
"Kenapa tidak mau menjadi istri kedua?" Tanya Satya.
"Karena aku ingin memiliki mu sendiri."
"Benarkah? Meski menjadi istri kedua dari seorang bos besar tidak akan rugi, apapun yang kamu inginkan akan terpenuhi asalkan kamu pun bisa memenuhi apa yang saya inginkan." Ucap Satya mencoba menatap Siwi.
Wanita itu seketika meleleh saat ditatap oleh Satya. Ia terbuai oleh perasaannya sendiri yang memang menginginkan dan memiliki rasa tertarik pada Satya.
"Memang apa saja yang akan aku dapatkan jika menjadi istri kedua?"
"Apa pun yang kamu inginkan."
"Termasuk memilikimu seutuhnya?"
"Kamu menginginkannya?" Tanya Satya.
"Tentu saja, menginginkanmu seorang diri tidak ada yang lain."
"Asalkan kamu bisa memenuhi syarat saya dan memenuhi keinginan saya."
"Apa itu? Apapun akan aku lakukan?"
"Yakin bisa?" Tanya Satya.
"Apapun bisa aku lakukan, kamu mau aku melakukan apa?"
"Apa yang kamu bisa lakukan untuk saya, agar saya yakin padamu?"
Satya selalu membalikkan setiap kata-katanya karena Satya menginginkan Siwi sendirilah yang berinisiatif untuk meyakinkan dirinya.
"Memuaskanmu pun aku bisa, bukankah kamu merasa frustasi beberapa hari terakhir ini." Bisik Siwi pada telinga Satya
Satya mengeraskan rahangnya, dia seorang pria tentu saja apa yang dilakukan Siwi membuatnya menahan mati-matian sesuatu yang ada di dalam dirinya. Satya terdiam tak menampik apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.
"Lakukanlah dan tunjukkan pada saya malam ini. Bersiaplah di dalam kamar mandi saya sudah menyiapkan gaun yang cantik untukmu. Buat saya senang dan puas malam ini." Ujar Satya berbalik berbisik pada telinga Siwi.
Siwi tersenyum nakal dan menggoda, tapi ia tak mau membuat pria pujaan hatinya menunggu lama, perintah yang diberikan oleh bos sekaligus pujaan hatinya untuk bersiap di dalam kamar mandi pun segera ia lakukan karena pria itu sudah menyiapkan sesuatu untuk dirinya.
"Baiklah, tunggu aku sebentar, Sayang." Ujar Siwi. Wanita itu hendak mencium Satya tapi Satya menghentikan aksi Siwi.
"Berikan saya tidak hanya sekedar ciu*man saja, jangan membuang waktumu dan jangan kecewakan saya bersiaplah dengan semaksimal mungkin." Ujar Satya.
Siwi tersenyum sembari meng*igit bibir bawahnya terlihat nakal dan menggoda. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar mandi mempersiapkan diri. Benar saja di dalam kamar mandi sebuah paper bag tergantung di dinding disebuah gantungan dalam kamar mandi.
Mata Siwi berbinar saat melihat isi di dalam paper bag tersebut. "Astaga, ini bagus sekali dan aku yakin ini sangat mahal. Ling*erie ini sangat sek*si dari brand ternama. Dia benar-benar menyiapkan semua ini untukku?" Gumam Siwi dengan hati berbunga-bunga.
"Aku harus mempersiapkan diri dengan baik, jangan sampai dia kecewa padaku malam ini. Akan aku tunjukkan bagaimana hebatnya diriku, tunggu aku sayang." Gumam Siwi tersenyum bahagia.
Di luar kamar mandi sembari menunggu Siwi mempersiapkan diri Satya memainkan ponselnya. Dia telah mempersiapkan semuanya malam ini atas bantuan Jordi. Tak lama seorang pelayan datang mengetuk pintu, Satya membukakan pintu tersebut.
"Selamat malam, Tuan. Ini pesanan anda."
"Kamu yakin sesuai perintah saya?"
"Yakin, Tuan."
"Oke. Terima kasih, keluarlah."
Pelayanan tersebut keluar setelah mengantarkan apa yang di pesan oleh tamu istimewa mereka. Setelah itu Satya duduk kembali di sofa sembari meminum anggur yang telah diantarkan pelayan tadi.
"Kita lihat seberapa hebat dirimu." Gumam Satya menyesap anggur dari dalam gelas miliknya.
