Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 121. Menemukan Bantalan


__ADS_3

Sembari menunggu istrinya tertidur, Satya duduk di sofa kamarnya. Dia memeriksa pekerjaan nya untuk mengisi kekosongan waktunya. Tapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar sebuah panggilan masuk. Wajah Satya mengerut saat nomor Mama mertuanya tertera di dalam layar ponselnya. Saat mengangkat panggilan video tersebut wajah itu berubah drastis, tampak tersenyum senang. Kedua anaknya terpampang di dalam layar ponselnya dengan senyum lebar mereka.


"Hallo Daddy!!!" Panggil Duo Kay tapi suara cempreng Kaila lebih mendominasi.


"Hallo sayang. Bagaimana kabar kalian?" Tanya Satya dengan bibir tersenyum.


"Baik Daddy. Daddy, Mami mana?" Tanya Kaili.


"Iya Mami mana ?" Imbuh Kaila.


"Mami kalian sedang tidur, itu Mami kalian." Satya mengaktifkan kamera belakangnya agar kedua anaknya dapat melihat Mami mereka.


"Oh... Tumben Mami tidur biasanya Mami tidak pernah tidur." Ucap Kaila.


"Apa iya, sayang? Lalu biasanya Mami kalian melakukan apa?" Tanya Satya menanggapi kedua anaknya.


"Mami biasanya kerja, Daddy. Tidak pernah tidur siang. Tidurnya kalau malam saja." Ujar Kaili.


"Tapi Mami selalu menyuruh kami untum tidur siang tapi Mami sendiri tidak mau tidur siang. Kata Mami dulu jika Mami tidur maka pekerjaan Mami tidak akan selesai, nanti baju Mami tidak ada yang beli, kalau tidak ada yang beli nanti kami tidak bisa makan, tidak jajan." Beber Kaila pada Daddy nya menceritakan apa yang mereka alami sejak dulu.


"Iya nanti tidak bisa bayar sekolah, tidak bisa beli mainan juga." Imbuh Kaili.


Satya tertegun mendengar cerita kedua anaknya yang polos menceritakan bagaimana kisah hidup dan perjuangan Mami mereka. Satya beralih menatap wajah Belva yang tak terlalu tampak dari sofa. Wanita itu sangat berjuang keras untuk menghidupi diri sendiri dan kedua anaknya. Ada rasa sakit dalam hati Satya membayangkan bagaimana perjuangan Belva untuk anak-anaknya.


"Oh ya? Lalu jika kalian tidak mau tidur siang apa Mami kalian akan marah?" Goda Satya pada dua anaknya.


"Mami jarang marah tapi Mami pasti sedih jika kami tidak mau menurut karena dulu kami hanya punya Mami jadi kami harus menurut pada Mami. Jawab Kaili.


"Iya Daddy, tapi sekarang kan Kaila sudah juga sudah punya Daddy." Ujar Kaila cengengesan.


Kedua anaknya yang tersenyum itu mampu mengobati segala kesusahan hati Satya.


"Daddy, boleh kita ke rumah Daddy?" Tanya Kaila.


"Boleh sayang, kapan kalian mau ke rumah Daddy?" Tanya Satya.


"Maunya sekarang tapi Oma bilang kita tidak boleh ganggu Daddy dan Mami dulu." Ucap Kaila murung.


"Sayang, maaf ya. Bukan tidak boleh Nak, tapi Mami dan Daddy masih ada urusan penting. Nanti jika urusan kami selesai, Mami dan Daddy pasti jemput ila dan kakak Ken, oke?"


"Kalian merindukan Mami?" Tanya Belva yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Satya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Satya yang juga sedikit terkejut.


Belva berjalan mendekati Sofa, ia duduk di samping suaminya. Saat tertidur samar-samar mendengar suara beberapa orang sedang mengobrol dan suara itu sangat dikenalnya. Belva terbangun, ia memilih berjalan mendekati suaminya ternyata benar suaminya sedang berbincang dengan kedua anaknya melalu sambungan video call.


"Mami dengar suara anak-anak Mami jadi masih terbangun. Kalian baik-baik saja, sayang?" Tanya Belva pada Duo Kay.


"Mamiiii!!!" Teriak Duo Kay yang sudah merindukan Mami mereka.


Belva terkekeh melihat dan mendengar aksi anak-anak nya yang sedikit berlebihan saat melihat dirinya.


