Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 45. Gadis Kecil


__ADS_3

"Tidak. Tidak bukan siapa-siapa." Jawab Belva tak ingin jujur.


"Jika bukan siapa-siapa, kenapa wajah Nona terlihat tegang dan ketakutan ?" Tanya Roichi menyelidik.


"Mana ada ? Tadi aku hanya melihat tikus saat menerima panggilan telepon."


Belva mengelak, ia hendak pergi. Semakin lama berada dihadapan Roichi maka akan semakin gawat untuk dirinya. Roichi tipe pria yang tak akan tinggal diam jika sudah melihat ada gelagat yang mencurigakan.


"Jangan berbohong Nona." Roichi menahan tangan Belva yang hendak menghindar darinya.


"Tak masalah jika anda tak ingin mengatakannya. Saya bisa mencari tahu sendiri dan tentu saja Tuan Hector pun harus mengetahuinya jika itu masalah serius."


Belva memejamkan matanya. Akan sangat rumit pikirnya jika sampai Papanya mengetahui masalahnya. Kedua orang tuanya sudah tak muda lagi, ia takut akan menjadi beban dan mempengaruhi kondisi kesehatan mereka. Selama ini ia berusaha menyelesaikan masalah sendiri baik kecil ataupun besar. Agar kedua orang tua angkatnya tetap tenang dan nyaman tinggal di Jerman mengurus kehidupan mereka disana. Sudah terlalu banyak bantuan yang diberikan padanya, ia tak ingin lagi merepotkan keluarga Hector.


"Jangan Om, tolong jangan katakan apapun pada Papa. Aku tak ingin memberikan beban untuk mereka." Ucap Belva yang kini sudah menangis.


Sejujurnya masalah yang ia hadapi saat ini terlalu berat untuknya. Berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan di negara ini. Yang bisa nekat melakukan apapun sesuai keinginan mereka.


"Tenanglah jangan menangis." Ucap Roichi pada Belva, reflek Roichi memeluk wanita itu. Tak tega bila melihat wanita menangis.


"Om berjanjilah jangan mengatakan apapun pada Mama dan Papa Hector. Mereka sudah tak lagi muda, aku tak ingin masalahku mengganggu kesehatan mereka." Ucap Belva lirih dengan sesenggukan.


"Nona, apa selalu seperti ini ? Menghadapi semua sendiri ? Kenapa tak bercerita padaku, saya bisa membantumu Nona."


Pelukan hangat dan lembut itu Roichi berikan pada Belva untuk menenangkan wanita cantik itu.


"Pasti Om akan mengatakannya pada Papa. Aku tak mau itu terjadi."


"Sudah jangan menangis, nanti si kembar melihat Nona menangis."


Mendengar kata-kata itu Belva berusaha menghentikan tangisannya. Meski masih ada isakan lirih dan air matanya masih mengalir.


"Sudah ya... Kita duduk di sofa depan. Ceritakan masalah Nona. Saya akan melihat si kembar dulu."


Roichi melepaskan pelukannya, Belva mengangguk. Wanita itu berjalan ke arah sofa ruang tamu karena sofa ruang keluarga yang tersekat oleh lemari itu terlalu dekat dengan kamar si kembar. Sedangkan Roichi mengecek ke kamar Duo Kay, keduanya masih asik dengan mainan yang dia bawakan tadi.


"Mereka bermain di dalam kamar. Sekarang ceritakan masalahmu Nona."


Mau tak mau ancaman Roichi membuatnya mau menceritakan permasalahannya. Tapi ia tak menyebut nama-nama yang terlibat dalam permasalahannya. Roichi mendengarkan dengan serius, ia iba pada Nona itu, sangat tahu jika tuduhan itu pasti salah karena selama mengenal Belva, Roichi tak pernah melihat Belva dekat dengan pria lain.


"Om, aku harus bagaimana hiks... Aku tak ingin mereka kenapa-kenapa." Belva menangis, ia begitu takut anaknya akan celaka. Tangan lentik itu memegang lengan Roichi dan merengek seperti anak kecil yang meminta permen.


