Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 98. Penjelasan


__ADS_3

Mengingat apa yang sudah terjadi hari ini. Belva merasa malas dan ingin menghindari Satya. Pun demikian pria itu juga masih mengingat dengan jelas kejadian tadi pagi. Dia melihat Belva yang terkejut melihat dirinya bersama dengan Rania di private room. Satya dengan cepat mencekal tangan Belva saat wanita itu akan pergi dari kamarnya. Belva mencoba untuk melepaskan diri.


"Lepas...!" Ucap Belva dengan nada ketus.


Tapi sayang Satya justru mengeratkan cekalan tangannya. Dia tak ingin melepaskan Belva saat ini.


"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Satya menatap Belva.


"Memang aku memikirkan apa ? Tidak jelas... Awas lepas."


"Apa yang kamu lihat tadi pagi, itu... Itu tidak sengaja."


"Terserah. Bukan urusanku, lepas... Mengurus anakku lebih penting daripada mengurusi urusan orang lain." Belva tetap berbicara dengan nada ketusnya.


Wanita itu merasakan sakit pada sudut hatinya secara tiba-tiba saat Satya membahas apa yang dilihatnya tadi pagi. Mencoba sebisa mungkin untuk tak memikirkan perasaan itu dan bersikap cuek pada apa yang Satya lakukan.


Deg...


Hati Satya rasanya sama sakitnya dengan yang dirasakan oleh Belva. Kala Belva secara tidak langsung menyebutkan jika Satya adalah orang lain bagi wanita itu.


Cekalan tangan Satya sedikit mengendur, pria itu fokus pada titik sakit yang dirasakannya saat ini. Belva memanfaatkan keadaan itu dengan cepat menarik tangannya lalu pergi keluar dari kamar.


Grep...


Tubuh Belva sedikit terdorong ke depan. Satya ternyata tak melepaskannya begitu saja. Cekalan nya terlepas tapi pria itu tiba-tiba memeluk Belva dari belakang. Belva cukup terkejut saat Satya memeluk dirinya.


"Jangan seperti ini. Saya tahu kamu marah padaku saat ini. Saya dan Rania tidak ada hubungan yang lebih dari sekedar teman lama."


Belva terdiam dengan wajah tanpa ekspresi saat mendengar ungkapan Satya. Tapi bayangannya saat melihat Satya dan Rania berpelukan di sofa dengan Rania yang berada di atas Satya bahkan wajah keduanya nyaris saja bersentuhan, masih terus terpampang jelas dalam ingatan Belva.


Dengan kasar Belva melepaskan tangan Satya yang memeluknya dari belakang. Wanita itu menghadap Satya dengan wajah dingin. Menyimpan luka dan kekecewaan yang belum sepenuhnya mampu disadarinya.


"Kenapa harus menjelaskannya padaku ? Kalaupun hubunganmu dengan wanita itu lebih dari sekedar teman apa aku harus melarang mu ? Tidak... Itu semua terserah. Tapi yang jelas, jangan bawa-bawa anak ku untuk mendekat pada wanitamu itu. Dan jangan pernah lagi membuat anak-anakku harus menunggu mu hingga larut malam hanya karena kesibukanmu dengan wanitamu itu."


Belva mengeluarkan semua kekesalan dalam hatinya. Ia kesal karena Duo Kay beberapa kali diajak oleh Satya pergi entah kemana bersama dengan Rania. Bahkan mereka harus menunggu kepulangan Satya yang hingga larut malam dengan sepengetahuan Belva, Satya sedang sibuk dengan Rania.


Satya terpaku saat mendengar ungkapan Belva. Kedua anaknya selama ini selalu menunggu kepulangannya. Geram pada Satya Belva langsung keluar dari kamar itu dengan menutup pintu sedikit kasar.


Tak pernah Belva berlaku seperti itu, selama ini wanita itu tergolong wanita yang cukup sabar dalam menghadapi segala sesuatu. Tapi saat berhadapan dengan Satya, entah wanita itu tak bisa mengendalikan emosinya.


