Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 145. Peristirahatan Terakhir


__ADS_3

Mendengar informasi Jack seketika pemikiran Belva terhenti, pikirannya mengenai pekerjaan sudah menguap begitu saja. Mbok Yati menutup mulutnya masih tak percaya sedangkan Pak Jajak memasang wajah serius dan pendengaran nya lebar-lebar dia benar-benar ingin mendengar dengan jelas.


"Maksudnya bagaimana? Non Alya benaran meninggal dunia begitu? Anda tidak berbohong?" Tanya Mbok Yati.


Jack mengangguk, "Saya tidak berbohong, Alya sudah meninggal, dia sudah pergi, Mbok."


Suara Jack terdengar tak bersemangat dan sedikit bergetar. Walau bagaimanapun Alya pernah menjadi bagian hidupnya meski dirinya hanya sekedar bermain-main. Tapi rasa sayang memang sempat Jack rasakan pada Alya.


"Bagaimana bisa, apa yang terjadi?" Tanya Belva.


Belva pun merasa tak percaya, beberapa minggu yang lalu dirinya sempat melihat Alya yang tampak baik-baik saja meski penampilannya memang sedikit lebih berbeda dengan yang dulu.


"Alya... Dia... Mengalami pendarahan dan akhirnya harus melahirkan bayi yang dikandungnya sebelum waktunya. Setelah itu dia koma beberapa hari dan hari ini dia kritis, dokter sudah berusaha menyelamatkannya tapi Alya tak bisa bertahan lagi, dia meninggal."


Tak kuasa Jack menceritakan secara singkat apa yang terjadi pada Alya. Semua ini juga kesalahannya hingga membuat Alya pendarahan saat itu. Tapi apa mau dikata semua di luar dari kendalinya.


"Hah?" Mbok Yati dan Pak Jajak tercengang. Mereka tak tahu jika Alya mengandung.


Berbeda dengan Belva yang tak terlalu terkejut mendengar kabar kehamilan Alya karena dirinya pernah melihat Alya sekilas. Hanya dalam hatinya bergumam ternyata benar apa yang dilihatnya.


"Pendarahan? Melahirkan? Non Alya sudah menikah? Kapan?"


"Mbok, itu tidak penting untuk sekarang." Ucap Belva.


Menjelaskan hal yang sebenarnya dirinya juga penasaran pun bukan waktu yang tepat untuk sekarang. Mbok Yati mengangguk lalu tak bertanya apapun lagi.


"Di mana Alya sekarang?" Tanya Belva.


"Di rumah sakit XX." Jawab Jack.


"Kamu kembalilah ke rumah sakit, tolong urus semuanya. Kami akan menyusul ke rumah sakit."


"Tapi aku harus bertemu dengan kedua orang tua Alya."


"Maaf siapa namamu tadi?"


"Jack."


"Jack, dengar. Ini semua terlalu rumit untuk dijelaskan. Orang tua Alya biar itu urusanku. Kamu kembali saja ke rumah sakit kami akan menyusul."


Jack mengangguk mengerti, dirinya sudah mengabarkan perihal kabar duka tersebut. Melihat wajah Belva yang kalem dirinya yakin jika wanita yang ada dihadapannya itu yang tak tahu siapa yang jelas mungkin keluarga Alya karena terdengar Mbok Yati yang memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


"Mbok, saya ke kantor Tuan dulu." Pamit Belva.


Mbok Yati mengangguk, Belva langsung pergi memutar arah tujuan menuju kantor sang suami. Tujuan awal untuk mengambil file pekerjaannya seketika menghilang tergantikan dengan urusan yang lebih penting. Di perjalanan dirinya sibuk menghubungi beberapa klien nya yang hendka bertemu dengannya pada hari ini. Tak lama dirinya sampai di kantor Bala Corp.


"Nyonya, kita sudah sampai."


"Iya Pak, tunggu di sini sebentar ya."


"Baik, Nyonya."


Belva keluar dari mobil, ia berjalan masuk ke dalam kantor suaminya. Melewati meja resepsionis dengan senyum mengembang dari bibirnya menyapa ramah pada karyawan yang menjabat sebagai resepsionis.


