Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 110. Persiapan Kejutan


__ADS_3

Dengan pikirannya yang belum jelas namun sudah dipenuhi dengan berbagai pikiran negatif Satya menunggu di lantai dua tanpa mau masuk atau mendekati kamar yang sudah ditunjukkan. Dirinya benar-benar berhati-hati dalam menjaga diri sekaligus menjaga harapan, perasaan dan kebahagiaan dirinya serta Belva.


Meski hubungan nya dengan Belva tak seromantis pasangan lain. Tapi Satya dapat melihat jika Belva juga merasa bahagia atas rencana yang akan mereka lakukan beberapa hari kedepan.


Tuan Hector berjalan menaiki tangga guna memastikan Satya apakah sudah melakukan sesuai dengan perintahnya. Nyatanya saat pria paruh baya itu sampai di lantai dua, dia melihat Satya yang masih berdiri di depan jendela besar.


"Satya kenapa kamu masih disini ?" Tanya Tuan Hector.


Pria tampan dan gagah dalam usianya yang telah matang itu menoleh ke sumber suara.


"Apa yang sedang Papa rencanakan ?" Tanya Satya kembali dengan rasa penasaran nya.


"Ada apa ? Kamu hanya perlu menuruti saja perintah Papa jika kamu menyayangi putri Papa." Ucap Tuan Hector dengan tenang. Wajah pria paruh baya itu tak pernah menampakkan kekejaman atau kesangaran. Wajah ramah dan damai selalu melekat pada Tuan Hector.


"Papa menyuruh saya untuk masuk ke dalam kamar yang jelas-jelas di dalam sana ada seorang wanita yang tidak saya kenal."


"Kamu memang tidak akan mengerti jika tidak melakukan perintah Papa."


"Apa kamu mencintai putri Papa ?" Tanya Tuan Hector.


"Tentu saja, kenapa harus dipertanyakan lagi."


"Jika kamu mencintai putri Papa pasti kamu akan bersedia melakukan apapun demi Vanthe. Masuklah sekarang."


"Jika di dalam sana ada seorang wanita yang tidak jelas dan bukan Belva maka saya tidak akan melakukan itu." Ucap Satya tetap tegas pada pendiriannya.


Tuan Hector benar-benar dengan jelas mengetahui sikap Satya yang sebenarnya. Seorang pria yang berpendirian kuat dan tegas. Tuan Hector suka dengan sikap seperti itu, ciri khas seorang pemimpin perusahaan besar. Pantas perusahaan yang pernah menjadi lawannya saat perebutan tender saat itu banyak mendapatkan pujian meski gagal dalam mendapatkan tender besar itu.


"Wanita tidak jelas bagaimana maksudmu ? Kamu mengatai Mama ?" Ucap Nyonya Hector secara tiba-tiba membuat dua pria beda generasi itu menoleh ke sumber suara.


"Maksud Mama ?" Tanya Satya bingung.


"Ya putra mu ini tadi mengatakan tidak ingin berada satu kamar dengan wanita tidak jelas seperti mu Zeta." Ucap Tuan Hector.


Nyonya Hector sedikit membuka mulutnya, bisa-bisa nya Satya berkata seperti itu untuk dirinya.


"Benar seperti itu ? Kamu mengatakan Mama wanita tidak jelas ? Belum juga sah jadi menantu Mama kamu sudah berani dengan Mama."


Satya sontak secara otomatis ekspresi wajahnya tampak bingung dan panik.


"Tidak... Bukan begitu maksud saya." Satya melirik Tuan Hector lalu bergantian menatap Nyonya Hector.


"Pa... Bisa Papa jelaskan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya tidak tahu kalau Mama yang berada di dalam kamar itu."


"Sudahlah Ma, sebaiknya carikan putri kita calon suami yang lain saja. Dia tidak menuruti perintah Papa dan juga mengatakan Mama seperti itu."


Satya semakin panik dengan ucapan Tuan Hector. Siapa yang tahu jika wanita yang berada di dalam kamar tersebut adalah Nyonya Hector.


Dengan tujuan apa Tuan Hector justru menyuruh Satya masuk ke dalam kamar yang berisikan istrinya sendiri. Bukankah itu semakin membuat Satya penasaran.


"Pa... Tidak bisa seperti itu. Bukankah sedari tadi saya bertanya pada Papa tapi Papa tak menjawabnya."


"Saya hanya tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Terjebak dalam permasalahan yang bisa merugikan orang lain ataupun diri saya sendiri. Saya harus menjaga perasaan Belva, Pa... Ma." Ucap Satya berusaha menjelaskan.


Bukan maksud dirinya menjadi calon menantu yang pembangkang atau kurang ajar. Semua yang Satya lakukan ada alasannya tersendiri.