"Mami, kami merindukan Mami." Rengek Kaila.


"Kaili juga rindu dengan Mami." Ucap Kaili tak mau kalah.


Belva tersenyum, seakan menjadi obat baginya ketika melihat dua anaknya membuat Belva kembali bersemangat.


"Mami juga merindukan kalian sayang." Ujar Belva.


"Dengan Mami, kalian rindu tapi dengan Daddy kalian tadi tidak bilang rindu." Ucap Satya yang pura-pura ngambek pada dua anaknya.


Duo Kay tersenyum dan terkekeh. "Bukan begitu Daddy, kami juga rindu Daddy tapi lebih rindu Mami." Ucap Kaili terkekeh.


"Dasar ya kalian, awas nanti ya. Mami dengan Daddy saja ya biar kalian berdua tinggal bersama Oma saja. Oma, bawa saja dua anak kecil itu bersama mu ke Paris." Goda Satya.


Sontak hal itu membuat riuh Duo Kay di seberang sana yang tidak mau dibawa oleh Oma mereka atas perintah Satya. Mereka merengek bahkan sudah berkaca-kaca.mata mereka. Perbincangan terus berlanjut hingga suara ketukan pintu kamar Satya terdengar. Satya tahu pasti itu Mbok Yati yang mengantarkan makanan.


"Sayang, sudah dulu ya. Mami harus makan dulu, nanti Daddy hubungi lagi, oke?" Ucap Satya berpamitan pada dua anaknya dan diangguki oleh Duo Kay.


Panggilan video itu berakhir.


"Sebentar sayang, mas buka pintu dulu itu pasti Mbok Yati antar makanan."


Satya beranjak dari sofa dan membuka pintu, benar saja Mbok Yati membawa nampak berisi dua piring makanan dan dua gelas air putih.


"Ini Tuan makanan nya."


"Oke terimakasih, Mbok."


"Apa ada lagi yang bisa Mbok bantu, Tuan?"


"Cukup Mbok nanti jika saya membutuhkan bantuan pasti saya panggil lagi."


"Baik saya permisi, Tuan." Pamit Mbok Yati.


Satya mengangguk dan kembali menutup pintu. Pria itu berjalan menuju sofa dengan membawa nampan.


"Mas, kenapa harus bawa makanan ke sini?"


"Biar tidak perlu naik turun, sayang. Ini kita makan dulu ya."


Nampan sudah diletakkan di atas meja. Satya mengambil piring berisi nasi dan lauk pauk nya. Menyerahkan pada sang istri agar istrinya itu segera makan.


"Makanlah, sayang. Perutmu masih kosong sejak tadi pagi. Nanti kamu sakit."


"Itu juga gara-gara kamu, mas." Ucap Belva dengan sedikit kesal.


"Iya, mas minta maaf habis bagaimana lagi ditahan juga tidak enak sayang. Sudah ayo makan, atau mau mas suapin?"


"Tidak usah, aku makan sendiri saja. Mas juga makan, dari tadi pagi juga belum makan."


Mereka akhirnya makan bersama di dalam kamar, terasa nikmat karena hampir satu hari mereka tidak makan. Satya tak butuh waktu lama dalam menghabiskan makanan miliknya.


"Cepat sekali mas?"


"Lapar, sayang. Sini mas suapin kamu."

__ADS_1


"Tidak usah bisa sendiri kok."


"Tapi kamu makan nya lama, ini sudah sore kamu juga harus mandi untuk kali ini jangan mandi malam-malam, sayang."


Satya meraih piring dan sendok Belva, tak ingin seperti anak kecil yang berebut puring hingga tumpah maka Belva pun membiarkan Satya mengambilnya dan menyuapi dirinya.


"Pelan-pelan mas, jangan banyak-banyak." Protes Belva.


Satya terkekeh. "Iya sayang, maaf..."


Makanan pada akhirnya pun habis, Satya menumpuk piring yang telah kosong. Mereka duduk di sofa menunggu beberapa saat sehabis menyantap makanan mereka.


"Mas, kita ke rumah Mama ya? Aku merindukan mereka."


"Jangan sekarang, yank. Kamu harus istirahat, lihat itu wajah kamu masih terlihat pucat begitu. Ini lagi pipinya juga merah, kamu mau Mama mengetahuinya?"


"Ck... Mantan istrimu itu urakan sekali." Gerutu Belva.


