
Belva beralih menatap Kaila, Satya pun sama dia menatap wajah putrinya yang juga tengah ke arah mereka.
"Belum, dokter belum memberikan ijin." Ucap Belva. Wanita itu bingung kenapa Kaila bisa mengatakan jika dirinya sudah boleh pulang pada Kaili.
"Mamiiii... Aku mau tidur di rumah Daddy tidak mau disini. Kata Kaili kamar kita bagus banyak mainan disana." Rengek Kaila.
Belva menatap tajam Satya, pria itu juga beralih menoleh Belva. "Kenapa dia menatapku seperti itu ?" Batin Satya.
"Apa yang anda rencanakan Tuan ?" Tanya Belva.
"Tidak ada. Masalah kamar itu memang saya sudah menyiapkan untuk mereka jika mereka ingin menginap di rumah saya." Ucap Satya santai tak terintimidasi oleh tatapan Belva.
"Itu pun dengan ijinmu juga. Saya tak mungkin membawa mereka tanpa ijin dari Maminya." Imbuh Satya.
"Tidak. Saya tidak mengijinkan mereka." Ucap Belva tegas.
Masih takut dan khawatir dengan adanya Sonia dan Alya. Jika Belva memberikan ijin untuk kedua anaknya tidur di rumah Satya itu sama artinya Belva meletakkan Duo Kay dalam bahaya.
Satya hanya menghela napasnya, sudah diprediksi olehnya jika akan sulit mendapatkan ijin dari Belva agar Duo Kay bisa menginap di rumahnya.
"Mami boleh ya aku menginap di rumah Daddy." Kaili meminta ijin.
"Tidak sayang, maaf Mami tak bisa mengijinkan mu. Nanti jika waktunya memungkinkan saja." Ucap Belva dengan lembut agar Kaili mengerti.
Wajah Kaili berubah tertekuk lesu, rasa antusias nya mendadak berhamburan entah kemana saat Maminya tak mengijinkan dirinya menginap di rumah Daddy nya.
Belva langsung berdiri menghampiri Kaili, dipeluknya tubuh putranya itu. Ia tahu jika Kaili merasa sedih atas keputusannya.
"Sayang maafkan Mami ya... Lain waktu pasti Mami ijinkan. Tapi tidak bisa sekarang sayang." Ucap Belva kembali pada putranya.
"Kenapa tidak boleh Mami ?" Tanya Kaila yang sedari tadi menyimak.
"Karena... Kaila masih sakit dan kalian masih sekolah nanti saat liburan sekolah saja ya." Belva memberikan alasan yang bisa dimengerti oleh dua anaknya. Perkara nanti mereka akan menagih janjinya, Belva akan pikirkan kembali alasan selanjutnya. Yang terpenting saat ini mereka aman tak berada di rumah Satya.
Satya tahu jika ada ketakutan dari Belva atas keselamatan kedua anak mereka. Dirinya ingin berbicara berdua saja dengan wanita itu tapi belum ada waktu. Besok dirinya akan berbicara berdua saja dengan Belva karena hari ini dirinya tak bisa full berada di rumah sakit.
Pria itu pun juga mendekati dua anaknya, membantu Belva menenangkan dan memberi pengertian pada mereka.
"Anak-anak Daddy, dengarkan. Besok saat Kaila sudah boleh pulang baru kalian menginap bersama-sama di rumah Daddy. Oke ?" Ucap Satya.
"Tapi kapan Kaila boleh pulang ?" Tanya Kaili.
"Besok coba Daddy tanyakan ya. Jangan sedih."
Duo Kay mengangguk. "Tapi aku ingin cepat pulang Daddy." Pinta Kaila.
"Iya sayang, nanti Daddy usahakan agar Kaila bisa cepat pulang." Usapan lembut Satya berikan pada pipi chubby Kaila.
Satya melihat pergelangan tangannya, waktu makan siang sudah habis. Masih ada jadwal yang harus dilakukan nya saat ini.
"Daddy harus ke kantor lagi. Kaili ayo pulang dulu Daddy antar ke rumah." Kaili mengangguk.
"Sayang, Daddy pergi dulu nanti Daddy datang lagi. Cepat sembuh Princess ila nya Daddy." Satya mengecup kening dan pipi Kaila.
