
Terjadi keributan di luar hingga terdengar sampai dalam. Beberapa pengunjung serta karyawan ada yang langsung keluar untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Anggi dan Nona Azura yang sedang berada di dalam pun merasa terusik. Putri dari Nyonya Dimitri itu masih mengenakan gaun pengantinnya.
"Nona, saya seperti mendengar suara orang bertengkar di luar."
"Iya Nona, sepertinya memang ada keributan di luar. Mungkin para tukang parkir atau pengamen yang sedang selisih paham." Ujar Anggi.
Merasa biasanya pasti akan terjadi keributan diantara orang-orang tersebut jika ada gesekan kecil saja karena perilaku mereka yang lebih sering menggunakan fisik daripada pemikiran.
Dengan masih memakai gaun pengantin nya Nona Azura memilih keluar. Ia merasa penasaran bahkan perasaannya merasa tidak tenang. Tanpa mengatakan apapun Nona Azura langsung keluar begitu saja yang tentu membuat Anggi terkejut.
"Nona, anda mau kemana?!" Panggil Anggi tapi Nona Azura tetap berjalan keluar dengan langkah yang cukup kesulitan.
Di luar butik ketiga orang yang sedang dalam keadaan diliputi emosi dan marah pun berdebat hingga ada aksi saling dorong. Marko yang tidak terima karena tiba-tiba di pukul pun langsung beranjak mendorong Satya.
"Berengsyek!! Apa-apaan anda main pukul sembarangan"
"Anda yang apa-apaan seenaknya jalan bersama pasangan orang lain." Satya yang masih diliputi emosi hendak melayangkan pukulannya pada Marko kembali.
"Mas!!!" Pekik Belva.
"Honey!!!"
Pekikan kedua wanita terdengar sangat jelas hingga menghentikan aksi Satya dan membuat ketiga orang yang terlibat keributan itu langsung menoleh ke arah belakang Belva.
Yaa... Nona Azura berlari kecil dengan tertatih dan kesulitan akibat gaun pernikahan nya. Wajahnya sudah tampak panik melihat sang calon suami terlibat keributan.
"Honey, apa yang terjadi?"
"Darling."
Sontak cekalan Satya pada kerah baju Marko mengendur. Hal itu terasa oleh Marko, merasa dalam keadaan bebas dari cengkraman bahaya maka pria itu langsung membalas bogem mentah yang Satya layangkan padanya.
Bugh!!
"Aaa!!" Jerit Belva dan Nona Azura.
Cekalan Satya benar-benar terlepas, pria beranak dunia itu yang kini bergantian terhuyung mundur.
"Mas!!!" Belva langsung menghampiri Satya.
Terkejut dan nyeri yang Satya rasakan kala bogem mentah juga didapatkan nya dari Marko.
"Anda!!!" Satya tak terima dengan tatapan tajam dan kemarahan dia hendak membalas kembali tapi di tahan oleh Belva.
"Mas, stop!! Hentikan." Pekik Belva
"Honey, cukup!!" Pekik Nona Azura.
Dua wanita itu berusaha untuk menghentikan aksi para pria mereka yang tengah berkelahi. Para pengunjung yang menyaksikan keributan itupun langsung membubarkan diri saat karyawan Belva menghalau mereka untuk membubarkan diri.
"Mas, kamu apa-apaan sih main pukul sembarangan." Ucap Belva kesal dan emosi.
Ia merasa malu dan tidak enak hati dengan Marko dan juga Nona Azura.
"Apa-apaan bagaimana? Kamu yang apa-apaan jalan bersama pria lain di belakang ku." Satya tetap berada dalam kendali emosinya.
Belva hanya diam saja, ia tahu suaminya sedang dalam keadaan tak stabil karena emosi yang masih mendominasi.
"Kita masuk ke dalam." Ujar Belva.
Keempat orang itu masuk ke dalam dan masuk ke ruangan Belva yang kosong. Belva tak membawa sang suami naik ke lantai atas karena ada anak-anak mereka yang pasti akan bertanya ini itu.