"Ssttt... Sudah jangan menangis Nona. Kaili dan Kaila bisa mendengar suaramu nanti. Saya akan membantu sebisa saya. Apa saya harus menjadi Ayah si kembar untuk menutupi semua itu ?"


Belva mengangguk. " Apa Om keberatan ? Maaf merepotkan Om. Saat itu aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya ingin melindungi anak-anakku. Om tahu sendiri aku tak pernah dekat dengan pria manapun selain Om dan Papa."


"Baiklah Nona. Tidak apa-apa demi keselamatan mereka, akan saya lakukan. Saya sudah menyayangi mereka seperti anak saya sendiri."


"Terimakasih Om. Ini hanya dihadapan orang itu saja. Jadi, Om kalau bisa jangan memanggilku Nona lagi, latihan agar nanti tidak keceplosan dihadapan orang itu."


"Apa saya juga harus bersikap seperti suami anda Nona ?" Tanya Roichi mengernyitkan dahinya.


"Berakting lah dengan totalitas Om, ini demi keselamatan anak-anakku."


"Ah baiklah, istriku hahaha." Roichi tertawa terbahak-bahak ia sendiri geli mengatakan itu.


Belva bergidik, ia juga geli mendengarkan itu dari Roichi. "Stop... Akting belum dimulai om."


Wanita itu menggerutu, ia sendiri merasa konyol dengan solusi yang didapatkannya ini. Roichi berusaha menghentikan tawanya. Ditatapnya wajah Belva yang sehabis menangis, masih ada sisa air mata dan juga bibir yang sedikit manyun karena dia telah tertawa terbahak-bahak.


"Oke Oke... Maaf..."


Roichi menghapus sisa air mata belva yang menempel di pipi mulus wanita cantik yang telah berbuntut dua itu. Wajah Belva terlihat menggemaskan bagi Roichi. Tanpa sadar wajahnya mendekat pada Belva. Dan entah sejak kapan bibirnya menempel pada bibir Belva. Pria itu sedikit ******* kecil bibir itu, Belva terbelalak dengan kelakuan Roichi. Ciuman itu terasa sangat lembut membuat Belva menegang. Tak pernah ia dapatkan ciuman pada bibirnya selama ini. Ralat, pernah saat Satya menggagahinya, itupun sangat kasar jika Belva mampu mengingat masa kelam itu.


Tak membalas juga tak menolak, karena tubuh wanita itu seperti kaku tak bisa bergerak. Sampai akhirnya sebuah teriakan mampu membebaskan Belva.


"Mamii..." Panggil Kaila yang hampir mendekat ke ruang tamu dan samar melihat Maminya dan Roichi di ruang tamu.


Reflek kedua manusia yang sesaat tengah menempel seperti magnet itu menjauhkan diri masing-masing. Ada perasaan kikuk dan canggung saat itu. Terlebih Roichi, pria itu merutuki kebodohannya.


"Mami, kenapa kok Opmud dekat-dekat wajah Mami ?" Tanya Kaila dengan polosnya.


Kedua orang dewasa itu terkejut dengan pertanyaan gadis kecil yang ada dihadapan mereka. Belva bingung harus menjawab apa. Roichi memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat untuk Kaila.


"Ah... Emm Mami Kaila kelilipan jadi Papi eh Opmud itu... Membantu meniupkan mata Mami yang kelilipan." Jawab Roichi dengan gugup dan canggung.


"Oh Mami kelilipan ? Pantas mata Mami merah semua."


"Ah iya sayang. Mami kelilipan." Belva tersenyum kikuk. Ia pun merasa canggung saat ini.


"Oh iya ada apa sayang ?" Tanya Belva.


"Mami, aku lapar, ada cemilan ?"


"Oh ada sayang ada... Sebentar Mami ambilkan ya. Ayo sayang."


Belva buru-buru berdiri dari duduknya menghampiri putrinya dan mengajak pergi dari ruangan tamu tapi gadis kecil itu tak mau ia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar kembali. Itu artinya Belva harus mengantarkan ke dalam kamar anak-anaknya.


