Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 109. Curiga


__ADS_3

Dari arah parkiran Satya berjalan dengan santai sesekali dirinya memainkan ponselnya. Mengecek beberapa hal di dalam layar ponsel. Wajah dingin dan datar masih terlihat kala pria itu berjalan memasuki kantornya sendiri.


Setiap karyawan perempuan selalu dan pasti mencuri pandang terhadap pemilik Bala Corp tersebut. Wajah tampan pria itu selalu menjadi pemandangan menyenangkan bagi kaum hawa. Meski sudah berusia matang dan berkeluarga sekalipun, daya tarik Satya tak pernah luntur.


Para karyawan perempuan di Bala Corp dan juga di luaran sana hanya bisa menghayal tanpa bisa menyentuh apalagi memiliki Satya. Pria dingin itu tak pernah sembarangan mendekatkan diri pada seorang wanita. Saat pikirannya ruwet dan memaksa dirinya menyambangi arena yang penuh hingar bingar kesenangan sesaat pun pria itu tak pernah mau dan tak tergoda disentuh oleh wanita penghuni surga dunia.


Sudah seperti tersetting otomatis setiap langkah kaki Satya selalu mengundang perhatian bagi para wanita. Grace selaku sekertaris Satya seringkali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan receh seputar bos-nya itu dari para karyawan perempuan. Hal yang semakin lama membuat Grace bosan.


"Selamat pagi Tuan." Sapa Grace.


"Pagi Grace." Jawab Satya.


"Tuan, beberapa berkas untuk meeting hari ini sudah saya letakkan di atas meja Anda."


"Hem... Yaa..."


"Panggilkan Jordi dan suruh ke ruangan saya."


"Baik Tuan."


Satya masuk ke dalam ruangannya, Grace berlalu menuju ke ruangan Jordi. Asisten Satya itu sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.


Ceklek...


Pintu terbuka, Jordi langsung mengangkat wajahnya menatap ke arah pintu.


"Ada apa ?" Tanya Jordi.


"Bos memanggil mu."


"Apa dia baru saja datang ?"


"Iya... Langsung menyuruhku untuk memanggil mu." Ucap Grace.


"Baiklah, aku akan ke sana."


"Dan... Ketuk pintu sebelum masuk. Kebiasaan." Ucap Jordi pada Grace.


Grace hanya menanggapi dengan memutar bola matanya malas. Wanita itu langsung pergi begitu saja tanpa membuka suara sedikitpun bahkan berpamitan pun tidak.


Jordi berdiri dari kursi kebesarannya selama di kantor Bala Corp. Tak lupa menyambar ponselnya dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Menghampiri ruangan bos-nya yang sudah menunggu.


Setelah mengetuk pintu Jordi masuk ke dalam ruangan Satya. Terlihat atasannya itu sedang bersandar di kursi kebesarannya. Tidak ada yang dikerjakan oleh pria bermata hazel itu.


"Tuan memanggil saya ?" Tanya Jordi setelah mendekat ke meja Satya.


"Jordi, urus berkas-berkas milik saya dan Belva. Ajukan ke pengadilan agam untuk mendaftarkan pernikahan kami segera."


"Pernikahan ? Kapan Tuan akan menikah ?" Tanya Jordi penasaran. Satya belum membicarakan hal tersebut dengan dirinya.


"Minggu depan, tapi saya ingin secepatnya. Kalau bisa sebelum Minggu depan." Ucap Satya dengan tegas.


"Bagaimana dengan persiapan pernikahannya jika dalam waktu secepat itu ?" Tanya Jordi. Dia masih bingung dengan keinginan Tuannya yang menurutnya mendadak.


"Saya menggajimu dengan mahal. Apa hanya mengurus persiapan pernikahan yang sederhana saja kamu tak mampu ?"


"Maaf Tuan bukan seperti itu. Anda yakin tidak ingin mengundang rekan bisnis dan orang-orang terdekat dalam acara yang penting ini Tuan ?"


