Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 52. Tak Sengaja


__ADS_3

Kesedihan dan Kebahagiaan itu akan selalu berjalan beriringan. Jika hari ini kesedihan menghampiri itu sebuah penguat bagi kita. Jika yang datang menghampiri adalah sebuah kebahagiaan itu sebuah pelajaran agar kita tetap terus bersyukur atas pemberian sang kuasa.


Masalah Belva mang belum sepenuhnya selesai tapi dibalik semua itu kini rejeki datang menghampiri nya mulai dari customer butik yang merangkak perlahan semakin banyak. Ditambah lagi saat hal yang tak pernah dibayangkan sama sekali. Diberikan tawaran secara langsung oleh pemilik brand ternama dan terkenal.


Keputusan sudah diambil oleh Belva untuk dua buah hatinya. Mendapat dukungan dari Roichi dan Bella, Belva mantap untuk menerima tawaran dari Ivanka Elizabeth. Keputusan itu membuat Ivanka si pemilik brand merasa senang. Kali ini ia memiliki model yang sangat pas untuk produk barunya.


Segala urusan kontrak dan kerjasama segera Ivanka lakukan demi kelancaran kerjasama mereka. Belva pun sebelum kontrak itu dibuat sudah mengajukan beberapa persyaratan untuk buah hatinya. Persyaratan yang tentunya memberikan kenyamanan bagi Duo Kay agar dua bocah itu tak merasa terbebani kelak. Ivanka pun setuju, bahkan sangat memahami kekhawatiran Belva sebagai seorang ibu.


"Saya sangat senang hari ini Nona. Kalian mau menerima tawaran ini. Semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan lancar."


"Amin. Terima kasih sudah memberi tawaran ini pada anak-anak. Sejujurnya saya tak pernah membayangkan sedikit pun jika mereka mendapatkan tawaran yang cukup besar ini."


"Sama-sama. Mereka memiliki bakat dan minat yang harus dikembangkan. Mereka spesial bagi saya. Model terkecil dalam brand saya." Ivanka tertawa.


Duo Kay secara usia memang model terkecil di dalam bisnisnya. Meski ada model anak yang lain namun usia mereka lebih besar dari Kaili. Jangan salah meski usia masih balita tapi tubuh keduanya lebih besar dari usia mereka.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu Nona Iva."


"Silahkan Nona Belva, untuk jadwal pemotretan nanti akan kami informasikan kembali."


"Baiklah Nona."


Belva kembali ke butik, saat datang mengurus kesepakatan duo Kay tak ikut serta karena mereka masih sekolah.


Evankay boutique kini sudah kembali pulih. Bahkan semakin ramai saja. Belva beseeta yang lain harus terus bekerja ekstra untuk mengisi beberapa hanger yang kosong.


Terkadang Belva merasa keteteran saat menggambar sketsa desain para customer. Tapi sebisa mungkin diaturnya jadwal pemesanan agar tidak saling bertabrakan agar semua dapat selesai sesuai dengan jadwalnya.


Untuk pengisian etalase butik terkadang Kaila yang membantu. Anak itu selalu belajar banyak model-model pakaian dari internet lalu mengembangkannya dengan imajinasinya. Hasil dari karyanya memang sangat berbeda karena memiliki keunikan tersendiri.


"Hai Bel... Bagaimanapun butik ? Aman ?" Tanya Belva.


"Aman Nona. Segeralah naik ke atas. Ayah menunggumu Nona."


"Oh ada apa ?" Tanya Belva.


"Entahlah mungkin ada sesuatu yang penting."


Belva naik ke lantai dua, Roichi menunggunya pasti ada sesuatu hal yang penting karena biasanya pria itu selalu mencari si kembar. Saat masuk ternyata benar saja sofa nya sudan diisi oleh Roichi.


"Om mencari ku ?"


"Ya... Hal yang langka bukan ?"


"Haha... Iya seperti itulah. Ada apa ? Tanya Belva.


"Duduklah dulu."


Belva meletakkan tasnya di meja kerja miliknya lalu beralih duduk di sofa berseberangan dengan Roichi.