Roichi sejenak terdiam menatap kedua perempuan berbeda usia itu pergi dari ruang tamu. "Aduh bodoh... Bodoh... Kenapa bisa kelepasan begitu sih." Gumam Roichi merutuki kebodohannya.


Pria itu memutuskan menyusul Belva ke dapur untuk meminta maaf atas kelancangannya tadi. Dia tak sadar jika berbuat demikian, entah rasa apa yang mampu mendorong dirinya untuk bisa mencium Belva.


Dilihat tak ada sosok Kaila di dalam dapur. Sedikit lega, dia bisa menghampiri Belva. Saat Belva membalikkan badan untuk mengambil piring, ia menatap sekilas Roichi lalu fokus kembali pada tujuannya. Rasa canggung itu masih ada diantara mereka berdua.


"Nona."


"Ekhm..." Belva berdeham demi menghilangkan kecanggungan. "Bukankah tadi kita sudah bicara, jangan memanggilku Nona."


"Ekhm... Ah iya. Va-vanthe... Maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu. Maafkan kelancangan saya." Roichi masih saja gugup.


Belva mengangguk. "Aku hanya terkejut."


"Lupakan saja Om." Ucap Belva kembali.


Roichi mengangguk, pria itu mengigit bibir bawahnya kini dia merasa malu, tangannya mengusap tengkuknya sendiri.


"Maaf permisi Om, boleh aku lewat ?"


"Ah iya tentu saja." Roichi menggeser tubuhnya karena menghalangi jalan Belva.


Demi menetralisir perasaan aneh yang membuatnya merasa seperti orang bodoh itu, Roichi meminum kopi yang telah dibuatkan oleh Belva. Rasanya sama enaknya dengan bibir Belva tadi, pikir Roichi yang teringat akan kebodohannya tadi. Bibirnya sedikit tersenyum saat mengingat kelancangannya mencium Belva.


"Bagaimana aku bisa menciumnya tadi. Tapi rasanya berbeda. Ah kenapa aku malah merasa senang begini dengan kebodohanku." Gumam Roichi.


Belva masuk ke dalam kamar anak-anaknya dengan membawa sepiring cemilan. Makanan itu disambut dengan riang gembira oleh Kaila. Gadis yang juga memiliki hobi makan.


"Yeeaayy... Makan... Makan..."


"Mami, apa mata Mami sudah baikan ? Tadi Kaila bilang mata Mami kelilipan." Tanya Kaili.


"Hah ? Iya sudah sayang. Mami baik-baik saja." Ucap Belva masih dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


"Iya karena tadi Opmud yang bantu tiup mata Mami." Ucap Kaila.


Belva semakin kikuk, ia kembali teringat kelakuan asisten Papanya. "Om Roi kok bisa tiba-tiba menciumku ? Membuatku terkejut saja." Batin Belva.


Selama weekend Duo Kay bisa menghabiskan waktu bersama Roichi. Pria itu memanfaatkan waktu liburannya untuk mengajak Duo Kay bermain. Sejak kejadian kemarin membuat Belva dan Roichi merasa canggung. Terutama Roichi, hal itu diperhatikan oleh Bella.


"Ayah... Sama kak Vanthe kok terlihat aneh begitu ?" Tanya Bella penasaran.


"Eh ? Aneh bagaimana Bel ? Perasaan biasa saja." Jawab Roichi.


"Ya aneh kaya orang baru kenal gitu."


"Tidak, mungkin Vanthe eh maksudnya Nona lagi ada masalah jadi bersikap aneh." Roichi justru melemparkan topik pada Belva.


Belva melotot, bisa-bisanya pria itu membuat alasan. "Ekhm... Bel, ada yang ingin aku sampaikan." Ucap Belva melirik Roichi.


Roichi berbalik membuka matanya lebar, ia khawatir jika Belva mengadukan kejadian kemarin pada Bella. Degup jantungnya sudah berdetak cepat. Melihat raut wajah Roichi yang terlihat khawatir, Belva berniat membalas pria itu karena kemarin sudah membuatnya terkejut.


"Bella, kemarin Ayahmu berani melakukan emmphh..."


