
"Tidurlah, aku harus menemui dokter untuk berkonsultasi masalah kesehatan budhe."
Belva berpamitan pada budhe Rohimah. Ia keluar dari ruangan sebelum berkonsultasi pada dokter, perempuan itu melipir ke arah taman rumah sakit.
"Pak Jajak... Maaf lama menunggu."
Belva menghampiri Pak Jajak, saat mengantar pria paruh baya sampai di depan pintu. Ia berpesan agar satpam rumah Tuan Satya itu menunggunya sebentar di taman rumah sakit.
"Tidak apa-apa neng... Ada apa neng ?"
"Mengenali kecelakaan Budhe. Pak Jajak pasti tahu bagaimana kejadian itu kan ?"
Belva yakin jika tadi Budhenya banyak bercerita pada Pak Jajak. Ia ingin tahu bagaimana detail bisa terjadi kecelakaan itu karena saat ia memasuki ruangan rawat hanya mendengar percakapan terakhir saja.
"Pak, tolong jangan tutupi dariku. Pak Jajak tahu jika hanya budhe lah keluarga kandungku satu-satunya yang aku miliki."
Pak Jajak mengangguk. Dia juga tak tega melihat Belva khawatir. Janjinya pada budhe Rohimah terpaksa diingkarinya, toh ini adalah Belva keponakannya budhe Rohimah sendiri.
"Iya neng... Kecelakaan itu terjadi karena pertengkaran Bi Imah dan non Alya." Ucap Pak Jajak.
Pria itu menceritakan bagaimana cerita awal saat budhe Rohimah kecelakaan hingga dirinya yang menemukan dan membawa budhe Rohimah ke rumah sakit. Serta kelakuan Alya selama ini yang berubah sangat drastis.
"Pak, segeralah pulang nanti Alya memarahi Pak Jajak."
"Iya neng... Saya juga tidak ingin nanti terjadi keributan lagi. Beberapa bulan ini nyonya Sonia dan tuan Satya tak berada di rumah. Mereka sibuk sendiri. Jadi Non Alya bersikap seenaknya sendiri di rumah."
Saat mendengar nama kedua majikannya itu hati Belva terasa seperti tertusuk. Ada rasa nyeri karena mereka hidup Belva seperti di jungkir balikkan.
"Iya Pak, apa Alya ada di rumah saat ini ?" Tanya Belva.
"Memang ada apa neng ?" Tanya Pak Jajak khawatir.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya Bapak menghubungi orang rumah saja dulu. Memastikan apakah Alya ada di rumah atau tidak itu juga demi keselamatan dan kenyamanan Pak Jajak saat kembali pulang nanti." Ucap Belva dengan tenang.
Apa yang dikatakan Belva ada benarnya juga. Demi memastikan keamanannya agar tidak terjadi acara interogasi panjang lebar yang berujung harus mendengar Omelan Alya.
Pak Jajak menghubungi Mbok Yati dan mengatakan jika Non Alya sudah pulang lima menit yang lalu. Dan menyuruh Pak Jajak segera pulang.
"Neng saya pamit pulang dulu. Ini Non Alya baru saja pulang. Saya takut nanti dicari Non Alya."
"Iya berhati-hatilah Pak." Ucap Belva tersenyum lembut.
Belva melihat Pak Jajak berlalu dengan menggunakan motornya. Tak lama Belva kembali masuk ke dalam ruang rawat, ia melihat budhenya sedang tertidur. Tas yang diletakkan di atas sofa diambilnya dan pergi keluar.
Belva mengikuti Pak Jajak pulang ke rumah Satya. Ia berniat menemui Alya karena perempuan itu sudah sangat keterlaluan. Ia tidak bisa membiarkan Alya melukai Budhenya ataupun anak-anaknya. Cukjo dirinya saja yang diperlakukan buruk oleh Alya.
Dengan menggunakan taksi yang di setop oleh Belva di depan jalan rumah sakit. Ia menuju rumah Satya, masih ingat dengan jelas alamat rumah majikannya itu. Sampai di sana ternyata memang mereka masih tinggal di tempat itu. Terlihat sangat sepi sekali karena memang seperti itulah kediaman Satya.