"Iya mas tahu dia mantan istri mas tapi jangan terlalu sering menyebutnya dong, yank. Mas malah sudah tidak menganggapnya sebagai mantan istri."


"Tapi kenyataannya seperti itu, dia mantan istri mu. Kalau bukan di kantor tadi sudah ku balas, enak saja main tampar seenaknya." Belva mengomel, meluapkan isi hatinya yabg merasa kesal pada Sonia.


Kini Belva sudah tidak takut lagi dalam menghadapi siapapun. Ia berkaca pada pengalamannya dulu jika dirinya lemah maka orang-orang akan menginjak-injak dirinya. Terlebih saat ini dirinya sudah menjadi Nyonya Balakosa yang tentu memiliki power untuk mendukung keberaniannya.


Satya meraih bahu Belva, memeluknya erat. Dia paham dengan kekesalan istrinya, dirinya pun merasa emosi saat Sonia dengan mudah sering melukai istrinya. Bahkan Satya juga mendukung jika pun Belva membalas Sonia. Bagi Satya keluarga Balakosa tidak ada yang boleh mengusik atau merendahkan.


"Kamu tenang saja dia tidak akan melukaimu lagi. Mas tidak akan tinggal diam saat ada orang yang melukai mu atau anak-anak kita."


"Padahal aku tidak tahu kesalahan ku apa, mengandung anakmu pun buka keinginan ku." Ucap Belva salam keadaan kesal.


"Apa kamu menyesal telah mengandung anak-anak ku ?" Tanya Satya.


"Menyesal aku tidak pernah, hanya sedih dan terpukul saat tahu aku mengandung waktu itu. Aku merasa tidak akan bisa menggapai masa depan ku lagi, semua keinginan yang sudah tersusun dalam pikiranku untuk membanggakan kedua orang tuaku telah sirna." Ucap Belva lirih dengan air mata yang sudah menetes dari air matanya.


Semakin erat Satya memeluk Belva, dia semakin ingin melindungi dan membuat istrinya bahagia bagaimana pun caranya nanti akan selalu dia usahakan.


"Apa kamu ingin melanjutkan pendidikan mu? Lanjutkan lah pendidikan mu mas akan mendukung mu asal jangan melupakan tugas dan tanggung jawabmu sebagai istri."


Satya melepaskan pelukannya dan menatap sang istri karena mereka sudah saling berhadapan.


"Aku belum memikirkan itu, bahkan sejak saat kejadian itu tidak ada sama sekali aku memikirkan untuk melanjutkan pendidikan. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya aku bisa bekerja meski tak memiliki ijasah SMA agar aku bisa membiayai Kaili dan Kaila."


Kembali perasaan Satya teriris mendengar jawaban Belva. Istrinya memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan menurut Satya dan itu juga terjadi karena kesalahannya.


"Besok mas akan mengurus keperluan mu untuk melanjutkan pendidikan mu."


"Tapi mas, aku masih mengurus butikku, aku belum bisa membagi waktu." Tolak Belva.


"Butik serahkan saja pada Bella untuk mengurusnya. Sesekali saja kamu mengontrol. Kamu hanya tinggal membagi waktu untuk pendidikan mu dan keluarga, yank." Saran Satya pada istrinya.


"Beri aku waktu untuk memikirkan nya, mas."


"Baiklah, tapi mas berharap kamu mengambil keputusan yang terbaik. Ini juga demi masa depan kamu yang sempat tertunda, mas ingin mengganti semuanya."


"Iya mas aku tahu. Terima kasih sudah mau memikirkan masa depan ku."


"Kamu istri mas, Nyonya Balakosa. Tanpa kamu minta mas pasti akan memikirkan dan memberikan yang terbaik untuk mu. Asal kamu memahami tugas dan tanggung jawab kamu sebagai seorang istri, sayang."


Waktu makan malam telah tiba, semua menu makan malam telah disiapkan oleh para asisten rumah tangga yang memiliki tanggung jawab untuk pekerjaan tersebut.


Satya dan Belva turun dari lantai tiga melakukan lift. Sepertinya Belva harus membiasakan diri ketika berjalan bersama Satya, pria itu pasti selalu menggandeng tangannya seakan takut jika istrinya hilang atau salah jalan.