Tak lama Siwi keluar dari kamar mandi menggunakan linge*rie yang teramat se*ksi. Satya mengumpati Jordi dalam hati.
'Shyit... Jordi benar-benar totalitas sekali. Bagaimana bisa aku menahan lagi jika seperti ini.' Umpat Satya dalam hati.
Siwi mendekati Satya yang duduk di sofa masih terlihat tenang karena Satya berusaha mengendalikan dirinya agar tak menyerang Siwi lebih dulu. Dirinya akan sedikit bermain-main terlebih dahulu dengan Siwi.
"Bagaimana penampilan ku, sayang?" Tanya Siwi tersenyum menggoda.
"Haruskah saya jawab jika ini sudah sangat jelas? Minumlah dulu, kita akan sedikit bermain-main. Saya tidak suka langsung pada menu utama." Ujar Satya.
Pria tampan itu memberikan satu gelas berisi anggur pada Siwi dan wanita itu menerima dengan senang hati. Melihat Satya meminum kembali anggurnya, Siwi pun ikut meminum anggur tersebut.
'Habiskan, Siwi minumlah yang banyak agar bereaksi lebih cepat dan lebih tahan lama.' Gumam Satya dalam hati melirik Siwi yang tengah meminum anggurnya.
Rupanya Satya mencampurkan obat perang*sang pada anggur merah milik Siwi. Ini lah yang Satya maksud bermain-main sebentar. Tak lama obat itu pun bereaksi, Siwi merasa aneh dalam tubuhnya. Ia mulai merasa gelisah sendiri.
"Em... Kok aneh ya agak panas, AC nya mati, sayang?" Tanya Siwi.
"Tidak, minumlah habiskan minumanmu." Ujar Satya.
Siwi mulai bergerak gelisah dan intensitas pergerakan tersebut semakin terlihat jelas.
"Sayang, apa kamu mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku?"
"Hem, sedikit oba*t perang*sang, kamu tahu maksud saya kan?" Ucap Satya.
Siwi mengangguk gelisah tapi dirinya juga bingung Kenapa harus menggunakan obat itu.
"Jangan bertanya kenapa karena inilah cara saya dan saya tidak suka melakukan itu dalam keadaan terang seperti ini. Patuhi perintah saya, pergilah ke ranjang saya akan memadamkan beberapa lampu di kamar ini."
Siwi semakin merasa panas dan sudah tak tahan lagi dirinya langsung naik ke atas ranjang menunggu pria pujaan hatinya memadamkan beberapa lampu tapi tak benar-benar padam gelap gulita, masih terlihat samar-samar bagaimana bentuk tubuh Siwi.
"Jangan lama-lama, sayang aku sudah tidak tahan." Ucap Siwi dengan suara yang juga sudah mulai aneh.
Siwi melihat sosok pria mendekati dirinya sudah tentu saja itu Satya. Ia tersenyum saat sosok pria gagah itu ikut naik ke atas ranjang. Sudah tak tahan Siwi langsung menarik pria pujaan hatinya itu dan mendaratkan sebuah cium*an panas. Ceca*pan, *****"an dan gigit*an kecil tak terlewatkan lagi, bertukar sal*iva mengabsen setiap rongga mul*ut.
Sebagai seorang pria normal tentu saja tak menolak apa yang dilakukan oleh Siwi. Justru merasa senang dan menyambutnya dengan bahagia. Tubuh Siwi yang padat dan berisi saat benar-benar tersentuh oleh tangan kekar itu secara langsung.
"Aahhh..." Des*ah Siwi saat buktinyabukan lagi tersentuh melainkan direm*as dan dimainkan oleh tangan kekar itu.
"Aku sudah tidak tahan, sayang please." Pinta Siwi.
"Apa kamu menginginkannya sekarang, baby?" Suara yang terdengar berat akibat sudah tak bisa menahan lagi sama seperti Siwi.
"Iya... Iya lakukan sekarang. Tolong sayang aahh..."
"Baiklah, bersiaplah kehabisan tenaga baby."
Siwi sudah tak menggubris lagi suara pria yang kini tengah ditatapnya dengan penuh gai*rah, meski dalam keadaan remang-remang masih bisa terlihat olehnya hidung mancung dan tubuh kekar yang selalu ada dalam bayangannya.