Belva adalah wanita yang paling dicintainya saat ini dan bahkan sampai selamanya. Perasaan Belva harus bisa dijaganya karena dirinya sendiri pun tidak akan mau diperlakukan tak menyenangkan, dikhianati bersama orang lain sama seperti apa yang Sonia lakukan padanya.


Satya kalang kabut, susah berusaha agar rencana pernikahan nya tak gagal. Justru calon mertuanya yang akan menggagalkan rencananya yang sudah matang.


"Pa, saya sudah mengurus semua berkas untuk pernikahan kami. Tidak bisa kalian membatalkan rencana kami Pa."


"Kamu mau menikahi putri ku tapi apa kamu sudah melamar putri ku di hadapan kami dengan benar ?" Ucap Tuan Hector.


Satya terdiam, melamar Belva dengan benar itu artinya meminta dihadapan orang tua Belva dengan membawa beberapa barang untuk wanitanya. Setidaknya sebuah cincin tapi Satya melupakan satu hal tersebut.


"Mama yakin pasti kamu belum melamar putri Mama dengan benar kan ?"


Satya hanya bisa mengangguk, merasa semua itu benar.


"Cepat masuk kamar, bantu Mama di kamar." Perintah Nyonya Hector.


"Ikuti Mama mu jika tidak ingin pernikahan mu gagal di tengah jalan." Ucap Tuan Hector.


Satya mau tak mau menuruti calon mertuanya. Dia berjalan di belakang Nyonya Hector memasuki kamar. Tak hanya Satya tapi Tuan Hector juga mengikuti langkah istri dan calon menantunya.


Saat memasuki kamar, Satya menatap sekeliling isi kamar tersebut. Tampak biasa saja tidak ada yang spesial. Hanya perabotan yang ada di dalam kamar seperti biasa. Apa yang harus dikerjakan nya pikir Satya.


"Kemari..." Ucap Nyonya Hector.


Wanita itu membuka lemari di dalam kamar tersebut. Barulah Satya paham saat calon Mama mertuanya mengambil barang yang sangat familiar baginya.


"Apa yang harus saya lakukan dengan barang itu ?" Tanya Satya.


"Satya, kamu itu ya benar-benar. Ini salah satu bagian dari acara mu nanti."

__ADS_1


"Kamu belum melamar Vanthe dengan benar, kami tahu itu karena kalian merencanakan pernikahan dengan buru-buru kan." Ucap Nyonya Hector.


"Sebenarnya tidak buru-buru, Belva saja yang mengulur waktu menerima ajakan saya." Satya membela diri, mengingat memang betapa dirinya harus bersabar menanti jawaban Belva saat dirinya meminta wanita itu untuk menjadi istrinya.


"Apa itu benar ?" Tanya Nyonya Hector.


Satya mengangguk. "Hem... Seperti itulah."


"Oke terserah lah bagaimana awalnya yang penting sekarang kamu harus melamar putri ku dengan benar. Kami sudah membantu untuk mengatur acaranya. Sekarang tinggal kamu yang harus menyiapkan cincin dan berikan gaun ini untuk calon istri mu."


"Baiklah, saya setuju. Selebihnya biar saya yang atur." Ucap Satya.


"Berikan kejutan untuk calon istri mu. Besok adalah hari ulang tahun nya. Jadi, berikan kado terindah dengan momen spesial dari mu." Tuan Hector iku menanggapi.


"Besok dia ulang tahun ? Kenapa dia tidak bilang apapun dengan saya." Ucap Satya yang baru mengetahui tanggal ulang tahun calon istrinya.


Belum banyak dari pribadi Belva yang Satya ketahui, mereka harus saling mengenal lebih dalam lagi. Meski begitu Satya maupun Belva tak merasa ragu untuk memilih langkah yang lebih jauh untuk hubungan mereka. Kehadiran Duo Kay sudah cukup bagi mereka untuk melangkah lebih jauh dalam sebuah hubungan. Anak-anak itu berhal mendapatkan kebahagiaan, berhak memiliki keluarga yang utuh.


"Vanthe memang tidak pernah berlebihan, selama ini dirinya tak pernah mau jika tanggal ulang tahunnya dirayakan. Dia lebih memilih merayakan hari ulang tahunnya dengan mengunjungi beberapa panti saja." Ujar Tuan Hector.


Selama hidup bersama keluarga Hector otomatis Belva memiliki jalan untuk mendapatkan rejeki. Bekerja di butik de'La Hector yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah cukup banyak. Sebagian dari hasil jerih payahnya diberikan ke beberapa panti.


Satya mengangguk, dalam hatinya semakin merasa kagum dengan sikap Belva yang sederhana. Pantas saja pikir Satya jika kedua anaknya tak banyak tingkah yang aneh-aneh dan mampu bersikap sopan. Tingkah Duo Kay hanya sewajarnya tingkah anak-anak kecil pada umumnya jika dihadapan Satya.


