menuju dapur mengambil rantang untuk mengisi beberapa menu makanan yang mereka makan tadi. Waktu yang sangat pas untuk makan siang bagi Jordi.


Mau tak mau Bella diam menunggu Budhe Rohimah yang tengah menyiapkan makanan untuk Jordi. Ia tak ingin wanita lanjut usia yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu kecewa padanya. Meski setengah hatinya terpaksa tapi semua tetap dilakukan oleh Bella.


Beberapa asisten rumah tangga yang masih muda mulai menggoda Bella membuat Bella semakin sebal dengan sosok Jordi. Untuk kali ini bukan salah pria matang sang asisten Satya tapi tetap saja rasa sebal Bella limpahkan pada pria itu.


"Ciee... Yang mau ketemu Tuan Jordi. Salam ya, Non hihi."


"Salam apa sih, mbak. Mbak suka sama si bujang lapuk itu?"


Raut wajah Bella memang terlihat biasa saja tapi dalam hatinya merasa kesal dan sebal. Hingga akhirnya makanan di dalam rantang itu telah siap. Budhe Rohimah memberikan benda itu pada Bella. Wajah datar dan dengan berat hati Bella menerima rantang dari Budhe Rohimah.


"Senyum, Nduk jangan cemberut begitu. Kamu kekenyangan?"


"Ya sudah, Bu aku berangkat dulu. Daadaah ibu."


Bella menyalami tangan Budhe Rohimah dan mencium kedua pipi wanita paruh baya itu. Setelah berpamitan ia keluar dari rumah besar Satya menuju mobilnya yang terparkir di luar.


Setelah mendapat ijin dan informasi bahwa Jordi berada di ruangan nya maka Bella segera menuju ruangan asisten Satya. Langkahnya terlihat bergerak cepat karena ia ingin segera menyelesaikan tugas dari Budhe Rohimah untuk mengantarkan makanan tersebut.


Saat memasuki lift entah sebuah keberuntungan atau sebuah kesialan bagi Bella. Ia masuk secara berbarengan dengan seorang wanita yang tampak tak asing bagi dirinya. Wanita cantik dengan tubuh berisi tapi menggunakan pakaian yang cukup menantang.


"Wuih... Karyawan kantor om Satya ada juga yang berani berpakaian seperti ini." Gumam Bella dalam hati saat memperhatikan wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kenapa kamu lihat-lihat saya? Belum pernah lihat orang cantik?"


"Eh... Percaya diri sekali. Tapi... Yaa lumayan lah ya." Batin Bella.


"Ekhm... Tidak. Maaf anda karyawan di kantor ini?"


"Sebelumnya memang karyawan tapi sebentar lagi saya juga pemilik perusahaan ini."


Kening Bella mengkerut mendengar jawaban dari wanita tersebut. Wajah angkuh dan suara angkuh itu bisa dilihat dan didengar oleh Bella. Tanpa memandang Bella saat berbicara dan terdengar sangat percaya diri.


Benak Bella otomatis langsung bertanya-tanya atas jawaban yang ia dengar. Apakah mungkin maksud dari wanita itu adalah si wanita itu menjadi salah satu pemilik saham di perusahaan kakak iparnya.


Lift yang mereka naiki pun terbuka dan tanpa Bella sadari mereka memang berhenti di lantai yang sama. Keduanya sama-sama keluar dari lift dan berjalan ke arah ruangan Jordi hingga keduanya berhenti dan saling menatap.


"Kamu mau ke mana?"


"Saya? Saya mau ke ruangan itu." Tunjuk Bella ke arah ruangan Jordi.


Grace yang melihat kedua wanita itu langsung berdiri dari kursinya. Satu sisi ia merasa malas tapi disisi lain ia tak bisa mengabaikan Bella yang juga ia kenal meski tak mengenal dengan akrab.


"Nona Bella." Panggil Grace.


"Ck... Yang di panggil Nona Bella kenapa si Nela series dua ikut menoleh." Batin Grace.