Belva juga melihat Pak Jajak masuk ke dalam area rumah itu. Gerbang yang tinggi menjulang dibuka oleh seseorang yang Belva tak mengenal siapa pria itu. Sepertinya pekerja baru di rumah Tuan Satya.
"Pak, berhenti dan tunggu di sini sampai saya kembali lagi ya." Pinta Belva pada sopir taksi.
"Tapi Non nanti argonya jalan terus tambah mahal Non." Ucap Pak sopir mengingat Belva.
"Tidak apa-apa Pak, nyalakan saja argonya nanti saya bayar biayanya. Tunggu sampai saya kembali lagi."
Sopir taksi itu mengangguk patuh. Belva turun dari mobil dan berjalan ke arah gerbang yang tinggi menjulang itu. Ia tak takut lagi dengan Alya karena ia hanya sendiri tanpa membawa kedua anaknya. Jika bersama duo Kay, ia akan menghindar demi menyelamatkan kedua anaknya.
"Ada apa Non ? Tanya satpam baru yang tidak dikenal oleh Belva. Tampaknya Pak Jajak masih di dalam.
Satpam baru itu melihat Belva berdiri di depan gerbang rumah tuannya. Belva dengan santai mengutarakan maksudnya datang ke rumah ini. Rumah yang bener tahun lalu ia tempati hingga kejadian keji itu terjadi.
"Saya ingin bertemu dengan Alya, apa dia ada di dalam ?"
"Maaf Non ini siapa ya ? Nanti saya sampaikan pada Non Alya jika belum ada janji.
"Saya teman lamanya, sudah ada janji temu dengannya. Tadi katanya baru pergi keluar maka dari itu saya baru datang sekarang." Ucap Belva tenang.
Satpam itu berpikir jika memang benar majikannya baru pulang dari bepergian. Lantas dia mengijinkan Belva masuk ke dalam karena sudah mengatakan jika sudah ada janji temu dan perempuan itu juga tahu jika Belva baru saja pergi. Tanpa rasa curiga karena gerak-gerik Belva tidak mencurigakan.
Belva memasuki area rumah yang sangat luas itu. Tempat itu tidak ada yang berubah sama sekali sejak ia pergi meninggalkan rumah ini. Ada perasaan sakit saat memasuki rumah ini. Tapi niatnya adalah bertemu dengan Alya, ia ingin menanyakan dan memperingati perempuan jahat itu.
Bel di samping pintu utama ditekan oleh Belva. Syukur-syukur jika Alya langsung yang membukakan pintu untuknya. Tapi bukan Alya melainkan Mbok Yati.
"Mbok... " Sapa Belva dengan ramah dan anggun.
Mbok Yati mengernyitkan pusat dahinya. Perempuan cantik di depannya itu seperti tak asing baginya.
"Cari siapa ya Non ?" Tanya Mbok Yati yang belum menyadari jika itu adalah Belva keponakan budhe Rohimah.
"Cari Alya Mbok. Apa dia ada ?"
"Iya... Ada..." Jawab Mbok Yati dengan ragu dan bingung karena otaknya masih fokus mencari sesuatu yang bisa mengingatnya pada perempuan cantik di depannya.
"Kenapa melihatku seperti itu Mbok ?" Tanya Belva tersenyum.
"Eh... **-tidak Non. Mari silahkan masuk, saya panggikan Non Alya. Ini dari siapa ya ?"
"Belva. Minta tolong katakan padanya Mbok jika aku mencarinya."
Deg... !!
Satu nama yang membuat Mbok Yati terdiam kaku. Ia begitu terkejut saat otaknya seperti sudah menemukan apa yang dicarinya. Belva... Nama itu langsung bisa mengingatkannya pada sosok di depannya saat ini.
"Belva ? Astaga... Apakah ini benar ? Kamu benar Belva keponakan Bi Imah yang kemarin menghubungi ponselnya ?" Syok sekarang yang dirasakan oleh Mbok Yati.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu benar-benar melihat Belva masih hidup di depan matanya. Perempuan cantik itu benar-benar Belva yang dinyatakan telah meninggal dunia.