Rasa tidak suka, tidak nyaman dan kesal bergelantungan di dalam hati Belva. Sebenarnya tanpa wanita itu sadari, ia sudah merasa nyaman dan merasa bahwa Satya adalah miliknya. Jika tidak merasa seperti itu lalu untuk apa dirinya harus merasa marah saat Satya bersama wanita lain.


Ia hanya tak memahami bagaimana perasaannya selama ini terhdap Satya. Selalu bersama bahkan tinggal dalam satu atap mengurus Duo Kay bersama. Tanpa sadar sudah membuat Satya maupun Belva merasa mereka saling memiliki satu sama lain.


Satya memang sudah menyadari lebih dulu, hanya Belva yang masih belum sadar. Selama ini tak pernah wanita itu merasakan jatuh cinta dan dekat dengan lawan jenis. Yang ia tahu dan dengar teman-temannya dulu jika jatuh cinta itu selalu terbayang wajah orang yang mereka cintai, selalu ingin bersama dan merasakan rindu. Tapi selama bersama dengan Satya semua itu tak pernah dirasakan oleh Belva. Semua mengalir begitu saja, apa adanya.


Hingga Satya yang berapa kali mengungkapkan keinginan untuk menikahinya tapi Belva belum merasakan perasaannya pada Satya. Tapi melihat Satya bersama Rania, Belva merasa tak suka. Wanita itu cemburu tanpa sadar.


Belva masuk kembali ke kamar Duo Kay, air matanya mengembun dadanya terasa sesak dan tenggorokannya sakit. Kesal yang ia rasakan membuatnya ingin menangis saat itu juga tapi sebisa mungkin ditahannya dihadapan Satya.


Satya merasa sedikit frustasi, ia tahu jika Belva saat ini sedang marah padanya. Sikap wanita itu berubah saat menatap dirinya. Ada kekecewaan yang tersorot dalam mata Belva. Pria itu menyusul Belva yang sudah jelas pasti masuk ke dalam kamar anak-anaknya.


Suara bel pintu apartemen menghentikan langkah Satya yang akan menuju kamar Duo Kay. Keningnya mengerut, heran dengan siapa yang memencet bel apartemennya. Dibukanya pintu itu karena bel beberapa kali berbunyi.


"Permisi Tuan, ini saya mengantarkan pesanan atas nama Nona Belva."


"Pesanan ?" Gumam Satya. Dia melihat kantong plastik berwarna putih itu terdapat logo sebuah apotek. Satya semakin terheran akan pesanan itu.


"Terima kasih." Ucap Satya menerima pesanan itu.


"Sama-sama... Mari Tuan saya permisi."


Seorang jasa pengantar orderan sudah berlalu. Satya kembali membalikan badannya dengan membuka kantong plastik itu. Matanya membulat sempurna terkejut atas isi kantong plastik yang dipegangnya.


"Buat apa dia beli barang ini ? Maksudnya apa ini ?" Gumam Satya. Rahangnya mengeras.


Satya berjalan dengan cepat menuju kamar Duo Kay. Dilihatnya Belva duduk di pinggiraan ranjang, Satya kembali meraih tangan Belva.


"Saya mau bicara sama kamu." Ucap Satya.

__ADS_1


Ditahannya emosi yang ada di dalam dadanya. Dia tak ingin menyakiti wanita yang dicintainya itu.


"Ck... Apa sih." Belva menghentakkan cekalan Satya hingga terlepas. Matanya berkaca-kaca, sedari keluar dari kamar Satya tadi wanita itu sudah menahan tangisnya.


Satya terdiam melihat mata Belva sudah berkaca-kaca, tapi rasa penasarannya tetap saja tak bisa dibendung.


"Buat apa kamu beli barang ini ? Apa yang sudah kamu lakukan di belakang saya, Belva." Ucap Satya menekan nadanya ada tak membangunkan kedua anaknya serta menekan emosi nya.