Sepasang manusia yang tak terikat pernikahan itu kini berusaha mengadu nasib gaira*h mereka. Lagi-lagi tangan kekar itu merobek paksa lingerie berharga mahal tanpa basa-basi lagi. Melucuti setiap pintalan benang yang ada di tubuh Siwi dan tubuhnya.
"Buka kakimu lebar-lebar, Baby."
Sesuai perintah Siwi membukanya tapi dirinya tak menyangka bahwa pria pujaan hatinya itu membantu membuka kakinya lebih lebar dengan sedikit kasar. Has*rat alamiah yang sudah tak terkendali lagi seakan-akan haus akan kebutuhan biol*ogis tersebut tak memperdulikan lagi sebuah kelembutan. Langsung saja tanpa basa-basi kereta yang terasa keras bak besi itu meluncur bebas masuk ke dalam lorong rel kereta.
"Aahh... Pelan-pelan, sayang."
"Tahanlah baby, tunjukan kehebatanmu pada saya."
Kereta itu bukan bergerak lurus maju terus tapi bergerak maju mundur tanpa tergelincir sedikitpun karena lorong yang basah.
__ADS_1
"Aahh... Ahh... Aaahh... Kamu terlalu cephaath sayang pelan-pelanhh."
Rupanya rengekan Siwi tak dipedulikan sama sekali. Dia terus bergerak menyusuaikan dengan stamina tubuhnya yang masih full. Rupanya untuk mengimbangi obat yang terminum oleh Siwi, pria itu juga meminum obat kua*t karena tak ingin nantinya kalah oleh Siwi yang menggebu-gebu akibat obat yang dia berikannya sendiri.
"Merengek lah baby saya suka mendengar suaramu." Gerakan terus bertambah seiring dengan sesuatu hal yang terasa penuh dan ingin dikeluarkan.
"Daddyhhh... Pelan-pelanhh... Kamu terlalu kuat."
"Bukankah ini yang selalu kamu inginkan dari saya. Kamu harus bisa mengimbangi saya."
"Aaarhhh... Babyhh..." Erang*an itu akhirnya terdengar setelah sesuatu yang mendesak itu telah keluar tanpa mencabutnya terlebih dahulu. Akibat terlalu merasakan kenik*matan hingga pria gagah perkasa itu tak menarik keluar terlebih dahulu.
Entah obat apa yang Jordi berikan hingga tak ada rasa lelah sedikitpun. Dirinya merasa menjadi pria paling kuat malam ini.
"Taklukan keretaku, Baby. Bermainlah kendalikan situasi."
Siwi mengambil alih, pengaruh obat yang diberikan Satya masih terendap kuat dalam tubuh wanita cantik dan seksi itu. Melihat Siwi mengambil alih tentu saja, pria yang merasa kuat pada malam hari ini membiarkan dan merasakan bagaimana permainan yang akan Siwi tunjukan padanya.
"Bergeraklah, baby."
Siwi bergerak sesuai dengan keinginan tumbuhnya. Satya yang menjadi sosok sempurna dalam pandangan Siwi itu terpejam menikmati kepiawaian Siwi.
"Kamu menikmatinya, Daddyh."
"Iya, kamu sangat pintar, babyh kita habiskan malam ini sampai pagi."
Siwi sangat bersemangat sekali dalam bergerak. Hingga beberapa kali dirinya mencapai tujuan melelehkan lahar pada kereta cepat tersebut karena dengan tangan kekarnya pria matang itu menahan ping*gul Siwi agar tidak melepaskan diri.
"Bergeraklah lebih cepat lagi, babyh. Bantu Daddy melepaskannya lagi."
Siwi bergerak cepat kbali sesuai perintah prianya. Hingga akhirnya benar terbukti semburan hangat itu menyemprot pada bagian dalam Siwi terasa hangat.
Beberapa kali hal itu terjadi hingga menjelang subuh karena Siwi sudah kelelahan dan tertidur dengan sendirinya.
"Ck... Payah baru begitu saja sudah teler." Sedikit merasa kesal karena Siwi sudah terkapar lelah.
"Tapi cukup memuaskan, aku bisa menggunakannya melepaskan para kecebongku." Gumamnya beranjak dari ranjang dan menyalakan lampu.
Terlihat jelas tub*uh Siwi yang berkilau setelah aktivitas mereka. Padat dan sintal memang tak dapat mencegah keimanan yang tipis.