Sampai saat ini masih banyak karyawan kantor Bala Corp yang tak mengenal Belva dengan jelas. Bahkan Grace sang sekertaris Satya pun masih belum tahu perihal status Belva sebagai istri pemilik Bala Corp.


Yang sebagian karyawan ketahui hanyalah Belva memiliki kedekatan secara pribadi pada bos mereka karena telah beberapa kali berkunjung ke kantor tersebut.


Belva berjalan dengan cepat, saking terburu-buru dirinya tak memperhatikan dan tak berhati-hati. Pintu lift rupanya akan tertutup, Belva tak lagi berjalan melainkan berlari dengan cepat agar mencapai pintu lift.


Bruk...


Tak sengaja karena kecepatan larinya, bahu seseorang yang ada di dalam lift tertabrak oleh dirinya hingga orang tersebut sedikit terhuyung ke belakang.


"Ah... Ck... Kamu tidak punya mata huh?!!" Bentak orang tersebut karena merasa kesal dengan apa yang terjadi.


"Eh maaf Nona, saya tidak sengaja. Apa ada yang terluka? Maafkan saya." Ucap Belva dengan sopan dan lembut. Ada rasa bersalah karena kurang berhati-hati.


Belva mencoba menyentuh bahu orang tersebut tapi ditepis dengan keras oleh pemilik bahu.


"Jangan sentuh saya dengan tangan kotormu!!"


"Kamu pikir ini pinggir jalan yang bisa berlari seenak jidat huh?! Kamu tidak lihat ini kantor, apa kamu tak memiliki etika huh?!!"


Seseorang itu merupakan seorang wanita cantik yang Belva pun tak mengenal orang tersebut. Mereka berada di dalam lift yang sama.


"Lagi pula untuk apa kamu menaiki lift ini? Ini lift khusus untuk orang-orang penting di kantor ini. Memang kamu siapa berani-berani memakai lift ini."


Belva langsung mengerutkan keningnya, pikirnya lift yang sering digunakan boleh suaminya saat dirinya berkunjung itu memang boleh digunakan oleh siapapun.


Mendengar ucapan demi ucapan yang tak enak didengar dan dirasakan itu Belva hanya memilih diam saja. Meladeni orang yang ia tak kenal hanya akan semakin panjang dan melebar ke mana-mana. Bahkan sampai di lantai dua puluh masih sesekali terdengar sindiran dan cibiran dari wanita itu.


"Selama pagi, Nona. Anda ingin bertemu dengan Tuan Satya?" Sapa Grace pada Belva dengan senyum ramahnya tapi tatapan matanya langsung beralih pada wanita yang juga datang bersama Belva. Ia tak mengenal wanita itu.


"Siapa lagi itu perempuan?" Tanya Grace dalam hati.


Belva hanya tersenyum dan hendak membuka mulutnya untuk menjawab tapi di dahului oleh wanita tadi.


"Pagi, iya Tuan Satya ada didalam?"


Grace hanya diam, ia mengerutkan keningnya. Belva hanya tersenyum saja menatap Grace.


"Heh!!! Kamu budeg?" Ucap wanita tadi dengan kasar.


Jelas Grace langsung kesal dengan wanita tak sopan tersebut.


"Tuan Satya tidak ada." Ucap Grace dengan kesal dan sebal.


"Apa Tuan Satya sedang ada meeting?" Tanya Belva dengan sopan dan lembut.

__ADS_1


"Ah anda ingin bertemu, Nona? Anda masuk saja ke dalam." Ucap Grace dengan ramah. Berbeda saat menjawab pertanyaan wanita tak dikenalnya tadi.


"Katamu Tuan Satya tidak ada." Ucap wanita tadi.


Malas melihat perdebatan yang tak penting Belva berpamitan pada Grace lalu masuk ke dalam ruangan Satya. Tentu saja Grace mempersilahkan dan tak menahan karena Satya yang sudah berpesan padanya jika Belva datang ada dirinya atau tidak tetap diperbolehkan masuk untuk menunggu di dalam.


"Heh!! Lancang sekali kamu masuk ke dalam ruangan Tuan Satya!!" Bentak wanita itu dan menarik.