"Hanya keluarga inti dan orang terdekat tentu saja saya akan mengundang mereka. Tidak lebih dari tiga puluh orang."


"Apa ? Tuan yakin ? Apa anda ingin merahasiakan pernikahan anda ?" Jordi terkejut. Seorang yang besar dan penting seperti Satya hanya melaksanakan pernikahan dengan sangat sederhana sangat jauh dari kata mewah.


"Lakukan saja Jordi, jangan banyak bertanya." Ucap Satya dengan tatapan menatap Jordi tajam.


Merasa tak enak dan tak nyaman, Jordi tak ingin melanjutkan berbagai macam pertanyaan yang sudah bersarang di dalam pikirannya.


"Ah... Baik... Baik Tuan. Saya akan melakukan perintah anda. Apa ada lagi Tuan ?"


"Meeting... Mengenai meeting apa bisa dipercepat ? Tanya Satya.


"Di percepat ? Memang ada apa Tuan hingga meeting harus dipercepat."


"Saya ada urusan penting. Ini mengenai rencana yang sudah saya katakan pada mu barusan."


"Baiklah, nanti saya akan meminta Grace untuk mengatur ulang jadwal meeting." Ucap Jordi.


"Bagus, kerjakan secepatnya."


Jordi mengangguk, selesai mendengarkan segala perintah yang diberikan oleh Satya, pria itu langsung beranjak dari ruangan Satya.


Grace susah mengatur ulang jadwal meeting mereka dengan klien. Untung saja klien mereka tak memiliki jadwal yang padat hingga bisa melakukan meeting lebih ceoat dari waktu yang sudah dijadwalkan.


"Tuan, maaf sebelumnya. Saya dengar anda bercerai dengan istri anda. Apa itu benar ?" Tanya klien Satya.


"Ada apa anda mempertanyakan hal itu kepada saya ? Apa ini berkaitan dengan pekerjaan yang akan kita lakukan ?"


Sejujurnya Satya merasa malas dan bahkan merasa tak suka jika klien nya membahas masalah pribadinya untuk saat ini. Waktu yang sangat tidak tepat.


"Ah bukan Tuan. Hanya saja istri saya ingin mengajak anda dan juga istri anda untuk makan malam di rumah kami. Tapi saya dengar anda sudah bercerai. Apa anda keberatan Tuan ?" Ucap klien Satya dengan sedikit tersenyum canggung pada Satya.


"Makan malam ? Anda memiliki acara ?" Tanya Satya dengan alis sedikit terangkat ke atas.


"Hanya makan malam merayakan kerjasama kita Tuan. Kebetulan putri saya juga baru saja pulang dari Amerika."

__ADS_1


"Dalam waktu dekat saya tidak bisa." Ujar Satya.


"Lalu kapan anda bisa Tuan ? Istri saya sangat antusias untuk bisa melakukan acara makan malam bersama ini." Ucap klien Satya yang usianya jauh lebih tua dari Satya. Dia sangat berharap bisa melakukan kegiatan makan malam bersama Satya.


"Apa sebuah keharusan ?"


"Merayakan keberhasilan kerjasama kita Tuan. Saya juga merasa sangat senang bisa bekerja sama dengan anda. Sebuah perayaan kecil ya semacam syukuran kecil-kecilan saja."


Pria itu terus saja membujuk Satya, tanpa putus asa sampai dia bisa berhasil mengajak Satya untuk makan malam bersama.


"Nanti biar asisten saya mengabari anda. Dalam waktu dekat saya tidak bisa."


"Ah... Baik Tuan... Baik... Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu anda." Ucap pria itu dengan antusias. Setidaknya dia memiliki kesempatan untuk bisa makan malam bersama Satya.