"Iya ini Belva... Mbok Yati. Bisa minta tolong panggilkan Alya ?" Tanya Belva kembali.
"I-iiya neng..." Mbok Yati kembali memanggil Belva dengan sebutan yang dulu sering mereka berikan pada Belva.
Sebelum pergi meninggalkan Belva, ternyata Alya sudah turun dari lantai dua terlebih dahulu. Ia akan mengambil barang yang tak sengaja ditinggalkannya di ruang tamu tadi saat kembali diantar oleh Jack kekasihnya.
"Siapa Mbok ?" Tanya Alya dengan nada angkuhnya.
Ia melihat Mbok Yati sedang berhadapan dengan seseorang yang belum diketahui wajahnya karena tertutup oleh pintu utama, Mbok Yati tak sepenuhnya membuka pintu itu. Terkejut Mbok Yati saat mendengar suara Alya.
"Eh... Ini Non..."
Belva mendorong sedikit pintu utama agar terbuka lebar. Ia ingin melihat wajah Alya saat ini. Wajah perempuan yang begitu jahat padanya dan keluarganya.
"Hallo Alya..." Sapa Belva dengan senyum lembutnya dan menahan emosi pada Alya.
Alya terkejut dengan kedatangan Belva. Ia membuka matanya lebar keningnya terangkat naik. Lidahnya terasa kaku saat melihat perempuan yang akhir-akhir ini sempat diikutinya.
"Masih ingat denganku Alya ? Aku Belva teman lamamu dulu. Keponakan Budhe Rohimah pembantu rumah tanggamu yang saat ini sedang sakit."
Semakin terkejut saja Alya, Belva berani menemuinya langsung saat ini. Dadanya naik turun menahan emosi. Kebencian dan amarah pada Belva tersulut kembali saat melihat wajah yang saat ini benar-benar jauh lebih cantik.
"Mau apa kamu ke sini ?" Tanya Alya dengan sinis. Ia berjalan cepat menuju Belva.
Mbok Yati langsung saja menyingkir saat Alya menghampiri Belva. "Minggir kamu." Ucap Alya dengan nada kasar pada Mbok Yati.
Belva tersenyum sinis dalam hatinya. Kelakuan Alya memang benar-benar tidak sopan dan seenaknya sama seperti yang diceritakan oleh Pak Jajak tadi.
"Mau apa ? Aku mau memintamu untuk meminta maaf pada budheku."
"Minta maaf ? Untuk apa minta maaf. Apa kamu gila ?" Alya masih saja sinis pada Belva. Sangat terlihat rasa ketidak-sukaannya pada perempuan cantik beranak dua itu.
"Kamu yang gila. Kenapa kamu tega mencelakai budheku ? Dia yang sejak dulu membantumu Alya."
"Cih... Pembantu itu memang tugasnya membantu majikan. Di dibayar di sini, apa kamu lupa kamu kan dulu juga pembantu di rumah ini."
"Iya sebelum kamu berniat jahat padaku. Alya... Aku tak masalah jika kamu berbuat jahat padaku tapi jangan keluargaku. Kamu mencelakai budheku kan hingga masuk rumah sakit dan koma beberapa hari."
Alya tersenyum sinis pada Belva. Rasanya tak perlu lagi menutupi kebenciannya pada Belva saat ini.
"Lalu apa masalahmu ?" Alya masih terlihat sangat santai sekali.
"Jadi benar kamu yang membuatnya celaka hingga koma. Meminta maaflah pada budheku atas perbuatanmu Alya." Kalimat yang penuh penekanan Belva berikan pada Alya.
"Cih... Iya aku yang melakukannya. Apa dia sudah sadar hingga aku harus meminta maaf padanya ? Kenapa wanita tua itu tidak mati saja."
Plak... !!!
Satu tamparan keras Belva berikan pada Alya. Ia tak terima Alya berkata demikian pada Budhenya. Seseorang yang sangat ia sayangi dan melindunginya selama ini.