"Tuntutan atas namamu sudah dicabut oleh pihak Nyonya Sonia dan putrinya."


"Hah ? Bagaimana bisa om ? Bukankah mereka begitu keras untuk melaporkanku ?"


Roichi menghendikan bahunya. "Entahlah.."


"Tapi laporan kita akan tetap terus berlanjut. Saya tidak akan mencabut laporan itu." Ucap Roichi.


"Tapi Om apa tidak sebaiknya kita juga mencabut laporan itu karena mereka juga sudah mencabut nya."


"Tidak perlu. Sedikit pelajaran bagi mereka saja." Ucap Roichi.


"Tapi om..."


"Kamu tunggu saja apa yang akan terjadi nanti. Keluarga Hector tidak ada yang boleh direndahkan termasuk kamu. Karena hal tersebut akan berpengaruh pada kredibilitas bisnis dan juga harga diri keluarga Hector."


Jika sudah menyangkut nama keluarganya, Belva tak bisa berbuat apa-apa lagi. Toh semua itu Roichi yang akan menangani nya. Pasrah saja akan apa yang dilakukan oleh asisten kepercayaan Papa nya itu.


"Terserah Om saja bagaimana baiknya."


"Hemm... Bagaimana pembicaraan kontrak anak-anak ?"


"Lancar... Beberapa hari lagi produk baru mereka akan diluncurkan. Jadwal pemotretan anak-anak akan diinformasikan nanti."


Roichi hanya mengangguk paham. "Om Beberapa hari terakhir ada di Jakarta. Bagaimana pekerjaan Om di Bali ?"


"Sudah ada yang handle. Saya harus mengurus beberapa masalah di sini."


"Termasuk masalahku ?" Tanya Belva.


"Ya salah satunya."


"Maaf membuat Om semakin sibuk." Ucap Belva dengan wajah sesal.


Roichi berdiri dari duduknya. Satu tangannya masuk ke dalam saku celananya. Tepat di samping Belva, pria itu berhenti.


"Tak masalah. Menjaga kalian juga menjadi prioritas saya."


Roichi mengacak rambut Belva dengan tangannya yang masih terbebas. Selanjutnya diliriknya jam tangan yang ada di pergelangan tangannya yang bebas.


"Saya harus kembali. Jangan lupa jemput si kembar sebentar lagi."


"Ck... Iya." Belva kesal rambutnya berantakan. Roichi hanya tersenyum saja melihat ekspresi Belva.


****


Bukan sebuah ancaman sebenarnya yang Alya terima. Tapi sebuah kenyataan yang memanh dilakukannya sendiri. Bahkan kedua orang tuanya tak tahu menahu atas apa yang dilakukannya.


Ketakutan akan mendapatkan amukan dari orang tuanya membuat nyalinya menciut. Perilakunya itu bisa menjatuhkan harga diri keluarga Balakosa. Maka dari itu jangan sampai Daddy nya mengetahui hal itu. Jika saja Sonia yang tahu, gadis itu masih bisa bernapas. Sonia tidak akan diam saja tentu wanita itu akan melakukan segala cara untuk membela putrinya.


Rengekan Alya membuat Sonia geram dan kesal. Tak ingin malu saat dikantor polisi waktu itu Sonia langsung memilih undur diri dan melanjutkan urusan pelaporan tersebut dilain hari.


Hingga akhirnya Sonia berhasil meminta Mommy nya untuk mencabut laporan tuntutan untuk Belva. Tapi Sonia belum mengetahui pasti alasan Alya untuk mencabut laporan itu.


"Alya jelaskan pada Mommy, apa alasan kamu meminta untuk mencabut laporan itu."


"A... Am.. itu.." Alya mengigit bibir bawahnya, bingung dan takut.


"Aduh apa yang harus aku katakan. Apa aku harus jujur tapi kalau Mommy marah bagaimana ?" Batin Alya.


"Alya !! Apa alasannya katakan. Seharusnya wanita murahan itu sebentar lagi bisa mendekam di penjara." Ucap Sonia geram.


