
Keinginan Satya adalah ingin selalu bersama dengan Belva dan juga anak-anak nya. Ingatkah saat Satya lebih memilih tidur di sofa daripada tidur di ranjang bersama Belva dan membiarkan wanita itu beberapa hari tidur di kamar Duo Kay. Itu adalah bentuk dari caranya menenangkan diri, dia tak bisa untuk tidak menyentuh dan berdekatan dengan Belva.
Satya melerai pelukan mereka dan membawa Belva untuk duduk di sofa ruang tamu. Digenggamnya tangan Belva, manik matanya menatap wanita cantik ibu dari anak-anaknya itu.
"Belva, sekali lagi saya meminta padamu. Menikahlah dengan saya, kita tidak bisa seperti ini terus. Pikirkan anak-anak kita." Pinta Satya dengan serius.
"Tapi... "
"Apa ? Kamu tak memiliki perasaan apapun pada saya ?" Potong Satya dengan sebuah pertanyaan yang diyakini Satya itu adalah alasan Belva menolak dirinya dan Belva mengangguk.
"Jika kamu tak memiliki perasaan apapun pada saya. Jadi, tidak masalah bukan jika saya menikah dengan wanita lain ?"
Belva menatap Satya, menatap pria itu dengan sedikit tajam.
"Kenapa harus bertanya padaku ? Jika mau menikah ya sana menikah saja sana dengan wanita mu jangan bertanya padaku." Ucap Belva kesal.
Satya tersenyum tipis, dia melihat jika Belva terlihat kesal saat dirinya mengajukan pertanyaan itu.
"Jika kamu tak memiliki perasaan pada saya, kenapa harus kesal seperti itu."
"Siapa yang kesal ? Kamu jangan sok tahu." Ucap Belva.
Satya terkekeh geli hal itu semakin membuat Belva kesal.
"Kamu itu sedang cemburu, sayang. Terkadang hal itu juga saya rasakan saat kamu berinteraksi dengan pria lain dengan cukup dekat. Seperti saat kamu melayani Jordi sarapan bersama kita waktu itu."
Ucapan Satya mampu membuat Belva mengernyitkan dahinya.
"Jawab pertanyaan saya dengan jujur." Ucap Satya.
"Apa ?" Tanya Belva lirih.
"Apa kamu merasa kesal dan marah saat kamu melihat saya bersama Rania saat itu ?"
Belva mengangguk pelan. Ia mengakui apa yang dirasakannya saat itu. Lagi-lagi Satya tersenyum.
"Lalu bagaimana jawaban kamu ?"
"Jawaban apa ?" Tanya Belva.
"Mau tidak jadi istri saya. Jadi Nyonya Balakosa." Ucap Satya dengan tatapn yang sangat lembut dan nada yang juga sama lembutnya.
Belva mampu melihat kelembutan Satya pada malam itu. Malam setelah perdebatan kecil mereka akibat rasa curiga dan cemburu yang mendera mereka masing-masing.
Sikap dingin Satya selama beberapa hari ini sudah Belva ketahui alasannya. Kesibukan Satya dan juga kedekatan yang terlihat pada Satya dan Rania pun sudah dijelaskan oleh Satya.
Wanita cantik dengan wajah yang masih sangat pantas menjadi gadis remaja itu menganggukkan kepalanya dengan pelan. Menyetujui permintaan Satya yang ingin menjadikannya seorang Nyonya Balakosa.
"Bagaimana ? Di jawab lah jangan diam saja." Ucap Satya yang sebenarnya sudah melihat anggukan dari Belva.
"Kan sudah dijawab." Belva sedikit kesal karena malu.
"Mana ? Saya tidak dengar kamu menjawabnya. Ya sudah kalau tidak mau biar saya cari Mami baru buat si kembar."
Kembali Satya mendapatkan lirikan tajam dari Belva, pria itu entah Belva tak tahu dalam saru hari dari pagi hingga malam hari selalu membuatnya kesal.
"Iiihh... Kan sudah dijawab iya tadi." Tutur Belva.
"Tidak tadi kamu belum mengatakan jawaban itu."
"Aku sudah menganggukkan kepalaku, sama saja aku sudah menjawabnya." Belva kembali merajuk karena masih saja merasa pria duda itu sangat mengesalkan. Ia beranjak dari sofa ruang tamu.
