Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 96. Desas-desus


__ADS_3

Belva tak menghiraukan Satya kembali jam berapapun. Dirinya lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang bersama kedua anaknya. Lelah seharian bekerja dan dan masih mengurus Duo Kay yang sudah menjadi kewajibannya membuat wanita itu lebih cepat untuk tertidur pulas.


Setengah jam setelah Belva benar-benar pulas, pintu apartemen terbuka. Satya pulang dengan keadaan lelah. Dia langsung masuk menuju kamarnya. Manik matanya mengedar kan pandangan ke segala arah sudut kamarnya. Kosong tidak ada siapapun di dalam sana.


"Kemana dia ?" Batin Satya mencari Belva yang tak terlihat di dalam kamarnya.


Dibukanya kamar mandi pun tidak ada tanda-tanda wanita itu berada disana. Masih mencari Satya memasuki kamar dua anaknya. Ternyata ibu dan anak sudah tertidur pulas di atas ranjang berukuran besar yang memang cukup untuk mereka.


"Apa dia ketiduran disini ?" Gumam Satya.


Pria itu mendekati ranjang Duo Kay, dikecupnya satu persatu kening anak-anaknya. Demikian juga kening Belva, meski dirinya ditolak oleh wanita itu tapi bagaimana bisa dirinya melupakan Belva secepat itu. Tentu saja tidak bisa, bahkan banyak di dunia ini yang akan merasa kesulitan untuk melupakan seseorang yang mereka cintai.


Tak ingin menggangu waktu istirahat ibu dan anak itu, Satya kembali keluar dari kamar. Tapi sebelum itu dirinya merapikan selimut yang menutupi Belva dan anak-anaknya. Dia ingin membersihkan diri. Tubuhnya sudah terasa lengket dan gerah.


Selesai membersihkan diri pria itu membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Seperti biasa dia selalu bertelanjang dada saat tidur. Kedua tangannya di letakkan di belakang kepala, manik matanya menatap langit-langit kamar. Mengingat hubungannya kini dengan belva yang merenggang akibat sebuah penolakan yang dirinya terima. Tak hanya itu Satya juga memutar kembali ingatan nya saat bertemu teman wanitanya tadi.


"Satya, terimakasih sudah meluangkan waktumu untuk ku."


"Santai saja." Ujar Satya tersenyum tipis.


"Kamu sudah menikah lagi ? Jordi bilang kamu bercerai dengan Sonia."


"Belum." Jawab Satya singkat.


Wanita itu tersenyum mendengar jawaban Satya lalu beralih menatap pergelangan tangannya.


"Mau pulang ?" Tanya Satya. Wanita itu mengangguk.


"Bisa minta tolong antarkan aku ?"


"Tentu saja." Jawab Satya.


Satya tak menyangka sekian lama bisa kembali bertemu dengan wanita itu. Satu kenangan yang tak pernah dia lupakan saat masa SMA dulu. Mengenang bagaimana masa lalu wanita itu dalam hal asmara.


Perlahan mata berwarna hazel itu mulai terasa berat hingga kelopak matanya kian lama menutup. Satya sudah tenggelam dalam mimpinya malam ini.


Tak terasa waktu berputar hingga malam berganti pagi. Belva dengan kebiasaannya bangun pagi-pagi buta untuk mempersiapkan makanan untuk kedua buah hatinya dan juga Satya. Tak hanya itu Belva juga membersihkan beberapa ruangan apartemen khususnya kamar Duo Kay.


Hal pertama setelah pekerjaan ibu rumah tangga itu selesai. Belva mengurus kedua anaknya, membangunkan mereka.


"Sayang, ayo bangun... Sudah pagi."


Dengan lembut Belva membangunkan Duo Kay. Kedua bocah itu menggeliatkan tubuhnya.


"Emh... Masih mengantuk Mami." Rengek Kaila.