"Duduk, mas." Ucap Belva dengan menahan kekesalan nya.
Marko dan Nona Azura duduk di sofa yang berbeda dengan Satya. Belva mengambil kotak obat yang ada di dalam ruangan Bella, meletakkan kotak obat itu di atas meja.
"Nona, obati dulu memar di wajah Marko." Ujar Belva dan Nona Azura mengangguk dengan wajah yang masih cemas.
Kedua wanita itu mengobati luka memar pada wajah pasangan masing-masing.
"Ssshh... Sakit yank." Desis Satya.
"Tahan." Ucap Belva.
Hal yang serupa juga terjadi diantara pasangan Marko dan juga Nona Azura.
"Darling, pelan-pelan." Ucap Marko dengan wajah meringis.
"Iya sabar tahan dulu, honey. Pasti sakit sekali." Ucap Nona Azura yang ikut meringis seolah ikut merasakan apa yang calon suaminya rasakan.
Mereka selesai mengobati pasangan masing-masing. Marko hanya melirik sekilas pada Satya dengan tatapan tak suka selebihnya pria itu tak ingin menatap Satya rasa kesal, malas dan marah menempel pada hati pria itu.
Satya pun sama hanya melirik sekilas dengan tatapan tajam. Pria itu masih emosi meski sebenarnya ada rasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Nona, saya permisi untuk mengganti pakaian terlebih dahulu. Besok kita lanjutkan lagi pembicaraan mengenai gaun pengantin ini." Ucap Nona Azura.
"Ah Nona, saya minta maaf atas kejadian ini dan membuat anda tidak nyaman. Saya benar-benar minta maaf." Ucap Belva dengan penuh sesal.
"Tidak apa-apa, saya permisi dulu. Honey, kamu mau ikut menemaniku atau tetap disini?" Tanya Nona Azura pada Marko.
"Biar aku temani, darling. Vanthe, aku permisi." Ujar Marko.
"Marko, aku minta maaf. Aku..."
"Tidak masalah, kamu tak perlu meminta maaf karena ini bukan salahmu."
Marko tahu jika itu bukanlah salah Belva, tentu saja wanita itu tak akan merencanakan hal yang memalukan dan merugikan orang lain seperti itu. Nona Azura dan Marko meninggalkan Belva dan Satya di dalam ruangan Bella. Calon pasangan pengantin itu kini berpindah ruangan ke ruangan yang tadi digunakan Nona Azura untuk mencoba gaun pengantinnya.
Di dalam ruangan Bella, Satya dan Belva masih sama-sama terdiam. Belva lebih sibuk membereskan kotak obat untuk dikembalikan ke tempatnya semula.
"Yank." Panggil Satya yang tak tahan terus-menerus saling diam.
"Apa yang kamu lakukan, membuat klien ku merasa tak nyaman di butik ku."
Satya memejamkan matanya, "Apa saya salah jika saya marah melihat istri saya jalan bersama pria lain?"
Satya terlihat masih emosi bahkan pria itu mengubah cara bicaranya terhadap sang istri.
"Lalu bagaimana dengan kamu yang bahkan melakukan hal yang lebih dari apa yang aku lakukan." Ucap Belva kembali menyudutkan Satya.
"Kamu salah paham saya tidak memiliki niat melakukan hal itu."
"Salah paham? Itu pun yang terjadi saat ini. Kamu main pukul sembarangan hingga membuat klien ku merasa tak nyaman. Kamu datang-datang membawa masalah lebih baik kamu pulang saja." Ucap Belva.
Satya menghela napas, berusaha meredam emosinya. Dia tidak ingin bertengkar dengan sang istri, niatnya tak menemui sang istri selama satu minggu ini adalah untuk meredam emosi mereka tapi rupanya gagal begitu saja saat Satya melihat sang istri pergi dengan pria lain.
"Kita pulang." Ujar Satya membuat keputusan.
"Kamu tidak lihat aku masih harus mengurus kekacauan yang kamu buat." Belva menolak dan tak terima dengan keputusan Satya.