Waktu untuk pertemuan meeting sudah selesai. Siang ini Satya sudah berjanji untuk makan bersama dengan Belva. Jadi, Satya meninggalkan kantor lebih cepat hanya untuk menjemput Duo Kay.


"Anak-anak, sudah lama menunggu ?" Sapa Satya yang menghampiri Duo Kay bersama teman-teman nya.


"Daddy ? Tidak kami baru saja keluar. Iya kan teman-teman." Ucap Kaili.


Donny, Farel, Yossy dan Kaila mengangguk.


"Daddy, kita langsung pulang ?" Tanya Kaila.


"Iya sayang, ada apa ?" Tanya Satya. Jika sudah ada pertanyaan seperti itu artinya putri cantik nya itu memiliki keinginan untuk mampir ke suatu tempat.


"Boleh mampir ke mall ? Kaila mau jalan-jalan dulu." Ucap Kaila.


Satya melihat pergelangan tangannya, menatap jam tangan yang sudah mulai mulai menunjukkan jam makan siang.


"Sayang, bagaimana kalau kita ke mall nya besok saja. Mami pasti sudah menunggu kalian. Kita akan makan siang bersama setelah itu Daddy harus menemani Opa."


"Memang Opa mau kemana ?" Tanya Kaila.


"Daddy juga belum tahu, tapi Daddy sudah janji akan menemani Opa."


"Daddy janji, besok kita jalan-jalan bersama dengan Mami juga. Oke ?" Imbuh Satya.


Duo Kay akhirnya mengangguk, mereka pulang. Sesuai perkataan nya tadi pagi pada Belva jika mereka akan makan siang bersama. Sebelum pulang Satya sudah memesan makanan yang harus diantara ke butik Belva. Sehingga ketika Satya dan Duo Kay sampai mereka bisa langsung makan siang bersama di butik.


Tak telalu jauh jarak sekolah Duo Kay dengan butim Belva. Ayah dan anak itu sudah sampai. Merek turun dari mobil, Satya berada di tengah dengan menggandeng Duo Kay di kanan dan kirinya memasuki butik. Sapaan karyawan butik juga selalu Satya dapatkan saat berkunjung ke butik Belva.


"Selamat siang Mami..." Ucap Satya dan Duo Kay bersamaan. Mereka menyapa Belva dengan wajah riang dan semangat.


Belva langsung menghentikan pekerjaannya, akan menjadi perdebatan jika dirinya masih memilih sibuk dengan pekerjaannya.


"Selamat siang, anak-anak Mami yang ganteng dan cantik." Balas bwkva tersenyum lembut.


"Hem yang disapa cuma anak-anaknya saja nih, Daddy nya dilupakan." Ucap Satya menyindur Belva.


"Selamat siang Daddy tuaaampan." Ucap Belva sengaja menjeda satu kata pada bagian tengah nya.


Kening Satya mengerut. "Menyindir Daddy apa memuji Daddy nih ?"


Belva terkekeh, rupanya calon suaminya itu menyadari keisengannya.


"Menyindir bagaimana ? Kan aku bilang Daddy tampan."


"Jangan ngeles kamu, yank." Ucap Satya lalu mencubit hidung Belva. Duo Kay terkekeh saat Belva meringis kesakitan.


"Sakit Dad..." Ucap Belva menghempas tangan kekar Satya.


Pria itu berganti terkekeh. "Makanan yang Daddy pesan sudah datang kan ?"


"Makanan apa ? Belum tuh, Daddy pesan makanan ?"


"Iya Mam, buat makan siang kita. Daddy kira sudah sampai jadi kita bisa langsung makan."


"Coba Mami lihat dulu deh ke bawah. Sayang, kalian tunggu disini nya sama Daddy."


Duo Kay mengangguk, Belva keluar dari ruangannya. Sampai bawah ternyata pengantar makanan pesanan Satya baru saja tiba. Karyawan Belva menerima pesanan itu dan diberikan kepada Belva.