"Nanti Daddy kesini lagi ya." Ucap Kaila.
"Iya sayang." Senyum lembut dari pria dingin untuk Kaila.
"Saya pergi dulu. Jangan lupa makan siang." Ucap Satya sembari menatap paper bag berisi makanan yang sempat diletakkan di atas nakas samping ranjang Kaila.
"Eemm. Terima kasih Tuan." Ucap Belva menganggukkan kepala.
"Sama-sama. Jika terjadi sesuatu dengan Kaila cepat hubungi saya." Ucap Satya sembari menggendong Kaili kembali.
"Hati-hati Daddy... Kaili...." Ucap Kaila.
Kaili melambaikan tangan kanannya dengan tangan kiri merangkul leher Satya. Daddy dua anak itu tersenyum pada Kaila tak lupa diapun menatap wajah cantik Belva sebelum pergi.
****
Berbeda dengan Kaila yang masih belum mendapatkan ijin dari dokter untuk pulang. Saat ini Alya sudah diijinkan pulang oleh dokter karena kondisinya sudah membaik.
"Nona Alya, hari ini anda sudah diperbolehkan pulang." Ucap dokter Andrew.
"Ya terima kasih." Ucap Alya tanpa semangat.
Jika biasanya orang yang berada di rumah sakit tidak merasa betah dan ketika diijinkan pulang akan merasa senang. Berbeda dengan Alya yang merasa tak bersemangat, dia harus menghadapi permasalahannya yang saat ini tengah mengandung.
"Untuk obat nya sudah diurus oleh suster. Sebentar lagi suster akan datang untuk membawakan obat untuk anda dan membantu anda berkemas." Ucap dokter Andrew.
Alya hanya mengangguk, padangannya tak fokus. Pikirannya menerawang jauh dimana dirinya harus mencari kekasihnya yang saat ini tidak ada di negara ini.
Sudah beberapa bulan Jack tidak dapat dihubungi oleh nya. Berkali-kali telepon terkadang tidak masuk dan terkadang masuk tapi tak mendapatkan jawaban.
Tak ada barang-barang penting yang harus Alya bawa. Ia cukup mengganti bajunya saja lalu suster membantunya menuntun keluar ruangan.
"Saya bisa sendiri sus." Tak ada ekspresi apapun dari wajah Alya.
"Baik Nona. Ini obat anda mari kita ke depan."
Alya tak tahu jika di depan ruangan dirinya memang sudah di tunggu oleh dua polisi yang sedari kemarin menjaganya.
"Nona Alya, anda sudab selesai ?" Tanya salah satu polisi.
Alya mengernyitkan dahi nya, tak mengenal pria itu tapi bagaimana pria itu bisa mengetahui namanya.
Melihat tatapan Alya yang bingung maka pria itu memperkenalkan diri mereka. "Maaf Nona, mari saya antar. Kami orang suruhan dari Tuan Satya."
Terpaksa polisi itu berbohong karena gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit. Keadaannya baru saja membaik, dokter Andrew meminta agar memberikan waktu bagi gadis itu untuk beristirahat sejenak menghirup kebebasan dari masa sakitnya.
Kembali Alya hanya mengangguk. Tak ada rasa curiga sama sekali jika dua pria itu adalah polisi karena pakaian bebas yang mereka kenakan. Tak ada yang tak mungkin bagi Satya jika Daddy nya itu mengutus seseorang untuk menjemputnya. Pikir Alya dua pria itu adalah bodyguard dari sang Daddy.
"Daddy, ternyata dia tak benar-benar mengabaikanku. Meski tak bisa menjenguk Daddy masih menyuruh bodyguard untuk menjagaku." Batin Alya. Ia sedikit tersenyum mengingat Daddy nya.
Alya lantas pergi bersama kedua pria itu, berjalan didampingi tanpa dipegang sama sekali karena mereka yakin Alya tidak akan kabur. Gadis itu belum tahu jika dirinya sudah menjadi tersangka atas tindakan percobaan pembunuhan.
Mobil yang digunakan pun mobil biasa bukan mobil polis, semakin jauh lah dan tidak ada rasa curiga sama sekali. Dalam perjalanan Alya hanya tampak termenung sendiri menatap ke luar kaca jendela.