"Kita pulang sekarang." Ucap Satya dengan tatapan tajam pada Belva dan dengan nada yang pelan namun terdengar tegas.
Rahang Belva sedikit mengeras guna menahan emosi di dalam hatinya. Mau tak mau Belva harus menurut dengan sang suami.
"Aku tidak ingin bertengkar karena ada anak-anak bersama kita." Ujar Belva.
"Kemasi barang-barang mu dan anak-anak sekarang." Ucap Satya tak ingin dibantah.
Aura sang suami yang sangat khas seorang pemimpin perusahaan sudah terasa oleh Belva. Tegas dan dingin tak ingin dibantah sama sekali.
Belva keluar ruangan Bella dengan diikuti oleh Satya. Beberapa pasang mata mencoba mencuri pandang dengan kedua orang tersebut hingga mereka menghilang di lantai dua.
Ceklek...
Bella dan Duo Kay langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat kedua orang tua Duo Kay masuk dengan wajah tersenyum ke arah mereka.
"Daddy." Panggil Kaila.
"Hai sayang. Sedang apa?" Tanya Satya dengan senyum ramahnya pada sang putri.
"Sedang gambar." Ucap Kaila.
Gadis kecil itu selalu mengatakan jika membuat sketsa desain itu adalah menggambar.
Satya mengangguk dan tersenyum, tatapan mata Satya beralih pada Kaili.
"Hai jagoan, kamu sedang apa?"
__ADS_1
"Gambar juga." Jawab Kaili.
"Kalian benar-benar hobi menggambar hemm." Ujar Satya.
Duo Kay mengangguk secara bersamaan.
"Sayang, kemasi barang-barang kalian kita pulang sekarang." Ujar Belva.
"Bella, tolong handel butik hari ini ya. Aku ada keperluan." Lanjut Belva pada Bella.
"Iya, tenang saja." Jawab Bella yang sebenarnya belum tahu jika terjadi keributan di luar karena dirinya menutup pintu ruangan khusus Belva untuk menemani Duo Kay saat terjadi keributan tadi.
Belva membantu Duo Kay membereskan barang-barang kedua bocah itu.
"Kami pulang dulu, Bel." Ujar Satya
Bella mengangguk.
"Bella, titip butik maaf merepotkan mu lagi." Ujar Belva.
"Tidak apa, ini bagian dari pekerjaan ku. Kalian berhati-hati lah." Ujar Bella.
Keluarga kecil Satya berjalan keluar butik bersama-sama. Bella sempat merasa aneh dengan wajah Satya yang tampak sedikit memerah dan bengkak tapi ia tak mau menanyakan hal itu pada Satya.
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan antara Satya dan Belva hanya ada celotehan dari Duo Kay seperti biasa jika kedua orang tua mereka hanya diam saja.
"Daddy, kita jalan-jalan dulu ya." Pinta Kaila.
"Iya Dad, kemarin Mami bilang Daddy sedang sibuk di luar kota jadi kita tidak jadi pergi jalan-jalan bersama." Ucap Kaili mengingat satu minggu yang lalu.
Mendengar permintaan dan keluhan kedua anaknya membuat Belva merasa bersalah karena telah berbohong kepada mereka demi menutupi permasalahannya dengan Satya. Begitu pula Satya, pria itu sedikit melirik pada istrinya ada perasaan yang sama bersalahnya sama seperti sang istri. Hanya karena permasalahan orang dewasa kedua anaknya menjadi terabaikan.
"Maaf sayang, untuk hari ini kita tidak bisa jalan-jalan. Daddy dan Mami ada urusan penting jadi kami harus membereskannya terlebih dahulu baru besok kita bisa jalan-jalan. Kalian titip dulu ke rumah Uti ya."
Belva sedikit terkejut dengan keputusan Satya secara sepihak itu tapi dirinya sadar jika ada kedua anaknya itu juga tidak baik bagi mereka jika tiba-tiba saja mendengar pertengkaran kedua orang tua mereka.
"Oh... Memang Daddy dan Mami mau pergi?" Tanya Kaila.