Belva melirik kantong plastik putih kecil yang di tunjukkan oleh Satya. Logo apotek yang tadi sempat dijadikannya tempat membeli obat untuk Kaili.


"Apa ? Seharusnya pertanyaan itu buat diri kamu sendiri. Aku membeli ini untuk Kaili."


Satya membuang wajah nya tak percaya dengan apa yang dikatakan Belva. "Jangan bohong kamu. Benda seperti itu mana mungkin bisa digunakan oleh anak kecil seperti Kaili. Alasanmu tidak masuk akal Belva."


"Tidak masuk akal bagaimana ? Ini memang kubeli untuk Kaili." Belva membuka plastik itu untuk mengambil barang yang dipesannya.


Mata Belva membulat terkejut bahkan mulut nya sedikit ternganga. "Loh kenapa jadi benda seperti ini." Batin Belva.


"Itu... Benda seperti itu digunakan Kaili untuk apa ? Yang ada benda seperti itu kamu yang pakai." Ucap Satya marah. Meski nada suaranya memang sengaja dibuatnya rendah tapi raut wajahnya menunjukkan jika dirinya sedang marah.


"Tidak... bukan ini barang yang aku pesan." Ucap Belva. Ia keluar kamar Duo Kay, tidak ingin jika perdebatan mereka akan mengganggu anak-anak nya. Satya mengikuti Belva dari belakang. Pria itu masih belum puas karena Belva tak menjawab pertanyaannya dengan benar.


"Kamu mau berbohong karena saya sudah mengerti barang pesanan mu ? Mana mungkin salah, jelas-jelas pria tadi mengatakan jika itu barang pesanan atas namamu."


"Apa yang kamu lakukan di belakang ku Belva ? Apa ini alasanmu menolak diri ku huh ?"


Air mata Belva tak bisa dibendung lagi, suasana hatinya kini sedang tak baik-baik saja.


"Sudah kubilang ini bukan barang yang aku pesan. Apa kamu pikir aku sehina itu ? Melalukan perbuatan yang akan merugikan diriku sendiri. Aku tidak bodoh Om !! Cukup satu kesalahan fatal dalam hidupku yang menghancurkan masa depanku saat itu."


Belva sudah tak bisa menahan diri lagi, diluapkannya semua isi hatinya, kekesalannya dan rasa sedihnya saat ini. Nada suaranya tak lagi dijaganya, Belva berbicara dengan membentak.


"Kamu menuduh ku melakukan hal yang tidak-tidak di belakang mu tapi kamu sendiri apa ?? Bukankah kamu sendiri yang melakukan hal gila itu bersama wanitamu itu. Bahkan anakku... Anakku sampai larut malam menunggu mu. Menunggu kamu yang sibuk berkencan dengan wanitamu, sampai Kaili saat ini sakit."


Ditengah perdebatan sepasang orang tua tanpa ikatan pernikahan itu terdengar bel pintu apartemen kembali berbunyi. Satya beralih untuk membuka pintu. Rupanya pria pengantar orderan tadi kembali.


"Permisi Tuan... Maaf, ini orderan Nona Belva, maaf tadi tertukar dengan pembeli yang lain. Barang yang tadi apa masih ada Tuan, boleh saya ambil ?"


Satya kembali masuk ke dalam dan menghampiri Belva yang masih menangis. Diraihnya pergelangan tangan Belva dan diambilnya plastik itu.


Dia menghampiri pria yang masih berdiri di depan pintu apartemen nya. Kantong plastik itu diberikan pada pria itu.


"Ini... Lain kali jangan teledor. Apa yang kamu lakukan membuat kami salah paham." Ucap Satya pada pria itu.


"Maaf Tuan... Saya benar-benar meminta maaf. Tadi saya buru-buru karena Nona Belva mengatakan jika barang harus cepat sampai, anaknya sedang sakit."