Tatapan yang kosong tak fokus pada apapun hanya pikirannya yang sedang aktif bekerja untuk mencari keberadaan Jack kekasihnya. Ponselnya kini entah kemana, dirinya tak memegang apapun saat ini.
Sebelum Alya pulang ternyata dokter Andrew yang merasa kasihan pada Alya dirinya mencoba sedikit membantu gadis itu. Dokter Andrew memberikan tumpangan pada gadis itu di apartemen miliknya. Pria itu yakin jika Satya tidak akan menerima Alya lagi untuk tinggal di rumah Satya kembali. Terbukti saat Alya memiliki permasalahan saja Satya tak mau ikut campur. Melepaskan gadis itu sendirian menghadapi permasalahan.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap polisi berpakaian bebas itu.
Alya memperhatikan sekitar, tempat yang asing baginya. Tak pernah dirinya mengunjungi tempat itu.
"Ini dimana ? Kenapa kalian membawaku ke sini ?" Tanya Alya penasaran.
__ADS_1
"Ini tempat yang baru untuk anda Nona selama dalam masa pemulihan."
"Kenapa harus di tempat ini ? Kenapa tak pulang ke rumahku saja ?" Tanya Alya kembali.
"Tempat ini lebih dekat dengan rumah sakit. Jika terjadi sesuatu dengan anda maka kami bisa segera mengantarkan anda ke rumah sakit." Alasan yang cukup masuk akal karena apartemen dokter Andrew memang dekat dengan rumah sakit Mitra Medika.
Tak mau pusing lagi karena sudah cukup pikirannya penuh dengan masalah kehamilannya. Alya mengikuti kedua pria itu turun dari mobil dan masuk ke apartemen milik dokter Andrew.
Di apartemen tersebut sudah ada satu orang wanita yang masih cukup muda meski sudah menjadi seorang ibu-ibu.
"Nona, mari saya antar anda ke dalam kamar anda." Ucap wanita tersebut. Alya mengangguk dan menurut saja.
Kedua pria itu berjaga di depan ruang tamu. Alya dan wanita itu masuk ke dalam sebuah kamar yang terlihat cukup bersih dan nyaman.
"Silahkan beristirahat Nona, jika membutuhkan sesuatu panggil saja saya. Nama saya Sari." Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Sari.
"Terima kasih." Alya akhirnya bersuara kembali meski tanpa ekspresi. Terlihat jika wajah itu tak memiliki semangat dan datar.
"Saya permisi Nona." Pamit Sari.
Di ranjang berukuran sedang itu Alya duduk di bibir ranjang. Kembali wanita itu termenung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Tanpa sadar dirinya memegang perutnya, tak menyangka jika dirinya hamil saat ini.
"Jack, aku harus mencarinya untuk bertanggung jawab pada anak ini." Lirih Alya.
Perempuan itu berdiri dan keluar dari kamar. Dengan langkah cepat Alya berjalan hendak keluar dari apartemen.
"Nona, anda mau kemana ?" Tanya salah satu polisi.
"Aku mau keluar aku harus mencari kekasih ku."
"Maaf anda tidak boleh keluar Nona."
Alya menatap tajam pada pria itu. Sudah menjadi watak nya jika apanyang diinginkannya tidak terkabulkan.
"Minggir ! Siapa kamu beraninya melarangku huh ?!! Kamu itu hanya pesuruh Daddy ku jangan berani-berani nya kamu mencegahku pergi !" Ucap Alya dengan nada tak menyenangkan bahkan terkesan sedikit membentak serta merendahkan.
Polisi itu geram tak terina direndahkan oleh Alya. Rahangnya mengeras seakan ingin membalas membentak perempuan itu dengan suara tegasnya.
"And...!!" Pria itu tak melanjutkan kata-katanya karena pundaknya telah disentuh oleh rekan kerjanya.
"Nona, saya harap anda mengerti. Anda tidak diperbolehkan untuk keluar dari ruangan ini." Ucap polisi yang lain. Pria itu berusaha bersabar meski dirinya juga tak terima jika pekerjaan nya direndahkan oleh orang lain.