Satya reflek ikut berdiri saat Belva beranjak. "Mau kemana kita belum selesai bicara."
"Sudah ah malas sama kamu, bikin kesel terus." Jawab Belva cepat. Wanita itu melangkahkan kakinya menuju kamar Duo Kay.
Grep... Tiba-tiba Satya meraih Belva dan memeluk kembali Mami dari anak-anaknya itu.
"Iya maaf... Maaf sudah membuatmu kesal. Jadi benar kamu sudah terima lamaran saya ?" Satya masih ingin memastikan jawaban Belva. Jawaban yang selalu ditunggu-tunggu dan malam ini dirinya akhirnya bisa mendengarkan jawaban itu.
"Iyaaaa... Sudah lepas." Ujar Belva kesal sekaligus gemas pada pria duda berusia matang itu.
Belva melepaskan diri dari Satya. Ia kembali melanjutkan tujuannya untuk menemui dan mengurus Kaili yang berada di kamar. Tak tinggal diam Satya mengikuti Belva masuk ke dalam kamar Duo Kay.
Kantong plastik yang berisi plester kompres itu dikeluarkan dan di tempelkannya pada dahi Kaili. Berharap pria kecilnya tidak akan sakit lebih parah lagi.
"Kaili demam ?" Tanya Satya setelah memperhatikan bungkus plester kompres yang terletak di nakas.
"Hem... Beberapa hari ini mereka selalu tidur melewati jam malam mereka yang seharusnya." Rupanya mengingat hal itu Belva masih merasa kesal.
"Kamu masih marah dengan saya ?" Tanya Satya.
"Bukan marah tapi kesal. Saking inginnya mereka bertemu kamu sampai harus begadang menunggumu. Dan menuduhku yang bukan-bukan hanya karena salah kiriman barang pesananku."
"Maaf... saya tidak bermaksud membuat mereka menunggu seperti itu." Ucap Satya.
Pria itu mengusap tengkuknya. "Mengenai yang tadi, mana saya tahu kalau pria itu salah kirim barang. Dia mengatakan jika itu barang pesanan mu. Tentu saja saya merasa kesal dan marah, saya... Saya takut kamu..."
"Om, aku juga masih waras lah. Mana mungkin saya melakukan hal yang tidak-tidak seperti itu. Waktuku sangat sibuk untuk mengurus butik dan anak-anak daripada bermain-main dengan teman-teman atau para lelaki diluar sana."
"Hem... Memang seharusnya begitu. Kalau untuk bermain-main kamu dengan saya saja. Jangan sama yang lain." Ucap Satya spontan entah apa yang ada dalam otak pria itu hingga otot-otot lidahnya mampu bergerak mengatakan hal seperti itu.
Belva mengernyitkan keningnya mendengar tanggapan Satya. Tapi wanita itu tak ingin membahas lebih lanjut.
"Mandi sana." Ujar Belva mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
"Siapkan pakaian saya ya ?"
"Aku mengurus Kaili." Jawab Belva singkat.
"Ck... Siapkan baju untuk suami masa tidak mau. Jangan jadi istri durhaka kamu."
"Heh Tuan Balakosa... Kamu belum mandi belum tidur sudah ngelindur. Enak saja aku istri durhaka, menikah saja belum sudah main tuduh-tuduh." Ujar Belva tak terima..
"Tidak perlu ngegas begitu Nyonya Balakosa tercinta. Belajarlah mempersiapkan diri menjadi istri Tuan Balakosa yang baik. Pandai mengurus suami dan anak-anak, jadilah istri idaman bagi saya." Ucap Satya mengacak rambut Belva.
Langsung saja tangan kekar pria itu ditepis oleh Belva meski tidak kasar. Ia merapikan rambutnya kembali, tak mengomel tapi bibir wanita itu cemberut.
"Selesai urus Kaili, aku siapkan. Mandi dulu deh sana."
"Iya... Iya... Sayang. Jangan cemberut begitu, takut saya kalau sudah gemas sama kamu." Tangan Satya hendak terulur untuk kembali menyentuh kepala Belva tapi tangan itu ditangkap oleh Belva.