Wanita yang bersama dengan Bella adalah Siwi si nyonya KW yang selalu merasa bahwa dirinya yang akan memiliki perusahaan besar milik Satya.


"Nona Bella mau bertemu dengan Tuan Jordi?"


"He.em. Iya... Dia ada?"


"Ada, belum keluar. Silahkan masuk, Nona."


Grace berbicara dengan sopan dan ramah pada Bella. Ia tersenyum saat bersama Bella tapi begitu selesai berbicara dengan Bella dan menatap Siwi, senyum Grace langsung menghilang dan menatap sebal pada wanita itu.


Siwi juga merasa kesal dan sebal saat ditatap seperti itu oleh Grace. Ingin rasanya wanita itu mencakar Grace tapi ia urungkan karena saat ini ia lebih untuk menemui Jordi. Bella berpamitan dengan sopan dan ramah menghargai orang yang memang menyambutnya dengan baik.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Nona."


"Ah baiklah, Nona Bella silahkan."

__ADS_1


"Hey kamu mau ke mana? Kamu tidak lihat itu Nona Bella sedang akan berkunjung ke ruangan Tuan Jordi." Ucap Grace dengan nada tak menyenangkan.


"Aku lebih dulu datang ke sini." Ucap Siwi pada Grace.


"Dan kamu... Kamu tunggu saya selesai lebih dulu." Siwi menunjuk ke arah Bella dengan percaya diri dan angkuh.


Ketiga wanita itu tak tahu jika Jordi sudah berada di dekat mereka karena mereka sibuk sendiri dengan sikap mereka masing-masing. Memang baru saja pria itu berada di sana, hanya sekilas mendengar percakapan yang dilontarkan oleh Siwi.


"Bella, kamu datang?"


Grace, Bella dan Siwi menoleh ke arah sumber suara dari Jordi. Grace dan Bella masih terdiam karena Siwi sudah menyerobot lebih dulu untuk berbicara dengan Jordi.


"Jordi, aku mau bicara denganmu."


"Bella, apa yang kamu bawa?"


Jordi tak menanggapi ucapan Siwi, dia justru kembali bertanya pada Bella yang sangat jarang sekali datang ke kantor. Lirikan mata Jordi mengarah pada paper bag cukup besar yang menggantung pada tangan Bella.


"Ini? Makanan untukmu."


Wajah Bella terlihat biasa saja, tidak terlihat ramah sama seperti saat berbicara dengan Grace tapi juga tak menunjukkan rasa sebalnya untuk saat ini.


"Ayo masuk ke ruangan ku."


Siwi tampak kesal saat Jordi mengabaikan dirinya dan justru menggandeng tangan Bella masuk ke dalam ruangan pria itu.


Grace tersenyum miring seakan mengejek apa yang menimpa pada wanita hamil itu. Merasa tak terima karena telah diabaikan, Siwi dengan langkah cepat menyusul Jordi dan menarik lengan jas yang dikenakan Jordi.


"Jordi!"


"Ck... Apa-apaan kamu!"


Jordi mengibaskan lengannya, ia kesal dengan apa yang dilakukan Siwi.


"Aku yang datang lebih dulu ke kantor ini, aku ingin bicara dengan mu. Biarkan wanita ini menunggu di luar."


"Siapa dirimu berani mengatur kami. Saya tidak mau berbicara denganmu lebih baik kamu yang menunggu atau pergi saja dari kantor ini, itu lebih baik."


"Keterlaluan kamu, Jordi. Kamu tidak kasihan dengan bayi yang ku kandung? Dia ingin bertemu dengan papanya."


Bella hanya memperhatikan percakapan diantara kedua orang yang ada di depannya. Bella semakin mencoba mengingat siapa wanita berperut buncit itu tapi sayang sekali ia lupa siapa wanita itu hanya saja wajahnya tak asing.


Keributan akibat perdebatan terjadi tepat di depan mata Bella. Dari apa yang ia dengarkan ia menyimpulkan sesuatu antara Jordi dan wanita hamil itu.


"Ayo Bella kita masuk."


