
Semua beralih menatap Satya yang tiba-tiba datang ke dapur karena menyusul sang istri. Satya belum sempat mandi karena ponselnya terus berdering, Jordi menghubungi nya masalah pekerjaan. Satya hendak berpamitan pada Belva tapi justru terdengar samar-samar keributan di dapur.
Belva hanya menatap sekilas kedatangan suaminya. Emosinya masih belum mereda, meski Janis terus menenangkan dirinya dengan usapan lembut di punggungnya.
"Lanjutkan, Inah. Apa yang kamu ketahui?" Tanya Belva nadanya ketus.
Melihat keberadaan Satya Inah merasa nyalinya menciut saat akan mengatakan yang sebenar. Tapi mendengar suara Belva yang ketus dan terlihat jelas jika Belva tengah marah maka mau tak mau Inah harus melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya..."
"Inah!!" Panggil Tuti mencegah Inah mengatakan yang sebenarnya.
"Diam kamu, Tuti!!" Bentak Belva.
Tuti terdiam dan terkejut, baru kali ini Belva membentaknya. Sisi lembut Belva sudah tak terlihat lagi.
Satya terdiam saat melihat istrinya tengah emosi pada asisten rumahnya. Dirinya sudah tahu bagaimana sikap Belva saat marah, cukup mengerikan bahkan Belva bisa berbuat nekat. Bayangan Belva saat menyerang Sonia waktu lalu membuat Satya hanya memilih bersikap siap siaga tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Sebenarnya Tuti memiliki perasaan pada Tuan dan berniat untuk mendekati Tuan." Ucap Inah melanjutkan kalimatnya.
Semua yang ada di dapur tercengang mendengar pengakuan Inah terhadap Tuti. Belva dan Satya membulatkan mata, tak hanya itu Belva sampai menganga. Kepala Belva tiba-tiba berdenyut pusing merasakan kejadian yang terjadi beberapa waktu terakhir.
"Kehadiran anda membuat rencana Tuti berantakan dan dia harus berusaha lebih keras untuk mendekati Tuan. Tuti berharap bisa mendapatkan Tuan sama seperti sebelumnya yang berhasil mendapatkan para majikannya terdahulu." Tutur Inah kembali.
Belva tertawa tak percaya. "Hahhaa... Jadi, saya menjadi penghalang bagimu?"
Belva menatap Tuti yang sudah tertunduk malu bahkan Inah merasa takut kali ini atas pengakuan yang Inah berikan. Belva lalu beralih menatap suaminya yang masih tercengang.
"Inah apa maksud kamu?" Tanya Satya sedikit ragu karena masih terkejut dengan pengakuan Inah.
"Tu-tuan ma-maaf saya... Tidak bermaksud apa-apa, saya hanya mengatakan yang sebenarnya." Ucap Inah tertunduk.
Mbok Yati pun berdiri di belakang Satya dengan terkejut hingga menutup mulutnya yang menganga. Pengakuan yang baru saja didengarnya membuatnya tak percaya jika anak buahnya memendam rasa tertarik pada sang majikan dan berniat memilikinya pula.
Belva memegang kepalanya, hari ini terasa sangat melelahkan dan berat baginya. Rasanya lebih baik dirinya sibuk tenggelam di dalam tumpukan pekerjaan jauh lebih ringan daripada tercebur dalam kejadian demi kejadian yang menguras otak, tenaga dan hatinya.
Kembali Belva mengambil air minum dan menghabiskan satu gelas air hingga bersih tak bersisa dan kembali meletakkan dengan kasar.
Tak!!
"Oh astaga, kepala ku mau pecah rasanya." Gumam Belva lirih yang bisa terdengar oleh Janis, Siti dan Fitri.
Belva berniat untuk pergi meninggalkan dapur dengan kepalanya yang terasa berdenyut.
"Mam, tunggu." Satya menahan lengan Belva.
"Kepalaku pusing, mau pecah rasanya. Orang-orang di sekitarmu selalu memancing kesabaran ku."
__ADS_1
"Maaf, semua di luar kendali Daddy." Satya menatap istrinya dengan tatapn lembut dan suara yang penuh pengertian akan perasaan sang istri.
"Kalian, kembali ke pekerjaan masing-masing." Ujar Satya membubarkan para asisten rumah tangganya.
"Dan kalian Tuti... Inah ikut saya ke ruang keluarga." Titah Satya datar dan dingin.
Belva dan Satya berbalik menuju kamar mereka di lantai tiga. Niat Satya untuk berpamitan pada istrinya diurungkannya karena permasalahan yang lagi-lagi tak bisa Satya duga.