"Jangan ngacak-acak rambut aku deh Om. Kebiasaan..." Ucap Belva tapi sesungguhnya wanita itu saat ini merasa bersemu-semu malu. Satya sedari tadi menggoda dirinya seakan-akan memang ia sudah menjadi istri dari seorang Aryasatya Balakosa.
Satya masih berdiri diam dihadapan Belva. Pria itu tersenyum lembut dan tipis untuk wanita tercintanya.
"Kenapa masih disini. Mandi sana..."
"Dari tadi tangan saya kamu pegang bagaimana mau mandi."
Reflek Belva melepaskan tangan Satya. Ia berdeham demi menutupi sikap salah tinggkahnya yang mungkin sebentar lagi akan tampak sangat jelas.
"Sudah tidak mau pegang lagi ?" Tanya Satya menggoda. Tangannya dimasukkan ke dalam kedua saku celananya.
"Ck... Apa sih Om... Sudah sana, susah banget di suruh mandi."
"Iya, saya mandi dulu. Jangan lupa siapkan baju saya."
Cup...
Satya mencuri sebuah ciuman dari pipi Belva lalu berjalan meninggalkan Belva sebelum wanita itu marah-marah padanya.
Belva sebagai seorang perempuan ada rasa malu-malu dan kesal tapi bukan kesal emosi melainkan kesal manja.
Satya memilih segera mandi agar bisa menyentuh kedua anak-anaknya. Terlebih Kaili sedang sakit dirinya tak ingin jika nanti kuman di tubuhnya akan menempel pada Kaili.
Selesai mengurus Kaili, Belva langsung beralih tugas menyiapkan pakaian Satya agar setelah pria itu selesai mandi bisa langsung berganti baju.
Masuk ke dalam kamar, apa yang dilihat Belva ? Beberapa pakaian Satya berserakan di bibir ranjang dan lantai. Pria itu rupanya benar-benar merasa sudah ditemani dan diurus oleh seorang istri sehingga secara sembarang pria itu melepaskan pakaiannya.
Belva hanya menggelengkan kepalanya, itu bukan kebiasaan Satya. Selama dulu dirinya bekerja di rumah besar Satya, saat merapikan dan membersihkan kamar Satya tak ada batang milik pria itu yang berserakan.
Justru Budhe Rohimah bercerita jika Satya akan mengurus hal-hal kecil pribadinya sendiri tanpa meminta Sonia yang dulu menjadi istrinya. Tahu kelakuan dan sikap Sonia yang tak suka diperintah maka demi menghindari perdebatan yang membuat Satya malas, pria itu lebih memilih diam dan beraksi sendiri.
Dipungutnya pakaian yang berserakan itu lalu beralih menyiapkan pakaian untuk Satya. Pria duda itu keluar dari kamar mandi dengan tubub setengah basah karena terdapat titik tetesan air dari shower.
"Itu pakaiannya di atas ranjang." Ujar Belva yang kembali mengambil pakaian kotor milik Satya lalu berlalu ke dalam kamar mandi menyimpan pakaian kotor di dalam keranjang pakaian kotor.
Tanpa basa-basi dan mengukur waktu Satya langsung mengenakan pakaian yang disediakan Belva saat wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu lupa ? Saya biasa tidur tanpa baju." Ucap Satya saat Belva keluar dari kamar mandi.
"Tidak. Memang kamu mau langsung tidur ? Tidak menengok anak-anak dulu ? Belum makan juga kan ?"
Satya mengangguk.
"Mau makan dulu atau ke kamar anak-anak ?" Tanya Belva.
"Ke kamar anak-anak sebentar lalu makan." Jawab Satya.
"Aku siapkan makan dulu." Ucap Belva.
"Oke sayang... Nanti tidurnya di kamar sama saya." Satya mengingatkan karena beberapa hari kemarin, Belva tidur di kamar Duo Kay.
Belva kembali merasa aneh dalam dirinya, setelah hubungannya dengan Satya membaik, ia akan merasa malu dan grogi saat Satya memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kaili sakit Om, jadi aku harus menemani anakku lah."
"Ya sudah kita tidur sama anak-anak." Putus Satya. Tak ada salahnya tidur bersama Duo Kay.
Satya berlalu masuk ke dalam kamar Duo Kay, sedangkan Belva ke dapur mempersiapkan makanan untuk Satya, pria duda yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Selesai mempersiapkan makan malam, Belva menghampiri Satya ke dalam kamar Duo Kay untuk mengajaknya makan. Ia pun melayani Satya untuk makan.