Selesai dengan pembicaraan rencana mereka untuk Belva, mereka akhirnya kembali ke rumah besar Tuan Hector. Satya langsung pamit dengan kedua calon mertuanya. Dirinya harus segera pergi ke suatu tempat untuk mempersiapkan rencananya. Tak lupa gaun yang diberikan oleh Nyonya Hector dibawanya pulang untuk diberikan kepada Belva.


"Jordi, ikut saya." Titah Satya saat sudah sampai di kantor.


Pria itu langsung menghampiri ruangan Jordi setelah sampai di kantor.


"Astaga pria satu ini enak sekali datang dan pergi sesuka hati." Batin Jordi.


"Ikut kemana Tuan ?"


"Kita ke salah satu toko perhiasan. Dan nanti malam kamu juga harus ikut saya."


"Kemana ?" Tanya Jordi kembali.


"Saya akan membuat kejutan untuk Belva. Besok adalah hari ulang tahun nya. Jadi, kami merencanakan untuk memberikan kejutan."


Jordi manggut-manggut, membantah pun rasanya tak mungkin. Semua yang Satya perintahkan sebisa mungkin akan Jordi lakukan. Pria itu mendapatkan gaji yang tak main-main bekerja dengan Satya, tak heran jika hal menyangkut pribadi bos-nya itu pun Jordi terkadang ikut ambil bagian.


Untuk sesaat Satya menyempatkan diri untuk masuk ke dalam ruangannya. Memeriksa sedikit berkas yang memang seharusnya dikerjakannya pada hari ini. Tak sampai satu jam Satya kembali keluar dari ruangan nya, begitu pula Jordi yang sudah siap dengan titah Tuannya.


Kedua pria paling populer di kantor Bala Corp itu keluar beriringan dan selalu menjadi menjadi pemandangan menyenangkan bagi para karyawan perempuan. Meski mereka tak pernah mendapatkan balasan sapaan ramah dari sang direktur utama tapi mereka tak pernah mau melewatkan kesempatan untuk menatap Satya.


"Baik Tuan. Kalau boleh tahu dimana Tuan akan memberikan kejutan itu ?"


"Villa keluarga calon istri saya."


"Villa keluarga ?" Gumam Jordi tanpa bisa di dengar oleh Satya karena bos-nya itu duduk di kursi belakang.


"Emm... Apa semua sudah beres Tuan untuk kejutannya ? Maksud saya persiapan di villa itu."


"Semua sudah beres, calon mertua saya sudah mengurus semuanya."


"Bunga... Apa anda ingin membawanya juga nanti untuk Nona Belva ?" Ucap Jordi.


"Ah iya... Untung kamu mengingatkan. Kita berhenti di toko bunga lebih dulu."


"Siap Tuan."


Jordi mengarahkan mobilnya terlebih dahulu untuk memesan bunga mawar yang ditata dengan apik sedemikian rupa. Satya lah yang langsung turun sendiri memasuki toko Bunga tersebut untuk memilihkan model buket bunga untuk calon istrinya.


Lalu pria itu kembali keluar tanpa membawa buket bunganya karena sudah memesan untuk diantarkan di alamat Villa. Jordi dan Satya kembali melanjutkan perjalanan menuju toko perhiasan.


Jordi masih tetap setiap menemani Satya hingga sampai masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.


"Selamat datang Tuan... Mari silahkan masuk." Ucap pelayan toko yang sudah mengetahui akan kedatangan Satya.


Satya mengangguk samar.


"Terimakasih Nona." Ucap Jordi yang membalas sapaan ramah pelayanan toko tersebut.


Mereka masuk ke sebuah ruangan khusus, dimana di dalam ruangan tersebut terdapat sofa dan meja. Ruangan yang memang dikhususkan untuk pengunjung VVIP.


"Selamat sore Tuan Satya." Sapa seorang pria yang menjabat sebagai manager toko tersebut.


"Sore... Sudah disiapkan ?" Tanya Satya tanpa basa-basi.


"Sudah Tuan, silakan ini barangnya."


"Bungkus." Ujar Satya singkat padat dan jelas.


Pelayan toko dengan sigap mengangkat perhiasan mahal tersebut. Sebuah cincin berlian yang simpel tapi terlihat elegan. Menggunakan sarung tangan hitam pelayan toko membawa dengan hati-hati cincin mahal berharga ratusan hingga milyaran rupiah tersebut.

__ADS_1


Mengenai pembayaran Satya tak melakukan itu karena dia langsung keluar begitu saja dari toko tersebut. Tak akan ada yang melarang atau mencegahnya karena tidak membayar barang yang sudah dibawanya. Hal itu dikarenakan toko perhiasan itu adalah miliknya.