Memasuki ruang makan, beberapa asisten rumah tangga menunduk hormat pada Satya dan Belva tanpa terkecuali Tuti dan Inah. Jika dihadapan Satya mereka tidak berani berbuat macam-macam, melirik pun tidak berani.


"Selamat malam, Tuan. Silahkan biarkan Mbok bantu." Ucap Mbok Yati.


"Tidak usah Mbok, biara Belva saja. Mbok bisa melanjutkan pekerjaan yang lain " Ucap Belva dengan senyum ramahnya.


"Benar yang dikatakan istri saya, Mbok Yati dan yang lain bisa melanjutkan pekerjaan yang lain." Ucap Satya menyetujui ucapan istrinya.


Satya memang ingin hanya dilayani oleh istrinya saja. Dia ingin merasakan diperhatikan dan dilayani sang istri yang selalu diharapkan nya sejak dulu.


Mbok Yati mematuhi ucapan sang majikan, ia dan asisten rumah tangga yang lain pergi meninggalkan ruang makan. Saat pergi meninggalkan ruangan tersebut Tuti dan Inah sempat-sempatnya melirik Belva dengan tatapan sinis mereka. Tak takut sama sekali pada wanita yang kini sudah menjadi majikannya itu. Belva pun melihat tatapan sekilas dari Tuti dan Inah tapi ia hanya diam saja tak merespon sama sekali.


Belva melayani makan sang suani dengan penuh perhatian dan kelembutan yang dimilikinya. Satya merasa sangat senang sekali, pria itu terus memperhatikan wajah istrinya yang cantik dan tak canggung sama sekali melayani dirinya karena memang sudah terbiasa sejak sebelum menikah.


"Lihat Nah, gayanya sudah sok sekali. Cari muka dengan Tuan." Ucap Tuti sini mengintip Belva dan Satya.


"Biasa lah Tut namanya juga biar disayang biar uang lancar terus." Respon Inah tak kalah nyinyir.


"Paling sebentar lagi juga pasti diceraikan sama Tuan Satya. Biasanya wanita-wanita mudah seperti itu tidak akan puas dengan satu laki-laki apalagi suaminya sudah tua. Pasti dia akan mencari yang lebih muda, yaa paling tidak sesuai lah dengannya." Tuti kembali berkomentar.


"Heh!!! Kalian kalau punya mulut dijaga ya. Kalian tuli atau bagaimana? Tuan Jordi sudah memperingatkan kalian berdua tapi kalian masih tidak bisa berpikir." Ucap Janis dengan nada sedikit membentak. Ia tidak suka jika kedua rekan kerjanya itu bersikap tidak baik terhadap Belva.


Tuti dan Inah terkejut saat tiba-tiba Janis membentak mereka. Kedua manusia itu langsung berbalik menghadap Janis. Tatapan yang mereka berikan pada Janis adalah tatapan permusuhan. Janis tidak perduli dengan tatapan seperti itu, dirinya merasa benar maka dirinya tidak akan takut pada Tuti maupun Inah.


Tuti mendorong bahu Janis hingga tubuh Janis mundur ke belakang. Janis membulatkan matanya saat dirinya di dorong oleh Tuti.


"Apa-apaan kamu, Tut." Ucap Janis tak terima.


"Kamu yang apa-apaan, selalu ikut campur dengan urusan orang lain. Biasakan mulut mu itu untuk diam!!" Bentak Tuti.


Satya dan Belva yang baru saja memulai makan mereka merasa terganggu dengan suara keributan itu. Keduanya mengurungkan untuk melanjutkan makan malam mereka.


"Ada apa itu?" Tanya Satya saat hendak menyuapkan sendok berisi makanan nya.


"Biar aku cek, mas lanjutkan saja makannya." Belva sudah berdiri untuk bersiap mengecek apa yang sedang terjadi di balik tembok ruang makan.


Dibalik tembok ruang makan adalah dapur. Di tempat itu Belva melihat ketiga asisten rumah tangga Satya sedang bertengkar. Belva melihat Tuti yang masih terus mendorong bahu Janis dan Inah yang menunjuk-nunjuk wajah Janis.


"Kamu pembantu sok baik, mau cari muka kamu huh!!" Ucap Inah dengan menunjuk wajah Janis.


"Ada apa ini, Mbak ?" Tanya Belva memecah keributan yang tengah terjadi.