Bella terkejut saat melihat kelakuan Ayahnya yang berani bersikap seperti itu dihadapannya. Sikap yang biasanya berwibawa dan sopan. Saat ini hilang begitu saja dari pandangan Bella.


"Ayah... Apa yang Ayah lakukan ?" Pekik Bella.


"Iishh... Apaan sih Om." Belva kesal karena mulutnya dibekap oleh Roichi. Sekuat tenaga ia melepaskan bekapan tangan kekar itu.


Meski kesal Belva menahan tawanya karena melihat ekspresi takut dan terkejut dari seorang Roichi.


"Sebentar ponselku berbunyi."


"Ayah..." Ucap Bella dengan menunjukkan dua jarinya ke arah matanya sendiri lalu bergantian menunjuk arah mata Roichi. Seakan mengatakan kita perlu bicara empat mata.


Saat Bella mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang keluarga. Belva menatap Roichi dengan tatapan dan senyum mengejek. Ia puas bisa membalas kelakuan Roichi kemarin.


"Kamu mau bilang apa sama Bella ?" Tanya Roichi memelankan suaranya.


"Ya mau bilang rencana kita lah memang mau bilang apa lagi Om ? Kenapa harus setakut itu ?" Belva tersenyum mengejek.


Roichi mengusap wajahnya kasar. "Sialan. Perempuan ini berani mengerjaiku." Batin Roichi.


Belva terkikik melihat sikap Roichi. "Terkejut ya ? Satu sama." Bisik Belva di samping Roichi.


Pria itu menatap ke arah samping, ia melihat Nonanya itu tersenyum puas. Roichi hanya menghela napas. Kebodohannya dipergunakan Nonanya untuk membalas dendam rupanya. Ide jahil seketika juga muncul di otak Roichi. Wanita muda itu berani mengerjainya, maka dia juga akan membalasnya nanti.


"Siapa yang telepon ?" Tanya Belva.


"Orang butik. Besok harus cari bahan lagi, habis katanya."


"Maaf tidak bisa membantumu."


"Tidak apa kak, kondisimu saat ini belum memungkinkan." Bella mengerti akan keadaan Belva saat ini.


"Oh iya, tadi kak Vanthe mau bilang apa tentang Ayah ?" Tanya Bella. Matanya menatap tajam pada Roichi.


Roichi hanya cuek saja, Belva sudah mengatakan padanya tadi jadi dia tak perlu takut lagi.


"Iya, ini berkaitan dengan masalah kemarin. Aku sudah meminta Om Roi untuk membantuku. Maaf mungkin ini akan membuatmu kecewa atau tak nyaman. Tapi ini demi keselamatan Kaili dan Kaila."


Belva menarik napasnya dalam. "Jangan kaget jika nanti..."


"Nanti Ayah akan menjadi Ayah dari Kaili dan Kaila ketika berada di luar rumah. Dan segala macam hal yang berkaitan dengan sandiwara ini, kamu jangan terkejut Bella." Ucap Roichi pada Bella.


"Maksudnya, kalian akan berakting menjadi kelurga kecil ayah, ibu dan anak-anaknya begitu ?" Tanya Bella memperinci rasa ingin tahunya.


"Aku tak masalah. Tapi aku masih penasaran. Maaf kak, sebenarnya siapa Ayah dari si kembar ?"


"Maaf Bella, aku tak bisa mengatakannya saat ini. Aku... Aku belum siap." Ucap Belva yang sudah berkaca-kaca.


"Sudah jangan dibahas lagi." Ucap Roichi. Ucap Roichi ingin mengusap punggung Belva tapi merasa sungkan karena ada Bella dihadapannya.


"Maaf kak aku tak bermaksud membuat mu sedih."


"Tidak apa Bella. Nanti suatu saat kamu akan tahu sendiri. Jangan katakan apapun dan pada siapapun mengenai rencana ini."


"Iya kak. Aku mengerti."


Semua aktivitas kembali dilakukan seperti biasa. Sejak Budhe Rohimah tak ada di rumah Belva berada di rumah sendirian. Bella mengantar jemput Duo Kay.