Masakan Belva sudah menjadi ukuran otomatis bagi lidah Satya. Tak pernah merasa bosan dan selalu menjadi andalan pria itu.
Selesai makan malam yang ditemani Belva, meski wanita itu tak ikut makan hanya menemaninya di meja makan saja. Keduanya masuk ke dalam kamar Duo Kay.
Dicek suhu tubuh Kaili sudah lebih membaik daripada sebelumnya. Syukur demam Kaili tak parah. Belva memposisikan diri untuk tidur di samping Kaili. Disusul oleh Satya yang juga bersiap memposisikan diri di samping Belva.
"Kenapa tidur di sini, suka banget nempel-nempel. Engap kalau Om tidur di samping aku. Tidur itu di samping Kaila, sekali-kali tidur peluk anak gadisnya jangan nempel-nempel sama aku terus."
"Halah kamu saya tempelin juga mau. Biasanya juga kamu kalau tidur peluk-peluk saya." Ujar Satya.
"Ngawur... Mana ada begitu. Sudah itu temani Kaila di sampingnya biar tidak jatuh."
Tanpa protes Satya berpindah posisi berbaring di samping Kaila. Meski dalam hati dirinya ingin sekali tidur memeluk Belva kembali setelah hampir satu minggu mereka saling diam dan tidur terpisah.
****
Saat ini Alya sedang dalam perjalanan menuju rumah Satya. Dirinya bisa terbebas dari jerat hukum atas bantuan seseorang yang pernah Sonia datang saat setelah menemui Alya di kantor polisi.
__ADS_1
Sebuah taksi online berhenti di depan gerbang tinggi dan besar milik Satya. Pak Jajak merasa tidak mengenal mobil yang berhenti di depan gerbang langsung saja mendem gerbang.
Alya keluar dari taksi online tersebut, Pak Jajak terkejut. Pasalnya pria itu tahu jika Alya sedang dalam masa penahanan karena Jordi sudah mengatakan padanya sebelumnya saat pria paruh baya itu menanyakan keadaan Alya.
"Buka terbang Pak." Titah Alya.
Pak Jajak masih terdiam, dia bingung Alya sudah bisa bebas berbeda dengan penjelasan Jordi yang mengatakan jika Alya pasti akan ditahan dalam waktu yang lama.
"Pak !! Dengar tidak sih, buka gerbangnya !" Bentak Alya kesal.
"Eh... I-iiya Non." Pak Jajak kembali terkejut kali ini dengan bentakan Alya.
Alya masuk ke dalam rumah dengan gaya seperti biasanya. Angkuh dihadapan para asisten rumah tangga. Saat memasuki rumah ternyata rumah itu dalam tahap finishing renovasi.
Satya turun dari tangga,. kebetulan hari ini dirinya menyempatkan diri untuk menengok perkembangan renovasi sebagian rumahnya.
"Dad... Daddy Alya mau bicara dengan Daddy." Ucap Alya yang tiba-tiba saat melihat Satya turun dari tangga.
Tentu saja Satya terkejut saat melihat Alya. Pikirannya bekerja memikirkan bagaimana bisa Alya bisa bebas keluar penjara dan mengunjungi rumahnya.
"Dad, kenapa ? Daddy terkejut Alya bebas dari penjara ?"
"Cih... Demi anak wanita murahan itu Daddy tega melaporkan aku hingga aku ditahan." Ucap Alya sinis dan kesal pada Satya.
"Wanita murahan maksud mu apa ?" Tanya Satya dengan nada yang sudah kembali dibuatnya tenang dan dingin seperti biasanya.
"Tidak perlu Alya jelaskan lagi kan Dad ? Pasti Daddy tahu maksud Alya. Demi anak mantan pembantu itu yang mengaku-ngaku jika anaknya adalah anak Daddy dan Daddy tega bersikap tak adil seperti ini pada Alya."
"Cukup !!! Memang Sonia tak pernah mengajarkan putrinya sopan santun. Untuk apa kamu datang ke rumah ini."
"Dad ? Apakah setelah melaporkan ku pada polisi aku tak berhak pulang ke rumahku sendiri ?"
"Memang kamu tidak berhak untuk kembali ke rumah ini." Ucap Satya.