Masih merasa kereta cepat belum bisa berhenti tanpa memikirkan keadaan Siwi, dia langsung kembali naik ke atas ranjang dan melakukan keretanya sesuai perintah tubu*hnya. Tak masalah bekerja sendiri asalkan dapat selesai dengan tuntas.
Belva di rumah merasa sedikit gelisah, sudah dua kali Satya pergi dan tak kembali karena urusan pekerjaan. Ia tak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Satya sebenarnya. Semakin malam semakin larut membuat Belva tertidur tanpa sadar di kamar baby As.
Pagi harinya saat terbangun, benar saja Satya tak pulang saat Belva berjalan menuju kamarnya tak ada siapapun di dalam kamar.
"Mas, Satya benar tidak pulang?" Gumam Belva.
Ia menghela napas, lalu pergi ke dapur untuk membantu membuatkan sarapan untuk kedua anaknya. Bahkan hingga Duo Kay sekolah pun Satya belum juga kembali.
"Mami, Daddy mana kok aku dari tadi tidak lihat?" Tanya Kaili.
"Daddy, tadi malam harus bertemu dengan kliennya mungkin pekerjaan Daddy belum selesai." Ujar Belva memberikan pengertian untuk Kaili.
"Malam-malam kok Daddy bekerja sih?" Ujar Kaila.
"Itu mendadak, sayang. Ayo kita berangkat sudah siang nanti kalian terlambat." Ajak Belva.
"Nanti siang Mami yang jemput kita?" Tanya Kaila.
"Iya nanti siang, Mami yang jemput kalian. Aunty Bella sibuk di butik."
"Oke, tapi kita nanti jalan-jalan dulu ya." Pinta Kaila.
Pak Sugeng sebagai supir pribadi Belva telah siap membukakan pintu mobil untuk majikannya. Ibu dan anak itu kini telah masuk dan duduk di kursi belakang. Mobil mulai bergerak setelag semuanya sudah siap ditempat duduk masing-masing.
Belva sibuk mengurus anak-anaknya sedangkan Satya pagi ini sibuk menunggu Siwi yang masih tertidur pulas akibat kelelahan melakukan kegiatan menguras tenaga.
Tidak mungkin bagi Satya pergi meninggalkan Siwi begitu saja. Dia tidak ingin wanita cantik dan seksi yang siap melakukan apa saja untuknya itu merajuk jika dirinya pergi begitu saja.
Pria tampan beranak tiga itu sengaja tak membangunkan wanita itu karena tahu bagaimana lelahnya Siwi menghabiskan malam tadi. Satya sedikit merasa bosan harus menunggu Siwi terbangun. Rupanya Siwi merasakan kelelahan yang teramat sangat hingga pukul sembilan wanita itu baru bangun karena Satya menyibakkan gorden agar sinar matahari masuk ke dalam kamar hotel mereka.
Sreekk...
Gorden terbuka lebar, hangatnya sinar matahari menerima wajah tampan Satya. Cahaya terang itu berhasil membangunkan Siwi.
"Eungh..." Tangan dengan jari-jari lentik berhiaskan warna cat kuku yang semakin mempercantik penampilan wanita itu terangkat menutupi wajahnya dari sorotan cahaya matahari.
"Sudah bangun?" Tanya Satya.
Kesadaran Siwi belum sepenuhnya pulih, tubuhnya masih merasa remuk tapi suara bariton itu tetap sanggup dikenalinya.
"Daddy."
"Bangunanlah dan jangan panggil saya dengan sebutan itu. Kamu ingat pembicaraan kita?"
Siwi memutar bola matanya malas, sedari tadi dirinya yang tidur menghadap jendela kini merubah posisi membelakangi jendela. Selimut yang melorot itu menampakan punggung mulus Siwi yang sudah berhiaskan beberapa warna merah gelap hasil kegiatan semalam. Satya tersenyum miring melihat punggung Siwi.
"Bangunlah, seharusnya kamu sudah berangkat bekerja." Ujar Satya.
"Aku sangat lelah, bisakah aku beristirahat saja di sini?"
"Apa sebegitu hebatnya tadi malam hingga membuatmu sangat kelelahan."
"Kamu melakukannya tanpa memikirkan keadaanku, tadi malam terlalu kasar menurutku." Keluh Siwi.