Belva langsung menghempaskan cekalan itu dan masuk begitu saja ke dalam ruangan sang suami. Ia duduk di sofa saat melihat ruangan tampak sepi.


Wanita itu tampak terus mengoceh membuat Belva semakin lama semakin kesal. Ingin rasanya Belva menyimpan mulut wanita itu dengan sepatu flatshoes yang ia pakai saat ini. Sungguh keberadaan wanita itu membuat suasana hati Belva semakin tak karuan dan semakin tidak nyaman. Ditengah berita duka yang ia terima kini justru ia bertemu wanita yang menguji kesabaran dan emosinya.


Satya tiba-tiba keluar dari sebuah ruangan yang diduga adalah toilet. Pria itu juga terkejut saat melihat ada istri dan satu lagi wanita yang dikenalnya sebagai putri salah satu koleganya.


"Ekhem..." Suara deheman Satya sengaja dibuatnya sedikit keras agar wanita yang sedari tadi mengoceh itu diam.


Dua wanita yang itu lantas langsung menoleh pada Satya. Belva tetap duduk saat wanita tadi langsung menghampiri suaminya.


"Mas, kamu dari mana saja? Aku beberapa kali mencarimu." Ucap Wanita itu.


Kening Belva mengkerut tapi matanya mendelik menatap Satya. Yang ditatap seakan tahu jika istrinya merasa tak nyaman dengan ucapan wanita itu. Satya buru-buru menolak wanita itu saat akan memeluknya. Melangkah mundur untuk menjauhi wanita itu.


"Diam di tempatmu, Gladys." Ucap Satya dingin.


"Mas, kenapa? Aku merindukanmu, kamu lama tak berkunjung ke rumah."


Belva semakin mendelik menatap suaminya. Satya takut jika terjadi masalah kembali.


"Nona, jaga sikap mu." Ucap Belva membuat Gladys langsung menoleh pada Belva.


"Kenapa? Suka-suka saya mau apa di kantor ini. Ini kantor kekasihku." Ucap Gladys dengan percaya diri. Ia tak suka dengan ucapan Belva.


Gladys adalah putri dari kolega bisnis Satya sama seperti Sarita. Memang banyak putri dari kolega Satya yang mengincarnya terlebih saat mulai tersiar kabar bahwa Satya sudah bercerai. Banyak sekali yang mencoba untuk mendekatinya.


"Oh ya? Siapa kekasihmu?" Tanya Belva.


"Mas Satya lah siapa lagi. Kamu ada urusan apa di kantor kekasihku?" Tanya Gladys pada Belva.


"Mas, dia tidak sopan main masuk ke ruanganmu padahal tadi sekertaris mu melarangnya masuk." Gladys berbohong pada Satya agar Satya memarahi Belva.


"Benarkah?" Tanya Satya melirik Belva.


"Ah Gladys, kalian belum berkenalan. Apa tidak sebaiknya kalian berkenalan dulu." Ujar Satya.


Dengan semangat dan sombongnya Gladys tanpa mengulurkan tangan memperkenalkan diri sebagai kekasih Satya.


"Kenalkan saya Gladys, kekasib dari mas Satya pemilik perusahaan ini."


Belva masih duduk dengan santai, ia tersenyum sinis.


"Oh ya? Kenalkan saya Nyonya Aryasatya Balakosa, istri sah dimata hukum dan agama dari mas Satya pemilik perusahaan ini." Ucap Belva dengan tenang dan santai.


Satya tersenyum saat mendengar istrinya memperkenalkan diri. Tapi dia bingung kenapa Belva berada di kantor ini pasalnya ini masih tergolong pagi dan bukankah tadi Belva mengatakan jika dirinya sibuk di butik.


"Mas, dia lan..."


"Sayang, apa ada hal yabg penting sampai datang ke kantor, mas?"


Pertanyaan Satya secara otomatis memotong ucapan Gladys. Saat melihat Satya berjalan mendekati Belva.


"Hah? Apa-apaan ini? Papa bilang dia baru saja bercerai dan belum memiliki pasangan lagi." Gumam Gladys kesal.