Alya tetap memaksa ingin keluar, hingga para pria itu terpaksalah mencekal lengan Alya. Memberontak gadis itu melepaskan diri sembari berteriak-teriak. Alya seorang perempuan tak mungkin mereka berbuat lebih dari itu.
Sari yang mendengar suara keributan langsung menghampiri ruang tamu. Dirinya terkejut dengan apa yang terjadi, gadis yang tadinya diam dengan tak memiliki gairah hidup itu tengah berusaha memberontak.
"Nona... Nona anda tenang lah. Kita duduk dulu... Anda baru saja sakit jangan mempersulit diri anda sendiri." Ucap Sari.
"Aku mau mencari kekasih ku !! Lepaskan aku !!" Teriak Alya.
"Iya Nona tapi anda tenang dulu. Dimana kekasih anda nanti saya bantu cari. Tapi anda tenang nanti kita cari sama-sama." Cap Sari terus berusaha menenangkan.
Lelah memberontak karena keadaan nya yang belum benar-benar pulih seperti dulu. Alya lelah dan menurut saat sari menuntun nya ke arah sofa. Mereka duduk di sofa itu bersama para pria yang kini duduk di seberang Sari dan Alya.
"Anda harus banyak istirahat Nona. Jika keadaan anda belum pulih dan benar-benar sehat bagaimana mau mencarinya."
"Tapi aku harus mencarinya hiks..." Alya mulai meneteskan air matanya. Meratapi apa yang telah menimpanya.
"Iya nanti kita bantu cari. Anda istirahat dulu ke dalam. Mari saya antar." Ucap Sari kembali menuntun Alya.
"Pak tolong angkat." Pekik Sari.
Salah satu diantara pria itu langsung mengangkat tubuh Alya membawanya masuk ke dalam kamar Alya yang berada di lantai dua.
****
Hari ini adalah akhir pekan, biasanya Satya akan tetap bekerja di kantornya. Tapi saat ini pria itu sudah merubah jadwal kerjanya. Menetapkan bahwa akhir pekan adalah hari bebas untuknya. Menjadikan di hari itu untuk hari khusus bagi dirinya dengan sang buah hatinya.
Satya kembali ke rumah sakit untuk menemui putrinya. Sedari pagi Satya berada di rumah sakit menemani gadis kecil itu melewati hari-harinya di ranjang rumah sakit. Tawa kebahagiaan terpancar dari Kaila maupun Satya. Belva dalam hati pun turut bahagia melihat putrinya sangat bahagia.
Hingga waktu beranjak semakin siang, Satya bersiap untuk menjemput Kaili. Pria itu berpamitan dengan putri kesayangannya.
"Sayang, Daddy pergi jemput kakak dulu ya."
"Oke Daddy tapi nanti kesubi lagi kan ?" Tanya Kaila.
"Tentu saja, hari ini dan besok Daddy akan full menemanimu." Satya mengecuo kening putrinya.
Kaila tersenyum senang, gadis kecil itu mengangguk. Satya beralih berpamitan pada Belva yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Saya jemput Kaili dulu."
"Hem... Jangan ajak Kaili kembali ke rumah Anda." Ucao Belva mewanti-wanti pria itu.
"Iya." Satya mengusap kepala Belva dengan senyum tipisnya. Merasa sedikit gemas dengan kekhawatiran dan ketakutan Belva.
Satya berlalu keluar dari kamar rawat Kaila. Menjemput putra kesayangannya yang tampan. Pria itu sudah rutin menjemput Kaili, dirinya yang meminta kepada Belva dan Budhe Rohimah. Kedua wanita itu mencoba untuk memahami keinginan Satya dan membiarkan pria itu mencurahkan kasih sayang pada Duo Kay. Selama ini mereka lah yang menahan sehingga Duo Kay tak bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya.
Sudah hafal dengan jadwal kepulangan Kaili dan tempat dimana bocah itu menunggu jemputan. Satya menghampiri putranya dan mengajaknya pulang.
"Boy, kita pulang Nak."
"Ayo Daddy. Donny... Farel aku pulang."
"Iya." Ucap Donny. Farel hanya mengangguk. Kedua bocah kecil itu melambaikan tangan pada Kaili dan dibalas oleh Kaili.