Raut wajah Kaili terlihat sedih dan kecewa karena tidak bisa jalan-jalan bersama kedua orang tuanya akhir-akhir ini.
"Iya sayang, maaf ya. Nanti jika urusan Daddy dan Mami sudah selesai kami akan menjemput kalian di rumah Uti."
"Apa kalian akan lama pergi nya?" Tanya Kaili.
"Semoga saja tidak." Jawab Satya.
Duo Kay hanya bisa mengangguk lagi, mereka menurut saja dengan ucapan sang Daddy. Tidak ada terdengar nada bercanda dalam suara Satya, Duo Kay paham jika kedua orang tuanya memang sedang dalam urusan yang penting.
Belva sedari tadi hanya diam saja, Ia tidak berniat untuk ikut berbicara dengan memberikan kebohongan lagi untuk kedua anaknya. Ia sudah merasa bersalah hingga membuat Duo Kay kecewa dan sedih. Ia tahu akan hal itu dengan melihat wajah kedua anaknya.
Sampai di rumah minimalis Belva, mereka turun. Satya menggendong Kaila dan Belva menggandeng Kaili. Mereka memasuki halaman rumah Belva. Budhe Rohimah yang sedang menonton televisi merasa mendengar ada suara mobil berhenti di depan rumahnya lantas berdiri dan hendak memantau mobil siapa itu. Ternyata keluarga kecil Satya yang datang berkunjung maka dibukakannya pintu rumahnya.
"Nduk... Nak Satya kalian datang. Kamu tidak ke butik Nduk?"
"Budhe, ini baru saja dari butik." Jawab Belva.
"Ohh, lalu ada apa datang kemari?" Tanya Budhe Rohimah yang merasa penasaran. Siang ini seharusnya Belva masih berada di butik tapi justru datang bersama anak dan suaminya.
"Ibu, maaf sebelumnya kami akan merepotkanmu. Kami titip anak-anak sebentar, apakah bisa?" Ujar Satya.
"Titip? Kalian mau kemana?" Tanya Budhe Rohimah memperhatikan Satya dan Belva.
"Kami ada urusan sebentar dan tidak bisa membawa anak-anak. Nanti jika urusan kami sudah selesai, kami akan menjemput mereka."
Budhe Rohimah mengangguk meski sedikit bingung, ia melihat wajah Satya yang tampak berbeda. Ada memar di wajah pria itu.
"Nak Satya, ada apa dengan wajah mu?"
Belva melirik sang suami, Kaila langsung melihat wajah Daddy nya karena ia berada dalam gendongan sang Daddy. Kaili pun sama ia mendongak menatap Daddy nya.
"Ah, ini... Tidak apa-apa hanya terpeleset saja di kamar mandi tadi di kantor." Jawba Satya berbohong menutupi fakta.
Budhe Rohimah masih menatap curiga pada Satya tapi tak ingin bertanya lebih lanjut.
"Ya sudah ayo masuk dulu, kalian mau minum apa biar Budhe buatkan."
"Tidak usah Bu, kami sedang buru-buru." Ujar Satya.
"Sayang, kalian disini dulu ya." Ucap Belva mencium kedua anaknya.
"Iya Mi." Jawab Duo Kay sembari mengangguk.
"Sayang, Daddy dan Mami pergi dulu, kalian baik-baik disini." Satya pun juga berpamitan pada kedua anaknya dan mereka hanya mengangguk.
"Budhe, titip anak-anak maaf membuat Budhe kerepotan."
"Nduk, kamu ini apa-apaan. Budhe tidak merasa kerepotan menjaga mereka. Anak-anak mu itu kan cucu-cucu Budhe."
Belva menghela napas, ia tersenyum meski sedikit memaksakan diri.
"Bu, kami pamit pergi dulu." Pamit Satya.
"Iya kalian hati-hati, tenang saja mereka aman bersama ibu. Pergilah selesaikan urusan kalian."
Satya mengangguk, "Ayo sayang." Ajak Satya pada istrinya. Pria itu menggandeng tangan istrinya keluar dari rumah minimalis itu.