Tiga pasang mata menatap Belva, tidak ada rasa hormat yabg ditunjukkan Tuti dan Inah. Mereka bersikap biasa saja karena merasa mereka dengan Belva adalah sama, masih sama-sama muda dan menurut dua asisten rumah tangga itu Belva juga sama kedudukan sebagai seorang pembantu. Hal itu karena mereka pernah mendengar Belva, Mbok Yati dan Janis tengah berbincang.


"Tidak ada apa-apa, Nyonya." Jawab Janis mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bagaimana? Mereka seperti memaki dirimu, Mbak. Ada apa sebenarnya?"


"Sudah dibilang tidak apa-apa, memang tidak punya telinga apa." Sindir Tuti dengan nada sinis.


Belva mengerutkan keningnya, ia merasa sedikit tidak suka dengan sikap Tuti yang kurang sopan tapi Belva berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Apa kalian sedang bertengkar?" Belva tetap bertanya untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Ini urusan kami, bertengkar atau tidak, tidak perlu tahu. Datang-datang mau ikut campur urusan orang." Ucap Inah.


"Tuti!! Inah!! Jaga bicara kalian." Janis kembali memperingatkan.


"Heleh... Sama-sama babu juga. Kamu diam tidak perlu mengajari kami. Kami tahu mana yang harus dijaga dan tidak." Ucap Tuti.


Geram dengan sikap Tuti yang tidak mengindahkan peringatan Jordi dan dirinya, Janis pun tak tahan ia mendorong bahu Tuti membalas perbuatan perempuan itu. Tuti yang notabene memiliki sifat egois tentu tidak terima di dorong oleh Janis. Terjadilah aksi saling dorong mendorong. Belva hendak memisahkan mereka tapi Inah menghalangi hingga entah sengaja atau tidak ia menarik Belva hingga terhuyung mundur bersama dengan Janis dan hampir terjatuh.


"Sayang!!" Satya langsung menopang tubuh istrinya yang hampir terjatuh.


Para perempuan itu terkejut mendengar suara bariton Satya. Terlebih Inah dan Tuti mereka berdua sudah senam jantung saat ini. Ketakutan hingga wajah mereka memucat.


"Ada apa ini? Kenapa istri saya sampai hampir jatuh seperti ini?!" Suara Satya tegas dan dingin.


"Tu-tuan... Ma-maaf... Kami... Kami..." Tuti tak sanggup berbicara, berkali-kali wajahnya menoleh ke arah Inah.


"Mas, tidak apa-apa. Tadi aku hanya ingin menolong Mbak Janis." Belva mencoba meredam keributan. Ia tahu jika suaminya mengetahui keributan yang membuat dirinya hampir terjatuh maka masalahnya bisa bertambah runyam. Makan malam mereka pasti tidak akan terjadi nanti.


"Tapi saya mendengar suara keributan di sini." Ucap Satya dengan tatapan tajam pada para asisten rumah tangga nya.


"Mas, ternyata mereka hanya berdebat kecil mengenai sinetron yang mereka tonton saja. Mereka terlalu bersemangat bercerita. Tidak ada keributan yang serius. Ayo mas."


Satya masih berdiri menatap tajam ke arah tiga pembantu mudanya. Satya masih tak percaya dengan penuturan istrinya.


"Jangan ada yang berbohong!! Apa yang sebenarnya terjadi."


Belva pun sebenarnya merasa sediki khawatir saat melihat raut wajah suaminya yang serius seperti itu. Demi meredakan dan membuat suasana menjadi kondisif, Belva meraih tangan Satya.


"Mas... Sayang... Ini hanya kehebohan kecil saja tidak ada yang serius. Semua baik-baik saja." Ucap Belva dengan lembut.


"Mbak Janis tidak apa-apa kan? Lain kali Mbak Janis hati-hati jangan sampai tersandung lagi." Ucap Belva beralasan.


"Ah i-iiya Nyonya... Iya... Saya akan berhati-hati lain kali." Ucap Janis dengan terbata-bata karena gugup.


Tuti dan Inah hanya bisa terdiam, mereka berdua sudah ketakutan jika berhadapan dengan Satya. Majikan pria nya yang selalu mereka kagumi ketampanannya itu sangat menyeramkan jika dalam keadaan serius dan menegangkan seperti ini.


"Ayo mas kita lanjut makan lagi, aku lapar." Ucap Belva dengan nada manja.


Melihat raut wajah istrinya dan suara manja sang istri Satya langsung luluh begitu saja.