Jordi menarik tangan Bella, semakin malas menghadapi sikap Siwi yang semakin lama semakin tidak tahu diri.


Sampai di dalam Jordi mengunci pintunya, dia tak membiarkan Siwi masuk ke dalam ruangan kantornya lagi. Terakhir Siwi masuk ke dalam ruangannya dan membuatnya semakin merasa gila, wanita itu mengamuk dan menghamburkan semua barangnya.


Ketukan pintu yang dilakukan Siwi lebih tepatnya gedoran pintu menimbulkan suara bising. Wanita itu berteriak meminta untuk dibukakan pintu oleh Jordi.


Brak!!! Brak!!! Brak!!!


"Jordi!! Buka pintunya!!! Jordi!!!"


Brak!! Brak!!! Brak!!!


Jordi mengacak rambutnya, ia pusing dan merasa tertekan dengan kekakuan Siwi.


"Siyalan. Dasar wanita gila." Desah Jordi frustasi.


"Buka saja pintunya kalian selesaikan masalah kalian."


Bella meletakkan paper bag berisi rantang makanan ke atas meja. Jordi langsung menatap Bella dengan tatapan malas.


"Dia selalu membuatku gila."


"Brengsyek." Gumam Jordi sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Nomor kontak Grace menjadi salah satu tujuan Jordi. Dia menghubungi sekertaris Satya itu untuk memanggil security. Mengusir Siwi dengan bantuan security menjadi pilihan Jordi. Dia tak ingin lagi menghadapi wanita nekat itu lagi.


Bella pun sama tak tahan mendengar suara gedoran pintu yang cukup kencang dan mengganggu pendengarannya. Ia mencoba untuk membuka pintu tapi ditahan oleh Jordi.


"Jangan coba-coba buka pintunya."


"Kamu tidak dengar? Wanita itu itu ingin bertemu denganmu. Selesaikan masalahmu lagipula dia sedang hamil kan, kenapa kamu tega membuatnya seperti itu."


"Tapi aku tak ingin berbicara dengannya, dia hanya bisa membuatku gila."


"Aku tak perduli."


Bella tetap ingin membuka pintu, ia tak perduli dengan masalah yang terjadi antara Jordi dengan wanita itu. Tugasnya mengantar makanan atas perintah Budhe Rohimah sudah selesai. Ia ingin segera pergi dari kantor tersebut, melihat Jordi yang bersikap seperti itu terhadap wanita hamil itu membuat Bella semakin merasa sebal pada pria itu.


Ceklek!!


Satu kali putaran kunci terdengar, Bella memang tak peduli dan nekat membuka pintu meski Jordi sudah melarangnya. Aksi Bella justru membuat Jordi emosi, pria itu menarik lengan Bella dengan kuat. Pria itu melempar Bella ke arah sofa tapi Bella justru menarik Jordi sebagai pegangan untuk dirinya. Bukan tertahan justru keduanya terjatuh di sofa. Mata keduanya saling bertemu dengan posisi tubuh Jordi berada di atas Bella.


"Sudah ku katakan jangan kamu buka pintunya. Aku bisa membuatmu menyesal, Bella."


Nada suara Jordi terdengar sedikit berbisik namun penuh dengan tekanan dan ketegasan.


Bella terdiam saat mendengar Jordi berkata seperti itu. Kali pertama Bella mendengar suara tegas Jordi. Tak hanya suara, wajah Jordi pun terlihat sangat serius dan terlihat marah.


Cukup lama keduanya saling menatap. Jordi dengan tatapan tajam dan Bella dengan tatapan takut namun berusaha bertahan dengan situasi tak menguntungkan seperti itu. Lagi-lagi apa yang dilakukan Jordi semakin membuat Bella tak suka pada pria itu.


****

__ADS_1


Hai dear... Lama sekali yaa diriku tidak update di sini. Gimana kalian masih menunggu kah? Wah terimakasih banyak yaa kalau kalian masih menunggu. Semoga masih tetap terhibur, sehat selalu buat kalian, bahagia selalu dan lancar rejeki ❤️🙏


__ADS_2