Sedangkan Kaili kembali memilih tidur tanpa merengek masih mengantuk.


"Bangun dong nak... Hari ini ada kan sekolah kalian ada kegiatan jalan-jalan di taman dekat sekolah. Masa kalian tidak mau ikut, pasti Donny dan Farel serta Yossy juga menunggu kalian nanti."


Bujuk Belva pada kedua anaknya. Dengan masih terkantuk-kantuk dua bocah itu kembali bangun. Sebenarnya masih sangat mengantuk karena mereka tidur lebih lambat dari biasanya demi menunggu kepulangan Satya.


Dengan bantuan Belva, mereka bersiap-siap. Mata mereka sudah lebih segar setelah mandi. Seragam sudah rapi menempel pada tubuh kecil Kaili dan Kaila.


Seperti biasa setelah mengurus Duo Kay, Belva langsung mandi dan bersiap untuk berangkat ke butik. Seperti kemarin Belva mandi di kamar mandi Duo Kay dan baru mengambil pakaian ganti di kamar Satya.


Ternyata pria duda itu masih pulas tidur di atas ranjang. Belva sudah mulai terbiasa melihat pria itu tanpa menggunakan bajunya.


Belva mendekati lemari dan mengambil pakaiannya. Lalu dirinya membangunkan Satya, tumben sekali pria itu bangun se-siang ini. Ditepuk pelan lengan Satya oleh Belva agar pria itu terbangun.


"Bangun Om, sudah siang."


Hingga tiga kali Belva membangunkan Satya, perlahan mata Satya mengerjap karena merasa terganggu tidurnya. Pertama kali yang terlihat oleh manik mata hazel itu adalah wajah cantik Belva.


"Sudah siang, kamu tidak ke kantor ?" Tanya Belva.


"Hem..."


Hanya deheman yang keluar dari bibir Satya. Dia bangun dari ranjangnya, menyibakkan selimut tebalnya lalu turun dari ranjang. Tanpa kata Satya melewati Belva begitu saja.


Pun wanita itu juga hanya bisa terdiam dan menatap punggung kekar Satya yang berlalu dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Helaan napas terdengar dari Belva. "Sudahlah lebih baik siap-siap." Ucap Belva menghendikan bahunya. Ia cuek dengan sikap Satya yang kembali dingin dan cuek padanya.


Kedua orang tua Duo Kay itu kini sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing mempersiapkan diri untuk bekerja. Belva bergerak cepat agar bisa melayani kedua anaknya untuk sarapan pagi.


Satya, dia lagi-lagi tak menerima bantuan Belva untuk ngambil makanan. Dirinya lebih memilih mengambil makanan sendiri. Dan Belva pun lagi-lagi juga tak mengeluarkan suara apapun atas sikap Satya.

__ADS_1


"Sayang, hari ini Mami bawakan bekal udang goreng dan sosis bakar. Ada sayur tumis sawi hijau."


"Oke Mami, besok bawakan ayam goreng ya ? Tadinya hari ini mau ayam goreng." Ucap Kaili.


"Oke sayang. Kamu tidak ada permintaan dari tadi malam jadi Mami masak bahan yang ada saja."


"Mami, hari ini kami pulang lebih cepat loh." Ucap Kaili.


"Oh ya ? Oke nanti Mami jemput kalian." Ucap Belva dengan senang hati.


***


Satya masih sibuk mengantar kedua anaknya serta Belva. Meski dirinya bersedia mengantar Belva tapi tidak ada kegiatan atau percakapan apapun diantar mereka. Bahkan saat mengantar Duo Kay sekalipun tak ada obrolan diantara Satya dan Belva.


Keduanya memilih diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan, banyak hal dalam hidup mereka yang harus mereka urus. Tapi mengenai hubungan mereka yang merenggang itu tak luput dari pemikiran mereka.


"Terima kasih sudah mengantar." Ucap Belva sebelum keluar dari mobil.