Ayah dan anak itu sekarang telah berada di dalam mobil. Seperti biasa Satya mulai menanyakan apa saja aktivitas yang dilakukan oleh Kaili selama di sekolah. Dia ingin menjadi ayah yang baik dan perhatian pada anak-anaknya. Kaili dengan antusias bercerita apa saja yang dia lakukan termasuk permainan apa saja yang dilakukannya bersama Farel dan Donny.
"Kita cari makan dulu ?" Tanya Satya pada Kaili.
"Iya... Mau ayam tepung yang ada di depan sana boleh ?"
"Boleh boy... Nanti kita beli juga buat Mami dan adik kamu. Oke."
"Oke Daddy." Kaili mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
Mereka akhirnya singgah terlebih dahulu ke sebuah restoran cepat saji yang menjual ayam tepung. Kaili dan Satya mereka berdua makan terlebih dahulu di tempat. Lahap Kaili memakan ayam tepung yang diinginkannya.
Bocah itu akhir-akhir ini merasa sangat bahagia sekali. Satya selalu meluangkan waktu untuk Kaili dan juga Kaila. Satya benar-benar mewujudkan keinginannya untuk berada di sisi Duo Kay.
"Ayo kita pulang boy, adikmu pasti senang kita bawakan ayam tepung."
"Iya Daddy. Ayo kita pulang, aku rindu Mami." Ucap Kaili dengan wajah sedikit sendu.
Pasti dirinya sangat merindukan Belva yang hampir setiap hari berada di rumah sakit bahkan hampir tak pulang karena harus menjaga Kaila. Wanita itu tak mau jika meninggalkan putrinya.
Satya menggendong Kaili dengan tangan sebelah kirinya menenteng plastik berisi dua box ayam tepung. Mereka masuk kembali ke dalam mobil untuk kembali ke rumah sakit. Satya tak langsung mengantar Kaili pulang ke rumah agar dirinya bisa berkumpul bersama kedua anaknya.
__ADS_1
Tak lama waktu yang mereka tempuh untuk sampai kembali ke rumah sakit. Satya tampaknya sangat senang jika harus menggendong anak-anaknya. Kembali Kaili digendong olehnya saat menuju kamar rawat Kaila.
Saat masuk ternyata Kaila sudah tertidur karena baru saja meminum obatnya. Kaili tampak sedikit layu saat kembarannya sudah tertidur. Dia tak bisa bercerita pada Kaila.
"Yaaahh... Kaila tidur." Ucap Kaili dengan sedikit tak bersemangat.
"Kaila sudah lama tidur ?" Tanya Satya pada Belva.
"Belum, baru saja karena habis meminum obat." Jawab Belva.
Kantong plastik berisi dua box ayam tepung diletakkan Satya di atas nakas. Satya berjalan menuju sofa dan duduk dengan Kaili duduk dipangkuannya.
"Hai sayang, sini duduk dengan Mami." Ajak Belva pada Kaili.
Kaiki turun dari pangkuan Daddy nya dan duduk di pangkuan Maminya. Dia sangat merindukan Maminya, tak hanya duduk saja tapi Kaili juga memeluk tubuh Belva.
"Kenapa peluknya kencang begini ?" Tanya Belva pada Kaili. Wanita itu menatap Kaili dengan lembut.
"Kaili rindu dengan Mami." Lirih bocah itu.
Belva terenyuh saat mendengar ucapan putranya. Ada rasa bersalah karena lebih banyak waktunya habis menjaga Kaila. Dikecupnya berkali-kali kepala dan wajah Kaili.
"Maaf ya sayang. Mami jadi jarang punya waktu untuk kamu. Kita berdoa biar adik kamu cepat pulang ke rumah jadi kita bisa sama-sama lagi."
"Iya Mami, nanti kita sama-sama dengan Daddy juga kan ? Daddy tidak pergi lagi kan ?" Tanya Kaili.
Satya yang sedari tadi memperhatikan Belva dan Kaili pun hanya bisa terdiam. Dalam hati dirinya sangat menginginkan bisa bersama-sama dengan anak-anaknya dan juga Belva. Tapi lagi-lagi keinginannya harus patah karena ada Roichi.