Ditatapnya Sonia dengan tajam, melihat sikap Alya yang terlihat berbeda. Sonia mencurigai putrinya itu.


"Apa yang kamu sembunyikan Alya ?!!" Sentak Sonia.


"Hah ?? Ti-tidak Mom tidak ada."


"Jangan bohong kamu. Mommy yang melahirkan mu dan membesarkan mu. Mommy tahu kelakuan kamu Alya. Kali ini apa yang kamu lakukan huh ??"


Melihat Mommy nya yang tampak garang. Alya menjadi takut, ia merasa berbohong pun akan percuma saja. Jujur atau tidak Mommy nya akan tetap marah dan akan tetap tahu.


Pada akhirnya Alya menceritakan masalahnya. Alasan apa yang membuatnya meminta Mommy nya untuk mencabut tuntutan itu terhadap Belva.


Bola mata Sonia melebar, bagaimana bisa Alya melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya. Dan hal itu juga diketahui oleh Roichi rekan kerja suaminya.


"Alyaaa... Kenapa hhhaah. Astaga kenapa aku memiliki anak yang bodoh seperti ini." Sonia pusing dengan tindakan Alya kali ini.


Jejak kelakuan Alya berbeda dengan jejakmya yang dulu saat menyingkirkan Belva. Kali ini jejak itu telah diketahui orang lain dan bisa saja hal itu diketahui oleh Satya.


"Mom... Maaf. Sudah deh Mom yang penting kita harus pastikan juga tuntutan yang perempuan kampung buat untuk kita itu juga harus dicabut Mom." Ucap Alya.


"Oh iya... Kamu benar Alya. Kita harus pastikan itu dulu. Besok kita datangi butik wanita murahan itu."


"Iya Mommy benar." Ucap Alya.


Mereka harus memastikan jika laporan dari masing-masing pihak sama-sama di cabut. Mereka tak ingin jika keinginan keras Sonia untuk membawa masalah itu ke pihak kepolisian justru berimbas pada diri mereka sendiri. Itu namanya senjata makan tuan.


Seperti rencana ibu dan anak itu, mereka mendatangi butik Belva. Masih dengan gaya angkuh mereka, sungguh percaya diri memasuki butik. Pegawai butik tetap ramah pada mereka berdua meski tahu jika dua wanita itu pernah membuat onar di tempat kerja mereka. Beberapa orang melirik ke arah Sonia dan Alya. Mulut gatal mereka berbisik-bisik melihat wajah Alya yang masih membekas akibat cakaran Belva. Tak lupa wajah Sonia juga mereka ingat.


"Eh itu bukannya wanita yang berkelahi di mall itu ya ?" Tanya pengunjung.

__ADS_1


"Untuk apa mereka datang ke butik ini. Bukankah butik ini milik wanita yang diserangnya waktu itu."


"Entahlah untuk apa mereka disini. Apa mungkin perkelahian itu hanya settingan saja ?"


Bisik-bisik terus saja terdengar diantara para pengunjung. Pendengaran Alya dan Sonia juga mampu menangkap bisik-bisik itu.


Sonia menatap tajam para pengunjung butik Belva. "Bicara apa kalian ?!! Berani kalian membicarakan ku huh !!"


Semua pengunjung butik terdiam. Beberapa dari mereka yang sibuk melihat-lihat koleksi butik kini menatap Sonia karena suaranya yang keras.


"Maaf ada apa ini ?" Tanya Bella yang dapat karena suara keras Sonia.


"Mana wanita murahan itu ??"


"Maaf maksudnya bagaimana ya ? Kalau anda mencari dengan kata kunci murah, maaf disini tidak ada. Dipasar mungkin ada karena bisa ditawar dengan harga murah mungkin."


"Kamu jangan macam-macam ya sama saya."


"Saya bertanya baik-baik. Apa anda lihat saya macam-macam ?" Setiap jawaban Bella selalu mengundang kekesalan bagi Sonia.