Belva tak menolak dan tapi juga tidak membalas gandengan tangan Satya. Ia hanya diam saja hingga mereka sampai masuk ke dalam mobil dan mobil berjalan pun tidak ada satu katapun keluar dari bibir Belva. Satya pun demikian hanya memilih diam karena ia tahu berbasa-basi pun tidak akan mencairkan suasana tidak ada topik pembahasan apapun diantara mereka.
Jalanan tampak sedikit lengang meski jalan raya itu tetap padat oleh sejumlah kendaraan. Hingga sampai di kediaman Satya, Belva keluar tanpa menunggu sang suami untuk masuk ke dalam rumah. Satya menyusul sang istri masuk ke dalam rumah.
"Sayang... Yank..."
Belva tak menggubris panggilan Satya, justru kedua asisten rumah tangga Satya menjadi menghentikan pekerjaannya karena suara Satya yang sedikit keras memanggil sang istri. Belva terus berjalan menuju lift meninggalkan Satya, pintu lift tertutup Satya mengumpat kesal.
"Ck siyal!!!" Satya meninju udara, melampiaskan kekesalannya.
Kedua asisten Satya yang tak lain Tuti dan Inah saling memandang satu sama lain. Mereka sama-sama tahu dengan tatapan yang mereka berikan satu sama lain.
"Nah, apa kita sepemikiran?" Ucap Tuti tersenyum.
Inah mengangguk tersenyum.
"Perang dunia perumah tanggaan, Tut. Hihihi"
"Ini nih yang kita tunggu-tunggu, kira-kira masalah apaan ya, Nah?"
"Entah yang jelas pasti mereka sedang bertengkar saat ini."
Tuti tersenyum, ia merasa senang saat melihat majikannya itu sedang bermasalah dengan sang istri. Dalam hati Tuti merasa sangat-sangat bahagia mungkin jika tidak ada Inah, ia akan melompat-lompat kegirangan.
"Kesempatan ini, aku harus melakukan sesuatu agar hubungan mereka semakin renggang." Batin Tuti, otak licik nya mulai berpikir untuk menyempurnakan kesempatan yang selalu ditunggu-tunggu olehnya ini.
Di dalam kamar Satya dan Belva terlihat adu mulut saling mempertahankan diri dan saling menyudutkan satu sama lain dengan masalah yang timbul dari mereka.
"Tidak seharusnya kamu main pukul sembarangan seperti itu." Ucap Belva marah.
"Kenapa? Kamu merasa menyayangkan hal itu karena pria itu terluka?" Ujar Satya.
"Kamu salah paham, aku hanya tidak ingin klien ku merasa tidak nyaman dengan ulah mu."
"Bagaimana saya tidak marah jika istri saya pergi bersama pria lain tanpa sepengetahuan saya. Bahkan kamu menerima pemberian bunga dari pria itu."
"Mas, dengar ya. Pria itu, Marko namanya. Dia calon suami dari Nona Azura, klien ku. Aku sendiri tak menyangka jika Marko lah yang menjadi calon suami Nona Azura. Kami bertemu pun itu karena Nona Azura meminta tolong padaku untuk menjemputnya di bandara. Dan bunga yang kamu maksud itu adalah bunga yang dibeli Marko untuk Nona Azura bukan untuk ku. Marko ingin memberikan kejutan untuk calon istrinya dan itu gagal gara-gara kamu."
Flashback On
Dalam perjalanan menuju butik Belva dan Marko terlibat percakapan yang begitu hangat dan akrab. Marko adalah pria yang dikenal oleh Belva saat dirinya masih beberapa bulan tinggal di Paris.
Saat itu Marko mengantar Mama nya mengunjungi butik de'La Hector. Mama Marko adalah salah satu langganan di butik tersebut dan juga teman dari Nyonya Hector. Sebagai laki-laki tentu Marko merasa bosan saat disuruh mengantar dan menemani sang Mama ke butik. Marko lantas pergi keluar butik untuk mencari udara segar dan sesuatu yang bisa mengalihkan kebosanannya. Pria itu berniat untuk mengunjungi sebuah cafe yang berada di seberang butik de'La Hector.
