Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 157. Dua Bulan


__ADS_3

Beberapa kali beraktivitas hanya dengan ditemani oleh asisten rumah tangga membuat Duo Kay merasa sedikit bosan. Mereka sudah menunggu janji dari kedua orang tuanya untuk berjalan-jalan ke beberapa tempat hiburan tapi janji itu tak kunjung ditepati.


Keduanya mengisi waktu seperti biasa dengan mendesain baju dan bangunan serta jika bosan sesekali bermain game atau salah satu diantara mereka mulai bersikap jahil. Banyak mainan yang ada di kamar mereka pun sesekali mereka gunakan untuk bermain.


Jasmine datang dengan membawakan kue kering sebagai cemilan untuk mereka. Asisten rumah tangga yang masih muda seusia di bawah Mami mereka itu cukup baik dan sangat ramah dalam menjaga Duo Kay.


"Tuan Kaili dan Nona Kaila, ini aunty bawakan kue kacang untuk kalian."


Duo Kay hanya mengangguk dan menoleh sebentar pada Jasmine.


"Aunty, Mami belum pulang?" Tanya Kaili.


"Belum, Tuan kecil." Jawab Jasmine dengan senyumnya.


"Daddy, sakit apa? Kenapa lama sekali?" Ucap Kaila.


"Aunty juga blm tahu, kita berdoa saja supaya Daddy nya Nona kecil cepat sembuh. Ok."


Belva memang sudah membiasakan anak-anaknya memanggil dengan sebutan yang terdengar keluargaan pada setiap asisten rumah tangga mereka.


Sebagai seorang anak yang masih berusia kecil tentu saja Kaila dan Kaili begitu merindukan kedua orang tuanya yang beberapa hari ini jarang sekali berada di rumah.


Selama tiga hari ini Duo Kay menghabiskan waktu lebih banyak di kamar mereka dengan menggambar desain baju dan bangunan. Ide-ide yang muncul dalam imajinasi mereka tuangkan dalam gambaran mereka masing-masing.


Jasmine hanya bisa menunggu dan menemani mereka. Sesekali dalam hati ia mengagumi bakat yang dimiliki oleh cucu dari majikannya itu. Kaila masih saja berpikir jika dirinya selama berada di Paris harus mengumpulkan beberapa desain untuk stock baju di butik Maminya nanti karena takut stock baju di butik tersebut akan kehabisan. Kaili memulai satu persatu beberapa pesanan desain dari beberapa orang customer nya secara pribadi melalui aplikasi media sosial miliknya yang hanya berisi gambaran-gambaran desain bangunan. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak mengetahui jika pesanan mereka dibuat oleh seorang anak yang masih sangat kecil.


"Tuan kecil, gambar rumah ini sangat bagus." Puji Jasmine.


"Terima kasih, aunty. Aunty mau aku buatkan gambar rumah?" Tanya Kaili.


"Boleh jika tidak merepotkan dan melelahkan. Gambaran Tuan kecil sangat bagus."


Kaili hanya tersenyum menatap Jasmine.


"Gambaran aku bagaimana?" Tanya Kaila menatap Jasmine.


"Gambar Nona kecil juga bagus, kelain sangat pintar sekali menggambar."


"Ini gambar desain baju untuk butik Mami."


"Oh ya? Ini sangat cocok sekali, Nona kecil. Pasti butik Maminya Nona kecil sangat ramai karena baju yang bagus-bagus."


"Tentu saja, butik Mami memang selalu ramai. Aunty harus ke sana untuk lihat butik Mami."


Jasmine terkekeh kecil. "Iya besok kapan-kapan aunty akan ke sana."


Di rumah sakit, semua barang sudah beres tinggal diangkut untuk dimasukkan ke dalam mobil saja. Sopir rumah keluarga Hector telah dihubungi oleh Belva untuk menjemput mereka. Bahkan sopir itu sudah datang di ruangan Satya untuk membawa barang-barang milik Satya lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Pak, minta tolong bawa barang ini ke mobil ya." Pinta Belva dengan sopan.


"Baik, Nona."


Barang diangkat dan dibawa keluar oleh sopir rumah keluarga Hector. Kini di dalam ruangan tersebut hanya ada Belva dan Satya saja. Urusan administrasi sudah di urus lebih dulu oleh Tuan Hector sebelumnya agar saat Satya sudah diperbolehkan keluar mereka tam oerlu repot lagi untuk mengurus.