"Ada apa Bella ?" Tanya pria dengan suara bariton yang tak lain adalah Roichi.


"Nyonya ini katanya mencari wanita murahan disini. Tapi sepertinya mereka salah tempat." Ucap Belva.


"Silahkan keluar Nyonya karena apa yang anda cari sudah jelas tidak ada disini." Ucap Roichi.


Pria itu berlalu dengan menarik lengan Bella. Merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan dua wanita yang tak tahu sopan santun itu.


Alya mengejar Roichi dan Bella. Ia tak ingin berlama-lama menunda permasalahan.


"Kami mencari Belva." Ucap Alya. Dirinya sedari tadi dia membiarkan Mommy nya bergerak tapi rupanya kedatangan Roichi mampu membuatnya tak bisa berkutik.


"Untuk apa ?" Tanya Roichi dingin.


"Perihal laporan yang..."


"Masuk." Roichi membuka pintu ruangan Bella.


Pria itu tak ingin membawa dua wanita itu ke ruangan khusus Belva. Tanpa basa-basi lagi Alya masuk ke dalam ruangan itu disusul oleh Sonia.


Di sofa singel Roichi duduk, sedangkan Bella duduk di sebelah sofa singel tersebut. Tanpa dipersilahkan duduk dua wanita biang masalah itu langsung duduk begitu saja di sofa.


"Apa yang kalian inginkan ?" Tanya Roichi tanpa basa-basi.


"Laporan... Laporan kemarin bukankah kami sudah mencabutnya. Kami juga ingin Belva mencabut laporan itu." Ucap Alya.


Sonia masih saja dengan gaya angkuhnya meski tak terlalu kentara saat berada di depan Roichi.


"Jika tidak apa yang akan kalian lakukan ?"


"Maksud anda apa Tuan ? Kalian ingin tetap melanjutkan laporan itu ?!" Ucap Sonia sedikit meninggi.


"Bukankah membawa masalah ini ke kantor polisi adalah keinginan keras kalian. Lalu apa yang jadi masalah nya ?" Roichi begitu santai menanggapi mereka.


Sonia terdiam, kalimat Roichi menohok dirinya. Ia lah yang begitu bersikeras untuk membawa permasalahan kemarin ke kantor polisi. Tapi siapa sangka jika Roichi memiliki bukti yang lebih kuat memberatkan Alya dalam jeruji besi.


"Tuan... Tuan saya mohon tolong cabut laporan kalian pada kami." Ucap Alya memohon.


"Dengan jaminan apa aku harus mencabut laporan tersebut. Sudah berkali-kali kalian mengganggu kehidupan Vanthe."


"Uang... Kami akan mengganti rugi laporan yang dicabut itu dengan uang." Ucap Sonia dengan mudah dan tegas.


"Oohh dengan uang ? Bagaimana jika diganti dengan pembatalan kerjasama dengan Tuan Satya ? Itu sama saja bukan dengan mengganti dengan uang yang kalian miliki."


"Pembatalan ? Apa kerjasama kalian sedang tak baik-baik saja ?" Tanya Sonia.


"Tentu saja sebaliknya. Kerjasama berjalan dengan lancar."


Kalimat yang membuat Alya dan Sonia mati kutu. Jika seperti itu yang Roichi inginkan bagaimana mereka bisa menurutinya. Tujuan mereka adalah menutupi permasalahan ini dari Satya tapi jika seperti itu sama saja namanya. Pembatalan itu pasti akan disertai alasan yang jelas dari Roichi. Pasti Roichi akan mengatakan alasannya dengan jujur, pria itu sangat membela Belva.


"Jj-jangan..." Sonia menutup matanya sejenak. Terasa berat untuk mengatakan tapi mau bagaimana lagi tidak ada pilihan lain.


"Apa yang harus kami lakukan untuk kalian bisa mencabut laporan itu." Ucap Sonia dengan berat hati.


"Yakin kalian mau melakukannya ?" Tanya Roichi dengan santai.


"Yakin Tuan... Kami yakin." Ucap Alya dengan cepat.