Singkat cerita Marko selesai membeli kopi di cafe tersebut dan berniat kembali. Dia keluar bersama dengan Belva yang juga baru saja mengunjungi cafe tersebut untuk membeli es krim karena menginginkan sesuatu yang manis-manis. Saat akan menyebrang rupanya ada pengendara yang mengendara secara ugal-ugalan hingga Belva yang sudah melangkahkan kakinya karena telah memencet tombol menyebrang tanpa sadar ada pengendara yang tak menaati rambu lalu lintas.
"Awas!!!" Teriak seorang pria yang tak lain adalah Marko.
Pria itu dengan cepat langsung mengabaikan kopi yang ada di genggamannya entah jatuh kemana karena fokusnya untuk menyelamatkan Belva. Marko menarik tubuh Belva ke belakang hingga terhindar lah dari maut yang hampir saja mengincar ibu hamil tersebut.
Bruk!!!
__ADS_1
"Auw... Ahh..." Pekik Belva.
"Auw..." Marko pun memekik kesakitan.
Aksi Marko membuat Belva tertarik mundur dan jatuh hingga menimpa tubuh Marko. Perut Belva sedikit terbentur aspal trotoar, wajahnya meringis menahan sakit.
"Ah... Auw... Ssshhh perut ku." Lirih Belva.
Marko yang sadar akan rintihan tersebut langsung bangun, dia baru sadar jika wanita yang ditolongnya adalah seorang wanita hamil.
"Nona, anda baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Perut anda sakit?" Tanya Marko panik.
"Perutku sakit." Rintih Belva.
Beberapa orang yang berada di jalan pun berhenti menyaksikan tragedi yang hampir saja merenggut nyawa seorang wanita hamil.
"Bawa saja ke rumah sakit segera kasihan dia sedang hamil." Ucap salah satu orang yang menyaksikan kejadian itu.
"Segera telepon kantor polisi, laporkan kejadian ini." Usul yang lain karena menurut mereka kejadian itu sebuah tindakan yang membahayakan nyawa orang lain.
Mereka ada yang menghubungi kantor polis dan melaporkan kejadian itu untuk mengusut sang pengendara mobil yang ugal-ugalan. Marko segera membawa Belva ke rumah sakit terdekat dengan menaiki taksi yang berhenti. Sampai rumah sakit, Belva langsung diperiksa oleh dokter. Untung saja keadaan nya baik-baik saja hanya karena sedikit benturan dan keterkejutan saja.
Marko menghubungi Mamanya mengabarkan hal tersebut, Belva juga sempat mengatakan jika keluarga nya adalah pemilik butik yang ada di depan cafe. Mama Marko dan Nyonya Hector langsung bergerak melesat ke rumah sakit menyusul Belva.
Dari situlah mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain. Marko menganggap Belva sebagai teman dan saudara karena saat itu Marko pun sudah menjalin hubungan dengan Nona Azura tapi Belva tak mengetahui akan hubungan Marko dan Nona Azura.
***
Saat sedang berganti pakaian dengan mengenakan gaun pengantin, ponsel Nona Azura berdering. Satu panggilan masuk dan ternyata itu adalah calon suami Nona Azura yang tak lain adalah Marko.
"Hallo Honey."
"Darling, aku sudah sampai bandara, kemana aku harus menyusulmu?"
"Aku berada di butik, kamu kesini. Kamu harus lihat gaun pengantin ku."
"Baiklah, aku harus mencari taksi untuk ke sana."
"Aku akan menjemput mu, tunggu sebentar."
"Oke baiklah."
Panggilan terputus. Belva mendengar percakapan itu meski yang terdengar jelas tentu suara dari Nona Azura.
"Nona, aku harus menjemput calon suamiku, nanti aku akan kembali lagi."
"Nona, apa tidak membuat mu repot harus kesana kemari. Anda sudah menggunakan gaun ini, akan sangat repot jika harus lepas pasang. Suruh saja sopir anda menjemput nya." Saran Belva.