Repot, tentu saja Bella sedikit kerepotan karena biasanya ia bekerja bersama Belva di butik. Tapi mau bagaimana lagi keadaan yang belum memungkinkan untuk Belva masuk ke butik.


Duo Kay di sekolah, ia belajar dan bermain seperti biasa. Tapi sayang sekali, gosip yang sudah terlanjur beredar masih saja melekat di pikiran para orang tua siswa dan juga bocah-bocah kecil siswa TK Seven Blue School. Meski gosip itu sudah beredar beberapa hari bahkan sudah ada hitungan minggu yang lalu.


Beberapa anak masih saja sibuk mengatakan jika Duo Kay adalah anak haram dan tak punya Ayah. Anak sudah terusik sejak awal akan kalimat yang mengatakan mereka tak punya Ayah.


"Kaila tidak punya Ayah...."


"Kaila tidak punya Ayah..."


"Kaila tidak punya Ayah..."


Teriakan berkali-kali yang selalu diserukan oleh beberapa teman perempuan dan laki-laki nya. Kali ini Kaila bermain terpisah dengan Kaili. Pada awalnya ada temannya yang mengajak Kaila bermain tapi di tengah permainan mereka mengejek Kaila dengan kalimat seperti itu.


Beberapa hari mendapatkan seruan seperti itu membuat hati gadis kecil itu merasa sedih. Ia terus memikirkan perkataan teman-teman. Hingga di dalam kelas tadi pun, gadis kecil itu tak fokus belajar.


Kaila berlari memisahkan diri dari gerombolan teman-temannya. Ia berlari arah belakang gedung. Tapi saat di samping gedung ia melihat pintu besi yang terbuka. Gadis kecil itu berpikiran untuk melewati pintu itu. Ternyata itu pintu keluar dari area gedung sekolah yang biasa digunakan oleh pegawai kebersihan.


Tanpa tahu arah bocah itu berjalan sendiri di atas trotoar. Ia menangis mengingat perkataan teman-temannya baru saja. Ia duduk di pinggir trotoar dengan menumpangkan wajahnya di atas lutut yang dipeluknya dengan tangan kecilnya.


Mobil yang melintas pun berhenti tepat di samping gadis kecil itu. Melihat ada anak kecil yang sendirian dipinggir jalan membuatnya tertarik. Orang itu melihat kiri dan kanan, sekeliling gadis kecil itu. Aman-aman saja tidak ada orang sama sekali.


"Hei anak manis kenapa kamu sendirian di sini ?" Tanya orang itu.


Merasa ada suara orang di dekatnya, Kaila mendongakkan kepalanya. Ia merasa takut dengan orang asing yang mendekati dirinya. Tubuhnya bergetar takut, pesan Maminya agar tak dekat dengan orang asing. Tangis bocah itu semakin bertambah kencang, membuat orang itu panik.


"Sstt... Stop... Jangan menangis."


"Jordi, bagaimana ini." Pekik Satya.


Orang itu adalah Satya, dia tertarik untuk berhenti saat melihat seragam yang dikenakan oleh gadis kecil itu.


"Tuan, kenapa bisa menangis seperti ini ?" Jordi tak kalah panik.


"Kalau dia menangis seperti ini, bisa jadi kita dianggap akan melakukan penculikan."


Perkataan Jordi semakin membuat Satya semakin panik. Sama sekali dia tak berniat jahat pada gadis kecil itu. Hanya ingin menanyakan saja kenapa berada di pinggir jalan sendirian.


"Sst... Sudah... Sudah... Saya bukan orang jahat. Jangan menangis lagi. Dimana orang tua mu hemm ?" Tanya Satya berusaha tenang dan selembut mungkin agar tak membuatnya ketakutan.


Dengan sesenggukan, bocah itu memperhatikan kedua pria dewasa itu. Samar-samar Kaila seperti pernah melihat salah satu diantaranya.


"Opa yang waktu lalu di dekat mobilku kan ?" Tanya Kaila sesenggukan menatap Jordi.

__ADS_1


Jordi, yang ditatap oleh Kaila dia baru menyadari wajah anak itu. Terkejut, ternyata anak kecil yang berada di dalam mobil saat dirinya dan Satya menghampiri Budhe Rohimah.