"Kamu !!! Berani kamu menamparku sekarang Belva !!!" Jari telunjuk Alya menunjuk-nunjuk ke arah wajah Belva. Wajahnya memerah karena amarah dan tamparan Belva. Mata Alya melotot, satu tangannya yang lain memegang pipinya yang terasa panas.
"Itu pantas untukmu Alya. Kamu sudah keterlaluan, aku bisa menerima perlakuanmu dulu padaku tapi tidak dengan budheku."
Mbok Yati terkejut dengan apa yang didengar dan dilihatnya. Pertengkaran terjadi antara Belva dan Alya.
Alya hendak membalas tamparan Belva, tangannya sudah terangkat ke atas dan mengayun hendak menapar pipi mulus Belva. Tapi sayang Belva lebih tanggap dengan aksi Alya dan ia menangkap tangan Alya.
Alya merasa kesal dan emosi karena aksinya gagal. Terjadilah aksi saling dorong di tempat itu. Teriakan Alya yang histeris dan memaki Belva membuat seisi rumah datang menghampiri.
Pak Jajak pun turut menghampiri, dia terkejut melihat Belva sudah berada di rumah Satya. Sejak kapan perempuan cantik itu datang, ia tak menyangka jika Belva akan datang dan melakukan hal itu pada Alya.
"Aduh... Neng... Non... Stop... Stop." Pak Jajak berusaha memisahkan Alya dan Belva.
"Lepaskan aku !!! Biar kubunuh perempuan ****** penggoda Daddy ku." Teriak Alya.
Ia sengaja berkata seperti itu untuk menjatuhkan Belva di hadapan orang lain. Beberapa dari mereka menatap aneh pada Belva.
"Aku bukan penggoda Daddy mu Alya tapi semua karenamu. Kenapa kamu berbuat jahat padaku dan budheku." Belva tak terima atas tuduhan itu. Ia tahu siapa sebenarnya yang membuatnya menderita selama ini. Yang membuat semua mimpi dan cita-citanya kandas sebelum tersampaikan.
"Aku membencimu Belva. Sangat membencimu. Gadis kampung yang sok baik, perempuan penggoda !!!"
Alya terus memberontak hingga terlepas dari cekalan Pak Jajak. Ia mendorong Belva hingga terjatuh mundur. Semua terkejut atas kejadian itu, terutama Pak Jajak dan Mbok Yati.
"Amir... Budi... Pegang non Alya." Teriak Pak Jajak, ia merasa kewalahan menahan Alya.
Mbok Yati langsung membantu Belva. "Neng berdiri. Tidak apay neng ?"
Belva meringis nyeri, ia menggeleng untuk mengatakan jika ia tidak apa-apa meski terasa sakit.
"Mbok berani kamu membantunya ?? Akan ku pecat kamu !!" Teriak Alya membuat Mbok Yati dengan segera melepas Belva saat perempuan itu sudah berdiri.
Takut jika ia akan dipecat maka tidak akan memiliki pekerjaan lagi. Diusia tua seperti ini siapa yang akan memberikan pekerjaan padanya jika dipecat.
"Neng... Sebaiknya neng Belva segera pulang saja. Jangan membuat keributan di sini." Ucap Pak Jajak.
Dia tak tega jika nanti Alya berbuat lebih buruk lagi pada Belva. Sudah cukup Alya berbuat jahat pada perempuan lembut itu. Saat ini dia tak bisa membela Belva, pekerjaannya akan terancam jika membela Belva secara terang-terangan.
"Neng... Tolong kami, nanti kami bisa di pecat." Bisik Pak Jajak saat berhadapan dengan Belva.
Belva paham akan kekhawatiran Pak Jajak dan Mbok Yati. Ia tak ingin membuat mereka susah karena ulahnya. Belva mengangguk, saat ini ia akan mengalah demi para pekerja yang lain.
Pak Jajak memegang lengan Belva seakan menarik Belva keluar dari rumah itu. Tapi sebenarnya cengkeraman itu tidak kuat dan tidak menyakiti Belva.
__ADS_1
"Neng maaf ya Pak Jajak tidak bisa membantumu." Ucap Pak Jajak merasa bersalah pada Belva.