"Ekhem... Apa kamu tidak sanggup? Jika tidak kamu boleh berhenti." Ujar Satya.
Siwi langsung membalikan badannya ke arah Satya, beruntungnya selimut masih menutupi bagian depan Siwi sehingga Satya dapat terselamatkan pagi ini. Jika tidak, mungkin pria itu tidak bisa menahan diri.
"Berhenti? Aku tidak selemah itu, sayang. Jika kamu menginginkannya lagi pagi ini aku tidak keberatan."
Siwi berusaha mempertahankan diri bahwa ia bukan wanita lemah yang akan menyerah pada saat ujian pertama dilaksanakan.
"Saya tidak ingin berurusan dengan hukum karena membuatmu meregang nyawa akibat kelelahan melakukannya. Baiklah beristirahatlah untuk hari ini tidak perlu masuk ke kantor."
Satya berbicara membelakangi Siwi, dia sibuk menatap pemandangan di luar jendela. Pikirannya menerawang pada anak dan istrinya di rumah. Pagi ini dirinya melewatkan kebiasaannya sarapan bersama keluarga kecilnya.
Siwi sedikit merinding kala Satya mengucapkan dua kata yakni meregang nyawa. Secara samar dirinya mengingat kegiatan tadi malam yang sungguh berbeda dari biasanya dirinya melakukan itu bersama pria lain. Satya ternyata sangat kuat dan tiada ampun menggarap dirinya.
Melihat jam yang sudah berjalan cukup cepat, Satya berniat untuk meninggalkan kamar hotel dan pulang ke rumah. Diapun harus bekerja hari ini demi memberikan nafkah bagi anak dan istrinya meski sangat yakin bahwa anak dan istrinya tidak akan kekurangan jika hari ini dirinya tak bekerja.
"Saya harus ke kantor, ada meeting penting. Bersantailah di kamar ini, jika membutuhkan sesuatu panggil saja pelayanan."
Satya berbalik dan berjalan menuju sofa di mana jaket dan sepatunya masih berada di sana. Siwi langsung bergerak turun dari ranjang, dengan percaya dirinya ia tak menutupi tubuhnya. Satya melihat pergerakan itu dari ujung matanya.
"Gunakan pakaianmu jika kamu masih ingin menikmati segala fasilitas yang saya berikan."
"Kenapa?" Tanya Siwi cuek.
"Apa kamu tidak malu?" Tanya Satya.
"Bukankah kita sudah melakukannya bersama."
__ADS_1
"Kamu siap melakukannya pagi ini lebih dari semalam? Saya tidak akan berhenti ketika saya sudah memulai." Tanya Satya dengan rahang mengeras menahan sesuatu.
Siwi berpikir ulang tidak mungkin dirinya mampu melayani Satya pagi ini sedangkan tenaganya saja masih belum pulih. Sehebat-hebatnya pria yang pernah bersamanya hanya Satya yang paling bisa menaklukkan dirinya hingga tak berkutik.
Sudah cukup siang Satya mempercepat pergerakannya. Dia tidak ingin istrinya merasa khawatir pada dirinya. Pria itu mulai beranjak meninggalkan Siwi tanpa berpamitan secara romantis ala pasangan lain. Dirinya sudah bersih dan mandi, tidak ingin aroma Siwi menempel padanya.
"Kamu tak memberikan ciu*man untukku sebelum pergi?" Protes Siwi.
"Siwi jangan memancing saya jika kamu masih ingin berjalan dengan baik. Kamu tahu bagaimana saya bukan?"
Siwi kembali terdiam meski merasa kesal, tapi nyalinya menciut jika membayangkan Satya kembali menyerang dirinya.
"Ah iya, di atas nakas ada obat kontr*asepsi, minumlah dan jangan coba untuk tidak meminumnya."
Setelah itu Satya benar-benar pergi dari kamar hotel. Jordi sudah menunggu di lobby hotel, sejak semalam pria itupun tidak pulang karena menemani dan menjaga Satya.
Di dalam kamar hotel Siwi duduk dengan kesal. Diambilnya obat di atas nakas yang sudah disediakan oleh Satya.
"Oke aku akan meminumnya saat ini tapi lihat saja nanti, suatu saat aku tidak akan menuruti perintah mu. Kamu harus benar-benar jadi milikku."
Siwi meminum obat tersebut lalu kembali membaringkan diri. Rasa lelah masih bergelayut manja padanya hingga tanpa sadar dirinya kembali tertidur.