"Apa maksudnya Jordi ? Kamu pernah melihatnya ?" Tanya Satya.


"Ah iya mungkin seperti itu Tuan, saya lupa."


"Anak manis, kenapa kamu ada di sini ?" Tanya Jordi.


Bocah itu masih menangis. "Aku tidak mau sekolah." Jawab Kaila.


"Jordi, beli ambil minuman untuknya." Titah Satya.


"Maaf Tuan, di dalam hanya ada kopi. Saya cari dulu ke minimarket terdekat." Satya menangguk.


Jordi pergi dengan mobilnya, Satya masih berusaha menenangkan gadis kecil dihadapannya. Dipandang wajah gadis itu, cantik dan menggemaskan. Tapi, tunggu anak itu mirip sekali dengan seseorang yang sepertinya dia kenal tapi siapa ?


"Ayo kita duduk di taman itu." Satya mengajaknya ke taman yang dekat di samping sekolah. Gadis kecil itu hanya menurut saja.


"Ada apa tidak mau sekolah ?" Tanya Satya lembut.


"Teman-teman ku, mereka semua nakal hiks..."


"Nakal ? Kamu di pukul ?"


Kaila menggelengkan kepalanya. "Hiks... Mereka bilang aku tidak punya Ayah. Mereka bilang aku anak haram."


Deg...


Hati Satya tersentak saat mendengar kalimat gadis kecil dihadapannya. Bagaimana bisa anak sekecil itu mendapatkan perkataan seperti itu. Apakah para orang tua mereka tak mengajari anak-anak mereka untuk berkata-kata sopan ?


"Anak haram itu apa ? Kata teman-temanku anak haram itu tidak punya Ayah ya ?" Pertanyaan polos dari Kaila untuk Satya.


Entah mengapa Satya merasa hatinya sakit dan ngilu mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Apa kamu benar tidak punya Ayah ?" Tanya Satya.


"Punya... Tapi kata Mami, Papiku tidak pernah pulang. Mami bilang Papi bekerja dan tidak kembali karena lupa jalan pulang ke rumah."


"Itu berarti kamu bukan anak haram sayang. Kamu hanya belum bisa bertemu Papi kamu saja. Kamu bisa bercerita seperti itu pada teman-teman mu."


"Sudah tapi mereka tidak percaya. Mereka tetap bilang aku anak haram. Karena mereka tak pernah melihat Papi ku."


Tangisan Kaila kini sudah mulai berhenti meski terkadang masih sesenggukan. Tangisannya teralihkan pada cerita-ceritanya.


Satya memeluk gadis kecil itu, dia adalah pria kaku, arogan dan dingin. Tapi dia sendiri tak mengerti kenapa begitu tertarik dengan gadis kecil itu.


Seketika hatinya terasa hangat dan nyaman saat memeluk Kaila. Satya sedikit terkejut dan tak paham akan apa yang dirasakannya.


Untuk menghibur Kaila, Satya menceritakan hal-hal lucu pada gadis kecil itu. Entah cerita dari mana yang jelas Satya mampu melakukannya.


Kaila, ia sudah benar-benar berhenti menangis. Kini tergantikan oleh tawa ceria akibat dari cerita lucu Satya. Senyuman Kaila pun mampu membuat Satya begitu menyukainya.


Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan keduanya dari dalam mobil. Jordi sengaja berhenti agak jauh untuk memperhatikan interaksi dua manusia berbeda jenis kelamin dan usia itu.


"Tuan Satya bisa tertawa seperti itu dengan gadis kecil itu. Sikap yang tak pernah ku lihat selama ini." Jordi bermonolog.


Jordi pun sebagai orang yang selama ini mendampingi Satya. Dia merasa ikut tersenyum melihat interaksi antara Satya dan juga Kaila. Kejadian yang sangat langka menurutnya. Di ambilnya ponsel miliknya untuk mengabadikan momen langka itu.


"Sepertinya gadis kecil itu mampu menarik perhatian Tuan. Aku penasaran siapa anak itu, dia adalah anak yang bersama dengan Bi Imah waktu itu. Kenapa ini semakin membuatku begitu penasaran."