"Tidak sulit. Hanya minta maaf pada Vanthe secara langsung dan jauhi dia jangan sekalipun ganggu orang-orang di sekitar kami."


Tam percaya apa yang Roichi katakan, Sonia dan Alya secara tak sadar membuka mulutnya, melongo. Mereka harus minta maaf pada Belva mantan pembantu mereka. Itu sungguh menjatuhkan harga diri mereka yang selama ini merasa berada di atas Belva.


"Minta maaf pada perempuan kampung itu ? Yang benar saja bahkan aku belum puas melihatnya menderita." Batin Alya.


"Hahh ? Yang benar saja. Minta maaf ? Pada wanita murahan itu ? Sialan gara-gara anak bodoh ini aku harus menjatuhkan harga diriku." Batin Sonia kesal. Diliriknya putrinya satu-satunya itu dengan tatapan tak suka.


"Tenang saja saya tidak memaksa kalian. Itu terserah kalian. Jika sudah tidak yang dibahas saya masih ada urusan lain." Roichi berdiri dari duduknya. Pria itu malas berlama-lama berhadapan dengan istri dari rekan kerjanya itu.


Tiba-tiba ponsel Roichi berdering, sebuah panggilan masuk. Layar ponsel itu tertera nama Jordi asisten Satya. Roichi menyeringai melihat siapa yang menghubungi nya.


"Ya hallo Tuan Jordi ?"


"Baiklah saya akan segera ke sana setelah makan siang nanti. Sekalian ada yang ingin saya bicarakan dengan tuan Satya." Ucap Roichi dengan melirik Sonia dan Alya.


Kedua wanita itu sudah semakin panik dibuat oleh Roichi. Nama Satya yang disebutkan dalam pembicaraan itu sudah membuat pikiran mereka kalang kabut.


"Bella... Jika masih ada pekerjaan lanjutkan saja pekerjaan mu karena itu lebih penting." Ucap Roichi tanpa perduli kehadiran Sonia dan Alya.


Sungguh Roichi benar-benar tak menyukai dua wanita itu. Dengan alasan apa ? Tentu Roichi memiliki alasan kuat. Bella mengangguk patuh.


"Tuan... Tunggu... Kami akan meminta maaf pada Belva sekarang." Dengan berat hati Alya mengatakan hal itu. Sonia tentu saja semakin kesal dengan putrinya itu.


Tanpa melihat wajah Sonia dan Alya. Pria itu berdiri di depan pintu dan hanya sedikit menolehkan wajahnya ke samping.


"Tunggu disini." Ucap Roichi.


Pria itu berlalu keluar dari ruangan Bella. Ruangan Belva adalah teman tujuannya saat ini. Dia ingin membawa Belva ke ruangan Bella untuk bertemu dengan dua wanita angkuh tadi.


Meski bingung tak mengerti, Belva hanya menurut saja. Berjalan turun menuju ruangan Bella. Saat masuk mata Belva melebar, melihat kehadiran dua wanita yang tak disukainya. Jujur memang Belva semakin hari tak menyukai mereka. Sikap mereka sangat keterlaluan pada dirinya.


"Kenapa mereka ada disini ?" Tanya Belva.


"Entahlah..." Ucap Roichi berpura-pura tak tahu.


Dia tak mau menjelaskan maksud kedatangan dua wanita itu. Biarkan mereka bertanggung jawab menjelaskan maksud dan tujuan mereka. Toh mereka yang membutuhkan.


Untuk beberapa menit suasan hening tidak ada yang mau membuka suara. Belva enggan untuk duduk di sofa pun demikian Roichi mereka hanya berdiri diam. Roichi sibuk dengan ponselnya, Bella memperhatikan kedua wanita yang masih duduk di kursi.


Jengah tak ada yang penting Belva memilih untuk beranjak keluar ruangan Bella. Alya yang sadar jika Belva keluar segera gadis itu keluar mengejar Belva.


"Belva... Tunggu !! Hei perempuan kampung !!" Alya yang memang masih membenci Belva tak mampu mengkondisikan mulutnya.