"Daddy tidak akan pergi Nak." Ucap Satya pada Kaili. Dia mengusap punggung putranya.
Kini Belva yang terdiam, wanita itu tak tahu harus berkata apa. Dirinya tak mungkin bisa bersama-sama dengan Satya. Hal yang sangat mustahil baginya karena Satya adalah seorang pria beristri dengan status sosial tinggi terlebih diantara mereka pun tak ada perasaan apapun.
"Kaili, sudah siang. Harus istirahat dulu ya sayang. Kaili harus pulang tidak baik berlama-lama di rumah sakit." Ucap Belva dengan lembut mengalihkan pembahasan.
"Tidak mau, Kaili mau di sini. Di sini ada Mami dan Daddy. Kalau aku pulang tidak ada Mami dan tidak ada Daddy." Ucap Kaili lirih.
"Tapi di rumah ada Uti sayang." Ucap Belva.
Kaili menggeleng pelan. "Boleh tidur dengan Daddy nanti ?" Tanya Kaili.
Belva menutup matanya dan menghela napas. "Sayang, dengarkan Mami. Kamu harus menurut dengan Mami. Tidur di rumah bersama Uti, Mami tidak mau kamu membantah sayang."
Wajah Kaili berubah sendu, matanya berkaca-kaca. Terlihat sekali wajah bocah itu sangat sedih, Mami nya tidak pernah mau memberikan ijin untuknya bersama sang Daddy.
"Kaili, ikut Daddy. Kita jalan-jalan keliling rumah sakit yuk." Ajak Satya.
"Tuan jangan membuatnya menjadi anak yang membantah terhadap ku." Ucap Belva dengan nada tak suka. Ia pikir Satya membawa putranya untuk meracuni pikiran Kaili agar terus menerus meminta untuk menginap di rumah Satya.
"Dia anak saya, saya tak bisa melihat anak saya bersedih. Jika kamu tak mengijinkannya tidur di rumah saya setidaknya menghiburnya agar tidak bersedih tidak ada salahnya."
"Ayo boy ikut Daddy." Satya mengambil paksa tubuh Kaili dari pangkuan Belva.
Dengan langkah cepat Satya keluar dari kamar rawat Kaila. Perasaannya pun ikut bersedih saat dirinya tak bisa bersama dengan Kaili. Dirinya harus segera berbicara serius dengan Belva agar Duo Kay bisa mendapatkan ijin dari Mami mereka untuk menginap di rumahnya.
Belva menatap kepergian dua pria berbeda generasi itu. Sikap dingin Satya dan kata-kata Satya yang menyudutkan dirinya, membuatnya merasa kesal dan juga bersalah. Ia hanya ingin melindungi anak-anaknya saja. Apa Satya tak bisa mengerti akan hal itu ?
Berjalan mengelilingi rumah sakit yang besar itu Satya tak merasa lelah saat bersama Kaili. Banyak hal yang ditunjukkan nya pada putranya. Begitu pula Kaili yang bertanya banyak hal pada Satya. Pria dewasa itu berusaha menghibur sang putra agar tak merasa diabaikan dan sedih dengan kondisinya saat ini.
Siang hari memang jam istirahat bagi Kaili dan Kaila yang terbiasa dengan jadwal tidur siang. Berkeliling dengan berada di pelukan sang Daddy membuat Kaili merasa nyaman dan lama-lama anak itu mulai mengantuk.
Dirasa Kaili sudah tidur Satya kembali lagi ke kamar rawat Kaili. Belva yang melihat Satya kembali masuk pun menatap pria itu. Dilihatnya putranya bersandar pada bahu Satya.
"Kaili tidur ?" Tanya Belva.
"Ya." Jawab Satya singkat dengan nada dingin.
Belva bangkit dari duduknya menghampiri Satya. "Biar saya yang menidurkannya di ranjang." Ucap Belva yang sudah mengulurkan tangannya.
"Tidak usah." Satya berlalu meninggalkan Belva yang berdiri mematung.
"Kenapa dia seperti itu ? Apa dia marah karena aku membuat Kaili bersedih ?" Tanya Belva dalam hatinya.