"Mam, istirahatlah pasti Mami lelah, maaf untuk hari ini yang membuat suasana hatimu memburuk. Daddy, akan menyelesaikan semuanya. Mami tunggu di sini."
Belva diam tak menanggapi suaminya, rasanya tubuhnya terasa lelah. Memiliki suami seperti Satya memang harus ekstra sabar mengendalikan emosinya. Teringat saat awal dirinya hendak menikah dengan Satya, bukankah ia sudah memikirkan sebelumnya jika keadaan seperti ini sudah pasti akan terjadi tapi Belva tak menyangka akan secepat ini menghadapi masalah per-pelakor-an.
"Terserah lah, aku gerah mau mandi." Ucap Belva malas karena terlalu lelah.
"Tunggu." Satya mencekal lengan Belva.
Belva menatap dengan ekspresi penuh tanya.
"Dimana tangan kotornya berani menampar istri cantik Daddy?"
"Ini... Mas, bisa tidak sih orang-orang di sekitar kamu jangan menyebalkan semua. Berapa kali aku ditampar perempuan yang menggilai mu. Kalau bukan menjaga reputasi sebagai istrimu sudah ku habisi wanita gatal itu di toko tadi." Ucap Belva kesal setelah menunjukkan pipi kirinya yang di tampar Sarita.
Satya mengusap lembut pipi Belva, dia tersenyum tipis. "Tidak masalah jika kamu mau membalasnya, mas akan selalu berada di belakang mu."
"Mas percaya kamu bukan perempuan yang akan sembarangan melukai orang lain jika tidak dalam keadaan terancam."
Sebenarnya bukan sebuah ancaman dari Belva tapi Satya merasa itu adalah sebuah ancaman dan peringatan dari sang istri jika dirinya berani bermain-main di belakang sang istri.
Tanpa ancaman seperti itupun Satya tak pernah berpikiran untuk mendua dan menyia-nyiakan istrinya. Ia sudah berjanji akan selalu setia pada pasangannya selama mereka masih sejalan. Jika tak sejalan Satya pun tak akan mendua tapi dia akan langsung mengambil langkah untuk lebih baik mengakhiri seperti hubungannya terdahulu. Dia tak ingin lagi melihat seorang wanita merasa tersakiti karena cinta dan hubungan yang tak utuh.
"Jangan mengancam mas seperti itu, sayang. Mas tidak akan menduakan mu, mas akan berusaha bertahan pada perasaan mas saat ini untuk mu dan akan selalu memupuk perasaan itu hingga terus tumbuh dan berkembang subur."
"Aku tidak mengancam tapi aku mengatakan fakta dan langkah yang pasti akan aku lakukan jika hal itu terjadi."
Satya memeluk istrinya dengan erat, tidak pernah ada dalam bayangannya dan akan selalu menepis bayangan yang mengerikan saat Belva bersama kedua anaknya meninggalkan dirinya.
"Dan mas juga mengatakan fakta bahwa mas tidak akan menduakan mu dan langkah pasti yang mas lakukan adalah tidak akan pernah membiarkan mu dan anak-anak pergi dari kehidupan mas."
Belva membalas pelukan suaminya, meski sempat kesal karena harus ribut dengan perempuan lain gara-gara daya tarik sang suami tapi di dalam hati Belva ia merasa sangat menyayangi dan mencintai suaminya. Tidak akan dibiarkan perempuan lain berhasil merebut suaminya.
"Jika kamu yang mendua maka aku akan pergi tapi jika orang lain yang menggodamu maka aku akan melibas mereka tanpa ampun." Gumam Belva dalam hatinya.
"Mas, kok kamu belum ganti baju? Tadi juga mau apa ke dapur?"
"Tadinya Jordi menghubungi karena ada urusan penting masalah pekerjaan, mau pamit sama istri mas yang cantik ini tapi malah lagi marah-marah di dapur."
"Bagaimana tidak marah-marah, ART mu menambah kekesalanku. Dari mana dapat ART seperti itu bukannya mas terlihat selektif saat memilih pekerja di rumah ini?"
__ADS_1
"Sayang, sejak dulu urusan rumah sebenarnya Sonia yang urus. Mas jarang sekali berada di rumah, malas di rumah jadi setelah ibu keluar dari rumah ini mas tak perduli lagi dengan segala urusan rumah."
"Ya sudah terserahlah itu ART mau mas apakan asal tidak membuatku darah tinggi. Aku mau mandi dulu." Ucap Belva.