"Ayo mas." Ajak Belva.


"Kita ke mall dulu kan?" Tanya Satya.


Pertanyaan Satya langsung mendapatkan tatapan aneh dari istrinya. Sedari kemarin sikap Satya memang aneh sekali. Belva langsung menarik tangan Satya keluar ruangan. Ia benar-benar akan melakukan saran dari dokter mengingat bahwa memang selama beberapa bulan ini dirinya tidak mendapatkan bulanannya.


"Yank, kita mau kemana?"


"Ikut saja, mas."


"Tapi mas mau kita langsung ke mall, sayang." Satya tetap kekeuh dengan keinginannya.


Belva menghela napas sesaat. "Iya nanti setelah ini."


Kini mereka sampai di depan ruangan dokter kandungan, keduanya duduk di ruang tunggu menunggu panggilan sesuai antrian. Setelah selesai mengemas barang milik Satya dan dirinya, Belva keluar untuk mendaftarkan diri memeriksakan kandungannya.

__ADS_1


"Kok duduk di sini, bukankah kita harus pulang?" Tanya Satya.


"Mas, aku rasa saran dokter tadi memang benar. Kita harus cek ke dokter kandungan."


"Yank, mas kan tidak sakit. Atau benar kamu juga sakit?"


"Mas ingatkan pertanyaan dokter tadi padaku? Aku rasa aku harus memeriksakan diri."


"Nyonya Belva Evanthe Balakosa!" Panggil perawatan sesaat setelah Belva menjawab pertanyaan Satya.


"Ayo mas kita masuk." Belva berdiri maka Satya pun juga ikut berdiri.


Masih belum paham seratus persen tapi Satya mengingat benar bagaimana pertanyaan dokter tadi yang membuat dirinya kesal. Beriringan Satya masuk ke dalam ruangan dokter kandungan bersama sang istri.


"Silahkan masuk Nyonya dan Tuan. Silahkan duduk." Ucap dokter dengan ramahnya semakin menunjukkan betapa pelayanan dokter tersebut sangat baik pada pasiennya.


"Perkenalkan, saya dokter Rosaline. Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Ah iya dokter, saya mau konsultasi. Sudah beberapa bulan saya tidak mendapatkan tamu bulanan saya." Ucap Belva tanpa mau berbasa-basi lagi.


"Sudah berapa bulan?" Tanya dokter.


"Saya lupa dokter, tapi saya baru ingat jika saya sudah terlambat saat dokter Martin menyinggung perihal penyakit yang tidak terdeteksi ditubuh suami saya serta bulanan saya yang terlambat."


"Suami anda sakit?"


"Kami mengira seperti itu karena suami saya sudah tiga hari ini mual, muntah dan pusing hingga lemas tapi dokter tak menemukan adanya penyakit serius." Jelas Belva kembali.


Dokter Rosaline tersenyum, ia sangat paham dengan apa yang dijelaskan oleh pasiennya.


"Mari ikut saya, kita harus periksa lebih lanjut."


Belva menatap sebentar pada arah suaminya, Satya meski belum terlalu paham tapi dirinya memberikan anggukan bpada istrinya untuk mengikuti perintah dokter Rosaline.


Sesuai perinta dokter, Belva berangin di atas brangkar. Beberapa alat khusus untuk mengecek kandungan pun lengkap di samping Belva.


"Maaf, saya angkat dulu ya bajunya." Ucap dokter.


Satya yang penasaran pun langsung berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati sang istri. Ia paham jika alat tersebut untuk memeriksa seseorang yang sedang hamil.


"Apa yang terjadi dengan istri saya, dokter?" Tanya Satya menatap sekilas dokter lalu menatap istrinya.


"Lihatlah, di rahim Nyonya sudah ada kehidupan. Bahkan jika dilihat beberapa organ tubuh nya sudah mulai berkembang. Bisa diperkirakan jika Nyonya sudah hamil sekitar dua bulan." Ucap dokter Rosaline.


Satya dan Belva terkejut mendengar penjelasan dokter. Terkejut dan bahagia menjadi satu di dalam hati mereka. Pasangan suami istri itu tampak saling pandang satu sama lain akibat masih tak percaya.