"Jangan ulangi hal seperti ini, kalian mengganggu kegiatan kami." Satya memberikan peringatan sebelum kembali lagi menuju meja makan.


Dengan menggandeng lengan Satya, Belva kembali menoleh menatap Janis, Tuti dan Inah. Meski merasa ketakutan tapi Tuti dan Inah masih bisa menampakkan tatapan ketidak suka-annya pada Belva.


"Kalian dengar? Bahkan Nyonya Belva masih membela kalian. Pikirkan dengan otak bebal kalian jika saja Nyonya menceritakan semuanya pada Tuan maka tamat riwayat kalian di sini." Ucap Janis berlalu meninggalkan Tuti dan Inah.


"Halah... Sok cari muka saja itu mantan babu." Ucap Tuti yang tetap tak merasa bersalah dan tidak merasa tertolong dengan alasan yang Belva berikan pada Satya.


Inah hanya diam saja tak merespon ucapan Tuti, perempuan itu masih merasa ketakutan degup jantung nya masih belum berdetak secara normal.


"Sudah ayo ke belakang. Cari aman dulu." Ajak Inah yang tak ingin terancan keberadaan nya bekerja di rumah besar Satya.


Di meja makan Satya sudah kembali duduk dengan Belva yang masih berdiri di samping Satya, wanita itu menarik kursi dan hendak duduk tapi Satya menahan tangan istrinya dan menariknya.


"Sini duduk disini." Satya menepuk pahanya lalu menarik tubuh istrinya.


"Mas, nanti kalau ada yang lihat malu lah." Protes Belva.


"Kenapa malu? Kita tidak melakukan apapun. Kita masih memakai baju lengkap." Ucap Satya cuek dan santai.


"Bukan begitu mas, tapi kalau ada yang lihat aku duduk seperti ini apa kata mereka nanti."


"Mereka tidak akan berani berkata apapun, istriku yang cantik." Ucap Belva sedikit menggoda Belva. Wanita itu menahan senyum dan hanya menggeleng kepala saja tak menyangka jika Satya mampu berkata-kata seperti itu.


"Kenapa sih yank suka pukul-pukul sama suami."


"Tidak, sejak kapan kamu pintar gombal mas? Setahuku kamu itu dingin dan sedikit kaku."


"Sejak jarum pentul menemukan bantalan nya." Celetuk Satya.


Belva tak paham dengan celetukan Satya yang spontan itu.


"Hah?? Jarum pentul dan bantalannya? Maksud nya bagaimana?" Tanya Belva.


"Ck... Sudah tidak usah dibahas nanti kamu kelelahan." Ujar Satya.


Belva semakin tak mengerti dengan pembicaraan suaminya yang ngelantur kemana-mana di luar pembahasan mereka.


"Tidak paham aku. Sudah kita lanjutkan makan saja."


Belva hendak beranjak dari pangkuan suaminya tapi Satya masih terus menahan Belva agar tetap duduk di tempatnya.


"Mas, mau yang manis dulu makan nya."


"Mas mau kue? Disini tidak ada, sebentar aku ambilkan dulmmm..."


Satya langsung menyambar bi*bir istrinya setelah beberapa detik yang lalu memperhatikan benda kenyal itu terus bergerak. Tak tahan Satya langsung menyambar, satu tangannya melingkar pada pinggang hingga perut istrinya sedangkan tangan yang satunya digunakannya untuk menahan tengkuk istrinya.


Sesapan yang menimbulkan suara dec*apan seakan baru saja menyicipi sebuah masakan untuk memastikan bagaimana rasa masakan tersebut.


Sepasang pengantin baru itu saling memejamkan mata menikmati momen yang mendadak terjadi diantara mereka. Selalu ada dorongan dari seorang Satya untuk bisa terus menyentuh dan merasai istrinya. Seperti seorang yang telah lama berjalan di Padang gurun tanpa adanya air hingga satu kali menemukan sumber resapan air maka dia akan terus merasakannya hingga berulang-ulang. Memuaskan diri dari rasa dahaga.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Gimana nih si Om Satya sama Belva menurut kalian setelah menikah 🤭🤭

__ADS_1


Masih terus dan selalu author ucapkan terima kasih banyak kalian masih setia support author ❤️❤️


Terimakasih untuk Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Semoga kalian semua sehat selalu dan lancar rejeki 🤗🙏


__ADS_2