Saat mengabadikan momen itu ternyata ponsel yang digunakannya berbunyi. Tuannya menghubungi dirinya. Pasti bertanya-tanya, mengapa lama sekali.


Jordi sengaja tak mengangkatnya karena tinggal beberapa meter saja sudah sampai. Dia menghentikan mobilnya dekat dengan taman. Turun dengan membawa kantong plastik kecil berisi air mineral dan Snack serta permen.


"Tuan..."


"Dari mana saja kamu kenapa lama sekali." Omel Satya di hadapan Kaila.


"Opa, kenapa marah-marah ?" Tanya Kaila.


"Eh ? Opa ?" Gumam Satya mengernyit. Dia dipanggil Opa oleh gadis kecil itu. Setua itukah dia hingga sudah layak dipanggil Opa.


"Kaila takut kalau Opa marah-marah."


"Eh... Maaf saya tidak marah." Ucap Satya pada Kaila.


"Mana Jordi air minumnya."


Jordi memberikan kantong plastik kecil itu yang berisi satu botol kecil air mineral dan beberapa Snack serta permen.


"Minum dulu ya... Nanti saya antar ke sekolah ya." Ujar Satya.


"Permen jelly. Ini permen kesukaanku. Ini buat Opa ya nanti di makan." Kaila memberikan dua bungkus permen kecil itu pada Satya. Telapak tangan besar itu sudah berisi dua permen jelly.


Satya membantu Kaila meminum airnya. Ia berniat akan mengantar gadis kecil itu memasuki area sekolah. Tapi dia melihat beberapa orang keluar dari area sekolah. Celingukan kesana-kemari seperti mencari sesuatu.


Benar saja tak lama seorang wanita yang masih muda itu menghampiri Satya dan juga Kaila. "Permisi Tuan."


"Kaila..."


"Anda mencari anak ini ?" Tanya Satya.


"Iya Tuan. Dia kabur dari sekolah saat beristirahat."


"Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa keluar dari area sekolah. Apa kalian tidak mengawasi para murid dengan benar ?" Tanya Satya.


"Maaf Tuan, itu kelalaian kami. Terimakasih sudah menemukannya."


"Kaila, ayo masuk sayang. Kaili menangis karena kamu hilang." Ucap Miss guru sekolah Kaila.


Kaila mengangguk, guru itu menggandeng lengan Kaila. "Sekali lagi terimakasih Tuan. Maaf merepotkan Anda. Kami permisi dulu."


"Ya... Lain kali jaga para murid dengan benar. Jangan sampai seperti ini, kalian bisa dipecat dan sekolah bisa mendapatkan tuntutan jika terjadi sesuatu dengan murid-murid yang ada di sekolah akibat kelalaian kalian."


"Baik Tuan terima kasih sudah mengingatkan kami." Ucap Miss tersebut.


Akhir Kaila dan gurunya masuk kembali ke area sekolah. Satya dan Jordi masuk ke dalam mobil. Dia baru sadar jika di telapak tangannya terdapat dua bungkus permen jelly. Ditatapnya bungkusan itu dengan bibir sedikit tersenyum.


"Sebenarnya siapa gadis kecil itu. Kenapa aku merasa mengenal. Terasa nyaman saat bersama dengannya." Batin Satya.


"Gadis kecil yang cantik." Gumam Satya lirih.


Dia memasukkan permen jelly itu ke dalam saku jasnya. Tak berniat untuk memakan permen tersebut, dia lebih tertarik untuk menyimpan dan berharap suatu hari nanti bisa bertemu dengan gadis kecil yang cantik dan menggemaskan.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.

__ADS_1


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


Btw komentar positif kalian sejujurnya membuat author semangat untuk menulis bagaimana part selanjutnya, meski tulisan ini masih sangat receh dan sadar belum sempurna, masih banyak kekurangan. Typo, alur dan beberapa hal yang lain masih kurang dengan masukkan dari kalian setidaknya bisa sedikit demi sedikit bagi author untuk memperbaiki. Terimakasih banyak reader πŸ™πŸ™


__ADS_2