"Ya sudah... Kain kali lebih teliti."


"Baik Tuan... Saya permisi."


Satya kembali membawa masuk kantong plastik itu, ternyata isinya adalah sebuah benda penurun panas. Satya menghampiri Belva.


"Maaf... Saya sudah berpikir yang tidak-tidak padamu." Ucap Satya dengan nada yang lembut. Ia tak bisa melihat Belva menangis seperti itu.


"Sudah ku bilang, itu bukan pesananku. Aku memesan plester kompres untun Kaili." Belva masih mengeluarkan kekesalannya pada Satya. Wanita itu menangis karena kesal pada pria itu.


"Iya saya minta maaf... Saya yang salah."


"Iya memang kamu yang salah. Kamu menuduhku sembarangan tapi nyatanya kamu sendiri yang main gila dengan wanita itu."


Belva masih saja mengungkit apa yang dilihatnya tadi pagi di restoran.


"Belva, itu tak seperti yang kamu pikirkan. Saya dan Rania tidak melakukan apapun. Saya masih waras, kamu dengarkan penjelasan dari saya dulu baru kamu boleh menuduh saya atau kalau perlu kamu boleh pukul saya."


"Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun. Untuk apa ? Tidak ada gunanya bagiku." Belva masih saja menolak dan tak mau mengakui perasaannya saat ini.


"Agar kamu tidak marah-marah lagi dengan saya. Saya tahu kamu sedang marah, di matamu ada sorot kekecewaan pada saya."


Satya menarik Belva dalam pelukannya, wanita itu meronta dan menolak tapi Satya masih dengan erat memeluknya. Mulutnya kembali berbicara, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga Rania.

__ADS_1


Flashback On.


Rania adalah temannya semasa SMA dulu. Lebih tepatnya Rania adalah sahabat dari kekasih hatinya yang menurut kabar wanita yang pernah dicintainya itu telah meninggal dunia.


Dulu, Rania sempat terlibat sebuah cinta segitiga hingga mengakibatkan salah satu diantara nya merasa kalah dan akhirnya memilih untuk bunuh diri akibat pria yang diperebutkan lebih memilih Rania. Kisah cinta yang miris menurut Satya sama seperti kisah cintanya yang berakhir mengenaskan.


Suami Rania saat ini sedang berada di luar negeri, mereka menjalin kerjasama hingga akhir-akhir ini Satya lebih sibuk di kantornya karena suatu permasalahan dalam kerjasama tersebut.


Salah seorang karyawan dari kantor suami Rania berusaha menggelapkan dana pembangunan yang tengah dikerjakan perusahaan Satya dan suami Rania. Tak ingin tinggal diam, Rania membantu sang suami yang kini sedang berada di luar negeri mewakili sang suami.


Tak hanya itu, Rania juga meminta bantuan Satya untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun pernikahannya dengan sang suami yang dalam waktu dekat akan kembali ke Indonesia.


Pertemuan Satya dan Rania memang terbilang sering akhir-akhir ini untuk membahas dua hal tersebut. Dan pada saat berada di restoran tadi pagi, itu adalah rencana mereka untuk membahas acara kejutan pesta ulang tahun pernikahan Rania. Sebenarnya tidak hanya Satya dan juga Rania saja tapi mereka.juga sedang menunggu pihak event organizer yang juga akan membantu acara Rania.


Kenapa harus Satya ? Karena Rania pikir sekalian saja mengurus masalah pekerjaan dirinya meminta bantuan Satya. Restoran itu adalah salah satu rekomendasi dari Satya karena pria itu sering berkunjung di restoran tersebut.


Disambut oleh sang pelayan restoran, Rania dan Satya masuk ke dalam restoran yang tanpa mereka sadari Belva mengetahui keberadaan mereka dan membuntuti mereka.


Baru saja Satya dan Rania duduk di dalam private room sudah terdengar suara-suara sakral yang kedua manusia itu sangat paham suara apa itu. Mereka berdua sudah dewasa dan sudah berpengalaman tentu tak asing dengan suara tersebut.