"Tidak apa-apa Pak. Maaf sudah membuat keributan di sini."
"Bapak paham neng... Pasti kamu emosi pada Non Alya atas sikapnya yang keterlaluan."
"Belva pulang dulu Pak." Pamit Belva pada Pak Jajak.
Perempuan cantik itu kembali ke rumah sakit dengan menggunakan taksi yang masih menunggunya sejak tadi. Dalam perjalanan ia memejamkan mata, merenung kembali. Apakah ada kesalahannya di masa lalu hingga Alya tega dengannya dan Budhenya.
Di kediaman Satya, seluruh pembantu rumah tangga masih mengerubungi Alya. Ada yang berbisik membicarakan Belva. Mereka berkata jika Belva sebagai pelakor sangat berani mendatangi rumah keluarga tuanya.
Alya masih merasa kesal hingga nafasnya saja masih naik turun akibat energi yang ia keluarkan untuk meluangkan emosinya.
"Lepas !!" Teriak Alya sembari menghentak tangannya yang dipegang oleh kedua satpam rumahnya.
"Bubar kalian !!!"
Alya berjalan cepat menuju kamarnya dengan membawa barangnya yang tertinggal. Rasa kesal dan emosinya masih rekat melekat pada hatinya.
"Sial berani sekali perempuan itu datang lagi kemari. Tidak bisa dibiarkan."
Alya tak ingin jika suatu saat nanti apa yang pernah dilakukannya akan berbalik merugikannya. Ia tahu bagaimana sifat Daddy nya.
****
Sampai di rumah sakit Belva menenangkan diri sejenak di taman rumah sakit setelah itu baru ia datang ke ruangan sang dokter yang merawat Budhe Rohimah. Sudah beberapa hari setelah sadar, ia ingin menanyakan bagaimana perkembangan kesehatan budhe Rohimah lebih jelas lagi.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk."
Belva masuk ke dalam ruangan sang dokter setelah mendapat perintah untuk masuk.
"Permisi dokter."
"Ah iya silahkan. Ada yang bisa saya bantu Nona ?" Tanya dokter dengan ramah.
"Maaf mengganggu waktu anda dokter. Saya ingin menanyakan perihal kesehatan budhe saya. Sebenarnya bagaimana perkembangan kesehatannya, emm apakah masih lama untuk rawat inap di rumah sakit ?"
Tutur bicara yang sopan dan lembut dapat dokter lihat dan rasakan dari perempuan muda ban cantik itu. Kagum yang dirasakan oleh sang dokter muda itu terhadap Belva.
"Oh iya, secara keseluruhan memang pasien sudah baik-baik saja, kita hanya perlu fokus pada lukanya saja. Nanti saya akan periksa kembali. Sepertinya beberapa hari lagi pasien sudah bisa pulang." Jelas dokter tersebut dengan senyum ramahnya.
Belva mengangguk paham atas penjelasan dokter. Tujuannya bertanya seperti ini adalah agar ia bisa membawa budhenya kembali ke rumah. Sudah beberapa hari anak-anaknya harus ditinggalkan di rumah meski sudah ada yang menjaga tapi Belva merasa tidak tega. Ia merasa dilema budhe Rohimah perlu bantuannya tetapi anak-anaknya juga pasti membutuhkan dirinya.
"Baik dokter. Terimakasih saya permisi dulu."
"Iya silahkan Nona." Masih dengan senyum ramahnya dokter mempersilahkan Belva keluar dari ruangan.
Tak dapat dipungkiri jika dokter itupun memiliki ketertarikan dengan perempuan cantik dan lembut serta sopan seperti Belva. Seorang wanita idaman yang bisa dimasukkan dalam daftar calon istri. Kesan baik saat pertama melihat perempuan itu.
Belva kembali lagi ke dalam ruangan budhe Rohimah. Melihat jika wanita tua itu masih terpejam karena beristirahat. Sembari menunggu Belva melakukan pekerjaannya untuk butik de'La Hector. Meski ditinggalkan beberapa bulan tapi semua masih aman terkendali dari jarak jauh.