"Dok, katakan sekali lagi. Benarkah jika istri saya hamil?" Tanya Satya dengan nada antusias.


Dokter Rosaline mengangguk dan tersenyum lebar melihat reaksi Satya. Sudah hal yang biasa bagi dokter wanita itu sebagai dokter kandungan pasti ada yang merasa terkejut dengan pemberitaan yang disampaikannya.


"Benar Tuan, istri anda saat ini sedang hamil dan usia kandungan sudah memasuki dua bulan. Apakah selama ini tidak ada keluhan dan tanda-tanda kehamilan?"


Satya menatap istrinya, dia juga penasaran akan jawaban dari istrinya karena selama ini Belva tak pernah mengatakan apapun pada dirinya.


"Tidak dokter, saya tidak merasakan gejala kehamilan seperti sebelumnya." Jawab Belva.


"Sebelumnya? Anda pernah hamil tapi anda tidak mengetahui jika saat ini anda hamil." Ucap dokter.


"Pada kehamilan pertama saya sempat merasakan mual, dok. Tapi untuk kali saya tidak mengalaminya sama sekali. Hanya terlambat datang bulan saja. Itupun saya juga lupa."


Satya tampak berpikir dengan jawaban istrinya, memang benar dirinya akhir-akhir ini merasa tidak terhalangi saat bertempur dengan sang istri.


"Oke berarti jika saya bisa menyimpulkan sesuai dengan keterangan anda bahwa gejala kehamilan yang seharusnya anda alami itu justru dialami oleh suami anda sendiri. Tadi anda mengatakan jika suami anda mengalami mual, muntah dan pusing hingga lemas gejala seperti itu juga bisa dialami oleh ibu hamil. Tapi beruntungnya anda, Nyonya. Semua digantikan oleh suami anda." Dokter Rosaline tersenyum lebar.


Belva langsung menatap suaminya dengan senyum haru, dirinya hamil tapi sang suami yang mengalami gejala kehamilan. Seperti menandakan bahwa ikatan antara ayah dan anak benar-benar terjadi meski calon bayi mereka masih belum terbentuk secara sempurna.


Pemeriksaan selesai, setelah semua saran yang diberikan dokter Rosaline selesai mereka dengan maka Satya dan Belva pamit undur diri. Sepanjang lorong rumah sakit Satya menggenggam erat tangan istrinya, rasa lemas yang sempat menyerang kini tak lagi dirasakan oleh Satya. Kebahagiaannya mendengarkan bahwa sang istri tengah membuat Satya menjadi bersemangat.


"Sayang, benar kamu hamil? Mas masih tidak percaya, ini kejutan yang paling membahagiakan."

__ADS_1


Belva tersenyum, ia pun masih merasa terkejut dan rasa bahagia juga semakin terasa besar ia rasakan. "Apa kamu bahagia, mas?"


"Sangat. Sangat-sangat bahagia. Akhirnya mas bisa mendengar dan melihat secara langsung jika kamu hamil, sayang. Kay juga pasti akan bahagia jika mereka memiliki adik."


"Aku harap juga seperti itu, mengingat mereka masih kecil-kecil, mas."


"Kamu tenang saja, sayang. Mas akan bantu untuk memberikan mereka pengertian. Setelah ini akan ada beberapa hal yang harus kita diskusikan, sayang."


"Apa itu?" Tanya Belva.


"Nanti setelah sampai di rumah saja ya. Kita ke bagian farmasi dulu ambil vitamin. Mas, tidak menyangka jika beberapa hari ini adalah tanda-tanda kehamilanmu yang mas rasakan. Apakah kamu seperti itu dulu?" Tanya Satya.


"Sempat seperti itu tapi bayi-bayi ku dulu begitu pengertian tidak ingin merepotkan Mami mereka."


"Pasti sangat sulit, mas saja tidak kuat selama tiga hari ini." Keluh Satya.


"Nikmati saja mas, kayanya memang baby nya sayang sekali dengan Daddy nya." Goda Belva.


Mereka sudah sampai di bagian farmasi untuk mengambil vitamin mereka. Selesai dengan vitamin mereka berjalan menuju mobil yang dimana sopir sudah menunggu sejak tadi.