Semua pengunjung kembali perhatian mereka teralihkan pada Alya dan Belva. Belva tak menggubris panggilan Alya. Hingga cekalan Alya mampu menghentikan langkah ibu muda itu.


"Lepas !! Jangan berani menyentuhku." Ucap Alya dengan tatapan tajam.


"Hei... Kamu berani padaku sekarang ?" Ucap Alya tak suka.


"Memang kamu siapa ?" Tanya Belva.


"Wanita tak tahu diri. Beraninya kamu pada kami." Ucap Sonia yang sudah menyusul di belakangnya Alya.


"Seperti itukah sikap seseorang yang akan meminta maaf." Ucap Roichi.


Kembali dua wanita itu terdiam. Mereka lupa akan tujuan mereka berada di butik Belva. Memastikan agar laporan tuntutan itu dicabut tapi dengan syarat meminta maaf pada Belva. Kebencian mereka pada Belva tak mampu mengontrol hati, pikiran dan juga mulut mereka.


Belva memicingkan mata. "Mereka datang untuk meminta maaf ? Apa aku tak salah dengar ?"


"Tidak. Lebih tepatnya memintamu mencabut laporan itu. Tapi sepertinya memang laporan itu sebaiknya dilanjutkan saja." Ucap Roichi.


"Maaf... Maaf Belva bukan seperti itu maksud ku. Emm... Hehe terkadang memang mulutku tak bisa dikondisikan. Kamu pasti juga tahu bukan jika aku suka spontan dalam berbicara." Ucap Alya mulai menunjukkan sikap sedikit lebih lembut.

__ADS_1


Memang Alya adalah seseorang yang selalu spontan dalam berbicara. Sejak dulu Belva tahu itu. Tapi ibu dua orang anak itu diam tak menanggapi.


"Belva... Maafkan kami. Aku dan Mommy yang sudah bersalah padamu."


"Mom..." Panggil Alya agar ibunya itu mau ikut meminta maaf.


"Ya... Kami ingin meminta maaf padamu. Kami berubah pikiran, mari kita selesaikan saja secara baik-baik. Maafkan sikap kami tadi. Itu hanya spontanitas saja karena kamu tak mendengarkan kami terlebih dahulu." Ucap Sonia. Dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.


Belva tahu bahkan sangat tahu jika mereka hanya terpaksa untuk meminta maaf. Tapi ia tak mau ambil pusing, toh mereka minta maaf atau tidak akan sama saja. Belva tak melihat adanya ketulusan yang terpancar dari mereka berdua.


Belva tersenyum ke arah Alya dan Sonia. Senyum lembut seperti biasanya. Mantan majikannya itu pun ikut tersenyum saat melihatnya tersenyum.


"Tak perlu meminta maaf jika terpaksa."


Senyum Alya dan Sonia luntur seketika.


"Dan mengenai laporan itu, maaf bukan aku yang mengurusnya jadi aku tak bisa mencabut laporannya." Senyum Belva masih mengembang.


Bisa dilihat bagaimana wajah Sonia dan Alya, berubah masam dan tak sedap dipandang. Belva berlalu dari hadapan mereka. Bella dan Roichi menahan senyum mereka saat melihat respon dari Belva. Mereka pikir Belva akan bersikap lembut dan akan mengatakan 'aku sudah memaafkan kalian' tapi nyatanya tak sesuai dengan bayangan mereka.


"Lain kali meminta maaflah dengan benar dan tulus. Saat ini saya berbaik hati untuk mencabut laporan itu. Terima kasih atas waktu luang kalian." Roichi tersenyum. Tentu saja senyum yang menyebalkan bagi Alya dan Sonia.


Kedua wanita itu sudah memerah wajahnya, menahan malu dan juga amarah. Bagaimana tidak hal itu disaksikan oleh beberapa orang yang ada di dalam butik.


Mereka dengan buru-buru keluar butik dan memasuki mobil. Dada Sonia sudah tak terkendali naik turun seakan sulit bernapas.