"Hem..." Jawab Satya.


Belva tak lagi membalas percakapan yang terbilang tak berniat untuk berlanjut. Jawaban Satya sudah cukup menandakan bahwa tak perlu lagi bersuara. Wanita itu keluar dari mobil dengan wajah yang biasa-biasa saja.


Di kantor Satya, seorang wanita sudah menunggu. Ia menunggu di sofa luar ruangan Satya. Pria itu selalu tak bersedia jika ada orang lain menunggu di dalam ruangan nya jika dirinya sedang tidak ada di tempat.


Dengan sabar wanita itu menunggu kedatangan pria duda nan tampan itu. Grace hanya menatap wanita itu dengan penuh tanya. Wanita yang ada dihadapannya itu sejak kemarin mengunjungi Satya.


"Siapa wanita itu ? Apa dia wanita yang sedang dekat dengan Tuan yang membuat pria dingin itu selalu tersenyum beberapa hari yang lalu." Batin Grace.


"Tapi anak-anak kecil itu siapa ya ? Mereka memanggil Tuan dengan sebutan Daddy. Apa itu anak dari wanita itu yang artinya pengganti si Nela ?" Batin Grace kembali bergumam.


Satya tiba di kantornya, baru saja keluar dari lift pria itu sudah di sambut dengan senyuman manis dan ramah dari teman wanitanya.


"Satya... Kamu sudah datang."


"Kamu sudah sejak tadi Ran ?" Tanya Satya.


Wanita itu mengangguk. "Em ya... Hampir satu jam aku menunggu mu. Mungkin wajah ku akan timbul keriput jika kamu tak kunjung datang."


Satya tersenyum tipis. "Ayo masuk." Ajak Satya.


"Pagi Grace." Sapa Satya pada sekertarisnya.


Sedang teman wanita Satya hanya tersenyum dan mengangguk pada Grace.


Satya dan teman wanitanya itu masuk ke dalam ruangan. Cukup lama mereka berada di dalam ruangan Satya. Lalu mereka berdua keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju lantai bawah.


Grace sempat melihat Satya tersenyum tipis saat bersama wanita itu. Ia meyakini jika memang wanita itu adalah seseorang yang sedang dekat dengan bos-nya.


Kedua orang itu menjadi pusat perhatian para karyawan saat berjalan melintasi koridor kantor. Banyak dari mereka yang merasa penasaran pada Satya dan juga teman wanita Satya. Karena sejak kemarin mereka selalu bersama. Desas desus Satya yang sudah bercerai memang sudah terdengar saat terjadi keributan yang dilakukan oleh Sonia di kantor Satya.


Entah Satya dan temannya itu pergi kemana tidak ada yang tahu. Mereka hanya keluar dari kantor berdua saja. Grace yang merasa lapar memilih turun menuju kantin tapi sebelum ke kantin wanita cantik dan seksi itu mampir ke toilet.


Terdengar kasak-kusuk gosip yang sedang dibicarakan oleh beberapa karyawan wanita di dalam kamar mandi.


"Wanita cantik tadi kira-kira siapanya si bos ya ? Mereka terlihat cukup akrab."


"Aku melihatnya sedari kemarin berada.di kantor ini. Tak hanya itu saja, kemarin Tuan Satya juga datang bersama dua anak kecil dan wanita itu dan anak-anak itu memanggil Tuan Satya dengan sebutan Daddy loh."


"Wah jangan-jangan setelah bercerai dengan istrinya si bos menjalin hubungan dengan wanita itu pasti dia janda dengan dua anak itu."


Grace mendengar semua desas-desus di toilet. Dirinya pun sepemikiran dengan para karyawan itu. Mengingat perkataan Jordi yang waktu itu mengatakan jika bos-nya mendapatkan jatah malam hingga wajah pria dingin itu berubah lebih sumringah saat itu.