Belva berdiri dari duduknya, ia meraih tangan suaminya dan menyalami serta mencium punggung suaminya. Satya membalas dengan mencium kening Belva.


"Sangat penting, lebih penting dari pekerjaanku dan pekerjaanmu." Ujar Belva mengabaikan adanya keberadaan Gladys.


"Penting? Ada apa?" Tanya Satya.


"Nona, tidak akan sopan jika pasangan suami istri membutuhkan waktu untuk berbicara tapi anda tetap berada di sini." Cara Belva mengusir Gladys dibuat sehalus mungkin, Belva mengucapkan itu dengan memberikan senyuman termanisnya untuk Gladys.


"M-ma-maksud kamu? Kamu mengusir saya huh?!! Ini bukan kantormu tidak ada hak kamu mengusir saya." Ucap Gladys.


"Sebagai istri dari pemilik Bala Corp, maka ia memiliki hak yang sama dengan saya, Nona. Jadi, silahkan anda keluar."


Mau tak mau dengan rasa kesal dan juga rasa malu yang semakin menyerang Gladys langsung berlalu pergi begitu saja. Menghadapi Gladys dirasa cukup mudah tanpa menggunakan kekerasan sama seperti menghadapi Sonia dan Sarita yang selalu terselip kekerasan dalam perdebatan.


"Ada apa, sayang?" Tanya Satya saat Gladys sudah benar-benar keluar dari ruangannya.


"Mas, kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Ke rumah sakit? Untuk apa?" Kening Satya berkerut, bingung kenapa tiba-tiba istrinya mengajaknya ke rumah sakit.


"Kamu sakit? Atau siapa yang sakit, sayang?" Satya panik dan khawatir. Digenggamnya tangan istrinya dengan erat dengan tangan lain memeriksa kening Belva.


"Alya..." Ujar bva singkat.


Genggaman tangan itu mengendur seketika saat jawaban Belva mampu membuat kekhawatiran dan kepanikan Satya menguap.


"Kenapa dia? Kenapa kita yang harus ke sana." Tanya Satya datar.


"Mas, Alya sudah tiada. Kita harus ke sana sekarang."


Deg...


Perasaan Satya tiba-tiba tak nyaman.


"Mas, dia juga putri mu meski kamu tahu jika dia bukan putri kandungmu. Alya sudah tiada saat melahirkan anaknya. Kita harus ke sana segera."


"Kamu tahu dari mana? Jangan percaya dengan ucapan mereka." Ucap Satya berusaha menepis perasaannya mengingat kelicikan demi kelicikan yang Alya dan Sonia lakukan.

__ADS_1


"Jack, teman Alya datang dan membawa kabar itu yang seharusnya untuk kedua orang tua Alya. Tapi mas tahu sendiri ibu Alya sedang berada di dalam penjara lalu siapa lagi yang akan mengurusnya untuk terakhir kalinya di dunia ini."


Ya... Belva benar walau bagaimanapun Alya pernah berada dalam hidupnya dulu mereka pernah dekat sebagai ayah dan anak.


"Di rumah sakit mana dia?"


"Rumah sakit XX." Jawab Belva.


"Kita ke sana." Ujar Satya menggenggam tangan istrinya lalu keluar dari ruangan setelah membawa ponselnya.


Tanpa kata-kata Satya keluar bersama Belva dengan langkah terburu-buru bahkan Belva juga lupa untuk berpamitan dengan Grace. Dengan menggunakan mobil istrinya yang di sopiri oleh sopir pribadi sang istri mereka berangkat menuju rumah sakit. Perasaan mereka berdua pun tak menentu saat ini, meski Alya pernah berbuat jahat pada mereka terkhusus Belva dan anak-anaknya tapi sebagai manusia yang memiliki hati nurani tentu mereka tidak akan tega jika sudah mendengar kabar duka yang seperti itu.


Sampai di rumah sakit mereka langsung bertanya pada petugas resepsionis mengenai keberadaan Alya. Rupanya Alya sudah diurus dan sudah dipindahkan ke kamar jenazah. Dengan langkah cepat Satya menggandeng Belva menghampiri ruangan di mana Alya berada.