"Ah iya anda benar, buat ku kirimkan pesan pada sopir dulu."
Selama beberapa hari berada di Indonesia Nona Azura menyewa mobil dan juga sopir untuk mengantar nya kemanapun ia akan pergi. Nona Azura juga mengirimkan pesan pada calon suaminya untuk menyebutkan ciri-ciri nya agar saat menjemput nanti sang sopir tidak merasa kebingungan.
"Ya ampun, astaga... Sopir ku ternyata tadi sempat keluar mencari makan dan ban mobilnya bocor. Bagaimana ini?"
"Ah begini saja, bagaimana kalau saya bantu untuk menjemput nya." Saran Belva.
"Tidak usah Nona, ini sangat merepotkan untuk anda." Tolak Nona Azura karena merasa tidak enak hati.
"Tidak apa, santai saja. Anggap saja ini adalah pelayanan dari butik ini karena anda dan Nyonya Dimitri adalah pelanggan terbaik kami, selain itu saya juga sudah menganggap Nyonya Dimitri sebagai ibu saya sama seperti Mama saya."
Tidak ada pilihan lain, Nona Azura juga tidak ingin calon suaminya menunggu terlalu lama dan membuat pria itu kesal.
"Baiklah, maaf merepotkan Anda."
"Santai saja Nona." Ucap Belva tersenyum.
"Terimakasih Nona anda baik sekali." Ucap Nona Azura.
Belva hanya tersenyum dan mengangguk.
"Maaf saya tinggal sebentar, Nona. Anggi akan membantu mu." Pamit Belva pada Nona Azura.
"Tidak apa-apa Nona, maaf merepotkan mu dan Nona Anggi." Ucap Nona Azura.
"Tidak apa ini sudah tugas kami. Anggi saya pergi dulu."
"Baik Nona berhati-hati lah." Ujar Anggi.
Belva tak menyangka jika calon suami Nona Azura adalah sosok pria yang dikenalnya. Ia terkejut saat melihat pria yang tak lain adalah Marko. Secara otomatis mereka terlibat pembicaraan yang akrab hingga dalam perjalan terlintas dalam pikiran Marko untuk membeli bunga untuk calon istrinya sebagai kejutan karena hal-hal romantis seperti sangat jarang Marko lakukan untuk Azura.
"Van, ada toko bunga yang satu arah dengan butik mu?"
"Ada di depan sana sebelah kiri." Jawab Belva.
Keduanya berhenti di toko bunga dan masuk ke dalam toko tersebut. Bungan mawar merah beberapa tangkai Marko pilih untuk Azura dan meminta penjaga toko untuk membungkus nya. Selesai membayar dan mendapatkan bunga itu merek berdua keluar dari toko tersebut.
"Menurut mu cantik tidak bunga ini?" Tanya Marko.
"Cantik, Nona Azura pasti sangat senang mendapatkan nya." Jawab Belva tersenyum.
"Aku sangat jarang memberikan bunga padanya. Ini akan menjadi kejutan kecil untuk nya."
"Hahaha kamu harus sering-sering memberikannya kejutan. Kebanyakan perempuan suka dengan bunga, aku bahkan ingin membeli banyak bunga tadi tapi itu tidak mungkin aku masih sibuk hari ini. Bagaimana baju-baju ku jika aku harus mengurus banyak bunga yang ku beli." Ucap Belva dengan canda dan tawa nya.
"Ini ku pinjamkan padamu, pegang saja dulu tapi nanti kembalikan pada ku." Gurau Marko menyerahkan bunga mawar itu dan diterima oleh Belva dengan tawa yang mengiringi canda tawa mereka.
Tanpa mereka sadari Satya melihat keduanya dan timbullah kesalah pahaman diantara mereka yang semakin membuat masalah mereka semakin rumit.
Flashback Off
Satya terdiam mendengarkan cerita dari sang istri. Tapi sebagai suami yang begitu mencoba sang istri, dia tidak rela jika istrinya jalan bersama pria lain tanpa sepengetahuan nya. Belva tak meminta ijin padanya terlebih dahulu.