"Tidak salah lagi, sejauh itu kah hubungan mereka ? Apa jangan-jangan perceraian tuan dengan istrinya karena wanita itu." Batin Grace.


"Eh Nona Grace... Anda disini ? Jadi benar ya Tuan Satya sedang menjalin hubungan dengan janda dua anak itu ?" Tanya salah satu karyawan.


Grace menghendikan bahunya tapi juga mengangguk-anggukkan kepala. "Mungkin saja, Tuan Satya sudah bercerai jadi bebas saja dirinya mau menjalin hubungan dengan siapa pun." Ujar Grace.


"Wah jadi itu benar..."


"Aku tidak membenarkan tapi itu bisa saja terjadi." Ujar Grace meluruskan perkataan nya.


Pada siang hari menjelang kepulangan Duo Kay, Belva sudah bersiap untuk menjemput Duo Kay. Menggunakan mobilnya Belva melaju ke sekolahan elit itu.


Tapi sampai di sekolah Belva merasa keadaan sekolah sudah sepi. Belva bingung lalu bertanya pada satpam sekolah.


"Permisi Pak, kok sekolah sudah sepi ya ?" Tanya Belva.

__ADS_1


"Iya Nona, anak-anak sudah pulang semua di jemput oleh orang tua masing-masing."


"Loh ? Tapi saya baru saja mau jemput anak-anak saya lho Pak." Ujar Belva.


"Anak Nona yang kembar itu kan ? Laki-laki sama perempuan ?" Tanya Satpam.


"Iya Pak benar."


"Oh mereka tadi sudah dijemput sama laki-laki dan perempuan. Tadi sih katanya laki-laki itu Daddy nya."


"Daddy nya ?" Gumam Belva.


"Sebentar Pak. Apa ini orang nya ?" Tanya Belva menunjukkan foto Satya yang dilihatnya dari internet.


"Ah iya itu Nona, tadi Tuan itu yang jemput bersama seorang wanita cantik."


"Wanita cantik ? Siapa ?" Batin Belva.


"Baik Pak, terima kasih ya. Saya pamit dulu."


"Mari Nona silahkan." Ujar satpam.


Belva melajukan mobilnya keluar dari sekolah Duo Kay. Pikirannya melayang pada kedua anaknya yang telah dijemput oleh Satya dan seorang wanita cantik yang tak tahu siapa orang itu.


Merasa kurang lega Belva memutuskan menghubungi Satya. Tapi tak diangkat oleh pria itu. Entah sejak kejadian penolakan itu Satya lebih memilih menghindari Belva.


"Kok tidak diangkat. Sekarang sering sekali seperti itu." Gumam Belva.


Jordi satu-satunya orang yang bisa diandalkan saat ini. Dari pria itu Belva bisa mendapatkan kabar dari kedua anaknya. Satya membawa kedua anaknya ke kantor. Dan mengantarkan dua bocah itu kembali ke apartemen saat sore hari dengan memerintahkan Jordi.


Sama seperti kemarin Satya tak pulang bersama anak-anak nya. Lagi-lagi Belva mendengar cerita dari Duo Kay jika mereka kembali bertemu dengan teman wanita Satya. Duo Kay juga selalu menunggu Satya pulang tapi tak pernah bisa bertemu karena mereka sudah terlelap sebelum Satya kembali.


Hal itu terjadi berulang jika dihitung mungkin sudah hampir satu minggu berturut-turut Duo Kay selalu menunggu Satya hingga terlelap.


Belva merasa kasihan pada anaknya itu. "Seharusnya jika marah padaku jangan memberikan imbas pada anak-anak." Belva bermonolog sembari menatap wajah kedua anaknya.


Menurut wanita itu jika dirinya yang salah tak perlu berimbas pada dua anaknya. Tak masalah jika Satya tak menegurnya ataupun marah padanya. Meski ia merasa tak nyaman dan ingin sekali rasanya keluar dari apartemen Satya dengan membawa Duo Kay.