Diletakkan tubuh kecil Kaili di atas ranjang tambahan yang biasa digunakan untuk beristirahat jika menjaga Kaila. Tapi Belva jarang menggunakannya.
Perlahan tubuh Kaili diletakkan agar tak kembali terbangun. Setelah dirasa posisi Kaili sudah nyaman Satya menatap sebentar wajah putranya. Belva mendekat pada Kaili dan melepaskan sepatu yang masih melekat pada putranya.
"Saya ingin bicara padamu." Ucap Satya. Pria itu berlalu duduk di sofa.
Belva mendekat dan duduk di sofa panjang yang sama dengan Satya dengan menjaga jarak.
"Ada apa Tuan ?" Tanya Belva.
Satya harus membicarakan hal serius ini sekarang juga. Tak bisa dirinya menunda lagi agar Duo Kay tak kesulitan selalu berada di sisinya.
"Jelaskan alasan mu kenapa tak mengijinkan mereka menginap di rumah saya." Ucap Satya datar.
"Anda sudah tahu sendiri apa alasannya Tuan. Tak perlu lagi saya jelaskan." Ucap Belva yang tak kalah datar.
"Sonia dan Alya. Apa itu alasan mu ? Kamu takut mereka melukai si kembar ?"
"Belva dengarkan saya baik-baik. Kamu ingat kemarin saya pernah mengatakan jika Alya bukanlah anak saya. Saya dan Sonia sudah berpisah lalu saya harus mendengar fakta jika saya memiliki anak kandung dari mu atas perbuatan yang tidak kita sengaja. Saat mengetahui kenyataan itu saya berniat menemui kalian tapi justru pertemuan yang seharusnya saya mendapatkan penjelasan darimu berganti dengan kecelakaan Kaila. Kehadiran saya saat itu bukanlah suatu kebetulan tapi memang saya ingin menemui kalian. Dan disaat itu juga Alya kecelakaan sama seperti Kaila, dia membutuhkan donor darah dan darah saya dengan Alya tak cocok hingga saya melakukan tes DNA yang menyatakan Alya bukanlah anak kandung saya."
Penjelasan singkat Satya tapi itu merupakan kalimat terpanjang dari Satya selama ia berbicara pada Belva selama ini.
Lagi Satya melanjutkan ucapannya dengan menghela napas sebelumnya. "Jadi, Sonia dan Alya sudah bukan bagian dari kehidupan saya lagi mulai saat ini sampai seterusnya. Mereka tak lagi saya ijinkan menginjakkan kaki di rumah saya. Sekarang tidak ada alasan lagi bagimu melarang anak-anak untuk tidur di rumah saya."
Belva tercengang saat mendengar jika ternyata Satya dan Sonia sudah tak lagi bersama ditambah Alya yang memang sebelumnya sudah dikatakan Satya jika gadis itu bukan anak kandung Satya.
"Anda bercerai ?" Tanya Belva ragu.
"Ya... Wanita itu memiliki kesalahan yang sangat fatal dan tak bisa lagi saya maafkan."
Belva melihat dari tatapan mata Satya jika pria itu memendam rasa kecewa. Meski wajah pria itu tetap dingin dan datar tapi tatapan mata itu saat bercerita tak bisa dibohongi.
"Malam ini biarkan Kaili bersama saya. Kamu tak bisa menemaninya jadi biar saya yang menemani Kaili." Ucap Satya. Bukan suatu pertanyaan tapi pernyataan dari Satya.
Apakah Belva akan memberikan ijin pada Satya setelah mendengar pengakuan dari Satya ? Wanita itu masih terdiam belum bisa mengeluarkan suaranya untuk memberikan keputusan pada Satya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku 🙋
Maaf hari ini up nya malam karena author sudah mulai masuk kerja lagi setelah hampir satu tahun jadi kaum rebahan yang membantu pemerintah memutus rantai penyebaran covid-19.
Terima kasih banyak selalu author ucapkan untuk kalian yang masih setia pada novel receh author. Support kalian sangat berarti sekali bagi semangat author dan pasti di tengah-tengah kesibukan author kerja nanti, bakalan lebih semangat lagi ketika melihat banyaknya like dan komentar serta seluruh dukungan yang kalian berikan. 🤗🙏
__ADS_1