"Apa maksud Daddy ?" Tanya Alya terkejut dengan penuturan Daddy nya. Satya masih dianggap sebagai Daddy nya karena perempuan itu belum mengetahui yang sebenarnya.
"Seseorang yang bukan bagian dari keluarga Balakosa tak berhak tinggal di rumah ini tanpa seijin saya. Dan kamu bukan lagi baginya dari keluarga saya."
"Dad, apa-apaan ini ? Apa maksud Daddy aku tak mengerti. Apa wanita murahan itu menghasut Daddy huh ?!!"
"Keluar kamu dari sini. Anak tidak tahu sopan santun. Pantas saja kamu tidak bisa diatur, watakmu persis seperti ibumu. Pantas tidak ada bagian dari hidup saya yang menurun padamu. Karena kamu memang bukan putri ku."
Deg...!!!
Blaaarr...!!!
Seperti tersambar petir, ucapan Satya sangat menusuk bagi Alya. Satya mengatakan jika dirinya bukanlah putrinya. Alya masih tak bisa mencerna apa yang Satya ucapkan.
"Daddy jangan bercanda. Sebegitunya Belva si wanita murahan dan penggoda itu menghasut Daddy. Bahkan Mommy dan Daddy bercerai juga karena wanita penggoda itu kan."
Plak !!!
Satya tak tahan dan geram sedari tadi Alya terus saja menghina Belva. Wanita yang dia cintai dan ibu dari anak-anak kandung nya.
"Saya sudah tidak tahan dengan kelakuan kalian yang sangat merugikan orang lain. Kamu Alya Rumi dengarkan saya baik-baik."
"Kamu... Bukan putri saya. Bukan darah daging saya. Jadi, mulai detik ini jangan pernah kamu menginjakkan kaki di rumah saya lagi."
Deg... !!!
Kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan Alya kembali harus terkejut dan sakit.
"Maksud Daddy ? Aku tidak percaya ini." Alya sudah menangis.
"Saya perjelas disini. Maksud saya kamu adalah anak Sonia dan juga selingkuhannya. Jadi, perceraian saya dengan ibumu bukan karena Belva. Tapi karena ibumu sendiri yang berkhianat."
Satu kebenaran yang belum Alya ketahui kini sudah didengarnya dari mulut Satya. Air mata perempuan itu sudah mengalir deras.
"Itu tidak mungkin, Mommy tidak mungkin berselingkuh. Pasti Daddy berbohong agar bisa bercerai dengan Mommy dan semua ini karena Belva kan ?"
"Berhenti menyalahkan Belva yang sebenarnya semua kerumitan ini muncul karena sifat licikmu yang sama seperti ibumu itu, Alya."
Tak segan-segan Satya berkata pedas dan menyakitkan bagi Alya. Itulah sifat Satya tidak akan segan-segan berkata pedas dan menyakitkan untuk orang lain yang sekiranya bukanlah bagian dari hidupnya yang penting.
"Untuk barang-barang mu ambil saja digudang. Mbok Yati, antar dia ambil barang-barangnya digudang." Titah Satya saat Mbok Yati melintas.
"Baik Tuan... Mari Nona."
"Ingat Mbok, mulai detik ini. Sonia ataupun Alya dan semua yang tak mendapatkan ijin dari saya maka tidak boleh ada yang masuk ke rumah ini."
"Baik Tuan..."
Ucapan Satya ternyata di dengar oleh beberapa asisten rumah tangga Satya. Mereka yang mengetahui sikap Alya selama ini pada mereka pun membuat mereka menatap sinis pada perempuan yang tengah menangis itu.
"Cih... Ternyata bukan anak Tuan. Pantas saja kelakuannya sepery OKB yang suka perintah sana sini bentak sana sini." Ucap salah satu asisten rumah tangga Satya.
Alya hanya melirik ke arah asisten rumah tangga itu tanpa berkata apapun. Dan sang ART pun tak memiliki rasa takut lagi pada Alya yang kenyataannya bukan lagi majikan yang harus ditakutinya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku...
Maaf kemarin gak bisa update karena kesibukan author mempersiapkan ini itu keperluan nikahan temen + kerja jadi waktunya terbagi-bagi.
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang masih support, masih menunggu update dari author 🙏🙏