Tak tegur sapa dan diam berlangsung susah satu minggu lebih sejak kejadian penolakan itu. Pada awalnya Belva merasa biasa saja, tak menghiraukan dan juga cuek. Tapi semakin lama dirinya merasa tak nyaman terlebih melihat perubahan Satya juga beriman pada Duo Kay.


Saat ini Belva melakukan pertemuan dengan Nyonya Dimitri di sebuah cafe di salah satu pusat perbelanjaan. Pertemuan yang seharusnya dilakukan beberapa hari yang lalu terpaksa diundur karena kondisi Azura putri Nyonya Dimitri sedang drop.


"Nyonya anda sudah datang ?" Sapa Belva.


"Nona Vanthe maaf kami terlambat. Kondisi Azura masih sedikit lemas tapi dia memaksa untuk ikut membahas gaun pernikahan nya." Ucap Nyonya Dimitri.


"Tidak apa-apa Nyonya. Tapi kenapa kita tidak bertemu di butik saja ? Lebih nyaman untuk Nona Azura juga."


"Rencananya memang seperti itu, tapi karena ada perubahan jadwal. Tadi aku harus bertemu dengan teman lamaku, di mall ini juga maka dari itu aku meminta mu untuk datang ke sini saja. Maaf membuatmu repot."


"Tidak apa-apa Nyonya santai saja." Ujar Belva.


Azura tampak lebih banyak diam karena masih merasa belum pulih dengan benar. Dirinya memaksakan diri agar bisa bertemu dengan Belva. Mereka bertiga berbincang membahas gaun pernikahan yang baru lima puluh persen berjalan. Belva memperlihatkan beberapa video proses pembuatan gaun pernikahan Azura. Atas permintaan Nyonya Dimitri, Belva rutin merekam proses pembuatan gaun tersebut.


Azura yang tadinya tampak lemas kini sedikit bersemangat melihat proses demi proses gaunya di buat. Senyum terkembang pada bibir ketiga wanita itu. Tapi tak sengaja Belva melihat sosok yang cukup dikenalnya.


Matanya menyipit memastikan yang dilihatnya benar-benar orang yang ia kenal. "Om Satya." Batin Belva.


Ia melihat Satya sedang berjalan bersam seorang wanita cantik yang usianya tak jauh berbeda dari Satya tapi terlihat lebih muda wanita itu. Ia juga melihat Satya tertawa saat berbincang dengan wanita itu.


Melihat hal itu tiba-tiba dari sudut hatinya ada yang aneh dirasakannya. Ia merasa tak suka jika Satya berjalan hanya berdua saja dengan wanita itu.


"Maaf Nyonya... Saya permisi ke toilet sebentar." Pamit Belva.


"Oh iya silahkan Nona." Ucap Nyonya Dimitri.


Belva berjalan cepat, tujuan nya bukan ke toilet melainkan penasaran dengan Satya dan juga wanita itu.


"Apa wanita itu yang selalu diceritakan oleh Kaili dan Kaila ?" Batin Belva.


Satya dan wanita itu masuk ke dalam sebuah restoran. Belva dengan rasa penasarannya masih mengikuti Satya.


"Mereka masuk ke dalam ruangan private room. Bagaimana ya ? Nekat atau tidak ? Kalau nekat terus dilarang sama karyawan restoran bagaimana ? Tapi kalau tidak, aku penasaran." Gumam Belva sangat lirih sembari mengigit bibir bawahnya. Alisnya berkerut, ia sedang berpikir keras saat ini.


****


To Be Continue...

__ADS_1


Haii... Haii.. my dear para readers ku.


Terimakasih masih selalu setia support author. Komentar kalian benar-benar dah yaaaa bikin author semangat sekali buat up setiap hari. Meski mata udah berat tetep semangat lanjut biar bisa up buat kalian. Thank youuu 🙏🙏🙏


__ADS_2