"Sat... Aku tidak salah dengar kan ?"


"Pendengaran mu masih bagus Ran."


"Kami bagaimana sih Sat, kenapa pilih restoran yang seperti ini." Ucap Rania kesal.


"Mana kutahu kalau akan ada suara seperti itu. Kami pikir aku sengaja memesan tempat ini hanya untuk mendengarkan suara seperti itu." Ucap Satya yang tetap bersikap cuek dengan suara yang ada.


"Sudah aku mau keluar, kita cari restoran lain." Ucap Rania yang merasa tak nyaman dengan suasana restoran.


Tapi sayang, Rania yang beberapa hari ini membantu mengurus pekerjaan sang suami membuatnya kelelahan hingga penyakitnya kambuh. Rania oleng hingga hampir saja menimpa Satya . Reflek Satya menahan Rania pada lengan dan bahu wanita itu.


Tak disangka, Belva sudah membuka pintu private room Satya dan Rania. Satya menyadari jika pintu bergerak terbuka.


"Belva..." Batin Satya terkejut.


Tapi Belva langsung pergi begitu saja saat Satya menatapnya. Satya bingung akan mengejar Belva atau menolong Rania temannya. Penyakit asma Rania kambuh akibat kelelahan. Wanita itu sulit bernapas jika Satya pergi begitu saja maka akan sangat fatal bagi Rania.


"Rania... Rania... Kamu tidak apa-apa ?"


Satya panik, diobrak-abrik nya tas Rania. Satu botol kecil inhaler Satya dapatkan dari tas Rania. Dengan cepat Satya berikan pada Rania tapi wanita itu masih terlihat lemas. Menunggu beberapa saat agar Rania tenang. Satya tak ingin temannya terjadi sesuatu, maka dia memutuskan untuk membawa Rania ke rumah sakit terlebih dahulu.


Dituntunnya Rania keluar dari restoran, tak mungkin jika Satya harus menggendong Rania. Dia masih waras untuk menjada sikapnya terhadap temuannya itu. Tapi lagi-lagi Belva melihat dirinya menuntun Rania.


"Belva, pasti dia salah paham." Batin Satya saya melihay Belva membuang muka darinya.


Flashback Off.


Satya menjelaskan semuanya pada Belva dengan masih memeluk Belva. Wanita itu masih menangis, Satya dengan lembut mengusap punggung Belva.


"Saya tidak berbohong dengan penjelasan saya. Besok ikut dengan saya, kita bertemu dengan Rania hemm."


"Tidak mau, aku mau mengurus Kaili." Ucap Belva lirih.


"Kita bawa Kaili ke rumah sakit sekarang ?" Tawar Satya.


Belva menggelengkan kepalanya. "Mereka sudah tidur, jangan ganggu istirahat mereka."


Satya mengecup kepala Belva. "Kamu percaya pada saya kan ?" Tanya Satya.


"Aku tak tahu, manusia terkadang sulit ditebak apakah dia berbohong atau tidak. Tapi sikapmu yang berbeda aku yakin pasti kamu berbohong."


"Saya tidak berbohong. Kamu tahu kenapa saya berbeda ? Itu karena kamu menolak saya sedangkan saya tidak bisa jauh dari kamu. Saya selalu tersiksa saat berada dekat denganmu tapi kamu ingin menjauh dari saya." Ucap Satya mengungkapkan apa yang dirasakannya selama beberapa hari terakhir ini selain karena kesibukan kantornya.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku...

__ADS_1


Author sudah bilang dari kemarin-kemarin yess... kalau alurnya memang lambat. Jadi harap bersabar dan nikmatin alurnya ya. Terimakasih yang sudah dan masih setia support sampai detik ini. I love you all... doa baik buat kalian dari author sebagai ucapan terima kasih. ☺️🙏


__ADS_2