Begitu pintu terbuka dengan perawat yang mengantar mereka. Satya dan Belva berjalan perlahan menghampiri seseorang yang terbaring kaku di atas brangkar dengan kain putih yang menutupi seluruh tubuh perempuan itu.


"Mas..." Belva memegangi lengan suaminya.


Satya mengangguk ke arah Belva, menunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja. Terpaku tatapan Satya pada putrinya yang sudah tak bernyawa, mau dikatakan putrinya tapi kenyataannya bukan darah dagingnya tapi jika bukan putrinya tapi dulu Satya pernah menganggap Alya sebagai putrinya bahkan disaat terakhir Satya mengusirnya Alya masih memanggilnya dengan sebutan Daddy. Sungguh hubungan yang rumit dalam hidup Satya.


Perlahan dibukanya kain penutup itu oleh tangan kekar Satya. Satya tercekat menatap wajha pucat tak bernyawa itu.


"Alya..." Lirih Satya dan Belva secara bersamaan.


"Kamu benar-benar pergi, nak? Alya, Daddy minta maaf padamu atas kesalahan yang Daddy lakukan padamu." Ucap Satya dalam hatinya.


Nyatanya Satya tak sanggup mengucapkannya secara langsung dihadapan jenazah Alya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ternyata Satya masih mengakui Alya sebagai putrinya. Hanya karena sikap dan kelakuan Alya yang keterlaluan membuat hati Satya seakan tertutup dan tak perduli pada Alya. Semua terjadi pasti ada sebab dan akibatnya tak bisa menyalah satu orang secara utuh dan tak bisa melabeli seseorang dengan kata seharusnya karena setiap perasaan dan keadaan seseorang itu pasti berbeda satu sama lain.


Orang lain akan lebih mudah menilai tanpa tahu bagaimana jalan kehidupan masing-masing yang mereka jalani, bagaimana kenyataan yang mereka hadapi. Karena alur cerita kehidupan kita dengan yang lain pasti berbeda. Banyak yang terlalu mudah menilai hingga lupa akan penilaian mereka pada diri sendiri.


"Alya, benarkah ini kamu? Kenapa setelah sekian lama kita tak bertegur sapa justru kamu memberikan kabar mengejutkan seperti ini. Alya, aku secara pribadi meminta maaf padamu jika aku memiliki salah yang tak ku sengaja melukai perasaanmu." Ucap Belva lirih menatap Alya.


Sadar jika kondisi antara dirinya dan Alya tak baik-baik saja sejak kejadian itu. Meski sampai detiik ini Belva tak pernah tahu dengan jelas apa kesalahannya pada Alya hingga membuat hubungan mereka retak. Persahabatan mereka yang dulu akrab kini hancur hanya karena perasaan benci.


"Permisi, Tuan dan Nona. Ambulance sudah siap." Ucap perawat yang tadi menangani jenazah Alya.


Satya mengangguk, ditutupnya kembali kain penutup Alya. Lalu beralih meraih bahu sang istri yang bergetar akibat menahan tangisnya. Belva menangis, air matanya keluar kala menyampaikan permintaan maaf pada Alya yang jelas tak akan pernah mendapatkan respon apapun saat ini. Jika itu terjadi dulu ketika mereka berhadapan maka yang terjadi bukan keheningan seperti ini melainkan keributan.


"Sudah, ayo kita keluar." Ajak Satya.


Belva hanya mengangguk karena pandangannya hanya menatap pada tubuh Alya yang sudah kembali tertutup kain putih. Keduanya keluar dengan Satya memapah istrinya, tangan mereka saling menggenggam demi mendapatkan ketenangan satu sama lain.


Di luar Jack dan Noella duduk di atas kursi besi alumunium. Istri Jack itu masih mengeluarkan air matanya, ia turut merasa memiliki kesalahan pada Alya karean terjadi sedikit keributan sebelum pendarahan itu terjadi. Jack pun sama seperti Noella yang terdiam bedanya Jack menahan laju air matanya.


Satya mengingat dengan jelas wajah Jack yang dulu pernah berkenalan dengannya dan mengakui sebagai kekasih dari Alya. Satya berhenti sejenak dihadapan Jack dan Noella. Ada rasa geram pada pria yang ada dihadapannya yang juga terlihat tengah menenangkan istrinya sama seperti dirinya. Namun, Satya memnagan semua perasaan kesalnya pada Jack.