"Jadi ke mall nya?" Tanya Belva.


"Tidak, kita pulang saja. Mas tidak mau kamu kelelahan dari kemarin kamu sudah jaga mas. Baby kita harus istirahat jadi Maminya juga harus istirahat."


Satya mengecup kepala Belva dengan penuh cinta dan sayang. Kebahagiaannya bertambah kali lipat saat ini. Pria itu semakin mencintai sang istri, Belva begitu banyak memberikan perubahan dalam kehidupannya yang penuh kehampaan.


"Pak, jalan kita langsung ke rumah." Ucap Satya.


"Baik, Tuan."


Mobil berjalan meninggalkan rumah sakit, mereka pulang menuju kediaman keluarga Hector. Selama perjalanan di dalam mobil Satya mengarahkan kepala sang istri untuk bersandar pada dadanya. Tubuh Belva diperlukannya dengan erat, sungguh kebahagiaannya tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Jika sebuah kalimat yang terucap maka Satya akan mengatakan berulangkali jika dirinya sangat bahagia sekali.


Sampai di rumah, keduanya langsung masuk ke dalam dan hal pertama yang mereka lakukan adalah menghampiri kedua anak mereka si kembar yang menjadi anak pertama mereka denga kehadiran yang tak terduga tapi justru membawa kebahagiaan bagi pasangan suami-istri itu sekarang.


"Jasmine, anak-anak tidur?" Tanya Belva.


"Nona? Iya Nona sejak tadi mereka selalu menanyakan anda dan juga Tuan." Jawab Jasmine.


"Ah baiklah, maaf sudah merepotkanmu." Ucal Belva.


"Nona, anda bilang apa. Saya tidak merasa repot menjaga mereka. Ini sama saja menjadi tugas saya di rumah ini."


"Tuan apa sudah sembuh?" Tanya jasmino pada Belva.


"Sudah, buktinya sudah pulang orangnya." Ucap Belva melirik sang suami.


"Syukurlah, kalau begitu saya permisi duku Nona, tuan." Pamit Jasmine.


Satya dan Belva mengangguk, mereka mendekati Duo Kay yang rupanya telah menunggu mereka. Pasangan suami istri itu mengecup kening Duo Kay satu persatu lalu memilih untjk kembali ke kamar mereka.


"Kita ke kamar, Mami harus istirahat karena apa yang baby rasakan itu tergantung pada Maminya. Daddy juga mau istirahat." Ucap Satya.


"Iya mas. Ayo kita ke kamar nanti kita ke sini lagi jika mereka sudah bangun."


"Iya, sayang."


Sampai di kamar mereka berganti pakaian yang lebih santai untuk beristirahat. Satau ingin istrinya lebih banyak beristirahat demi kenyamanan bayi mereka. Tak ingin jaub dari sang istri, Satya memeluk istrinya saat mereka telah berbaring di atas ranjang. Lagi-lagi Satya mengecup kepala Belva. Tangan kekarnya juga tak tinggal diam, mengusap perut Belva yang masih belum terlihat membuncit.


"Akhirnya, aku memiliki seorang anak lagi. Aku sangat bahagia, terima kasih Tuhan. Terima kasih sayang, kamu adalah sumber kebahagiaan mas dan anak-anak." Batin Satya.


Belva merasa tak keberatan dengan sikap suaminya bahkan dirinya merasa sangat nyaman di dekat suaminya. Diusap-usap dengan lembut seperti itu membuat Belva semakin merasakan kantuk. Ia tertidur lebih cepat daripada Satya. Tidak bisa dipungkiri jika tubuhnya memang merasa lelah dan butuh istirahat setelah kejadian beberapa hari terakhir ini. Tak hanya Belva Satya pun perlahan juga tertidur dengan tenang. Rasa mual dan pusing nya seketika menghilang untuk saat ini.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Masih setia yaa??

__ADS_1


Thank banget buat kalian yang masih setia support author, buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian terimakasih banyak. 🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa masih author pantau untuk kalian yang nanti bakal masuk rangking 3 besar dan jika dalam bulan ini tembus 1jt view bakal ada kejutan kecil buat kalian di akhir bulan. Semangat terus, sehat selalu dan bahagia selalu 🤗🙏


__ADS_2