Brakk...!! Pintu mobil dibanting oleh Sonia dengan kencang.


Alya sudah menyusul duduk di samping kemudi. Melihat wajah Mommy nya yang menyeramkan Alya hanya mampu terdiam. Meski hatinya sendiri pun merasa kesal, marah dan malu.


"Astaga kenapa jadi begini." Gumam Alya dalam hati. Ia menggaruk pelipis nya yang tak gatal.


"Brengsek !! Mereka sengaja menjatuhkan harga diriku ?!." Sonia menggerutu.


"Ini semua gara-gara kamu anak bodoh. Hhhaahh astaga bisa gila aku lama-lama." Ucap Sonia. Dinyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan area butik.


Alya, perempuan itu pasrah saja jika Mommy nya akan meluapkan amukan kepadanya. Seorang Sonia seumur hidup tak pernah diperlakukan seperti itu. Tapi karena ulah Alya, wanita itu bisa merasakan bagaimana rasanya dipermalukan oleh orang lain.


****


Saking sibuknya dengan dunia kerja. Bisnis yang semakin hari memiliki peningkatan kualitas hingga nilai saham mereka pun semakin meningkat. Berbagai kerjasama dengan beberapa perusahaan pun silih berganti datang.


Jordi dan Satya, mereka jarang sekali yang namanya menikmati hari tenang dengan bersantai ria. Hari-hari mereka hanya tercurah untuk bekerja dan memantau perusahaan.


Lelah dengan rutinitas, Jordi iseng-iseng membuka media sosialnya. Instagram yang sudah lama dan jarang sekali dibukanya itu tetap memiliki follower beribu-ribu. Tak ada yang menarik sebenarnya bagi seorang Jordi. Tapi jempolnya mampu berhenti untuk menggulirkan layar ponselnya ke bawah.


"Hah ? Ini serius ?" Gumam Jordi. Matanya dipasang dengan tajam untuk mengamati wajah seorang wanita yang ada di dalam layar ponsel tersebut.


Diduga anak dan istri seorang pengusaha melabrak seorang pelakor untuk kedua kalinya. Tulisan yang tertera di atas gambar tersebut. Digesernya layar ponsel itu ke samping. Tampak lah sebuah video yang menunjukkan aksi penyeretan dan juga perkelahian.


Mata Jordi membulat, meski video yang kedua tampak tak terlihat dengan jelas wajah para perempuan yang tengah berkelahi itu tetapi ada wajah Roichi yang tertangkap dalam video tersebut. Sedangkan video yang pertama dalam aksi penyeretan dengan latar belakang berbagai model baju itu terlihat sangat jelas wajah Sonia, Alya dan juga Belva.


"Pelakor ? Tuan Satya berselingkuh begitu ?" Gumam Jordi dengan berpikir keras.


"Dan yang menjadi tertuduh sebagai pelakor adalah Belva istri Tuan Roichi. Oke.. kedua video itu saling berkaitan. Tapi aku masih belum percaya apa Tuan Satya memang berselingkuh ?"


"Tunggu-tunggu... Belva pelakor. Putra Belva terlihat sangat mirip dengan Tuan Satya. Astaga... !!! Jadi, ini benar ??"


Mulut Jordi terbuka sangat lebar bahkan lalat, nyamuk atau kecoa yang melompat pun bisa masuk. Matanya melotot, sungguh ini membuat Jordi benar-benar syok. Belum tahu kenyataannya seperti apa bagaimana saja dia sudah syok apalagi jika dia tahu akan semua faktanya.


Selama ini Satya merupakan pria yang setia, meski rumah tangganya tak baik-baik saja. Tapi Jordi benar-benar tak menyangka jika ini sungguh terjadi.


Dengan langkah buru-buru pria itu menghampiri ruangan Tuannya. Grace sekertaris Satya sampai terkejut saat Jordi berlari dan menabrak mejanya.


"Heh !! Apa-apaan kamu. Mengagetkan ku saja. Gara-gara mu fokus ku menjadi buyar." Sembur Grace pada Jordi.


"Maaf... Maaf... Tidak sengaja." Ucap Jordi.


"Kenapa kamu di kejar setan ?"


"Kamu setannya. Sudah lah diam." Jordi berbalik menyembur Grace karena kesal.


Grace melotot tak terima tapi Jordi mengabaikan tatapan sekertaris bosnya itu. Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam ruangan Satya tanpa mengetuk pintu.


"Ck... Ada apa ? Kenapa tidak ketuk pintu dulu." Ucap Satya kesal karena dirinya pin sama kagetnya atas ulah Jordi.


"Maaf... Maaf Tuan. Ada berita heboh."


"Berita heboh apa maksudmu hingga melupakan sopan santun mu."


"Ini Tuan... Nyonya Sonia dan putri anda terlibat perkelahian dengan... Istri Tuan Roichi." Jordi pun ragu saat mengatakan dengan siapa anak dan istri Tuannya terlibat kasus.


Satya mengerutkan keningnya, perkelahian seperti apa yang Jordi maksud. Dilihatnya ponsel milik Jordi yang telah disodorkan padanya.


Matanya pun melebar saat melihat aksi dalam video tersebut. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Pantas saja ada beberapa klienku yang menanyakan kabar keluargaku." Batin Satya.


"Tuan... Apa benar anda berselingkuh dengan istri Tuan Roichi ?" Tanya Jordi agak ragu dan takut tapi rasa penasarannya tak bisa dibendung lagi.


"Apa maksud mu Jordi ? Mana mungkin saya berselingkuh. Bahkan bertemu dengannya saja baru beberapa hari yang lalu." Mata Satya menatap tajam pada Jordi.


"Beberapa tahun yang lalu mungkin Tuan ?"


Brakk... !!!


Jordi terlonjak kaget. Satya menggebrak meja kerjanya. Jantung Jordi sudah berdegup kencang. Kaget bercampur takut, mulutnya terlalu licin dalam mengatakan hal itu. Rasa penasarannya sangat tinggi.


"Waduh mati aku. Potong gaji saja daripada berpangkat pengangguran sukses." Batin Jordi menjerit.


"M-ma-maaf Tuan. Saya... Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya..."


"Dari mana dapat video ini ?" Tanya Satya dingin.


"Tak sengaja dari media sosial Instagram saya Tuan."


"Tu-tuan... Amm Tuan mau kemana ?" Tanya Jordi.


Satya tak menjawab sedikitpun. Mulutnya bungkam, rahangnya sudah mengeras. Diambilnya jas yang tersampir di belakang sandaran kursi kebanggaannya. Pria itu berjalan keluar ruangan.


Jordi, bisa melihat kemarahan yang ada di wajah bos-nya. Merasa bersalah Jordi dengan cepat mengikuti langkah kaki Satya yang sangat cepat itu.


Grace yang tengah fokus pada layar komputernya beralih menatap Satya yang melenggang tanpa meninggalkan pesan apapun padanya.


"Loh Tuan mau kemana ? Kenapa buru-buru seperti itu." Gumam Grace.


"Eh... Eh... Sst... Sst... Mau kemana ?" Tanya Grace pada Jordi.


"Darurat." Jawab Jordi sekenanya.


Grace mengerutkan keningnya. Wajahnya seperti orang bingung dengan tatapan mata tak fokus karena menatap bos-nya yang semakin jauh dan juga berganti menatap Jordi.


Memang yang dirasakan Jordi saat ini dalam keadaan darurat. Rupanya berita dan pertanyaan yang disampaikan nya membuat suasana hati bos-nya memburuk.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya. Alurnya memang lambat ya dear jadi mohon bersabar. Tapi alurnya sudah sedikit dipercepat dari rencana yang sudah saya buat. ☺️


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


________________________________________________


...Bonus !!! Bonus !!! Bonus !!!...


...Author kenyang kalian senang πŸ˜‚πŸ˜‚...


...Nb : Kenyang kejar tayang buat kasih bonus buat my dear yang selalu setia support....


________________________________________________

__ADS_1


__ADS_2