Sebelum kembali ke ruangannya, Belva menghampiri Bella. Menfaja asisten sekaligus saudara nya itu untuk makan siang bersama.


"Bella, ayo makan siang. Daddy nya si kembar beli makanan. Ayo makan siang bersama." Ajak Belva.


"Oke sebentar, saya rapikan semua ini dulu Nona."


"Sudah jam istirahat Bella, ayolah."


"Iya... Iya kak... Sedikit lagi." Ucap Bella.


Akhirnya mereka naik ke lantai dua bersama-sama. Satya dan Duo Kay sudah menunggu. Bella dan Belva masuk ke dalam.


"Om... Sudah dari tadi ?" Sapa Bella.


"Sepuluh menit yang lalu." Jawab Satya.


"Makan siang bersama aunty Bella tidak apa-apa kan ?" Tanya Belva tapi matanya melirik ke arah Satya.


"Tidak masalah." Jawba Satya.


"Oke Mami." Jawab Kaili. Kaila hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Mereka makan siang bersama, dengan lahap Duo Kay makan disuapi oleh Belva. Sesekali Satya juga melakukan hal yang sama pada Duo Kay. Melihat Belva juga lambat dalam memakan makan siangnya karena menyuapi Duo Kay maka Satya berinisiatif untuk menyuaoi Belva.


"Aaak... Buka mulut Mam." Satya menyodorkan sesendok nasi ke arah mulut Belva.


"Nanti aku makan sendiri saja." Ucap Belva berniat menolak karena merasa tidak enak dengan Bella.


"Sekarang, Mami sibuk suapin Kay. Biar sama-sama makan dan cepat selesai, ayo buka mulut."


"Dad, buru-buru ?" Tanya Belva.


"Daddy ada janji dengan Papa. Kamu lupa tadi malam ?" Ucap Satya.


"Oh iya... Lupa." Ucap Belva. Akhirnya ia menerima suapan dari Satya.


Bella hanya memperhatikan sepasang kekasih yang terlihat sangat harmonis bersama dengan Duo Kay.


Bella tak berniat mengambil alih tugas Belva menyiapi Duo Kay. Ia memberikan kesempatan pada Satya agar bisa ber-romantis ria dengan Belva.


Dalam hati Bella berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan seorang pria yang sama baik dan perhatian nya seperti Satya. Ia juga merasa senang Belva mendapatkan calon suami yang begitu menyayangi perempuan yang sudah dianggap nya sebagai kakaknya itu.


Makan siang selesai, Satya harus segera menemui Tuan Hector. Dia berpamitan dengan Belva dan anak-anak nya serta Bella. Duo Kay lebih memilih untuk tetap berada di butik.


Cukup jauh perjalanan dari butik ke rumah besar Tuan Hector. Pria paruh baya itu rupanya sedang menikmati hari liburnya di Indonesia. Duduk di teras belakang yang bisa memandang banyaknya pohon buah dan beraneka tanaman hasil karya tangan sang istri.


"Pa... Selamat siang." Sapa Satya yang sudah masuk ke rumah besar itu dengan diantar oleh Bi Marni menemui Tuan Hector di teras belakang.


"Siang... Satya kamu sudah datang. Bagaimana pekerjaan mu di kantin ?" Tanya Tuan Hector menoleh ke arah Satya.


"Pekerjaan kantor lancar, ada apa Papa mengajak saya bertemu dan meminta saya untuk menemani Papa ?" Tanya Satya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri. Ayo kuta berangkat." Ajak Tuan Hector.


"Kemana ? Mama juga tidak terlihat, dimana Mama ?" Tanya Satya.


"Mama mu sudah pergi lebih dulu, maka dari itu kita harus pergi sekarang." Ucap Tuan Hector.


Selain bersama bekva Satya tak terlalu banyak berbicara atau bertanya ini dan itu. Dia mengikuti langkah kaki Tuan Hector menuju mobil milik pria paruh baya sang calon mertua.