"Tapi setidaknya kamu memberitahu ku terlebih dahulu agar aku tidak salah paham."
Ucapan Satya membuat Belva berbalik terdiam, dirinya juga salah karena tak memberitahu hal itu pada suaminya hingga menimba kesalah pahaman.
"Tapi seharusnya kamu tidak perlu main pukul. Kamu bisa bertanya terlebih dahulu padaku." Belva tetap mempertahankan diri karena masih keala dengan ulah suaminya.
"Baru saja jalan sudah mencak-mencak. Bagaimana jika aku sampai berbuat lebih." Sindir Belva.
"Belva cukup!! Sekarang giliran mu mendengarkan saya."
Satya merogoh saku celananya dan mengotak-atik ponselnya lalu disodorkan pada sang istri.
"Lihat ini, baru komentar." Ujar Satya.
Belva melirik sang suami dan menerima ponsel suaminya. Di dalam layar ponsel itu terlihat sebuah rekaman video yang Belva sangat hafal siapa orang di dalamnya. Rekaman cctv mulai dari depan ruangan Satya hingga di dalam ruangan Satya.
"Mas, ini? Belva bingung harus mengatakan apa.
"Iya, itulah yang terjadi. Semua tak seperti yang kamu pikirkan. Saya tidak mungkin mengkhianati kamu, kita baru saja menikah dan saya sangat mencintai kamu."
"Tapi bagaimana bisa sampai hal itu terjadi dan aku benar-benar melihatnya sendiri." Ucap Belva dengan nada yang masih kesal mengingat semuanya.
Satya langsung mendekat pada sang istri, direngkuhnya tubuh istrinya dan di pelukannya dengan erat. Belva tak menolak sedikitpun.
"Mas?"
"Apa harus mas ceritakan lagi? Kamu sudah melihat rekaman cctv itu."
"Apa rekaman ini benar?" Tanya Belva.
"Kamu meragukannya? Besok kita ke kantor dan kamu lihat langsung di ruang IT kantor mas jika masih meragukannya."
"Mas, minta maaf. Mas juga terkejut saat itu sayang. Kamu bisa bertanya pada Grace sekertaris mas dan juga Jordi jika wanita itu beberapa kali memang memaksa untuk bertemu dengan mas. Kamu ingat? Saat kita baru saja menikah dan menikmati waktu bersama ada tamu yang datang menemui mas. Orang itu adalah wanita itu yang datang dengan alasan mengundang makan malam. Dia adalah putri dari rekan kerja mas. Maaf mas juga baru menceritakan ini padamu. Mas pikir hal itu tidak penting tapi ternyata wanita itu sangat nekat hingga membuatmu sangat kecewa pada mas." Jelas Satya dengan jujur pada sang istri.
Saat Satya bercerita Belva mendonga menatap mata sang suami, tidak ada kebohongan dari tatapan mata sang suami, wajah pria itu pun terlihat serius saat bercerita.
"Seharusnya mas cerita padaku sekecil apapun itu agar tidak terjadi kesalahpahaman." Ucap Belva sedikit cemberut tapi tangan wanita itu ternyata sedari tadi membalas pelukan sang suami.
"Iya mulai hari ini kita harus saling terbuka dan bercerita sekecil apapun itu. Bahkan jika perlu hal-hal tak penting pun tak masalah untuk diceritakan. Kita sama-sama salah paham karena kurang terbuka." Ucap Satya yang lalu mengecup kening istrinya dan masih memeluk Belva.
****
To Be Continue...
Lunas ya mereka cuma sama-sama salah paham saja. Satya gak beneran selingkuh kok kecuali dia mau jadi duda lagi dan siap-siap gak ketemu Belva dan Duo Kay.
__ADS_1
Thanks banget buat kalian yang masih setia support author sampai detik ini. Terimakasih banyak maaf kalo gak bisa balas komen kalian secara rutin satu persatu karena kesibukan author 🙏🙏🙏
Semoga kalian sehat selalu dan bahagia selalu 🤗🤗