Jordi dan Satya kembali dengan menggunakan mobil masing-masing. Sampai di rumah besarnya ternyata sang istri tidak ada di kamar mereka. Berjalan masuk ke dalam kamar Baby As untuk memastikan keberadaan istrinya. Belva baru saja kembali tiga puluh menit yang lalu setelah mengantarkan Duo Kay sekolah.
Wanita berparas cantik dengan postur tubuh yang semakin terbentuk indah karena setelah memiliki anak justru tubuh Belva semakin berisi. Belva menggendong baby As untuk bersiap memandikan bayi itu.
Satya yang membuka pintu melihat istrinya dan anaknya berada di dalam, diapun langsung menghampiri dan memeluk sang istri dari belakang. Baru sebentar saja dirinya pergi semalam sudah sangat merindukan sang istri tercinta. Tak hanya memeluk tapi juga menc*ium pipi Belva.
"Sayang."
"Mas? Kamu kapan pulang?" Tanya Belva.
Setelah mengantar Duo Kay dan turun dari mobil Belva langsung masuk ke dalam rumah dan fokus pada baby As tanpa melihat ke kamarnya sendiri. Pikiranya sang suami belum pulang.
"Baru saja, hai jagoan. Kenapa dia seperti mengantuk?"
"Dia baru saja bangun karena harus mandi." Jawab Belva.
"Oh, Daddy boleh ikut memandikan baby As?"
"Tentu saja boleh dong Daddy tapi tunggu sebentar mbak Janis baru menyiapkan air hangatnya."
Beberapa saat kemudian, perlengkapan untum mandi baby As sudah siap. Belva memandikan baby As di dalam kamar mandi yang cukup luas untuk ukuran bayi. Satya yang sudah melepaskan jaketnya kini ikut memandikan baby As meski hanya ikut mengucurkan air ke tubuh bayi kecil itu saja. Untuk urusan selebihnya Belva lah yang mengutusnya. Satya masih merasa takut memegang baby As saat berada di dalam air karena menurutnya itu sangat licin. Tubuh bayi yang berkulit lembut dan tulangnya yang masih rawan membuat Satya takut tak bisa menahan bayinya itu.
Tangis baby As terdengar nyaring di dalam kamar berukuran besar tersebut. Bayi itu terkadang mengeluarkan suaranya saat dimandikan atau setelah di mandikan.
"Ssshh... Iya sayang sebentar ya sabar, Nak Mami pakaikan popok dulu." Belva berbicara pada bayinya dengan tutur kata yang lembut dan sabar.
"Apalagi sayang yang harus mas ambilkan untukmu."
"Sudah cukup, mas ini tinggal di pakai bajunya saja."
Satya melupakan niatnya yang buru-buru pulang untuk bersiap bekerja. Pria itu justru sibuk membantu sang istri padahal sudah ada Janis yang membantu Belva. Satya merasa senang ketika membantu Belva, melihat bayi mereka dimandikan, bersih dan wangi. Entah meski bukan anak kandungnya tapi Satya seakan menganggap baby As adalah anak kandungnya yang terlahir dari rahim sang istri.
Mungkin karena dulu dirinya tidak sedekat ini bersama istrinya yang dulu dan mengurus bayi secara bersama-sama seperti saat ini dirinya dan Belva lakukan. Pengalaman baru lagi yang membuat Satya kembali merasakan kebahagiaan.
Saat baby As sudah wangi dengan aroma bedak bayi bercampur minyak telon membuat Satya ingin mencium bayi itu berkali-kali.
"Mas, sudah dia harus minum susu dulu."
"Yang mas cium kan pipinya bukan bibirnya."
"Seharusnya mas tidak boleh dekat-dekat, mas belum mandi kasihan baby As."
"Enak saja, mas sudah mandi di rumah Jordi." Ucap Satya terpaksa berbohong pada istrinya.
Pria itu tak ingin kebahagiaan mereka rusak saat ini. Kehadiran baby As sudah menambah kebahagiaan mereka. Akan sangat membuat dirinya sendiri kecewa dan menyesal jika dirinya sendirilah yang menghancurkan kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Mas, tidak ke kantor?"
"Emm... Nanti siang saja setelah makan siang. Mas ingin bersamamu dan baby As."
"Tapi baby As sebentar lagi tidur, mas tidak boleh di ganggu."