Para pelanggan butik itu meski tak dapat bertemu langsung dengan sang desainer tapi mereka dapat berkonsultasi melalui panggilan telepon atau video call. Belva juga tak kesulitan akan hal itu terbukti seluruh pesanan customer dapat ia selesaikan dengan baik. Tentu semua juga ada bantuan dari putri kecilnya Kaila.
****
Mengenai kerjasama yang diajukan oleh Bala Corp terhadap Hector Group. Pemilik Hector Group sudah mempelajari seluruh proposal yang diajukan. Sebenarnya di awal kemunculan proposal itu cukup membuat pihak Hector Group merasa heran mengapa mereka yang sama-sama bekerja dalam bidang yang sama justru melakukan kerjasama untuk pembangunan gedung Bala Corp sendiri.
Rupanya untuk memperjelas maksud dan tujuan itu pihak Hector Group menanyakan lebih lanjut pada pihak Bala Corp. Mereka sudah paham akan tujuan mereka yaitu kerjasama pembangunan resort dengan dalih agar resort tersebut memiliki nilai jual yang tinggi maka pihak Bala Corp ingin berkolaborasi dengan Hector Group termasuk pengisian segala macam furniture dari Hector Group.
Melihat belum lama ini perusahaan tersebut memenangkan tender besar membuat pihak Bala Corp merasa jika memang kemampuan yang dimiliki Hector Group sangatlah bagus. Itulah alasan-alasan yang diberikan pihak Satya pada Tuan Hector.
Bala Corp sangat berusaha keras untuk dapat meyakinkan Hector Group agar mau menerima kerjasama mereka. Dan akhirnya kerja keras mereka berbuah manis. Pria lanjut usia itu menerima kerjasama dari Satya.
Demi membahas rencana kerjasama itu Satya rela terbang ke Indonesia kembali untuk membahasnya. Pertemuan mereka dilakukan untuk mengukuhkan kerjasama.
"Selamat siang Tuan." Sapa Satya. Wajah tegas dan dinginnya masih saja melekat meski itu bersama rekan bisnisnya.
Tangannya terulur untuk menjabat tangan Tuan Hector dan disambut dengan baik oleh pria lanjut usia itu.
"Selamat siang Tuan Satya. Silahkan duduk sepertinya anda terlihat kelelahan." Tuan Hector begitu ramah dan sopan menjamu kedatangan seseorang yang akan menjadi rekan bisnisnya.
"Begitulah. Dari Paris saya langsung menuju ke tempat anda Tuan."
Bersama dengan percakapan keduanya, seorang OB datang membawakan empat cangkir kopi.
"Ah pantas saja. Silahkan di minum terlebih dahulu Tuan Satya. Setidaknya kopi bisa membuat anda lebih segar."
Satya menangguk dan mengambil cangkirnya. "Terima kasih Tuan Hector."
"Kita langsung saja membahas kerjasama kita apakah bisa ?" Satya meletakkan cangkirnya kembali. Ia tak ingin berlama-lama untuk berbasa-basi karena itu bukanlah tipenya.
"Ah iya bisa, mari kita bahas kerjasama ini. Saya sudah membaca proposal itu dan asisten saya sudah menanyakan lebih lanjut pada asisten anda. Saya kira tidak buruk jika kita bekerjasama dalam pembangunan itu." Ucap Tuan Hector dengan serius.
"Iya, anda tentu sudah paham apa alasan kami melakukan kerjasama ini. Bisa dikatakan nanti dari pihak Hector Group lah yang akan lebih banyak melakukan pembangunan ini. Saya ingin sesuatu yang berbeda. Desain sudah ada dari kami tapi saya ingin desain itu sedikit ditambahkan agar lebih bagus lagi. Jadi saya meminta dari pihak anda yang menyempurnakan desain itu. Bagaimana Tuan ?" Tanya Satya yang juga sudah dalam mode serius.
"Kenapa harus kami yang menyempurnakan desain itu, bukankah kalian sudah memiliki arsitek sendiri ?" Tuan Hector merasa heran dengan permintaan Satya.
****
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih buat para reader setia.
__ADS_1
Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.
Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys π