
Mengetahui apa yang dimaksud oleh sang suami Belva langsung memutar bola matanya malas. Ia tak memperdulikan kalimat yang menunjukkan sebuah protes dari Satya.
"Lanjutkan saja dokter pemerikasaan nya." Ucap Belva.
"Sayang..." Protes Satya.
Sejujurnya Satya tak rela jika dokter yang menangani istrinya berjenis kelamin laki-laki. Selama ini semua dokter yang dipilih berjenis kelamin perempuan untuk memeriksa kandungan Belva.
Dokter Matias melirik ke arah Satya lalu ke arah Belva pertanda bahwa dirinya harus mengikuti perintah Belva atau masih menunggu keputusan atas protes yang diajukan Satya.
"Abaikan saja, dokter. Putraku harus segera istirahat di rumah."
"Baiklah... Kita mulai pemeriksaan hari ini."
Serangkaian pemeriksaan kandungan itu dokter Matias lakukan. Layar monitor yang mampu memberikan pandangan mengenai keadaan dalam kandungan Belva pun menjadi pusat perhatian bagi mereka semua yang ada di dalam ruangan tersebut.
Belva tampak antusias sekali melihat calon buah hatinya yang sebentar lagi akan mereka lihat secara nyata, tidak lagi hanya melihat melalui layar monitor. Satya yang masih dalam mode kesal pun sekuat hati menahan diri, dia ikut melihat layar monitor yang menampilkan gambar sang buah hati.
"Keadaan bayinya baik-baik saja, semuanya aman dan sehat. Terus jaga kondisi kandungan mu, Nona."
"Syukurlah, aku pasti akan menjaganya sampai di lahir ke dunia ini."
"Baguslah, tinggal satu bulan lagi apa sudah merencanakan untuk kembali ke Indonesia?"
"Belum, dokter kami akan menunggu sampai bayi kami lahir baru kami akan kembali ke Indonesia."
Dokter Matias mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Belva. Suster membantu Belva bangun dari ranjang, sangat paham dan tahu jika ibu hamil pasti sedikit kesulitan untuk bangun di ranjang yang sempit. Mereka kembali duduk di kursi sebelumnya.
"Jika ada keluhan lagi bisa langsung menghubungi saya, Nona." Ucao dokter Matias sembari menulis sesuatu di atas kertas miliknya.
"Ini resep untuk vitamin mu, suster akan membantu untuk mengambilnya." Satu lembar kertas kecil diberikan dokter Matias pada Belva.
"Terimakasih sekali, dokter atas bantuan anda." Ucap Belva.
"Sama-sama." Ucap dokter Matias.
Belva dan Satya berpamitan bersama anak-anak mereka. Suster pun atas perintah dokter Matias ikut mengantar keluarga kecil Satya karena dirinyalah yang diperintahkan untuk membantu mengambilkan vitamin yang dibutuhkan Belva.
Selesai mendapatkan vitamin yang diresepkan oleh dokter akhirnya Satya dan Belva bersiap untuk kembali. Kaili harus banyak beristirahat agar kondisinya cepat kembali pulih.
Saat hendak masuk ke dalam mobil Belva mendapatkan panggilan telepon dari Nyonya Hector. Rencana untuk kembali pulang ke apartemen milik Belva pun mereka urungkan. Nyonya Hector menyuruh mereka untuk datang ke rumah besar.
"Mas, kita ke rumah Mama dulu."
"Ada apa? Kenapa harus ke sana?" Tanya Satya.
"Mama meminta kita untuk makan siang di rumah."
"Tapi Kaili kan harus beristirahat, sayang."
"Kamu lupa, mas? Di rumah Mama ada kamar anak-anak."
Satya terdiam tak punya pilihan daripada nanti istrinya itu kembali marah padanya. Satya mengikuti saja apa yang dikatakan oleh Belva. Namun, dalam hati dirinya sudah merasakan tak nyaman saat mereka melakukan perjalanan menuju rumah besra tuan Hector.
Tiba di rumah besar Tuan Hector, mereka pun turun Satya tak membiarkan Belva menggendong baby As. Kaila yang mengetahui sampai di rumah Opa Oma nya pun langsung turun dengan semangat. Sementara Kaili berjalan dengan dituntun oleh Belva.
Beberapa asisten rumah tangga cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada majikan kecil mereka. Tangan Kaili tersangga oleh gips dan arm sling (alat bantu penyangga tangan) hak itu membuat beberapa asisten rumah tangga Tuan Hector memperhatikan pria kecil itu.
Saat memasuki rumah, Nyonya Hector sudah menyambut kedatangan putri nya, menantu dan juga cucu-cucunya. Terkejut? Tentu saja karena melihat cucu kesayangannya dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Astaga, sayang kenapa tanganmu bisa seperti ini?" Tanya Nyonya Hector dengan rasa terkejut dan khawatir nya.
"Mama..." Sapa Belva. Peluk dan ciu*m Belva berikan pada Mamanya sebagai sapaan hangat mereka.
Satya pun menyalami mertuanya dalam keadaan waspada dan khawatir. Baru saja kemarin dirinya mendapatkan peringatan dan juga ekspresi menyeramkan dari sang mertua akibat dari permasalahan rumah tangganya kini dia harus kembali gusar karena tak bisa menjaga putranya.
"Ma... Bagaimana kabar Mama?" Satya berbasa-basi dengan Nyonya Hector.
"Baik seperti yang kamu lihat, kenapa dengan putramu?" Tanya Nyonya Hector pada Satya.
"Kecelakaan kecil saat di apartemen tadi pagi." Jawab Satya mencoba untuk tetap tenang.
Kening Nyonya Hector mengerut, masih bertanya-tanya mengapa bisa terjadi kecelakaan dan kecelakaan seperti apa yang bisa membuat tangan cucu nya seperti itu. Pasti akan ada pertanyaan yang terus berkembang dari Nyonya Hector.
"Kecelakaan? Bagaimana bisa?" Tanya Nyonya Hector kembali.
Satya bingung harus menjelaskan seperti apa pada mertuanya. Rasa takut menguasai dirinya saat ini, meski dia seorang pemilik perusahaan besar tapi ketika berhadapan dengan istri dan juga mertuanya Satya menjadi pria lemah.
"Mereka jatuh tadi pagi." Jawab Belva saat Satya tak kunjung menjawab.
"Jatuh? Bagaimana bisa jatuh sampai tangannya seperti itu?" Desak Nyonya Hector.
Apartemen Belva adalah apartemen sederhana yang di dalamnya tak memiliki dua lantai seperti apartemen mewah lainnya.
"Ma, bisakah aku antar Kaili masuk ke kamar lebih dulu? Kasihan jika terus berdiri seperti ini dia butuh istirahat." Pamit Belva.
"Iya... Iya masuklah beristirahat lah, sayang." Nyonya Hector mengusap lembut kepala Kaili.
"Eh... Mau ke mana?" Tanya Nyonya Hector pada Satya saat melihat pria itu hendak mengekor pada istrinya.
"Mau ke kamar anak-anak, Ma. Biar baby As juga beristirahat bersama kakak-kakaknya."
"Tidak... Tidak... Baby As ada kamar tersendiri, Mama sudah siapkan untuknya." Ucap Nyonya Hector.
"Jasmine...!!" Panggil Nyonya Hector.
Seorang wanita seusia Belva datang dengan langkah kaki yang sedikit lebih cepat. Berusaha menjadi pekerja yang cepat tanggap jika diperlukan oleh majikannya.
"Iya, Nyonya ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jasmine dengan sopan dan lembut.
"Bawa cucu saya ini ke kamarnya, jaga dia. Ingat kan apa yang sudah saya sampaikan padamu kemarin?"
"Baik, Nyonya saya ingat."
Nyonya Hector tersenyum dan mengangguk, Jasmine sudah diberi mandat untuk menjaga baby As menjadi pengasuh bayi itu selama berada di rumah besar Tuan Hector.
Jasmine mengambil alih baby As dari gendongan Satya dan membawa bayi itu menuju kamar yang telah disiapkan khusus. Sepeninggalan Jasmine dan baby As, Nyonya Hector menatap sang menantu dengan tatapan menyelidik. Rasa kesal tentu saja masih tersisa di hati wanita paruh baya itu karena ulah sang menantu.
Keduanya kini sama-sama duduk di sofa dengan saling berhadapan. Sesekali Satya melirik ke arah Mama mertuanya, perasaannya semakin merasa tak nyaman saat berhadapan dengan Nyonya Hector.
"Ekhm... Em... Papa di mana, Ma?" Tanya Satya memecahkan keheningan.
"Mengunjungi kantor, nanti siang pulang."
"Oh..." Jawab Satya singkat karena tak tahu lagi harus berbicara apa.
"Satya... Jelaskan pada Mama kenapa Kaili bisa terjatuh sampai tangannya cidera seperti itu? Apa tangannya patah? Separah apa tangannya?"
__ADS_1
"Tidak parah, Ma hanya patah ringan saja dokter mengatakan tak perlu melakukan operasi."
"Patah ringan? Huuuftt..." Suara hembusan napas dari Nyonya Hector menandakan dirinya cukup lega.
"Tapi bagaimana bisa terjadi? Jelaskan cepat pada Mama."
"Ya... Seperti yang istri saya katakan tadi Kaili terjatuh."
"Mama tahu cucu Mama jatuh tapi jatuh dari mana? Dari sepeda? Dari pohon pisang? Pohon cabai? Pohon tomat? Dari mana Satya?" Ucap Nyonya Hector kesal. Sebagian besar pohon yang ia sebutkan terinsipirasi dari beberapa benda yang ia temukan tadi di meja dapur.
Melihat mertuanya mulai kesal, mau tak mau Satya harus menceritakan semuanya mulai dari keribetan Kaila dalam berpakaian, baby As yang menangis dan tiba-tiba suara benda jatuh yang tak lain kursi bersamaan dengan Kaili. Pria itu menceritakan semua yang terjadi tanpa kesengajaan itu.
Nyonya Hector melirik sinis pada Satya, perasaan kesalnya semakin bertambah menjadi-jadi terhadap Satya. Sudah paham dengan aura dan ekspresi mertuanya maka Satya terus meminta maaf atas peristiwa yang tidak disengaja nya itu.
"Mulai sekarang lebih baik kalian tinggal di sini saja. Mama harus mengawasi kalian, bisa-bisa cucu-cucu Mama menderita semua gara-gara ulahmu." Semprot Nyonya Hector pada Satya.
"Sekali lagi Mama tahu ada cucu Mama yang terluka awas saja kamu, Satya. Mama juga sudah siapkan rumah untuk mereka jika kamu macam-macam."
"Rumah? Rumah apa maksud Mama?" Tanya Satya dengan rasa sedikit terkejut dan was-was.
"Rumah untuk cucu-cucu Mama. Kamu ingat ya Satya, Mama masih kecewa denganmu jadi awas saja jika putri Mama dan cucu-cucu Mama kenapa-kenapa gara-gara ulah kamu siap-siap saja kamu hidup sendiri tanpa istri dan anak-anak kamu. Kamu tahu kan jika istri dan anak-anak mu itu satu paket jadi jangan macam-macam."
Satya mati kutu jika sudah mendapatkan ancaman seperti itu dari sang mertua. Bagi pria itu Belva dan anak-anaknya adalah kehidupannya, mereka terlalu penting bagi kehidupannya Satya. Kunci kebahagiaannya terletak pada keluarga kecilnya.
"Ma... Saya tidak mungkin tega menyakiti dan membiarkan mereka kenapa-kenapa."
"Tidak mungkin bagaimana? Kamu lupa ingatan apa yang kamu lakukan kemarin huh?!" Ucap Nyonya Hector dengan mata mendelik.
"Semuanya sudah selesai, masalah sudah beres. Saya sudah jelaskan pada Belva jika semua itu hanya trik yang kami lakukan untuk menjebak pelaku kejahatan saja, Ma." Ucap Satya dengan wajah memelas pada Nyonya Hector.
"Terserah yang jelas Mama masih kecewa dan kesal padamu." Ucap Nyonya Hector mengakhiri percakapan mereka.
Satya menghela napas seakan mencari kelegaan diri setelah melihat Nyonya Hector pergi meninggalkan dirinya. Satya menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa, memikirkan apa yang telah dikatakan boleh Nyonya Hector. Dia memang harus lebih hati-hati dalam menjaga istri dan anak-anaknya, Nyonya Hector begitu menyayangi Belva dan anak-anaknya. Satya tahu jika Nyonya Hector tidak akan tinggal diam jika mengetahui apapun yang terjadi pada mereka.
Rencana awal yang hanya mampir untuk makan siang bersama sekarang berubah menjadi tinggal menetap di rumah besar Tuan Hector atas perintah sang Nyonya besar. Hingga berjalan beberapa hari Nyonya Hector masih menunjukkan kekesalannya pada Satya, apapun yang dilakukan boleh pria itu selalu salah di mata Nyonya Hector.
Akhir pekan adalah hari yang terasa spesial meski di hari-hari biasanya juga Tuan Hector lebih banyak di rumah. Namun, pria itu masih saja merasa akhir pekan adalah hari untuk beristirahat sejenak dari segudang pekerjaan.
Tuan Hector tengah menikmati pagi nya di taman belakang, membaca kabar berita apapun yang disajikan dari media elektronik. Secangkir teh juga sudah tersedia di atas meja bundar samping kursinya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Tuan Hector.
Satya tiba-tiba saja ikut duduk di sebelah meja bundar yang menampung secangkir teh milik Tuan Hector dengan wajah tertekuk lesu.
"Ini masih pagi, bagaimana bisa wajah seorang pemilik perusahaan besar seperti mu menampilkan wajah yang tak enak dipandang." Ucap Tuan Hector kembali.
"Pa, bisakah Papa bantu Satya jelaskan pada Mama mengenai masalah kemarin. Mama masih kesal pada saya, melakukan ini salah melakukan itu juga salah." Adu Satya pada Tuan Hector.
Tuan Hector menanggapi dengan tersenyum.
"Berapa bulan kalian tinggal di sini?" Tanya Tuan Hector.
"Sampai Belva melahirkan mungkin." Jawab Satya.
"Nikmati saja apa yang kamu rasakan dan hadapi saat ini. Saat kamu kembali ke Indonesia kamu tidak akan merasakan hal seperti ini lagi." Ucap Tuan Hector dengan sedikit terkekeh.
"Mamamu hanya meluapkan apa yang dia rasakan saja. Beberapa hari lagi juga semua akan baik-baik saja."
"Tapi apa selama ini jika Mama merasa kesal?" Tanya Satya.
Dari apa yang dia lihat serta apa yang dijelaskan oleh Papa mertuanya membuat Satya tahu bahwa istrinya mendapatkan perlindungan yang sangat kuat dari keluarga Hector. Kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Hector tak bisa dianggap remeh oleh Satya. Dia cukup lega dan merasa beruntung bahwa istrinya mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari keluarga Hector.
Saat mereka asik berbincang di taman belakang, sang asisten yang sangat setia pada majikannya itu datang menyapa dengan hormat. Roichi datang meluangkan waktu yang kebetulan jadwal pekerjaannya tidka cukup padat.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Roichi.
"Pagi, Roi... Apakah kedatangan mu ke sini untuk urusan pekerjaan?" Tanya Tuan Hector.
"Tidak, Tuan... Jadwal tidak terlalu padat maka saya datang berkunjung untuk menjenguk keadaan anda dan Nyonya."
"Jika kamu datang untuk kami maka bersikaplah seperti putraku manis." Ucap Tuan Hector tersebut.
Roichi hanya bisa tersenyum saya mendengar ucapan Tuan Hector. Sedangkan Satya hanya melirik Roichi saat Tuan Hector berbicara pada Roichi. Dia masih merasa sedikit frustasi dengan sikap Nyonya Hector padanya.
"Baiklah, Pa... Bagaimana kabar Papa?" Tanya Roichi.
"Ya... Seperti yang kamu lihat, Papa sehat dan bahagia saat ini karena putri dan cucu-cucu Papa ada di sini." Ucap Tuan Hector melirik Satya.
"Tuan Satya..." Sapa Roichi.
"Tidak perlu basa-basi." Ucap Satya.
"Hahaha... Bagaimana kabar mu? Ku dengar kamu baru saja bertemu dengan Vanthe" Tanya Roichi dengan terkekeh.
Satya membuang pandangannya dengan kesal, Mama mertuanya saja sudah cukup membuatnya pusing kini dihadapkan lagi dengan ejekan yang diberikan Roichi.
"Jangan memancingnya, Roi dia sudah cukup tersiksa dengan sikap Mama kalian." Ucap Tuan Hector.
"Kenapa? Apa Mama memarahi nya?" Tanya Roichi dengan wajah masih tersenyum semakin membuat Satya kesal.
"Kamu lihat saja nanti bagaimana sikap Mama kalian padanya. Sudahlah tidak usah dibahas, lebih baik kita memancing saja." Ajak Tuan Hector.
"Berganti lah pakaian, kita hibur Tuan Balakosa di pinggir sungai." Ucap Tuan Hector sembari menepuk bahu Satya.
***
Sementara di Indonesia tepatnya di sebuah apartemen, seorang wanita cantik dan dengan tubuh yang semakin terlihat menggoda karena berat badan yang semakin bertambah di masa kehamilannya itu kini tengah mengalami kebingungan dan kekhawatiran bahkan kerinduan yang setengah mati memuncak.
Perempuan itu adalah Siwi, bahkan setelah melakukan tes DNA wanita itu masih saja meyakini bahwa anak yang ia kandung adalah anak Satya. Ia selalu berpikir bahwa hasil tes DNA itu adalah hasil tes palsu yang direkayasa oleh pihak Satya.
Semua yang telah dilaluinya selama ini selalu bersama Satya menurut ingatan Siwi. Perasaan yang ia miliki masih sama bahkan dengan kehamilan yang ia jalani sekarang ini membuatnya semakin ingin bersama dengan Satya.
"Mas, kamu di mana sih? Aku dan baby kita sangat merindukanmu." Gumam Siwi.
"Kurang ajar si Jordi, dia tidak mau menurut denganku. Awas saja nanti jika anak ini memang benar anak mas Satya, aku harus segera mendesak mas Satya agar dia secepatnya menikah denganku dan orang yang pertama kali kutendang adalah asisten kurang aja itu." Ucap Siwi meluapkan rasa kesalnya.
Wanita itu kemudian bersiap-siap merapikan penampilan serta membawa perlengkapan yang ia butuhkan. Dengan mobil yang ia peroleh dari fasilitas yang diperuntukkan padanya, Siwi memulai perjalanannya ke suatu tempat.
Selang beberapa puluh menit wanita yang tengah hamil muda itu sampai. Di depan gerbang tinggi, ia bunyikan klakson mobilnya beberapa kali.
Tin...!!! Tin...!!!
Tiiinn!!! Tiiinn!!! Tiiinn!!!
Klakson mobil dibunyikan secara arogan membuat penjaga rumah merasa kesal dengan keberadaan mobil tersebut. Tergopoh-gopoh seorang pria tua yang tak lain adalah Pak Jajak penjaga rumah besar Satya itu menghampiri gerbang.
"Pak cepat buka gerbangnya!!" Teriak Siwi memerintah Pak Jajak.
__ADS_1
Pak Jajak hanya melirik kesal tanpa mau menjawab perintah dari Siwi. Dia sudah mengenal dan hafal dengan wajah Siwi yang beberapa kali datang ke rumah besar Satya.
Dibukakan nya pintu gerbang itu meski rasanya sangat malas sekali. Sudah bisa dia pastikan jika kedatangan wanita itu akan membuat ketenangan rumah besar Satya bubar jalan.
"Ada apa lagi wanita itu datang ke sini." Gumam Pak Jajak dalam hati.
Pak Amin yang menjadi teman kerja Pak Jajak pun ikut keluar dari pos penjagaan. Pria muda itu pun merasa penasaran dengan kedatangan Siwi meski dia juga tahu jika akan ada masalah di rumah tersebut.
"Itu wanita pembawa masalah kenapa datang ke sini ya, Pak?" Tanya Amin pada Pak Jajak.
"Tidak tahu, pasti bikin ulah lagi nanti dia."
Pak Amin mengangguk setuju dengan ucapan Pak Jajak, mereka sependapat dan sepemikiran saat melihat kedatangan Siwi.
"Pak, mas Satya belum pulang juga?" Tanya Siwi.
Wanita itu turun dari mobil dan menghampiri Pak Jajak dan Pak Amin. Kacamata hitam sengaja ia tarik ke atas kepalanya, penampilannya sangat terbuka hingga menampilkan kesan se*ksi. Gayanya terlihat angkuh sebelas dua belas dengan gaya mantan Nyonya di rumah besar Satya dulu.
"Tuan belum pulang, kami tidak tahu kapan Tuan kembali." Jawab Pak Jajak.
"Sebenarnya ke mana dia pergi? Kalian pasti tahu kan?"
"Kami tidak tahu, Nona." Jawab Pak Jajak kembali.
"Ck... Alasan..." Sungut Siwi.
Setelah mendapat jawaban dari Pak Jajak, ia tak kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi melainkan berjalan mendekati pintu utama rumah besar Satya.
Pak Jajak mengikuti langkah kaki Siwi, sejujurnya pria paruh baya itu begitu kesal dan ingin segera mengusir wanita itu tapi selalu ditahannya dan menciba bersabar.
"Nona, anda mah ke mana? Sebaiknya anda pulang saja." Ucak Pak Jajak masih menggunakan nada sopan dan lembut.
"Kamu berani mengusir saya? Saya akan menjadi Nyonya rumah ini ya, kamu jangan macam-macam dengan saya." Gertak Siwi.
"Tapi Tuan tidak ada di rumah lebih baik anda pulang saja."
"Ada atau tidaknya mas Satya saya berhak masuk rumah ini. Asal kamu tahu ya, Aya sedang mengandung anak mas Satya berapa kali harus saya jelaskan pada kalian huh?! Jadi saya berhak atas rumah ini, tahu kamu?!! Awa!!!" Suara Siwi sudah mulai kesal dan marah.
Sudah terdengar tidak sopan serta kasar bagi orang yang mendengarkannya. Pak Jajak menghela napas, masih mencoba bersabar sebab wanita tersebut memang beberapa kali mengaku tengah mengandung. Tidak mungkin bagi Pak Jajak untuk menyeret paksa yang nanti justru akan membahayakan kandungan wanita tersebut.
Siwi mencoba menerobos masuk pintu utama rumah tersebut tapi sayangnya pintu itu terkunci rapat. Siwi semakin kesal hingga ia melakukan tindakan yang cukup kasar menggedor pintu hingga menimbulkan suara gaduh.
Brak!!! Brak!!! Brak!!! Brak!!!
"Hei buka pintunya." Teriak Siwi.
"Kamu!! Bisakah kamu buka pintunya, saya mau masuk!" Tunjuk Siwi pada Pak Jajak.
"Tidak bisa, Nona pintu terkunci dari dalam." Ucap Pak Jajak.
"Panggil mereka untuk membuka pintunya cepat!!!" Titah Siwi dengan nada tinggi.
Pak Amin langsung menghampiri Siwi dan Pak Jajak saat mendengar suara gaduh.
"Nona, apa yang anda lakukan? Ini mengganggu kami, tolong bersikaplah sopan jika bertamu." Tegur Pak Amin.
"Mengganggu? Bertamu? Hei kamu siapa huh? Kami hanya pekerja rendahan di rumah ini jangan mengatur saya, kamu ya. Cepat suruh para pembantu itu membuka pintunya!"
"Lebih baik anda pulang, Nona. Jangan terus membuat keributan kembali di sini." Ucap Pak Amin.
Plak!!!
Satu tamparan dengan sekuat tenaga Siwi berikan pada Pak Amin. Penjaga rumah yang usianya memang dibawa Siwi itu merasa terkejut demikian dengan Pak Jajak.
"Siapa kamu berani mengusir saya? SAYA BERHAK DI RUMAH INI!!!"
Siwi begitu marah karena sedari tadi dirinya diusir oleh kedua penjaga rumah Satya. Perasaan ibu hamil yang begitu sensitif sangat mudah sekali membuat Siwi emosi. Ia sangat merindukan Satya dan ingin bertemu dengan pria pujaan hatinya tapi selalu gagal membuatnya tak lagi bisa bersabar.
"Dengar ya kalian!! Saya bisa melakukan apapun pada kalian jika kalian terus menghalangi saya!!" Ucap Siwi penuh emosi.
Mbok Yati dan Janis yang sedang keluar rumah dari pintu samping pun melihat perselisihan yang terjadi di depan rumah Satya. Kedua perempuan itu juga merasa geram dengan perbuatan Siwi. Mereka berjalan cepat menghampiri Pak Jajak dan Pak Amin.
"Nona, apa yang anda lakukan? Anda sangat tidak sopan sekali." Tegur Mbok Yati.
"Heh diam kamu wanita tua!!" Ucap Siwi.
Plak!!!
Kembali satu tangan melayang menghampiri pipi meski tak sekeras sebelumnya. Bukan lagi Pak Amin yang terkena tamparan itu melainkan pipi mulus Siwi yang terkena tamparan dari Janis.
Mata indah berwarna biru itu melotot karena terkejut mendapatkan tamparan. Tapi sayangnya mata itu hanya mata palsu karena terhias oleh kontak lensa yang menunjang penampilannya saja.
"Kamu!! Kurang ajar!!!"
Siwi hendak membalas tamparan dari Janis tapi langsung ditangkis oleh Janis dengan cepat.
"Kamu memang pembuat onar pembuat masalah di rumah ini!!! Untuk apa lagi kamu datang ke rumah ini, dasar tamu tidak tahu malu, pergi sana!" Usir Janis.
Sudah cukup muak dan kesal Janis dengan sikap Siwi yang datang hanya untuk membuat keributan saja. Terlebih mengingat kepergian majikannya itu akibat dari ulah wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Pak, kenapa kalian diam saja melihat kedatangan biang rusuh ini seharusnya kalian jangan bukakan pintu gerbang untuknya." Protes Janis pada kedua penjaga rumah Satya.
"Pak Amin juga kenapa diam saja di tampar wanita tidak tahu diri ini. Memang dia siapa berani berbuat seenaknya di sini, dia hanya karyawan tidak tahu diri dan tidak tahu malu saja." Omel Janis meluap kekesalannya.
"Amin... Jak... Sebaiknya kalian bawa dia pergi dari sini. Janis, tenanglah Nak. Ayo Min sana." Ucap Mbok Yati.
Wanita tua itu mengibaskan tangan pertanda agar mereka segera membawa Siwi pergi dari halaman rumah Satya.
"Heh enak saja kalian mengusir saya!!!" Teriak Siwi sembari berusaha meraih Janis ataupun Mbok Yati untuk melampiaskan amarahnya.
"Diam kamu!! Pergi sana!! Pak kalau kalian tidak bawa dia pergi sekarang jangan salahkan saya ya kalau saya berbuat lebih kasar." Ucap Janis.
Tak ingin terjadi kericuhan yang lebih rumit lagi akhirnya Pak Jajak dan Pak Amin berusaha membawa Siwi meski wanita itu terus memberontak. Tapi kedua pria itu tetao bersikap hati-hati terhadap Siwi yang sedang hamil.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Ada yang kangen sama Siwi gak ? Hahaha gimana-gimana Siwi bikin greget gak hehe
Part yang gimana nih yg kalian tunggu² ??
Btw, thanks banget buat yg masih menunggu kelanjutan Mami Belva + Om Satya. Terimakasih sangat banyak² buat kalian yg masih setia support author, kasih Like, Komen, Kembang setaman dan Vote 🙏🙏🙏
Sehat selalu bahagia selalu dan lancar jaya rejekinya buat kalian semua. Amiinn 😇
__ADS_1