"Kita pergi pakai mobil Papa saja lebih aman." Ucap Tuan Hector.


Satya mengerutkan keningnya. Dalam hati bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan dan kemana mereka akan pergi. Tapi Satya tetap bungkam dan hanya mengangguk saja.


Mereka memasuki mobil mewah milik Tuan Hector. Bukan Satya atau Tuan Hector yang mengemudikan mobil. Mereka hanya perlu duduk diam dan tenang di kursi penumpang belakang.


Sebuah villa yang juga tampak mewah menjadi tujuan Satya dan Tuan Hector. Satya semakin tak mengerti kenapa mendatangi bangunan mewah itu.


"Untuk apa kita kesini, Pa ?" Tanya Satya.


"Kita masuk saja dulu." Ajak Tuan Hector.


Pria paruh baya itu masih saja bungkam tak mau menjawab atau menjelaskan pada Satya.


Di dalam villa terdapat banyak orang, mereka sibuk menata villa tersebut agar terlihat indah saat di pandang mata.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh calon mertuaku ini ?" Batin Satya.


"Naiklah ke lantai dua." Titah Tuan Hector.


Satya justru menatap Tuan Hector dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Naik saja, nanti kamu akan tahu." Ucap Tuan Hector dengan bibir tersenyum.


Meski ragu dan bingung Satya tetap mengikuti perintah Tuan Hector. Dia percaya bahwa calon mertuanya itu tidak akan berbuat macam-macam yang akan merugikan dirinya.


"Selamat datang Tuan, Nyonya sudah menunggu di dalam. Silahkan masuk ke kamar sebelah sana." Ucap salah satu pelayan villa tersebut menunjukkan sebuah kamar bercat cream.


Satya semakin mengerutkan keningnya, dirinya diarahkan untuk memasuki sebuah kamar dan disana sudah ada seorang perempuan yang menunggu dirinya.


"Apa maksudnya ini ? Papa mau menjebak ku dengan seorang perempuan ?" Batin Satya sudah mulai berpikir byabg tidak-tidak.


"Silahkan Tuan." Ucap pelayan itu kembali.


Satya menatap pelayanan tersebut dengan serius dan tajam. "Saya akan menunggu disini saja. Panggil saja wanita yabg ada di dalam kamar itu." Ucap Satya.


Berjaga-jaga saja itu adalah cara Satya untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak kembali terjebak dalam perbuatan konyol seseorang. Cukup perbuatan konyol yang dilakukan boleh Alya saja yang kini membawa kebahagiaan untuk dirinya. Cukup berhenti pada Belva seorang saja. Dia tidak ingin rencananya menikahi Belva gagal karena kesalaha pahaman.


"Baiklah... Saya akan sampaikan kepada Nyonya." Ucap pelayan itu lalu berlalu menuju kamar yang dimaksud oleh dirinya tadi.


Pikirannya kini semakin mencurigai rencana Tuan Hector. Dirinya takut jika hal ini akan membuat rencananya untuk menikah dengan Belva gagal. Teringat akan ucapan Nyonya Hector yang akan menjodohkan Belva dengan Roichi. Wajah Nyonya Hector saat itu terlihat sangat serius. Pikiran buruk Satya kini mulai bermain-main di dalam kepalanya.


****


To Be Continue...


Ada udang dibalik bakwan itu klien mu Satya


Duh... siapa itu yang di dalam kamar, hati-hati awas tuh rencana nikah gagal bisa gawat 🤦


Hai my dear para readers ku tersayang


Lagiii author ucapkan banyak terimakasih atas support kalian setiap hari. Author sayang kalian, doa baik selalu author berikan buat kalian yang sudah setia support author. 🙏🙏🙏


Jangan lupa terus Like, Komen, kembang setaman nya buat sajen author dan juga Vote nya. Thanks banget my dear ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2