"Ya sudah, mas ingin berdua bersama mu sambil menjaga baby As tidur."
Belva hanya tersenyum menanggapi suaminya. Biarkan saja jika suaminya itu ingin berada di rumah, ia tahu suaminya sudah mampu dan terbiasa menghandle pekerjaan di manapun pria itu berada. Bekerja di rumah pun bisa Satya lakukan jika dirinya menginginkan nya.
Janis paham jika sudah ada Satya maka dirinya segera undur diri lebih memilih ke dapur setelah membantu menyiapkan keperluan mandi baby As.
"Nis, kamu tidak ke kamar baby As?" Tanya Mbok Yati.
Wanita paruh baya itu tengah membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Semakin dimakan usia, dirinya lebih mudah lelah dalam bekerja tapi Satya masih belum mengijinkan kepala asisten rumah tangga itu mengundurkan diri. Justru Satya meminta Mbok Yati untuk tinggal saja di rumah besar itu hanya mengawasi para pekerja yang lain saja tanpa harus bekerja terlalu keras. Tapi ia merasa tidak enak dengan yang lain jadi sebisa mungkin mbok Yati masih ikut bekerja membereskan rumah.
"Di kamar baby As ada Tuan, jadi aku memilih ke sini saja."
"Rumah ini semakin ramai dengan kehadiran baby As. Tangis bayi kerap terdengar dan Mbok lihat Tuan juga semakin bahagia berbeda dengan yang dulu."
"Iya, Mbok. Tuan Satya yang sekarang terlihat lebih hangat dalam memperlakukan istri dan anaknya. Sangat perhatian pada Neng Belva dan si kembar apalagi dengan baby As. Dia selalu mencium bayi itu terkadang sampai neng Belva kesal dengan Tuan."
"Tuan Satya memang sebenarnya pria yang baik kalau Mbok lihat. Dia juga pria bertanggung jawab dan setia terhadap pasangannya. Buktinya dulu dia bisa saja mendapatkan wanita manapun saat Nyonya Sonia tidak pernah memperhatikannya tapi sepertinya Tuan lebih memilih diam dan sibuk bekerja."
"Beruntung ya Neng Belva dapat Tuan Satya, itu mungkin karena Neng Belva wanita yang baik jadi kebaikan juga mengikuti hidupnya." Ujar Janis melihat keberuntungan yang Belva dapatkan.
Tak hanya ada Janis dan Mbok Yati saja di dapur, di samping dapur tepatnya di ruang makan Inah dan Fitri sedang membereskan meja makan. Merekapun sebenarnya penasaran siapa bayi bernama baby As yang kini tinggal di rumah besar itu dan dari mana mereka membawa bayi itu. Tapi mereka tak berani untuk bertanya. Inah rupanya sudah cukup merasa ciut nyalinya saat melihat Tuti benar-benar dipecat karena berani mencari urusan majikannya.
"Iya, Nyonya itu sangat baik. Dulu saat Nyonya rumah ini masih Nyonya Sonia mana pernah kita boleh makan di meja makan ini. Semua makan di dapur terserah mau di lantai atau di toilet yang penting tidak boleh satu ruangan dengan majikan." Ujar Fitri.
Ditengah perbicangan mereka, terdengar suara bel pintu utama berbunyi. Semua asisten rumah tangga saling melirik menebak siapa yang datang. Mbok Yati berjalan untuk membuka pintu, tapi Inah menghentikan langkah Mbok Yati saat wanita paruh baya itu sampai di ruang makan.
"Mbok, biar aku saja yang buka. Mbok duduk saja." Ucap Inah.
"Ya sudah bukalah cepat nanti Tuan marah jika itu tamu penting."
"Iya, Mbok."
Inah langsung berjalan setengah berlari untuk membukakan pintu utama. Saat pintu terbuka baru dapat dilihatnya dengan jelas seorang wanita cantik berdiri di depan pintu dengan tersenyum ke arah Inah.
'Siapa wanita ini?' Batin Inah.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terima kasih masih setia support author ππ
Meski Like dan komen tak sebanyak sebelumnya, it's oke gpp tapi author tetap senang karena masih ada yang setia sama author.
Ikuti terus jalan cerita Om Satya dan Belva ya βΊοΈπ
Author menunggu chat masuk nih sampai Sabtu depan hihihi
__ADS_1