"Ekhem... Kalian yang mengurus semuanya?" Tanya Satya pada pasangan suami istri yang ada dihadapannya.


Noella dan Jack mendongak menatap Satya dan Belva lalu mereka berdua mengangguk secara bersamaan.


"Tuan, saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi bisakah Alya disemayamkan di rumah anda sebelum pemakaman?" Tanya Noella dengan lirih dan penuh harap.


Jack tak mengerti dengan ucapan sang istri tapi dirinya hanya diam menyimaknya saja. Satya memperhatikan Belva sejenak lalu mengangguk setuju pada permintaan Noella.


Tak perlu menunggu lama lagi, jenazah Alya sudah di dorong menuju mobil jenazah. Dua pasangan suami istri itu langsung saja mengikuti jenazah Alya. Satya dan Belva memilih untuk masuk ke dalam ambulance sedangkan Jack dan Noella mengikuti dari belakay dengan mobil mereka termasuk sopir Belva juga mengikuti dari belakang.


Sirine ambulance berbunyi nyaring saat mereka berjalan beriringan membelah jalanan kota Jakarta dengan kecepatan yang tak bisa dibilang lambat. Belva mengabari orang rumah nya untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan di rumah termasuk juga mengabari Budhe Rohimah dan Bella.


Semua yang mengenal Alya tentunya cukup merasa sedih atas kepulangan perempuan itu kepada sang pencipta. Meski sikap Alya tak menyenangkan tapi para asisten rumah tangga Satya tetap menunjukkan rasa empati.


Bella dan Duo Kay tak mengenal siapa itu Alya secara langsung jadi mereka pun hanya terdiam. Menangis pun tidak hanya rasa empati yang mereka berikan.


"Mami, dia siapa?" Tanya Kaila dengan polosnya.


"Mami, kenapa Mami seperti habis menangis?" Tanya Kaili.


Belva mengusap kepala kedua anaknya dengan lembut seraya tersenyum tipis.


"Sayang, itu aunty Alya, aunty nya Kaili dan Kaila." Jawab Belva.


"Aunty kita?" Tanya Kaili.


"Iya nak."


"Tapi kok aku tidak pernah lihat aunty." Ujar Kaili.


"Aunty Alya tidak tinggal bersama kita selama ini karena aunty Alya sibuk, sayang."


"Aunty meninggal ya? Kenapa?" Tanya Kaila.


"Karena aunty Alya lebih di sayang Tuhan setelah aunty melahirkan adik kecil." Jawab Belva dengan sabar memberikan pengertian pada dua anaknya.


Pemandangan Belva yang sedang memberikan pengertian pada kedua anaknya tak luput dari Satya dan beberapa orang yang lainnya.


Mereka yang paham bagaimana masa lalu Belva akibat Alya merasa terharu, Belva tak menanamkan kebencian pada kedua anaknya untuk Alya yang jelasy selalu membuat mereka susah dan menderita.


"Alya, apa kamu melihatnya? Belva sesungguhnya menyayangi mu, Nak." Batin Satya berucap seakan sedang berbicara berdua dengan Alya.


Beberapa pelayat datang, mereka dari tetangga kanan kiri rumah Satya dan lingkungan Satya serta beberapa kolega Satya dan Belva yang mengetahui perihal kabar duka itu. Mereka turut berbelasungkawa atas kematian Alya.


Pemakaman akhirnya dilakukan tepat pukul tiga sore. Kembali mobil beriringan mengantar jenazah Alya ke peristirahatan terakhir. Meski tak ada Isak tangis yang menggelegar tapi tetap saja ada air mata yang mengiringi kepergian Alya untuk selamanya.


Di seberang tempat pemakaman, terdapat mobil yang sudah setia terparkir, dua orang diam di dalam mobil untuk memperhatikan kondisi di dalam pemakaman dari jarak cukup jauh tapi masih bisa terjangkau oleh pandangan mereka.


****


To Be Continue...


Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author ❤️🙏

__ADS_1


Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian 🙏🙏


__ADS_2