Pelukan mereka berdua terlepas, Satya kembali mengecup kepala istrinya dengan sayang.
"Mandilah lalu istirahat, biar mas yang urus mereka." Ujar Satya. Belva mengangguk lalu langsung pergi ke kamar mandi.
Di ruang keluarga Inah dan Tuti duduk dengan perasaan tak menentu, takut dan khawatir akan nasib pekerjaan mereka saat ini. Mereka berdua saling tatap dengan Tuti yang menatap tajam pad Inah sedangkan Inah menatap sinis pada Tuti. Dua sejoli yang selalu bersama bekerjasama di rumah besar Satya itu rupanya pertemanan mereka retak setelah Tuti mengkambing hitamkan Inah.
Terdengar suara langkah kaki dari hentakan sepatu dan lantai yang saling bersentuhan. Suara langkah kaki itu mendekat ke ruang keluarga yang pasti Inah dan Tuti sangat mengetahui bahwa yang datang adalah majikan mereka.
Satya muncul dengan wajah datar dan dingin seperti biasa. Jantung Tuti dan Inah berdegup dengan kencang. Kedua asisten rumah tangga itu meremas tangan mereka masing-masing akibat rasa takut dan gugup mereka.
"Langsung saja. Inah jelaskan apa maksud dari perkataan kamu tadi." Ucap Satya yang langsung duduk di sofa single. Tanpa basa-basi pria itu langsung menanyakan maksud dan tujuannya yang menyuruh Inah dan Tuti menunggu di ruang keluarga.
"Jangan takut katakan saja apa maksud dari perkataanmu. Saya menjamin keselamatan mu dari orang jahat yang mengincar mu." Ucap Satya melirik ke arah Tuti dengan tajam karena Inah tak kunjung menjawab melainkan menatap Tuti dan Inah pun mendapatkan tatapan tajam dari Tuti.
"Saya tidak segan-segan melenyapkan siapapun yang mengganggu kenyamanan hidup saya dan keluarga saya. Jadi, katakan secara jelas dan jujur." Imbuh Satya.
Mendapatkan jaminan keselamatan dari Satya, Inah mampu bercerita dengan jujur dan sejelas-jelasnya. Bahwa Tuti memang menginginkan Satya dengan tujuan agar bisa hidup mudah sama seperti saat menaklukkan para majikannya terdahulu. Tuti merasa kali ini adalah keuntungan dan keberuntungan besar baginya karena memiliki majikan yang sangat kaya raya melebihi majikannya saat di kampung. Dan yang kedua Inah juga mengatakan bahwa bukan dirinya yang membuat kekacauan saat pagi hari itu dengan bukti saksi para pekerja rumah tangga Satya tentu akan mempertimbangkan penjelasan Inah.
Tuti tak dapat menyanggah ataupun bersuara kala berada dihadapan Satya. Wajahnya pucat dan berkeringat, ia sudah pasrah akan apa yang terjadi pada nasib nya kini.
"Baiklah. Sudah cukup jelas bagi saya. Tuti mulai detik ini kamu tidak perlu lagi bekerja di rumah saya. Silahkan kemasi barang-barang mu sekarang juga dan keluarlah dari rumah saya." Putus Satya dengan tegas.
Tuti langsung mendongak menatap Satya dengan tatapan memohon. Sudah jelas tahu jika nasibnya bekerja di rumah Satya akan terputus saat ini juga.
"Tuan, saya mohon jangan pecat saya. Saya mohon maaf atas kekhilafan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Tuti memohon. Raut wajahnya dibuat sesedih mungkin agar Satya merasa iba padanya.
"Inah, pergilah kamu boleh lanjutkan pekerjaan mu." Tutur Satya.
Inah merasa lega karena dirinya masih beruntung, masih bisa bekerja di rumah Satya. Tanpa menunggu Inah langsung mematuhi perintah Satya pergi ke dapur.
Sedangkan Tuti masih memohon dihadapan Satya, perempuan itu akan terus mengeluarkan segala cara yang ia punya agar bisa meluluhkan sang majikan. Selama ini caranya selalu saja ampuh meluluhkan majikannya yang awalnya keras padanya menjadi sangat melunak padanya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Kira-kira apa yang mau Tuti lakukan ya? Apa Satya akan kalah dengan cara si Tuti nanti? Simak terus guys 😅
Terimakasih banyak atas support kalian sampai detik ini. Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa. 🙏🙏🙏
Semoga terhibur, bahagia selalu dan sehat selalu guys ❤️🤗🙏
__ADS_1