Sebuah toko yang sengaja Satya bangun dan akan diberikannya kepada sang pujaan hati pengisi seluruh hatinya saat itu. Sebelum semua benar-benar kacau hingga kisah cintanya kandas.


Selesai dengan benda paling utama yang menjadi pokok dalam acaranya nanti. Satya membawa barang penting itu dan menyimpan nya di dalam saku jas nya.


Kini saatnya Satya menjemput Belva dan juga anak-anak nya. Dia meminta Jordi untuk menurunkan nya di butik. Jordi lantas berlalu setelah menurun Satya di butik.


"Selamat sore kesayangan Daddy." Ucap Satya saat memasuki ruangan Belva.


"Daddyyy..." Teriak Duo Kay.


Kebiasaan jika kedua orang tuanya datang Duo Kay akan selalu memanggil dengan suara keras dan juga bernada ceria.


"Hallo sayang, kalian sudah siap untuk pulang ?" Tanya Satya pada Duo Kay.


"Siap Daddy... Semua sudah Kaila bereskan."


"Iya kita tinggal tunggu Daddy." Imbuh Kaili.


"Mam, sudah selesai ?" Tanya Satya dengan nada lembut.


"Sudah, ayo kita pulang." Ajak Belva yang sudah meraih tas nya.


"Pulang ke rumah Opa kan ?" Tanya Kaili.


Satya dan Belva saling tatap, mengingat syarat dari Nyonya Hector saat mereka mengutarakan niat mereka untuk menikah maka Satya dan Belva mengijinkan Duo Kay.


"Kalian mau menginap lagi di rumah Opa ?" Tanya Belva.


"Iya di rumah Opa enak, luas bisa lari-lari." Ucap Kaila.


Merasa saat di apartemen mereka tak bisa berlarian dengan bebas. Ruang apartemen yang terbatas membuat mereka tak bisa sebebas di rumah besar Tuan Hector.


Satya sejujurnya sudah ketar-ketir jika Duo Kay menginap di rumah Tuan Hector. Pasalnya jika hal itu terjadi besar kemungkinan Belva juga akan ikut menginap dan akibatnya dirinya yang pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.


"Sabar sayang, nanti kalau rumah Daddy sudah selesai renovasi kita tinggal di rumah Daddy, oke ?"


"Oke Daddy." Jawab Kaili dengan ajungan jempol nya.


"Ya sudah ayo kita pulang." Ajak Belva kembali


"Mam, Daddy tidak bawa mobil." Ujar Satya.


"Loh lalu kita pulang nya bagaimana ?" Tanya Belva.


"Bella sudah pulang ?" Tanya Satya.


"Belum, kenapa ?" Tanya Belva.


"Kita pulang pakai mobilmu yank."


"Berarti kita harus antar Bella dulu." Ucap Belva.


"Tak masalah." Jawab Satya.


Mereka semua pulang dengan menggunakan mobil Belva. Untuk pertama merek mengantar Duo Kay pulang ke rumah tuan Hector lalu mengantar Bella. Hingga terakhir Satya dan Belva pulang ke apartemen. Saat Belva memilih untuk pulang Satya tak mengijinkannya.


"Sayang, kamu lelah ?" Tanya Satya.


Mereka sudah sampai di basemen apartemen. Satya mengusap lembut kepala Belva


"Sedikit ada apa ?"


"Besok jika kita sudah menikah, kamu tidak akan kelelahan lagi. Mas mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Kemana ?" Tanya Belva.


Satya hanya tersenyum. "Nanti kamu ikut saja, sekarang kita turun. Sudah sore, kamu harus cepat mandi dan istirahat sejenak. Ayo..."


"Eh sebentar jangan turun dulu, kamu tunggu disini." Imbuh Satya.


Satya turun dari mobil dan mengitari mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk Belva wanita tersayang dan tercintanya. Sebisa mungkin Satya akan memanjakan wanita itu agar merasa senang dan merasa lebih mudah.


Dia tam pernah lupa membayangkan bagaimana susah nya hidup Belva dulu kala mengandung Duo Kay. Maka dari itu Satya akan memanjakan wanita itu sebagai pengganti waktu yang tak bisa dihindari menimpa Belva hingga beberapa bulan lamanya.


****


To Be Continue....


Hai my dear para readers ku tersayang


Berkali-kali tak bosan author mengucapkan banyak terimakasih buat kalian yang masih setia support. Masih setia menunggu update cerita receh author. Btw ini mata author udah gak kuat udah berat kaya digelantungin 🐒 satu RT guys 😅😅


Thanks buat Like nya , Komen nya, Kembang setaman nya, dan juga Vote nya. Sungguh keempat hal itu membuat author merasa punya gereget buat update terus ditengah kesibukan author. ❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih banyak, doa dari author semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki. Amiinn 🙏🙏


__ADS_2